You are on page 1of 1

Serambi

09-08-2007

Sherina dan Indonesia

SEANDAINYA anak-anak Indonesia berkesempatan tumbuh seperti Sherina..., begitu


pikirku suatu kali. Sejak lama anak itu membuatku termangu. Sejak usia SD kelas
dua ia telah menggemparkan Indonesia dengan lagu anak-anak yang tak biasa. Lagu
yang bahkan orang tua pun berat menyanyikannya. Lagu yang amat dewasa, amat
berselera tetapi tanpa menganggu masa kanak-kanaknya. Anak itu tetaplah anak-anak,
tetapi dari jenisnya yang berbeda. Keberanian meneguhkan perbedaan ini, sungguh
menggugah rasa hormatku, terutama pada keluarganya.

Di usai sedini itu, bahasa Inggrisnya telah baik sekali. Ia tampak mungil nyelip
di antara sosok-sosok Westlife yang raksasa ketika boysband itu datang ke
Indonesia. Tetapi anak ini berdialog dengan mereka seperti kepada teman
sepermainannya. Ini sebuah syiar yang menggugah kepada anak-anak di negaraku yang
terancam inferior oleh kekuatan asing. Lalu terbayanglah di benakku tokoh Haji
Agus Salim yang kecil dan kurus tetapi begitu sampai di podium langsung berubah
menjadi singa. Terbayang Sutan Syahrir dengan fisik yang seadanya, tetapi dengan
isi pikiran seluas Indonesia Raya.

Ketika Sherina main film, aku diseret putriku untuk ikut antre berdesakan cuma
untuk bisa menontonnya. Aku terharu melihat film ini. Bukan karena terhasut pada
ceritanya, melainkan karena terhasut imajinasiku sendiri. Melihat akting Sherina
yang alamiah dengan pipi segembul mangga muda, aku menoleh untuk melihat putriku
sendiri. Anak yang lahir dari kemampuan kami yang sederhana. Kepadanya belum bisa
kuberikan kursus balet, kursus bahasa, kursus piano, kursus vokal, kursus wushu...
seperti yang telah diperkenalkan kepada Sherina sejak balita.

Kepada anakku, paling banter baru bisa aku ikutkan kursus menghitung cepat yang
pernah jadi wabah itu. Begitu cepatnya kemampuan menghitung itu hingga kalkulator
sendiri tak berdaya melawannya. Tetapi sebelum kecepatan anakku dalam menghitung
itu benar-benar menggila, aku telah menghentikannya. Aku ketakutan jika kecepatan
menghitung itu sudah dia punya, tetapi yang dihitung ternyata tidak ada. Aku
mungkin tidak sangup memberikan seluruh kursus terbaik pada anakku. Tetapi
setidaknya aku masih bisa mengajarkannya untuk tidak mudah tertipu, sibuk
mengajaknya menghitung barang-barang yang bukan miliknya. Aku tidak ingin anakku
ngebut dan bergaya di jalan raya dengan sepeda motor yang tengah macet angsuran
kreditnya.

Kini Sherina telah dewasa, tetapi rasa cemburuku pada keluarganya malah kian
bertambah saja. Seandainya seluruh keluarga di Indonesia memiliki kesempatan
serupa, anak-anak di negeri ini, tentu lebih mudah bergembira, lebih mudah
menemukan dirinya. Di album terbarunya, album remajanya yang pertama, kekuatannya
sebagai anak muda itu hadir penuh. Ia menghapus seluruh bayang-bayang masa
kecilnya tanpa harus menjadi pemberontak yang marah. Tidak seperti pejabat baru
yang bahkan membenci hingga ke kursi yang diduduki pejabat lama. Sebuah
pemberontakan yang tenang, pasti dan amat percaya diri yang cuma mungkin muncul
dari pribadi lengkap lauk pauk hidupnya. Inilah yang di dalam industri agro adalah
hasil dari teknik sonic bloom itu.

Bahkan tanaman pun jika kepadanya diasupkan nutrisi organik, didengarkan bunyi-
bunyian yang selaras dengan habitatnya akan segera merangsang pertumbuhannya.
Pasti tidak semua anak Indoneisa punya berkesempatan tumbuh selengkap Sherina.
Tetapi jika setidaknya mereka tumbuh dengan cinta yang semestinya, anak-anak itu,
pasti akan mudah menemukan kehidupannya.
(/Prie GS)