You are on page 1of 2

Bahasa dan Kelakuan Kita

KETIKA Taufik Hidayat memutuskan mundur dari PBSI, salah seorang pengurus
organisasi itu berkata: ''Kita kehilangan pemain potensial.'' Benarkah pemain
sekaliber Taufik cuma berderajat sebagai pemain potensial? Lalu apa beda Taufik
dengan pemain kampung pemula? Bagaimana sebetulnya wartawan, komentator, pengurus
PBSI, atau kita semua, pemakai bahasa di negeri ini harus membahasakan kemampuan
Taufik dengan kata yang memadai?

Tabiat kita dalam berbahasa sering demikian aneh. Tabiat sebagai peragu dan plin-
plan misalnya, akan tercermin dalam gaya ungkapan semacam ini: "Panggung
pertunjukkan itu 'cukup megah'."

Tidak ada keraguan lagi jika kata "megah" pasti menggambarkan kebesaran,
ketinggian, sangat lebar, sangat panjang. Untuk itulah ia mendapat sebutan megah.
Ia pasti ukuran yang melebihi batas kewajaran. Jadi kata "cukup" itu sulit
diterima nalar jika dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari cukup.
Kalau ia cuma cukup megah, berarti ia tidak megah lagi. Jadi bagaimana ya dan
tidak dipaksa bersatu?

Tapi begitulah hobi kita. Maka dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita cenderung
tidak jelas. Gemar betul kita mengatakan cukup besar, cukup bijaksana, cukup
cantik, cukup galak. Kenapa kita tidak bisa berterus terang mengatakan bahwa dia
cantik, besar, galak, bijaksana.

Sedang ungkpan Taufik sebagai "pemain potensial" menggambarkan dua kemungkinan


watak: sebagai pencemburu dan sebagai si pelit. Dua kebiasaan ini sangat berbahaya
bagi kebahagiaan orang lain. Ia akan membuat orang merasa tak dihargai sebagaimana
mestinya. Tidak ada anjuran untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang, tapi juga
tak perlu mengkorup kehebatan seseorang.

Ada lagi gaya yang mecerminkan watak yang suka melebih-lebihkan kenyataan.
Sekarang ini gampang sekali kita menyebut pengajian biasa sebagai akbar, tablik
biasa sebagai akbar. Kata akbar yang biasanya dekat dengan Tuhan, telah dipindah
ke manusia. Jadi ada manusia menyembah Tuhan sambil membesar-besarkan dirinya
sendiri. Begitu juga ketika kita harus menyebut pemain film sebagai bintang. Wah,
bintang yang tinggi itupun masih dianggap kurang tinggi. Ia masih harus ditambah
dengan maha-bintang. Lagi-lagi sebutan yang sering dipakai untuk Tuhan sekarang
cuma menjadi milik para pemain film. Sinetron pun tak mau ketinggalan. Apapun
mutunya, ia boleh menambahkan kata mega di depannya.

Sedang watak kita sebagai bangsa yang bertele-tele dan sok mulia muncul dalam gaya
berikut: untuk menyebut kata pembantu misalnya, kita harus repot-repot
menggantinya sebagai pramuwisma, pelacur sebagai tunasusila. Kata bui yang pendek,
padat dan praktis harus dipanjangkan sebagai penjara. Penjara ini pun masih kurang
panjang karena diubah menjadi lembaga permasyarakatan.

Betul-betul pemborosan energi dan suku kata. Tapi lebih penting dari itu semua,
kita gemar betul menutupi keburukan kelakuan ini dengan berlindung di bawah
keindahan kata-kata. "Jika kelakuan buruk, minimal kita masih punya kata bagus
untuk menutupinya," begitu kira-kira argumentasi kita. Buktinya gampang saja,
apakah sikap kita pada pembantu, pada pelacur dan para brohmocorah telah sebagus
kata-kata kita?

Untuk naluri hipokrit dan tak tahu diri bisa digambarkan lewat kebiasaan pidato-
pidato resmi yang biasanya panjang, bertele-tele tapi miskin bobotnya. Padahal
pidato itu hanya berperan sebagai pembuka saja. Sebagai pembuka, jahatlah kiranya
jika ia harus berlama-lama. Tapi sudah begitu lama, di akhir sambutan masih juga
ia sempat berkata: tidak bijaksana kiranya jika saya harus berpanjang kata...!

Lewat bahasa, sering demikian jelas mutu kelakuan kita. (03)

(PrieGS/)