P. 1
KDK_DM(jadi)

KDK_DM(jadi)

|Views: 179|Likes:
Published by Randi Dwiyanto

More info:

Published by: Randi Dwiyanto on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA
  • II.PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH
  • III.RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH DILAKUKAN
  • IV.TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN
  • V.IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA
  • VI.IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
  • VII.1. Edukasi
  • VII.4. Latihan jasmani
  • VII.5. Intervensi Farmakologis
  • VII.6.1. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes
  • VII.6.2. Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes)
  • VIII. KOMPLIKASI1,6
  • IX.PENGENDALIAN DM
  • X. PROGNOSIS

BAB I LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

I. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA a. Identitas Pasien Nama Jenis kelamin Usia Status Pernikahan Alamat : Ny. Jumiyati : Perempuan : 42 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Islam : Jawa : SD / Sederajat : Ibu Rumah Tangga

b. Identitas Kepala Keluarga Nama Jenis Kelamin : Tn. Bukhori : Laki-laki

1

Umur Status Pernikahan Alamat

: 44 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang

Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan

: Islam : Jawa : SD / Sederajat : Buruh tani

II. PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Kandung

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

2

Tabel 2. Daftar Anggota Yang Tinggal Serumah

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

Bukhor i

Jum iyati

Herm awant

Safira

oo

Keterangan : : laki-laki

3

: perempuan

: riwayat DM

Gambar 1. Pohon Keluarga

III. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH DILAKUKAN Anamnesis Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 18 Januari 2012 pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB di rumah pasien di Desa Tuksongo RT/TW 001/004 Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang.

4

Sebelumnya pasien pernah berobat ke Puskesmas Borobudur lalu dirujuk ke RSUD Muntilan 1 bulan yang lalu setelah sebelumnya merasakan nyeri hilang timbul dan terasa agak kesemutan pada jempol kaki kiri. Pasien mengaku bahwa sebelumnya terdapat luka kecil di jempol kaki kiri sejak 1 minggu sebelum berobat ke Puskesmas namun tidak mengetahui sebab dari luka tersebut (pasien juga bercerita bahwa sudah terdiagnosi kencing manis oleh dokter Puskesmas). Metformin (3x/hari). Riwayat Penyakit Saat Datang Pertama (18 Januari 2012) Pasien mengeluh nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu. Tablet Vitamin (1x/hari) dan Rivanol untuk ganti perban. sering haus dan kencing terutama pada malam hari. Pasien mengaku sudah datang ke RSUD Muntilan untuk kontrol.a. bengkak dan terdapat bagian yang berwarna putih kekuningan. Nyeri dirasakan pada luka yang terdapat di jempol kaki kiri. namun poli Bedah sudah tutup dikarenakan pasien datang terlalu siang. Pada saat kunjungan. Di RSUD Muntilan. mudah lelah. Pasca rawat inap. Tetrasiklin (2x/hari). Kemudian luka makin meluas. selain itu muncul nanah yang berbau busuk dan kadang keluar sedikit darah. Pasien hanya minum obat 1x/hari dan menu makanan harian pasien hanya talas yang direbus (kadang kentang) serta hanya minum air rebusan 5 . luka pasien di Debrideman dan pasien dirawat selama 5 hari. pasien mengaku makin merasa lemas. Keluhan Utama Nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu b. bekas luka dibalut perban dan pasien diberi obat minum yaitu. Karena luka dirasa makin mengganggu. pasien membuka balutan perban namun tidak menutup kembali. hanya dibersihkan dengan air keran dan dibiarkan terbuka.

kemudian pasien didiagnosis kencing manis (Diabetes Mellitus) oleh dokter Puskesmas setelah pasien berobat. penyakit jantung. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak memiliki riwayat seperti ini namun pasien telah memiliki riwayat gejalan sering haus. asma dan alergi disangkal. Pasien sudah diberi obat (Metformin 2x/hari). penyakit jantung. tinggi. c. namun pasien jarang minum obat. sering kencing terutama pada malam hari dan sering lelah sejak 1 tahun yang lalu. namun pasien tidak mengetahui penyebabnya. Riwayat darah tinggi. pasien tidak pernah olahraga. konsistensi lunak berwarna coklat dan tidak ada darah. tidak minum minuman beralkohol serta kopi. Riwayat Penyakit Keluarga Ayah pasien mengalami gejala serupa dengan pasien dan sudah meninggal. berwarna kuning jernih. batuk dan pilek disangkal oleh pasien. mual.Demam. BAK > 6 kali sehari. d. tidak nyeri serta tidak ada darah. muntah. tidak berpasir. Riwayat darah Pemeriksaan Fisik Tanggal Keadaan umum Kesadaran : Tampak Sakit sedang : Compos mentis 6 . asma dan alergi disangkal. BAB satu kali sehari. Pasien adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah serta tidak pernah aktif dalam kegiatan desa.

deviasi septum (-) : pucat (-). faring hiperemis (-). pembesaran KGB (-/-) : Paru .30 C : 28x/menit TB : 155 cm BB : 44 kg Status Generalis  Kepala  Mata : Normocefali : Konjungtiva anemis (-/-). sama tinggi. gerak thoraks pada pernafasan simetris. oedem (-). granulasi (-). sklera ikterik (-/-)  Telinga: Normotia. nyeri tekan (-)  Hidung  Bibir  Tenggorok  Leher  Thoraks : Normosepti. tidak ada bagian yang tertinggal. simetris. retraksi (-/-) Palpasi : Gerak nafas simetris. sama kuat 7 . benjolan (-). sekret (-).Tanda vital: Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi Suhu Pernapasan : 88 x/menit : 36. vokal fremitus simetris. nyeri telan (-) : Trakhea di tengah. sama tinggi. tidak ada bagian yang tertinggal. sianosis (-) : T1-T1.paru - Inspeksi : Bentuk dada normal.

8 . Perkusi : Timpani di seluruh lapangan abdomen. defense muscular (-). Palpasi : Teraba lemas. ballotemem ginjal kanan dan kiri (-).- Perkusi : Kedua hemitoraks berbunyi sonor. peranjakan paru positive kira-kira satu sela iga - Auskultasi : Suara napas vesikuler. gallop (-)  Abdomen Inspeksi : Bentuk abdomen simetris. tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas. batas jantung kiri setinggi ics V 2 cm garis midklavikularis kiri. batas paru lambung sekitar ics VI. iktus kordis terlihat pada ICS V 2 cm lateral dari garis mid klavikularis kiri Palpasi : Iktus cordis teraba di ics V 2 cm lateral dari garis mid klavikularis kiri Perkusi : Tidak ada nyeri ketuk. rhonchi (-/-). simetris. batas jantung kanan pada garis sternalis kiri setinggi ics IV. rata. batas paru hepar setinggi ics V. batas atas jantung kiri setinggi ics III pada garis sternalis kiri Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler. mendatar pada keadaan statis/dinamis. Auskultasi : Bising usus 3x/menit. wheezing (-/-) Jantung Inspeksi : Bentuk dada normal. murmur (-). tidak teraba benjolan. tidak ada pembesaran hepar dan lien.

Jumiyati Diagnosis Banding  Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol  DM tipe II Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang • Belum dilakukan pemeriksaan laboratorium 9 . Ekstremitas - Inspeksi : Bentuk normal simetris. edema (-/-). deformitas (-). sianosis (-/-). edema (-/-).tampak kemerahan di sekitar ulkus - Palpasi : Suhu hangat. Terdapat ulkus di jari I kaki kiri dengan ukuran 2X3 cm . Ulkus Diabetikum pada Digiti 1 pedis sinistra pasien Ny. tampak pus dan sedikit darah pada ulkus. Gambar 2.

Perilaku yang diharapkan adalah:  Mengikuti pola makan sehat  Meningkatkan kegiatan jasmani  Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusussecara aman. luka hanya dicuci dengan air keran. pola makan pasien tidak teratur dan jenis makanannya tidak 10 . teratur  Melakukan perawatan kaki secara berkala Hasil Penatalaksanaan Medis Pasien rutin minum obat namun luka tidak dibalut perban kembali.Diagnosis Kerja Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol Rencana Penatalaksanaan Tatalaksana medikamentosa (oral) yang telah diberikan : • • Tetracyclin 500 mg (2x/hari) Metformin 500 mg (2x/hari) Rivanol Vitamin • • Tatalaksana nonmedikamentosa Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat.

beranekaragam. GDP. Faktor pendukung :  Pasien selalu minum obat secara teratur. gejala 3P berkurang. Selain itu. serta tidak pernah melakukan aktifitas fisik seperti olahraga. Tabel Permasalahan Pada Pasien No. GD 2jam PP) membaik. IV. Pasien masih sering lemas dan mudah lelah. TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN Tabel 3. Kondisi rumah yang kurang sehat Pencahayaan kurang Ventilasi kurang Rumah yang berdebu Lantai tanah Sumber air dan kamar mandi di luar rumah : ulkus diabetic membaik. 1. sering haus dan sering kencing terutama malam hari. namun pasien mengaku masih merasakan rasa nyeri yang hilang timbul. Resiko & masalah kesehatan Luka di jempol kaki kiri akibat diabetes Rencana pembinaan Pemberian obat dan edukasi untuk merawat lukanya dan menjaga kadar gula agar tetap stabil Sasaran Pasien dan kelurga 11 . luka makin bernanah dan berbau busuk. hasil Faktor penghambat:  Indikator keberhasilan pemeriksaan laboratorium (GDS.

Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti listrik dan makan. Pasien tidak mengetahui secara jelas tentang penyakit yang dideritanya Edukasi mengenai penyakit DM. dan cara penanganannya serta komplikasi nya Pasien dan keluarga V. lantai tanah Edukasi mengenai cara membersihkan dan menata rumah. c.2. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA a. ventilasi dan pencahayaan yang kurang. Pasien mempunyai kartu Jamkesmas. Fungsi Pendidikan Penderita bersekolah sampai kelas 6 SD. Lingkungan rumah yang berdebu. Fungsi Psikologis Penderita tinggal bersama suami dan kedua anaknya. 12 . Sedangkan penderita yang mengelola penghasilan keluarga. sehingga banyak menghabiskan waktu di rumah. Pendapatan perbulan kira-kira Rp. 700. dan banyak waktu bersama keluarga. Dimana hubungan penderita dengan keluarga baik.000. faktor resiko. Fungsi Biologis Dari wawancara dengan penderita diperoleh keterangan bahwa ayah penderita pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Semua anak penderita juga bersekolah. b. Fungsi Ekonomi Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh suami dan anak pertamanya. Pasien dan keluarga 3. Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga. d.paling tinggi sampai jenjang SMA.

VI. maka variasi makanan sebagai berikut : kentang dan talas. Air minum berasal dari air sumur galian yang dimasak sendiri. f. Faktor Lingkungan Tinggal dalam lingkungan kumuh. Jenis makanan dalam keluarga ini kurang bervariasi. Penderita dan keluarga dapat diterima dengan baik di lingkungan rumahnya. Fungsi Religius Penderita dan keluarga memeluk agama Islam. menjalankan ibadah agama secara rutin (sholat). Pencahayaan di dalam rumah sangat kurang dan sirkulasi udara tidak berjalan lancar. untuk minumnya air putih atau teh tawar. Karena penderita mempunyai DM. IDENTIFIKASI KESEHATAN a. Komunikasi dengan tetangga baik. POLA KONSUMSI PENDERITA Frekuensi makan rata-rata 2x sehari. Fungsi Sosial dan Budaya Penderita dan keluarga tinggal di Desa Tuksongo di kawasan pemukiman kumuh yang penduduknya tidak terlalu padat. b. dimana kebersihan di dalam rumah sangat kurang. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Faktor Perilaku Penderita seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak aktif mengikuti kegiatan d lingkungan desa. Sumber air minum berasal dari sumur pompa dan dimasak 13 . Keluarga penderita tidak aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat desa.e. Penderita biasanya makan di rumah.

Tata letak barang di rumah cukup rapi. Pembuangan air limbah ke got dan saluran limbah mengalir lancar. Jalan di 14 . Faktor Sarana pelayanan kesehatan Terdapat Puskesmas Borobudur yang berjarak > 5 km. dinding kayu. 1 dapur di bagian belakang rumah. Rumah tidak mempunyai langit-langit. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH a.sebelum diminum. Air minum dimasak sendiri. Fasilitas MCK menggunakan jamban berleher angsa dan sudah memiliki septic tank yang berada di wc umum yang berjarak 3 m. Rumah tersebut ditempati oleh 4 orang. Gambaran Lingkungan Rumah Rumah pasien terletak di Desa Tuksongo. dan tidak tersedianya tempat pembuangan sampah di luar rumah. Faktor keturunan Ayah penderita memiliki riwayat DM. Ventilasi dan jendela yang kurang memadai.Tidak ada tempat pembuangan sampah. Penerangan dalam rumah dan kamar kurang sehingga rumah gelap dan terasa lembab. bentuk bangunan 1 lantai. VII. Untuk pembuangan limbah. yaitu dengan luas < 10 % dan jarang dibuka. Sumber air bersih dari sumur pompa tangan untuk minum maupun cuci dan masak. Kecamatan Borobudur. c. Cahaya matahari masuk lewat pintu dan jendela. lantai dari tanah. Buang air besar menggunakan jamban leher angsa di wc umum dekat rumah yang langsung dibuang ke septictank. d. Kabupaten Magelang.Secara umum gambaran rumah terdiri dari 2 kamar tidur. tidak ada lubang asap dapur. dengan ukuran rumah 7 x 7 m2. Kebersihan dapur kurang. dibuang ke got dan mengalir ke sungai.

Kebersihan lingkungan di sekitar rumah cukup KAMAR TIDUR I DAPUR KAND ANG AYAM KAMAR TIDUR II GUDANG RUANG KELUARGA RUANG TAMU WC umum Gambar 3. Fungsi Biologis • Pasien baru pertama kali mengalami penyakit ini. Ayah pasien memiliki riwayat DM • b. Fungsi Psikologis • • Hubungan pasien dengan keluarga terjalin baik Hubungan sosial dengan tetangga dan kerabat baik. c.depan rumah lebarnya 6 meter terbuat dari tanah . Denah Rumah VIII. DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA a. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan 15 .

IX. Faktor Perilaku Pasien tinggal di rumah yang pencahayaannya kurang baik dan ventilasi udara di rumah kurang sehingga sirkulasi udara kurang baik dan lantai yang tidak kedap air (tanah) sehingga kebersihan kurang terjaga. Fungsi Religius dan Sosial Budaya Termasuk keluarga yang taat beragama. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA 16 .Kesan sosial ekonomi kurang dilihat dari pendapatan Rp 700. Faktor Non Perilaku Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup jauh. Hubungan keluarga dan pasien dengan tetangga baik. Tidak terdapat keterbatasan hubungan antara pasien dan masyarakat. f. Jarak antara rumah pasien dengan puskesmas > 5 km. d.000 per bulan. e. komunikasi berjalan dengan lancar.

GENETIK Ayah kandung memiliki riwayat DM LINGKUNGA N Pencahayaan kurang YANKES Dokter puskesmas Bidan STATUS KESEHATAN PERILAKU Ventilasi kurang Lantai tanah Gambar 4. data keluarga pasien. gambaran perilaku kesehatan dan mendapatkan foto – foto keadaan rumah pasien. penatalaksanaan DM. Pembinaan dan Hasil Kegiatan Tanggal Kegiatan yang dilakukan Keluarga yang terlibat Hasil Kegiatan 18 januari 2012 Melakukan pemeriksaan kepada pasien dan mengamati keadaan kesehatan rumah dan lingkungan sekitar Pasien dan keluarga Mendapatkan diagnosis kerja pasien. PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN Tabel 4. Diagram Realita X. faktor risiko DM. pola makan pasien DM Pasien dan keluarga Pasien dan anak pasien dapat memahami penjelasan yang diberikan dan diharapkan dapat merubah pola hidup 17 . 21 Januari 2012 Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit DM. modifikasi pola hidup pasien DM.

18 . Faktor penyulit : keadaan ekonomi yang kurang dan sifat pasien yang malas. 4.serta komplikasi yang mungkin terjadi. Indikator keberhasilan : pasien mengetahui tentang penyakit DM. 2. KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA 1.Keluarga yang kooperatif dan adanya keinginan untuk hidup sehat 3. Tingkat pemahaman : Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik. serta berusaha untuk mencegah pada keadaaan yang lebih buruk. mengetahui dan dapat melakukan perawatan luka secara mandiri.Penderita dan keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan tentang DM dan pola hidup sehat untuk penderita DM . Selain itu juga menjelaskan cara perawatan luka dan menganjurkan untuk rutin kontrol ke Rumah Sakit 1x/bulan untuk cek laboratorium XI. mengetahui perilaku yang tidak baik untuk kesehatan dan hubungannya dengan penyakit yang diderita pasien.Faktor pendukung : .

3% menjadi 5.2 Diabetes Melitus (DM) sering disebut sebagai the great initator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan peningkatan prevalensi dari 1. DM yang tidak ditangani dapat mengakibatkan berbagai penyulit atau komplikasi yang meliputi komplikasi akut dan kronik. DEFINISI Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I.1 II.7% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. kerja insulin atau kedua-duanya.3 Dari data ini dapatlah disimpulkan bahwa faktor lingkungan terutama peningkatan kemakmuran suatu bangsa akan meningkatkan terjadinya Diabetes melitus (DM). EPIDEMIOLOGI Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit endokrin yang paling sering ditemukan dan diperkirakan diderita oleh 120 juta orang di seluruh dunia. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik yang terjadi karena kelaian sekresi insulin.5-2. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam suau jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin. Saat ini angka kejadian DM diperkirakan akan terus meningkat. 19 .

3 3.4 16.Tabel 5.8 8.5 4. terjadinya DM di Indonesia berkisar antara 1. Waspadji menyimpulkan mungkin angka itu tinggi karena pada studi itu populasinya terdiri dari dari orang-orang yang datang dengan suarela.3 % dan di Manado 6%. kecuali di dua tempat yaitu di Pekajangan.6 %.9 4.6 21.6 8.Urutan 10 negara dengan jumlah pengidap Diabetes terbanyak pada penduduk dewasa di seluruh dunia 1995 dan 2025 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Negara India Cina Amerika Serikat Federasi Russia Jepang Brazil Indonesia Pakistan Meksiko Ukraine Semua negara lain Jumlah 135.9 1 2 3 India Cina Amerika Serikat Pakistan 14.8 3.2 37.6 49.7 11.0 13.9 Prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia.4 12.4 dengan 1.5 103.3 4. Tetapi kalau dilihat dari segi geografi dan budayanya yang dekat dengan Filipina. ada 20 .7 5 6 7 8 9 10 Indonesia Federasi Russia Meksiko Brazil Mesir Jepang 11. 2. jadi agak lebih selektif.6 12. suatu desa dekat Semarang.9 4 1995 (juta) 19.2 8. Sedangkan di Manado.5 Urutan Negara 2025 (juta) 57. Di Pekajangan prevalensi ini agak tinggi disebabkan di daerah itu banyak perkawinan antara kerabat.3 300 6.

kurang gerak badan c.4%-12% di daerah urban dan 3.7% di daerah rural.7%. Meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes menjadi lebih panjang.3 Jangka waktu 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien Diabetes Melitus (DM) yang jauh lebih besar yaitu 86138%.kemungkinan prevalensi di Manado tinggi karena prevalensi di Filipina juga tinggi. yaitu sekitar 8. prevalensi terakhir tahun 2005 mencapai 12.5%. Gaya hidup yang kebarat-baratan : 1) Penghasilan per capita tinggi 2) Restoran siap santap 3)Teknologi canggih menimbulkan sedentary life.85-9. Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi d.KLASIFIKASI Klasifikasi DM dapat dilihat seperti berikut:1 21 . demikian juga di Makassar. Melihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global seperti disebutkan di atas. Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut diantaranya:4 a. Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 di daerah Depok didapatkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 14. maka dengan demikian dapat dimingerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia akan meningkat dengan drastis. Faktor demografi : 1) Jumlah penduduk meningkat 2) Penduduk usia lanjut betambah banyak 3) Urbanisasi makin tak terkendali b. III.

4 Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar. • Defek genetik fungsi sel beta • • • • • • • DM Gestasional Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pankreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM IV. umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut.Tabel 6. Energi pada ”mesin” tubuh manusia berasal dari bahan makanan yang dimakan sehari-hari. Di samping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh berfungsi dengan baik. Klasifikasi etiologis DM Tipe Tipe 1 Penerangan Destruksi sel beta. protein dan lemak. zat makanan harus masuk dulu ke dalam sel untuk dapat diolah. yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Di dalam sel.PATOFISIOLOGI Tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. yang terdiri dari karbohidrat. Proses 22 . mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi Tipe spesifik lain insulin disertai resistensi insulin. • Tipe 2 Autoimun • Idiopatik Bevariasi. zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit.

malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang.ini disebut metabolisme.4 Penyebab resistensi insulin pada NIDDM sebenarnya tidak begitu jelas tetapi faktor-faktor di bahwa ini banyak berperan :4     Obesitas terutama yang berbentuk sentral Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat Kurang gerak badan Faktor keturunan (herediter) 23 . Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang. Keadaan ini disebut sebagai resistensi insulin.4 Pada Diabetes Melitus (DM) tipe 2 jumlah insulin normal. Ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel beta yang disebut Islet Cell Antibody (ICA). hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak. Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) menyebabkan hancurnya sel beta. tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas.4 Diabetes Melitus (DM) tipe 1 disebabkan adanya reaksi otoimun yang disebabkan oleh peradangan pada sel beta. sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa dalam pembuluh darah meningkat. untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. maka glukosa yang masuk akan sedikit. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel.

Mekanisme siklus gula darah (DM Tipe 2) V. luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg . sering kencing terutama pada malam hari (poliuri). penglihatan kabur. gatal-gatal.Gambar 5. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah. kesemutan pada jari tangan dan kaki.MANIFESTASI KLINIK Gejala klasik Diabetes Melitus (DM) adalah rasa haus yang berlebihan (polidipsi). 4 24 . banyak makan (polifagi) serta berat badan yang turun dengan cepat. gairah seks menurun. cepat lapar.

untuk kelompok tanpa keluhan khas DM. kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain. VI. atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah pasca pembebanan ≥ 200 mg/dl. mata kabur dan difungsi ereksi pada pria. kriteria diagnosis diabetes mellitus. Jika keluhan khas.DIAGNOSIS Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. polidipsia.1 Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) Recommendation 2010. polifagia. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah lemah. Oleh karena itu ada baiknya bila diketahui sedikit tentang perbedaannya. Demikian juga pengobatannya.Gambar 6: Manifestasi Klinis Diabetes Melitus Perjalan penyakit antara Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan DM tipe 2 tidak sama. diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka abnormal. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM. serta pruritus vulva pada pasien wanita. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM. gatal. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria. hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal. karena ada dampaknya pada rencana pengobatan. kesemutan. pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. baik kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl. yaitu: 25 .

a) A1C ≥ 6. Langkah-langkah diagnostic DM dan gangguan toleransi glukosa 26 . Tabel 7. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dL) Bukan DM Kadar darah (mg/dL) Kadar darah (mg/dL) glukosa Plasma vena Darah Kapiler sewaktu glukosa Plasma vena Darah Kapiler puasa <100 <90 <100 <90 Belum pasti DM 100-199 90-199 100-125 90-99 DM ≥200 ≥200 ≥126 ≥100 Gambar 7.1 mmol/l). Tes ini dilaksanakan pada laboratorium yang menggunakan metode bersertifikat National Glycohemoglobin Standardization Program (NGSP) dan berstandaridisasi Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) b) Glukosa puasa ≥ 126 mg/dl (7. d) Pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia: glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl (11.1 mmol/l) selama tes toleransi glukosa oral (TTGO). Puasa didefinisikan sebagai tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam. c) Glukosa plasma 2 jam ≥ 200 mg/dl (11.5%. Tes ini dilakukan sesuai protocol WHO menggunakan glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa dilarutkan dalam air.0 mmol/l).

PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup penyandang diabetes. Pilaar dari penatalaksaan bisa dibagikan berdasarkan berikut:1 1. Latihan jasmani 4. Intervensi farmakologis 27 . Edukasi 2.VII. Terapi gizi medis 3.

Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter. misalnya ketoasidosis. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. sesuai indikasi. keluarga dan masyarakat. VII. berat badan yang menurun dengan cepat. Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. ahli gizi. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri. Pada penyandang diabetes perlu 28 . Terapi Gizi Medis Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total.Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.1. stres berat. 2. sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri. adanya ketonuria. setelah mendapat pelatihan khusus.1 VII.Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). insulin dapat segera diberikan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien. Pada keadaan tertentu. dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi. tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri).

Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain : daging berlemak dan susu penuh (whole milk).ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan. Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi. • • • Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain. • Anjuran konsumsi kolesterol < 300 mg/hari. Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori dan lemak tidak jenuh ganda < 10 %. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan. selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi. 29 .1 A. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula. terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari: Karbohidrat • Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari • Lemak • • • Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake) Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. jenis dan jumlah makanan.

Protein Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.dll). Kebutuhan Kalori 30 . Mereka yang hipertensi. vetsin. tahu.dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/1000 kkal/hari. kacang-kacangan. cumi. produk susu rendah lemak. pembatasan natrium sampai 2400mg garam dapur. karena mengandung vitamin. ayam tanpa kulit. Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0. soda.Sumber natrium antara lain adalah garam dapur. serat dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. udang.8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi. Termasuk pemanis tidak bergizi adalah gula akohol dan frukstosa. daging tanpa lemak.1 Natrium Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok teh) garam dapur. tempe.1 Serat Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan. mineral. Pemanis alternatif Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis tak bergizi.Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan.

10 % Gemuk : > BBI + 10 % Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh. rumus dimodifikasi menjadi : Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm . umur.9 BB Lebih >23.Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang diabetes. Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm.0-24. 31 . Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/ TB(m2) Klasifikasi IMT* • • • • • • BB Kurang <18. aktivitas. dll. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori / kg BB ideal. BB Normal : BB ideal ± 10 % Kurus : < BBI .100) x 1 kg.9 Obes I 25.0-29.9 Obes II >30 * Berdasarkan WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: RedeningObesity and its Treatment. berat badan.5 BB Normal 18.0 Dengan risiko 23.100) x 1 kg.5-22. Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sbb: Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm . ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yai tu jenis kelamin.

4. Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%). Untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB. pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya. sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. 2.1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200 -1600 kkal perhari untuk pria. siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. 30% dengan aktivitas sedang. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain. dikurangi 10% untuk usia 60 s/d 69 tahun dan dikurangi 20%. kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun. Berat Badan: Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% ber-gantung kepada tingkat kegemukan. 3. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan. Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BB. Aktivitas Fisik atau Pekerjaan: kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat. Jenis Kelamin: Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria.Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000 . di atas 70 tahun.Berdasarkan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006:1 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain : 1. VII.4. dan 50% dengan aktivitas sangat berat. Umur: Untuk pasien usia di atas 40 tahun. Latihan jasmani 32 .

jogging. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar. dan berenang. Dapat disimpulkan latihan jasmani yang dituntut pada penderita DM mempunyai syarat-syarat seperti berikut:1. intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan.Continous Latihan harus berkesinambungan dan dilakukan terus-menerus tanpa henti.Interval Latihan dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat. bersepeda santai.Rytmical Latihan olah raga harus dipilih yang berirama.Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit).Progressive 33 . 1. 3. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki. Contoh : jalan cepat diselingi dengan jalan lambat.6 Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama + 30 menit yang sifatnya CRIPE ( Continous Rhytmical Interval Progressive Endurace training ). berkebun harus tetap dilakukan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 . Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. 4. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan. yaitu otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. Untuk mereka yang relatif sehat. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. maka selama 30 menit pasien melakukan jogging tanpa istirahat. 2. Contoh : bila dipilih jogging 30 menit. menggunakan tangga.

Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas – malasan. harus menggunakan sepatu yang pas. dan berenang. bersepeda santai. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik seperti jalan kaki. jogging. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. dan memeriksa kaki dengan cermat setelah berolahraga. seperti jalan (jalan santai/cepat. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin. berenang dan bersepeda. harus membawa permen. sesuai umur). Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani ini adalah jangan sampai memulai olah raga sebelum makan. jogging. Sedapat mungkin mencapai zona sasaran atau zona latihan yaitu 75-85% denyut nadi maksimal yang dapat dihitung dengan cara sbb : DNM = 220 – Umur ( dalam Tahun ) Kegiatan jasmani sehari – hari dan latihan jasmani secara teratur ( 3 – 4 kali seminggu selama ± 30 menit ) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. membawa tanda pengenal sebagai pasien DM dalam pengobatan. Sasaran Heart Rate = 75-85 % dari Maksimum Heart Rate Maksimum Heart Rate= 220-umur 5.Endurance Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi. didampingi oleh orang yang tahu bagaimana cara mengatasi hipoglikemia. 34 .Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan sampai hingga mencapai 30-60 menit.

Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua.5. 2. kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. A. tiazolidindion C.VII. tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid B. OHO dibagi menjadi 4 golongan: A. dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa. 1. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat 35 . Intervensi Farmakologis Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. gangguan faal ginjal dan hati. Pemicu Sekresi Insulin 1. Obat hipoglikemik oral (OHO)1 Berdasarkan cara kerjanya. penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. penghambat glukoneogenesis (metformin) D.

gagal jantung).fenilalanin). sepsis. B. sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. renjatan. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.vaskular. Penambah sensitivitas terhadap insulin Tiazolidindion Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-γ). serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Terutama dipakai pada penyandang Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 diabetes gemuk. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala. Penghambat glukoneogenesis Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.5 mg/dL) dan hati. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa. 36 . Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. C. Metformin dapat memberikan efek samping mual.

Insulin Insulin diperlukan pada keadaan: • • Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik Hiperglikemia hiperosmolar non ketotikHiperglikemia dengan asidosis laktat • • Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.D. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. 1. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus.Cara Pemberian OHO. dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal • • Sulfonilurea generasi I & II : 15 –30 menit sebelum makan Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan Repaglinid. Nateglinid : sesaat/ sebelum makan Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan Penghambat glukosidase α (Acarbose) : bersama makan suapan pertama Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan. 37 . sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. • • • • 2. • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal. terdiri dari: OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah.

Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani. operasi besar. IMA. stroke) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO • • Jenis dan lama kerja insulin Berdasar lama kerja. harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau 38 . yakni: a.• • Stres berat (infeksi sistemik. bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. insulin kerja panjang (long acting insulin). insulin terbagi menjadi empat jenis. Terapi dengan OHO kombinasi. Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) b. dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) d. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. Untuk kombinasi OHO dan insulin. untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Insulin kerja pendek (short acting insulin) c. Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah.

ahli diet. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil.00. Perilaku yang diharapkan adalah: • • • • Mengikuti pola makan sehat Meningkatkan kegiatan jasmani Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi. VII. VII.1 Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali. maka obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan perubahan perilaku. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter.Promosi Perilaku Sehat Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan kesehatan. dan tenaga kesehatan lain. perawat.6. kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya.insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur.6. teratur Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada 39 .1. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat.

Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes) Dalam menjalankan tugasnya.2. • Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. VIII. tenaga kesehatan memerlukan landasan empati. yaitu kemampuan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. dimulai dengan hal-hal yang sederhana Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulas Diskusikan program pengobatan secara terbuka.6. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah: • • • • • • • Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari Memberikan informasi secara bertahap. VII. dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes. KOMPLIKASI1. perhatikan keinginan pasien Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan terjadinya kecemasan.• • • Melakukan perawatan kaki secara berkala Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana.6 40 .

Neuropati Retinopati diabetik Nefropati diabetik IX. Mikroangiopati:   3. Penyulit menahun 1. Demikian pula status gizi dan tekanan darah . Penyulit akut Penyulit akut DM sampai saat ini masih merupakan kegawatan yang harus ditangani dengan tepat dan benar karena hanya dengan cara itulah angka kematiannya dapat ditekan serendah mungkin. dapat terjadi penyulit akut dan menahun I. 41 .  Ketoasidosis diabetik  Hiperosmolar nonketotik  Hipoglikemia II. DM terkndali baik. yang melibatkan :  Pembuluh darah jantung  Pembuluh darah tepi  Pembuluh darah otak 2. apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan.Dalam perjalanan penyakit DM. Makroangiopati.PENGENDALIAN DM Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. diperlukan pengendalian DM yang baik yag merupakan sasaran terapi.

9 < 130/80 150 – 199 23 – 25 130 – 140 / 80 .5 < 200 < 100 >45 < 150 18.5 – 22. PROGNOSIS Sekitar 60% pasien DM yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang normal.90 ≥ 200 >25 >140/90 Sedang 110 – 125 145 – 179 6.5 – 8 200 – 239 100 – 129 Buruk ≥ 126 ≥ 180 >8 ≥ 240 ≥ 130 Sumber : Sudoyo Aru 7 X. gagal ginjal kronis.Tabel 8. dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat. sisanya dapat mengalami kebutaan.Kriteria pengendalian DM Baik GD puasa GD 2 jam pp A1C Kolesterol total LDL HDL Trigliserida IMT Tekanan darah 80 .144 < 6.109 80 .5 Daftar Pustaka 42 .

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed IV. 2. Sudoyo Aru. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2006. Diabetes Melitus Tipe 2. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. jl III. Jakarta: 2003. Supartondo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 4th. Jakarta : 2002. Universitas Sumatera Utara Repository. dkk. Waspadji S. 5. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.ac. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Suryono S. 4. 3. Ilmu Penyakit Dalam. Soebardi Suharko.1. 9. Hal 217-23. hal 375-7. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.W. Indria P.Jakarta:2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Hal 7-14. dkk. Jakarta: 2006. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Subekti I (2004). Ariani Y. Mansjoer Arif. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004.Accessed on 8th February 2011.Available at http://repository. 8. Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Kadar Gula Darah[Website].Jakarta : 2001 6. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Sumatera:2011. PB Perkeni. Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Indonesia. 7. Jakarta: 2007.id/handle/123456789/28497 43 . hal 28-58. 1864-7. Yunir Em. Penatalaksanaan diabetes mellitus terpadu.usu. Kapita selekta kedokteran ed III jl I.

LAMPIRAN 44 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->