You are on page 1of 1

Dua Jam Sebelum Keberangkatan

Sebelum atlet berlaga, harus melakukan peregangan. Sebelum kendaraan


diberangkatkan, mesin harus dipanaskan. Sebelum menulis sajak, penyair harus duduk
dan terdiam. Maka sebelum berangkat kerja, manusia juga butuh kesiapan. Pemanasan
mutlak hukumnya bagi sebuah pergerakan. Tetapi saya curiga, tidak semua kita yang
hendak bekerja, berangkat dengan kesiapan. Maka kerja yang tidak siap itulah
sumber aneka persoalan.

Hanya karena soal sederhana, seorang pekerja yang tidak siap, akan mudah terbakar
kemarahan. Kalau ia seorang atasan: bawahan terlambat akan terasa sebagai hinaan.
Dering telepon akan serasa gelegar petir dan klakson di jalan akan terasa seperti
bentakan.

Jika ia seorang bawahan, maka ia akan tegang cuma deru mobil atasan. Ketika atasan
memanggil ke ruangan, ia seperti hendak masuk arena uji nyali. Ketika atasan ia
lihat untuk pertama kali, ia seperti melihat penampakan.

Cuma karena ketidaksiapan yang soal-soal sederhana menjadi begitu beratnya. Maka
jika ingin kuat, bersiaplah! Begitulah cara saya menasihati diri sendiri. Nasihat
ini butuh ditegaskan berulang-ulang, karena saya tahu benar siapa diri saya ini.
Saya pasti bukan orang pemberani. Maka untuk berani saya pasti butuh kesiapan.
Saya bukan orang yang selalu jujur. Maka untuk jujur, saya butuh latihan. Saya
bukan orang ramah, maka agar bisa ramah, saya butuh kegembiraan. Berangkat setelah
siap, itulah kata kuncinya. Kesiapan akan membuat kegembiraan. Dan kegembiraan
akan mengalirkan bermacam-macam kekuatan. Kuat ramah, kuat jujur, kuat derma.

Sulit sekali untuk ramah jika hati kita tidak gembita. Sulit sekali berbuat jujur
kalau hidup ini penuh persoalan. Sulit sekali kita berderma kalau hari sedang
tidak rela meskipun sedang banyak uang di kantong kita. Kesiapan akan mudah
memantik kegembiraan, kegembiraan mudah melahirkan kekuatan.

Dan kesiapan itu, sepanjang pengalaman saya, cuma butuh cara-cara sederhana,
misalnya cukup dengan menyediakan waktu minimal dua jam sebelum keberangkatan.
Karena setelah bangun tidur, untuk tenang, seseorang butuh terdiam, demi
mengembalikan kesadaran, menata nafas dan pikiran, baru mengerjakan lain-lain
persoalan. Mandi dengan tenang, minum kopi dengan tenang, dan maka pagi dengan
tenang. Bahkan makan minum yang kehilangan ketenangan, cuma setara dengan
memasukkan barang ke dalam keranjang.

Jika jarak antara tidur dan kerja itu cuma sekejap saja, saya tak bisa
membayangkan mutu keberangkatan seperti apa yang ia dapatkan. Itulah kerja yang
dibekali dengan mandi yang buru-buru, makan yang buru-buru, di jalan yang buru-
buru dan semua soal yang berwatak buru-buru. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada
hasil bermutu dari sebuah proses yang buru-buru. Bahkan di jalanan pun, jika kita
buru-buru, tak ada yang nikmat dari sebuah perjalanan kecuali siksaan.

Seluruh obyek di jalanan cuma seperti hambatan. Jika ada orang yang terlalu pelan,
ia tampak seperti menggoda. Jika ada orang menyalip sembarangan ia seperti
menantang. Dan siapapun yang sedang menghalangi jalan ia sah untuk disingkirkan.
Seluruh isi jagat raya ini sepertinya tengah keliru cuma karena kita sedang buru-
buru. Ada banyak mutu hidup yang kita pertaruhkan, cuma karena sebuah
ketidaksiapan. Dan membangun kesiapan itu ternyata sederhana: cukup dimulai dengan
kebiasaan bangun setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. (Prie GS)

(Prie GS/)