You are on page 1of 1

Anak-Anak Mencoret Dinding

Ketika masih bujang saya benci pada orang tua yang membiarkan anaknya mencoret-
coret tembok rumah. Ketika sudah menjadi orang tua saya bangga ketika anak saya
mencoreti sekujur rumah!

Saya malu atas perubahan ini. Malu karena kebencian ternyata sering menjadi
kutukan. Saya pernah membenci seseorang tapi lewat seseorang itu pula saya
memperoleh pertolongan. Saya pernah mengritik seseorang karena sebuah kesalahan,
tapi kesalahan itu pula yang saya lakukan ketika posisi orang itu saya gantikan.

Saya membenci, ternyata cuma karena saya tidak memiliki. Saya mengritik cuma
karena saya tak mengalami. Maka para pengritik ini seperti para penonton dunia
pertunjukkan. Pintar mengomentari tapi kebingungan ketika harus memainkannya
sendiri. Maka para pembenci ini seperti para penepuk air di dulang yang akan
memercik ke muka sendiri.

Setelah malu saya kemudian heran. Tapi keheranan ini adalah soal yang lain lagi.
Yakni soal anak-anak yang selalu membawa sihir kasih sayang di benak kita, orang
tuanya. Sihir itu begitu hebatnya hingga coretan di dinding pun terasa bukan
sebagai kekotoran, tapi sebagai ''mahakarya''. ''Lihat! Ekspresif sekali. Naif,
spontan, lucu,'' kata kita dengan mata berbinar.

Yang kotorpun bisa terlihat indah, yang salah pun bisa terasa sah dan lumrah,
itulah sihir anak. Maka ketika kepada orang tua dilaporkan tentang tabiat anaknya
yang suka mencuri duit jimpitan jaga di kampungnya, yang salah kemudian malah
kaleng duitnya atau malah petugas jaganya. ''Salah sendiri, kenapa dipasang
terlalu rendah hingga terjangkau oleh anak,'' kata si orang tua. ''Salah sendiri
kenapa petugas jaga bisa kalah duluan dengan anak,'' tambahnya. Maka ketika kepada
orang tua dikabarkan tentang anak perempuannya yang dibawa lari, yang dilaporkan
pada polisi selalu cuma si ''pelari'', bukan sekaligus anaknya yang ikut berlari.

Sebab kita sering lupa, betapa ada saja jenis korban perkosaan yanga aneh
sifatnya. Ada korban yang mau digoda, mau diajak jalan-jalan, kemudian menginap di
losmen lalu pulang sebagai korban perkosaan. Ada yang mau diboncengkan teman
lelakinya, di ajak ke rumah kos temannya, begadang hingga malam lalu mabuk dan
akhirnya digilir paksa.

Kaum maling dan pemerkosa tetaplah para penjahat. Tapi menenteng barang
sembarangan, menggoda maling untuk masuk ke pakarangan tetaplah sebuah
kecerobohan. Tapi kecerobohan itu seperti bukan kesalah sepanjang pelakunya adalah
anak-anak yang biasa kita sayangi, yang kecerobohannya pun terasa lumrah,
kekotorannya sering terlihat indah. (03)

(PrieGS/)