TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN KLINIK IV B ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MISTENIA GRAVIS

oleh: Rifqi Afriandy S. A. NIM 102310101006 Moh. Firman Hamdani NIM 102310101016 Myla Alisa Novita SariNIM 102310101038

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena ridho dari-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah yang berjudul ”Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Miadtenia Gravis” dibuat untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Keperawatan Klinik IVB di Program Studi Illmu Keperawatan. Tidak lupa ucapan terima kasih yang kepada: 1. Ns. Ratna Sari H., M.Kep. sebagai dosen penanggung jawab Mata Kuliah Keperawatan Klinik IVB yang telah memberikan dukungan; 2. seluruh dosen pengajar Mata Kuliah Keperawatan Klinik yang telah memberikan bimbingan; 3. teman-teman angkatan 2010 yang telah memberikan semangat. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penelitian ini karena layaknya manusia biasa yang pasti mempunyai kesalahan dalam hal apapun seperti pepatah bahwa ”tak ada gading yang tak retak”. Besar harapan penelitian ini nantinya dapat berguna bagi para pembaca dalam mencari ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jember, Februari 2012

1 Pengkajian 4.2 Tujuan 1.8 Pencegahan BAB 3.2 Diagnosa 4. ASUHAN KEPERAWATAN 4.3 Implikasi Keperawatan BAB 2. PATHWAYS BAB 4.1 Latar Belakang 1.3 Etiologi 2.1 Pengertian 2.4 Pelaksanaan 4. KESIMPULAN .4 Tanda dan Gejala 2.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1.6 Komplikasi dan Prognosis 2.5 Evaluasi BAB 5. TINJAUAN TEORI 2.2 Epidemiologi 2. PENDAHULUAN 1.7 Pengobatan 2.5 Patofisiologi 2.3 Perencanaan 4.

DAFTAR PUSTAKA .

Seorang perawat perlu memahami konsep penyakit ini. . mulai dari pengertian.3 Implikasi Keperawatan Miastenia gravis merupakan gangguan dalam sistem saraf.BAB 1. Hal ini menjadi tugas bagi seorang perawat pediatrik khususnya. komplikasi dan prognosis. Kemudian menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan masalah pasien. PENDAHULUAN 1. Penyebab terjadi penyakit ini belum diketahui secara pasti. 1. 1. Seorang perawat perlu untuk memahami konsep dasar penyakit dan yang terpenting adalah mampu menyusun asuhan keperawatan pada pasien dengan miastenia gravis.1 Latar Belakang Miastenia Gravis merupakan penyakit saraf yang menyebabkan kelemahan otot. Hal tersebut diperlukan agar asuhan keperawatan yang diberikan tepat sesuai dengan masalah yang dialami pasien.2 Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit miastenia gravis. patofisiologi. yang dalam hal ini difokuskan pada kejadian tumbuh kembang anak. pengobatan serta pencegahan. penyebab. tanda dan gejala. Seseorang yang menderita penyakit ini akan mengalami masalah gerak tubuh karena ototnya menjadi lemah. Pemahaman yang menyeluruh mengenai konsep penyakit capat membantu mengkaji data-data pasien secara lebih detail. sehingga pasalah keperawatan yang timbul benar-benar telah tercakup seluruhnya. Peran utama perawat tidak dalam aspek pengobatan.

Namun lebih sering terjadi pada usia 20 tahun. C. Dapat disertai patologi timus. 2000: 906). Penyakit ini menyerang semua kelompok usia (Lionel Ginsberg. 2. atrofi. 2005: 156).1 Pengertian Mistenia gravis merupakan penyakit autoimun. atau tumor-timoma (Lionel Ginsberg. maka prevalensi mencapai 1/10. Gangguan ini menyerang otot yang dikendalikan saraf kranial (wajah. leher dan tenggorokan). Lebih dari 90% penderita mempunyai antibodi terhadap protein reseptor post-sinaptik dan memblok transmisi saraf. bibir.000. Penyakit ini juga berbahaya karena juga melibatkan sistem pernapasan.2 Epidemiologi Mistenia gravis jarang terjadi. 2005: 156). E. tetapi karena banyak pasien mengalami penyakit ini dalam jangka waktu lama. Lebih dari 50% penderita menunjukkan timus yang hiperplastik dan timoma ditemukan sekitar 15% (J. 2. 2000: 906). C. otot bulbus. kelemahan abnormal pada otot skeletal.4/100. dan bertambah buruk setelah latihan dan pengulangan gerakan. Pada penyakit ini terdapat antibodi terhadap reseptor asetilkolin pada sinaps neuromuskular. Underwood. dan otot tungkai proksimal (J. Wanita lebih sering terkena dibandingkan laki-laki. E. dengan progresivitas kelemahan yang fluktuasi. seperti hiperplasia. insidensi per tahun kira-kira 0. dan dapat menyerang otot lain. TINJAUAN TEORI 2. yaitu penghubung antara unsur saraf dan .BAB 2. Underwood. menyebabkan kelemahan otot menahun. kelemahan progresif dan sporadis. mengenai terutama otot okular. biasanya mengenai orang berumur 20-40 tahun. Mistenia gravis juga dikatakan penyakit autoimun dimana persambungan otot dan saraf (neuromuscular junction) berfungsi tidak normal.000. Jumlah reseptor asetilkolin yang ditemukan pada kondisi ini sedikit. lidah.3 Etiologi Kelainan primer pada miastenia gravis dihubungkan dengan gangguan transmisi pada neuromuscular junction.

dan akhirnya dapat berupa serangan dispnea dan pasien tidak mampu membersihkan lendir pada trakea. memburuk pada sore atau malam hari dan setelah berolahraga atau fatig abilitas (Lionel Ginsberg. c. 2005: 156). 2. kelemahan wajah yang meliputi ekspresi miastenik dan kelemahan saat menutup mata. . gejala dan tanda bulbar yang meliputi disfagia (dengan regurgitasi nasal cairan). laring. keterlibatan otot-otot pernapasan (gejala bulbar dan pernapasan akut yang disebabkan oleh mistenia merupakan keadaan gawat). f. yaitu: a. diplopia (persepsi adanya 2 bayangan) dengan keterbatasan gerak mata. terutama Na. (Sylvia dan Wilson. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada miastenia gravis tidak diketahui. sehingga dengan demikian terjadilah kontraksi otot. faktor imunologik yang berperanan.4 Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul. e. 2001: 1001). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson. dan pasien tidak mampu menutup mulut yang dinamakan sebagai tanda rahang menggantung. menimbulkan suara yang abnormal atau suara nasal. Miastenia gravis menyerang otot-otot wajah. tetapi menurut teori terakhir. d. Keadaan ini dapat menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika pasien mencoba menelan (otot palatum). dan faring. Reaksi ini membuka saluran ion pada membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation. Terserangnya otot-otot pernapasan terlihat dari adanya batuk dan lemah. ptosis fatig. pada miastenia gravis terdapat kekurangan ACh atau kelebihan kolinesterase. kelemahan otot leher dan ekstremitas gerak. dan disartria (suara hidung). b. partikel globuler pecah dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya sarafi yang kemudian bereaksi dengan ACh Reseptor (AChR) pada membran postsinaptik.unsur otot. Dulu dikatakan. Pada ujung akson motor neuron terdapat partikel-partikel globuler yang merupakan penimbunan asetilkolin (ACh).

5 Patofisiologi Otot rangka dan otot lurik dipersarafi oleh saraf besar bermielin yang berasal dari sel konu anterior medula spinalis dan batang otak. mungkin akibat cedera autoimun. meskipun dengan adanya perbaikan dalam perawatan intensif untuk pernapasan komplikasi yang timbul dapat ditangani dengan baik (Sylvia dan Wilson. 2001: 999). gabungan antara saraf motorik dan serabutserabut otot yang dipersarafi dinamakan unit motorik. Jika ada atrofi. yaitu otot dan kelenjar juga menjadi berkurang. maka itu disebabkan karena otot tidak dipakai. Pada miastenia gravis. pada keadaan miastenia gravis. Saraf-saraf ini mengirimkan aksonnya dalam bentuk saraf-saraf spinal dan kranial menuju ke perifer. Antibodi terhadap protein reseptor asetilkolin ditemukan dalam serum banyak pada penderita miastenia gravis. konduksi meuromuskular terganggu. terjadi penurunan jumlah asutilkolin yang berfungsi sebagai neurotransmitter. tetapi pada otot rangka tidak dapat ditemukan kelainan yang konsisten (Sylvia dan Wilson. hal inilah yang menyebabkan kelemahan otot pada keadaan miastenia gravis. tetapi setiap serabut otot dipersarafi oleh hanya satu meuron motorik (Sylvia dan Wilson. 2. Faktor penting untuk menentukan patogenesitas miastenia gravis adalah apakah merupakan akibat kerusakan reseptor primer atau sekunder oleh suatu agen primer yang belum dikenal. 2001: 998). . Jumlah reseptor asetilkolin kurang. Secara mikroskopis beberapa kasus dapat ditemukan infiltrasi limfosit dalam otot dan organ-organ lain. Akibatnya impuls dari neuron tidak dapat tersampaikan seluruhnya ke otot. Masing-masing saraf bercabang banyak sekali dan mampu merangsang sekitar 2000 serabut otot rangka.2. Meskipun setiap neuron motorik dipersarafi banyak serabut otot. Hal ini disebabkan oleh insufisiensi pernapasan. 2001: 1000).6 Komplikasi dan Prognosis Komplikasi yang timbul biasannya adalah kematian. Secara singkat. secara makroskopis otot-ototnya tampak normal. Pada pasien-pasien miastenia gravis. sehingga jumlah zat kimia yang dilepaskan dari presinaps menuju post sinaps.

2. jadi tindakan pencegahan yang dapat dilakukanpun belum dapat dipastikan. semua otot serat lintang dapat diserang. antikolinesterase. imunosupresi. yaitu: a. b. angka kematian 4%. dan neostigmin untuk menghancurkan kolinesterase. Jadi langkah kecil untuk mencegah miastenia gravias adalah dengan mempertahankan jumlah asetilkolin . Miastenia gravis yang mendapat pengobatan. Tanpa pengobatan angka kematian miastenia gravis 25-31%. misal azatioprin. Remisi spontan pada awal penyakit terjadi pada 10% miastenia gravis. 20% mengalami insufisiensi pernapasan yang dapat fatal. e. mencapai puncak sesudah 3-5 tahun. kemudian berangsur-angsur baik dalam 1520 tahun dan ± 20% antaranya mengalami remisi. misal piridostigmin yang dapat memperbaiki gejala. pertukaran plasma (plasmaferesis) atau imunoglobulin intravena untuk persiapan timektomi dan pada penyakit sangat berat (Lionel Ginsberg.8 Pencegahan Penyebab pasti miastenia gravis belum diketahui. 2. digunakan dalam kombinasi dengan kortikosteroid untuk kekadaan berat. timektomi jika terdapat timoma. c.cepat atau lambat akan mengalami atrofi otot.Pada anak. Progresi penyakit lambat. prognosis sangat bervariasi tetapi relatif lebih baik dari pada orang dewasa. d. 40% hanya gejala okuler. dan pada pasien muda dilakukan pada awal penyakit untuk mengurangi kebutuhan terapi medikamentosa. 10%. 10% miastenia gravis tetap terbatas pada otot-otot mata. Dalam perjalanan penyakit. dan pada sebagian kecil pasien untuk mencapai remisi total. kortikosteroid. Pada keadaan miastenia gravis terjadi penurunan jumlah asetilkolin yang berfungsi sebagai neurotransmitter sinaps yang disampaikan ke otot.7 Pengobatan Miastenia gravis dapat diterapi dengan beberapa obat berikut. 2005: 156). misal prednisolon diperlukan untuk penyakit yang sedang hingga berat yang tidak responsif terhadap terapi lain. terutama otot-otot tubuh bagian atas.

Penting juga untuk menghindari cedera autoimun. karena cedera autoimun dapat menyebabkan jumlah asetilkolin berkurang.tidak berkurang. .

BAB 3. napas gangguan CN 2 (optik) perubahan pola aktivitas kelemahan otot Impuls saraf tidak sampai ke otot Gangguan neuromuskular junction . Kranial Mistenia gravis gangguan sist. tubuh Penurunan keinginan makan diafagia gangguan CN 9 (glosofaringeal) perubahan pola persepsi sensori diplopia gangguan rasa nyaman lemah menutup mata gangguan CN 3 (okulomotorik) sakit tenggorokan batuk perubahan pola napas dispnea menyerang CN. PATHWAYS Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari keb.

Persepsi diri: pola konsep diri 1) Pandangan anak terhadap dirinya 2) Anggapan anak terhadap kondisi sakitnya h. ASUHAN KEPERAWATAN 4. Persepsi kesehatan: pola penatalaksanaan kesehatan 1) Perilaku mencari pelayanan kesehatan anak dan orang tua 2) Pandangan anak terhadap kondisi sakit b.1 Pengkajian Pengkajian menurut Gordon. Tidur: pola istirahat 1) Pola tidur 2) Waktu tidur dalam sehari 3) Gangguan tidur f.BAB 4. Peran: pola berhubungan . Kognitif: pola perseptual 1) Pengetahuan anak 2) Pengetahuan orang tua g. yaitu meliputi: a. Aktivitas: pola latihan 1) Pola aktivitas 2) Kekuatan otot gerak 3) Pola bermain e. Pola eliminasi 1) Pola eliminasi defekasi 2) Pola eliminasi miksi d. Nutrisi 1) Pola makan 2) Asupan gizi seimbang 3) Peran orang tua dalam memberikan makanan seimbang 4) Rasa sakit ketika makan 5) Nafsu makan anak ketika sakit c.

Merperluas ekspansi paru sehingga memudahkan bernapas 3. Koping: pola toleransi stres 1) Pola bermain ketika sakit berubah atau tidak k. Bantu anak melakukan teknik napas dalam 4. Diagnosa Intervensi 1. Mengetahui keefektifan . berhubungan dengan penurunan keinginan makan. Dx 1 1.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan mistenia gravis. 4. berhubungan dengan kelemahan otot. perubahan pola napas.1) Hubungan dengan orang tua 2) Hubungan dengan teman bermain i. c. Kaji respon anak ( S dan O) 5. frekuensi dan kedalaman napas 2. gangguan rasa nyaman. Kaji ulang pola. Seksualitas: pola reproduksi j. Mendapatkan data pernapasan yang aktual 2. Elaborasi untuk tindakan oksigenasi Rasional 1. perubahan pola aktivitas. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. perubahan pola persepsi sensori. berhubungan dengan nyeri tenggorokan saat batuk. d. berhubungan dengan gangguan sistem pernapasan. berhubungan dengan gangguan nervus II (optik). Nilai: pola keyakinan 1) Keyakinan dan agama anak dan orang tua 2) Kepercayaan khusus terhadap kondisi sakit 4. yaitu: a. b. Atur posisi fowler atau semifowler 3.3 Perencanaan No. e. Membantu menarik oksigen lebih banyak dan memudahkan bernnapas 4.

Pantau asupan nutrisi setiap hari 3. 2. Dx 3 1. Membantu mencegah batuk yang menyebabkan nyeri tenggorokan 4. Pertahankan asupan nutrisi 1. Alihkan perhatian pasien dari rasa tidak nyaman menelan yang dirasakannya 4. Mengetahui apa yang dilakukan pasien ketika nyeri mulai terasa 3. Dx 2 1. Ajarkan teknik relaksasi 5. Mengetahui kemampuan dan gangguan menelan 2. Ajarkan teknik napas dalam 4. Mencegah pasien merasakan rasa nyerinya 4. Membantu memantau pasien dalam minum obat 7. Kaji kemampuan mengunyah dan menelan 2. Kaji respon pasien (S dan O) 1. Elaborasi dalam pemberian obat batuk 6. Kaji koping pasien terhadap nyerinya ketika batuk 3.tindakan yang dilakukan 5. Mengobati batuk dan mengurangi rasa nyeri 6. Mengetahui kefektifan tindakan yang dilakukan 3. Mengetahui pemasukan nutrisi setiap hari 3. Mengetahui intensitas nyeri yang dirasakan pasien 2. Membantu pasien beradaptasi dengan rasa nyerinya 5. Kaji intensitas nyeri tenggorokan pasien dengan skala nyeri 2. Memenuhi kebutuhan oksigen pasien. Mempertahankan asupan nutri yang cukup dan . Libatkan orang tua 7.

Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan 8. Menentukan komposisi nutrisi yang tepat untuk anak 9. Atur posisi nyaman dan 1. Libatkan orang tua pasien untuk makan dan memenuhi nutrisi 7. Elaborasi dengan ahli gizi 9. Mnegetahui . Lakukan latihan ROM 4.yang cukup bagi pasien seimbang 5. Libatkan orang tua dalam melakukan latihan 6. Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan 5. Pantau perkembangan pola aktivitas anak nyaman pada anak dan melatih mobilisasi untuk menghindari kaku 3. Kaji respon anak (S dan O) 5. Kaji kekuatan motorik otot 2. Membantu anak 8. Menarik perhatian sesuai kesukaan anak 6. Membantu anak melakukan antivitas dan latihan 6. 4 Dx 4 1. Melatih mobilisasi dan menghindari kaku 4. Lakukan tindakan NGT jika perlu memenuhi asupan nutrisi 7. Mengetahui kekuatan otot terutama otot gerak lakukan mobilitas secara teratur 2. Memberikan nutrisi jika terjadi gangguan pada saluran pencernaan atas. Modifikasi makanan seimbang 5. Kaji respon anak dan orang tua 6. Memberikan rasa setiap hari 3.

Kaji respon anak ( S dan O) 5. Bantu anak melakukan teknik napas dalam 4. Dx 5 1. Telah melakukan pemeriksaan fisik pada frekuensi . Kaji respon anak. Memberikan obat untuk mengobati gangguan visual 4. No. Kaji adanya gangguan pada visual 2. Elaborasi untuk tindakan Implementasi 1. Kaji koping anak terhadap kondisinya 3. Mengetahui gangguan pada mata dan penglihatan 2. Telah diberikan posisi fowler 3. frekuensi dan kedalaman napas 2.4 Pelaksanaan Pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan pada intervensi yang telah ditetapkan. Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan. Kaji ulang pola.perkembangan aktivitas dan sebagai evaluasi tindakan yang dilakukan. pola dan kedalaman napas 2. Atur posisi fowler atau semifowler 3. 5. Mengetahui tindakan yang dilakukan untuk menghadapi masalahnya 3. 4. Diagnosa Intervensi 1. Telah membantu anak melakukan teknik . Elaborasi dalam pemberian obat 4. Dx 1 1. 1.

Elaborasi dalam pemberian obat batuk 6. Libatkan orang tua 7.oksigenasi napas dalam 4. Ajarkan teknik relaksasi 5. Kaji intensitas nyeri tenggorokan pasien dengan skala nyeri 2. Telah ditanyakan tanggapan anak terhadap tindakan dan mengkaji respon nonverbal anak 5. Dx 2 1. Telah ditanyakan intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri 1-10 2. Telah ditanyakan apa yang dilakukan anak ketika nyeri terasa 3. Ajarkan teknik napas dalam 4. Telah diajarkan teknik relaksasi 5. Telah ditanyakan tanggapan pasien dan dikaji respon nonverbal pasien 3. Telah dilakukan pemberian oksigenasi 2. Telah meminta orang tua memantau anak dalam minum obat 7. Kaji koping pasien terhadap nyerinya ketika batuk 3. Telah diajarkan teknik napas dalam 4. Kaji respon pasien (S dan O) 1. Telah dikaji . Dx 3 1. Kaji kemampuan mengunyah 1. Telah dilakukan elaborasi dalam menentukan pemberian obat batuk 6.

Telah dilakukan pemasangan NGT dan pemberian nutrisi melalui NGT.dan menelan 2. . Alihkan perhatian pasien dari rasa tidak nyaman menelan yang dirasakannya 4. Lakukan tindakan NGT jika perlu modifikasi tampilan dan rasa pada makanan anak 6. Pertahankan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien 5. Modifikasi makanan seimbang sesuai kesukaan anak 6. Telah dikaji tanggapan dan respon nonverbal anak juga orang tua 8. Telah dilakukan elaborasi untuk memberikan nutrisi cukup dan seimbang 9. Kaji respon anak dan orang tua 5. Telah dipentau dan diperhatikan asupan makan dan porsi 3. Elaborasi dengan ahli gizi 9. Telah dilakukan 8. Telah meminta orang tua memantau dan membantu anak ketika makan 7. Telah dilakukan teknik bermain untuk mengalihkan perhatian anak 4. Pantau asupan nutrisi setiap hari 3. Libatkan orang tua kemampuan menelan anak dan mengunyah 2. Telah diberikan nutrisi seimbang pada anak 7.

Dx 5 1. Telah ditanyakan pada anak hal yang dilakukan jika gangguan penglihatan mulai timbul 3. Atur posisi nyaman dan lakukan mobilitas secara teratur setiap hari 3. 5. Telah ditanyakan tanggapan dan respon . Kaji kekuatan motorik otot 2. Dx 4 1. Libatkan orang tua dalam melakukan latihan 6. Telah dipantau perkembangan pola aktivitas anak secara beekesinambungan. Kaji koping anak terhadap kondisinya 3. Telah dilakukan latihan ROM 4. Telah meminta orang tua untuk membantu melakukan latihan 6. Elaborasi dalam pemberian obat 4. Pantau perkembangan pola aktivitas anak 1. Telah ditanyakan tanggapan dan respon nonverbal anak 5. Kaji respon anak.4. Telah diberikan posisi nyaman dan latihan bergerak 3. Kaji respon anak (S dan O) 5. Telah dilakukan elaborasi dalam pemberian obat 4. 1. Telah dilakukan pemeriksaan mata dan penglihatan 2. Kaji adanya gangguan pada visual 2. Telah dikaji kekuatan motorik otot dengan diperiksa bergerak 2. Lakukan latihan ROM 4.

O: merupakan respon objektif anak. dan tidak mengeluh lemah untuk beraktivitas. dihentikan atau dimodifikasi. frekuensi dan kedalaman napas. misalnya pola.nonverbal anak. teratasi sebagian. misal anak sudah tidak mengeluh sakit di tenggorokan lagi. timbul masalah baru atau tidak teratasi. misal masalah teratasi.5 Evaluasi S: merupakan respon subjektif anak. A: merupakan analisis masalah pasien. tidak mengeluh gangguan penglihatan. . 4. P: rencana dilanjutkan.

disfagia. kelemahan wajah dan kelemahan saat menutup mata. . keterlibatan otot-otot pernapasan. Penyakit ini jarang terjadi. yaitu karena gangguan neuromuskular junction. perubahan pola aktivitas. perubahan pola persepsi sensori. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. perubahan pola napas. otot bulbus. dan otot tungkai proksimal. mengenai terutama otot okular. KESIMPULAN Mistenia gravis merupakan penyakit autoimun. Faktor yang menyebabkan terjadinya. Masalah keperawatan yang dapat timbul. diplopia. kelemahan otot leher dan ekstremitas gerak. Terjadi penurunan jumlah asetilkolin untuk disampaikan ke otot dan kelenjar. keterbatasan gerak mata. yaitu ptosis fatig.BAB 5. berhubungan dengan gangguan sistem pernapasan. biasanya mengenai orang berumur 20-40 tahun. dengan progresivitas kelemahan yang fluktuasi. dan disartria. yaitu gangguan rasa nyaman. Tanda dan gejala yang timbul.

Sylvia A. Lecture Notes Neurologi. Lionel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Edisi 2. http://www. Ethel.pdf . 2000.org/pdfs/Medical/What%20is%20Myasthenia%20Gravis. Sloane. Jakarta: Erlangga. C.mgawpa. Jakarta: EGC. Patologi Umum dan Sistematik. J. Lorraine M. 1995. Jakarta: EGC. 2005. Jakarta: EGC. Underwood. Price.DAFTAR PUSTAKA Ginsberg. 2003. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.. Edisi Kedelapan. dan Wilson. E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful