You are on page 1of 1

Anak-anak telah Bersekolah

Anak-anak telah kembali ke sekolah. Dan catatlah: sebagian (besar?) sekolah


setingkat SMU masih menyelenggarakan perpeloncoan dengan kedok orientasi sekolah.
Sebuah program yang tidak memberi sumbangan apapun terhadap pendidikan kecuali
pelajaran sadisme.

Dan marilah kembali kita catat: betapa pelajaran sadisme itu diajarkan pertama
kali secara resmi justru lewat sekolah. Mari kita anggap semua argumentasi ideal
di balik program ini sebagai lelucon belaka. Karena hasil nyata perpeloncoan itu
tak lebih dari tradisi dendam. Bukan dendam versi komik silat yang hutang hari ini
dianggap selesai jika telah dilunaskan esok hari. Yang kita semai adalah dendam
kultural yang kemudian bisa melilit generasi demi generasi.

Maka lihatlah sederet bukti betapa kita adalah generasi yang terdidik untuk
menjadi pendendam, terutama setelah kita menjadi senior, menjadi atasan. Maka
pernah tersiarlah seorang oknum polisi yang menyuruh bawahannya bahkan untuk
menjaga rumah dan merumputkan hewan piaraan. Pernah hebohlah berita tentang
mahasiswa yang harus menggigit katak di pekan peloncoan. Lalu masihkah menjadi
rahasia jika ada seorang dokter calon spesialis yang begitu ketakutan pada
seniornya. Saking hebatnya ketakutan itu hingga ia harus mau mengerjakan tugas-
tugas sang senior termasuk harus mewakli kondangan segala.

Siapapun kita, apapun profes kita, begitulah watak kita setelah menjadi atasan.
Bisa dimengerti karena pelajaran menyakiti memang tercantum dalam "kurikulum".
Kita dididik untuk bergairah melihat orang lain susah. Maka pertunjukkan derita
itu harus tetap dipelihara, terus diberi suaka dan diajarkan secara dini lewat
sekolah-sekolah.

Jadi logis, jika sebagai bangsa, selama ini kita lebih sibuk membuat derita sesama
katimbang berpikir soal kemajuan bangsa. Wajar pula jika kemelut negara ini bisa
begitu lama, karena derita orang lain terasa sebagai hal yang biasa-biasa saja.
Juga bukan cerita baru lagi jika di sebuah negeri miskin justru banyak dihuni oleh
para koruptor yang sangat kaya. Orang yang tega hidup sangat mewah di tengah
kemiskinan itu apalagi penyebabnya jika bukan karena kesuksesan pelajaran sadisme
di atas.

Maka program perpeloncoan itu tidak cuma layak dibubarkan tapi kalau perlu malah
harus dianggap sebagai kejahatan. Pertama, ia jahat dari segi bahwa program itu
menyuburkan bakat sadisme itu sendiri. Inilah program yang memberi peluang pada
murid paling bodoh sekalipun untuk bisa main bentak, main kuasa hanya karena ia
senior. Kedua, dan ini yang terpenting, mana boleh sekolah dbiarkan menghambur-
hamburkan waktu untuk hal-hal yang tak perlu.

Sebab, seandainya seluruh sekolah di Indonesia diasumsikan sebagai bermutu, semua


murid dianggap sebagai pintar, modren dan kutu buku, kita masih ragu, benarkah
kita masih sanggup mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Bukan karena
bahwa anak-anak kita begitu bodoh, tapi karena ketertinggalan itu telah begitu
jauh. Jadi, dalam ketertinggalan yang dramatis semacam itu, sungguh tak masuk akal
jika sekolah masih memelihara program yang kontra produktif.

Kepada sekolah kita percayakan nasib anak-anak dengan taruhan apa saja. Adalah
menganggetkan jika mereka ternyata melah menjadi jahat diam-diam. (CN01)

(PrieGS/)