You are on page 1of 2

Grosir Kedermawanan

INDONESIA boleh dianggap negara miskin dan bangkrut. Tapi soal kedermawanan,
negeri ini seperti punya lumbung derma yang tak ada habisnya. Adegan berikut
barangkali akan menggambarkan fakta tersebut.

Di sebuah warung soto, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir
untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat ngendon sempurna di perut, tapi
orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan
ini malah cuma dianggap nyolong start belaka. Karena seorang yang lain, sambil
masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ''Duitnya jangan
diterima. Awas!''

Keributan pun terjadi. Saling ngotot, saling tak mau kalah, sampai akhirnya si
kasir muncul sebagai penengah. Keduanya kalah. Apa sebab? Karena betapapun cepat
dua dermawan itu berpacu ternyata masih kalah cepat dari seorang yang lain lagi,
seorang yang diam, tenang tapi efesien. Ia memainkan taktik yang tak terduga.
Sebelum adegan makan berlangsung, ia diam-diam telah menyelinap lebih dulu,
menyerahkan segepok uang. ''Ini deposit. Untuk bayaran nanti,'' katanya. Gampang
ditebak, dialah pemenangnya.

Cerita semacam ini, di Indonesia bukan hal baru. Disambangi tetangga tanpa
menyediakan minuman, adalah aib bagi keluarga Jawa. Bersilahturahmi Lebaran tanpa
menyuguh makan, adalah pelanggaran etika. Maka satu rumah bisa berarti sekali
minum dan makan. Berumah-rumah berarti berkali-kali minum dan makan.

Dengan tingkat kedermawanan sedemikian rupa, adalah aneh jika Indonesia mengalami
tingkat kesenjangan sosial yang parah, tingkat kemiskinan yang menyedihkan, dan
tingkat korupsi yang mencengangkan. Tapi illustrasi di bawah ini akan menjelaskan,
kenapa dua kutub yang sebetulnya tidak nyambung itu bisa bersatu.

Di sebuah pasar di wilayah Jawa Tengah, lima wanita kedapatan sepakat mencuri
bersama. Ketika mereka tertangkap dan diinterogasi polisi, apa jawabnya? ''Untuk
nyumbang hajat tetangga,'' kata seorang di antaranya.

Jadi jelas sudah, masyarakat kita memaliki bakat ''sinkretis'' tidak cuma dalam
soal-soal ritual dan spiritual, tapi juga persoalan moral. Jangankan cuma
menyatukan dua hal yang berbeda, menggabungkan dua moral yang berkebalikan pun
kita jagonya. Kasus pencurian oleh kelompok wanita di atas, adalah contoh
sederhana, betapa kederwamanan bisa kita biayai dengan segala cara, termasuk
dengan kejahatan.

Makin jelaslah, kenapa kedermawanan semacam itu bisa tidak nyambung dengan soal
ketenteraman negara dan kemakmuran suatu bangsa. Karena kita bisa sangat baik di
sini tapi sangat jahat di situ. Kita bisa menjadi jahat di situ hanya agar bisa
berbuat baik di sini. Biarlah saya korupsi besar-besaran dengan memanfatakan
jabatan, dengan risiko merusak negara asal di kampung halaman saya bisa mengaspal
jalan, bisa membangun masjid dan menyantuni handai taulan. Maka jika seorang
tersangka koruptor dikabarkan mati, ia bisa saja ditangisi oleh banyak orang yang
merasa berhutang budi. ''Sebetulnya dia sangat dermawan. Perasaannya lembut, dia
tidak bisa melihat orang lain kekurangan.''

Cerita tentang koruptor dermawan ini juga sealiran dengan legenda tentang bandit-
bandit besar yang di rumah ternyata adalah bapak yang lembut, suami yang romantis
dan manusia yang sentimentil bila melihat adegan mengharukan. Seorang suami yang
selingkuh dan mentelantarkan anak istri, bisa tetap mengaku remuk-redam jika
bayangan wajah anak-anaknya muncul di malam sepi, jika wajah istri yang setia
berkelebat dalam lamunannya.
Tapi semua sifat mulia toh cuma sentuhan human interset belaka. Selebihnya bandit
itu tetap bandit yang gampang membunuh orang segampang ia meludah. Selebihnya,
tukang selingkuh itu tetap memilih menggauli selingkuhannya katimbang kembali ke
rumah menyantuni anak istrinya. Bahwa semua orang di dalam hatinya mengaku punya
kemuliaan, adalah benar dan boleh-boleh saja. Tapi bahwa kemuliaan itu tak pernah
benar-benar dipraktekkan, di situlah letak persoalannya.

Melihat betapa begini banyak sikap dermawan yang secara aneh bisa hidup
berdampingan dengan banyaknya kerusakan, mudah kita simpulkan bahwa bakat berderma
itu belum sanggup menjadi aset negara, belum sanggup menjadi kontributor
kesejahteraan bersama. Maka jangan buru-buru menyimpulkan jika kita gemar
mentraktir orang, mengaspal jalan dan berderma untuk kegiatan amal, membuktikan
bahwa kita adalah seorang yang mulia. (03)

(PrieGS/)