You are on page 1of 1

Berdialog dengan Derita

Oleh Prie GS

DERITA adalah sesuatu serupa mahkluk, karenanya ia bisa kita sapa dan kita ajak
berdialog untuk dijinakkan. Penjinakkan ini bukan untuk membuat dia tidak ada
melainkan sekadar membuat agar orang tidak merasakan derita yang kita punya.

Banyak orang gagal menyimpan deritanya, atau malah tak sedikit orang yang justru
menawarkan derita itu kepada siapa saja. Cara ini betul-betul berbahaya karena
orang semacam itu akan segera menjadi proposal masalah di hadapan orang lain. Ia
akan dengan cepat menuai hasil berupa atribut sebagai orang yang ditolak dan
disingkiri. Kedatangannya dianggap sebagai sumber persoalan dan pribadinya akan
dianggap semacam kuman lepra.

Membiarkan suasana hati terbaca secara terbuka hanyalah suatu kemanjaan. ''Hari
ini aku sedang tak enak hati, maka engkau jangan menyetel musik terlalu keras,
jangan mengetuk pintu sembarangan dan jangan memancing kemarahan,'' katamu.

Pada akhirnya permintaanmu itu akan menjadi semacam kekonyolan belaka. Karena
apapun suasana hatimu sekarang, dunia tetap akan berputar seperti biasa. Matahari
akan tetap muncul dari timur tanpa peduli apakah engkau sedang sedih atau gembira.
Maka jika engkau kedapatan tengah memanjakan kesedihanmu, memohon belas kasihan
orang-orang di sekitarmu, sesungguhnya engkau sedang merepotkan banyak orang.

Kesedihan yang engkau pertontonkan adalah rapor buruk bagi hidupmu. Mengertilah,
setiap orang punya beban dan kesedihannya sendiri. Maka untuk memahami bebanmu,
orang boleh mengklaim tak punya waktu.

Maka jika ada jenis orang yang masih saja menyediakan waktu untuk menghiburmu,
bukan berarti orang itu lebih bahagia darimu. Tapi karena ia benar-benar telah
bekerja keras untuk itu. Ia harus menekan deritanya sendiri demi untuk menghibur
deritamu. Ia sama sepertimu, orang yang mestinya juga penuh persoalan, tapi karena
sedikit sekali ia mengurusnya, si persoalan itu pun putus asa. Ia menjadi sesuatu
yang tak terpelihara dan akhirnya pergi sia-sia.

Itulah kenapa orang semacam itu terlihat selalu kuat, tenang dan terjaga. Engkau
tak pernah bisa menebak apakah ia sedang sedih atau bahagia. Jika tengah
bergembira, ia tak akan pernah terlihat berbunga-bunga. Jika tengah bersedih, ia
tak pernah kedapatan kusut dan menekuk muka. Kegemparan tak pernah membuatnya
kaget, kekacauan tak pernah membuatnya panik.

Maka kepadanyalah orang-orang takjub dan terpana. Kepadanyalah orang mengadu dan
bertanya. Kedatangannya menjadi sesuatu yang ditunggu, kata-katanya adalah
hiburan, perilakunya adalah keteladanan, dan pancaran pribadinya mendatangkan
kegembiraan.

Apakah orang ini lalu menjadi orang suci? Tidak. Ia masih tetap orang biasa
seperti kita. Bedanya, ia cuma malu menyusahkan sekitarnya dengan kesusahannya. Ia
malu membuat orang lain menderita karena deritanya.

Ia paham beratnya menanggung kesedihan. Maka kesedihan orang lain akan terasa
sebagai deritanya. Berpikir tentang kepentingan orang lain jauh lebih menyita
kesibukannya. Ia sungguh enggan merepotkan dunia dengan urusan dan kepentingannya
sendiri. Tapi anehnya, ketika orang telah merasa dirinya tidak penting, ia malah
menjadi penting luar biasa. (03)