You are on page 1of 1

Harry Roesli dan Plesetannya

Saya kaget ketika pertama kali mendengar Harry Roesli menyanyikan plesetan lagu
Garuda Pancasila lewat televisi. Kaget karena saya bisa demikian gelinya. Kaget
kedua adalah ketika saya bisa langsung hafal liriknya. Gabungan antara geli dan
hafal ini bukan karena ketinggian naluri humor saya dan kehebatan daya ingat saya,
tapi lebih karena mutu plesetan itu sendiri.

Untuk membuktikan tingkat hafalan itu Anda cukup mempercayai saya saja, tak perlu
meminta saya menulis ulang plesetan itu di halaman ini. Tujuannya jelas, demi
menghormati pihak yang marah dan menganggap aksi ini bermasalah. Kita langsung
menuju kaget yang ketiga saja, yakni kaget mendengar protes penggubah lagu ini
atas ulah seniman yang memang dikenal suka berulah itu.

Kekagetan yang lagi-lagi harus mengingatkan kita bahwa humor, betapapun lucunya
adalah bentuk agresi. Selalu ada pihak yang merasa menjadi korban. Maka ada
baiknya para humoris memang menghitung ketat soal risiko ini. Tapi dalam soal
konflik antara pemleset dan penggubah lagu, kita tak berhak beropini karena telah
menyangkut hak-hak pribadi. Hak seorang "pemilik" yang boleh saja menjaga
kehormatan miliknya.

Cuma kata "pemilik" itu malah membawa kekagetan baru. Rasa kaget yang saya malu
mengakui karena lebih merupakan cerminan sikap naif dan kebodohan. Benar, selama
ini saya lebih merasa bahwa Garuda Pancasila itu sebagai milik bangsa bukan milik
pribadi.

Sebagai milik bangsa, wajar jika ia boleh dibahasakan sebagai milik kita. Karena
ada kita maka boleh pula kalau "saya" merasa ada di dalamnya. Karena ada saya,
wajar pula jika lagu itu seolah-olah juga telah menjadi milik saya. Karena milik
saya, wajar jika saya merasa boleh "mengaransir" sesuai selera. Tapi kasus Harry
Roesli itu segera menyadarkan, bahwa perasaan itu tidak benar sama sekali.

Walau betapapun salah perasaan itu, jangan-jangan "rasa memiliki" itu memang telah
berkembang tidak cuma di benak saya, tapi juga di jalan pikiran Harry Roesli atau
bahkan di sebagian besar benak rakyat Indonesia. Maka ketika melihat Harry
menyanyi, saya tidak seperti sedang melihat seorang warga negara yang sedang
meledek lagu kebangsaannya.

Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa karena plesetan itu, lagu
Garuda Pancasila lantas merosot gengsinya. Plesetan itu menggelikan kita karena
sinismenya yang tajam atas kelakuan kita selama ini yang sangat tidak cocok dengan
semangat lagu yang dahsyat itu. Garuda Pancasila menjadi terlalu gagah, terlau
indah dan terlalu mulia dibanding dengan kelakuan kita sehari-hari. Selama ini
mestinya kita belum cukup punya kualitas menyanyikan lagu itu dengan gegap gempita
tanpa perasaan malu dan rasa bersalah sama sekali.

Plesetan itu malah membantu mengingatkan betapa selama ini kita telah merasa
terlalu percaya diri sebagai patriot, sebagai pendukung Pancasila, sebagai orang
yang rela berkorban. Label rela berkorban apalagi patriot, sungguh bintang jasa
yang kelewat berat jika harus disematkan di dada orang-orang seperti kita.

Malah, jika mau benar-benar hendak menghormat secara profesional, mestinya setiap
orang harus menjadi patriot lebih dulu sebelum menyanyi Garuda Pancasila. Tapi
selama ini, lagu itu memang masih kita bebaskan dinyanyikan oleh siapa saja
termasuk oleh para koruptor dan patriot gadungan. (03)

(PrieGS/)