BAB I LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

I. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA a. Identitas Pasien Nama Jenis kelamin Usia Status Pernikahan Alamat : Ny. Jumiyati : Perempuan : 42 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Islam : Jawa : SD / Sederajat : Ibu Rumah Tangga

b. Identitas Kepala Keluarga Nama Jenis Kelamin : Tn. Bukhori : Laki-laki

1

Umur Status Pernikahan Alamat

: 44 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang

Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan

: Islam : Jawa : SD / Sederajat : Buruh tani

II. PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Kandung

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

2

Tabel 2. Daftar Anggota Yang Tinggal Serumah

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

Bukhor i

Jum iyati

Herm awant

Safira

oo

Keterangan : : laki-laki

3

: perempuan

: riwayat DM

Gambar 1. Pohon Keluarga

III. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH DILAKUKAN Anamnesis Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 18 Januari 2012 pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB di rumah pasien di Desa Tuksongo RT/TW 001/004 Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang.

4

Sebelumnya pasien pernah berobat ke Puskesmas Borobudur lalu dirujuk ke RSUD Muntilan 1 bulan yang lalu setelah sebelumnya merasakan nyeri hilang timbul dan terasa agak kesemutan pada jempol kaki kiri. Pasien mengaku sudah datang ke RSUD Muntilan untuk kontrol. Pasca rawat inap. Metformin (3x/hari). namun poli Bedah sudah tutup dikarenakan pasien datang terlalu siang. selain itu muncul nanah yang berbau busuk dan kadang keluar sedikit darah. pasien membuka balutan perban namun tidak menutup kembali. hanya dibersihkan dengan air keran dan dibiarkan terbuka.a. Riwayat Penyakit Saat Datang Pertama (18 Januari 2012) Pasien mengeluh nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu. sering haus dan kencing terutama pada malam hari. luka pasien di Debrideman dan pasien dirawat selama 5 hari. Nyeri dirasakan pada luka yang terdapat di jempol kaki kiri. bengkak dan terdapat bagian yang berwarna putih kekuningan. Kemudian luka makin meluas. Keluhan Utama Nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu b. pasien mengaku makin merasa lemas. Pasien hanya minum obat 1x/hari dan menu makanan harian pasien hanya talas yang direbus (kadang kentang) serta hanya minum air rebusan 5 . Tetrasiklin (2x/hari). Pada saat kunjungan. mudah lelah. Pasien mengaku bahwa sebelumnya terdapat luka kecil di jempol kaki kiri sejak 1 minggu sebelum berobat ke Puskesmas namun tidak mengetahui sebab dari luka tersebut (pasien juga bercerita bahwa sudah terdiagnosi kencing manis oleh dokter Puskesmas). Di RSUD Muntilan. Tablet Vitamin (1x/hari) dan Rivanol untuk ganti perban. bekas luka dibalut perban dan pasien diberi obat minum yaitu. Karena luka dirasa makin mengganggu.

Riwayat darah tinggi. kemudian pasien didiagnosis kencing manis (Diabetes Mellitus) oleh dokter Puskesmas setelah pasien berobat. tidak nyeri serta tidak ada darah. pasien tidak pernah olahraga. BAB satu kali sehari. asma dan alergi disangkal. Pasien adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah serta tidak pernah aktif dalam kegiatan desa. Pasien sudah diberi obat (Metformin 2x/hari). penyakit jantung. namun pasien jarang minum obat. konsistensi lunak berwarna coklat dan tidak ada darah. tidak minum minuman beralkohol serta kopi.Demam. tidak berpasir. Riwayat darah Pemeriksaan Fisik Tanggal Keadaan umum Kesadaran : Tampak Sakit sedang : Compos mentis 6 . muntah. penyakit jantung. sering kencing terutama pada malam hari dan sering lelah sejak 1 tahun yang lalu. berwarna kuning jernih. batuk dan pilek disangkal oleh pasien. BAK > 6 kali sehari. namun pasien tidak mengetahui penyebabnya. c. Riwayat Penyakit Keluarga Ayah pasien mengalami gejala serupa dengan pasien dan sudah meninggal. tinggi. d. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak memiliki riwayat seperti ini namun pasien telah memiliki riwayat gejalan sering haus. asma dan alergi disangkal. mual.

nyeri tekan (-)  Hidung  Bibir  Tenggorok  Leher  Thoraks : Normosepti. sama kuat 7 . sianosis (-) : T1-T1.Tanda vital: Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi Suhu Pernapasan : 88 x/menit : 36. pembesaran KGB (-/-) : Paru . simetris. gerak thoraks pada pernafasan simetris. oedem (-). sekret (-). vokal fremitus simetris.paru - Inspeksi : Bentuk dada normal. sklera ikterik (-/-)  Telinga: Normotia. benjolan (-). nyeri telan (-) : Trakhea di tengah. sama tinggi.30 C : 28x/menit TB : 155 cm BB : 44 kg Status Generalis  Kepala  Mata : Normocefali : Konjungtiva anemis (-/-). tidak ada bagian yang tertinggal. granulasi (-). retraksi (-/-) Palpasi : Gerak nafas simetris. tidak ada bagian yang tertinggal. deviasi septum (-) : pucat (-). sama tinggi. faring hiperemis (-).

simetris. 8 . tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas. murmur (-). batas paru lambung sekitar ics VI. tidak ada pembesaran hepar dan lien. Auskultasi : Bising usus 3x/menit. Perkusi : Timpani di seluruh lapangan abdomen.- Perkusi : Kedua hemitoraks berbunyi sonor. batas atas jantung kiri setinggi ics III pada garis sternalis kiri Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler. tidak teraba benjolan. peranjakan paru positive kira-kira satu sela iga - Auskultasi : Suara napas vesikuler. batas paru hepar setinggi ics V. rhonchi (-/-). Palpasi : Teraba lemas. batas jantung kanan pada garis sternalis kiri setinggi ics IV. rata. ballotemem ginjal kanan dan kiri (-). defense muscular (-). wheezing (-/-) Jantung Inspeksi : Bentuk dada normal. gallop (-)  Abdomen Inspeksi : Bentuk abdomen simetris. iktus kordis terlihat pada ICS V 2 cm lateral dari garis mid klavikularis kiri Palpasi : Iktus cordis teraba di ics V 2 cm lateral dari garis mid klavikularis kiri Perkusi : Tidak ada nyeri ketuk. mendatar pada keadaan statis/dinamis. batas jantung kiri setinggi ics V 2 cm garis midklavikularis kiri.

edema (-/-). deformitas (-).Jumiyati Diagnosis Banding  Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol  DM tipe II Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang • Belum dilakukan pemeriksaan laboratorium 9 . Gambar 2. Ulkus Diabetikum pada Digiti 1 pedis sinistra pasien Ny. Ekstremitas - Inspeksi : Bentuk normal simetris. sianosis (-/-). tampak pus dan sedikit darah pada ulkus. Terdapat ulkus di jari I kaki kiri dengan ukuran 2X3 cm . edema (-/-).tampak kemerahan di sekitar ulkus - Palpasi : Suhu hangat.

teratur  Melakukan perawatan kaki secara berkala Hasil Penatalaksanaan Medis Pasien rutin minum obat namun luka tidak dibalut perban kembali. luka hanya dicuci dengan air keran.Diagnosis Kerja Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol Rencana Penatalaksanaan Tatalaksana medikamentosa (oral) yang telah diberikan : • • Tetracyclin 500 mg (2x/hari) Metformin 500 mg (2x/hari) Rivanol Vitamin • • Tatalaksana nonmedikamentosa Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah:  Mengikuti pola makan sehat  Meningkatkan kegiatan jasmani  Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusussecara aman. pola makan pasien tidak teratur dan jenis makanannya tidak 10 .

Pasien masih sering lemas dan mudah lelah. Selain itu. namun pasien mengaku masih merasakan rasa nyeri yang hilang timbul.beranekaragam. TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN Tabel 3. luka makin bernanah dan berbau busuk. 1. serta tidak pernah melakukan aktifitas fisik seperti olahraga. Faktor pendukung :  Pasien selalu minum obat secara teratur. Resiko & masalah kesehatan Luka di jempol kaki kiri akibat diabetes Rencana pembinaan Pemberian obat dan edukasi untuk merawat lukanya dan menjaga kadar gula agar tetap stabil Sasaran Pasien dan kelurga 11 . GD 2jam PP) membaik. IV. hasil Faktor penghambat:  Indikator keberhasilan pemeriksaan laboratorium (GDS. Kondisi rumah yang kurang sehat Pencahayaan kurang Ventilasi kurang Rumah yang berdebu Lantai tanah Sumber air dan kamar mandi di luar rumah : ulkus diabetic membaik. GDP. sering haus dan sering kencing terutama malam hari. gejala 3P berkurang. Tabel Permasalahan Pada Pasien No.

Pendapatan perbulan kira-kira Rp. Dimana hubungan penderita dengan keluarga baik. b. Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga. lantai tanah Edukasi mengenai cara membersihkan dan menata rumah. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti listrik dan makan. dan cara penanganannya serta komplikasi nya Pasien dan keluarga V. 700. Fungsi Pendidikan Penderita bersekolah sampai kelas 6 SD. faktor resiko. Fungsi Psikologis Penderita tinggal bersama suami dan kedua anaknya. sehingga banyak menghabiskan waktu di rumah. Pasien tidak mengetahui secara jelas tentang penyakit yang dideritanya Edukasi mengenai penyakit DM. Fungsi Biologis Dari wawancara dengan penderita diperoleh keterangan bahwa ayah penderita pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Pasien dan keluarga 3. Fungsi Ekonomi Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh suami dan anak pertamanya. dan banyak waktu bersama keluarga.000. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA a.paling tinggi sampai jenjang SMA. Pasien mempunyai kartu Jamkesmas. Lingkungan rumah yang berdebu.2. Sedangkan penderita yang mengelola penghasilan keluarga. ventilasi dan pencahayaan yang kurang. c. Semua anak penderita juga bersekolah. d. 12 .

Jenis makanan dalam keluarga ini kurang bervariasi. Karena penderita mempunyai DM. IDENTIFIKASI KESEHATAN a. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Faktor Perilaku Penderita seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak aktif mengikuti kegiatan d lingkungan desa. Air minum berasal dari air sumur galian yang dimasak sendiri. maka variasi makanan sebagai berikut : kentang dan talas. VI. Penderita dan keluarga dapat diterima dengan baik di lingkungan rumahnya. menjalankan ibadah agama secara rutin (sholat). f. Fungsi Sosial dan Budaya Penderita dan keluarga tinggal di Desa Tuksongo di kawasan pemukiman kumuh yang penduduknya tidak terlalu padat. Keluarga penderita tidak aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat desa. Sumber air minum berasal dari sumur pompa dan dimasak 13 . Komunikasi dengan tetangga baik. Fungsi Religius Penderita dan keluarga memeluk agama Islam. POLA KONSUMSI PENDERITA Frekuensi makan rata-rata 2x sehari. Faktor Lingkungan Tinggal dalam lingkungan kumuh. dimana kebersihan di dalam rumah sangat kurang. Penderita biasanya makan di rumah. untuk minumnya air putih atau teh tawar.e. b. Pencahayaan di dalam rumah sangat kurang dan sirkulasi udara tidak berjalan lancar.

dengan ukuran rumah 7 x 7 m2. Kebersihan dapur kurang. Fasilitas MCK menggunakan jamban berleher angsa dan sudah memiliki septic tank yang berada di wc umum yang berjarak 3 m.Secara umum gambaran rumah terdiri dari 2 kamar tidur. Kabupaten Magelang. Jalan di 14 . Penerangan dalam rumah dan kamar kurang sehingga rumah gelap dan terasa lembab.Tidak ada tempat pembuangan sampah. Ventilasi dan jendela yang kurang memadai. VII. Tata letak barang di rumah cukup rapi. Air minum dimasak sendiri. Rumah tidak mempunyai langit-langit. Faktor Sarana pelayanan kesehatan Terdapat Puskesmas Borobudur yang berjarak > 5 km. tidak ada lubang asap dapur. Kecamatan Borobudur. Gambaran Lingkungan Rumah Rumah pasien terletak di Desa Tuksongo. Cahaya matahari masuk lewat pintu dan jendela. lantai dari tanah. Pembuangan air limbah ke got dan saluran limbah mengalir lancar. dibuang ke got dan mengalir ke sungai. Untuk pembuangan limbah. 1 dapur di bagian belakang rumah.sebelum diminum. Buang air besar menggunakan jamban leher angsa di wc umum dekat rumah yang langsung dibuang ke septictank. d. dinding kayu. dan tidak tersedianya tempat pembuangan sampah di luar rumah. bentuk bangunan 1 lantai. c. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH a. yaitu dengan luas < 10 % dan jarang dibuka. Faktor keturunan Ayah penderita memiliki riwayat DM. Sumber air bersih dari sumur pompa tangan untuk minum maupun cuci dan masak. Rumah tersebut ditempati oleh 4 orang.

Denah Rumah VIII.depan rumah lebarnya 6 meter terbuat dari tanah . Kebersihan lingkungan di sekitar rumah cukup KAMAR TIDUR I DAPUR KAND ANG AYAM KAMAR TIDUR II GUDANG RUANG KELUARGA RUANG TAMU WC umum Gambar 3. Ayah pasien memiliki riwayat DM • b. Fungsi Psikologis • • Hubungan pasien dengan keluarga terjalin baik Hubungan sosial dengan tetangga dan kerabat baik. Fungsi Biologis • Pasien baru pertama kali mengalami penyakit ini. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan 15 . DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA a. c.

d.000 per bulan. e.Kesan sosial ekonomi kurang dilihat dari pendapatan Rp 700. Hubungan keluarga dan pasien dengan tetangga baik. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA 16 . Faktor Non Perilaku Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup jauh. f. Faktor Perilaku Pasien tinggal di rumah yang pencahayaannya kurang baik dan ventilasi udara di rumah kurang sehingga sirkulasi udara kurang baik dan lantai yang tidak kedap air (tanah) sehingga kebersihan kurang terjaga. Jarak antara rumah pasien dengan puskesmas > 5 km. Fungsi Religius dan Sosial Budaya Termasuk keluarga yang taat beragama. IX. komunikasi berjalan dengan lancar. Tidak terdapat keterbatasan hubungan antara pasien dan masyarakat.

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN Tabel 4. pola makan pasien DM Pasien dan keluarga Pasien dan anak pasien dapat memahami penjelasan yang diberikan dan diharapkan dapat merubah pola hidup 17 . Diagram Realita X.GENETIK Ayah kandung memiliki riwayat DM LINGKUNGA N Pencahayaan kurang YANKES Dokter puskesmas Bidan STATUS KESEHATAN PERILAKU Ventilasi kurang Lantai tanah Gambar 4. modifikasi pola hidup pasien DM. faktor risiko DM. Pembinaan dan Hasil Kegiatan Tanggal Kegiatan yang dilakukan Keluarga yang terlibat Hasil Kegiatan 18 januari 2012 Melakukan pemeriksaan kepada pasien dan mengamati keadaan kesehatan rumah dan lingkungan sekitar Pasien dan keluarga Mendapatkan diagnosis kerja pasien. gambaran perilaku kesehatan dan mendapatkan foto – foto keadaan rumah pasien. 21 Januari 2012 Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit DM. penatalaksanaan DM. data keluarga pasien.

Indikator keberhasilan : pasien mengetahui tentang penyakit DM.Penderita dan keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan tentang DM dan pola hidup sehat untuk penderita DM . Selain itu juga menjelaskan cara perawatan luka dan menganjurkan untuk rutin kontrol ke Rumah Sakit 1x/bulan untuk cek laboratorium XI. Faktor penyulit : keadaan ekonomi yang kurang dan sifat pasien yang malas. Tingkat pemahaman : Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik.serta komplikasi yang mungkin terjadi.Keluarga yang kooperatif dan adanya keinginan untuk hidup sehat 3. 18 . KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA 1. mengetahui dan dapat melakukan perawatan luka secara mandiri. mengetahui perilaku yang tidak baik untuk kesehatan dan hubungannya dengan penyakit yang diderita pasien. serta berusaha untuk mencegah pada keadaaan yang lebih buruk. 4.Faktor pendukung : . 2.

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan peningkatan prevalensi dari 1.1 II. DEFINISI Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005.2 Diabetes Melitus (DM) sering disebut sebagai the great initator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam suau jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.3 Dari data ini dapatlah disimpulkan bahwa faktor lingkungan terutama peningkatan kemakmuran suatu bangsa akan meningkatkan terjadinya Diabetes melitus (DM). kerja insulin atau kedua-duanya. Saat ini angka kejadian DM diperkirakan akan terus meningkat. 19 .7% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I.5-2. DM yang tidak ditangani dapat mengakibatkan berbagai penyulit atau komplikasi yang meliputi komplikasi akut dan kronik. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik yang terjadi karena kelaian sekresi insulin.3% menjadi 5. EPIDEMIOLOGI Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit endokrin yang paling sering ditemukan dan diperkirakan diderita oleh 120 juta orang di seluruh dunia.

2 8. jadi agak lebih selektif. Di Pekajangan prevalensi ini agak tinggi disebabkan di daerah itu banyak perkawinan antara kerabat. terjadinya DM di Indonesia berkisar antara 1. Tetapi kalau dilihat dari segi geografi dan budayanya yang dekat dengan Filipina.9 Prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia.Urutan 10 negara dengan jumlah pengidap Diabetes terbanyak pada penduduk dewasa di seluruh dunia 1995 dan 2025 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Negara India Cina Amerika Serikat Federasi Russia Jepang Brazil Indonesia Pakistan Meksiko Ukraine Semua negara lain Jumlah 135. suatu desa dekat Semarang.5 Urutan Negara 2025 (juta) 57.5 103.8 8.4 16.3 4.Tabel 5.7 11.6 21.8 3.9 1 2 3 India Cina Amerika Serikat Pakistan 14. Waspadji menyimpulkan mungkin angka itu tinggi karena pada studi itu populasinya terdiri dari dari orang-orang yang datang dengan suarela.6 8.0 13.5 4.2 37.3 3. kecuali di dua tempat yaitu di Pekajangan.3 300 6.4 dengan 1.3 % dan di Manado 6%.4 12.9 4 1995 (juta) 19. Sedangkan di Manado.6 49.9 4. 2.6 %.7 5 6 7 8 9 10 Indonesia Federasi Russia Meksiko Brazil Mesir Jepang 11. ada 20 .6 12.

3 Jangka waktu 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien Diabetes Melitus (DM) yang jauh lebih besar yaitu 86138%.7% di daerah rural.5%. Gaya hidup yang kebarat-baratan : 1) Penghasilan per capita tinggi 2) Restoran siap santap 3)Teknologi canggih menimbulkan sedentary life. Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 di daerah Depok didapatkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 14. Meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes menjadi lebih panjang.85-9. prevalensi terakhir tahun 2005 mencapai 12.kemungkinan prevalensi di Manado tinggi karena prevalensi di Filipina juga tinggi. Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi d.4%-12% di daerah urban dan 3. demikian juga di Makassar. kurang gerak badan c.7%. Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut diantaranya:4 a. Melihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global seperti disebutkan di atas. yaitu sekitar 8. maka dengan demikian dapat dimingerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia akan meningkat dengan drastis. Faktor demografi : 1) Jumlah penduduk meningkat 2) Penduduk usia lanjut betambah banyak 3) Urbanisasi makin tak terkendali b.KLASIFIKASI Klasifikasi DM dapat dilihat seperti berikut:1 21 . III.

Energi pada ”mesin” tubuh manusia berasal dari bahan makanan yang dimakan sehari-hari. Di samping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh berfungsi dengan baik. zat makanan harus masuk dulu ke dalam sel untuk dapat diolah. 4 Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar. Proses 22 . • Tipe 2 Autoimun • Idiopatik Bevariasi. Di dalam sel. zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit. Klasifikasi etiologis DM Tipe Tipe 1 Penerangan Destruksi sel beta. umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut.PATOFISIOLOGI Tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi Tipe spesifik lain insulin disertai resistensi insulin. • Defek genetik fungsi sel beta • • • • • • • DM Gestasional Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pankreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM IV. protein dan lemak.Tabel 6. yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. yang terdiri dari karbohidrat.

hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak. malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang.ini disebut metabolisme.4 Penyebab resistensi insulin pada NIDDM sebenarnya tidak begitu jelas tetapi faktor-faktor di bahwa ini banyak berperan :4     Obesitas terutama yang berbentuk sentral Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat Kurang gerak badan Faktor keturunan (herediter) 23 . Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) menyebabkan hancurnya sel beta. Keadaan ini disebut sebagai resistensi insulin.4 Diabetes Melitus (DM) tipe 1 disebabkan adanya reaksi otoimun yang disebabkan oleh peradangan pada sel beta. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang.4 Pada Diabetes Melitus (DM) tipe 2 jumlah insulin normal. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas. Ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel beta yang disebut Islet Cell Antibody (ICA). maka glukosa yang masuk akan sedikit. sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa dalam pembuluh darah meningkat. tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar.

sering kencing terutama pada malam hari (poliuri). Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah. penglihatan kabur. cepat lapar. gairah seks menurun. Mekanisme siklus gula darah (DM Tipe 2) V.MANIFESTASI KLINIK Gejala klasik Diabetes Melitus (DM) adalah rasa haus yang berlebihan (polidipsi). gatal-gatal. luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg .Gambar 5. 4 24 . banyak makan (polifagi) serta berat badan yang turun dengan cepat. kesemutan pada jari tangan dan kaki.

polidipsia. pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM.Gambar 6: Manifestasi Klinis Diabetes Melitus Perjalan penyakit antara Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan DM tipe 2 tidak sama. Oleh karena itu ada baiknya bila diketahui sedikit tentang perbedaannya. yaitu: 25 . untuk kelompok tanpa keluhan khas DM. diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka abnormal. VI. gatal. belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM. karena ada dampaknya pada rencana pengobatan. kesemutan. mata kabur dan difungsi ereksi pada pria. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM. kriteria diagnosis diabetes mellitus. Demikian juga pengobatannya. serta pruritus vulva pada pasien wanita. kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.1 Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) Recommendation 2010. Jika keluhan khas. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria. baik kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl. polifagia. atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah pasca pembebanan ≥ 200 mg/dl.DIAGNOSIS Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah lemah.

Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dL) Bukan DM Kadar darah (mg/dL) Kadar darah (mg/dL) glukosa Plasma vena Darah Kapiler sewaktu glukosa Plasma vena Darah Kapiler puasa <100 <90 <100 <90 Belum pasti DM 100-199 90-199 100-125 90-99 DM ≥200 ≥200 ≥126 ≥100 Gambar 7.0 mmol/l).a) A1C ≥ 6. Puasa didefinisikan sebagai tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam. Tes ini dilaksanakan pada laboratorium yang menggunakan metode bersertifikat National Glycohemoglobin Standardization Program (NGSP) dan berstandaridisasi Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) b) Glukosa puasa ≥ 126 mg/dl (7. d) Pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia: glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl (11. Tabel 7. Tes ini dilakukan sesuai protocol WHO menggunakan glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa dilarutkan dalam air. c) Glukosa plasma 2 jam ≥ 200 mg/dl (11. Langkah-langkah diagnostic DM dan gangguan toleransi glukosa 26 .5%.1 mmol/l).1 mmol/l) selama tes toleransi glukosa oral (TTGO).

VII. Terapi gizi medis 3. Latihan jasmani 4. PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup penyandang diabetes. Intervensi farmakologis 27 . Edukasi 2. Pilaar dari penatalaksaan bisa dibagikan berdasarkan berikut:1 1.

dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. setelah mendapat pelatihan khusus. adanya ketonuria. ahli gizi. petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri). berat badan yang menurun dengan cepat. keluarga dan masyarakat. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Terapi Gizi Medis Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total.Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi. Pada penyandang diabetes perlu 28 .Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat. sesuai indikasi. 2. misalnya ketoasidosis. Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. Pada keadaan tertentu.1. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien. Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. stres berat. VII. sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri.1 VII. insulin dapat segera diberikan. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin.

1 A.Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi. terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari: Karbohidrat • Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. 29 . Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi. selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. • Anjuran konsumsi kolesterol < 300 mg/hari. jenis dan jumlah makanan. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain : daging berlemak dan susu penuh (whole milk). Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori dan lemak tidak jenuh ganda < 10 %. asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake) Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula. • • • Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari • Lemak • • • Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori.

buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. soda.8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi. serat dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/1000 kkal/hari. mineral. kacang-kacangan. Kebutuhan Kalori 30 . tahu. produk susu rendah lemak. ayam tanpa kulit. cumi.Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan.1 Natrium Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok teh) garam dapur.Protein Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi. Mereka yang hipertensi. daging tanpa lemak.dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. udang. pembatasan natrium sampai 2400mg garam dapur. Termasuk pemanis tidak bergizi adalah gula akohol dan frukstosa. Pemanis alternatif Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis tak bergizi.dll).Sumber natrium antara lain adalah garam dapur. Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0.1 Serat Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan. karena mengandung vitamin. vetsin. tempe.

9 BB Lebih >23.5 BB Normal 18.100) x 1 kg.5-22. Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/ TB(m2) Klasifikasi IMT* • • • • • • BB Kurang <18. dll.100) x 1 kg.9 Obes I 25. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori / kg BB ideal. 31 . rumus dimodifikasi menjadi : Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm .0-24. Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm.0-29. umur.0 Dengan risiko 23. berat badan. aktivitas.9 Obes II >30 * Berdasarkan WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: RedeningObesity and its Treatment. ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yai tu jenis kelamin.10 % Gemuk : > BBI + 10 % Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh.Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang diabetes. BB Normal : BB ideal ± 10 % Kurus : < BBI . Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sbb: Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm .

Aktivitas Fisik atau Pekerjaan: kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat. Berat Badan: Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% ber-gantung kepada tingkat kegemukan. Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%).4.Berdasarkan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006:1 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain : 1. Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB. 4. 30% dengan aktivitas sedang. VII. 3. Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BB.1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200 -1600 kkal perhari untuk pria. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan. Jenis Kelamin: Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. di atas 70 tahun. kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun. siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. dan 50% dengan aktivitas sangat berat. 2. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien. dikurangi 10% untuk usia 60 s/d 69 tahun dan dikurangi 20%. Latihan jasmani 32 . sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain.Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000 . Umur: Untuk pasien usia di atas 40 tahun. pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya.

4. 2. Contoh : bila dipilih jogging 30 menit.Interval Latihan dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat. 3.Progressive 33 . 1.Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit).6 Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama + 30 menit yang sifatnya CRIPE ( Continous Rhytmical Interval Progressive Endurace training ). intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan. maka selama 30 menit pasien melakukan jogging tanpa istirahat. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. dan berenang. yaitu otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur. Dapat disimpulkan latihan jasmani yang dituntut pada penderita DM mempunyai syarat-syarat seperti berikut:1. berkebun harus tetap dilakukan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 . merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2.Rytmical Latihan olah raga harus dipilih yang berirama. Contoh : jalan cepat diselingi dengan jalan lambat. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. jogging. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki.Continous Latihan harus berkesinambungan dan dilakukan terus-menerus tanpa henti. Untuk mereka yang relatif sehat. menggunakan tangga. bersepeda santai.

jogging. Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani ini adalah jangan sampai memulai olah raga sebelum makan. dan berenang. membawa tanda pengenal sebagai pasien DM dalam pengobatan. 34 . dan memeriksa kaki dengan cermat setelah berolahraga. harus membawa permen. jogging. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin. sesuai umur). Sasaran Heart Rate = 75-85 % dari Maksimum Heart Rate Maksimum Heart Rate= 220-umur 5. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. bersepeda santai. berenang dan bersepeda.Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan sampai hingga mencapai 30-60 menit. didampingi oleh orang yang tahu bagaimana cara mengatasi hipoglikemia. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas – malasan. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. seperti jalan (jalan santai/cepat. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik seperti jalan kaki. harus menggunakan sepatu yang pas. Sedapat mungkin mencapai zona sasaran atau zona latihan yaitu 75-85% denyut nadi maksimal yang dapat dihitung dengan cara sbb : DNM = 220 – Umur ( dalam Tahun ) Kegiatan jasmani sehari – hari dan latihan jasmani secara teratur ( 3 – 4 kali seminggu selama ± 30 menit ) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2.Endurance Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi.

namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Intervensi Farmakologis Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. tiazolidindion C. OHO dibagi menjadi 4 golongan: A. dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. A.VII. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral (OHO)1 Berdasarkan cara kerjanya. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid B. gangguan faal ginjal dan hati. tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua. penghambat glukoneogenesis (metformin) D. 2. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat 35 . 1. penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa. Pemicu Sekresi Insulin 1.5.

C. Metformin dapat memberikan efek samping mual. di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. gagal jantung). renjatan. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.vaskular. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1. Penghambat glukoneogenesis Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). 36 .5 mg/dL) dan hati. Penambah sensitivitas terhadap insulin Tiazolidindion Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-γ). sepsis. serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro. Terutama dipakai pada penyandang Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 diabetes gemuk. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa.fenilalanin). sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. B.

Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan: • • Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik Hiperglikemia hiperosmolar non ketotikHiperglikemia dengan asidosis laktat • • Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.Cara Pemberian OHO. Nateglinid : sesaat/ sebelum makan Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan Penghambat glukosidase α (Acarbose) : bersama makan suapan pertama Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan. 1. terdiri dari: OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah. sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.D. • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal. 37 . Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal • • Sulfonilurea generasi I & II : 15 –30 menit sebelum makan Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan Repaglinid. • • • • 2. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus.

Insulin kerja pendek (short acting insulin) c. yakni: a. yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau 38 . insulin kerja panjang (long acting insulin). insulin terbagi menjadi empat jenis. stroke) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO • • Jenis dan lama kerja insulin Berdasar lama kerja. harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) b. IMA. Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani. bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini.• • Stres berat (infeksi sistemik. Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) d. Untuk kombinasi OHO dan insulin. Terapi dengan OHO kombinasi. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai. dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. operasi besar. untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah.

Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.1 Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali. maka obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja. teratur Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada 39 .Promosi Perilaku Sehat Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan kesehatan. dan tenaga kesehatan lain.1. perawat. kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya.6. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan perubahan perilaku. Perilaku yang diharapkan adalah: • • • • Mengikuti pola makan sehat Meningkatkan kegiatan jasmani Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman.6. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter. VII.insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. VII. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. ahli diet.00. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi.

VIII. perhatikan keinginan pasien Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan terjadinya kecemasan.• • • Melakukan perawatan kaki secara berkala Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana.6.6 40 . dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes. dimulai dengan hal-hal yang sederhana Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulas Diskusikan program pengobatan secara terbuka. yaitu kemampuan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes) Dalam menjalankan tugasnya. tenaga kesehatan memerlukan landasan empati. KOMPLIKASI1. VII. • Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah: • • • • • • • Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari Memberikan informasi secara bertahap.2.

apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan.PENGENDALIAN DM Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. Demikian pula status gizi dan tekanan darah . Penyulit akut Penyulit akut DM sampai saat ini masih merupakan kegawatan yang harus ditangani dengan tepat dan benar karena hanya dengan cara itulah angka kematiannya dapat ditekan serendah mungkin.Dalam perjalanan penyakit DM. 41 . dapat terjadi penyulit akut dan menahun I. DM terkndali baik. Makroangiopati. diperlukan pengendalian DM yang baik yag merupakan sasaran terapi. yang melibatkan :  Pembuluh darah jantung  Pembuluh darah tepi  Pembuluh darah otak 2. Penyulit menahun 1. Mikroangiopati:   3. Neuropati Retinopati diabetik Nefropati diabetik IX.  Ketoasidosis diabetik  Hiperosmolar nonketotik  Hipoglikemia II.

144 < 6.5 Daftar Pustaka 42 .Kriteria pengendalian DM Baik GD puasa GD 2 jam pp A1C Kolesterol total LDL HDL Trigliserida IMT Tekanan darah 80 .5 < 200 < 100 >45 < 150 18.109 80 . dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat.5 – 8 200 – 239 100 – 129 Buruk ≥ 126 ≥ 180 >8 ≥ 240 ≥ 130 Sumber : Sudoyo Aru 7 X.9 < 130/80 150 – 199 23 – 25 130 – 140 / 80 . sisanya dapat mengalami kebutaan.90 ≥ 200 >25 >140/90 Sedang 110 – 125 145 – 179 6.5 – 22. PROGNOSIS Sekitar 60% pasien DM yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang normal.Tabel 8. gagal ginjal kronis.

Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Jakarta: 2004. Kapita selekta kedokteran ed III jl I. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Indria P.W. Waspadji S. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 7. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed IV. 5. Supartondo. Hal 7-14. PB Perkeni.usu.Accessed on 8th February 2011. Subekti I (2004). Sudoyo Aru. Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Indonesia. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. 1864-7. 2. Diabetes Melitus Tipe 2.id/handle/123456789/28497 43 . Jakarta: 2006. Ariani Y. Suryono S. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. jl III.Available at http://repository.Jakarta:2011. Jakarta: 2003. hal 28-58. Penatalaksanaan diabetes mellitus terpadu.Sumatera:2011. Hal 217-23. Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Kadar Gula Darah[Website]. 4. 8. 3. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 4th. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : 2002. hal 375-7. Yunir Em. dkk.ac. 9. Jakarta: 2006. Universitas Sumatera Utara Repository. Jakarta: 2007. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta : 2001 6. Mansjoer Arif. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dkk. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.1. Soebardi Suharko.

LAMPIRAN 44 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful