You are on page 1of 2
Doa Salah Jurusan Ini kisah seorang bapak muda dengan anak prematur yang tengah menjemput ajal. Bayi itu, hanya sekepal tangan besarnya dan cuma bisa tergolek kaku di inkubator dengan tubuh seluruhnya membiru. Bibirnya sama sekali menolak bereaksi dan tubuhnya dipenuhi empat selang di empat penjuru. ''Harap tabah,'' kata dokter kepada bapak muda ini. Ia bapak yang cerdas, apa arti kalimat dokter ini telah ia pahami. Bapak muda ini seorang santri. Maka rerfleks santrinya cepat bekerja. Menghadapi ancaman maut seperti ini, ia menggali tradisi yang jamak di desanya, yakni dukungan sebuah jamaah doa. Sementara ia sendiri menunggui anak di rumah skait, ia meminta orang rumah untuk mengumpulkan tetangga dan memohon dukungan doa hidup bagi si anak. Tak sulit menjalankan tradisi ini, karena kampungnya memang kampung santri. Tak cuma kampungnya, keluarganya sendiri adalah para pendoa ulung karena mereka keurunan seseou desa yang juga kiai. Tapi hari itu, kampung sedang kosong. Seluruh kiai dan pendoa terbaik di kampung itu sedang berziarah ke makam para wali, termasuk sebagian besar keluarganya sendiri. Yang ada hanyalah para pekerja dan jika masih tersisa seorang pendoa itu pun cuma pendoa papan bawah dengan lidah cadel pula. Di hari-hari biasa, orang ini hanya layak menjadi jamaah dan penggembira. Ia jenis manusia kebanyakan dan diangap warga kelas dua. Tapi orang inilah satu-satunya yang di hari itu layak menjadi imam dan memimipin doa karena lain tak ada. Dari rumah sakit, bapak muda ini hanya bisa tepana. Keadaan anaknya yang sudah amat payah. Keadaan semacam itu jelas butuh doa kelas satu. Dengan doa itupun hasilnya hanya Tuhan yang tahu. Padahal yang tersedia cuma doa lapis bawah. Maka si bapak muda ini pasrah. Ia membiarkan majelis doa seadanya itu berjalan semampunya. Tapi dasar imam papan bawah. Sudah mutu bacaannya payah, ia membaca doa yang salah pula. Yang dibacakan oleh majelis kacau ini adalah doa percepatan kematian. Dari rumah sakit, bapak muda yang mendengar kabar tentang jenis doa apa yang dipanjatkan untuk anaknya itu cuma tambah gundah belaka. Para pendoa itu, jangankan mengerti salah dan benarnya jenis doa yang mereka baca, karena untuk memahami apa arti doa yang mereka ucapkan pun sudah di luar kesanggupan. Jadi doa itu derajatnya cuma serupa mantera yang mereka ucapkan tak lebih karena semata-semata cuma hafalan. Hafalan pun, doa itu adalah satu-satunya hafalan yang mereka bisa. Jadi lengkap sudah. Di mata bapak yang sedang berduka ini, nasib anaknya sudah ditentukan. Ketabahan harus dia siapkan. Doa yang yang salah jurusan itu hanya isyarat, bahwa Tuhan belum mempercayakan titipan anak itu kepadanya. Ia meyerah. Tapi belum genap kepasrahan itu berjalan kekagetan sudah menyergapnya. Esok hari, bibir anaknya itu bergerak-gerak. Anak yang semula cuma seperti sekepal patung itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dari vonis tiga bulan harus mengeram di inkubator, cuma dalam waktu sebelas hari anak itu bisa diboyong pulang. Kini anak yang menghebohkan itu telah tumbuh menjadi bayi yang montok, sehat dan cerdas. Bapak muda ini, setiap kali memandangi anaknya dengan ketakjuban, selalu juga diikuti oleh takjub lanjutan, yakni takjub pada para pendoa kelas dua itu. Para pendoa papan bawah yang cuma hafal doanya tapi tanpa paham maknanya itu. Cuma bisa bisa hafal itupun cuma satu-satunya hafalan. Tapi jika doa murahan semacam itu pun dikabulkan, berarti ada jenis sifat Tuhan yang harus ditambahkan, yakni Maha Suka- suka. Mau mengabulkan doa atau tidak suka-suka Tuhan saja, bukan karena mutu pendoanya. Maka, bagi pendoa yang terlalu fasih, teralu lancar lidahnya, terlalu merdu suaranya, jika saking merdunya malah takjub pada kemerduannya sendiri, penting mewaspadai hukum Tuhan yang satu ini! (Prie GS/Cn08)