You are on page 1of 1

Anting Tukang Siomay

Berhentilah berharap dari orang lain maka semua manusia akan menjadi saudara.
Pelajaran ini diberikan oleh tukang siomay yang lewat di depan rumah. Dia anak
muda dengan anting di kupingnya.

Aku menyukai siomay tapi terancam batal membeli dari penjual ini gara-gara
kupingnya. Bagiku cuma rokcer dan semacamnya yang layak beranting. Hanya seniman
yang layak berambut gondrong dan menguncir rambut. Tapi kuli bangunan tidak, abang
bakso, penjual sayur, apalagi penganggur, harus menyadari kedudukannya. Ia harus
tahu diri dan memakai azas kepantasan.

Terhadap orang lain, tiba-tiba aku memasang banyak keharusan. Jika engkau datang
hanya untung menghutang, maka lagakmu harus sopan sempurna. Jangan berbantah,
jangan membuat gara-gara. Jika ia tahu maksud kedatanganmu dan lantas bermuka masa
karena itu, terimalah. Jika dia menunjukkan superioritasnya karena merasa telah
berjasa menolongmu, sabarlah. Jika dia membuat humor, meski tidak lucu,
tertawalah.

Jika engkau cuma seorang pembantu, idetintas itu harus kau tegaskan bahkan mulai
dari pakaianmu. Jika engkau perempuan, jangan menjadi bersih dan cantik.
Kecantikan semacam itu tidak layak bagimu karena hanya akan memancing komentar:
"Dia terlalu cantik untuk menjadi pembantu." Jadi pahamilah, bagi pembantu,
menjadi pintar dan cantik itu suatu kekeliruan. Pembantu harus selalu bodoh dan
buruk rupa.

Jika engkau menjadi semacam anak asuh, posisi yang dianggap setingkat lebih baik
dibanding pembantu tapi tetap saja sebuah posisi yang kau dapat karena
kemiskinanmu, jagalah dengan teguh kenyataan itu. Jangan pernah sok akrab apalagi
sok menjadi anggota keluarga jika tidak diminta. Jika orang tua asuhmu tak punya
pembantu, engkaulah pemeran pengganti itu. Engkau harus bangun paling pagi dan
tidur paling larut karena engkaulah yang harus memastikan apakah semua pintu telah
terkunci. Engkau pula yang harus membuka pintu itu pagi-pagi sekali.

Ingat, siapapun orang tua asuhmu, dia adalah malaikat penolongmu. Karena dia,
engkau bisa sekolah dan makan tidur gratis tanpa harus mendapat sebutan anak kos.
Maka jika kau dapati mereka pulang berbelanja, tergopohlah engkau menyongsongnya.
Jika harus semobil bersama, tunggulah giliran paling akhir, di kursi mana engkau
harus berada. Jika orang tua asuhmu itu nanggung ekonominya, jika mobilnya cuma
sekadar angkutan bak terbuka, engkau malah harus siap duduk di bak belakang
menjadi serupa barang.

Maka jika engkau sekadar tukang somai, hak seperti apakahkah yang mebuatmu berani
memasang anting di kuping? Ini sungguh tidak layak. Karena hanya kuping anak muda
kaya dan modern saja yang boleh dilubangi. Hanya mereka yang boleh berdandan
semaunya. Engkau tidak. Anting di kupingmu itu jelas pengingkaran dan ini
membuatku menolak siomaymu jika tidak perut dan lidahku ngotot memintanya.

Ya sudah, aku pun menyerah. Dan hebatnya, setelah siomay itu ku kunyah, tak ada
rasa kuping dan anting di dalamnya. Ia enak seperti yang aku duga. Jadi, betapa
anting itu tak ada hubungannya dengan makanan apalagi dengan mutu hidup manusia.
Maka izinkan aku memakan siomaymu dengan rasa bersalah.

(PrieGS/)