You are on page 1of 1

Jurus Menghibur Diri

Tak terbayangkan betapa berat beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan
kemampuan menghibur diri. Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata
memandang, rasanya manusia cuma akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftar
persoalan itu, sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika
hidup cuma berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia
pasti akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan.
Maka antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat
bahkan filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta bahwa manusia bisa bertahan hidup
tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.

Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita yang tak ada rampung-
rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang berani hidup katimbang berani
mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan
saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya tak terhingga dan tinggal memungut
begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan itu adalah kemampuan menghibur diri
seperti yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur
ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan. Saya tidak malu disebut sebagai
suka menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya tak boleh
menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini.

Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil saja, yang saya beli
dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata suratnya tak juga rampung
selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya setiap mengingatnya. Setiap
melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta karun, melainkan malah seperti
melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya
buang dari pikiran. Tanah itu tetap di tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya
telah berubah. Katimbang menatap tanah itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung
di sekitar yang terlihat dari rumah saya. Saya suka naik ke atas rumah dan
menengadah melihat langit. Waa.. dunia ini luas sekali.

Begitu luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah
secuil itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya
bisa. Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk
dipikirkan. Kalau perlu saya akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan
sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini masuk akal. Tetapi
baru memikirkan keinginan ini saja hati saya sudah gembira luar biasa. Hati itu
tiba-tiba terbimbing untuk menuju keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas.
Hati dan pikiran itu akhirnya tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu
remeh jika badingannya adalah seluruh hidup kita.

Maka setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang
hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat
seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih
kencang, untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya
menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita
hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh
dari kehidupan.