You are on page 1of 2

Berikan Sakit Anakku Kepadaku

Sepanjang bicara soal anak, kita, orang tua, seperti memiliki rumus generik.
Misalnya ketika bicara soal pendidikan anak: anakku harus bersekolah tinggi,
jangan goblok seperti bapaknya. Misalnya lagi soal beragama: anakku harus mendapat
les privat dari guru agama. Orang tuanya sudah kepalang rusak, anaklah yang harus
bisa membantu orang tuanya masuk surga. Lalu jika bicara soal masa depan: jangan
sampai anak besok menjadi orang susah. Cukup bapaknya saja yang sengsara.

Sebagai sesama orang tua, saya sungguh tidak asing lagi dengan rumus-rumus semacam
itu. Saya sendiri toh juga tertulari rumus yang sama. Membayangkan anak harus
menanggung derita yang sama seperti yang kita tanggung, adalah bayangan celaka.
Membiarkan anak mengalami kebodohan yang sama dengan apa yang pernah menjadi
kebodohan kita, adalah tindakan jahat. Pendek kata, anak-anak itu, harus menjadi
generasi yang sama sekali baru: generasi yang bebas dari duka lara seperti yang
pernah ditangung para orang tuanya.

Begitu juga soal sakit. Sepanjang yang saya tahu. Banyak sekali orang tua
berkomentar yang sama saat melihat anaknya sakit. Jika anak itu batuk: ingin
rasanya memindahkan batuk itu menjadi deritanya. ''Tidak tega rasanya, melihat
anak sekecil itu disiksa oleh penyakit jahat,'' kata kita. ''Jika anak panas, atau
yang lebih jahat dari itu, ingin rasanya kupindah deritanya, menjadi deritaku
saja,'' tambah kita.

Yang saya tulis kemudian ini adalah sebuah kisah nyata. Belum lama ini anak saya
sakit panas lengkap dengan batuk dan pileknya. Seperti biasa, panas itu, darimana
sumbernya, selalu membuat mata anak saya meredup dan semangat bermainnya merosot
tiba-tiba. Dalam keadaan seperti itu anak akan layu dan cuma memancing rasa iba.

Memandang dia cuma bisa tergeletak, muntah bila kemasukan makanan dan merintih
jika tertidur, adalah pemandangan yang menyakitkan. Pada saat itulah saya secara
tidak sengaja terseret dalam rumus generik itu. Katimbang anak saya yang menderita
seperti itu, biarlah derita itu saya tanggung saja. Biarlah sakitnya menjadi sakit
saya, kata batin ini. Saya tidak tahu, apakah permintaan itu sudah menjadi doa,
atau sekadar ungkapan kegundahan orang tua belaka.

Yang jelas permintaan itu cepat sekali dikabulkan. Anak saya berangsur sembuh. Dan
entah kebetulan, entah memang proses pengabulan permintaan, hanya selang sehari,
saya bangun pagi dalam keadaan pening. Tidak jelas penyebabnya. Bisa jadi
kelelahan, bisa jadi karena tidur dengan banyak beban pikiran.
Meskipun tidak separah anak saya, sakit pening ini rasanya hebat sekali. Kepala
seperti penuh paku. Pada saat semacam ini apapun bisa berubah menjadi bencana.
Mendengar suara televisi terlalu keras, murka. Mendengar orang lain bercanda,
terdengar seperti menghina. Dan yang paling serius, saya begitu marah ketika anak-
anak saya begitu gaduhnya.

Anak yang ketika sakit menjadi sumber rasa iba itu, yang bahkan kesakitannya saya
minta untuk dipindah menjadi kesakitan saya itu, kini menjadi sumber masalah. Saya
berteriak sekuat-kuatnya agar anak itu takut dan terdiam. Sakit kepala ini membuat
dunia tiba-tiba kiamat. Saya menjadi lupa, bahwa semua ini akibat permintaan saya
juga.

Padahal jika diukur, penyakit yang dipindah dari anak saya itu baru sebagian saja.
Cuma peningnya, belum panas, batuk dan pileknya. Baru sebagian saja sudah membuat
pertahanan mental saya jebol, lalu bagaimana kalau penyakit itu dipindah semuanya.
Jangan-jangan saya bisa edan.

Maka betapa ngeri jika semua permintaan manusia dikabulkan karena manusia
cenderung meminta apa saja yang menurut mereka baik dan menyenangkan. Banyak orang
menyangka akan kuat jika seluruh permintaan itu dikabulkan. Bayangan semacam ini
membuat manusia bisa terlalu percaya diri dalam berdoa kepada Tuhan.

Saya ini buktinya. Baru diganjar sakit kepala saja, dunia sudah seperti berakhir.
Lupa semuanya, lupa anak yang semula saya bela mati-matian itu. Jatuhnya, saya
hanyalah manusia yang bisa sibuk dengan urusan sakitnya sendiri walau sekadar
sakit kepala.

Maka untunglah tidak semua permohonan saya selalu dikabulkan Tuhan. Kalau tidak,
bisa-bisa saya malah menjadi gila.