You are on page 1of 2

Mengenang Kho Ping Hoo

SAYA ingin mengenang Kho Ping Hoo bukan karena hafal hari kelahiran dan
kematiannya. Saya mengenang tokoh ini karena melihat perayaan Imlek yang gegap
gempita. Perayaan yang menjadi bukti betapa tertekan hari besar itu selama ini.
Sebagai upacara, di Indonesia ia pernah menjadi anak tiri.

Ketika Imlek belum merdeka, Kho Ping Hoo hadir menghibur kita. Begitu tenggelam
dalam hasutan ceritanya, kita segera melupakan tentang persoalan suku, ras, agama
dan antara golongan yang menegangkan itu.

Dengan caranya sendiri Kho Ping Hoo mengajak kita untuk membuktikan bahwa semua
manusia bisa menjadi saudara. Ia tak pernah kedapatan membuang-buang waktu untuk
berdebat soal sebutan yang tepat tentang Cina, Tionghoa, Tiongkok.... Apapun
sebutannya manusia ternyata sama saja. Setiap bangsa selalu bisa melahirkan
pendekar dan para patriot. Tapi setiap bangsa juga selalu memiliki maling dan
koruptor.

Maka membaca Kho Ping Hoo, tak penting benar apakah saya ini seorang Jawa, Cina
atau Batak. Bagi saya popularitas Huang Ho itu sudah seperti Banjir Kanal bagi
Semarang, Ciliwung bagi Jakarta dan Musi di Sumatera. Bangsa Han itu malah seperti
keluarga dekat saja karena ephosnya, karena di sana banyak satria gagah, kaum
teraniaya yang gigih melawan penjajah. Tapi lepas dari itu semua, bangsa itulah
yang melahirkan manusia seperti Suma Han yang bagi saya adalah teman masa kecil,
kakak, idola dan hero. Saya mengikuti hidupnya sejak masih kanak-kanak hingga
remaja dan harus buntung kakinya, sampai akhirnya dia mendapat gelar yang bahkan
Mike Tyson pun kecil di hadapannya: Pendekar Super Sakti.

Saya membayangkan Suma Kian Bu seperti membayangkan kakek buyut sendiri. Istana
Pulau Es itu seperti tempat main waktu kecil, tempat saya bertemu dengan para
engkong, sute, subo, suheng dan para susiok. Para manusia yang karena
kesaktiannya, karena keluhuran budinya, naik derajat menjadi manusia setengah
dewa.

Tapi selain para idola, saya juga dipertemukan dengan para jai hwa cat, para figur
mata keranjang, pendekar pemetik bunga. Sebuah gelar yang di mata saya menjadi
begitu mengerikan. Karena inilah manusia berilmu tinggi tapi bejat kelakuannya.
Mereka adalah tukang perkosa, tukang selingkuh dan tukang gaet istri orang. Mereka
adalah orang jahat tapi sangat berkuasa. Atau mereka adalah orang biasa yang
sangat ingin berkuasa hanya untuk bisa melampiaskan nafsu jahatnya. Betapa dekat
kenyataan semacam itu di sekitar saya.

Kho Ping Hoo juga mengajak bertemu para pengecut dan kaum bo ceng li, para muka
badak dan kebal malu. Maka jadi terbayanglah tentang oknum pejabat yang sudah
ngerti rakyatnya susah tapi masih tega korupsi. Sudah ngerti jadi tersangka masih
tampil percaya diri dan sering pula talk show di televisi.

Kho Ping Hoo membawa saya menyatukan batas-batas geografi dan status. Bahwa
tinggal di Hoasan Pay pun bisa serasa di rumah sendiri jika di sana ada
ketenteraman, keadilan, keteladanan. Saya diperkenalkan dengan para hwesio dan
pendeta yang butiran tasbihnya segede kelapa. Tasbih yang ternyata bukan menjadi
alat berdoa tapi malah bisa menjadi alat pembunuh. O, ada juga hwesio yang
menggunduli kepala bukan karena dorongan spiritual melainkan karena ambisi pribadi
semata. Pemandangan yang juga dekat dengan saya karena sekarang tak sulit mencari
tokoh agama berantem dan saling memaki, malah ada pula yang diduga korupsi.

Jadi sebelum Imlek dirayakan secara terbuka, Kho Ping Hoo telah jauh-jauh hari
merayakannya. Ia telah lama dekat di hati. Bagi saya nonton film kung fu, sudah
sama dekatnya dengan nonton ketoprak humor. Jika ada sesuatu yang asing dan
berjarak, pasti bukan karena soal warna, liong, barong sai, lampion dan kelenteng,
tapi lebih karena kelakuan kita sebagai manusia. Seribu satu jenis kebudayaan
boleh lahir dan dirayakan. Sepanjag watak kita baik-baik saja, semua jenis
perayaan itu akan mendatangkan kegembiraan bersama. (03)

(PrieGS/)