1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan proses membantu manusia mengembangkan
potensi diri, sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Dalam
pengertian luas pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-
metode tertentu sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan
cara bertingkahlaku yang sesuai kebutuhan. Pendidikan sains menekankan
pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa
mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pengembangan
kemampuan siswa dalam bidang sains merupakan salah satu kunci keberhasilan
peningkatan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan dan memasuki
dunia teknologi, termasuk teknologi informasi untuk kepentingan pribadi, sosial,
ekonomi dan lingkungan (Depdiknas:2003).
Di Indonesia pendidikan sangat penting karena pembangunan pendidikan
adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang menentukan keberhasilan
pembangunan disegala bidang. Dalam hal ini pemerintah berusaha meningkatkan
mutu pendidikan Indonesia yang sesuai dengan undang-undang sistem pendidikan
nasional No.20 Tahun 2003 pasal 3, dengan tujuan pendidikan nasional yaitu :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dengan demikian tampak bahwa mutu pendidikan menjadi perhatian pemerintah.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dilakukan berbagai cara misalnya
pengembangan dan perbaikan kurikulum, sertifikasi guru, pengadaan buku
penunjang, pelengkapan sarana prasarana dan pembenahan model pembelajaran
yang efektif dan efisien.
Tercapainya tujuan pendidikan ditentukan oleh unsur yang saling
menunjang satu dengan yang lain. Unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar
2

mengajar yaitu :
1. Siswa, dengan segala karakteristiknya berusaha mengembangkan diri
seoptimal mungkin melalui kegiatan belajar;
2. Tujuan, merupakan sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar;
3. Guru/pendidik, selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat sehingga
memungkinkan bagi terjadinya proses pengalaman belajar.
Pendidik seharusnya menyadari bahwa dalam proses pembelajaran,
aturan–aturan menuntut pendidik untuk berfikir logis, rasional, kritis, cermat,
efektif, efisien dan bersikap disiplin karena pendidikan tidak lepas dari masalah
pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar yang merupakan aktivitas paling
penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kreatifitas pendidik adalah
kemampuan menggunakan model pembelajaran agar kegiatan pembelajaran
menjadi menyenangkan dan menarik. Selain kemampuan menggunakan model,
pendidik harus mengetahui karakter peserta didik serta bagaimana menyampaikan
ilmu dengan baik. Cara penyampaian ilmu yang tepat dan baik dapat
meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan.
Peran guru sangat penting dalam pembelajaran, dalam pengajaran fisika
suatu model pengajaran tertentu belum tentu cocok untuk setiap pokok bahasan,
sehingga guru harus memilih model mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan
yang diajarkan. Masalah lain yang dihadapi guru fisika dalam melaksanakan
pembelajaran adalah kesulitan siswa belajar fisika, kesulitan-kesulitan tersebut
antara lain : kesulitan pemahaman konsep, pemecahan masalah, penalaran fisika,
koneksi fisika dan komunikasi fisika. Kesulitan belajar fisika membuat siswa
beranggapan bahwa fisika merupakan ilmu yang sulit dan memusingkan sehingga
penguasaan konsep fisika siswa menjadi rendah. Dampak lainnya adalah dalam
pembelajaran fisika sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa ketika berada
didalam ruangan kelas dan melakukan proses belajar mengajar tidak semua siswa
dapat belajar dengan baik. Ada siswa yang memang memperhatikan guru dari
awal hingga akhir pembelajaran namun banyak pula yang kurang serius bahkan
tidak memperhatikan penjelasan guru. Seperti yang dinyatakan oleh Sudino Lim,
Managing Director Inti Education Indonesia, :
3

”Mendidik anak disekolah bukan hal mudah. Meski guru memberikan
perhatian 100 persen untuk mengajar mereka, perhatian para siswa tidak selalu
fokus penuh pada ilmu yang disampaikan. Kurangnya interaksi antara guru dan
siswa menjadi penyebab kurangnya kosentrasi siswa dan menyebabkan siswa tak
selalu paham dengan materi yang disampaikan.”
( http:/www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan)

Oleh karenanya guru harus berusaha mencipatakan suasana belajar yang
menarik dan interaktif untuk merubah persepsi siswa dalam belajar fisika.
Berdasarkan pengumuman hasil UN SMA tahun 2011 di Sumatera Utara
yang diperoleh dari imbalo.wordpress.com, sebanyak 116.918 peserta mengikuti
Ujian Nasional SMA di Sumatera Utara, siswa yang lulus sebanyak 116.676
peserta atau mencapai 99,79%, sedangkan yang tidak lulus sebanyak 242 peserta
atau 0,21%. Untuk program IPA, dari 62.331 peserta UN tingkat SMA/MA di
Sumut, sebanyak 62.257 peserta lulus atau 99,88 %. Hal ini membuktikan bahwa
pendidikan di Indonesia khususnya di Sumatera Utara semakin membaik. Namun
masih harus ditingkatkan mengingat berbagai kontroversi yang terjadi setiap kali
Ujian Nasional dilaksanakan.
Hasil observasi berupa pemberian angket yang dilakukan peneliti di
SMA Laksamana Martadinata Medan diperoleh dari 48 siswa kelas XI IPA,
diperoleh 56% menyatakan proses pembelajaran berlangsung dengan metode
ceramah, mencatat dan mengerjakan soal. Kegiatan tanya jawab dan
mengemukakan pendapat didepan kelas, diperoleh 34% tidak pernah memberikan
pendapat didepan kelas. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan salah
satu guru fisika di SMA Laksamana Martadinata Medan menyatakan nilai rata-
rata kelas untuk pelajaran fisika masih rendah sekitar 55,0 yang masih dibawah
KKM yaitu 61,0.
Mengacu pada hasil observasi yang dilaksanakan, peneliti menyimpulkan
bahwa cara mengajar yang kurang tepat dengan materi yang diajarkan akan
membuat siswa sulit memahami fisika, maka ada siswa yang awalnya menyukai
fisika menjadi tidak acuh, sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai. Apabila
seorang guru dapat menanamkan konsep dengan baik disertai penyampaian
pembelajaran dengan model tepat dan kreatif maka siswa akan tertarik juga
4

mudah untuk menguasai pelajaran fisika. Disinilah peranan guru, karena belajar
tidak hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi harus menghibur,
memotivasi, membangkitkan semangat, menarik dan tidak membosankan.
Salah satu model yang sesuai untuk pembelajaran fisika adalah model
pembelajaran generatif. Model pembelajaran generatif adalah model yang
mengacu kepada pemahaman dan pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk
membangun suatu konsepsi baru yang merupakan gabungan dari pengetahuan
awal yang sudah dimiliki dengan informasi yang baru diterima. Model
pembelajaran generatif pertama kali dikenalkan oleh Osborne dan Cosgrove
(Sutarman,Swasono:2003) yang terdiri dari empat tahap yaitu :
1. Pendahuluan yang disebut eksplorasi
2. Pemfokusan
3. Tantangan atau tahap pengenalan konsep
4. Penerapan konsep.
(Wena:2009)
Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan lebih dahulu
menggunakan model pembelajaran generatif :
Tabel 1.1 Penelitian terdahulu model pembelajaran generatif
No Judul Penelitian Nama Peneliti Hasil penelitian
1. Efek Model Pembelajaran
Generative Terhadap
Pemahaman Belajar
Kimia dikalangan Siswa
SMA
Nyoman Sudyana,
Wayan Ardhana,
Laurens Kaluge,
Purwanto (2007)
1) terdapat pengaruh yang
signifikan antara pengetahuan
awal terhadap pemahaman
konsep dan hasil belajar kimia
siswa,
2) terdapat pengaruh signifikan
model pembalajaran generatif
vs model pembelajaran
konvensional terhadap
pemahaman konsep dan hasil
belajar kimia siswa, dan
3) tidak terdapat pengaruh
interaktif kemampuan awal dan
5

model pembelajaran generatif
terhadap pemahaman konsep
dan hasil belajar kimia siswa.
2. Pengembangan Model
Pembelajaran Generatif
Dengan Metode PQ4R
Dalam Upaya
Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran Matematika
Siswa Kelas IIB SLTP
Laboratorium Ikip Negeri
Singaraja

Gst Ayu
Mahayukti (2003)

1) mereduksi miskonsepsi dan
meningkatkan hasil belajar
matematika siswa kelas II B
SLTP Laboratorium IKIP
Negeri Singaraja,
2) kemampuan guru dalam
melaksanakan pengembangan
pembelajaran ini adalah baik,
3) tingkat aktivitas siswa dalam
mengikuti pembelajaran di
kelas adalah aktif, dan
4) tanggapan guru dan siswa
terhadap model pembelajaran
yang dilaksanakan adalah
positip.
3. Hasil belajar keterampilan
sosial sains fisika melalui
model pembelajaran
generatif pada siswa kelas
IIV MTs Darel Hikmah
Pekan Baru
Muhammad
Rahmad dan
Aflina Sari Dewi.
(2007)
Hasil belajar keterampilan
sains fisika siswa tinggi selama
proses pembelajaran dengan
menggunakan model
pembelajaran generatif dapat
dilihat pada aspek berada
dalam tugas (80,5%),
mengambil giliran dan berbagi
tugas (55,2%), sedangkan yang
terendah adalah aspek
mendorong partisipasi (19,5%),

Perbedaan antara penelitian ini dan penelitian-penelitian terdahulu adalah
tempat penelitian, sampel dalam penelitian, materi yang akan dibawakan dalam
penelitian, waktu pelaksanaan penelitian, penelitian ini akan diadakan di SMA
Laksamana Martadinata Medan Tahun Ajaran 2011/2012.
6

Pada peneliti sebelumnya yaitu Nyoman Sudyana dan Anggar Tri
Pamungkas mata pelajaran yang diteliti bukanlah fisika maka dari itu peneliti
ingin menerapkan model ini pada mata pelejaran fisika untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa, sedangkan Muhammad Rahmad yang
menerapkan pembelajaran generatif pada mata pelajaran fisika hanya meneliti
hasil belajar keterampilan sosial sains siswa saja. Dari uraian diatas tampak
perbedaan antara peneltian-penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan
dilakukan.
Berdasarkan uraian diatas penulis memutuskan untuk melakukan
penelitian dengan judul ”Penerapan Model Pembelajaran Generatif Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Materi Pokok Elastisitas di
Kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.P 2011/2012”.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan maka peneliti dapat
mengidentifikasi beberapa masalah yang dapat diteliti yaitu :
a. Hasil belajar fisika siswa masih dibawah standar ketuntasan.
b. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru monoton dan tidak sesuai
dengan model pembelajaran terkini sehingga siswa kurang termotivasi dan
tidak aktif dalam belajar.

1.3 Batasan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada :
a. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran generatif.
b. Materi pembelajaran dibatasi pada Materi Pokok Elastisitas
c. Subjek penelitian adalah Siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata
semester ganjil, tahun ajaran 2011/2012
7

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang diteliti, masalah
penelitian dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata
yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran generatif dalam
materi pokok elastisitas?
b. Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata
yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
dalam materi pokok elastisitas?
c. Bagaimana perbedaan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana
Martadinata antara pembelajaran yang menerapkan model generatif dengan
model konvensional pada materi pokok elastisitas?

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
a. Mengetahui hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
generatif dengan model konvensional pada materi pokok elastisitas.
b. Mengetahui aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan diterapkan
model pembelajaran generatif dengan model konvensional pada materi
pokok elastisitas.
c. Mengetahui pengaruh model pembelajaran generatif dan konvensional
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika khususnya materi
pokok elastisitas.

1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
a. Sebagai informasi model pembelajaran yang sedang berkembang pada saat
ini.
b. Menjadikan model generatif sebagai alternatif pemilihan model pembelajaran
yang cocok untuk mata pelajaran fisika.
c. Bagi peneliti, sebagai pengalaman dan ilmu baru dalam pembelajaran fisika.
8

d. Bagi peneliti lain sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih
lanjut tentang model pembelajaran generatif.
1.7 Asumsi Dasar (Anggapan Dasar)
Asumsi dasar dari penelitian ini adalah:
a. Pemahaman siswa tentang materi pokok Elastisitas sebelum kegiatan
pembelajaran homogen.
b. Pembelajaran akan lebih efektif jika pembelajaran merupakan suatu proses
yang aktif.
c. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran generatif dapat
meningkatkan hasil belajar.
9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1 Pengertian Belajar
Dalam kehidupan, manusia selalu belajar tentang hal-hal baru yang
terjadi. Proses belajar tidak dibatasi sekat apapun dan dilakukan dengan banyak
cara. Belajar merupakan proses mencari ilmu untuk mengubah diri secara baik
dan benar, sesuai tindakan keilmuan yang dicapai. Banyak ahli yang menjelaskan
mengenai hakikat belajar. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian
terhadap arti belajar, beberapa pengertian belajar adalah sebagai berikut :
Cronbach dalam bukunya Education Psychology menyatakan bahwa :
“learning is shown by change in behavior as a result of experience”. Cronbach
berpendapat belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam
mengalaminya pelajar menggunakan panca inderanya. (Suryabaratha:2008)
Harold Spears menyatakan bahwa : learning is to observe, to read, to
imitated, to try something themselves, to listen, to follow direction. Belajar adalah
mengobservasi, membaca, meniru, melakukan percobaan sendiri, mendengarkan,
dengan mengikuti petunjuk. (Suryabaratha:2008)
James O. Wittaker merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah
laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. (Asmani
:2009:20). Geoch menyatakan “learning is chage is performance as a result of
practice” (Belajar adalah perubahan penampilan sebagai hasil dari praktik).
(Asmani:2009)
Thorndike menyatakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon, stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya
kegiatan belajar seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon yaitu reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar yang dapat berupa pikiran, perasaan, dan
tindakan. (Budiningsih:2004)
Robert M. Gagne memberikan dua definisi belajar yaitu :
 Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam
10

pengetahuan,keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku.
 Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari
instruksi.
 Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman
(learning is defined as the modification or strengthening of behavior through
experiencing).
(Hamalik : 2009)
Kesimpulan dari definisi–definisi diatas adalah :
1. Belajar membawa perubahan (dalam arti behavior changes, aktual maupun
potensial).
2. Perubahan yang terjadi pada pokoknya adalah didapatkannya pengalaman dan
kemampuan baru.
3. Perubahan yang terjadi adalah karena usaha.
Secara umum belajar merupakan proses pemahaman yang dialami
individu dalam suatu usaha mendapatkan pengalaman yang berlangsung secara
kontinu dan menghasilkan penambahan pengetahuan atau kemahiran serta
perubahan tingkah laku pada individu tersebut yang bertahan dalam jangka waktu
lama.
2.1.2 Hasil Belajar
Dalam mengajar, seorang guru harus selalu sudah mengetahui tujuan-
tujuan yang harus dicapai dalam mengajarkan suatu pokok bahasan. Hasil belajar
merupakan perwujudan dari tujuan-tujuan interaksi belajar dan tindak mengajar.
Dari sisi guru tindak belajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi
siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar yang merupakan bukti dari
apa yang telah dilakukan. Menurut Dymiati dan Mujiono dampak pelajaran adalah
hasil yang dapat diukur seperti tertuang dalam raport angka dalam ijazah atau
kemampuan meloncat setelah latihan.
Bukti seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkahlaku,
tingkah laku terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak dari setiap
perubahan aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah: 1.Pengetahuan;
2.Pengertian; 3.Kebiasaan; 4.Keterampilan; 5.Apresiasi; 6.Emosional;
11

7.Hubungan sosial; 8.Jasmani; 9.Budi pekerti; 10.Sikap. Jika seseorang telah
menjalani proses belajar maka terlihat perubahan dalam salah satu atau beberapa
aspek tingkah laku tersebut. (Hamalik:2001).
Robert .M. Gagne mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem
lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai. Gagne
mengemukakan lima macam kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar
dengan berbagai macam kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) untuk
pencapaiannya yang disebut “The Damains Of Learning”. Kelima macam
kemampuan hasil belajar tersebut adalah :
1. Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari
sistem lingkungan skolastik);
2. Strategi kognitif, mengatur “cara belajar” dan berpikir seseorang di dalam
arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah.
3. Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. Kemampuan
ini umumnya dikenal dan tidak jarang;
4. Keterampilan motorik yang diperoleh disekolah, antara lain keterampilan
menulis, mengetik, menggunakan jangka dan sebagainya;
5. Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang
dimiliki seseorang, sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungannya
bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian.
(Daryanto:2010)
Kelima macam hasil belajar tersebut mensyaratkan kondisi-kondisi
tertentu yang harus direncanakan oleh guru sehingga dalam pencapaian tujuan
pembelajaran dapat ditentukan strategi pembelajaran yang tepat. Berdasarkan teori
Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori
ranah. Perinciannya adalah sebagai berikut:
1. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu:
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.


12

2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang
kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan
karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
3. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi
neuromuscular (menghubungkan, mengamati).
(Wilis:1991)
Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor
karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus
menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan
bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan
awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru
ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman
nyata, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan
proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses
bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut
masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi
yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah.
Dari beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah menerima suatu pengetahuan yang
berupa angka/nilai, perubahan sikap/tingkah laku dan keterampilan yang
dipengaruhi banyak faktor sehingga untuk mencapai hasil pembelajaran yang
maksimal harus digunakan model pembelajaran yang tepat.






13

2.1.3 Ruang lingkup pembelajaran
2.1.3.1 Fisika, Fisika Sekolah, dan Pembelajaran Fisika
a. Definisi Fisika
Kata Fisika bersal dari bahasa Yunani “Physic” yang berarti “alam” atau
“hal ikhwal alam” sedangkan fisika (dalam bahasa inggris “Physic”) ialah ilmu
yang mempelajari aspek-aspek alam yang dipahami dengan dasar-dasar
pengertian terhadap prinsip-prinsip dan hukum-hukum elementernya.
Fisika pada dasarnya membahas tentang materi dan energi adalah akar
dari tiap bidang sains dan mendasari semua gejola. Fisika juga dapat diartikan
sebagai ilmu pengetahuan tentang pengukuran, sebab segala sesuatu yang kita
ketahui tentang dunia fisika dan tentang prinsip-prinsip yang mengatur prilakunya
telah dipelajari melalui pengamatan-pengamatan terhadap gejala alam. Tanpa
kecuali gejala-gejala itu selalu mengikuti atau memahami sekumpulan prinsip
umum tertentu yang disebut hukum-hukum fisika.
Adapun pengertian fisika dari ensiklopedia bebas dunia internet
“wikipedia.org” yang berbunyi fisika adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan penemuan dan pemahaman mendasar hukum-hukum yang menggerakkan
materi, energi, ruang dan waktu.
Bedasarkan beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa fisika
merupakan ilmu alam yang berupa prinsip–prinsip dari gejala alam dan
merupakan penemuan dan pemahaman mendasar tentang hukum–hukum yang
menggerakkan materi energi, ruang, dan waktu.
b. Fisika Sekolah
Fisika merupakan ilmu dasar yang diterima siswa mulai dari tingkat
sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Oleh sebab itu perlu diperhatikan
perkembangan fisika disekolah baik dimasa lalu, masa sekarang maupun masa
yang akan datang. Fisika sekolah adalah fisika yang diajarkan di SD, SMP,
SMA/SMK.
14

c. Pembelajaran fisika
Bagi kaum konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk
menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta.
Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian
yang berbeda. Pelajar harus punya pengalaman dengan membuat hipotesis,
mengetes hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mencari
jawaban, menggambarkan, meneliti, berdialog, mengadakan refleksi,
mengungkapkan pertanyaan, mengekspresikan gagasan dan lain-lain untuk
membentuk konstruksi baru. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka
sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu.
Belajar yang berarti terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik pengertian, dan
dalam proses memperbaharui tingkat pemikiran yang tidak lengkap
(Suparno:1997).
Suparno mengatakan bahwa kaum konstruktivis menyatakan bahwa
belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti baik teks, dialog,
pengalaman fisis dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan
dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian
yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Proses
tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa
yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu
dipengaruhi oleh pengertian yang telah dimiliki sebelumnya.
2. Konstruksi arti adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan
dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi baik
secara kuat maupun lemah.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu
pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar
bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu
sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan
kembali pemikiran seseorang.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam
15

keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi
ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk mengacu
belajar.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan
lingkungannya.
(Suparno:1997).
Dari uraian di atas didefinisikan bahwa ciri-ciri kegiatan belajar
merupakan sesuatu yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku,
keterampilan dan sikap pada diri individu yang belajar. Perubahan ini tidak harus
segera tampak setelah proses pembelajaran, tetapi akan tampak pada kesempatan
yang akan datang. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh adanya suatu usaha
yang disengaja.
Dalam belajar fisika fakta konsep dan prinsip-prinsip fakta tidak diterima
secara prosedural tanpa pemahaman dan penalaran. Pengetahuan tidak dapat
dipindahkan begitu saja dari seseorang guru ke siswa. Siswa sendiri yang harus
mengartikan yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-
pengalaman mereka. Pengetahuan atau pengertian dibentuk oleh siswa secara
aktif, bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka.
Berdasarkan keterangan yang ada pembelajaran fisika adalah Untuk
meningkatkan hasil dan proses pembelajaran fisika diperlukan metode pengajaran
yang sesuai dengan karakter siswa dan materi fisika. Pendekatan dan metode ini
juga harus dapat menampilkan hakekat fisika sebagai proses ilmiah, sikap ilmiah
serta produk ilmiah.

2.1.4 Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan penggunaan cara–cara yang berbeda
untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda.
Model pembelajaran dikembangkan dengan kaidah–kaidah tertentu sehingga
membentuk suatu bidang pengetahuan tersendiri. Sebagai suatu bidang
pengetahuan, model pembelajaran dapat dipelajari kemudian diaplikasikan dalam
kegiatan pembelajaran. (Uno:2007)
16

Penggunaan model dalam kegiatan pembelajaran perlu karena
mempermudah proses pembelajaran sehingga mencapai hasil yang optimal. Tanpa
model yang jelas pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan sulit tercapai secara optimal.
Secara khusus model pembelajaran sangat berguna bagi guru dan siswa.
Bagi guru, model dijadikan pedoman atau acuan bertindak yang sistematis dalam
pelaksanaan pembelajaran, bagi siswa–siswa penggunaan model mempermudah
dalam mempercepat memahami isi pembelajaran), karena setiap model
pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa.
Jadi secara keseluruhan model pembelajaran berfungsi untuk peningkatan
hasil belajar siswa. Model berawal dari suatu strategi yang memberikan tahapan–
tahapan bagi suatu model pembelajaran. Kozna secara umum menjelaskan bahwa
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu
yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju
tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
Dick dan Carey menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi
pembelajaran yaitu :
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan ini memegang peranan yang paling penting karena merupakan
bagian dari keseluruhan pembelajaran, pada bagian ini guru diharapkan dapat
menarik minat peserta didik atas materi yang akan disampaikan. Kegiatan
pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan meningkatkan motivasi
belajar siswa. Secara spesifik, kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat
dilakukan melalui cara-cara berikut :
a. Jelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh
semua peserta didik diakhir kegiatan pembelajaran.
b. Lakukan apersepsi, berupa kegiatan yang merupakan jembatan antara kegiatan
lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
2. Penyampaian Informasi
Dalam kegiatan ini, guru harus memahami situasi dan kondisi yang
terjadi didalam kelas. Bagaimana kesiapan dan ketertarikan siswa terhadap materi
17

yang diberikan. Dengan demikian informasi yang disampaikan dapat diserap oleh
peserta didik dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian
informasi adalah sebagai berikut:
a. Urutan penyampaian
Urutan penyampaian materi harus menggunakan pola yang tepat. Urutan
penyampaian materi yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat
memahami apa yang ingin disampaikan oleh gurunya.
b. Ruang lingkup materi yang disampaikan
Besar kecil ruang lingkup materi yang disampaikan sangat bergantung
pada karakteristik peserta didik dan jenis materi yang dipelajari. Umumnya ruang
lingkup materi sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran. Hal
yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memperkirakan besar kecilnya materi
adalah penerapan teori Gestalt. Teori tersebut menyebutkan bahwa bagian-bagian
kecil merupakan suatu kesatuan yang bermakna apabila dipelajari secara
keseluruhan, dan keseluruhan tidaklah berarti tanpa bagian-bagian kecil tersebut.
c. Materi yang akan disampaikan
Materi umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang
berbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan
(langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu), dan sikap (berisi
pendapat, ide, saran atau tanggapan)( Kemp:1997). Pengetahuan awal guru
tentang jenis materi yang disampaikan sangat penting agar diperoleh strategi
pembelajaran yang sesuai.
3. Partisipasi peserta didik
Berdasarkan prinsip student centered, peserta didik merupakan pusat dari
suatu kegiatan belajar. Hal ini dikenal dengan istilah student active training yang
maknanya adalah bahwa proses pembeljaran akan lebih berhasil apabila peserta
didik secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan
pembelajaran yang sudah ditetapkan. Beberapa hal penting yang berhubungan
dengan partisipasi peserta didik, yaitu latihan, praktik dan umpan balik.
18

4. Tes
Serangkaian tes digunakan oleh guru untuk mengetahui (a) apakah tujuan
pembelajaran khusus sudah tercapai atau belum; dan (b) apakah pengetahuan
sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
Pelaksanaan tes biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta
didik melalui berbagai proses pembelajaran, penyampaian informasi, latihan atau
praktik.
5. Kegiatan lanjutan
Kegiatan ini dilakukan setelah siswa melalui tes, bertujuan untuk
menindaklanjuti tingkat kemampuan yang telah dimiliki siswa. Dalam
kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik
yang berhasil dengan bagus atau diatas rata-rata, (a) hanya menguasai sebagian
atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai, (b)
peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berdeda sebagai
konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi.
Tiap komponen strategi pembelajaran memiliki pengaruh terhadap
komponen selanjutnya, oleh karena itu pelaksanaan secara sistematis dan
keseluruhan memberikan dampak positif terhadap strategi pembelajaran yang
diterapkan.

2.1.5 Model Pembelajaran Generatif (Generative Learning)
Model Pembelajaran Generatif pertama kali diperkenalkan oleh
Wittrock dan Osborne pada tahun 1985. Model pembelajaran ini berlandaskan
pada teori belajar konstruktivistik. Teori konstruktivistik mengemukakan bahwa
pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang
dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek,
pengalaman, maupun lingkungan. Pengetahuan adalah suatu pembentukan yang
terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena
adanya pengalaman-pengalaman baru. Bila seorang pengajar ingin mentransfer
konsep, ide dan pengetahuannya tentang suatu materi kepada siswa, pengetahuan
itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh siswa sendiri melalui pemahaman
19

dan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya. Dengan demikian konsep
pembelajaran menurut teori konstruktivitik adalah suatu proses pembelajaran yang
mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangunkonsep baru,
pengertian baru dan pengetahuan baru berdasarkan data. Proses pembelajaran
harus dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa
mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna
(Komarudin:2009).
Von Garlserfeld mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang
diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yaitu:
1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman.
2. Kemampuan menbandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan
perbedaan.
3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada
lainnya.
(Budiningsih:2004).
Selaras dengan teori belajar konstruktivistik, model belajar generatif
adalah model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif
pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa
sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam
menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil
menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan
disimpan dalam memori jangka panjang.(Katu:1995)

2.1.5.1 Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran Generatif
Wittrock adalah pencetus teori pembelajaran generatif, dalam teorinya
Wittrock menekankan salah satu asumsi yang sangat signifikan dan dasar :
“Pelajar bukan penerima pasif informasi, melainkan dia adalah peserta aktif dalam
proses belajar, bekerja untuk membangun pemahaman yang bermakna menjadi
informasi yang ditemukan di lingkungan”. Selanjutnya Wittrock juga menyatakan,
"Meskipun seorang siswa tidak dapat memahami kalimat-kalimat yang diucapkan
kepadanya oleh gurunya, sangat mungkin bahwa seorang siswa dapat memahami
20

kalimat tersebut dengan bahasanya sendiri".(Grabowski:2002).
Dalam salah satu artikelnya Wittrock (1992) mendefinisikan model
pembelajaran generatif sebagai model pelajaran yang fungsional dalam
menyampaikan instruksi untuk membangun pemikiran berdasarkan pengetahuan
melalui proses otak dan pengamatan kognitif terhadap suatu pengertian, motivasi,
perhatian, pengetahuan dan perpindahan.
Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berdasar pada
teori–teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Butir–butir
penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis diantaranya adalah :
a. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-
konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses
ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru.
b. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu
daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini.
Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona
tersebut. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka
terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, tetapi dapat
menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa.
c. Penekanan pada prinsip Scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi
tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Dukungan itu sifatnya lebih
terstruktur pada tahap awal, dan kemudian secara bertahap mengalihkan
tanggung jawab belajar tersebut kepada siswa untuk bekerja atas arahan dari
mereka sendiri. Jadi, siswa sebaiknya langsung saja diberikan tugas
kompleks, sulit, dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas
kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.
d. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Top-down
berarti siswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan
autentik untuk dipecahkan. Dalam proses pemecahan masalah tersebut siswa
mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk
memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru atau teman sebaya
yang lebih mampu.
21

e. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. Meskipun jika kita
menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi mereka harus melakukan
operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat
informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka.
f. Menganut visi siswa ideal, yaitu seorang siswa yang dapat memiliki
kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar.
g. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan
motivasi, serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan
demi kepuasan mereka sendiri, maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar
yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar.
2.1.5.2 Langkah Pembelajaran Model Generatif
a. Eksplorasi
Tahap pertama yaitu tahap eksplorasi atau pendahuluan. Pada tahap
eksplorasi guru membimbing siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan, ide,
dan konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya atau
pembelajaran pada tingkat kelas sebelumnya. Untuk mendorong siswa agar
mampu melakukan eksplorasi, guru dapat memberikan stimulus berupa beberapa
aktivitas atau tugas seperti member pertanyaan, demonstrasi dan penelusuran
terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukkan data atau fakta yang terkait
dengan konsepsi yang akan dipelajari.
Dalam gejala, data, dan fakta yang didemonstrasikan sebaiknya dapat
merangsang siswa untuk berpikir kritis, mengkaji fakta, data, gejala, serta
memusatkan pikiran terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Sehingga
menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Melalui aktifitas demonstrasi atau
penulusuran, siswa didorong untuk mengamati gejala atau fakta. Pada akhirnya
diharapkan muncul pertanyaan pada diri siswa. Pada langkah berikutnya guru
mengajak dan mendorong siswa untuk berdiskusi tentang fakta atau gejala yang
baru diselidiki atau diamati. Guru harus mengarahkan proses diskusi guna
mengidentifikasi konsepsi siswa yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi
rumusan, dugaan, atau hipotesis.
22

Pada proses pembelajaran guru berperan memberikan dorongan,
bimbingan, memotivasi dan memberi arahan agar siswa mau dan dapat
mengemukakan pendapat, ide atau hipotesis secara tertulis. Pendapat, ide atau
hipotesis siswa yang berhasil teridentifikasi mungkin ada yang benar dan ada pula
yang salah. Apabila konsepsi siswa salah maka dikatakan terjadi salah konsep
(misconception). Namun, guru sebaiknya tidak memberikan makna, menyalahkan
atau membenarkan terhadap konsepsi siswa.
b. Pemfokusan
Tahap kedua yaitu tahap pemfokusan atau pengenalan konsep atau
intervensi. Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis melalui
kegiatan laboratorium atau dalam model pembelajaran lain. Pada tahap ini guru
bertugas sebagai fasilitator yang menyangkut kebutuhan sumber, memberi
bimbingan dan arahan, dengan demikian para siswa dapat melakukan proses sains.
Tugas–tugas pembelajaran hendaknya memberi peluang dan merangsang siswa
untuk menguji hipotesis dengan cara sendiri. Tugas–tugas pembelajaran yang
disusun guru hendaknya tidak seratus persen merupakan petunjuk atau langkah-
langkah kerja, tetapi tugas-tugas haruslah memberikan kemungkinan siswa untuk
beraktivitas sesuai caranya sendiri atau cara yang diinginkannya. Penyelesaian
tugas-tugas dilakukan secara berkelompok sehingga dapat berlatih untuk
meningkatkan sikap seperti seorang ilmuan. Misalnya, pada aspek kerja sama
dengan sesama teman sejawat, membantu dalam kerja kelompok, menghargai
pendapat teman, tukar pengalaman (sharing idea), dan keberanian bertanya.
c. Tantangan
Tahap ketiga yaitu tantangan. Setelah siswa memperoleh data selanjutnya
menyimpulkan dan menulis dalam lembar kerja. Para siswa diminta
mempresentasikan temuan melalui diskusi kelas. Melalui diskusi kelas akan
terjadi prsoses tukar pengalaman diantara siswa.
Dalam tahap ini siswa berlatih untuk berani mengeluarkan ide, kritik, berdebat,
menghargai pendapat teman, dan mengahargai adaya perbedaaan diantara
pendapat teman. Pada saat diskusi, guru berperan sebagai moderator dan
fasilitator agar jalannya diskusi dapat terarah. Diharapkan pada akhir diskusi
23

siswa memperoleh kesimpulan dan pemantapan konsep yang benar. Pada tahap ini
terjadi proses kognitif, yaitu terjadinya proses mental yang disebut asimilasi dan
akomodasi. Terjadi asimilasi apabila konsepsi siswa sesuai dengan konsep benar
menurut data eksperimen, terjadi proses akomodasi konsepsi siswa cocok dengan
data empiris.
Pada tahap ini sebaiknya guru memberikan pemantapan konsep dan
latihan soal. Latihan soal dimaksudkan agar siswa memahami secara mantap
konsep tersebut. Pemberian soal latihan dimulai dari yang paling mudah kemudian
menuju yang sukar. (Sutarman dan Swasono:2003)
Dengan soal-soal yang tingkat kesukarannya rendah, sebagian besar
siswa akan mampu menyelesaikan dengan benar, hal ini akhirnya dapat
menumbuhkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, jika langsung diberikan soal
yang tingkat kesukarannya tinggi maka sebagian besar siswa akan mampu
menyelesaikannya dengan benar maka akan dapat menurunkan motivasi belajar
siswa.
d. Penerapan
Tahap keempat adalah tahap penerapan. Pada tahap ini, siswa diajak
untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau
konsep benar dalam situasi baru berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan
sehari-hari. Pemberian tugas rumah atau tugas proyek yang dikerjakan siswa
diluar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan
(Sutarman dan Swasono : 2003).
Pada tahap ini siswa perlu diberi banyak latihan-latihan soal. Dengan
adanya latihan soal, siswa akan semakin memahami konsep (isi pembelajaran)
secara lebih mendalam dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa
akan masuk ke memori jangka panjang; ini berarti tingkat retensi siswa semakin
baik. (Made Wena : 2009)
24

Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran
generatif dapat dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 2.1 Penerapan model pembelajaran generatif di kelas
No. Langkah
Pembelajaran
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1. Pendahuluan  Memberikan aktivitas
melalui demonstrasi /
contoh–contoh yang
dapat merangsang
siswa untuk melakukan
eksplorasi.

 Mengeksplorasi
pengetahuan, idea tau
konsepsi awal yang
diperoleh dari
pengalaman sehari–hari
atau diperoleh dari
pembelajaran tingkat
kelas sebelumnya.
 Mendorong dan
merangsang siswa
untuk mengemukakan
ide/pendapat serta
merumuskan hipotesis.
 Mengutarakan ide-ide
dan merumuskan
hipotesis.
 Membimbing siswa
untuk
mengklasifikasikan
pendapat.
 Melakukan klasifikasi
pendapat/ide-ide yang
telah ada.
2. Pemfokusan  Membimbing dan
mengarahkan siswa
untuk menetapkan
konteks permasalahan
yang berkaitan dengan
ide siswa yang
kemudian dilakukan
pengujian.
 Menetapkan konteks
permasalahan,
memahami, mencermati
permasalahan sehingga
siswa menjadi kenal
terhadap bahan yang
digunakan untuk
mengeksplorasi konsep.
 Membimbing siswa
melakukan proses
sains, yaitu menguji
(melalui percobaan)
sesuatu.
 Melakukan pengujian,
berpikir apa yang terjadi,
menjawab pertanyaan
berhubungan dengan
konsep.
 Memutuskan dan
menggambarkanapa
yang ia ketahui tentang
kejadian.
Mengklarifikasi ide
kedalam kelompok.
 Menginterpretasi
respon siswa dan
menguraikan ide siswa.
 Mempresentasikan ide
ke dalam kelompok dan
juga forum kelas melalui
25

diskusi.


3. Tantangan  Mengarahkan dan
memfasilitasi agar
terjadi pertukuran ide
antar siswa. Menjamin
semua ide siswa
dipertimbangkan.
Membuka diskusi dan
mengusulkan
melakukan demonstrasi
jika diperlukan.
 Memberikan
pertimbangan ide kepada
antar siswa.
 Menunjukkan bukti ide
ilmuan (scientist view)
 Menguji validitas ide/
pendapat dengan
mencari bukti.
 Membandingkan ide
ilmuan dengan ide kelas
(class view)
4. Aplikasi  Membimbing siswa
merumuskan
permasalahan yang
sangat sederhana.
 Membawa siswa
mengklarifikasikan ide
baru.
 Menyelesaikan problem
praktis dengan
menggunakan konsep
dalam situasi yang baru.
 Menerapkan konsep
yang baru dipelajari
dalam berbagai konteks
yang berbeda.
 Membimbing siswa
agar mampu
menggambarkan secara
verbal penyelesaian
problem.
 Ikut terlibat dalam
merangsang dan
berkontribusi kedalam
diskusi untuk
menyelesaikan
permasalahan.
 Mempresentasikan
penyelesaian masalah di
hadapan teman. - Diskusi
dan debat tentang
penyelesaian masalah,
mengkritisi dan menilai
penyelsaian masalah.
 Menarik kesimpulan
akhir.


26

Adapun kekurangan dan kelebihan dari model generatif ini antara lain :
No. Kelebihan Kekurangan
1. Pembelajaran Generatif memberikan
peluang kepada siswa untuk belajar secara
kooperatif.
Dikawatirkan akan terjadi
salah konsep.
Agar tidak terjadi salah
konsep, maka guru harus
membimbing siswa dalam
mengeksplorasi
pengetahuan dan
mengevaluasi hipotesis
siswa pada tahap tantangan
setelah siswa melakukan
presentasi, sehingga siswa
bisa memahami materi
dengan benar, meskipun
usaha menggali
pengetahuan sebagian besar
adalah dari siswa itu
sendiri.
2. Meningkatkan aktivitas belajar siswa,
diantaranya dengan bertukar pikiran dengan
siswa yang lainnya, menjawab pertanyaan
dari guru, serta berani tampil untuk
mempresentasikan hipotesisnya.
3. Pembelajaran Generatif cocok untuk
meningkatkan keterampilan proses.
4. Merangsang rasa ingin tahu siswa.
5. Konsep yang dipelajari siswa akan masuk
ke memori jangka panjang.
Membutuhkan waktu yang
relatif lama

2.1.6 Pembelajaran Konvensional
Dalam proses belajar mengajar peran guru sangat penting karena
keberhasilan siswa menyerap pelajaran yang diberikan sangat tergantung
terahadap bagaimana cara guru menyampaikan pelajaran. Sejak lama telah banyak
model yang dikembangkan berdasarkan teori para ahli, namun dari sekian banyak
model, maka model pembelajaran yang masih berlaku dan paling banyak
digunakan adalah model pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional
yang dimaksud secara umum adalah pembelajaran dengan menggunakan metode
yang biasa dilakukan oleh guru yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan
soal kemudian pemberian tugas. Dalam kenyataannya secara keseluruhan model
pembelajaran konvensional sudah kurang layak digunakan dalam pembelajaran
saat ini, namun disetiap pembelajaran model ini harus digunakan paling tidak
pada awal pembelajaran sebelum guru masuk kepada model pembelajaran yang
akan digunakan.

27

Roestiyah N.K. (1998) cara mengajar konvensional dan telah lama
dijalankan dalam sejarah Pendidikan ialah cara mengajar dengan ceramah. Sejak
duhulu guru dalam usaha menularkan pengetahuannya pada siswa, ialah secara
lisan atau ceramah. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah
pembelajaran yang biasa dilakukan oleh para guru. Bahwa, pembelajaran
konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya
lebih mengutamakan hapalan daripada pengertian, menekankan kepada
keterampilan berhitung, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran
berpusat pada guru.
Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional
menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada
siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya
dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi
kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional
memiliki ciri-ciri, yaitu:
1. Pembelajaran berpusat pada guru,
2. Terjadi passive learning,
3. Interaksi di antara siswa kurang,
4. Tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan
5. Penilaian bersifat sporadis.
Menurut Brooks & Brooks penyelenggaraan pembelajaran konvensional
lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan,
sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes
terstandar.
(http://edukasi.kompasiana.com//pendekatan-pembelajaran-konvensional/)
Pendapat lain datang dari Ujang Sukandi (2003) yang mendeskripsikan
bahwa Pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak
mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa
mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses
pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Di sini terlihat bahwa
28

pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih
banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu, sementara siswa lebih
pasif sebagai “penerima” ilmu.
Institute of Computer Technology (2006:10) menyebut pembelajaran
konvensional dengan istilah “Pengajaran tradisional”. Dijelaskannya bahwa
pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang
paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pengajaran
model ini dipandang efektif, terutama untuk:
a. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
b. Menyampaikan informasi dengan cepat.
c. Membangkitkan minat akan informasi.
d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.
Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa
kelemahan sebagai berikut:
a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.
b. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa
yang dipelajari.
c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.
d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan
tidak bersifat pribadi.
(http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/02)
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pembelajaran konvensional
dimaknai sebagai pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru,
komunikasi lebih banyak satu arah dari guru ke siswa, metode pembelajaran lebih
banyak menggunakan ceramah dan demonstrasi, dan materi pembelajaran lebih
pada penguasaan konsep-konsep bukan kompetensi. Model konvensional
bukannya tidak dapat digunakan dalam pembelajaran namun harus disertai model
pembelajaran lain yang lebih berkembang.


29

2.1.7 Materi Pokok
2.1.7.1 Elastisitas
2.1.7.2 Elastisitas Zat Padat
Pada dasarnya semua benda yang ada di alam semesta mengalami
perubahan bentuk apabila diberikan gaya. Benda tersebut akan mengalami
perubahan dalam ukuran atau bentuk atau keduanya. Baja yang paling keras
sekalipun akan berubah bentuk jika dipengaruhi oleh gaya yang cukup besar.
Mungkin saja setelah gaya dihilangkan, bentuk benda akan kembali kebentuk
semula, namun ada yang bersifat permanen artinya tetap pada bentuk yang baru.
Untuk mengetahui lebih lanjut berikut akan dibahas tentang elastisitas pada zat
padat dan hal-hal yang terkait didalamnya.
Dibandingkan dengan zat cair, zat padat memiliki struktur lebih keras
dan lebih berat disebabkan karena molekul-molekul zat padat tersusun rapat
sehingga ikatan diantara mereka relatif kuat. Inilah yang menyebabkan zat padat
sukar untuk dipecahkan. Setiap gaya yang diberikan akan diberikan gaya reaksi
oleh gaya tarik menarik antar molekul zat padat tersebut. Perubahan tergantung
pada pengaturan dan ikatan atom dalam materi.
Ketika mendengar kata elastis, pada umumnya akan langsung terlintas
benda-benda misalnya karet yang mengendur apabila ditarik, busur panah yang
melengkung jika diberi tarikan dan kembali kebentuk semula apabila tarikan
tersebut dilepaskan, atau sebuah pegas yang jika ujungnya digantungi sebuah
beban akan bertambah panjang dan kembali kebentuk semula apabila beban
dilepaskan. Karet, busur panah, dan pegas adalah contoh benda-benda elastis.
Elastisitas adalah keadaan zat dimana zat tersebut akan mengalami
perubahan bentuk ketika gaya deformasi bertindak atasnya, dan kembali ke
bentuk aslinya ketika gaya adalah dihapus. Benda-benda yang memiliki elastisitas
misalnya pegas, karet, baja, dan kayu,bola bisbol dan busur panah di sebut benda
elastis.
30


Gambar 2.1. Benda-benda yang bersifat elastis

Tidak semua benda/bahan dapat kembali ke bentuk awalnya ketika
kekuatan deformasi diterapkan dan kemudian dihapus. Bahan yang tidak
melanjutkan bentuk aslinya setelah gaya dihapus dikatakan inelastis atau bersifat
plasti. Plastisin, tanah liat, dan dempul adalah bahan inelastis/plastis.


Gambar 2.2. Benda-benda yang bersifat plastis

Pada umumnya setiap benda yang memiliki sifat elastis juga mempunyai
sifat plastis. Banyak bahan-bahan yang kita gunakan sehari-hari yang bersifat
elastis tetapi hanya sementara saja, contohnya baja dan kaca. Misalnya sebuah
pegas diberikan gaya yang besar secara terus menerus dan gaya yang diberikan
semakin besar, maka pada saat tertentu akan terjadi keadaan dimana pegas tidak
lagi dapat kembali kebentuk semula. Dalam keadaan ini berarti batas elastisitas
benda sudah terlampaui. Jika gaya terus diperbesar, benda akan mengalami sifat
plastis hingga pada titik tertentu dimana pegas akan patah.
31

Untuk lebih jelasnya, lakukanlah
percobaan sebagai berikut. Susunlah
pegas pada mistar seperti gambar.3
diatas. Aturlah mistar sehingga posisi
jarum penunjuk pada pegas tetap
mengarah ke angka nol pada mistar.
Gantungkan beban F pada ujung pegas
x. Lakukan kegiatan ini berulang-ulang
dengan menambah berat beban F dan
amati pertambahan panjang pegas x.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan akan didapatkan grafik hubungan
antara gaya dan pertambahan panjang pegas sebagai berikut :
Gaya F
C Keterangan :
B A : Batas linearitas

Daerah plastis B : Batas elastisitas

A Daerah C : Titik patah
elastis






0 Pertambahan Panjang x
Gambar 2.4. Grafik antara gaya dan pertambahan panjang pegas.

Berdasarkan grafik diatas dapat kita analisis pada bagian-bagian tertentu.
Garis lurus OA menunjukkan bahwa gaya F sebanding dengan pertambahan
panjang x. Setelah gaya F diperbesar lagi, sehingga melampaui titik A ternyata
garis tidak lurus lagi. Hal ini menyatakan bahwa batas linearitas pegas sudah
terlampaui, namun pegas masih bisa kembali kebentuk semula. Bila gaya F
diperbesar lagi hingga melewati titik B, ternyata setelah gaya F dihilangkan pegas
Gambar 2.3 Percobaan untuk
menentukan batas elastisitas pegas.
32

tidak bisa kembali kebentuk semula. Jadi dalam hal ini batas elastisitas telah
terlampaui. Pegas tidak lagi bersifat elastis namun bersifat plastis. Jika gaya F
diperbesar terus, pada suatu saat yaitu dititik C, pegas akan patah. Oleh karena itu
grafik antara O sampai B, yaitu daerah dimana pegas masih bersifat elastis disebut
daerah elastis. Sedangkan grafik antara B dan C, yaitu daerah dimana pegas
bersifat plastis disebut daerah plastis. Titik pada daerah plastis yang membatasi
antara daerah linear dan daerah non linear disebut batas linearitas, sedangkan titik
yang membatasi antara daerah elastis dan daerah plastis disebut batas elastisitas.
Titik dimana pegas tidak mampu lagi menahan gaya disebut titik patah.

2.1.7.3 Tegangan dan Regangan
Pada dasaranya perubahan bentuk pada zat padat dibedakan menjadi tiga
jenis berdasarkan arah dan pertambahan panjangnya, yaitu : rentangan, mampatan
dan geseran. Ketiga jenis perubahan itu ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.5. Regangan


Gambar 2.6. Mampatan


Gambar 2.7. Geseran

Untuk setiap jenis perubahan bentuk zat padat berlaku suatu besaran
yang akan disebut sebagai tegangan. Tegangan menunjukkan kekuatan gaya yang
menyebabkan perubahan bentuk benda. Tegangan yang terjadi pada rentangan
disebut tegangan rentang atau tegangan tarik. Tegangan yang terjadi pada
33


A
mampatan disebut tegangan mampat, sedangkan tegangan yangterjadi pada
geseran disebut tegangan geser. Pada tabel dibawah ini akan disajikan besar ketiga
jenis tegangan pada berbagai jenis bahan.
Tabel 2.2 Besar macam-macam tegangan untuk berbagai jenis bahan
Bahan Tegangan
rentang(N/m
2
)
Tegangan mampat
(N/m
2
)
Tegangan geser
(N/m
2
)
Besi 170 x 10
6
550 x 10
6
170 x 10
6

Baja 500 x 10
6
500 x 10
6
250 x 10
6

Kuningan 250 x 10
6
250 x 10
6
200 x 10
6

Aluminium 200 x 10
6
200 x 10
6
200 x10
6

Beton 2 x 10
6
20 x 10
6
2 x10
6

Batu-bata - 35 x 10
6
-
Marmer - 80 x 10
6
-
Granit 40 x 10
6
170 x 10
6
-
Kayu (pinus) 500 x 10
6
35 x 10
6
5 x 10
6

Nilon 170 x 10
6
- -

Besaran lain yang berhubungan dengan perubahan bentuk zat padat
adalah regangan. Regangan menggambarkan hasil perubahan bentuk benda.
Ketika tegangan dan regangan cukup kecil, maka kedua besaran tersebut akan
sebanding dan konstanta perbandingannya disebut sebagai modulus elastisitas,
yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
Modulus Elastisitas = Tegangan / Regangan …………...(1)
Perilaku elastis yang paling sederhana untuk
dipahami adalah rentangan yang terjadi pada
batang, tali, atau kawat ketika ujungnya


ditarik. Gambar diatas menunjukkan sebuah batang yang luas penampangnya A
ditarik dengan gaya F pada kedua ujungnya. Kita mengatakan bahwa batang
berada dalam tegangan. Tegangan kita definisikan sebagai perbandingan besar
gaya F dan luas penampang A,
Tegangan =

, atau

…………... (2)
Gambar 2.8. Tegangan
yang terjadi pada batang
34


Dalam SI, tegangan memiliki satuan Nm
-2
atau Pa
(pascal). Gambar disamping menunjukkan batang
yang memiliki panjang mula-mula L
o
dan
mengalami rentangan menjadi

, ketika
gaya F yang besarnya sama dan arahnya
berlawanan diterapkan pada ujung-ujungnya.
Pertambahan panjang yang terjadi tidak hanya pada ujungnya, tetapi pada setiap
bagian batang merentang dengan perbandingan sama. Regangan didefinisikan
sebagai perbandingan antara pertambahan panjang dengan panjang mula-mula

,
Regangan =


, atau

……………(3)

Karena merupakan hasil bagi dua besaran yang berdimensi sama, maka
regangan tidak memiliki satuan. Eksperimen menunjukkan bahwa untuk
rentangan yang cukup kecil, tegangan dan rentangan adalah sebanding. Modulus
elastis yang terkait dengan renangan ini disebut Modulus Young dan dinyatakan
dengan huruf Y:



…………(4)

Keterangan :
Y = Modulus young (Nm
-2
)/Pa
F = Gaya (N
A = Luas Penampang (m
2
)
= Pertambahan Panjang (m)

= Panjang mula-mula
Gambar 2.9 Regangan
yang terjadi pada batang
35

Karena regangan tanpa satuan, maka modulus young mempunyai satuan
yang sama dengan satuan tegangan yaitu Nm
-2
atau Pa (pascal). Nilai Modulus
Young untuk beberapa bahan terdaftar dalam table berikut :
Table 2.3 Nilai Modulus Young
Bahan Modulus Young< Y,E Modulus Bulk , B
10
12
dyne
cm
-2

10
6
lb in
-2
10
12
dyne
cm-
2

10
6
lb in
-2

Alumunium 0,7 10 0,7 10
Kuningan 0,91 13 0,61 8,5
Tembaga 1,1 16 1,4 20
Gelas 0,55 7,8 0,37 5,2
Besi 0,91 13 1 14
Timah 0,16 2,3 0,077 1,1
Nikel 2,1 3,0 2,6 34
Baja 2 29 1,6 23
Tungsten 3,6 51 2 29

Semakin besar nilai Y berarti semakin sulit suatu benda untuk merentang
dalam pengaruh gaya yang sama sebagai contoh nilai Y baja jauh lebih besar dari
nilai Y alumunium sehingga baja lebih sulit merentang daripada alumunium bila
pada masing-masing benda diterapkan gaya yang besarnya masing-masing sama.
Dengan mensubtitusikan tegangan

dan regangan

kedalam
persamaan

, dapat diperoleh, hubungan antara gaya tarik F dan modulus
elastis E :

……………(5)

...…………(6)
Keterangan :
E = Modulus Elastis (Nm
-2
)
F = Gaya (N)
A = Luas Penampang (m
2
)
= Pertambahan Panjang (m)

= Panjang mula-mula
= Tegangan (Nm
-2
)
36

= regangan

2.1.7.4 Hukum Hooke
Hooke menyatakan hubungan antara gaya F yang meregangkan ppegas
dan pertambahan panjang pegas x pada daerah elastis pegas. Pada daerah elastis
linear, F sebanding dengan x. Hal ini dinyatakan dalam bentuk persamaan :
……………(7)
Keterangan :
F = gaya yang dikerjakan pada pegas (N)
x = pertambahan panjang pegas (m)
k = konstanta pegas (N/m).
Pada waktu pegas ditarik dengan gaya F, pegas mengadakan gaya yang
besarnya sama dengan gaya yang menarik, tetapi arahnya berlawanan (F
aksi
= -
F
reaksi
). Jika gaya ini kita sebut dengan gaya pegas F
p
, yang besarnya sebanding
dengan pertambahan panjang pegas x, sehingga untuk F
p
dapat dirumuskan
sebagai :

……………(8)
Kedua persamaan diatas secara umum dapat dinyatakan dalam kalimat
yang disebut Hukum Hooke.
“Pada daerah elastisitas benda gaya yang bekerja pada benda sebanding
dengan pertambahan panjang benda.”
Sifat pegas seperti yang dinyatakan oleh Hukum Hooke tidak terbatas
pada pegas yang diregangkan, pada pegas yang dimampatkan juga berlaku Hukum
Hooke, selama pegas masih berada pada daerah elastisitasnya. Sifat pegas yang
seperti itu banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pada neraca
pegas, bagian-bagian mesin dan pada kendaraan bermotor modern (pegas sebagai
peredam kejut).
37

2.1.7.5 Tetapan Gaya Benda Elastis
Kita telah mengetahui hubungan antara gaya tarik F dan modulus elastis
E yang dinyatakan dengan persamaan :

…………… (9)
Dengan mengolah persamaan diatas sehingga hanya gaya tarik F yang
berada diruas kiri, kita identikkan persamaan tersebut dengan Hukum Hooke dari
persamaan :
……………(10)
(Ingat x = ), maka
……………..(11)
Maka akan diperoleh rumus umum tetapan gaya benda elastis
……………(12)
2.1.7.6 Konstanta Gaya Pegas Gabungan
Pembahasan mengenai konstanta gaya pegas gabungan dibagi atas
berapa susunan pegas yaitu susunan seri dan paralel serta kombinasi keduanya.
Perhatikan susunan seri dari dua buah pegas yang memiliki konstanta gaya k
1
dan
k
2
seperti tampak pada gambar dibawah ini.




Menurut Hukum Hooke pertambahan panjang pegas pertama akibat gaya
F adalah , sedangkan pertambahan panjang pegas kedua akibat gaya F
adalah . Pertambahan panjang total y sama dengan jumlah masing-
Gambar 2.10 Susunan seri dua buah pegas dengan konstanta gaya k
1

dan k
2
dapat diganti dengan sebuah pegas tunggal dengan konstanta
gaya k
p

38

masing pertambahan panjang pegas, sehingga diperoleh :


………(13)
Secara umum, n buah pegas yang disusun seri memiliki konstanta gaya
pegas pengganti k
s
yang memenuhi hubungan :
……..(14)
Perhatikan susunan paralel dari dua buah pegas yang memiliki konstanta
gaya k
1
dan k
2
seperti pada gambar

dibawah ini. Pegas pertama akan merasakan
gaya sebesar F
1
dan pegas kedua merasakan gaya sebesar F
2
, dimana F
1
+ F
2
= F .


Pertambahan panjang pegas pertama adalah sehingga ,
Pertambahan panjang pegas kedua adalah , sehingga ,
Mengingat, F
1
+ F
2
= F maka, . Ketika pegas disusun paralel,
maka pertambahan panjang masing-masing pegas sama yaitu . Oleh
karena itu persamaan diatas dapat dituliskan menjadi :
………….(15)
Secara umum, untuk n pegas yang disusun paralel, konstanta gaya pegas
pengganti adalah :
……………(16)
Gambar 2.11 Susunan paralel dua buah pegas dengan konstanta gaya k
1
dan
k
2
dapat diganti dengan sebuah pegas tunggal dengan konstanta gaya k
p

39

2.1.7.7 Energi Potensial Elastis Pegas
Sebuah benda diletakkan pada ujung bebas sebuah pegas. Jika pegas
ditarik kemudian kita lepaskan, benda yang semula diam akan bergerak. Ini berarti
bahwa benda memiliki energi kinetik. Dari manakah energi kinetik ini berasal?
Karena benda dihubungkan keujung pegas, tentu saja energi kinetik benda berasal
dari energi yang tersimpan dalam pegas. Energi yang tersimpan dalam benda
karena benda mengalami perubahan kedudukan disebut energi potensial. Karena
pegas adalah benda elastis. Maka energi yang tersimpan dalam pegas ini disebut
energi potensial elastis pegas atau energi potensial pegas.
Telah anda ketahui bahwa grafik gaya tarik terhadap pertambahan
panjang pegas (grafik F–Δx) untuk gaya tarik F yang tidak melampaui batas
elastisitas pegas adalah berbentuk garis lurus melalui titik asal 0. Seperti
ditunjukkan pada gambar dibawah ini


F
Luas = energi potensial pegas untuk
pertambahan panjang




O x
Gambar 2.12. Grafik F- dari sebuah pegas. Energi potensial pegas
sama dengan segitiga yang diarsir

Untuk menarik pegas hingga pegas memiliki energi potensial tertentu
diperlukan usaha. Usaha dapat dihitung dari luas daerah di bawah grafik gaya
terhadap perpindahan benda. Dengan demikian energi potensial EP sama dengan
luas segitiga yang diarsir pada gambar
EP = luas grafik dibawah F- Δx = luas segitiga
Karena alas segitiga adalah Δx dan tingginya adalah F maka rumus
energi potensial pegas EP adalah :
…………(17)
Mengingat bahwa untuk batas elastis pegas yang tak dilampaui berlaku
40


….………(18)
41

2.2 Kerangka Konseptual
Pada saat ini guru–guru khususnya pada mata pelajaran fisika masih
menggunakan model pembelajaran konvensional yang menitikberatkan
pembelajaran pada metode ceramah. Jika ditinjau dari hasil belajar siswa pada
mata pelajaran fisika yang masih rendah maka dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran konvensional tidak efektif.
Peneliti menawarkan model pembelajaran generatif dimana siswa
diharapkan memiliki pegetahuan, kemampuan serta keterampilan untuk
mengkonstruksi/membangun pengetahuan secara mandiri. Dengan pengetahuan
awal yang telah dimiliki sebelumnya dan menghubungkannya dengan konsep
yang dipelajari, akhirnya siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan baru dan di
harapkan hasil belajar siswa lebih baik dari penerapan model konvensional.
Perbedaan aktivitas siswa pada model pembelajaran konvensional dan
model pembelajaran generatif dapat dilihat dari 2 bagan berikut :












Gambar 2.13. Bagan Perbedaan Model Pembelajaran Generatif dan Konvensional
KarakteristikPembelajaran konvensional :
1. Pembelajaran berjalan membosankan, siswa
hanya aktif membuat catatan
2. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah
cepat terlupakan
3. Ceramah menyebabkan pembelajaran siswa
hanya sekedar menghafal apa yang didapat tanpa
menimbulkan pengertian tersendiri dari siswa.
Pembelajaran
Generatif
Karakteristik pembelajaran Generatif :
1. Siswa aktif untuk mencari fakta-fakta sains
melalui percobaan, sehingga suasana
pembelajaran menjadi lebih hidup.
2. Pengetahuan yang dipeoleh siswa melalui
pengalaman akan disimpan dalam memori
jangka panjang
3. Siswa tak hanya sekedar menghafal pelajaran
tetapi dapat membuat pengertian sendiri
berdasarkan hasil percobaannya.
Hasil belajar
lebih optimal
Pembelajaran
konvensional
Hasil belajar
kurang optimal
42

2.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian ini adalah :
H
0
: Tidak ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana
Martadinata T.P 2011/2012.
H
a
: Ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana
Martadinata T.P 2011/2012.























43

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas XI SMA Laksamana Matadinata Medan
Tahun Ajaran 2011/2012 .Waktu penelitian pada tanggal 3–14 Pebruari 2012.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Laksamana
Martadinata Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 2 kelas setara.
3.2.2 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini 43 siswa masing-masing dari 2 kelas yang
ditentukan dengan teknik stratified sample. Satu kelas yaitu kelas XI IPA 1
sebagai kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran generatif dan satu
kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 2 menggunakan model pembelajaran
konvensional.
3.3 Variabel Penelitian
Dalam penelitian digunakan dua jenis variabel penelitian, yaitu variabel
bebas dan variabel terikat.
a. Sebagai variabel bebas adalah pembelajaran generatif
b. Sebagai variabel terikat adalah hasil belajar siswa pada materi Elastisitas.
3.4 Jenis dan Desain Penelitian
3.4.1 Jenis Penelitian
Penelitian merupakan penelitian quasi eksperimen, yaitu penelitian
dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan akibat pengaruh dari
sesuatu yang dikenakan pada siswa sebagai subjek penelitian. Pengaruh yang
dimaksudkan adalah peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran
yang telah ditentukan dapat dilihat dari hasil jawaban siswa pada tes hasil belajar.
3.4.2 Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan model two group pretest-posttest design.
Desain digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan memberikan tes
pada kedua kelas sebelum dan sesudah diberi perlakuan.
44

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
Kelas Pretes Perlakuan Postes
Eksperimen
X
1

S
X
2

Kontrol
X
1

O
X
2

Keterangan :
X
1
= Pemberian pretes.
X
2

= Pemberian postes.
S = Perlakuan dengan model pembelajaran generatif
O = Perlakuan dengan model pembelajaran konvensional.

3.5. Prosedur penelitian
Tahapan – tahap pelaksanaan penelitian adalah:
1. Tahap persiapan
Kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Membuat surat persetujuan dosen pembimbing.
b. Menentukan masalah, judul, lokasi, dan waktu penelitian.
c. Menentukan populasi dan sampel.
d. Melakukan studi pendahuluan ke sekolah
e. Menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran serta instrumen
penelitian.
2. Tahap pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Memvalidkan tes / instrumen penelitian.
b. Menentukan kelas sampel dan kelas kontrol dari populasi yang ada.
c. Memberikan test awal pada kedua kelas untuk melihat kemampuan awal
siswa.
d. Melakukan uji normalitas dan homogenitas data tes awal.
e. Membagi kelompok belajar siswa untuk siswa di kelas eksperimen.
f. Melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran sesuai desain
penelitian.
g. Memberikan tes akhir pada siswa setelah pembelajaran.
45

3. Analisis data dan kesimpulan
Di bawah ini merupakan gambar alur rancangan penelitian yang dilaksanakan.

Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian
Pembelajaran generatif Pembelajaran
konvensional
(Metode ceramah)
)

Kelas eksperimen Kelas kontrol
Tes Akhir
Analisa Data
Kesimpulan
Tabulasi data
Selesai
Kelas eksperimen Kelas kontrol
Sampel
Populasi
Tes awal
Normalitas dan Homogenitas
data
Mulai
46

3.6 Teknik Pengumpulan Data
3.6.1 Pretes
Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran, dilaksanakan tes awal untuk
mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam materi elastisitas pada kelas kontrol
dan kelas eksperimen .
3.6.2 Postes
Setelah materi elastisitas diajarkan kepada siswa maka dilaksanakan
postes untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas kontrol dan eksperimen .
3.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah tes hasil belajar siswa berjumlah lima belas
soal dalam bentuk pilihan berganda dengan lima pilihan (option). Sebelum
dilakukan penelitian, tes yang telah disusun terlebih dahulu diuji validitasnya. Tes
dituangkan dalam bentuk tabel spesifikasi tes hasil belajar berikut:
Tabel 3.2. Tabel Spesifikasi Tes Hasil Belajar Pada Materi Pokok Elastisitas
No
Materi Pokok
Sub Materi Pokok
Klasifikasi / Kategori Jumlah
soal C
1
C
2
C
3
C
4
C
5
C
6

1.
Perubahan Bentuk
1



1
2.
Tegangan dan regangan
2,3 4,5

4
3.
Hukum Hooke


6,7,8
15
9
5
4
Susunan pegas



10,11

2
5
Energi Potensial elastik
pegas
13,14 12

3

JUMLAH 1 2 5 4 2 1 15
Keterangan:
C
1
= Pengetahuan C
3
= Penerapan
5
C = Sintesis
C
2
= Pemahaman C
4
= Analisis
6
C = Evaluasi
Jawaban-jawaban tes obyektif diperiksa dengan mempergunakan kunci
jawaban. Kunci jawaban ada beberapa macam jenisnya. Kunci jawaban yang
digunakan penulis adalah kunci sistem tusukan. Apabila pilihannya benar maka
lobang akan terjadi tepat ditengah kotak yang disediakan. Tetapi apabila
47

pilihannya salah, maka lobang yang terjadi berada di luar lingkaran.
Dimana skor jawaban yang benar bernilai 1, dan skor jawaban yang salah
bernilai nol. Setelah dilakukan penskoran, tahapan selanjutnya adalah penilaian
dengan menggunakan rumus:
100
r
× =
soal Jumlah
bena yang soal Jumlah
Nilai

Dalam penyusunan tes digunakan validitas isi untuk menyesuaikan
soal-soal tes dengan berpedoman pada kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) dengan materi pokok elastisitas.
3.7.1 Uji Coba Instrumen Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian, tes yang telah disusun terlebih dahulu
diuji validitasnya dengan menggunakan validitas isi.
3.7.1.1 Validitas Isi
Validitas isi adalah derajat di mana sebuah tes mengukur cakupan
substansi yang ingin diukur. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila
mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran
yang diberikan. Instrumen yang telah disusun kemudian divaliditaskan kepada
ahli yaitu dosen atau guru. Jumlah seluruh spesifikasi butir soal sebelum
divalidkan adalah sebanyak 15 soal.
Ketiga validator diminta untuk mengamati secara cermat semua item
dalam tes yang hendak divalidasi dan mengoreksi item-item yang telah dibuat.
Dan pada akhir perbaikan mereka juga diminta untuk memberikan pertimbangan
tentang bagaimana suatu tes tersebut menggambarkan cakupan isi yang hendak
diukur.
3.7.2 Lembar Observasi
Dalam pengumpulan data selama proses pembelajaran berlangsung
peneliti dibantu oleh observer. Peran observer adalah mengamati aktivitas
pembelajaran berpedoman pada lembar observasi yang disiapkan serta
memberikan penilaian berdasarkan pengamatan.


48

3.7.3 Instrumen 2 Ranah Psikomotorik Siswa (Aktivitas)
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data keaktifan siswa
adalah dengan melakukan pengamatan terhadap siswa pada saat melakukan
kegiatan pembelajaran.
Tabel 3.3. Tabel hasil observasi Aktivitas Belajar Siswa dalam Kelompok

No
.

Nam
a
Aspek Yang Dinilai
Jumlah
Memberika
n
pertanyaan
Memberika
n tanggapan
Memberika
n jawaban
Menyampaika
n ide/pendapat
Membuat
kesimpula
n
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Sko
r
Nila
i
1.
2.
3.
dst

Nilai % =


x 100%

Keterangan :
81% - 100% : Sangat Aktif (A)
66% - 80% : Aktif (B)
51% - 65% : Cukup Aktif (C)
0% - 50% : Buruk (D)
3.8. Teknik Analisis Data
Pemilihan teknik analisis data interval ditentukan penyebaran datanya.
Yang dimaksud dengan penyebaran data adalah bagaimana data tersebut tersebar
antara nilai paling tinggi dengan nilai paling rendah, serta variabilitas di
dalamnya. Karena itu pengujian normalitas sampel harus dilakukan.
3.8.1. Menentukan Mean

N
X
X
i ¿
= (Sudjana, 2005:67)
Keterangan :
X = Mean (rata-rata) nilai siswa

= nilai siswa ke i
N = Jumlah siswa
49

¿ i
X

= Jumlah nilai siswa
3.8.2. Menentukan Simpangan Baku

) 1 (
) (
2 2
÷
E ÷
=
¿
N N
X X N
S
i
i
(Sudjana, 2005 : 94)
3.8.3. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari
populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji, digunakan Uji
Liliefors Menurut Sudjana (2005:466), langkah-langkah yang dilakukan untuk
pengujian adalah sebagai berikut:
a. Data X
1
, X
2
, X
3
,……,X
n
dijadikan bilangan baku, Z
1
, Z
2
, Z
3
,……,Z
n
dengan
menggunakan rumus
s
X X
Z
i
i
÷
= dimana: X
i
= Responden X
1
,
X
2
,…..,X
n


X = Rata-rata perhitungan
S = Simpangan baku
b. Menghitung peluang F(Zi) = T (Z<Zi)
c. Menghitung proporsi Z
1
, Z
2
, Z
3
,……,Z
n
yang lebih kecil atau sama dengan Zi.
Jika proporsi ini dinyatakan oleh S (Zi) maka
N
Z yang Z Z Z Z banyaknya
Zi S
i n
s
=
,........ , ,
) (
3 2 1

d. Menghitung selisih F (Z
i
)-S (Z
i
) yang diambil harga mutlaknya.
e. Mengambil harga mutlak yang paling besar dari selisih itu dan disebut Lo.
Hipotesis normalitas diterima jika harga Lo < Li tabel untuk uji Lilliefors
dengan taraf nyata o = 0,05 dan sebaliknya ditolak.
3.8.4. Uji Homogenitas
Untuk uji homogenitas digunakan hipotesis :
H
o
:
2
2
2
1
S S = atau kedua populasi mempunyai varians yang sama
H
1
:
2
2
2
1
S S = atau kedua populasi tidak mempunyai varians yang sama


50

Untuk mengetahui apakah data dari kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen
atau tidak maka digunakan uji homogenitas dengan rumus:

2
2
2
1
S
S
F = (Sudjana, 2002:249)
Keterangan :

2
1
S = Varians terbesar

2
2
S = Varians terkecil
Kriteria pengujian hipotesis terima Ho jika
) 1 )( 1 (
1
÷ ÷ n
F
o
< F < F
(1/2α)(n1-1)(n2-1)
dimana F
(1/2α)(n1-1)(n2-1)
diperoleh dari daftar distribusi F dengan dk pembilang = n
dan dk penyebut = n pada taraf nyata α = 0,1.
Dimana :
1
n

= ukuran sampel kelas eksperimen

2
n = ukuran sampel kelas kontrol
Jika pengolahan data menunjukkan bahwa F
hitung
<F
tabel
maka H
0
diterima,
dapat diambil kesimpulan bahwa kedua sampel mempunyai varians yang
homogen. Jika pengolahan data menunjukkan bahwa F
hitung
> F
tabel
, maka H
0
ditolak dan terima H
a,
dapat diambil kesimpulan bahwa kedua sampel tidak
mempunyai varians yang homogen.
3.8.5. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Uji kemampuan awal/pretes siswa (uji t dua pihak)
Uji t dua pihak digunakan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal
siswa pada kedua kelompok sampel.
Hipotesis yang diuji berbentuk :
Ho :
2 1
µ µ = : kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai kemampuan awal
yang sama.
H
1
:
2 1
µ µ = : kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai kemampuan awal
yang berbeda.
Bila data penelitian berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji
hipotesis menggunakan uji beda dengan rumus :
51

t
hitung
=
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
÷
2 2
2 1
1 1
n n
S
X X
(Sudjana 1992:239)
Tetapi jika kedua kelas tidak homogen, maka digunakan :

2
2
2
1
2
1
2 1 ,
n
S
n
S
S
X X
t
+
÷
= (Sudjana 1992:241)
Di mana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus yang
dikemukakan oeh Sudjana ( 2002 : 239 ) :
S
2
) 1 ( ) 1 (
2 1
2
2 2
2
1 1 2
÷ +
÷ + ÷
=
n n
S n S n

Dengan t = distribusi t
=
1
x nilai rata – rata kelas eksperimen
=
2
x nilai rata – rata kelas kontrol
n
1
= ukuran kelas eksperimen
n
2
= ukuran kelas kontrol
S
2
1
= varians kelas eksperimen
S
2
2
= varians kelas kontrol
Kriteria pengujian adalah : Menurut Sudjana (2002 :239),terima Ho jika

o o 2 / 1 1 2 / 1 1 ÷ ÷
< < t t t dimana o 2 / 1
1
÷ t didapat dari daftar distribusi t dengan
dk = (
2 1
n n + - 2) dan peluang ( o 2 / 1 1 ÷ ) dan 05 , 0 = o . Untuk harga t
lainnya Ho ditolak.
b. Uji Kemampuan Postest (Uji t satu pihak)
Uji t satu pihak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu
perlakuan yaitu model pembelajaran generatif terhadap hasil belajar siswa.
Hipotesis yang diujikan adalah :
H
0
:
2 1
µ µ = : Pengaruh model pembelajaran generatif tidak lebih baik terhadap
hasil belajar siswa daripada Pembelajaran Konvensional pada materi pokok
elastisitas.
52

H
1
:
2 1
µ µ = : Pengaruh model pembelajaran generatif lebih baik terhadap
hasil belajar siswa daripada Pembelajaran Konvensional pada materi
pokok elastisitas
Kriteria pengujian yang berlaku ialah : terima H
o
jika t
hitung
< t
1-o
,
dimana t
1- o
di dapatdari daftar distribusi t dengan dk = (n
1
+ n
2
– 2) dan peluang
(t
1 - o
) dan
o
=0,05. jika t mempunyai harga-harga lain H
0
di tolak.

3.8.6 Persentase Peningkatan Hasil Belajar
Persentase peningkatan hasil belajar dihitung dengan rumus :

53

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Deskripsi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk menerapkan model
pembelajaran generatif di SMA Laksamana Martadinata, diperoleh hasil belajar
fisika siswa pada materi pokok elastisitas yang diuraikan sebagai berikut.
Penelitian dilaksanakan dengan jenis quasi eksperimen yang melibatkan dua kelas
sebagai sampel, masing-masing kelas diberi perlakuan yang berbeda.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified sampling yaitu kelas XI
IPA 1 sebagai kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran generatif
dengan jumlah siswa sebanyak 43 siswa dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol
menggunakan model pembelajaran konvensional dengan 43 siswa.
Tes yang digunakan dalam penelitian sebanyak 15 soal berbentuk pilihan
ganda. Validitas yang digunakan dalam penelitian adalah validitas isi yang
telahdiuji oleh tim ahli sebagai validator sebanyak 3 orang, yaitu 1 orang dosen
fisika Unimed dan 2 orang guru mata pelajaran fisika di SMA Laksamana
Martadinata (Lampiran 21).

4.1.2. Pelaksanaan Pretes
Sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran
generatif dan model pembelajaran konvensional maka terlebih dahulu dilakukan
pretes yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil tes yang
dilakukan, diperoleh data pretes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Secara
ringkas data pretes kelas eksperimen dan kontrol dijelaskan dalam tabel distribusi
frekuensi berikut :





54

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol
No. Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Nilai
Pretes
i
F
X
S Nilai Pretes
i
F
X
S
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
13 – 20
21 – 27
28 – 34
35 – 41
42 – 48
49 – 55
56 - 62
4
6
8
12
9
3
1


37,7


10,3
13 – 20
21 – 27
28 – 34
35 – 41
42 – 48
49 – 55
56 – 62
5
6
10
9
7
3
3


33,2


12,1
Jumlah 43 Jumlah 43

Data pretes siswa kelas eksperimen dan kontrol dapat pula dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.2. Nilai Pretes Untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretes Pretes
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Range (Jarak)
60,0
13,3
46,7
60,0
13,3
46,7
Jumlah Nilai 1620,0 1600
Mean 37,7 37,2
Standar Deviasi 10,3 12,1

Hasil pretes siswa pada kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat dalam
bentuk diagram batang berikut :



55


Gambar 4.1 Diagram Batang Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

4.1.3 Uji Normalitas Data
Uji normalitas data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji
Liliefors. Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data kedua
sampel berdistribusi normal atau tidak. Berdasarkan data penelitian diperoleh
bahwa nilai pretes kedua kelompok sampel memiliki data yang normal atau
L
hitung
<L
Tabel
pada taraf signifikan 0,05 dan N
eksperimen
= 43, N
kontrol
= 43. Hasil uji
normalitas data pretes kedua kelas sebagai berikut : (perhitungan pada lampiran
11)
Tabel 4.3. Hasil Uji Normalitas Data
Kelas
hitung
L L
tabel
(α=0,05) Keterangan
Eksperimen 0,1105 0,1351 Normal
Kontrol 0,1205 0,1351 Normal

Berdasarkan dari Tabel 4.3 menunjukkan bahwa L
hitung
< L
Tabel
maka data
pretes kedua kelompok sampel berdistribusi normal
0
2
4
6
8
10
12
13-20 21-27 28-34 35-41 42-48 47-53 54-60
F
r
e
k
u
e
n
s
i

S
i
s
w
a

Nilai
Diagram Batang Nilai Pretes Siswa Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol
Kelas
Eksperimen
Kelas Kontrol
56

4.1.4. Uji Homogenitas Data
Uji Homogenitas data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji F.
Uji homogenitas data bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel berasal
dari populasi yang homogen atau tidak. Berdasarkan perhitungan (lampiran 12)
hasil uji homogenitas pretes diperoleh nilai F
hitung
=1,38. Pada taraf signifikan
0,05 diperoleh harga F
Tabel
= 1,64.
Karena F
hitung
< F
Tabel
maka data pretes kedua sampel homogen yang
berarti data yang diperoleh dapat mewakili seluruh populasi yang ada. Secara
ringkas hasil perhitungan uji homogenitas data pretes kedua kelas (perhitungan
pada lampiran 12) ditunjukkan pada Tabel 4.5 dibawah ini.
Tabel 4.4. Ringkasan Uji Homogenitas Data
Data Kelas Varians F
hitung
F
tabel
Keterangan
Pretes
Eksperimen 106,1
1,38 1,64 Homogen
Kontrol 146,6

4.1.5. Pelaksanaan Pembelajaran
a. Kelas Eksperimen
Pada kelas eksperimen, peneliti melaksanakan pembelajaran dengan
menggunakan model generatif untuk mengeksplorasi pengetahuan awal siswa
tentang konsep fisika kemudian dikonstruksi menjadi konsepsi yang lebih baik
dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian, kegiatan pembelajaran dilakukan 3
pertemuan yakni pertemuan pertama (2x45 menit), pertemuan kedua (2x45
menit), dan pertemuan ketiga (2x45 menit). Model pembelajaran generatif terdiri
dari 4 tahap yaitu :
1. Eksplorasi : Pada tahap eksplorasi guru membimbing siswa untuk
melakukan eksplorasi pengetahuan, ide, atau konsepsi awal yang diperoleh
dari pengalaman sehari-harinya atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat
kelas sebelumnya. Untuk mendorong siswa melakukan eksplorasi, guru
memberikan stimulus berupa pertanyaan, demonstrasi atau penelusuran
terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukkan data atau fakta yang
terkait dengan konsepsi yang dipelajari. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ±20
menit
57

2. Pemfokusan : Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis
melalui kegiatan laboratorium. Pada tahap ini guru bertugas sebagai fasilitator
yang memberi bimbingan dan arahan, dengan demikian para siswa dapat
melakukan proses sains dengan tepat. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ± 40
menit.
3. Tantangan : Setelah siswa memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan
menulis dalam lembar kerja. Para siswa diminta mempresentasikan temuan
melalui diskusi kelas. Melalui diskusi kelas akan terjadi proses tukar
pengalaman diantara siswa. Dalam tahap ini siswa berlatih untuk berani
mengeluarkan ide, kritik, berdebat, menghargai pendapat teman, dan
mengahargai adaya perbedaaan diantara pendapat teman. Pada tahap ini
dibutuhkan waktu ± 20 menit
4. Penerapan : Pada tahap ini, siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah
dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru
yang berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Pemberian tugas rumah atau tugas proyek yang dikerjakan siswa diluar jam
pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik. Pada tahap ini siswa
perlu diberi banyak latihan-latihan soal. Dengan adanya latihan soal, siswa
akan semakin memahami konsep (isi pembelajaran) secara lebih mendalam
dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke
memori jangka panjang; ini berarti tingkat retensi siswa semakin baik. Pada
tahap ini dibutuhkan waktu ± 10 menit
Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan siswa selama proses
pembelajaran, saat pembelajaran berlangsung dilakukan observasi oleh 2 orang
pengamat yang dilengkapi lembar observasi. Jenis aktivitas yang diamati adalah :
(1) memberikan pertanyaan (2) memberikan tanggapan (3) memberikan jawaban
dan (4) menyampaikan ide/pendapat (5) membuat kesimpulan, untuk pertemuan
ke-1, untuk pertemuan ke-2 dan ke-3. Aspek-aspek pengamatan aktivitas diberi
skor 1 sampai 3 dengan berpedoman pada penskoran observasi aktivitas siswa
(lampiran 20 ). Berdasarkan lampiran 20, maka dibuat rekapitulasi hasil observasi
aktivitas belajar siswa pada pertemuan 1, pertemuan 2, dan pertemuan 3 seperti
58

tercantum pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.5. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Kelas Eksperimen Pertemuan I,II,III
No. Indikator
Aktivitas Tiap Pertemuan
I II III
1. Memberikan pertanyaan 14,8 15,4 18,8
2. Memberikan tanggapan 13,2 16,2 19,4
3. Memberikan jawaban 15,8 17,2 20,8
4. Menyampaikan
ide/pendapat
11,6 12,6 17,2
5. Membuat kesimpulan 15,2 15,8 17,0
Jumlah Persentase Aktivitas 2498,6 2698,6 3051,5
Rata – rata Aktivitas 58,1 62,7 70,9
Kriteria Cukup Aktif
(C)
Cukup Aktif
(C)
Aktif (B)

Adapun diagram batang untuk aktivitas siswa kelas eksperimen
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.2. Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen
Berdasarkan data pada tabel 4.5 maka aktivitas belajar siswa selama
menggunakan model pembelajaran generatif menunjukkan bahwa pada
pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 58,1 dalam kategori (C)
0
5
10
15
20
25
I II III IV V
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

A
k
t
i
v
i
t
a
s

Indikator
Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen

Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III
59

atau cukup aktif, pada pertemuan kedua diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa
62,7 dalam kategori (C) atau cukup aktif dan pada pertemuan ketiga diperoleh
nilai rata-rata aktivitas siswa 70,9 dalam kategori (B) atau aktif. Dari ketiga
pertemuan diperoleh rata-rata aktivitas belajar siswa 63,9 dalam kategori (C) atau
cukup aktif.
b. Kelas Kontrol
Kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 2 menerapkan pembelajaran
konvensional yang merupakan sebuah sistem pembelajaran dengan metode
ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Alokasi waktu pembelajaran sama seperti
pada kelas eksperimen terdiri dari 3 kali pertemuan yakni pertemuan pertama
(2x45 menit), pertemuan kedua (2x45 menit), dan pertemuan ketiga (2x45menit).

Tabel 4.6. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Kelas Kontrol Pertemuan I,II,III
No. Indikator
Pertemuan
I II III
1. Memberikan pertanyaan 12,6 17,2 16,6
2. Memberikan tanggapan 15,4 15,4 17,4
3. Memberikan jawaban 15,8 17,2 17,0
4. Menyampaikan
ide/pendapat
12,2 12,2 16,6
5. Membuat kesimpulan 11,6 15,6 17,6
Jumlah Persentase Aktivitas 2259,0 2538,6 2785.3
Rata–rata Aktivitas 52,5 59,0 64,8
Kriteria C C C

Adapun diagram batang untuk aktivitas siswa kelas kontrol digambarkan sebagai
berikut :
60


Gambar 4.3. Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Kontrol
Berdasarkan data pada tabel 4.6 hasil observasi aktivitas belajar siswa
dengan menggunakan model pembelajaran konvensional menunjukkan pada
pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 52,5 dalam kategori
cukup aktif, pada pertemuan kedua diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 59,0
dalam kategori aktif dan pada pertemuan ketiga diperoleh nilai rata-rata aktivitas
siswa 64,8 dalam kategori aktif. Dari ketiga pertemuan diperoleh rata-rata
aktivitas belajar siswa 60,3 dalam kategori (C) atau cukup aktif.
4.1.6. Pelaksanaan Postes
Setelah diberikan perlakuan pada masing-masing kelas, dilaksanakan
postes untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Hasil belajar siswa pada materi pokok elastisitas dengan menggunakan model
pembelajaran generatif di kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan model
pembelajaran konvensional di kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol secara ringkas
dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
0
5
10
15
20
I II III VI VI
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

A
k
t
i
v
i
t
a
s

S
i
s
w
a

Indikator
Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Kontrol
Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III
61


Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Hasil Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No.
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Nilai Postes
i
F
X
S Nilai Postes
i
F
X
S
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
40 – 47
48 – 55
56 – 63
64 – 71
72 – 79
80 – 87
88 – 96
2
3
5
9
6
10
8




72,1






12,1



40 – 47
48 – 55
56 – 63
64 – 71
72 – 79
80 – 87
88 – 96
8
3
8
8
5
4
7




65,9




15,4
Jumlah 43 Jumlah 43

Hasil postes kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah pembelajaran
dengan model generatif dan model konvensional secara ringkas diperlihatkan pada
tabel dibawah ini.
Tabel 4.8. Hasil Postes Untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Postes Postes
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Range (Jarak)
93,3
46,7
46,6
93,3
40,0
53,3
Jumlah Nilai 3100,0 2833
Mean 72,1 65,9
Standar Deviasi 12,1 15,4

Untuk lebih jelasnya hasil postes siswa kelas eksperimen dan kelas
kontrol dapat dilihat pada diagram di bawah ini.
62


Gambar 4.4. Diagram Batang Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

4.1.7. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis ditentukan dengan melihat perbedaan hasil belajar
siswa kelas eksperimen. Nilai rata–rata pretes kelas eksperimen adalah 37,7 dan
kelas kontrol adalah 37,2. Dari Hasil perhitungan diperoleh t
hitung
= 0,2067 dan
t
tabel
untuk α = 0,05 adalah 1,992. Karena t
hitung
< t
tabel
dapat dinyatakan bahwa
tidak ada perbedaan kemampuan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Nilai rata–rata postes kelas eksperimen adalah 72,1 dan kelas kontrol
adalah 65,9. Hasil pengujian hipotesis pada taraf signifikan α = 0,05 dan dk = 84,
untuk pengujian postes diperoleh t
hitung
= 1,785 sedangkan t
Tabel
= 1,666. Kriteria
pengujian adalah : terima H
0
jika
o o 2 / 1 1 2 / 1 1 ÷ ÷
< < ÷ t t t = -1,669 < t
hitumg
< 1,669,
serta tolak H
0
jika t memiliki harga yang lain, karena harga t
hitung
= 1,785, maka
H
0
ditolak dan H
a
diterima yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar siswa
yang menggunakan model pembelajaran generatif dengan model pembelajaran
konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana
Martadinata T.P. 2011/2012. Secara ringkas hasil perhitungan uji hipotesis
(perhitungan pada lampiran 13) tertera pada Tabel 4.9. berikut.



0
2
4
6
8
10
40 – 47 48 – 55 56 – 63 64 – 71 72 – 79 80 – 87 88 – 96
F
r
e
k
u
e
n
s
i

s
i
s
w
a

Nilai
Diagram Batang Hasil Postes
Kelas
Eksperimen
Kelas Kontrol
63

Tabel 4.9. Ringkasan perhitungan uji t
No. Sampel Rata-rata t
hitung
t
Tabel
Kesimpulan
1.
2.
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
72,1
65,9
1,785 1,666 Terdapat
perbedaan

4.2 Pembahasan Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.P.
2011/2012 pada materi pokok elastisitas. Penelitian tergolong dalam penelitian
quasi eksperimen yang melibatkan dua sampel kelas yang menerapkan dua
perlakuan berbeda, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang
diterapkan model pembelajaran generatif dan kelas XI IPA 2 dengan model
pembelajaran konvensional.
Pada awal penelitian masing-masing kelas diberikan pretes untuk
mengetahui kemampuan awal siswa pada materi pokok elastisitas. Dari hasil
pretes diperoleh hasil belajar siswa pada kelas kontrol yaitu dengan rata-rata 37,7
dan pada kelas eksperimen dengan rata-rata 37,2. Kemudian dilakukan uji
normalitas data penelitian dengan menggunakan uji Liliefors dan nilai L
tabel
0,1351. Hasil pengujian menunjukkan nilai pretes kedua kelompok sampel yaitu
kelas eksperimen 0,1105<0,1351 dan kelas kontrol 0,1205<0,1351 atau L
hitung
<
L
Tabel
pada taraf signifikan 0,05. Dengan demikian terbukti bahwa data pretes
kedua kelompok sampel berdistribusi normal.
Uji Homogenitas data penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah
kedua sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Berdasarkan
perhitungan hasil uji homogenitas pretes diperoleh nilai F
hitung
=1,38. Pada taraf
signifikan 0,05 diperoleh harga F
Tabel
= 1,64. Karena F
hitung
<F
Tabel
maka data
pretes kedua sampel homogen yang berarti data yang diperoleh dapat mewakili
seluruh populasi yang ada.
Kemudian dilaksanakan proses kegiatan belajar mengajar di kelas XI
IPA 1 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran
generatif. Sebelum memulai pembelajaran, peneliti menyiapkan alat dan bahan
yang akan diperlukan selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan belajar
mengajar dengan menggunakan model generatif melalui empat tahap yaitu
64

Eksplorasi, Pemfokusan, Tantangan dan Aplikasi.
Eksplorasi, pada tahap eksplorasi guru membimbing siswa untuk
mengungkapkan pengetahuan, ide, atau konsepsi awal yang dimiliki siswa,
aktivitas siswa dilihat dari tanya jawab dan diskusi dalam kelompok. Peningkatan
aktivitas siswa pada tahap eksplorasi terus meningkat dari pertemuan pertama
hingga pertemuan ketiga, terlihat dari terpenuhinya indikator–indikator seperti
memberikan pertanyaan, memberikan jawaban, dan mengungkapkan pendapat
Pemfokusan, Pada tahap pemfokusan siswa melaksanakan pengujian
hipotesis melalui kegiatan laboratorium. Dengan praktikum peningkatan aktivitas
siswa lebih menonjol, karena siswa dituntut menerapkan konsep yang sudah
dimiliki pada praktek sesungguhnya. Selama kegiatan praktikum siswa antusias
melakukan langkah–langkah pada lembar kerja. Hal ini berdampak positif karena
dengan praktek langsung siswa lebih memahami konsep, juga mengingat hasil
yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama.
Tantangan : Setelah memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan
menulis dalam lembar kerja. Keterlibatan siswa ditahap sebelumnya terlihat ketika
siswa diminta mempresentasikan temuan praktek melalui diskusi kelas. Satu
persatu perwakilan kelompok mengemukakan hasil uji ilmuwan, sedangkan
kelompok lain diberi kesempatan untuk menggapi. Pada tahap ini tampak
peningkatan indikator penyampaian ide dan membuat kesimpulan di setiap
pertemuan.
Penerapan : Kesimpulan pada tahap tantangan, selanjutnya diterapkan
dengan mengajak siswa memecahkan masalah menggunakan konsep baru.
Penerapan yang diberikan berupa soal dan contoh situasi kehidupan sehari-hari.
Sehingga pada tahap akhir aktivitas siswa berupa rekonstruksi pengetahuan lama
dengan pengetahuan baru dan kesadaran akan pentingnya pembelajaran yang
dilaksanakan.
Dengan tahap–tahap pembelajaran generatif, aktivitas siswa terus
meningkat disetiap pertemuan, dari pertemuan I – III peningkatan aktivitas siswa
meningkat sebesar 12,8% . Berdasarkan peningkatan aktivitas belajar siswa
terlihat bahwa model generatif membuat pembelajaran berjalan lebih produktif,
65

bermakna serta tidak membosankan sehingga memberikan hasil belajar yang lebih
baik diantaranya sebagai berikut :
1. Mendorong Siswa untuk memiliki rasa ingin tahu dan respon yang muncul
dari keingintahuannya dan mendiskusikan hal tersebut dengan teman
kelompoknya.
2. Mendorong siswa untuk berdiskusi dan membuat hipotesis dari praktikum
yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar
3. Mendorong siswa untuk memahami konsep materi pelajaran dengan baik.
4. Siswa aktif untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui percobaan (pratikum).
5. Meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk menerangkan pengetahuan yang
dimilikinya dengan mempresentasikannya di depan kelas.
6. Memungkinkan siswa mengingat konsep yang benar dalam jangka waktu
lama karena sudah melakukan eksperimen secara mandiri.
Beberapa kelebihan yang didapat menunjukkan bahwa model
pembelajaran generatif membantu siswa memahami materi pelajaran, terutama
terhadap materi-materi yang lebih sukar dan memerlukan pemahaman konsep
dengna benar melalui eksplorasi pikiran dan uji eksperimen sehingga siswa lebih
aktif dibandingkan siswa yang diajar dengan model konvensional.
Pelaksanaan model pembelajaran generatif yang dilakukan peneliti juga
mengalami kendala–kendalan yang menyebabkan pencapaian hasil belajar belum
maksimal. Kendala–kendalan yang dialami peneliti dalam menerapkan model
pembelajaran generatif antara lain :
1. Keterbatasan peneliti dalam mengalokasikan waktu dan menguasai kelas,
sehingga praktikum memakan waktu yang lama dan ada beberapa siswa lebih
memilih untuk diam menunggu hasil dari siswa lain tanpa ikut memnbantu dan
mengamati jalannya praktikum, kelas menjadi tidak kondusif dan pelaksanaan
penenlitian kurang efektif.
2. Jarangnya melakukan praktikum membuat siswa kesulitan dalam pengenalan
alat-alat laboratorium sehingga siswa cenderung menunggu tindakan guru
untuk memulai percobaan.
66

3. Kurangnya penekanan konsep kepada siswa, sehingga siswa sulit memahami
materi tanpa ada penjelasan dari guru.
Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan keterbatasan peneliti adalah
pada pertemuan selanjutnya peneliti memberi pengarahan yang jelas kepada siswa
dan mempersiapkan peralatan praktikum sebelum pembelajaran dimulai sehingga
menghemat waktu.
Setelah melaksanakan pembelajaran generatif pada kelas eksperimen
selama 3 pertemuan kemudian peneliti memberikan postes. Dari hasil postes pada
kelas eksperimen diperoleh rata-rata 72,1. Saat pembelajaran berlangsung terlihat
aktivitas yang dilakukan oleh siswa. Dari hasil observasi 3 pertemuan diperoleh
bahwa aktivitas belajar siswa tergolong aktif dengan nilai rata–rata 70,9.
Pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional
yaitu pada kelas XI IPA 2. Setelah melakukan pretes, peneliti mulai untuk
melakukan tanya jawab, setelah itu menjelaskan materi tentang elastisitas dengan
metode ceramah lalu memberikan penugasan kepada siswa. Setelah selesai
pembelajaran, peneliti memberikan postes. Dari hasil postes diperoleh nilai siswa
pada kelas kontrol dengan rata-rata 65,9 dan rata–rata aktivitas 59,6 yang
tergolong cukup aktif. Peningkatan hasil dibelajar kelas eksperimen dan kontrol
sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran dapat dilihat pada table berikut :
Untuk kelas eksperimen diagram pergeseran nilai pretes dan postes
adalah sebagai berikut :

67


Gambar 4.5. Diagram pergeseran nilai pretes dan postes kelas eksperimen
Dari gambar tersebut terlihat ada pergeseran nilai siswa yang diajarkan
dengan model generatif. Nilai pretes terendah siswa 13,3 maka pada postes nilai
terendah siswa menjadi 46,6. Untuk kelas kontrol diagram pergeseran nilai pretes
dan postes dapat di lihat pada gambar berikut :

Gambar 4.6. Diagram pergeseran nilai pretes dan postes kelas kontrol
Berdasarkan gambar pergeseran nilai pretes dan postes kelas kontrol
yaitu nilai terendah pretes 13,3 sedangkan pada postes nilai terendah 40,0. Maka
pada kelas kontrol juga terjadi pergeseran nilai namun dengan rentang yang lebih
kecil dari kelas eksperimen.

0
5
10
15
20
13-23 24-34 35-45 46-56 57-67 68-78 79-89 90-100
F
r
e
k
u
e
n
s
i

S
i
s
w
a

Nilai
Diagram Pergeseran Nilai Pretes dan Postes Kelas
Eksperimen
Pretes
postes
0
5
10
15
20
13-23 24-34 35-45 46-56 57-67 68-78 79-89 90-100
F
r
e
k
u
e
n
s
i

s
i
s
w
s
a

Nilai
Diagram Pergeseran Nilai Pretes dan Postes Kelas Kontrol

Pretes
postes
68

Pengujian hipotesis pada penelitian menggunakan taraf signifikan α =
0,05 dan dk = 84, untuk pengujian postes diperoleh t
hitung
= 1,785 sedangkan t
Tabel

= 1,666. Kriteria pengujian adalah : terima H
0
jika
o o 2 / 1 1 2 / 1 1 ÷ ÷
< < ÷ t t t = -1,669 <
t
hitumg
< 1,669, serta tolak H
0
jika t memiliki harga yang lain, karena harga t
hitung
=
1,785, maka tolak H
0
dan terima H
a
yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar
siswa yang menggunakan model pembelajaran generatif dengan model
pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA
Laksamana Martadinata T.P. 2011/2012. Hal ini sejalan dengan peningkatan hasil
belajar siswa menggunakan model pembelajaran generatif yaitu sebesar 9,41%.
Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa rata–rata hasil belajar
siswa setelah diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
generatif lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang diberikan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada
materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata. Dengan
demikian ada peningkatan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran
generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksaman Martadinata
T.P. 2011/2012.
69

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan penelitian didasarkan pada temuan data penelitian,
sistematika sajiannya dilakukan dengan memperhatikan tujuan penelitian yang
telah dirumuskan. Adapun kesimpulan yang diperoleh antara lain :
1. Hasil belajar siswa dengan model pembelajaran generatif pada materi
pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.P.2011/2012
sebelum diberikan perlakuan rata-rata pretes sebesar 37,7 dengan simpangan
baku 10,3 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata postes siswa sebesar 72,1
dengan simpangan baku 12,1. Sedangkan hasil belajar siswa dengan model
pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA
Laksamana Martadinata T.P.2011/2012 sebelum diberikan perlakuan rata-rata
pretes sebesar 37,2 simpangan baku sebesar 12,1 dan setelah diberikan
perlakuan rata-rata postes siswa sebesar 69,5 dengan simpangan baku 15,4.
2. Aktivitas siswa selama menggunakan model pembelajaran generatif rata–rata
63,9%, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran
konvensional rata–rata aktivitas siswa 58,5%.
3. Peningkatan hasil belajar siswa akibat penerapan model pembelajaran
generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana
Martadinata T.P.2011/2012 yaitu sebesar 9,41% .










70

5.2 Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka sebagai tindak lanjut
dari penelitian ini disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Bagi peneliti selanjutnya agar mampu mengalokasi waktu yang tersedia
dengan baik sehingga tidak banyak menyita waktu untuk praktikum (tahap
pemfokusan).
2. Peneliti selanjutnya hendaknya dapat menguasai kelas sehingga
pembelajaran menjadi lebih efisien.
3. Bagi guru yang menerapkan model pembelajaran generatif agar lebih
memperhatikan konsepsi/pengetahuan awal siswa sebelum pembelajaran
diberikan.



2

mengajar yaitu : 1. Siswa, dengan segala karakteristiknya berusaha mengembangkan diri seoptimal mungkin melalui kegiatan belajar; 2. 3. Tujuan, merupakan sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar; Guru/pendidik, selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat sehingga memungkinkan bagi terjadinya proses pengalaman belajar. Pendidik seharusnya menyadari bahwa dalam proses pembelajaran, aturan–aturan menuntut pendidik untuk berfikir logis, rasional, kritis, cermat, efektif, efisien dan bersikap disiplin karena pendidikan tidak lepas dari masalah pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar yang merupakan aktivitas paling penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kreatifitas pendidik adalah kemampuan menggunakan model pembelajaran agar kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik. Selain kemampuan menggunakan model, pendidik harus mengetahui karakter peserta didik serta bagaimana menyampaikan ilmu dengan baik. Cara penyampaian ilmu yang tepat dan baik dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan. Peran guru sangat penting dalam pembelajaran, dalam pengajaran fisika suatu model pengajaran tertentu belum tentu cocok untuk setiap pokok bahasan, sehingga guru harus memilih model mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Masalah lain yang dihadapi guru fisika dalam melaksanakan pembelajaran adalah kesulitan siswa belajar fisika, kesulitan-kesulitan tersebut antara lain : kesulitan pemahaman konsep, pemecahan masalah, penalaran fisika, koneksi fisika dan komunikasi fisika. Kesulitan belajar fisika membuat siswa beranggapan bahwa fisika merupakan ilmu yang sulit dan memusingkan sehingga penguasaan konsep fisika siswa menjadi rendah. Dampak lainnya adalah dalam pembelajaran fisika sehari-hari tidak dapat dipungkiri bahwa ketika berada didalam ruangan kelas dan melakukan proses belajar mengajar tidak semua siswa dapat belajar dengan baik. Ada siswa yang memang memperhatikan guru dari awal hingga akhir pembelajaran namun banyak pula yang kurang serius bahkan tidak memperhatikan penjelasan guru. Seperti yang dinyatakan oleh Sudino Lim, Managing Director Inti Education Indonesia, :

3

”Mendidik anak disekolah bukan hal mudah. Meski guru memberikan perhatian 100 persen untuk mengajar mereka, perhatian para siswa tidak selalu fokus penuh pada ilmu yang disampaikan. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa menjadi penyebab kurangnya kosentrasi siswa dan menyebabkan siswa tak selalu paham dengan materi yang disampaikan.” ( http:/www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan) Oleh karenanya guru harus berusaha mencipatakan suasana belajar yang menarik dan interaktif untuk merubah persepsi siswa dalam belajar fisika. Berdasarkan pengumuman hasil UN SMA tahun 2011 di Sumatera Utara yang diperoleh dari imbalo.wordpress.com, sebanyak 116.918 peserta mengikuti Ujian Nasional SMA di Sumatera Utara, siswa yang lulus sebanyak 116.676 peserta atau mencapai 99,79%, sedangkan yang tidak lulus sebanyak 242 peserta atau 0,21%. Untuk program IPA, dari 62.331 peserta UN tingkat SMA/MA di Sumut, sebanyak 62.257 peserta lulus atau 99,88 %. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia khususnya di Sumatera Utara semakin membaik. Namun masih harus ditingkatkan mengingat berbagai kontroversi yang terjadi setiap kali Ujian Nasional dilaksanakan. Hasil observasi berupa pemberian angket yang dilakukan peneliti di SMA Laksamana Martadinata Medan diperoleh dari 48 siswa kelas XI IPA, diperoleh 56% menyatakan proses pembelajaran berlangsung dengan metode ceramah, mencatat dan mengerjakan soal. Kegiatan tanya jawab dan mengemukakan pendapat didepan kelas, diperoleh 34% tidak pernah memberikan pendapat didepan kelas. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru fisika di SMA Laksamana Martadinata Medan menyatakan nilai ratarata kelas untuk pelajaran fisika masih rendah sekitar 55,0 yang masih dibawah KKM yaitu 61,0. Mengacu pada hasil observasi yang dilaksanakan, peneliti menyimpulkan bahwa cara mengajar yang kurang tepat dengan materi yang diajarkan akan membuat siswa sulit memahami fisika, maka ada siswa yang awalnya menyukai fisika menjadi tidak acuh, sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai. Apabila seorang guru dapat menanamkan konsep dengan baik disertai penyampaian pembelajaran dengan model tepat dan kreatif maka siswa akan tertarik juga

Model pembelajaran generatif adalah model yang mengacu kepada pemahaman dan pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk membangun suatu konsepsi baru yang merupakan gabungan dari pengetahuan awal yang sudah dimiliki dengan informasi yang baru diterima. awal terhadap pemahaman Purwanto (2007) konsep dan hasil belajar kimia siswa.Swasono:2003) yang terdiri dari empat tahap yaitu : 1. membangkitkan semangat. Efek Model Pembelajaran Generative Terhadap Pemahaman Belajar Kimia dikalangan Siswa SMA Nama Peneliti Hasil penelitian terdapat pengaruh yang Nyoman Sudyana. Disinilah peranan guru. 4. memotivasi. signifikan antara pengetahuan Kaluge. (Wena:2009) Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan lebih dahulu menggunakan model pembelajaran generatif : Tabel 1. dan 3) tidak terdapat pengaruh interaktif kemampuan awal dan . Model pembelajaran generatif pertama kali dikenalkan oleh Osborne dan Cosgrove (Sutarman. 1) Wayan Laurens Ardhana. karena belajar tidak hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan.1 Penelitian terdahulu model pembelajaran generatif No Judul Penelitian 1. menarik dan tidak membosankan. 2. 2) terdapat pengaruh signifikan model pembalajaran generatif vs model pembelajaran terhadap konvensional pemahaman konsep dan hasil belajar kimia siswa. 3.4 mudah untuk menguasai pelajaran fisika. tetapi harus menghibur. Pendahuluan yang disebut eksplorasi Pemfokusan Tantangan atau tahap pengenalan konsep Penerapan konsep. Salah satu model yang sesuai untuk pembelajaran fisika adalah model pembelajaran generatif.

sedangkan yang terendah adalah aspek mendorong partisipasi (19. 2) kemampuan guru dalam melaksanakan pengembangan pembelajaran ini adalah baik. materi yang akan dibawakan dalam penelitian.5 model pembelajaran generatif terhadap pemahaman konsep dan hasil belajar kimia siswa.5%). Hasil belajar keterampilan Muhammad sosial sains fisika melalui Rahmad model Hasil belajar keterampilan dan sains fisika siswa tinggi selama pembelajaran Aflina Sari Dewi. 3. .5%). sampel dalam penelitian. 2. Pengembangan Model Gst Ayu Pembelajaran Generatif Mahayukti (2003) Dengan Metode PQ4R Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika Siswa Kelas IIB SLTP Laboratorium Ikip Negeri Singaraja 1) mereduksi miskonsepsi dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas II B SLTP Laboratorium IKIP Negeri Singaraja. waktu pelaksanaan penelitian.2%). penelitian ini akan diadakan di SMA Laksamana Martadinata Medan Tahun Ajaran 2011/2012. dan 4) tanggapan guru dan siswa terhadap model pembelajaran yang dilaksanakan adalah positip. 3) tingkat aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas adalah aktif. tugas mengambil giliran dan berbagi tugas (55. proses pembelajaran dengan menggunakan model generatif pada siswa kelas (2007) IIV MTs Darel Hikmah Pekan Baru pembelajaran generatif dapat dilihat dalam pada aspek berada (80. Perbedaan antara penelitian ini dan penelitian-penelitian terdahulu adalah tempat penelitian.

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan maka peneliti dapat mengidentifikasi beberapa masalah yang dapat diteliti yaitu : a. sedangkan Muhammad Rahmad yang menerapkan pembelajaran generatif pada mata pelajaran fisika hanya meneliti hasil belajar keterampilan sosial sains siswa saja.3 Batasan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada : a. b. tahun ajaran 2011/2012 .P 2011/2012”. b. Hasil belajar fisika siswa masih dibawah standar ketuntasan. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru monoton dan tidak sesuai dengan model pembelajaran terkini sehingga siswa kurang termotivasi dan tidak aktif dalam belajar. c. Materi pembelajaran dibatasi pada Materi Pokok Elastisitas Subjek penelitian adalah Siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata semester ganjil.6 Pada peneliti sebelumnya yaitu Nyoman Sudyana dan Anggar Tri Pamungkas mata pelajaran yang diteliti bukanlah fisika maka dari itu peneliti ingin menerapkan model ini pada mata pelejaran fisika untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran generatif. 1. Berdasarkan uraian diatas penulis memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul ”Penerapan Model Pembelajaran Generatif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Materi Pokok Elastisitas di Kelas XI SMA Laksamana Martadinata T. Dari uraian diatas tampak perbedaan antara peneltian-penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan.

Mengetahui aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan diterapkan model pembelajaran generatif dengan model konvensional pada materi pokok elastisitas. c. Menjadikan model generatif sebagai alternatif pemilihan model pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran fisika. Sebagai informasi model pembelajaran yang sedang berkembang pada saat ini.5 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk : a. masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut : a. Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran generatif dalam materi pokok elastisitas? b.7 1. sebagai pengalaman dan ilmu baru dalam pembelajaran fisika.6 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : a. Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dalam materi pokok elastisitas? c. c. Mengetahui hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran generatif dengan model konvensional pada materi pokok elastisitas. 1. Bagi peneliti. Bagaimana perbedaan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata antara pembelajaran yang menerapkan model generatif dengan model konvensional pada materi pokok elastisitas? 1. Mengetahui pengaruh model pembelajaran generatif dan konvensional terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika khususnya materi pokok elastisitas. b. b.4 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang diteliti. .

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran generatif dapat meningkatkan hasil belajar. 1. .7 Asumsi Dasar (Anggapan Dasar) Asumsi dasar dari penelitian ini adalah: a. Pemahaman siswa tentang materi pokok Elastisitas sebelum kegiatan pembelajaran homogen. Pembelajaran akan lebih efektif jika pembelajaran merupakan suatu proses yang aktif. Bagi peneliti lain sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran generatif.8 d. c. b.

meniru. to follow direction. Belajar merupakan proses mencari ilmu untuk mengubah diri secara baik dan benar. to imitated. Banyak ahli yang menjelaskan mengenai hakikat belajar. (Budiningsih:2004) Robert M.1. Cronbach berpendapat belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalaminya pelajar menggunakan panca inderanya. dengan mengikuti petunjuk.1 2. manusia selalu belajar tentang hal-hal baru yang terjadi. mendengarkan. to read. Geoch menyatakan “learning is chage is performance as a result of practice” (Belajar adalah perubahan penampilan sebagai hasil dari praktik). Gagne memberikan dua definisi belajar yaitu :  Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam . perasaan. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian terhadap arti belajar. beberapa pengertian belajar adalah sebagai berikut : Cronbach dalam bukunya Education Psychology menyatakan bahwa : “learning is shown by change in behavior as a result of experience”. stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran dan perasaan. (Suryabaratha:2008) James O. (Suryabaratha:2008) Harold Spears menyatakan bahwa : learning is to observe. to listen.1 Kerangka Teoritis Pengertian Belajar Dalam kehidupan. Wittaker merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. sesuai tindakan keilmuan yang dicapai. (Asmani:2009) Thorndike menyatakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. (Asmani :2009:20). Belajar adalah mengobservasi. dan tindakan. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar yang dapat berupa pikiran. membaca. Proses belajar tidak dibatasi sekat apapun dan dilakukan dengan banyak cara.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. to try something themselves. melakukan percobaan sendiri.

2. Adapun aspek-aspek itu adalah: 1. Perubahan yang terjadi adalah karena usaha. Bukti seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkahlaku.Pengetahuan.2 Hasil Belajar Dalam mengajar.Apresiasi. 2. Hasil belajar merupakan perwujudan dari tujuan-tujuan interaksi belajar dan tindak mengajar.  Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Menurut Dymiati dan Mujiono dampak pelajaran adalah hasil yang dapat diukur seperti tertuang dalam raport angka dalam ijazah atau kemampuan meloncat setelah latihan. Perubahan yang terjadi pada pokoknya adalah didapatkannya pengalaman dan kemampuan baru. seorang guru harus selalu sudah mengetahui tujuantujuan yang harus dicapai dalam mengajarkan suatu pokok bahasan. Dari sisi guru tindak belajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar yang merupakan bukti dari apa yang telah dilakukan. aktual maupun potensial). tingkah laku terdiri dari sejumlah aspek. 3. 2. 6. kebiasaan dan tingkah laku. (Hamalik : 2009) Kesimpulan dari definisi–definisi diatas adalah : 1.Keterampilan.1.Kebiasaan.keterampilan. 5.Emosional. . 3. Secara umum belajar merupakan proses pemahaman yang dialami individu dalam suatu usaha mendapatkan pengalaman yang berlangsung secara kontinu dan menghasilkan penambahan pengetahuan atau kemahiran serta perubahan tingkah laku pada individu tersebut yang bertahan dalam jangka waktu lama. 4. Belajar membawa perubahan (dalam arti behavior changes.Pengertian.10 pengetahuan.  Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Hasil belajar akan tampak dari setiap perubahan aspek-aspek tersebut.

Jasmani.Budi pekerti. penerapan. Robert . Kelima macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah : 1. Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik). Gagne mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai. 2. 10. (Daryanto:2010) Kelima macam hasil belajar tersebut mensyaratkan kondisi-kondisi tertentu yang harus direncanakan oleh guru sehingga dalam pencapaian tujuan pembelajaran dapat ditentukan strategi pembelajaran yang tepat. Gagne mengemukakan lima macam kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar dengan berbagai macam kondisi belajar (sistem lingkungan belajar) untuk pencapaiannya yang disebut “The Damains Of Learning”. Jika seseorang telah menjalani proses belajar maka terlihat perubahan dalam salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut. pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.M. 3. 5. menggunakan jangka dan sebagainya. termasuk kemampuan memecahkan masalah. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu: pengetahuan.11 7. Kemampuan ini umumnya dikenal dan tidak jarang. (Hamalik:2001). . Sikap dan nilai. sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungannya bertingkah laku terhadap orang. 4.Sikap. berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang. Keterampilan motorik yang diperoleh disekolah.Hubungan sosial. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah. Strategi kognitif. analisis. antara lain keterampilan menulis. Perinciannya adalah sebagai berikut: 1. 8. 9. mengatur “cara belajar” dan berpikir seseorang di dalam arti seluas-luasnya. mengetik. barang atau kejadian. pemahaman. sintesis dan penilaian. Informasi verbal.

koordinasi neuromuscular (menghubungkan. organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai.12 2. namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima. menilai. Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. (Wilis:1991) Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa. . 3. yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. perubahan sikap/tingkah laku dan keterampilan yang dipengaruhi banyak faktor sehingga untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal harus digunakan model pembelajaran yang tepat. menjawab atau reaksi. Dari beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah menerima suatu pengetahuan yang berupa angka/nilai. sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi. mengamati). Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan. manipulasi benda-benda. namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik.

13 2. Definisi Fisika Kata Fisika bersal dari bahasa Yunani “Physic” yang berarti “alam” atau “hal ikhwal alam” sedangkan fisika (dalam bahasa inggris “Physic”) ialah ilmu yang mempelajari aspek-aspek alam yang dipahami dengan dasar-dasar pengertian terhadap prinsip-prinsip dan hukum-hukum elementernya. dan Pembelajaran Fisika a. Fisika juga dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang pengukuran. ruang dan waktu. sebab segala sesuatu yang kita ketahui tentang dunia fisika dan tentang prinsip-prinsip yang mengatur prilakunya telah dipelajari melalui pengamatan-pengamatan terhadap gejala alam. Bedasarkan merupakan beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa fisika ilmu alam yang berupa prinsip–prinsip dari gejala alam dan merupakan penemuan dan pemahaman mendasar tentang hukum–hukum yang menggerakkan materi energi. . Adapun pengertian fisika dari ensiklopedia bebas dunia internet “wikipedia.3 Ruang lingkup pembelajaran 2. Fisika Sekolah. Oleh sebab itu perlu diperhatikan perkembangan fisika disekolah baik dimasa lalu. b.3. ruang. Fisika Sekolah Fisika merupakan ilmu dasar yang diterima siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.1. dan waktu. Fisika pada dasarnya membahas tentang materi dan energi adalah akar dari tiap bidang sains dan mendasari semua gejola. SMA/SMK. SMP. Fisika sekolah adalah fisika yang diajarkan di SD.org” yang berbunyi fisika adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penemuan dan pemahaman mendasar hukum-hukum yang menggerakkan materi.1. Tanpa kecuali gejala-gejala itu selalu mengikuti atau memahami sekumpulan prinsip umum tertentu yang disebut hukum-hukum fisika.1 Fisika. energi. masa sekarang maupun masa yang akan datang.

dan dalam proses memperbaharui tingkat pemikiran yang tidak lengkap (Suparno:1997). memanipulasi objek. mencari jawaban. rasakan dan alami. Konstruksi arti adalah proses yang terus-menerus. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta. dialog. pengalaman fisis dan lain-lain. Belajar berarti membentuk makna. Pelajar harus punya pengalaman dengan membuat hipotesis. Suparno mengatakan bahwa kaum konstruktivis menyatakan bahwa belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti baik teks. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam . bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar yang berarti terjadi melalui refleksi. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru. diadakan rekonstruksi baik secara kuat maupun lemah. Pembelajaran fisika Bagi kaum konstruktivis. memecahkan persoalan. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah dimiliki sebelumnya. 3. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat. mengungkapkan pertanyaan. mengekspresikan gagasan dan lain-lain untuk membentuk konstruksi baru. berdialog. melainkan suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu. dengar. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. meneliti. suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang. melainkan merupakan perkembangan itu sendiri. belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu. mengadakan refleksi.14 c. Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. pemecahan konflik pengertian. mengetes hipotesis. Belajar bukanlah hasil perkembangan. 2. 4. menggambarkan. Proses tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1.

1. Perubahan ini tidak harus segera tampak setelah proses pembelajaran.15 keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari seseorang guru ke siswa. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh adanya suatu usaha yang disengaja. keterampilan dan sikap pada diri individu yang belajar. (Uno:2007) . 2. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya. 5. Dalam belajar fisika fakta konsep dan prinsip-prinsip fakta tidak diterima secara prosedural tanpa pemahaman dan penalaran. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk mengacu belajar. sikap ilmiah serta produk ilmiah. Pengetahuan atau pengertian dibentuk oleh siswa secara aktif. Siswa sendiri yang harus mengartikan yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalamanpengalaman mereka. tetapi akan tampak pada kesempatan yang akan datang. Dari uraian di atas didefinisikan bahwa ciri-ciri kegiatan belajar merupakan sesuatu yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku. (Suparno:1997). Pendekatan dan metode ini juga harus dapat menampilkan hakekat fisika sebagai proses ilmiah. bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka. Sebagai suatu bidang pengetahuan.4 Model Pembelajaran Model pembelajaran merupakan penggunaan cara–cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Berdasarkan keterangan yang ada pembelajaran fisika adalah Untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran fisika diperlukan metode pengajaran yang sesuai dengan karakter siswa dan materi fisika. model pembelajaran dapat dipelajari kemudian diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran dikembangkan dengan kaidah–kaidah tertentu sehingga membentuk suatu bidang pengetahuan tersendiri.

Lakukan apersepsi. Kozna secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih. Bagaimana kesiapan dan ketertarikan siswa terhadap materi . Secara spesifik. berupa kegiatan yang merupakan jembatan antara kegiatan lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. model dijadikan pedoman atau acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan pembelajaran. bagi siswa–siswa penggunaan model mempermudah dalam mempercepat memahami isi pembelajaran).16 Penggunaan model dalam kegiatan pembelajaran perlu karena mempermudah proses pembelajaran sehingga mencapai hasil yang optimal. guru harus memahami situasi dan kondisi yang terjadi didalam kelas. Bagi guru. Jelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik diakhir kegiatan pembelajaran. yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. b. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan Kegiatan ini memegang peranan yang paling penting karena merupakan bagian dari keseluruhan pembelajaran. karena setiap model pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa. Tanpa model yang jelas pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai secara optimal. pada bagian ini guru diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi yang akan disampaikan. 2. Penyampaian Informasi Dalam kegiatan ini. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Model berawal dari suatu strategi yang memberikan tahapan– tahapan bagi suatu model pembelajaran. Dick dan Carey menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran yaitu : 1. Jadi secara keseluruhan model pembelajaran berfungsi untuk peningkatan hasil belajar siswa. kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui cara-cara berikut : a. Secara khusus model pembelajaran sangat berguna bagi guru dan siswa.

Umumnya ruang lingkup materi sudah tergambar pada saat penentuan tujuan pembelajaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah sebagai berikut: a. dan keseluruhan tidaklah berarti tanpa bagian-bagian kecil tersebut. ide. Urutan penyampaian materi yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang ingin disampaikan oleh gurunya. saran atau tanggapan)( Kemp:1997). Teori tersebut menyebutkan bahwa bagian-bagian kecil merupakan suatu kesatuan yang bermakna apabila dipelajari secara keseluruhan. dan sikap (berisi pendapat. peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. prosedur. keterampilan (langkah-langkah. b. 3. Partisipasi peserta didik Berdasarkan prinsip student centered. . Pengetahuan awal guru tentang jenis materi yang disampaikan sangat penting agar diperoleh strategi pembelajaran yang sesuai. keadaan dan syarat-syarat tertentu). Dengan demikian informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik dengan baik. praktik dan umpan balik. Materi yang akan disampaikan Materi umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang berbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci). Beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik. c. Ruang lingkup materi yang disampaikan Besar kecil ruang lingkup materi yang disampaikan sangat bergantung pada karakteristik peserta didik dan jenis materi yang dipelajari.17 yang diberikan. Urutan penyampaian Urutan penyampaian materi harus menggunakan pola yang tepat. Hal ini dikenal dengan istilah student active training yang maknanya adalah bahwa proses pembeljaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. yaitu latihan. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah penerapan teori Gestalt.

18

4.

Tes Serangkaian tes digunakan oleh guru untuk mengetahui (a) apakah tujuan

pembelajaran khusus sudah tercapai atau belum; dan (b) apakah pengetahuan sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, penyampaian informasi, latihan atau praktik. 5. Kegiatan lanjutan Kegiatan ini dilakukan setelah siswa melalui tes, bertujuan untuk menindaklanjuti tingkat kemampuan yang telah dimiliki siswa. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau diatas rata-rata, (a) hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai, (b) peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berdeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi. Tiap komponen strategi pembelajaran memiliki pengaruh terhadap komponen selanjutnya, oleh karena itu pelaksanaan secara sistematis dan keseluruhan memberikan dampak positif terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan.

2.1.5

Model Pembelajaran Generatif (Generative Learning) Model Pembelajaran Generatif pertama kali diperkenalkan oleh

Wittrock dan Osborne pada tahun 1985. Model pembelajaran ini berlandaskan pada teori belajar konstruktivistik. Teori konstruktivistik mengemukakan bahwa pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungan. Pengetahuan adalah suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pengalaman-pengalaman baru. Bila seorang pengajar ingin mentransfer konsep, ide dan pengetahuannya tentang suatu materi kepada siswa, pengetahuan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksi oleh siswa sendiri melalui pemahaman

19

dan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya. Dengan demikian konsep pembelajaran menurut teori konstruktivitik adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangunkonsep baru, pengertian baru dan pengetahuan baru berdasarkan data. Proses pembelajaran harus dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa

mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna (Komarudin:2009). Von Garlserfeld mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan yaitu: 1. 2. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan menbandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan. 3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya. (Budiningsih:2004). Selaras dengan teori belajar konstruktivistik, model belajar generatif adalah model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang.(Katu:1995)

2.1.5.1 Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran Generatif Wittrock adalah pencetus teori pembelajaran generatif, dalam teorinya Wittrock menekankan salah satu asumsi yang sangat signifikan dan dasar : “Pelajar bukan penerima pasif informasi, melainkan dia adalah peserta aktif dalam proses belajar, bekerja untuk membangun pemahaman yang bermakna menjadi informasi yang ditemukan di lingkungan”. Selanjutnya Wittrock juga menyatakan, "Meskipun seorang siswa tidak dapat memahami kalimat-kalimat yang diucapkan kepadanya oleh gurunya, sangat mungkin bahwa seorang siswa dapat memahami

20

kalimat tersebut dengan bahasanya sendiri".(Grabowski:2002). Dalam salah satu artikelnya Wittrock (1992) mendefinisikan model pembelajaran generatif sebagai model pelajaran yang fungsional dalam

menyampaikan instruksi untuk membangun pemikiran berdasarkan pengetahuan melalui proses otak dan pengamatan kognitif terhadap suatu pengertian, motivasi, perhatian, pengetahuan dan perpindahan. Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berdasar pada teori–teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Butir–butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis diantaranya adalah : a. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsikonsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. b. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri, tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa. c. Penekanan pada prinsip Scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal, dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada siswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. Jadi, siswa sebaiknya langsung saja diberikan tugas kompleks, sulit, dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding. d. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Top-down berarti siswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan autentik untuk dipecahkan. Dalam proses pemecahan masalah tersebut siswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk

memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru atau teman sebaya yang lebih mampu.

Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada siswa. siswa didorong untuk mengamati gejala atau fakta.1.5. serta memusatkan pikiran terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Pada akhirnya diharapkan muncul pertanyaan pada diri siswa. guru dapat memberikan stimulus berupa beberapa aktivitas atau tugas seperti member pertanyaan. maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar. dan fakta yang didemonstrasikan sebaiknya dapat merangsang siswa untuk berpikir kritis. Pada tahap eksplorasi guru membimbing siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan. ide. Melalui aktifitas demonstrasi atau penulusuran. Eksplorasi Tahap pertama yaitu tahap eksplorasi atau pendahuluan. tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka. g.21 e. demonstrasi dan penelusuran terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukkan data atau fakta yang terkait dengan konsepsi yang akan dipelajari. Untuk mendorong siswa agar mampu melakukan eksplorasi. serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri. mengkaji fakta. Sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. f. Menganut visi siswa ideal. gejala. data. Pada langkah berikutnya guru mengajak dan mendorong siswa untuk berdiskusi tentang fakta atau gejala yang baru diselidiki atau diamati. data. . yaitu seorang siswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. dugaan. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi. 2. Dalam gejala. atau hipotesis. dan konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya atau pembelajaran pada tingkat kelas sebelumnya. Guru harus mengarahkan proses diskusi guna mengidentifikasi konsepsi siswa yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi rumusan.2 Langkah Pembelajaran Model Generatif a.

menghargai pendapat teman. tetapi tugas-tugas haruslah memberikan kemungkinan siswa untuk beraktivitas sesuai caranya sendiri atau cara yang diinginkannya. dengan demikian para siswa dapat melakukan proses sains. Apabila konsepsi siswa salah maka dikatakan terjadi salah konsep (misconception). b.22 Pada proses pembelajaran guru berperan memberikan dorongan. Para siswa diminta mempresentasikan temuan melalui diskusi kelas. Dalam tahap ini siswa berlatih untuk berani mengeluarkan ide. Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis melalui kegiatan laboratorium atau dalam model pembelajaran lain. Tugas–tugas pembelajaran yang disusun guru hendaknya tidak seratus persen merupakan petunjuk atau langkahlangkah kerja. Penyelesaian tugas-tugas dilakukan secara berkelompok sehingga dapat berlatih untuk meningkatkan sikap seperti seorang ilmuan. Setelah siswa memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan menulis dalam lembar kerja. guru sebaiknya tidak memberikan makna. Pemfokusan Tahap kedua yaitu tahap pemfokusan atau pengenalan konsep atau intervensi. Diharapkan pada akhir diskusi . Tugas–tugas pembelajaran hendaknya memberi peluang dan merangsang siswa untuk menguji hipotesis dengan cara sendiri. dan mengahargai adaya perbedaaan diantara pendapat teman. Pada saat diskusi. bimbingan. ide atau hipotesis secara tertulis. c. menghargai pendapat teman. Namun. dan keberanian bertanya. ide atau hipotesis siswa yang berhasil teridentifikasi mungkin ada yang benar dan ada pula yang salah. Tantangan Tahap ketiga yaitu tantangan. guru berperan sebagai moderator dan fasilitator agar jalannya diskusi dapat terarah. pada aspek kerja sama dengan sesama teman sejawat. memotivasi dan memberi arahan agar siswa mau dan dapat mengemukakan pendapat. membantu dalam kerja kelompok. Pada tahap ini guru bertugas sebagai fasilitator yang menyangkut kebutuhan sumber. berdebat. Misalnya. tukar pengalaman (sharing idea). kritik. Melalui diskusi kelas akan terjadi prsoses tukar pengalaman diantara siswa. memberi bimbingan dan arahan. Pendapat. menyalahkan atau membenarkan terhadap konsepsi siswa.

(Made Wena : 2009) . sebagian besar siswa akan mampu menyelesaikan dengan benar. Terjadi asimilasi apabila konsepsi siswa sesuai dengan konsep benar menurut data eksperimen. terjadi proses akomodasi konsepsi siswa cocok dengan data empiris. Pada tahap ini sebaiknya guru memberikan pemantapan konsep dan latihan soal. Penerapan Tahap keempat adalah tahap penerapan. Pada tahap ini siswa perlu diberi banyak latihan-latihan soal. Pada tahap ini terjadi proses kognitif. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang. Dengan adanya latihan soal. Pemberian soal latihan dimulai dari yang paling mudah kemudian menuju yang sukar. siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. ini berarti tingkat retensi siswa semakin baik. hal ini akhirnya dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Latihan soal dimaksudkan agar siswa memahami secara mantap konsep tersebut.23 siswa memperoleh kesimpulan dan pemantapan konsep yang benar. (Sutarman dan Swasono:2003) Dengan soal-soal yang tingkat kesukarannya rendah. jika langsung diberikan soal yang tingkat kesukarannya tinggi maka sebagian besar siswa akan mampu menyelesaikannya dengan benar maka akan dapat menurunkan motivasi belajar siswa. siswa akan semakin memahami konsep (isi pembelajaran) secara lebih mendalam dan bermakna. Pada tahap ini. Sebaliknya. Pemberian tugas rumah atau tugas proyek yang dikerjakan siswa diluar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik untuk dilakukan (Sutarman dan Swasono : 2003). d. yaitu terjadinya proses mental yang disebut asimilasi dan akomodasi.

. atau diperoleh dari pembelajaran tingkat kelas sebelumnya. untuk menetapkan memahami.  Mempresentasikan ide ke dalam kelompok dan juga forum kelas melalui  Menginterpretasi respon siswa dan menguraikan ide siswa. Pendahuluan  Memberikan aktivitas  Mengeksplorasi melalui demonstrasi / pengetahuan. pendapat. Mengklarifikasi ide kedalam kelompok. idea tau contoh–contoh yang konsepsi awal yang dapat merangsang diperoleh dari siswa untuk melakukan pengalaman sehari–hari eksplorasi. berpikir apa yang terjadi. Langkah Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Pembelajaran 1.  Mendorong dan  Mengutarakan ide-ide merangsang siswa dan merumuskan untuk mengemukakan hipotesis.  Melakukan pengujian. mencermati konteks permasalahan permasalahan sehingga yang berkaitan dengan siswa menjadi kenal ide siswa yang terhadap bahan yang kemudian dilakukan digunakan untuk pengujian.  Membimbing siswa  Melakukan klasifikasi untuk pendapat/ide-ide yang mengklasifikasikan telah ada.  Membimbing siswa melakukan proses sains. mengeksplorasi konsep. 2.  Memutuskan dan menggambarkanapa yang ia ketahui tentang kejadian. Pemfokusan  Membimbing dan  Menetapkan konteks mengarahkan siswa permasalahan. yaitu menguji (melalui percobaan) sesuatu. menjawab pertanyaan berhubungan dengan konsep. ide/pendapat serta merumuskan hipotesis.1 Penerapan model pembelajaran generatif di kelas No.24 Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran generatif dapat dijabarkan sebagai berikut : Tabel 2.

antar siswa.  Ikut terlibat dalam mengkritisi dan menilai merangsang dan penyelsaian masalah. Aplikasi .25 diskusi. Tantangan 4.  Menunjukkan bukti ide  Menguji validitas ide/ ilmuan (scientist view) pendapat dengan mencari bukti.  Membawa siswa  Menerapkan konsep mengklarifikasikan ide yang baru dipelajari baru.  Mengarahkan dan  Memberikan memfasilitasi agar pertimbangan ide kepada terjadi pertukuran ide antar siswa. 3. Membuka diskusi dan mengusulkan melakukan demonstrasi jika diperlukan. dalam berbagai konteks yang berbeda. penyelesaian masalah. . berkontribusi kedalam  Menarik kesimpulan diskusi untuk akhir.  Membimbing siswa  Mempresentasikan agar mampu penyelesaian masalah di menggambarkan secara hadapan teman. menyelesaikan permasalahan.Diskusi verbal penyelesaian dan debat tentang problem. Menjamin semua ide siswa dipertimbangkan.  Membandingkan ide ilmuan dengan ide kelas (class view)  Membimbing siswa  Menyelesaikan problem merumuskan praktis dengan permasalahan yang menggunakan konsep sangat sederhana. dalam situasi yang baru.

Konsep yang dipelajari siswa akan masuk Membutuhkan waktu yang ke memori jangka panjang. Sejak lama telah banyak model yang dikembangkan berdasarkan teori para ahli. Dalam kenyataannya secara keseluruhan model pembelajaran konvensional sudah kurang layak digunakan dalam pembelajaran saat ini. namun dari sekian banyak model.1. Pembelajaran konvensional yang dimaksud secara umum adalah pembelajaran dengan menggunakan metode yang biasa dilakukan oleh guru yaitu memberi materi melalui ceramah. diantaranya dengan bertukar pikiran dengan siswa yang lainnya. relatif lama Pembelajaran Konvensional Dalam proses belajar mengajar peran guru sangat penting karena 2.6 keberhasilan siswa menyerap pelajaran yang diberikan sangat tergantung terahadap bagaimana cara guru menyampaikan pelajaran. 3. 1. maka model pembelajaran yang masih berlaku dan paling banyak digunakan adalah model pembelajaran konvensional.26 Adapun kekurangan dan kelebihan dari model generatif ini antara lain : No. latihan soal kemudian pemberian tugas. Merangsang rasa ingin tahu siswa. meskipun usaha menggali pengetahuan sebagian besar adalah dari siswa itu sendiri. menjawab pertanyaan dari guru. maka guru harus membimbing siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan dan mengevaluasi hipotesis siswa pada tahap tantangan setelah siswa melakukan presentasi. Meningkatkan aktivitas belajar siswa. Kekurangan 2. sehingga siswa bisa memahami materi dengan benar. . serta berani tampil untuk mempresentasikan hipotesisnya. Pembelajaran Generatif cocok untuk meningkatkan keterampilan proses. Agar tidak terjadi salah konsep. Kelebihan Pembelajaran Generatif memberikan peluang kepada siswa untuk belajar secara kooperatif. namun disetiap pembelajaran model ini harus digunakan paling tidak pada awal pembelajaran sebelum guru masuk kepada model pembelajaran yang akan digunakan. 5. 4. Dikawatirkan akan terjadi salah konsep.

2. dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Tidak ada kelompok-kelompok kooperatif.K. (1998) cara mengajar konvensional dan telah lama dijalankan dalam sejarah Pendidikan ialah cara mengajar dengan ceramah. Sejak duhulu guru dalam usaha menularkan pengetahuannya pada siswa.kompasiana. Terjadi passive learning. Di sini terlihat bahwa . menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya. tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan. tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu. mengutamakan hasil daripada proses. Pembelajaran berpusat pada guru. (http://edukasi. 3. Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten. sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar. menekankan kepada keterampilan berhitung. 4. atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata.27 Roestiyah N. pembelajaran konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu. dan Penilaian bersifat sporadis. Interaksi di antara siswa kurang.com//pendekatan-pembelajaran-konvensional/) Pendapat lain datang dari Ujang Sukandi (2003) yang mendeskripsikan bahwa Pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh para guru. 5. Menurut Brooks & Brooks penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan. Bahwa. yaitu: 1. misalnya lebih mengutamakan hapalan daripada pengertian. ialah secara lisan atau ceramah. dan pengajaran berpusat pada guru.

com/2009/03/02) Berdasarkan penjelasan di atas. Membangkitkan minat akan informasi. Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut: a. (http://sunartombs.wordpress. c. d. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. . Menyampaikan informasi dengan cepat.28 pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Institute of Computer Technology (2006:10) menyebut pembelajaran konvensional dengan istilah “Pengajaran tradisional”. dan materi pembelajaran lebih pada penguasaan konsep-konsep bukan kompetensi. maka pembelajaran konvensional dimaknai sebagai pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru. komunikasi lebih banyak satu arah dari guru ke siswa. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari. sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu. b. d. Pengajaran model ini dipandang efektif. terutama untuk: a. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis. Model konvensional bukannya tidak dapat digunakan dalam pembelajaran namun harus disertai model pembelajaran lain yang lebih berkembang. c. metode pembelajaran lebih banyak menggunakan ceramah dan demonstrasi. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. b.

7.1 Elastisitas 2. Dibandingkan dengan zat cair.1. Setiap gaya yang diberikan akan diberikan gaya reaksi oleh gaya tarik menarik antar molekul zat padat tersebut. Benda-benda yang memiliki elastisitas misalnya pegas. namun ada yang bersifat permanen artinya tetap pada bentuk yang baru. bentuk benda akan kembali kebentuk semula. busur panah yang melengkung jika diberi tarikan dan kembali kebentuk semula apabila tarikan tersebut dilepaskan. Perubahan tergantung pada pengaturan dan ikatan atom dalam materi.29 2. Untuk mengetahui lebih lanjut berikut akan dibahas tentang elastisitas pada zat padat dan hal-hal yang terkait didalamnya. Baja yang paling keras sekalipun akan berubah bentuk jika dipengaruhi oleh gaya yang cukup besar. atau sebuah pegas yang jika ujungnya digantungi sebuah beban akan bertambah panjang dan kembali kebentuk semula apabila beban dilepaskan. Karet. zat padat memiliki struktur lebih keras dan lebih berat disebabkan karena molekul-molekul zat padat tersusun rapat sehingga ikatan diantara mereka relatif kuat. dan kembali ke bentuk aslinya ketika gaya adalah dihapus.7. dan pegas adalah contoh benda-benda elastis. Inilah yang menyebabkan zat padat sukar untuk dipecahkan. busur panah. dan kayu. baja. pada umumnya akan langsung terlintas benda-benda misalnya karet yang mengendur apabila ditarik.1. Benda mengalami tersebut akan mengalami perubahan dalam ukuran atau bentuk atau keduanya.bola bisbol dan busur panah di sebut benda elastis.7 Materi Pokok 2. Ketika mendengar kata elastis. .1.2 Elastisitas Zat Padat Pada dasarnya semua benda yang ada di alam semesta perubahan bentuk apabila diberikan gaya. Mungkin saja setelah gaya dihilangkan. Elastisitas adalah keadaan zat dimana zat tersebut akan mengalami perubahan bentuk ketika gaya deformasi bertindak atasnya. karet.

Banyak bahan-bahan yang kita gunakan sehari-hari yang bersifat elastis tetapi hanya sementara saja. . Plastisin. Dalam keadaan ini berarti batas elastisitas benda sudah terlampaui. Misalnya sebuah pegas diberikan gaya yang besar secara terus menerus dan gaya yang diberikan semakin besar.2. maka pada saat tertentu akan terjadi keadaan dimana pegas tidak lagi dapat kembali kebentuk semula.30 Gambar 2. Jika gaya terus diperbesar. Gambar 2. contohnya baja dan kaca. Bahan yang tidak melanjutkan bentuk aslinya setelah gaya dihapus dikatakan inelastis atau bersifat plasti. dan dempul adalah bahan inelastis/plastis. benda akan mengalami sifat plastis hingga pada titik tertentu dimana pegas akan patah. Benda-benda yang bersifat elastis Tidak semua benda/bahan dapat kembali ke bentuk awalnya ketika kekuatan deformasi diterapkan dan kemudian dihapus. tanah liat. Benda-benda yang bersifat plastis Pada umumnya setiap benda yang memiliki sifat elastis juga mempunyai sifat plastis.1.

3 Percobaan untuk amati pertambahan panjang pegas x. Berdasarkan grafik diatas dapat kita analisis pada bagian-bagian tertentu. Bila gaya F diperbesar lagi hingga melewati titik B. Berdasarkan percobaan yang dilakukan akan didapatkan grafik hubungan antara gaya dan pertambahan panjang pegas sebagai berikut : Gaya F C Keterangan : B Daerah plastis A Daerah elastis A : Batas linearitas B : Batas elastisitas C : Titik patah 0 Pertambahan Panjang x Gambar 2.4. namun pegas masih bisa kembali kebentuk semula. Gantungkan beban F pada ujung pegas x. Susunlah pegas pada mistar seperti gambar. lakukanlah percobaan sebagai berikut.31 Untuk lebih jelasnya. Garis lurus OA menunjukkan bahwa gaya F sebanding dengan pertambahan panjang x.3 diatas. Lakukan kegiatan ini berulang-ulang dengan menambah berat beban F dan Gambar 2. ternyata setelah gaya F dihilangkan pegas . Aturlah mistar sehingga posisi jarum penunjuk pada pegas tetap mengarah ke angka nol pada mistar. Grafik antara gaya dan pertambahan panjang pegas. sehingga melampaui titik A ternyata garis tidak lurus lagi. menentukan batas elastisitas pegas. Hal ini menyatakan bahwa batas linearitas pegas sudah terlampaui. Setelah gaya F diperbesar lagi.

yaitu daerah dimana pegas bersifat plastis disebut daerah plastis. 2. pegas akan patah. Jika gaya F diperbesar terus.6.3 Tegangan dan Regangan Pada dasaranya perubahan bentuk pada zat padat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan arah dan pertambahan panjangnya. Pegas tidak lagi bersifat elastis namun bersifat plastis. Oleh karena itu grafik antara O sampai B. Regangan Gambar 2.7. Tegangan yang terjadi pada . Geseran Untuk setiap jenis perubahan bentuk zat padat berlaku suatu besaran yang akan disebut sebagai tegangan. Tegangan menunjukkan kekuatan gaya yang menyebabkan perubahan bentuk benda. yaitu daerah dimana pegas masih bersifat elastis disebut daerah elastis. Mampatan Gambar 2. sedangkan titik yang membatasi antara daerah elastis dan daerah plastis disebut batas elastisitas. pada suatu saat yaitu dititik C. yaitu : rentangan. Sedangkan grafik antara B dan C. Ketiga jenis perubahan itu ditunjukkan pada gambar dibawah ini : Gambar 2. Jadi dalam hal ini batas elastisitas telah terlampaui.5.1. mampatan dan geseran.7.32 tidak bisa kembali kebentuk semula. Titik pada daerah plastis yang membatasi antara daerah linear dan daerah non linear disebut batas linearitas. Tegangan yang terjadi pada rentangan disebut tegangan rentang atau tegangan tarik. Titik dimana pegas tidak mampu lagi menahan gaya disebut titik patah.

yang dapat dirumuskan sebagai berikut : Modulus Elastisitas = Tegangan / Regangan …………. maka kedua besaran tersebut akan sebanding dan konstanta perbandingannya disebut sebagai modulus elastisitas. Tabel 2. Tegangan yang terjadi pada batang ditarik. atau …………. tali. Gambar diatas menunjukkan sebuah batang yang luas penampangnya A ditarik dengan gaya F pada kedua ujungnya.. Ketika tegangan dan regangan cukup kecil.. Kita mengatakan bahwa batang berada dalam tegangan. sedangkan tegangan yangterjadi pada geseran disebut tegangan geser.. Tegangan kita definisikan sebagai perbandingan besar gaya F dan luas penampang A. Regangan menggambarkan hasil perubahan bentuk benda.33 mampatan disebut tegangan mampat.2 Besar macam-macam tegangan untuk berbagai jenis bahan Bahan Tegangan Tegangan mampat Tegangan geser rentang(N/m2) (N/m2) (N/m2) Besi 170 x 106 550 x 106 170 x 106 Baja Kuningan Aluminium Beton Batu-bata Marmer Granit Kayu (pinus) Nilon 500 x 106 250 x 106 200 x 106 2 x 106 40 x 106 500 x 106 170 x 106 500 x 106 250 x 106 200 x 106 20 x 106 35 x 106 80 x 106 170 x 106 35 x 106 250 x 106 200 x 106 200 x106 2 x106 5 x 106 - Besaran lain yang berhubungan dengan perubahan bentuk zat padat adalah regangan. atau kawat ketika ujungnya A Gambar 2.8. (2) . Tegangan = . Pada tabel dibawah ini akan disajikan besar ketiga jenis tegangan pada berbagai jenis bahan.(1) Perilaku elastis yang paling sederhana untuk dipahami adalah rentangan yang terjadi pada batang..

tegangan memiliki satuan Nm-2 atau Pa (pascal).34 Dalam SI. Eksperimen menunjukkan bahwa untuk rentangan yang cukup kecil. tegangan dan rentangan adalah sebanding. Pertambahan panjang yang terjadi tidak hanya pada ujungnya. Regangan = . maka regangan tidak memiliki satuan. atau ……………(3) dengan panjang mula-mula Karena merupakan hasil bagi dua besaran yang berdimensi sama. ketika Gambar 2. Gambar disamping menunjukkan batang yang memiliki panjang mula-mula Lo dan mengalami rentangan menjadi .9 Regangan gaya F yang besarnya sama dan arahnya yang terjadi pada batang berlawanan diterapkan pada ujung-ujungnya. tetapi pada setiap bagian batang merentang dengan perbandingan sama. Modulus elastis yang terkait dengan renangan ini disebut Modulus Young dan dinyatakan dengan huruf Y: …………(4) Keterangan : Y = Modulus young (Nm-2)/Pa F = Gaya (N A = Luas Penampang (m2) = Pertambahan Panjang (m) = Panjang mula-mula . Regangan didefinisikan sebagai perbandingan antara pertambahan panjang .

2 0.16 2. Nilai Modulus Young untuk beberapa bahan terdaftar dalam table berikut : Bahan Alumunium Kuningan Tembaga Gelas Besi Timah Nikel Baja Tungsten Table 2. Dengan mensubtitusikan tegangan persamaan elastis E : ……………(5) . maka modulus young mempunyai satuan yang sama dengan satuan tegangan yaitu Nm-2 atau Pa (pascal).7 10 0.1 3.55 7.37 5.61 8.3 Nilai Modulus Young Modulus Young< Y.E Modulus Bulk .6 51 2 29 Semakin besar nilai Y berarti semakin sulit suatu benda untuk merentang dalam pengaruh gaya yang sama sebagai contoh nilai Y baja jauh lebih besar dari nilai Y alumunium sehingga baja lebih sulit merentang daripada alumunium bila pada masing-masing benda diterapkan gaya yang besarnya masing-masing sama.8 0..5 1.…………(6) Keterangan : E = Modulus Elastis (Nm-2) F = Gaya (N) A = Luas Penampang (m2) = Pertambahan Panjang (m) = Panjang mula-mula = Tegangan (Nm-2) dan regangan kedalam .6 23 3.4 20 0.3 0.1 16 1.35 Karena regangan tanpa satuan.7 10 0.1 2.0 2.91 13 0.91 13 1 14 0. hubungan antara gaya tarik F dan modulus .6 34 2 29 1.077 1. dapat diperoleh. B 1012 dyne 106 lb in-2 1012 dyne 106lb in-2 -2 2 cm cm0..

Hal ini dinyatakan dalam bentuk persamaan : ……………(7) Keterangan : F = gaya yang dikerjakan pada pegas (N) x = pertambahan panjang pegas (m) k = konstanta pegas (N/m). “Pada daerah elastisitas benda gaya yang bekerja pada benda sebanding dengan pertambahan panjang benda. bagian-bagian mesin dan pada kendaraan bermotor modern (pegas sebagai peredam kejut). .1. F sebanding dengan x. tetapi arahnya berlawanan (Faksi = Freaksi).7. yang besarnya sebanding dengan pertambahan panjang pegas x. pada pegas yang dimampatkan juga berlaku Hukum Hooke. Pada waktu pegas ditarik dengan gaya F. Sifat pegas yang seperti itu banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pada neraca pegas.36 = regangan 2. Pada daerah elastis linear. Jika gaya ini kita sebut dengan gaya pegas Fp .4 Hukum Hooke Hooke menyatakan hubungan antara gaya F yang meregangkan ppegas dan pertambahan panjang pegas x pada daerah elastis pegas. selama pegas masih berada pada daerah elastisitasnya. pegas mengadakan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang menarik. sehingga untuk Fp dapat dirumuskan sebagai : ……………(8) Kedua persamaan diatas secara umum dapat dinyatakan dalam kalimat yang disebut Hukum Hooke.” Sifat pegas seperti yang dinyatakan oleh Hukum Hooke tidak terbatas pada pegas yang diregangkan.

6 Konstanta Gaya Pegas Gabungan Pembahasan mengenai konstanta gaya pegas gabungan dibagi atas berapa susunan pegas yaitu susunan seri dan paralel serta kombinasi keduanya.1. Gambar 2.5 Tetapan Gaya Benda Elastis Kita telah mengetahui hubungan antara gaya tarik F dan modulus elastis E yang dinyatakan dengan persamaan : …………… (9) Dengan mengolah persamaan diatas sehingga hanya gaya tarik F yang berada diruas kiri.7. Perhatikan susunan seri dari dua buah pegas yang memiliki konstanta gaya k1 dan k2 seperti tampak pada gambar dibawah ini.37 2. maka …………….1. Pertambahan panjang total y sama dengan jumlah masing- .10 Susunan seri dua buah pegas dengan konstanta gaya k1 dan k2 dapat diganti dengan sebuah pegas tunggal dengan konstanta gaya kp Menurut Hukum Hooke pertambahan panjang pegas pertama akibat gaya F adalah adalah .. kita identikkan persamaan tersebut dengan Hukum Hooke dari persamaan : ……………(10) (Ingat x = ).7.(11) Maka akan diperoleh rumus umum tetapan gaya benda elastis ……………(12) 2. sedangkan pertambahan panjang pegas kedua akibat gaya F .

. sehingga . n buah pegas yang disusun seri memiliki konstanta gaya pegas pengganti ks yang memenuhi hubungan : …….11 Susunan paralel dua buah pegas dengan konstanta gaya k1 dan k2 dapat diganti dengan sebuah pegas tunggal dengan konstanta gaya kp Pertambahan panjang pegas pertama adalah Pertambahan panjang pegas kedua adalah Mengingat. konstanta gaya pegas pengganti adalah : ……………(16) . . sehingga . F1 + F2 = F maka. . Gambar 2.. sehingga diperoleh : ………(13) Secara umum.38 masing pertambahan panjang pegas. untuk n pegas yang disusun paralel. Oleh ………….(15) maka pertambahan panjang masing-masing pegas sama yaitu karena itu persamaan diatas dapat dituliskan menjadi : Secara umum. dimana F1 + F2 = F . Ketika pegas disusun paralel.(14) Perhatikan susunan paralel dari dua buah pegas yang memiliki konstanta gaya k1 dan k2 seperti pada gambar dibawah ini. Pegas pertama akan merasakan gaya sebesar F1 dan pegas kedua merasakan gaya sebesar F2.

Energi potensial pegas sama dengan segitiga yang diarsir Untuk menarik pegas hingga pegas memiliki energi potensial tertentu diperlukan usaha. Karena pegas adalah benda elastis. tentu saja energi kinetik benda berasal dari energi yang tersimpan dalam pegas.7. Seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini F Luas = energi potensial pegas untuk pertambahan panjang O x Gambar 2. Usaha dapat dihitung dari luas daerah di bawah grafik gaya terhadap perpindahan benda. Grafik Fdari sebuah pegas. Dari manakah energi kinetik ini berasal? Karena benda dihubungkan keujung pegas. Energi yang tersimpan dalam benda karena benda mengalami perubahan kedudukan disebut energi potensial.1. benda yang semula diam akan bergerak. Dengan demikian energi potensial EP sama dengan luas segitiga yang diarsir pada gambar EP = luas grafik dibawah F.7 Energi Potensial Elastis Pegas Sebuah benda diletakkan pada ujung bebas sebuah pegas.39 2. Ini berarti bahwa benda memiliki energi kinetik.12. Telah anda ketahui bahwa grafik gaya tarik terhadap pertambahan panjang pegas (grafik F–Δx) untuk gaya tarik F yang tidak melampaui batas elastisitas pegas adalah berbentuk garis lurus melalui titik asal 0. Maka energi yang tersimpan dalam pegas ini disebut energi potensial elastis pegas atau energi potensial pegas.Δx = luas segitiga Karena alas segitiga adalah Δx dan tingginya adalah F maka rumus energi potensial pegas EP adalah : …………(17) Mengingat bahwa untuk batas elastis pegas yang tak dilampaui berlaku . Jika pegas ditarik kemudian kita lepaskan.

………(18) .40 ….

Perbedaan aktivitas siswa pada model pembelajaran konvensional dan model pembelajaran generatif dapat dilihat dari 2 bagan berikut : KarakteristikPembelajaran konvensional : 1. sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih hidup.13. kemampuan serta keterampilan untuk mengkonstruksi/membangun pengetahuan secara mandiri.41 2. Peneliti menawarkan model pembelajaran generatif dimana siswa diharapkan memiliki pegetahuan. Pengetahuan yang dipeoleh siswa melalui pengalaman akan disimpan dalam memori jangka panjang 3. siswa hanya aktif membuat catatan 2. Dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki sebelumnya dan menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari. akhirnya siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan baru dan di harapkan hasil belajar siswa lebih baik dari penerapan model konvensional. 2. Pembelajaran berjalan membosankan. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah cepat terlupakan 3. Jika ditinjau dari hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika yang masih rendah maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran konvensional tidak efektif. Siswa aktif untuk mencari fakta-fakta sains melalui percobaan. Ceramah menyebabkan pembelajaran siswa hanya sekedar menghafal apa yang didapat tanpa menimbulkan pengertian tersendiri dari siswa. Pembelajaran konvensional Hasil belajar kurang optimal Pembelajaran Generatif Hasil belajar lebih optimal Gambar 2. Siswa tak hanya sekedar menghafal pelajaran tetapi dapat membuat pengertian sendiri berdasarkan hasil percobaannya. Bagan Perbedaan Model Pembelajaran Generatif dan Konvensional .2 Kerangka Konseptual Pada saat ini guru–guru khususnya pada mata pelajaran fisika masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang menitikberatkan pembelajaran pada metode ceramah. Karakteristik pembelajaran Generatif : 1.

Ha : Ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.3 Hipotesis Penelitian Hipotesis Penelitian ini adalah : H0 : Tidak ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.P 2011/2012. .P 2011/2012.42 2.

2 Sampel Penelitian Sampel dalam penelitian ini 43 siswa masing-masing dari 2 kelas yang ditentukan dengan teknik stratified sample.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kelas XI SMA Laksamana Matadinata Medan Tahun Ajaran 2011/2012 .4. . Pengaruh yang dimaksudkan adalah peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran yang telah ditentukan dapat dilihat dari hasil jawaban siswa pada tes hasil belajar. a.43 BAB III METODE PENELITIAN 3. b. 3. Satu kelas yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran generatif dan satu kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 2 konvensional.2. 3. yaitu penelitian dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan akibat pengaruh dari sesuatu yang dikenakan pada siswa sebagai subjek penelitian. Desain digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan memberikan tes pada kedua kelas sebelum dan sesudah diberi perlakuan. 3. 3.1 Populasi Penelitian Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Laksamana Martadinata Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 2 kelas setara.4 Sebagai variabel bebas adalah pembelajaran generatif Sebagai variabel terikat adalah hasil belajar siswa pada materi Elastisitas.2 Desain Penelitian Desain penelitian menggunakan model two group pretest-posttest design.2.3 Variabel Penelitian Dalam penelitian digunakan dua jenis variabel penelitian.Waktu penelitian pada tanggal 3–14 Pebruari 2012.2 Populasi dan Sampel 3.1 Jenis Penelitian Penelitian merupakan penelitian quasi eksperimen. Jenis dan Desain Penelitian menggunakan model pembelajaran 3. 3.4. yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

f. Menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran serta instrumen penelitian. 2. Membagi kelompok belajar siswa untuk siswa di kelas eksperimen. g. Menentukan masalah. Menentukan kelas sampel dan kelas kontrol dari populasi yang ada. c.1 Rancangan Penelitian Kelas Pretes Eksperimen X1 Kontrol X1 Keterangan : X 1 = Pemberian pretes. Memberikan tes akhir pada siswa setelah pembelajaran. e. b. b. Memvalidkan tes / instrumen penelitian. judul. dan waktu penelitian. Melakukan uji normalitas dan homogenitas data tes awal.44 Tabel 3. Prosedur penelitian Tahapan – tahap pelaksanaan penelitian adalah: 1. Membuat surat persetujuan dosen pembimbing. . Tahap pelaksanaan Kegiatan yang dilakukan meliputi : a. Memberikan test awal pada kedua kelas untuk melihat kemampuan awal siswa. c. Melakukan studi pendahuluan ke sekolah e.5. Melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran sesuai desain penelitian. d. d. lokasi. Tahap persiapan Kegiatan yang dilakukan meliputi : a. S O Perlakuan S O Postes X2 X2 = Perlakuan dengan model pembelajaran generatif = Perlakuan dengan model pembelajaran konvensional. Menentukan populasi dan sampel. 3. X 2 = Pemberian postes.

Mulai Populasi Sampel Kelas eksperimen Kelas kontrol Tes awal Normalitas dan Homogenitas data Kelas eksperimen Kelas kontrol Pembelajaran generatif Pembelajaran konvensional (Metode ceramah) Tes Akhir ) Tabulasi data Analisa Data Kesimpulan Selesai Gambar 3. Analisis data dan kesimpulan Di bawah ini merupakan gambar alur rancangan penelitian yang dilaksanakan.45 3.1 Skema Rancangan Penelitian .

1 Pretes Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran.14 4 12 2 1 3 15 2.7. 4 5 Tegangan dan regangan Hukum Hooke Susunan pegas Energi pegas JUMLAH Keterangan: C1 = Pengetahuan C2 = Pemahaman C3 = Penerapan C4 = Analisis 1 2 5 Potensial elastik 13. 3.2.3 4. Tabel Spesifikasi Tes Hasil Belajar Pada Materi Pokok Elastisitas Klasifikasi / Kategori Jumlah Materi Pokok No soal Sub Materi Pokok C1 C2 C3 C4 C5 C6 1 1. Tetapi apabila .2 Postes Setelah materi elastisitas diajarkan kepada siswa maka dilaksanakan postes untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kelas kontrol dan eksperimen . tes yang telah disusun terlebih dahulu diuji validitasnya.6 Teknik Pengumpulan Data 3. Kunci jawaban ada beberapa macam jenisnya.6.7 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah tes hasil belajar siswa berjumlah lima belas soal dalam bentuk pilihan berganda dengan lima pilihan (option). 3.8 10. Kunci jawaban yang digunakan penulis adalah kunci sistem tusukan. Perubahan Bentuk 1 2. Apabila pilihannya benar maka lobang akan terjadi tepat ditengah kotak yang disediakan.46 3. dilaksanakan tes awal untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam materi elastisitas pada kelas kontrol dan kelas eksperimen . Sebelum dilakukan penelitian. 3.6.11 15 9 4 5 2 C 5 = Sintesis C 6 = Evaluasi Jawaban-jawaban tes obyektif diperiksa dengan mempergunakan kunci jawaban. Tes dituangkan dalam bentuk tabel spesifikasi tes hasil belajar berikut: Tabel 3.5 6.

3. Ketiga validator diminta untuk mengamati secara cermat semua item dalam tes yang hendak divalidasi dan mengoreksi item-item yang telah dibuat. 3.2 Lembar Observasi Dalam pengumpulan data selama proses pembelajaran berlangsung peneliti dibantu oleh observer. Jumlah seluruh spesifikasi butir soal sebelum divalidkan adalah sebanyak 15 soal. Setelah dilakukan penskoran. Dimana skor jawaban yang benar bernilai 1. tes yang telah disusun terlebih dahulu diuji validitasnya dengan menggunakan validitas isi. Peran observer adalah mengamati aktivitas pembelajaran berpedoman pada lembar observasi yang disiapkan serta memberikan penilaian berdasarkan pengamatan.7.47 pilihannya salah. Instrumen yang telah disusun kemudian divaliditaskan kepada ahli yaitu dosen atau guru. Dan pada akhir perbaikan mereka juga diminta untuk memberikan pertimbangan tentang bagaimana suatu tes tersebut menggambarkan cakupan isi yang hendak diukur.7. . dan skor jawaban yang salah bernilai nol. 3. maka lobang yang terjadi berada di luar lingkaran.1 Uji Coba Instrumen Penelitian Sebelum dilakukan penelitian. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.1.1 Validitas Isi Validitas isi adalah derajat di mana sebuah tes mengukur cakupan substansi yang ingin diukur.7. tahapan selanjutnya adalah penilaian dengan menggunakan rumus: Nilai  Jumlah soal yang benar Jumlah soal  100 Dalam penyusunan tes digunakan validitas isi untuk menyesuaikan soal-soal tes dengan berpedoman pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan materi pokok elastisitas.

Yang dimaksud dengan penyebaran data adalah bagaimana data tersebut tersebar antara nilai paling tinggi dengan nilai paling rendah. 2. Karena itu pengujian normalitas sampel harus dilakukan.48 3. Nam a Sko r Nila i Nilai % = Keterangan : 81% . dst 2 3 Memberika n tanggapan 1 2 3 Memberika n jawaban 1 2 3 Menyampaika n ide/pendapat 1 2 3 Membuat kesimpula n 1 2 3 Jumlah No .8. serta variabilitas di dalamnya.3. Menentukan Mean X  X N i (Sudjana.1.80% : Aktif (B) 51% . 2005:67) Keterangan : X = Mean (rata-rata) nilai siswa = nilai siswa ke i N = Jumlah siswa . Teknik Analisis Data Pemilihan teknik analisis data interval ditentukan penyebaran datanya. Tabel hasil observasi Aktivitas Belajar Siswa dalam Kelompok Aspek Yang Dinilai Memberika n pertanyaan 1 1.3 Instrumen 2 Ranah Psikomotorik Siswa (Aktivitas) Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data keaktifan siswa adalah dengan melakukan pengamatan terhadap siswa pada saat melakukan kegiatan pembelajaran.50% : Buruk (D) x 100% 3. 3.65% : Cukup Aktif (C) 0% .7. 3.100% : Sangat Aktif (A) 66% .8. Tabel 3.

…. Z3. Menghitung peluang F(Zi) = T (Z<Zi) c.Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi.4. 2005 : 94) 3. Mengambil harga mutlak yang paling besar dari selisih itu dan disebut Lo. X3. digunakan Uji Liliefors Menurut Sudjana (2005:466).……. X2. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S (Zi) maka S ( Zi)  banyaknya Z1 . Z1. Z3 . Z2..8.49 X i = Jumlah nilai siswa 3.8..Xn dijadikan bilangan baku.Xn Xi  X s dimana: Xi = Responden X1. e. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.05 dan sebaliknya ditolak. Menghitung proporsi Z1. Data X1.. Menentukan Simpangan Baku S N  X i  ( X i ) 2 2 N ( N  1) (Sudjana..…….. Z2. 3.. Hipotesis normalitas diterima jika harga Lo < Li tabel untuk uji Lilliefors dengan taraf nyata  = 0. Menghitung selisih F (Zi)-S (Zi) yang diambil harga mutlaknya.Zn dengan menggunakan rumus Z i  X2. Z3. X = Rata-rata perhitungan S = Simpangan baku b.……. Z 2 . langkah-langkah yang dilakukan untuk pengujian adalah sebagai berikut: a. Untuk menguji.2..8.. Uji Homogenitas Untuk uji homogenitas digunakan hipotesis : 2 Ho : S12  S 2 atau kedua populasi mempunyai varians yang sama 2 H1 : S12  S 2 atau kedua populasi tidak mempunyai varians yang sama .3... n yang  Zi Z N d.

Uji kemampuan awal/pretes siswa (uji t dua pihak) Uji t dua pihak digunakan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal siswa pada kedua kelompok sampel.5. Hipotesis yang diuji berbentuk : Ho : 1   2 : kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai kemampuan awal yang sama.8. H1 : 1   2 : kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai kemampuan awal yang berbeda. 3.50 Untuk mengetahui apakah data dari kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen atau tidak maka digunakan uji homogenitas dengan rumus: S12 F 2 S2 Keterangan : (Sudjana. dapat diambil kesimpulan bahwa kedua sampel tidak mempunyai varians yang homogen. Dimana : n1 = ukuran sampel kelas eksperimen n 2 = ukuran sampel kelas kontrol Jika pengolahan data menunjukkan bahwa Fhitung<Ftabel maka H0 diterima. Jika pengolahan data menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel. maka H0 ditolak dan terima Ha.1. 2002:249) S12 = Varians terbesar S 22 = Varians terkecil Kriteria pengujian hipotesis terima Ho jika F(1 )(n 1) < F < F(1/2α)(n1-1)(n2-1) 1 dimana F(1/2α)(n1-1)(n2-1) diperoleh dari daftar distribusi F dengan dk pembilang = n dan dk penyebut = n pada taraf nyata α = 0. Bila data penelitian berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesis menggunakan uji beda dengan rumus : . Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara yaitu : a. dapat diambil kesimpulan bahwa kedua sampel mempunyai varians yang homogen.

 X1  X 2 S2 S2 S 1  2 n1 n 2 (Sudjana 1992:241) Di mana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus yang dikemukakan oeh Sudjana ( 2002 : 239 ) : 2 (n1  1)S12  (n2  1)S 2 S  n1  n2  2 2 Dengan t = distribusi t x1  nilai rata – rata kelas eksperimen x 2  nilai rata – rata kelas kontrol n 1 = ukuran kelas eksperimen n 2 = ukuran kelas kontrol 2 S 1 = varians kelas eksperimen S 2 = varians kelas kontrol 2 Kriteria pengujian adalah : Menurut Sudjana (2002 :239).05 . . b.2) dan peluang ( 1  1 / 2  ) dan   0. Hipotesis yang diujikan adalah : H0: 1   2 : Pengaruh model pembelajaran generatif tidak lebih baik terhadap hasil belajar siswa daripada Pembelajaran Konvensional pada materi pokok elastisitas.51 thitung = X1  X 2  1 S  n  2   1   n   2     (Sudjana 1992:239) Tetapi jika kedua kelas tidak homogen. Untuk harga t lainnya Ho ditolak. Uji Kemampuan Postest (Uji t satu pihak) Uji t satu pihak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan yaitu model pembelajaran generatif terhadap hasil belajar siswa.terima Ho jika – t1  1 / 2   t  t1  1 / 2  dimana t1  1 / 2  didapat dari daftar distribusi t dengan dk = ( n 1  n 2 . maka digunakan : t.

 ) dan  =0. . 3.05.52 H1: 1   2 : Pengaruh model pembelajaran generatif lebih baik terhadap hasil belajar siswa daripada Pembelajaran Konvensional pada materi pokok elastisitas Kriteria pengujian yang berlaku ialah : terima Ho jika thitung< t1. dimana t1.6 Persentase Peningkatan Hasil Belajar Persentase peningkatan hasil belajar dihitung dengan rumus : . jika t mempunyai harga-harga lain H0 di tolak.8. di dapatdari daftar distribusi t dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan peluang (t1 .

1.1. Deskripsi Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk menerapkan model pembelajaran generatif di SMA Laksamana Martadinata. masing-masing kelas diberi perlakuan yang berbeda.2. Tes yang digunakan dalam penelitian sebanyak 15 soal berbentuk pilihan ganda. Secara ringkas data pretes kelas eksperimen dan kontrol dijelaskan dalam tabel distribusi frekuensi berikut : . yaitu 1 orang dosen fisika Unimed dan 2 orang guru mata pelajaran fisika di SMA Laksamana Martadinata (Lampiran 21). Hasil tes yang dilakukan. diperoleh hasil belajar fisika siswa pada materi pokok elastisitas yang diuraikan sebagai berikut. diperoleh data pretes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Validitas yang digunakan dalam penelitian adalah validitas isi yang telahdiuji oleh tim ahli sebagai validator sebanyak 3 orang. Pelaksanaan Pretes Sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran generatif dan model pembelajaran konvensional maka terlebih dahulu dilakukan pretes yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil Penelitian 4.53 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Penelitian dilaksanakan dengan jenis quasi eksperimen yang melibatkan dua kelas sebagai sampel.1. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified sampling yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran generatif dengan jumlah siswa sebanyak 43 siswa dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional dengan 43 siswa. 4.1.

1 Fi X Kelas Kontrol S Nilai Pretes Fi X S Data pretes siswa kelas eksperimen dan kontrol dapat pula dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 7.2.7 10. 3. 5.7 1600 37. 13 – 20 21 – 27 28 – 34 35 – 41 42 – 48 49 – 55 56 .0 37.3 13 – 20 21 – 27 28 – 34 35 – 41 42 – 48 49 – 55 56 – 62 Jumlah 5 6 10 9 7 3 3 43 33. 2.0 13.1 Hasil pretes siswa pada kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat dalam bentuk diagram batang berikut : .0 13.3 46.7 10.62 Jumlah 4 6 8 12 9 3 1 43 37.54 Tabel 4.2 12.3 Kelas Kontrol Pretes 60.1. Nilai Pretes Untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Statistik Nilai Tertinggi Nilai Terendah Range (Jarak) Jumlah Nilai Mean Standar Deviasi Kelas Eksperimen Pretes 60. 6. Distribusi Frekuensi Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol No. Kelas Eksperimen Nilai Pretes 1.7 1620.3 46.2 12. 4.

3.1351 Keterangan Normal Normal 0. Hasil uji normalitas data pretes kedua kelas sebagai berikut : (perhitungan pada lampiran 11) Tabel 4.3 Uji Normalitas Data Uji normalitas data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors.1 Diagram Batang Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 4.05) 0. Berdasarkan data penelitian diperoleh bahwa nilai pretes kedua kelompok sampel memiliki data yang normal atau Lhitung<LTabel pada taraf signifikan 0. Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data kedua sampel berdistribusi normal atau tidak.05 dan Neksperimen = 43.1205 Berdasarkan dari Tabel 4.1. Nkontrol = 43.1351 0.55 Diagram Batang Nilai Pretes Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 12 10 Frekuensi Siswa 8 6 4 2 0 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol 13-20 21-27 28-34 35-41 42-48 47-53 54-60 Nilai Gambar 4.3 menunjukkan bahwa Lhitung < LTabel maka data pretes kedua kelompok sampel berdistribusi normal . Hasil Uji Normalitas Data Kelas Eksperimen Kontrol L hitung Ltabel(α=0.1105 0.

kegiatan pembelajaran dilakukan 3 pertemuan yakni pertemuan pertama (2x45 menit). Eksplorasi : Pada tahap eksplorasi guru membimbing siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan. dan pertemuan ketiga (2x45 menit). Ringkasan Uji Homogenitas Data Data Pretes Kelas Eksperimen Kontrol Varians 106.64. peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model generatif untuk mengeksplorasi pengetahuan awal siswa tentang konsep fisika kemudian dikonstruksi menjadi konsepsi yang lebih baik dalam proses pembelajaran. Pada taraf signifikan 0. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ±20 menit .6 F hitung 1. pertemuan kedua (2x45 menit). Dalam penelitian. Model pembelajaran generatif terdiri dari 4 tahap yaitu : 1.5.05 diperoleh harga FTabel = 1. Berdasarkan perhitungan (lampiran 12) hasil uji homogenitas pretes diperoleh nilai Fhitung =1.4. Kelas Eksperimen Pada kelas eksperimen.5 dibawah ini. Secara ringkas hasil perhitungan uji homogenitas data pretes kedua kelas (perhitungan pada lampiran 12) ditunjukkan pada Tabel 4.1. guru memberikan stimulus berupa pertanyaan.56 4. ide. Karena Fhitung < FTabel maka data pretes kedua sampel homogen yang berarti data yang diperoleh dapat mewakili seluruh populasi yang ada.4. Untuk mendorong siswa melakukan eksplorasi.38.1. Tabel 4.38 F tabel 1. Uji Homogenitas Data Uji Homogenitas data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji F.1 146. demonstrasi atau penelusuran terhadap suatu permasalahan yang dapat menunjukkan data atau fakta yang terkait dengan konsepsi yang dipelajari. Uji homogenitas data bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Pelaksanaan Pembelajaran a.64 Keterangan Homogen 4. atau konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat kelas sebelumnya.

berdebat. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ± 10 menit Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. dan mengahargai adaya perbedaaan diantara pendapat teman. Aspek-aspek pengamatan aktivitas diberi skor 1 sampai 3 dengan berpedoman pada penskoran observasi aktivitas siswa (lampiran 20 ). siswa diajak untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan konsep barunya atau konsep benar dalam situasi baru yang berkaitan dengan hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. siswa akan semakin memahami konsep (isi pembelajaran) secara lebih mendalam dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang.57 2. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ± 20 menit 4. Penerapan : Pada tahap ini. saat pembelajaran berlangsung dilakukan observasi oleh 2 orang pengamat yang dilengkapi lembar observasi. Pemfokusan : Pada tahap pemfokusan siswa melakukan pengujian hipotesis melalui kegiatan laboratorium. maka dibuat rekapitulasi hasil observasi aktivitas belajar siswa pada pertemuan 1. Berdasarkan lampiran 20. Para siswa diminta mempresentasikan temuan melalui diskusi kelas. Pemberian tugas rumah atau tugas proyek yang dikerjakan siswa diluar jam pertemuan merupakan bentuk penerapan yang baik. Melalui diskusi kelas akan terjadi proses tukar pengalaman diantara siswa. ini berarti tingkat retensi siswa semakin baik. Dalam tahap ini siswa berlatih untuk berani mengeluarkan ide. Dengan adanya latihan soal. menghargai pendapat teman. untuk pertemuan ke-1. Jenis aktivitas yang diamati adalah : (1) memberikan pertanyaan (2) memberikan tanggapan (3) memberikan jawaban dan (4) menyampaikan ide/pendapat (5) membuat kesimpulan. 3. Pada tahap ini dibutuhkan waktu ± 40 menit. Pada tahap ini siswa perlu diberi banyak latihan-latihan soal. kritik. untuk pertemuan ke-2 dan ke-3. dengan demikian para siswa dapat melakukan proses sains dengan tepat. Pada tahap ini guru bertugas sebagai fasilitator yang memberi bimbingan dan arahan. pertemuan 2. dan pertemuan 3 seperti . Tantangan : Setelah siswa memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan menulis dalam lembar kerja.

6 15.2.2 17. 1. Tabel 4.0 3051.2 2498.5 maka aktivitas belajar siswa selama menggunakan model pembelajaran generatif menunjukkan bahwa pada pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 58.58 tercantum pada tabel dibawah ini.2 12. 5.2 17. Indikator Memberikan pertanyaan Memberikan tanggapan Memberikan jawaban Menyampaikan ide/pendapat Membuat kesimpulan I 14.5 70.4 20.1 dalam kategori (C) .9 Aktif (B) Jumlah Persentase Aktivitas Rata – rata Aktivitas Kriteria Adapun diagram batang untuk aktivitas siswa kelas eksperimen digambarkan sebagai berikut : Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen 25 Persentase Aktivitas 20 15 Pertemuan I 10 5 0 I II III IV V Pertemuan II Pertemuan III Indikator Gambar 4.III Aktivitas Tiap Pertemuan No.8 19.8 2698.4 16.II.8 11.6 15.7 Cukup Aktif (C) III 18.6 58. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Kelas Eksperimen Pertemuan I. Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen Berdasarkan data pada tabel 4.2 15. 2.5.8 17.8 13. 3.1 Cukup Aktif (C) II 15. 4.6 62.

2 12. Indikator I 12.4 17.II. dan demonstrasi.2 11.6 15. pertemuan kedua (2x45 menit).4 15.0 16.8 C Memberikan pertanyaan Memberikan tanggapan Memberikan jawaban Menyampaikan ide/pendapat 5. 2. Tabel 4.5 C Pertemuan II 17. dan pertemuan ketiga (2x45menit).8 12. Alokasi waktu pembelajaran sama seperti pada kelas eksperimen terdiri dari 3 kali pertemuan yakni pertemuan pertama (2x45 menit).6 17. Kelas Kontrol Kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 2 menerapkan pembelajaran konvensional yang merupakan sebuah sistem pembelajaran dengan metode ceramah.6 17.9 dalam kategori (C) atau cukup aktif.III No.2 15.3 64.9 dalam kategori (B) atau aktif. b.2 15. 3.0 52.59 atau cukup aktif. Membuat kesimpulan Jumlah Persentase Aktivitas Rata–rata Aktivitas Kriteria Adapun diagram batang untuk aktivitas siswa kelas kontrol digambarkan sebagai berikut : . Dari ketiga pertemuan diperoleh rata-rata aktivitas belajar siswa 63.6 2538.7 dalam kategori (C) atau cukup aktif dan pada pertemuan ketiga diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 70. tanya jawab.0 C III 16.6 2785. pada pertemuan kedua diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 62.6 59. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Kelas Kontrol Pertemuan I. 1.6. 4.4 17.6 2259.

8 dalam kategori aktif.3.6 hasil observasi aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional menunjukkan pada pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 52. Hasil belajar siswa pada materi pokok elastisitas dengan menggunakan model pembelajaran generatif di kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan model pembelajaran konvensional di kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol secara ringkas dapat dilihat pada tabel dibawah ini. pada pertemuan kedua diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 59. Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Kontrol Berdasarkan data pada tabel 4. Pelaksanaan Postes Setelah diberikan perlakuan pada masing-masing kelas.3 dalam kategori (C) atau cukup aktif. Dari ketiga pertemuan diperoleh rata-rata aktivitas belajar siswa 60.0 dalam kategori aktif dan pada pertemuan ketiga diperoleh nilai rata-rata aktivitas siswa 64.60 Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Kontrol Persentase Aktivitas Siswa 20 15 10 5 0 I II III Indikator VI VI Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Gambar 4.6.5 dalam kategori cukup aktif. 4.1. . dilaksanakan postes untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

4.1 12.7.4 Hasil postes kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah pembelajaran dengan model generatif dan model konvensional secara ringkas diperlihatkan pada tabel dibawah ini.0 2833 Mean 72. 3.6 53.4 Untuk lebih jelasnya hasil postes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada diagram di bawah ini.9 15. Nilai Postes S Nilai Postes S Fi Fi X X 1. 48 – 55 56 – 63 64 – 71 72 – 79 80 – 87 88 – 96 Jumlah 3 5 9 6 10 8 43 72.1 15.1 48 – 55 56 – 63 64 – 71 72 – 79 80 – 87 88 – 96 Jumlah 3 8 8 5 4 7 43 65.1 65. Distribusi Frekuensi Hasil Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol No.3 Nilai Terendah 46.0 Range (Jarak) 46. 6. Hasil Postes Untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Statistik Postes Postes Nilai Tertinggi 93. Tabel 4.8.61 Tabel 4. 40 – 47 2 40 – 47 8 2. 7. 5.9 Standar Deviasi 12. .3 Jumlah Nilai 3100.3 93.7 40.

992.7 dan kelas kontrol adalah 37.669 < thitumg < 1.62 Diagram Batang Hasil Postes 10 Frekuensi siswa 8 6 4 2 0 40 – 47 48 – 55 56 – 63 64 – 71 72 – 79 80 – 87 88 – 96 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Nilai Gambar 4.1 dan kelas kontrol adalah 65.4. Karena thitung < ttabel dapat dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.9. karena harga thitung = 1.7.P.2.05 adalah 1.2067 dan ttabel untuk α = 0. Diagram Batang Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 4. berikut.669. Nilai rata–rata pretes kelas eksperimen adalah 37.666. Secara ringkas hasil perhitungan uji hipotesis (perhitungan pada lampiran 13) tertera pada Tabel 4. Hasil pengujian hipotesis pada taraf signifikan α = 0. serta tolak H0 jika t memiliki harga yang lain.1. Kriteria pengujian adalah : terima H0 jika  t11 / 2  t  t11 / 2 = -1.9.785. Nilai rata–rata postes kelas eksperimen adalah 72. 2011/2012. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis ditentukan dengan melihat perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen.05 dan dk = 84.785 sedangkan tTabel = 1. Dari Hasil perhitungan diperoleh thitung = 0. untuk pengujian postes diperoleh thitung = 1. maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran generatif dengan model pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T. .

1351 dan kelas kontrol 0.666 Kesimpulan Terdapat perbedaan 4.1351 atau Lhitung < LTabel pada taraf signifikan 0.38.63 Tabel 4. Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model generatif melalui empat tahap yaitu .9. Kemudian dilakukan uji normalitas data penelitian dengan menggunakan uji Liliefors dan nilai Ltabel 0. Kelas Eksperimen 2.64. yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang diterapkan model pembelajaran generatif dan kelas XI IPA 2 dengan model pembelajaran konvensional. Sampel 1. Kelas Kontrol Rata-rata 72.1351.2 Pembahasan Penelitian Penelitian dilaksanakan di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T. Berdasarkan perhitungan hasil uji homogenitas pretes diperoleh nilai Fhitung =1.7 dan pada kelas eksperimen dengan rata-rata 37.785 tTabel 1. Sebelum memulai pembelajaran.1105<0.05 diperoleh harga FTabel = 1. Hasil pengujian menunjukkan nilai pretes kedua kelompok sampel yaitu kelas eksperimen 0. Uji Homogenitas data penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Ringkasan perhitungan uji t No.9 thitung 1.1205<0. Pada taraf signifikan 0.05.1 65. Dengan demikian terbukti bahwa data pretes kedua kelompok sampel berdistribusi normal. Dari hasil pretes diperoleh hasil belajar siswa pada kelas kontrol yaitu dengan rata-rata 37. Kemudian dilaksanakan proses kegiatan belajar mengajar di kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran generatif.2. Pada awal penelitian masing-masing kelas diberikan pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi pokok elastisitas. Penelitian tergolong dalam penelitian quasi eksperimen yang melibatkan dua sampel kelas yang menerapkan dua perlakuan berbeda. peneliti menyiapkan alat dan bahan yang akan diperlukan selama proses pembelajaran berlangsung. 2011/2012 pada materi pokok elastisitas.P. Karena Fhitung<FTabel maka data pretes kedua sampel homogen yang berarti data yang diperoleh dapat mewakili seluruh populasi yang ada.

Berdasarkan peningkatan aktivitas belajar siswa terlihat bahwa model generatif membuat pembelajaran berjalan lebih produktif. Tantangan : Setelah memperoleh data selanjutnya menyimpulkan dan menulis dalam lembar kerja. Sehingga pada tahap akhir aktivitas siswa berupa rekonstruksi pengetahuan lama dengan pengetahuan baru dan kesadaran akan pentingnya pembelajaran yang dilaksanakan. Keterlibatan siswa ditahap sebelumnya terlihat ketika siswa diminta mempresentasikan temuan praktek melalui diskusi kelas. atau konsepsi awal yang dimiliki siswa. dan mengungkapkan pendapat Pemfokusan. selanjutnya diterapkan dengan mengajak siswa memecahkan masalah menggunakan konsep baru. Satu persatu perwakilan kelompok mengemukakan hasil uji ilmuwan. Penerapan yang diberikan berupa soal dan contoh situasi kehidupan sehari-hari. Peningkatan aktivitas siswa pada tahap eksplorasi terus meningkat dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga. aktivitas siswa terus meningkat disetiap pertemuan. Tantangan dan Aplikasi. . Hal ini berdampak positif karena dengan praktek langsung siswa lebih memahami konsep. Selama kegiatan praktikum siswa antusias melakukan langkah–langkah pada lembar kerja. sedangkan kelompok lain diberi kesempatan untuk menggapi. Penerapan : Kesimpulan pada tahap tantangan. Pemfokusan. terlihat dari terpenuhinya indikator–indikator seperti memberikan pertanyaan. Dengan tahap–tahap pembelajaran generatif. ide. Pada tahap pemfokusan siswa melaksanakan pengujian hipotesis melalui kegiatan laboratorium.64 Eksplorasi. aktivitas siswa dilihat dari tanya jawab dan diskusi dalam kelompok.8% . karena siswa dituntut menerapkan konsep yang sudah dimiliki pada praktek sesungguhnya. juga mengingat hasil yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Eksplorasi. pada tahap eksplorasi guru membimbing siswa untuk mengungkapkan pengetahuan. memberikan jawaban. Dengan praktikum peningkatan aktivitas siswa lebih menonjol. dari pertemuan I – III peningkatan aktivitas siswa meningkat sebesar 12. Pada tahap ini tampak peningkatan indikator penyampaian ide dan membuat kesimpulan di setiap pertemuan.

Mendorong Siswa untuk memiliki rasa ingin tahu dan respon yang muncul dari keingintahuannya dan mendiskusikan hal tersebut dengan teman kelompoknya. Keterbatasan peneliti dalam mengalokasikan waktu dan menguasai kelas. 6. Mendorong siswa untuk berdiskusi dan membuat hipotesis dari praktikum yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar 3. sehingga praktikum memakan waktu yang lama dan ada beberapa siswa lebih memilih untuk diam menunggu hasil dari siswa lain tanpa ikut memnbantu dan mengamati jalannya praktikum. 5. Memungkinkan siswa mengingat konsep yang benar dalam jangka waktu lama karena sudah melakukan eksperimen secara mandiri. Siswa aktif untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui percobaan (pratikum). . 4. 2. Beberapa kelebihan yang didapat menunjukkan bahwa model pembelajaran generatif membantu siswa memahami materi pelajaran.65 bermakna serta tidak membosankan sehingga memberikan hasil belajar yang lebih baik diantaranya sebagai berikut : 1. Jarangnya melakukan praktikum membuat siswa kesulitan dalam pengenalan alat-alat laboratorium sehingga siswa cenderung menunggu tindakan guru untuk memulai percobaan. terutama terhadap materi-materi yang lebih sukar dan memerlukan pemahaman konsep dengna benar melalui eksplorasi pikiran dan uji eksperimen sehingga siswa lebih aktif dibandingkan siswa yang diajar dengan model konvensional. Meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk menerangkan pengetahuan yang dimilikinya dengan mempresentasikannya di depan kelas. 2. Pelaksanaan model pembelajaran generatif yang dilakukan peneliti juga mengalami kendala–kendalan yang menyebabkan pencapaian hasil belajar belum maksimal. Kendala–kendalan yang dialami peneliti dalam menerapkan model pembelajaran generatif antara lain : 1. kelas menjadi tidak kondusif dan pelaksanaan penenlitian kurang efektif. Mendorong siswa untuk memahami konsep materi pelajaran dengan baik.

6 yang tergolong cukup aktif. peneliti memberikan postes. Dari hasil observasi 3 pertemuan diperoleh bahwa aktivitas belajar siswa tergolong aktif dengan nilai rata–rata 70. peneliti mulai untuk melakukan tanya jawab. Peningkatan hasil dibelajar kelas eksperimen dan kontrol sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran dapat dilihat pada table berikut : Untuk kelas eksperimen diagram pergeseran nilai pretes dan postes adalah sebagai berikut : . Setelah melaksanakan pembelajaran generatif pada kelas eksperimen selama 3 pertemuan kemudian peneliti memberikan postes. setelah itu menjelaskan materi tentang elastisitas dengan metode ceramah lalu memberikan penugasan kepada siswa. Setelah selesai pembelajaran.66 3.9. Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan keterbatasan peneliti adalah pada pertemuan selanjutnya peneliti memberi pengarahan yang jelas kepada siswa dan mempersiapkan peralatan praktikum sebelum pembelajaran dimulai sehingga menghemat waktu. Saat pembelajaran berlangsung terlihat aktivitas yang dilakukan oleh siswa. sehingga siswa sulit memahami materi tanpa ada penjelasan dari guru. Pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu pada kelas XI IPA 2. Kurangnya penekanan konsep kepada siswa. Setelah melakukan pretes. Dari hasil postes diperoleh nilai siswa pada kelas kontrol dengan rata-rata 65.1.9 dan rata–rata aktivitas 59. Dari hasil postes pada kelas eksperimen diperoleh rata-rata 72.

3 sedangkan pada postes nilai terendah 40. Diagram pergeseran nilai pretes dan postes kelas eksperimen Dari gambar tersebut terlihat ada pergeseran nilai siswa yang diajarkan dengan model generatif. Diagram pergeseran nilai pretes dan postes kelas kontrol Berdasarkan gambar pergeseran nilai pretes dan postes kelas kontrol yaitu nilai terendah pretes 13.0. Untuk kelas kontrol diagram pergeseran nilai pretes dan postes dapat di lihat pada gambar berikut : Diagram Pergeseran Nilai Pretes dan Postes Kelas Kontrol 20 Frekuensi siswsa 15 10 5 0 13-23 24-34 35-45 46-56 57-67 68-78 79-89 90-100 Pretes postes Nilai Gambar 4. Nilai pretes terendah siswa 13.3 maka pada postes nilai terendah siswa menjadi 46. Maka pada kelas kontrol juga terjadi pergeseran nilai namun dengan rentang yang lebih kecil dari kelas eksperimen. .6.6.67 Diagram Pergeseran Nilai Pretes dan Postes Kelas Eksperimen 20 Frekuensi Siswa 15 10 5 0 13-23 24-34 35-45 46-56 57-67 68-78 79-89 90-100 Nilai Pretes postes Gambar 4.5.

785 sedangkan tTabel = 1.785. Dengan demikian ada peningkatan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksaman Martadinata T. serta tolak H0 jika t memiliki harga yang lain. karena harga t hitung = 1. Kriteria pengujian adalah : terima H0 jika  t11 / 2  t  t11 / 2 = -1.41%.669 < thitumg < 1. untuk pengujian postes diperoleh thitung = 1. 2011/2012.669. maka tolak H0 dan terima Ha yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran generatif dengan model pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa rata–rata hasil belajar siswa setelah diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran generatif lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata. 2011/2012.666.05 dan dk = 84.P. .P. Hal ini sejalan dengan peningkatan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran generatif yaitu sebesar 9.68 Pengujian hipotesis pada penelitian menggunakan taraf signifikan α = 0.

. 3. Peningkatan hasil belajar siswa akibat penerapan model pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.1 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata postes siswa sebesar 69.7 dengan simpangan baku 10.2 simpangan baku sebesar 12. Hasil belajar siswa dengan model pembelajaran generatif pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.1.4. Adapun kesimpulan yang diperoleh antara lain : 1.5%.2011/2012 sebelum diberikan perlakuan rata-rata pretes sebesar 37.9%.3 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata postes siswa sebesar 72.1 Kesimpulan Kesimpulan penelitian didasarkan pada temuan data penelitian.P. Aktivitas siswa selama menggunakan model pembelajaran generatif rata–rata 63.1 dengan simpangan baku 12. 2.41% .69 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.P.2011/2012 yaitu sebesar 9. Sedangkan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran konvensional pada materi pokok elastisitas di kelas XI SMA Laksamana Martadinata T.2011/2012 sebelum diberikan perlakuan rata-rata pretes sebesar 37. sedangkan pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional rata–rata aktivitas siswa 58. sistematika sajiannya dilakukan dengan memperhatikan tujuan penelitian yang telah dirumuskan.P.5 dengan simpangan baku 15.

2 Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan. maka sebagai tindak lanjut dari penelitian ini disarankan beberapa hal sebagai berikut : 1.70 5. . Peneliti selanjutnya hendaknya dapat menguasai kelas sehingga pembelajaran menjadi lebih efisien. Bagi guru yang menerapkan model pembelajaran generatif agar lebih memperhatikan konsepsi/pengetahuan awal siswa sebelum pembelajaran diberikan. 2. Bagi peneliti selanjutnya agar mampu mengalokasi waktu yang tersedia dengan baik sehingga tidak banyak menyita waktu untuk praktikum (tahap pemfokusan). 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful