You are on page 1of 1

Anakku Ingin Jadi Power Ranger

Tak mudah membujuk anak untuk mau melakukan sesuatu yang bahkan demi kebaikannya
sendiri seperti minum obat, makan sayur apalagi pergi ke dokter gigi. Jika anak
sudah membungkam mulutnya, memuntahkan apa saja yang coba disuap paksa, meskipun
segenap orang tua, bapak, ibu, dokter, dan baby sitter terbaik berkumpul untuk
membujuk dan mengancamnya, koalisi orang-orang ini boleh menyerah dan putus asa.

Anak saya pun mengidap kekonyolan semacam itu. Jika penyakit kepala batunya kumat,
tak ada satu pihak pun yang sanggup menaklukkannya kecuali Power Ranger. Mimpi si
balita ini untuk menjadi pahlawan seperti Power Ranger itu memenuhi benaknya siang
dan malam. Tak ada hari tanpa peragaaan jurus Ranger. Semula kami panik juga,
jangan-jangan anak ini telah menjadi edan oleh intimidasi televisi. Tapi si Ranger
ini akirnya benar-benar menjadi pahlawan kami sekeluarga, karena dia pula yang
membuat anak kami menjadi berani melakukan apapun asal upahnya ''akan menjadi
seorang Power Ranger''.

Sambil menahan demam di tubuhnya, dengan mata setengah terpejam dan kesadaran cuma
setengahnya, anak ini sanggup menelan puyer paling pahit sekalipun jika ia yakin
puyer itu akan menjadikannya seorang Ranger. Jadi, kami, orang tua, dokter,
saudara, walaupun sudah berkumpul dan bersatu untuk menundukkan si anak, masih
kalah kuat oleh mimpi anak sendiri. Inilah kenapa, meski kecil, GAM susah
ditundukkan. Kekuatannya tidak terletak pada senjata, tapi pada teori perang yang
disebut sebagai asymmetric warfare. Ini adalah sebuah teori perang dengan senjata
iba.

''Bahwa aku adalah pihak lemah yang dianiaya. Maka musuh yang besar itu, harus
dikutuk bersama kalau perlu oleh seluruh oleh dunia,'' begitu kira-kira strategi
GAM. Hampir saja mereka berhasil dengan taktiknya kalau saja ia tidak terperangkap
oleh tabiatnya sendiri yang menggagalkan beberapa agenda perundingan. Kini,
Operasi Militer ke Aceh, meski tidak sepi kritik, termasuk keputusan yang mendapat
banyak dukungan.

Praktek asymmetric warfare yang lebih nyata malah bisa dilihat dari kasus Inul.
Iba benar-benar telah menjadi modal utama penyanyi ini dalam meraih gelombang
pembelaan. Dan pembelaan itu menjadi-jadi ketika Inul memang tercitrakan sebagai
pihak yang memelas, lugu dan rendah hati. Jika Inul ternyata tampil menyebalkan,
angkuh berselancar di atas gelombang dukungan lalu berbalik menjadi arogan,
gelombang itu dengan cepat akan surut.

Jadi kalah dan menang, mau dan enggan, sukses dan gagal, ternyata penenentunya
adalah orang yang sama. TNI akan sulit menaklukkan GAM, jika gerakan itu sanggup
memancing simpati di sana-sini, menjadi pihak yang melulu ditekan dan dizalimi.
Tapi mereka akan segera menjadi sparatis kebanyakan, pihak yang menjengkelkan jika
kerjanya cuma mengulur-ulur perundingan, memeras, menculik dan menganggu keamanan.
Jadi soal ini, TNI tinggal memilih, menjadi pihak yang dianggap sebagai si angkuh
atau pihak yang dipermainkan.

Siapapun dari kita ternyata bukan orang kuat jika fokus strategi itu adalah
kepentingan diri sendiri. Karena selalu ada unsur kemenangan dan kekalahan
sekaligus baik dalam diri Inul, anak saya sampai GAM. Betapapun kuat kita menekan
seseorang, jika tekanan itu hanya menyulut naluri kemenangannya, usaha ini akan
sia-sia belaka. Anak saya tetap menutup mulut meski diancam, Inul akan tetap
dibela meski ditekan dan GAM akan mendapat simpati meski diperangi. Dalam
berperang, kita memang sering keliru berstrategi: mengalahkan lawan dengan cara
yang justru membuat mereka menang.

(PrieGS/)