You are on page 1of 2

Disayat, Digunduli, Diseterika

JUDUL di atas bukan gambaran pemandangan di sebuah kamp penyiksaan melainkan cukup
terjadi di rumah Apriyani, di Cibeber Bekasi. Di rumah itulah, selama dua bulan,
ia dikabarkan menganiaya pembantunya, Haryanti, wanita asal Tegalrejo, Magelang,
Jawa Tengah.

Selama itulah, setiap kesalahan kecil, berarti bencana bagi Haryanti. Bencana itu
bisa berupa pukulan balok kayu, jambakan dan sayatan pisau. Puncaknya adalah
ketika kepala pembantu itu digunduli dan pahanya diseterika. Oya, dalam aksi
aniaya itu, Apriyanti tidak sendiri. Ia juga dibantu anak lelakinya yang mulai
pintar menghantamkan balok kayu ke tubuh sang pembantu. Bantuan ini termasuk luar
biasa mengingat si anak baru duduk di kelas 1 SD.

Cerita di atas setidaknya membuktikan dua hal. Pertama, betapa praktek perbudakan
belum selesai di Indonesia. Kedua, betapa masih serius hambatan usaha pemberdayaan
dan penyadaran perempuan.

Soal perbudakan itu, kita memang pernah sangat sukses mengadopsi kebiasan kaum
feodal, meski kita cuma feodal gadungan. Di masa lalu, siapapun kita, meskipun
bukan priyayi beneran, sepanjang telah bisa mengangkat pembantu, akan langsung
mendapat sebutan bendara. Para pembantu itu, berapapun kita bayar, ia datang
kepada kita tak lebih untuk ngenger, untuk suwita atau mengabdi. Maka status
mereka adalah abdi. Bagi seorang abdi, jangankan bicara soal bayaran tinggi,
diizinkan untuk mengabdi pun sudah merupakan anugerah. Maka kekuasaan bendara pada
abdinya nyaris mutlak. Kalau perlu boleh main sayat dan main seterika seperti yang
terjadi di Bekasi itu.

Sekarang soal pemberdayaan dan penyadaran perempuan itu. Betapa lambat usaha ke
arah ini berjalan. Ketika biro-biro jasa mendidik para pekerja, rasanya mereka
cuma mengajari bagaimana cara merawat bayi, mencuci dan menyeterika. Mereka tidak
diajari, misalnya, agar segera lapor polisi jika dianiaya, agar secepatnya
menunjuk pengacara jika hak-haknya terganggu. Tips mengatasi majikan sadis adalah
kurikulum yang tak pernah ditanamkan di benak mereka.

Kesadaran atas persoalan-persoalan hukum praktis, kesadaran atas hak-hak profesi,
seperti sengaja dijauhkan dari mereka. Betapa mereka sengaja didesain sebagai
mesin. Tak pernah diyakinkan bahwa mereka bukan jongos, melainkan para
profesional.

Maka orang-orang ini harus berani pasang harga, kalau perlu menolak sebutan
pembantu yang meremehkan itu. Bahwa menanak nasi dan merawat bayi harus dianggap
sama susahnya dengan membangun jembatan layang dan gedung-gedung tinggi. Orang
yang menganggap pekerjaan pembantu sebagai murahan, biarkan menangani pekerjaan
itu sendiri. Biarlah Michael Jackson menyeterika bajunya sendiri. Biarlah para
pejabat, pengusaha, tauke, insinyur, dokter... ngepel lantai mereka sendiri.

Ya, kaum wanita, baik yang tengah menjadi pembantu maupun para ibu rumah tangga,
sebaiknya segera menyadari hal ini. Jika suami Anda adalah orang yang gemar main
pukul dan menganiaya, laporklan saja ke polisi. Jika status perkawinanmu
digantung, jika dia menyiksamu dengan cara enggan menceraikanmu, tunjuk pengacara
untuk membelamu. Buktikan bahwa engkau bukan pihak yang gampang diremehkan dan
disakiti. Tapi betapa banyak para wanita yang memilih menahan deritanya secara
sembunyi-sembunyi.

Nasihat ini bukan untuk mengajarimu menjadi wanita kurangajar, melainkan sekadar
untuk mengingatkan bahwa engkau tak selemah yang engkau duga. Tahukah engkau
kenapa Haryanti sampai bisa diseterika dan digebuki bahkan oleh anak SD? Salah

(cn01) (PrieGS/) . Ia selama ini lebih percaya bahwa dirinya adalah abdi yang bahkan kepalanya boleh begitu saja digunduli.satunya ialah karena ia tak pernah memberikan perlawanan apa-apa.