You are on page 1of 1

Balaikota Obong

Jika kebakaran di Gedung Balaikota Semarang yang sampai empat kali itu terbukti
disengaja, jika pelakunya sudah ditemukan, ia tak cuma harus bertanggung jawab
pada hukum, tapi juga pada publik. Perusakan terhadap hak milik publik adalah
penghinaan terhadap publik.

Jika penghargaan terhadap hak-hak publik tidak segera ditegakkan, jika para
perusak hak milik publik tidak dihukum berat, maka kekayaan publik akan gampang
menjadi bahan pelecehan. Jika cuma kekecewaan seorang staf kepada walikotanya
telah cukup menjadi alasan untuk membakar balaikota maka apresisasi kita atas hak
milik publik, atas fasilitas-fasilitas umum, harus segara ditata ulang. Harus
segera ada kesadaran bahwa balaikota sama dengan Tugu Muda, sama dengan Borobudur,
rumah-rumah ibadah, lapangan dan taman-taman kota. Karena itu vandalisme
terhadapnya adalah tantangan terbuka bagi seluruh warga.

Martabat hak milik publik dan fasilitas umum itu harus segera dikembalikan karena
tempat-tempat itu telah lama menjadi korban penganiayaan. Di Semarang ada lampu-
lampu kota yang dipasang cuma menjadi ajang uji lemparan, habis cuma dijadikan
proyek ajar titis. Tak ada alasan yang begitu serius bagi vandalisme ini selain
bahwa karena lampu-lampu itu cuma milik umum, cuma fasilitas umum.

Di benak kaum vandalis betapa remeh arti kata umum itu. Si umum selalu cuma
dipandang sebagai pihak yang boleh dirusak, dicuri, dijarah dan dikotori. Bukan
sebagai pihak yang menggambarkan kehormatan umum, pihak yang dibangun dari pajak
orang banyak.

Maka di mana-mana WC umum selalu cepat menjadi kotor dan bau, bus-bus umum selalu
cepat rombeng, telpon-telpon umum selalu gampang rusak. Shelter-shelter bus baru
saja dipakai secara resmi tapi sudah keburu penuh grafiti. Tembok-tembok kota baru
saja usai dicat tapi sudah keburu penuh corat-coret.

Pelecehan terhadap martabat umum in benar-benar membuat kehidupan sosial kita


dililit kanker. Lihat saja, hampir tak ada kekuasaan yang konon tidak dibangun
lewat kolusi. Hampir tak ada partai yang diduga tak membiayai hidupnya dari duit
korupsi. Duit milik rakyat, milik umum itu, ludes cuma untuk membiayai aneka
kepentingan pribadi.

Jika kita masih ingin memperbaiki mutu kehidupan bangsa ini, mulai saja dari
kepatuhan menghormati hak-hak publik. Katimbang susah mengadili koruptor, adili
dulu saja pembuang sampah yang selebor, yang selalu meremehkan tempat-tempat
sampah resmi. Kejahatan orang-orang ini tampaknya sederhana, tapi sebetulnya
tidak. Aksi mereka adalah cikal-bakal munculnya mental gampangan yang terkenal
itu.

Kerusakan yang dibawa oleh perilaku gampangan ini bukan main seriusnya. Seorang
pegawai bank bisa enak saja menyalurkan kredit macet asal ia bisa menumpuk banyak
komisi. Maka di sebuah badan usaha yang bangkrut tetap bisa dijumpai karyawan yang
kaya raya.

Pembakaran gedung Balaikota itu, jika benar-benar disengaaja, adalah bukti betapa
rendah apresiasi kita pada hak-hak publik. Bangunan umum yang dibangun oleh pajak
yang kita bayar dengan susah payah pun bisa dibakar begitu saja oleh orang yang
konon cuma jengkel pada atasannya. (03)

(PrieGS/)