You are on page 1of 2

Bau Tubuh Istriku

Oleh Prie GS

Anak saya memiliki serpihan gombal yang derajatnya telah menjadi jimat. Tanpa
gombal ini, mustahil dia tertidur. Jika kami sekeluarga harus pergi menginap ke
luar kota, semua barang boleh ketinggalan kecuali gombal yang satu ini. Jika
barang ini sampai tertinggal, bencana akibatnya.

Anak ini akan menolak tidur semalaman. Ia akan mencari gombal jimatnya itu melebih
apa saja. Jika ia sudah mendekat gombalnya, wahai... anak ini akan segera stoned,
mabuk, dan tidur dengan lelapnya. Kami hanya bisa heran, bagaimana gombal bulukan
yang tak pernah kenal air ini bisa membuat hidupnya demikian tenteram.

Gombal wasiat itu sebetulnya berasal dari kain sarung yang dipergunakan sebagai
selimut saat istri melahirkan. Sarung inilah yang kemudian menjadi karib anak
karena sering menjadi pembungkus ketika ia masih bayi dan menjadi selimut ketika
ia balita serta tak jarang menjadi selimut berdua antara anak dan ibunya.

Begitu tinggi frekuensi pemakaian sarung ini hingga ia menjadi kain teraniaya yang
aus dalam waktu singkat. Hingga ketika si anak sudah masuk TK, sarung itu telah
menjadi kain perca selebar serbet saja lebarnya. Serbet apak inilah yang hingga
sekarang masih menjadi teman tidur setianya. Melihatnya lelap sambil menghirup
gombal ajaibnya itu sungguh pemandangan yang mengherankan hati. Itu gombal sudah
bertahun-tahun tak boleh dicuci. Tapi bau inilah satu-satunya aroma terapi yang
mujarab bagi tidurnya.

Pernah kami diam-diam mencucinya. Ketika malam gombal ini kami sodorkan, si anak
malah ngamuk sejadi-jadinya. Ia menolak aroma terapi gombalnya yang sudah tercemar
bau detergen. Semalaman, kami harus menanggung tidurnya yang penuh krisis. Tidur
dengan bekal marah, telah membuat dia mengigau dan banyak gerak. Sejak saat itu,
kami memilih membiarkan gombal ini menjadi kain purba, dengan komplikasi bau yang
cuma anak saya yang tega menghirupnya.

Tapi belum lama ini kami mengalami kecelakaan kedua menyangkut soal bau ini.
Secara tak sengaja, gombal ini tertindih tidur bapaknya semalaman. Ketika malam
berikutnya si anak mencium bau bapak di gombalnya, ia menolak menghirupnya. Ia
ingin bau ibu, bukan bau bapak. Kami sadar risikonya jika bau ibu tidak secepatnya
dihadirkan. Akan terjadi geger semalaman. Maka cara instan pun kami tempuh, gombal
itu ditindih, digosok, dililit ke segenap tubuh ibunya, dan ketika bau ibu itu
telah menindih bau bapak, si anak baru mau menghirupnya dengan nikmatnya. Kurang
ajar!

Sudah lama saya cemburu pada kedekatan si anak ini dengan ibunya. Tapi malam itu
benar-benar menjadi puncak rasa cemburuku. Apa salah bapaknya ini sehingga soal
bau pun dia memihak ibunya? Apa kurang tanggung jawabku pada mereka? Setiap hari
aku bekerja hingga tak kenal waktu. Aku memberikan yang terbaik untuk mereka
sekuatku, sebisaku. Tapi apa balasan mereka pada kerja kerasku ini!

Gombal itu benar-benar menyinggung perasaanku. Ia bukti kekalahanku di keluarga


ini. Betapa aku yang bekerja keras di luaran tapi istri juga yang mendapat
penghargaan di dalam rumah, di depan anak-anak. Sekarang kutanya kepadamu anak-
anakku, beda apa bau tubuh bapakmu dengan ibumu ini? Betul, ibu adalah pihak yang
setiap saat merawatmu. Betul, bahwa di waktu kecilku dulu, aku lebih suka
menyelinap di ketiak ibu katimbang di ketiak bapak. Betul, jika aku ditantang
untuk menggantikan pekerjaan ibumu saat merawatmu, bisa-bisa aku terserang stroke
dini. Itu pekerjaan berat dan hanya ibumu yang sanggup melakukannya. Tapi
persoalannya ialah, apakah cuma ibumu yang bekerja keras?
Tidak, jawabku. Aku juga bekerja keras untuk menyayangimu. Jika hanya bau tubuh
ibumu yang engkau sukai, ini betul-betul tidak adil. Belum jika aku tega membuka
rahasia besar ini kepadamu. Dengarlah, engkau boleh begitu menyukai bau ketiak
ibumu, tapi tanpa setahumu, ibumu adalah juga pihak yang suka menyelinap di ketiak
bapakmu kalau bakat manjanya kumat. Jadi anakku, engkau jangan salah sangka pada
bau tubuh bapakmu.