You are on page 1of 1

Anakku Kena Jotos

Dari sekian drama dalam ephos Mahabarata, bagian yang sangat saya suka adalah
hubungan antara tokoh Karna dan Arjuna, dua kesatria yang sama-sama tampan, sakti,
jagoan, mulia hati, tetapi harus bermusuhan hingga salah seorang di antara mereka
ada yang mati. Bukan kematian yang mudah kita setujui, karena sesungguhnya
keduanya adalah saudara, kakak beradik, satu ibu, beda bapak. Dua saudara yang
harus saling mematikan cuma karena sebuah alasan.

Alasan itu di tangan seorang dalang maestro seperti Ki Narto Sabdo misalnya, akan
segara akan menjadi drama yang mencekam. Saya menyimpan kaset dalang ini di dalam
mobil sebagai kelengkapan. Ia saya jadikan teman setiap kali melakukan perjalanan.
Begitu sering saya menyetelnya, tetapi selalu teraduk perasaan saya ketika bagian
pertemuan antara Karna dan Arjuna itu tiba.

Jika ada dua perbedaan di antara dua saudara ini ialah watak Karna yang lebih
pemberang. Ketika bertemu adiknya untuk pertama kali, ia cemburu setengah mati
karena reputasi Arjuna sebagai jagoan. Sang jagoan itu dilabraknya, dihajarnya
habis-habisan tanpa si adik itu mau membalas, karena ia malah jatuh sayang pada
musuh yang ternyata memang kakaknya sendiri itu. Dari awal, hubungan kaka beradik
ini memang sudah penuh dilema. Dan Ki Narto Sabdo berhasil menghadirkan dilema itu
seperti di depan mata. Sosok Arjuna, yang meskipun sakti mandraguna, pada dasarnya
adalah anak yang berfisik kecil kurus, lembut hati dan selalu pilih mengalah.
Membayangkan si kurus itu dihajar habis-habisan tanpa melawan entah mengapa suka
menerbitkan air mata saya.

Saya tidak menyangka, jika bagian paling saya sukai itulah yang belum lama ini
terjadi pada anak lelaki saya. Ia masih kelas tiga SD, dan kebetulan kecil dan
kurus serta pendiam pembawaannya. Ia biasa menyelesaikan persoalan cuma dengan
kata, bukan dengan kekuatan fisiknya. Jika tak setuju, ia cukup diam saja. Jika ia
kecewa, tahu-tahu cuma matanya yang berkaca-kaca. Maka setiap kali mengantarnya ke
sekolah, saya melepas dengan rasa cemas membayangkan betapa akan lemah ia di
hadapan kenakalan teman-temannya.

Hingga suatu hari bayangan buruk itu malah terjadi. Anak saya dilaporkan kena
jotos. Saya langsung gemetaran dan segera menghentikan seluruh pekerjaan saya.
Apalagi saya tahu, di kelasnya memang ada anak yang selama ini dikenal nakal,
bongsor tubuhnya, dilatih bertinju pula oleh bapaknya. Jotosan petinju itulah yang
kabarnya singgah di tubuh anak saya. Waktu kabar itu saya dengar, air mata saya
meleleh tak terasa.

Bayangan wajah anak saya yang lemah dan kalah menghajar imajinasi saya. Apa saja
rasanya ingin saya lakukan agar bisa segera melindungi anak saya. Ingin rasanya
saya terbang secepat kilat menemuinya, untuk segera melindunginya sekuat yang saya
bisa. Padahal setelah ketemu saya kaget dengan imajinasi saya sendiri karena
ternyata ia jauh lebih dramatik katimbang kenyataannya. Karena ketika saya sedang
gemetaran sedemikian rupa, anak itu sudah berlari dan tertawa-tawa seperti
galibnya anak-anak. Pemukulan itu tak lebih dari sebuah insiden khas anak-anak dan
merupakan bagian dunia permainan mereka belaka. Sementara saya bereringat dingin
oleh pikiran buruk, anak saya sudah kembali bergembira menatap dunia.

Hati-hati dengan imajinasi. Jika ia kelebihan porsi, dunia yang sesungguhnya


terang benderang ini bisa kita bayangkan sebagai sedang gelap gulita!

(Prie GS/)