You are on page 1of 2

Membayar Harga di Depan

Seluruh yang kita peroleh, adalah juga seluruh yang telah kita bayarkan. Maka
barang siapa meperoleh tanpa membayar, ia adalah pihak yang berhutang. Teori ini
mengajari saya untuk segera mempertanyakan baik setiap penerimaan maupun setiap
kehilangan yang saya alami.

Hasilnya lumayan, saya menjadi relarif mudah berdamai dengan keadaan. Perdamaian
ini penitng karena tidak setiap kenyataan adalah soal-soal yang menyenangkan dan
soal yang kita inginkan.

Seperi misalnya malam itu, ketika saya pulang kerja dalam keadaan penat berat.
Jika rasa penat ini boleh disebut sebagai kehilangan, segera saya bayangkan sebuah
penerimaan sebagai ganjarannya. Ada yang hilang memang, tetapi segera ada yang
saya terima. Bekerja memang berat, tetapi hanya dengan bekerja saya bisa
menyekolahkan anak dan membangun keluarga.

Dibanding dengan perasaan berharga karena bekerja, rasa penat itu menjadi remeh
saja terasa. Gantinya lalu ada jenis penat yang indah, yang bergaiarah. Penat
pulang kerja, tetapi kebahagiaan mengguyur di seluruh aliran darah karena
perasaaan berharga.

Tetapi waspadalah, karena bahkan kebahagiaan itu pun juga ada ongkosnya. Sebelum
ongkos itu saya bicarakan, akan saya catat dulu perasaan orang yang bahagia.
Pertama, ia akan menyambut siapa saja degan perasaan suka cita. Jika ia ketemu
sahabat, ia akan menyapa dengan keramahan sempurna. Jika ia menerima telepon, kata
halo pertama akan dipekikkan dengan gegap gempita. Dan dalam keadaan gembira orang
bisa kehilangan kontrol dan kerendah-hatiannya.

Begitulah perasaan saya ketika malam itu HP saya berdering dari nomor asing dan
pihak yang sama sekali tak pernah saya duga. Ia saudara sendiri sebetulnya, tetapi
amat jarang kami bertemu, maka teleponnya yang datang tiba-tiba itu sama sekali
tidak singgah di ingatan saya.

Tetapi karena ia adalah saudara, saya mengepeskpresikan kekagetan saya, sekaligus


kegembiraan saya. Separoh ekspresi ini berisi semangat untuk menghormati saudara,
sementara yang separohnya berisi kegembiraan saya sendiri. Karena memang begitulah
watak hati yang sedang bergembira. Dialog selanjutnya ialah:

''Hallo, siapa ini!''

''Aku si Anu, sudaramu!''

''Wuaaaa� apa kabaaaaarrrr!''

''Kabar baik! Apa kabar juga?''

''Luar biasa! Jam sebegini aku baru pulang kerja. Hebat ya? Aku khawatir, dengan
kerja kerasku ini aku benar-benar akan kaya raya. Karena bahkan hingga saat ini,
aku sudah kebingungan, duitku ini mau aku taruh di mana!''

Anda tahu bukan, bahwa saya sedang bercanda. Tapi apa yang terjadi? Saudara jauh
yang tidak pernah saya sangka-sangka ini, benar-benar si malang yang bernasib
baik. Malang karena ia mengaku saat itu sedang kesulitan uang, bernasib baik
karena cara saya menjawab teleponnya itu cuma memudahkannya untuk mengutarakan
niat yang sebenarnya tanpa saya bisa menolaknya. Apa niat itu? Ya, saat itu, ia
benar-benar hendak meminjam uang. Tetapi karena kecerobohan saya sendiri dalam
pamer kekayaan itu, membuatnya berani ngutang dengan percaya diri.
Malam itu, setelah paham apa niatnya yang sebenarnya, sebenarnya saya pucat pasi.
Separoh kegembiraan saya lenyap seketika. Tetap teori di atas menguatkan saya
kembali: bahkan bercanda pun tak bebas pajak. Alam ini akan menarik ongkos dari
seluruh perbuatan kita!
(Prie GS/Cn08)