You are on page 1of 1

Beyonce, Binal, Menggeletar�.

JUDUL tulisan ini saya pungut dari tulisan seorang wartawan atas konser Beyonce di
Jakarta, belum lama ini. Sebuah judul yang membuat minat saya atas Beyonce
berubah. Saya tak lagi tertarik membayangkan konsernya, tetapi malah ganti
tertarik membayangkan imajinasi wartawan ini yang bisa jadi adalah seorang seperti
saya: laki-laki.

Seorang lelaki yang sedang menonton sebuah konser yang disebutnya sebagai binal
dan menggeletar. Waa, ini menarik sekali. Mendengar nama Beyonce disebut saja,
saya tak perlu diajari lagi untuk berimajinasi, karena saya juga lak-laki. Apalagi
ketika ia disebut binal� menggeletar!

Apalagi wartawan ini juga memberitahukan kepada pembacanya tentang gaun super
mini, tentang sekujur tungkai, tentang kurva tubuh yang tegas, tentang helai-helai
rambut liar yang tersangkut di leher, tentang leher yang basah oleh keringat, yang
semuanya terlihat dalam layar besar karena pentas diterangi cahaya 200 ribu watt,
tentang bagian bawa gaun yang dilepas lalu dibuang, tentang bagaimana Beyonce
menggeletarkan paha, dada dan pantat (yang dalam laporan itu disebut bokong)
sambil membelakangi penonton, tentang gaun atasnya yang terbuka lebar. ''Untuk ini
tolong Anda bayangkan sendiri,'' tulis sang wartawan.

Tulisan ini dahsyat sekali. Saya terpaksa berhenti membacanya, karena sebagai
lelaki, saya tak kuat lagi. Alasannya jelas, Beyonce bukan istri saya. Jika
seluruh keindahan ragawinya disodor-sodorkan di depan mata saya, sementara ia
bukan milik saya, pasti cuma akan membuat saya tersiksa. Hidup di Indonesia ini
sudah penuh ujian, maka saya tak hendak menambah-nambah ujian hidup ini dengan
cara menginginkan sesuatu yang bukan milik saya, dan mustahil pula saya dapatkan.
Mustahil Beyonce naksir saya dan tiba-tiba datang ke kampung saya di sudut kota
Semarang sana untuk berkata: ''Tolong Anda poligami, dan jadikan saya sebagai
istri muda.'' Maka dengan berat hati, saya akan menghapus imajinasi ini dengan
segera karena ia akan membebani hidup saya yang sudah berat ini.

Kedua, jika keindahan ragawi yang gegap gempita itu dibaca oleh lelaki yang sedang
tidak bahagia dengan istrinya, ia pasti akan menambah beban deritanya. Istrinya,
pasti akan makin terlihat reyot di matanya. Dan di depan tongkrongan Beyonce yang
muda, gagah dan sentosa itu tentu akan membuat rumah tangganya terasa sepi, karena
setekun apapun istrinya mendampingi, meksipun seluruh kesetiaan telah dicurahkan,
tapi tak akan mengobati dahaga atas sebuah kebosanan. Dahaga, tapi tak berdaya,
aduh alangkah beratnya.

Terus, jika keterpanaan atas fisik Beyonce itu disodorkan kepada para artis-artis
yang telah pensiun, tua dan sepi peran, dibaca oleh perempuan yang sedang grogi
dan bersedih karena sedang merasa tidak kebagian kecantikan, pasti akan berisiko
menimbulkan luka diam-diam. Karena di hari yang sama saya, di media yang sama,
saya juga membaca tentang seorang artis senior yang setiap berkaca, selalu gatal
untuk kembali mengencang-ngencangkan kulitnya yang mulai kondor. Sementara di sini
ada barisan lelaki yang lemah seperti saya, ada perempuan yang sedang rendah diri
dan cemburu, di panggung sana, Beyonce yang kencang sempurna itu, disorongkan
untuk mencibir dengan bahagia!
(Prie GS/)