Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No.

4 Desember 2009: 239-252

Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan
R. HeRyanto
Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Jln. Diponegoro 57, Bandung
Sari Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya yang terletak di tepi timur Cekungan Barito, dialasi oleh batuan Pratersier berupa batuan malihan, beku, vulkanik, dan sedimen. Formasi Tanjung ini tersusun oleh batupasir kasar dan konglomerat di bagian bawah, batulempung dengan sisipan batubara dan batupasir di bagian tengah, dan perselingan batulanau dan batupasir halus dengan struktur sedimen laminasi sejajar, serta lapisan wavy - lenticular dan flaser bersisipan batupasir berbutir sedang sampai kasar di bagian atas. Seluruh runtunan batuan tersebut ditindih oleh Anggota Batulempung Formasi Tanjung. Lapisan batubara Formasi Tanjung dijumpai dengan ketebalan 50 sampai 350 cm. Secara megaskopis, lapisan batubara ini berwarna hitam, mengilap (bright - bright banded), gores warna hitam, pecahan konkoidal, dan ringan. Hasil analisis petrografi organik menunjukkan bahwa vitrinit berkembang dengan baik dalam batubara di hampir semua lajur, sedangkan inertinit berkembang dalam batubara di Lajur Timur (14,2 - 16,0 %). Kisaran reflektansi vitrinit (Rv) lapisan batubara di Lajur Barat adalah 0,43 - 0,47 %, di Lajur Tengah 0,45 %, dan di Lajur Timur 0,45 % - 0,50 %. Peringkat seluruh batubara tersebut adalah subbituminus B, berdasarkan klasifikasi ASTM. Lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan lapisan batubara di Lajur Barat dan Tengah termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada lingkungan upper sampai lower delta plain, dalam kondisi genang laut, sedangkan di Lajur Timur adalah wet forest swamp (rawa air tawar) pada lingkungan paparan banjir, dalam kondisi genang laut. Kata kunci: batubara, maseral, Formasi Tanjung, fasies, Cekungan Barito AbstrAct The Tanjung Formation in Binuang and its surrounding area, situated in the eastern margin of the Barito Basin, overlies the Pre - Tertiary rock basement that consists of metamorphic, igneous, volcanic, and sedimentary rocks. The Tanjung Formation, which are Eocene in age, is unconformably overlain by the Plio - Pleistocene Dahor Formation. The Tanjung Formation consists of coarse-grained sandstone and conglomerate in the lower part, mudstone with interbedded coal seams and sandstone in the middle part, and intercalations of mudstone and fine-grained sandstone showing parallel laminations, wavy - lenticular, and flaser beddings, with some interbedded of medium - to coarse-grained sandstones in the upper part. The rock sequence is overlain conformably by the Claystone Member of the Tanjung Formation. Coal seams in the Tanjung Formation are found to be 50 to 350 cm thick. Megascopically, the coal is black, bright to bright banded, black in streak, conchoidal, and light. Petrographic analysis indicates that the vitrinite, in general, develops within the coal seams in all of the zones, whilst inertinite developes in the Eastern Zone (14.2 - 16.0 %). Vitrinite reflectance of coal samples in the Western Zone varies from 0.43 to 0.47 %, in the Middle Zone is 0.45 %, and in the Eastern Zone is 0.45 to 0.50 %. Rank of the coal seams in all of the zones are subbituminous B, according to the ASTM classification. The depositional environment of the coal bearing sedimentary rocks and coal seams in the Western and Middle Zones was a wet forest swamp facies (backmangrove to fresh water swamp) with upper to lower delta plain environment, in a transgressive condition; whereas in the Eastern Zone was a wet forest swamp (fresh water swamp) in a flood plain fasies, and a transgressive condition. Keywords: coal, maceral, Tanjung Formation, facies, Barito Basin
Naskah diterima: 30 April 2009, revisi kesatu: 08 Mei 2009, revisi kedua: 28 Juli 2009, revisi terakhir: 02 November 2009

239

di antaranya oleh Krol (1920 dan 1925). Daerah penelitian dan sekitarnya termasuk ke dalam Lembar Amuntai (Heryanto dan Sanyoto. 1998). Analisis palinologi dilakukan oleh Polhaupessy di Lab PSG. pada batu lempung karbonan. dan melakukan pengamatan struktur sedimennya. Granit Belawaian. dan selesai dipublikasikan pada tahun 1994. 1994). selain itu juga untuk mengetahui karakteristik batubara secara mikroskopis. 4 No. Provinsi Kalimantan Selatan (Gambar 1). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik batubara dalam Formasi Tanjung. dan batuan ultrabasa (Heryanto dan Hartono. Dari ketiga metode analisis tersebut dapat diketahui karakteristik dan lingkungan pengendapan batubara Formasi Tanjung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (sekarang Pusat Survei Geologi) telah melakukan pemetaan geologi bersistem skala 1: 250. dilaksanakan pada percontoh batubara untuk mengetahui komposisi maseral dan material mineral penyusun batubara. Formasi Batununggal dan Paniungan. Dengan mengetahui komposisi maseral. Peta lokasi daerah penelitian. . van Bemmelen (1949). Daerah penelitian telah dipelajari sejak prakemerdekaan Indonesia. Metode penelitian yang dilakukan di lapangan adalah melakukan kajian terperinci untuk mengetahui runtunan batuan sedimen pembawa batubara. Vol.240 Jurnal Geologi Indonesia. memiliki endapan batubara dengan sebaran yang sangat luas. baik secara megaskopis maupun secara mikroskopis.000 baru dilakukan di beberapa tempat di antaranya Lembar Belimbing (Heryanto drr. lingkungan pengendapan batubara dapat ditafsirkan. Selain itu juga untuk mengetahui lingkungan pengendapannya baik berdasarkan petrografi organik maupun berdasarkan batuan pembawa batubara. Penelitian khu- Gambar 1..1994) dan Lembar Banjarmasin (Sikumbang dan Heryanto. Karakteristik runtunan litologi dan struktur sedimen tersebut dapat digunakan untuk penafsiran lingkungan pengendapannya. Cekungan Barito di daerah ini dialasi oleh batuan sedimen Kelompok Pitap. Analisis petrografi organik yang dilakukan oleh Suwarna di Lab Pusat Survei Geologi (PSG) dan oleh Sudiningrum di Lab Tekmira. Pemetaan geologi skala 1:100. untuk mengetahui umur dan lingkung an pengendapan batuan pembawa batubara. batuan vulkanik Kelompok Haruyan. Cekungan ini.000 di daerah ini sejak tahun 1970an. daerahnya meliputi Kabupaten Tapin dengan ibukotanya Rantau dan Kabupaten Banjar dengan ibukotanya Martapura. 4 Desember 2009: 239-252 Pendahuluan Formasi Tanjung merupakan batuan sedimen Tersier tertua yang terdapat di Cekungan Barito bagian timur. diikuti oleh Koolhoven (1933 dan 1935). sebagai salah satu cekungan tempat berakumulasinya sumber daya energi. dan Marks (1956). Penelitian ini yang dilakukan pada 2007. 2003).

Kusumah. Kalimantan Selatan (modifikasi dari Heryanto drr. Gambar 2. Di atas batuan tersebut terendapkan batulempung Formasi Paniungan dan batugamping Formasi Batununggal yang berumur akhir Kapur Awal. Keramaian. atas. Batuan sedimen Tersier tertua di daerah ini adalah Formasi Tanjung berumur Eosen Akhir yang terbagi menjadi bagian bawah. (2003). khususnya Formasi Tanjung (Kusumah. dan Heryanto drr. Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah menindih secara selaras Formasi Berai. dan Manunggul. Tidak selaras di atasnya menindih batuan sedimen Kelompok Pitap yang terdiri atas Formasi Pudak (tidak tersingkap di daerah penelitian). Kelompok ini menjemari dengan batuan gunung api Kelompok Haruyan (Formasi Pitanak dan Paau). Formasi Tanjung tertindih secara selaras oleh Formasi Berai yang berumur Oligo-Miosen. 2008. Kemudian Formasi Warukin ini ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Dahor yang berumur Plio-Plistosen. Sesar di daerah ini umumnya berupa sesar normal sampai geser normal (mendatar) (Gambar 2)..Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. 2008). yang menerobos batuan malihan berumur Jura. Kedua kelompok batuan tersebut yang menjadi alas Cekungan Barito. (2000). 2008). tengah. dan Anggota Batulempung. Batuan sedimen Tersier di daerah ini dialasi oleh batuan Pratersier yang terdiri atas granit dan diorit berumur Kapur Awal. Selanjutnya. (2002). Blok bagian turun ditempati oleh endapan kelompok batuan Tersier. 2000 a&b. berumur Kapur Akhir (Heryanto dan Hartono. Peta geologi daerah Belimbing dan sekitarnya. 2008). Sejumlah publikasi ilmiah daerah ini juga telah diterbitkan (Heryanto. . 2003). (2000). Heryanto dan Panggabean (2001 dan 2004). 1998. dan Kusumah (2008). membentuk penyesaran bongkah (block faulting). Suminto drr. dan Heryanto. Heryanto dan Hartono (2003). Formasi Berai di Cekungan Barito bagian utara dan barat menjemari dengan Formasi Montalat. 1999 a&b. Sihombing drr. TaTaan GeoloGi Geologi dan stratigrafi daerah ini tersaji dalam Gambar 2. Kalimantan Selatan (R. Heryanto) 241 sus telah dilaksanakan di antaranya oleh Hartono drr.

mengilap (bright . setempat dijumpai sisipan batupasir.3 cm). Kemudian diikuti oleh batupasir berbutir kasar berla- pis tebal sampai pejal.bright banded). Batubara ini dijumpai sebagai sisipan dengan ketebalan antara 50 sampai 450 cm. menyebar ke arah timur laut sampai dengan sebelah timur Gunung Kupang di utara daerah penelitian. Formasi Tanjung di Lajur Barat. . dan Anggota Batulempung (Gambar 3). selain itu juga dijumpai sisipan batulumpur warna kelabu sampai kehitaman mengandung lapisan tipis batubara. Di beberapa tempat.242 Jurnal Geologi Indonesia. Di beberapa tempat dijumpai perselingan batulanau dengan batupasir berbutir halus (1 . Sisipan batupasir (100 300 cm). warna kelabu terang. mulai dari muaranya di Sungai Riam Kiwa di bagian selatan daerah penelitian. tengah. serta perlapisan wavy-lenticular dan flaser (Gambar 3). Selanjutnya. dan ringan. atas.3 cm) batupasir halus warna kelabu. mengandung sisipan tipis (1 . menyebar ke arah timur laut sampai ke daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan di luar daerah penelitian. dalam batupasir kasar dijumpai struktur sedimen perlapisan silang-siur dan sejajar. 4 No. Batulempung kelabu. 4 Desember 2009: 239-252 FormaSi TanjunG Formasi Tanjung di daerah penelitian tersingkap di tiga lajur yang satu sama lain terpisahkan oleh sesar. dengan struktur sedimen perairan sejajar. Lajur Timur tersingkap di daerah Rantaunangka bagian timur (Gambar 2).2008). yaitu Lajur Barat. gores warna hitam. Tengah. batupasir konglomeratan. Bagian atas Formasi Tanjung didominasi oleh perselingan tipis batulanau dan batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen wavy dan Gambar 3. Selanjutnya. dengan ketebalan berkisar antara 20 – 50 cm. kompak. Lajur Tengah menempati Sungai Mengkaok. tersingkap mulai dari sebelah timur Astambul Kabupaten Banjar di selatan. bagian tengah didominasi oleh batulempung kelabu berselingan dengan lapisan batubara. dari tua ke muda menjadi bagian bawah. Vol. dan Anggota Batulempung Formasi Tanjung (Heryanto. tengah. Heryanto (2008) membagi secara litostratigrafis Formasi Tanjung di daerah ini. atas. dan konglomerat. setempat sampai kehitaman. berbutir sedang – kasar. setempat menunjukkan struktur sedimen silang-siur. Batubara warna hitam. dengan pecahan konkoidal. dan Timur. Bagian bawah Formasi Tanjung terdiri atas perselingan batupasir berbutir kasar. Penampang terukur bagian bawah.

Heryanto) 243 lenticular bedding. 1982. Gambar 5) dan diagram fasies GI versus TPI (Diessel. tebal 2 sampai 5 cm. Gambar 4. di Lajur Tengah teramati di daerah Mengkaok.. dan kemudian direkalkulasi menjadi GI (Gelification Index). Selain itu. 1986. serta juga flaser. setempat dijumpai batulanau-batupasir halus mengandung oksida besi dan juga gampingan. dan D (dispersed organic mater : inertodetrinit + sporinit + alginit).Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. Hasil analisis petrografi organik yang dilakukan pada delapan percontoh batubara (Tabel 1). Anggota Batulempung Formasi Tanjung terdiri atas batulempung warna kelabu kehijauan. dijumpai sisipan batupasir berbutir halus berlapis tipis. baik sebagai sisipan ataupun sebagai lensa dengan tebal 5 sampai 10 cm. Batubara Batubara Formasi Tanjung dijumpai di Lajur Barat. dijumpai pula sisipan batupasir berbutir kasar dengan ketebalan berkisar antara 1 sampai 5 m (Gambar 3). tersaji dalam Tabel 2. 1991. yaitu di lokasi 07YO07 dan 07AM05. Selanjutnya. Gambar 6). . TPI (Tissue Preservation Index). dan Lamberson drr. dan Timur dengan ketebalan 50 sampai 450 cm. Kalimantan Selatan (R. Bagian bawah Anggota Batulempung ini tidak gampingan. Tengah. Runtunan batuan sedimen pembawa batubara di Lajur Barat teramati di lokasi 07RH10 dan 07RH11. T (telovitrinit: telinit + telokolinit). Hasil rekalkulasi tersebut kemudian diplot ke dalam diagram fasies TFD (Diessel. Korelasi penampang terukur lapisan pembawa batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. sedangkan di Lajur Timur teramati di daerah Rantaunangka di lokasi 07RH01 dan 07KD02 (Gambar 2 & 4). tetapi makin ke atas secara berangsur berubah menjadi gampingan (Gambar 3). dengan struktur sedimen perarian sejajar. F (fusinit + semifusinit).

42 0.0 0.00 01.98 02.61 89. 8.6 02.1 0.4 0.0 0.00 0. 5.0 1.5 31.6 02.0 6.0 0.6 0.2 3.4 6.6 70.0 04.6 18.0 1.4 41 T F %TFD 26. 07KD02A Timur 27.4 11.0 02.4 01.0 00.0 11.6 35.2 0.0 13.6 0 0.2 0.0 00.0 0 0.4 0.6 0 0.0 7.4 01.0 02. Hasil Rekalkulasi GI.0 09.0 03.0 11.1 1.4 10.8 00.16 6.52 0.4 0.0 69.6 0.93 02.0 48.0 45.0 00.Tabel 1.44 0.6 01. 4 No.6 00.94 No Contoh LAJUR GI TPI 03.6 12.0 39.25 0.6 05. 1982).17 0.6 0.4 82.6 24 08. T = telinit + telokolinit F = fusinit + semifusinit D = inertodetrinit + sporinit + alginit .0 02.0 00.0 00.0 2. 6.2 10.07 68. F.4 57.6 23.46 02.0 05.0 0.0 06.0 0.0 00.4 6.43 97. 07AM02B Tengah 03.0 5.6 0.0 7.2 Keterangan: Lpt Sb Flu E Min I Cl Py Crb Av : inertinit : lempung : pirit : karbonat : rata-rata SBtB : liptodetrinit : suberinit : fluorinit : eksinit /liptinit : minimum F Sf Sc Idt Max : fusinit : semifusinit : sklerotinit : inertodetrinit : maksimum : Subbituminus B Tl Dt Gl V MM : telokolinit : detrovitrinit (+ desmokolinit) : gelokolinit (+ korpokolinit) : vitrinit : material mineral Sp : sporinit Cu : kutinit Re : resinit Alg : alginit Rv : reflektansi vitrinit Tabel 2.00 01.54 0.6 0.6 0.46 74.0 00.35 04.0 0.0 12.6 05.2 01.29 01.0 15.4 2.36 04.65 22.0 51.47 0.27 10.4 0.52 0.84 D Jurnal Geologi Indonesia.62 00.6 02.58 24.00 0.44 0.0 11.2 14.6 0.0 16.37 0.6 11.00 0.48 0.0 12.6 9.0 0. No.6 5.0 0 0.50 0.42 74.6 8.0 0.0 0.8 00.42 00.45 SBtB SBtB SBtB SBtB SBtB SBtB SBtB SBtB E F Sf Sc Idt I Cly Py Crb MM Min Max Av kat Rv ring Maseral Sp 00.8 0.0 14.44 0.2 0.66 21.6 07.0 0.45 0.88 0. 07RH06C 07RH01A 07RH01-I 07KD02A 07AM44B 07AM44E Tengah Timur Timur Timur Barat Barat 07AM02K Tengah 06.4 0.0 0.48 07.50 09.69 08.6 0.33 41.0 54.2 26.8 1.2 5.48 0.6 1.4 09.6 0. 4.2 10.45 0.4 0.41 17.0 1.6 52.8 2.6 0.0 0.0 00.6 0.40 0.46 0. 2.0 00.04 52.00 0.6 Cu Re Alg Lpt Sb No.43 0. Vol.6 0.6 00.0 02.4 0 0. dan D. T.61 07AM02B Tengah 03.6 1.0 0. 7.0 58.0 14.0 00.00 0.0 19.23 22. 4 Desember 2009: 239-252 Gambar 5.0 89. 3. 07AM02K Tengah 45.0 1. 07RH06C Tengah 18. 07RH01-I Timur 08.6 0.0 0.0 27.4 00.2 19.0 0.59 76.44 0. 07AM44E Barat 41.4 00.0 40. Diagram segitiga fasies (Diessel.1 00.75 01.45 04.4 5.59 00.4 2.0 0.0 0.8 0. 07AM44B Barat 05.6 01.2 00.4 65.0 16.0 7.8 0.8 0.4 0. Batubara Formasi Tanjung No 1.8 0.12 00.4 4. Hasil Analisis Petrologi Organik 244 % Pe M i n e ra l Flu 0.2 0.4 04.44 0.4 0 0.0 10. untuk batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya.0 0 7. Contoh Lajur Tl Dt Gl V 1. 07RH01A Timur 24.97 81.0 2.6 1.0 0.0 0. TPI.00 0.78 96.0 0 0.0 80.44 0.4 16.47 06.0 0.6 0.6 01.00 03.46 0.0 01.

Ketebalan runtunan batuan pada lokasi ini 15. serta perlapisan wavy.4 .6 %). dan ringan.4 .0.0 .4 %).2 . Kalimantan Selatan (R.bright banded dominan bright banded). Ketebalan runtunan pada lokasi ini adalah 7.0 .0 %). kelompok maseral eksinit (3.0.Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya.surut yang berasosiasi dengan endapan saluran atau tidal channel ataupun lingkungan delta. lingkungan yang tepat adalah lingkungan delta bagian atas (upper delta plain).0 . dan gelokolinit + korpokolinit (0. kutinit (2. Namun.10.8 m.0 .0. Runtunan batuan sedimen pembawa batubara di lajur ini menunjukkan lingkungan pasang .5 m. Kandungan inertinit (0. Jadi. 1991) untuk batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya.0 .7.8 %). dan inertodetrinit (0.9. 2007) yang merupakan kelanjutan dari Lajur Barat tersusun oleh vitrinit (16. Diagram fasies (Diessel. Batubara di Lajur Barat tidak dianalisis secara mikroskopis. lapisan batubara Formasi Tanjung di lajur ini berwarna hitam.0 %). yaitu 07AM44B dan 07AM44E (di sebelah utara di luar daerah penelitian. Lajur Barat Runtunan batuan sedimen pembawa batubara di Lajur Barat teramati di lokasi 07RH10 dan 07RH11 (Gambar 2 & 4). Runtunan ini menerus pada lokasi 07RH11.74. Heryanto) 245 Gambar 6. sporinit (0.0 . Lapisan batubara di Lajur Barat kurang berkembang baik dengan ketebalan kurang dari 1 m. lenticular.6 %) terdiri atas semifusinit (0. suberinit (0. berselingan dengan runtunan batulumpur dan batupasir halus dengan struktur sedimen laminasi.4 %).4 %). alginit (0. dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut.6 %).0. dan Lamberson drr.0 %). diikuti oleh runtunan yang terdiri atas perulangan antara batupasir berbutir kasar yang juga merupakan endapan saluran. dan fluorinit (0. Hal ini dikarenakan bagian tengah dan bagian bawah Formasi Tanjung telah tersesarkan.. Sementara . detrovitrinit + desmokolinit (11. Di beberapa tempat dijumpai material resin. Sementara itu. lapisan batubara di daerah Kandangan.6 .0 %) terdiri atas resinit (0. dengan pecahan konkoidal. menindih batulempung yang bersisipan batubara (Gambar 7).40.35.11. 1986.6 .4 %). Dalam runtunan ini terlihat bahwa lapisan batupasir lebih dominan dibandingkan dengan batulumpur.82. sklerotinit (0.0 .2 . Heryanto. gores warna hitam.2 %) dan terdiri atas telokolinit (5.2. Secara megaskopis.41.2. mengilap (bright . Runtunan batuan dari bawah ke atas dimulai dari batupasir berbutir kasar berlapis tebal yang merupakan endapan saluran.0 %).6 %).6 .0 .

Lajur Tengah Lapisan pembawa batubara di Lajur Tengah teramati secara lengkap di daerah Mengkaok. 1986. Gambar 8). menindih lapisan batubara. itu material mineral yang dijumpai dalam batubara adalah lempung ( 0. Singkapan batupasir berbutir kasar yang merupakan endapan saluran.0 . Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel. Pada bagian atas hadir perselingan antara batulempung batubaraan dan lapisan batubara.. dijumpai lapisan batupasir berbutir sedang sampai kasar. dijumpai . dan 30 .246 Jurnal Geologi Indonesia. dan flaser. dan pirit framboidal (P) (cahaya pantul). yaitu di lokasi 07YO07 dan 07AM05 (Gambar 2 dan Gambar 4).43 dan 0. 1981). fasiesnya termasuk ke dalam wet forest swamp pada lingkungan lower delta plain. menunjukkan vitrinit (V). pirit (2. Hal ini juga ditunjang dengan adanya mineral karbonat. Runtunan batuan pembawa batubara di lokasi 07AM05. dengan nilai reflektansi minimum 0. Fotomikro percontoh batubara (07AM44E). Nilai reflektansi vitrinit rata-rata (Rv) berkisar antara 0. yang menunjukkan endapan rawa. kondisi pengendapan batubara di Lajur Barat termasuk ke dalam wet forest swamp pada lingkungan upper sampai lower delta plain. Dengan demikian. hanya pada lokasi ini yang lebih dominan adalah batulumpur dengan sisipan tipis batupasir (0. dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut. dan karbonat (0. berdasarkan karakteristik runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan petrografi batubara.50 cm di bagian atas.0 %). Lokasi 07RH11.5 . Vol. Adapun dijumpainya resinit dalam jumlah cukup banyak. 4 No.42 .250 cm). serta perlapisan wavy.0 .12.50 % (Tabel 1). terlihat bahwa percontoh batubara Formasi Tanjung di Lajur Barat temasuk dalam fasies wet forest swamp dan open moor.6. 1991.0 %). bagian bawahnya dikuasai oleh perselingan batulumpur dengan batupasir berbutir halus yang memperlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar. Dijumpainya pirit framboidal (Tabel 1. 1982. lenticular. dengan tebal perlapisan batubara mulai dari puluhan sampai 300 cm (Gambar 9). berdasarkan diagram fasies GI versus TPI (Diessel. Gambar 8).0. Peringkat batubara di lajur ini adalah subbituminus B (ASTM.450 cm di bagian bawah.siur yang menunjukkan endapan saluran.46 % dan nilai reflektansi maksimum 0.0 %.0 . 4 Desember 2009: 239-252 Gambar 7. dan dalam kondisi genang laut. dengan ketebalan 200 cm. Gambar 6). serta perlapisan wavy.5 cm) yang merupakan endapan paparan banjir. ditunjang dengan kehadiran material resin. menunjukkan bahwa selama pembentukan batubara ada pengaruh air laut. Gambar 8. Runtunan perselingan batulumpur dengan batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar. Sebagai sisipan dijumpai lapisan batubara dengan ketebalan 250 .44 . lenticular. Sementara itu.0. dan dalam kondisi genang laut. secara umum hampir sama dengan lokasi sebelumnya. dan juga sisipan batulempung batubaraan.47 %. Runtunan batuan pembawa batubara pada lokasi 07YO07. dan Lamberson drr. eksinit (E).1. setempat dijumpai struktur sedimen silang . Gambar 5). Sebagai perselingan (50 . menunjukkan bahwa batubara ini berasal dari pepohonan besar yang banyak mengandung getah.

6 . Lingkungan pengendapan yang sesuai dengan asosiasi tersebut adalah lingkungan delta. dan karbonat (0. di bagian tengah penampang terukur.46 . Bombax sp. batubara di ini tersusun terutama oleh vitrinit (54.14.Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. lingkungan pengendapannya adalah backmangrove sampai rawa air tawar.6 . Adapun kelompok maseral inertinit (4. . yang berupa Discoidites borneensis.0.0 . Sehingga peringkat batubara di Lajur Tengah ini termasuk ke dalam subbituminus B (ASTM. Proxapertites cursus/operculatus.6 .1. mengilap (brightbright banded.0 %). Sementara itu.0 . Secara mikroskopis.6 %) dan detrovitrinit + desmokolinit (23.0. Retistephanocolpites williamsii.6 %). dengan bagian yang didominasi oleh batulumpur adalah lower delta plain. Acrostichum aureum.7.2. 1981). Gambar 10. alginit (0.6 %). dan Palmaepollenites kutchensis. Florschuetzia trilobata.8 %) terdiri atas kutinit (0.6. pada lokasi 07AM02 (Heryanto.44 % dan nilai reflektansi maksimum 0.6 %) (Gambar 10). berdasarkan diagram fasies GI versus TPI (Diessel. Fotomikro percontoh batubara (07RH06C) pada Lajur Tengah. kelompok maseral eksinit (2.48 % (Tabel 1). semifusinit (0.0 %).1. sedangkan material mineral yang dijumpai adalah pirit (0.1. Heryanto) 247 Gambar 9. Palaquium. Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel.4 %) yang terdiri atas telokolinit (3.0 %).89. percontoh batubara Formasi Tanjung di Lajur Tengah umumnya termasuk ke dalam fasies wet forest swamp dan terestrial forest.6. batulanau. menunjukkan vitrinit (V) dan inertinit (I) yang berupa sklerotinit (sk) dan fusinit (fs) (cahaya pantul). dengan nilai reflektansi minimum 0. dijumpai dengan ketebalan mulai dari sisipan tipis (10 .4 %).6 .19. 1982.6 %).45.0 .6 %). lapisan batubara Formasi Tanjung di lajur ini berwarna hitam.0 0.4 . sporinit (0. Kalimantan Selatan (R. dan ringan. gores warna hitam. Meyeripollis naharkotensis. setempat hadir struktur sedimen silang . Secara megaskopis.0 .4 .8 %).0 .30 cm) sampai dengan yang tebal (250 . Gambar 5). Singkapan endapan rawa pantai (coastal marsh) berupa coaly shale dan batubara berwarna hitam. Sisipan lainnya adalah batupasir berbutir sedang sampai kasar dengan ketebalan perlapisan 100 sampai 300 cm.70. Kedua lokasi ini menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara Formasi Tanjung pada Lajur Tengah adalah asosiasi lingkungan dataran banjir.siur yang menunjukkan endapan saluran.6 %).6 %). dan suberinit (0.8 .0 %) tersusun oleh sklerotinit (2. berasosiasi dengan dataran pasang surut (tidal flat). serta saluran pasang surut (tidal channel) yang berupa perlapisan batupasir kuarsa berwarna putih kecoklatan. resinit (0. Verrucatosporites usmensis. dan fusinit (0. 2008).0 .450 cm).42 0. Spinizonocostites baculatus. Runtunan ini menunjukkan endapan pasang surut.2 . dan batupasir halus berwarna kelabu. rawa. inertodetrinit (0.0.0 .5. dengan pecahan konkoidal.10. Lapisan batubara di Lajur Tengah (Gambar 4). mineral lempung (0. Berdasarkan kandungan polen dalam batuan sedimen pembawa batubara (batulempung karbonan) yakni percontoh 07AM05A dan 07AM06A. dominan bright banded). Sementara itu. terdiri atas batulempung.0 .45 %.0 %). dan pasang surut yang dipengaruhi oleh adanya saluran limpahan (crevasse splays). Durio. Nilai reflektansi vitrinit rata-rata (Rv) adalah 0. sedangkan yang dipengaruhi oleh endapan saluran (sisipan batupasir) adalah upper delta plain.

16.8 . Durio. Kandungan polen dalam batulempung karbonan pada percontoh batuan 07RH01B dan 07RH01N. dan fusinit (0.248 Jurnal Geologi Indonesia.2 . setempat terserpihkan. Vol.6 %). Sementara itu. 1991. Palmaepollenites kutchensis.11.0 %). Gambar 12. dengan dijumpainya batubara setebal lebih dari 3 m. Lajur Timur Runtunan batuan sedimen pembawa batubara Formasi Tanjung di Lajur Timur teramati di daerah Rantaunangka pada lokasi 07RH01 dan 07KD02 (Gambar 2&4).5. Gambar 6). lenticular. dominan bright). Selanjutnya. Material mineral yang dijumpai dalam batubara adalah pirit Gambar 11. 4 Desember 2009: 239-252 1986 dan Lamberson drr. dan flaser yang menunjukkan endapan pasang surut.0 . dengan sisipan tipis batupasir halus yang menunjukkan endapan paparan banjir. dan ringan (Gambar 11). mempunyai sisipan lempung batubaraan yang menunjukkan endapan rawa. Batubara warna hitam. dalam kondisi genang laut. yang setempat memperlihatkan struktur sedimen silang-siur. Gambar 12). Di atasnya ditindih oleh batulempung – batulanau warna kelabu kecoklatan. serta perlapisan wavy.0 .0 %) yang terdiri atas telokolinit (8. dengan pecahan konkoidal. Runtunan batuan tersebut berlanjut ke lokasi 07RH01.5.1.6 %) berupa resinit (0. semifusinit (0.52.6. Secara megaskopis.0 %).6 .4 %).9. Di antara runtunan tersebut banyak dijumpai sisipan batupasir berbutir sedang sampai kasar.1.2. dan dalam kondisi genang laut. Singkapan lapisan batubara di Lajur Timur (daerah Rantaunangka). fasies batubara ini adalah wet forest swamp pada lingkungan upper sampai lower delta plain.6 %). dan Palaquium. gores warna hitam.1. dan kutinit (0. Dari bawah ke atas. mencerminkan lingkungan rawa air tawar. ke arah atas dijumpai perselingan antara batulempung batubaraan dengan batubara yang menunjukkan endapan rawa.6 %. dengan pecahan konkoidal. lapisan batubara Formasi Tanjung di lajur ini berwarna hitam. Lapisan batubara di Lajur Timur dijumpai dengan ketebalan mulai dari 100 sampai 250 cm. Dengan demikian.6 . berdasarkan runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan petrografi organik.4 %). (cahaya fluorosen).80.6 %).0 . Fotomikro maseral resinit (R) pada percontoh batubara (07RH01A). 4 No. Sisipan batupasir tersebut menunjukkan endapan saluran.0 %) terdiri atas sklerotinit (9.. mengilap (bright . Selanjutnya.0 .0. Secara mikroskopis. detrovitrinit + desmokolinit (39.27.bright banded).2 .0 %). Lokasi: 07KD02. . yang berupa Verrucatosporites usmensis.6 %). ke arah atas lagi terdapat perselingan antara batulumpur dan batupasir halus dengan struktur sedimen perarian sejajar. inertodetrinit (0.4 %). dan ringan.4 .0 .0 . tempat batubara ditindih oleh batulempung warna kelabu sampai kehitaman dengan sisipan lempung batubaraan yang menunjukkan lingkungan rawa dan paparan banjir. Adapun kandungan inertinit (14. batubara di lajur ini tersusun terutama oleh vitrinit (57. Florschuetzia trilobata.0 .bright banded. sporinit (0. runtunan ini dimulai dari lokasi 07KD02. mengilap (bright . alginit (0.4 . dan gelokolinit + korpokolinit (0. lingkungan pengendapan batubara di Lajur Tengah termasuk ke dalam wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada zona upper sampai lower delta plain. gores warna hitam. kandungan eksinit (0.

dan Bustin drr. 1982. Data tersebut menunjukkan bahwa pengendapan batubara di Lajur Barat. dan dijumpai adanya material resin.2 . batupasir halus dan batulempung) setebal 9 m.8 %).0 . Heryanto) 249 (1.. Istilah litotipe bright .45 sampai 0. 1963 dalam Bustin drr. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum vitrinit berkembang baik di setiap lajur. dan kemudian kembali menjadi pasang surut.45 %.clarain (Stopes.6 . polen. diikuti oleh Lajur Tengah (4. 1983). kutinit 11.6 . sehingga woody tissue di Lajur Timur dan Tengah lebih banyak yang terbentuk menjadi semifusinit atau fusinit dibandingkan dengan di Lajur Barat. dengan pecahan konkoidal. dan di Lajur Timur 0. Eksinit berkembang di Lajur Barat (3.2.6 %.7. alginit 9. dengan nilai reflektansi minimum 0.6 %). lapisan batubara di Lajur Barat dan Tengah adalah hitam mengilap (dominan bright banded). jenis clarain diendapkan dalam kondisi air yang lebih dalam daripada vitrain.0 .Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. sporinit 10. 1919 .0 %).6 %.0.45 .43 .2 -74.bright banded (Diessel. Karenanya. Berdasarkan diagram fasies TFD (Diessel. Adapun inertinit berkembang dalam batubara di Lajur Timur (14. percontoh batubara Formasi Tanjung di Lajur Timur ini termasuk dalam fasies wet forest swamp. yang tebal singkapannya di lapangan 50 cm.0 %. kecuali batubara di Lajur Timur yang relatif lebih tinggi. diSkuSi Secara megaskopis. Posisi stratigrafi percontoh 07AM44B merupakan lapisan batubara setebal 0.9. kecuali pada contoh batubara di Lajur Barat (07AM44B). Atas dasar karakteristik runtunan batuan sedimen pembawa batubara dan petrografi organik. fluorinit 0. dalam Bustin drr.4 %). 1965) sama dengan vitrain . Gambar 5).5 m.0. Kalimantan Selatan (R. 1986 dan Lamberson drr. selanjutnya menjadi fasies wet forest swamp pada lingkungan upper delta sampai lower delta.0 %) dan Lajur Barat (0.6 %) dan Lajur Tengah (2.6 %).4 %).6. lempung ( 1. degraded peat (resin).2 %).. dan selanjutnya ditindih oleh lapisan batubara percontoh 07AM44E setebal 1. maka percontoh ini termasuk ke dalam batubara sapropelic tipe cannel yang diduga terendapkan di tepi cekungan subakuatik tersebut. dengan dijumpainya kandungan vitrinit 16. sedangkan di Lajur Tengah 0.0 % (resinit 35. Selanjutnya. gores warna hitam.. 1983).89.0 %).4 m). yang ditindih oleh lapisan serpih batubaraan (0. dengan kandungan eksinit terdiri atas spora alokhton. 1991. batubara di Lajur Timur termasuk ke dalam peringkat subbituminus B (ASTM. dimulai dari lingkungan subakuatik/laut (07AM44B).48 % dan nilai reflektansi maksimum 0. Inertinit berkembang di Lajur Timur dan Tengah dikarenakan batubara di kedua lajur tersebut dalam masa pembentukannya telah terbakar atau mengalami oksidasi biokimia (biochemical oxidation)..82. Gambar 6). Reflektansi (Rv) rata-rata batubara di Lajur Barat adalah 0.6 %.2 %). batubara di Lajur Timur terendapkan dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar) pada lingkungan paparan banjir dan dalam kondisi genang laut.4 .80.5 % (Tabel 1). kemudian ditindih oleh batuan sedimen endapan pasang surut (perselingan batulanau.0 %. 1983). suberinit 7.47 %. sedangkan di Lajur Timur dominan bright. Dengan demikian batubara di Lajur Barat dan Tengah diendapkan dalam lingkungan air yang lebih dalam dibandingkan dengan batubara di Lajur Timur.6 %. 1982. dan karbonat (0. sedangkan kandungan eksinit adalah 74. Berdasarkan litotipe (Tasch.8 .14. dan algae. Percontoh 07AM44B.0 %) diikuti oleh Lajur Timur (0.4 . sedangkan berdasarkan diagram fasies GI versus TPI (Diessel. Peringkat batubara di semua lajur temasuk ke dalam subbituminus B. termasuk batubara sapropelic. Nilai reflektansi vitrinit rata-rata (Rv) adalah 0.0 %) dan Lajur Barat (16. yang kemudian ditindih lagi oleh batuan sedimen endapan pasang-surut setebal 7 m. Hal ini dikarenakan batubara di Lajur Timur dalam pembentukannya telah mengalami proses pembakaran (fire) atau ok- .0.6 . kemudian diikuti oleh Lajur Timur (57.44 . ICCP.4 . kemudian berubah menjadi lingkungan pasang-surut. ringan.16. termasuk ke dalam wet forest swamp pada lingkungan limnic dalam kondisi genang laut.11.0 .0. Hasil analisis petrografi organik menunjukkan bahwa vitrinit berkembang dengan baik dalam batubara di Lajur Tengah (54. 1981). Kandungan vitrinit pada percontoh 07AM44B hanya 16.50 %.50 %.5 m.4 %. 1960.45 % sampai 0. yang diendapkan dalam lingkungan subakuatik di bawah kondisi anaerobik (Teichmuller.

Palmaepollenites kutchensis. Pendapat ini juga ditunjang oleh hasil pengeplotan nilai GI (Gelification Index) dan TPI (Tissue Preservation Index) ke dalam Gambar 6 (Diessel. Keadaan tersebut juga ditunjang oleh diagram fasies GI versus TPI (Diessel. dalam kondisi genang laut.6 .43 . sehingga diperkirakan percontoh ini termasuk dalam batubara jenis sapropelic tipe cannel. yang menunjukkan wet forest swamp pada lingkungan upper sampai lower delta plain.50 %) dibandingkan dengan di Lajur Tengah (0. namun di Lajur Timur nilai reflektan vitrinitnya relatif lebih tinggi. Florschuetzia trilobata. Kandungan polen Verrucatosporites usmensis. percontoh batubara Formasi Tanjung di Lajur Timur termasuk ke dalam fasies wet forest swamp. berdasarkan diagram fasies GI versus TPI (Diessel. dengan pecahan konkoidal. Tengah.50 %. Acrostichum aureum. dan Timur adalah sama. Inertinit berkembang baik dalam batubara di Lajur Timur dan Tengah. Setempat dijumpai sisipan batupasir berbutir sedang sampai kasar. Spinizonocostites baculatus. 1991). dan Palmaepollenites kutchensis.2 . dengan maseral terbanyak adalah resinit (0. Lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan batubara di Lajur Barat mulai dari lingkungan subakuatik (laut) sampai dengan upper – lower delta plain dengan fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) . Hasil analisis petrografi organik menunjukkan bahwa vitrinit berkembang dengan baik dalam batubara di semua lajur. keSimPulan Batuan sedimen pembawa batubara dalam Formasi Tanjung mnempati bagian tengah satuan. dan Palaquium pada batulempung karbonan mencerminkan lingkungan rawa air tawar. menunjukkan bahwa batubara di ketiga lajur terendapkan mulai dari lingkungan subakuatik sampai lingkungan upper dan lower delta plain. sedangkan di Lajur Tengah 0. serta perlapisan wavy. Runtunan batuan sedimen pembawa batubara di Lajur Timur didominasi oleh batulempung dan batulempung karbonan yang mencerminkan lingkungan pengendapan paparan banjir dan rawa. Durio. dan ringan.0 %).. mengilap (Lajur Timur dominan bright dan Lajur Barat dan Tengah dominan bright banded).45 %.0.43 . Durio.45 %) dan Barat (0. fasiesnya adalah wet forest swamp pada lingkungan limnic. dijumpai adanya material resin.74.45 % sampai 0. Berdasarkan diagram TFD (Diessel. Peringkat batubara di semua lajur temasuk subbituminus B. 1986. gores warna hitam. 4 Desember 2009: 239-252 sidasi biokimia (biochemical oxidation). 1991. Lapisan batubara di Lajur Barat.6 %). karakteristik lapisan batubara di Lajur Barat. Gambar 6). Proxapertites cursus/ operculatus.47 %).. dan flaser. yang terdiri atas batulempung – batulanau warna kelabu sampai kehitaman. dan di Lajur Timur 0. Palaquium. hasil analisis palinologi pada batulempung di Lajur Tengah. Hal ini sesuai dengan kenampakan megaskopis yang banyak dijumpainya material resin (getah pohon) dalam batubara.0.. dalam kondisi genang laut. 4 No. 1986. Vol. 1986 dan Lamberson drr. dengan tingkat kerapatan pohon di Lajur Barat dan Tengah relatif lebih besar daripada di Lajur Timur. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan batuan pembawa batubara di Lajur Barat dan Tengah. berada dalam lingkungan delta mulai dari upper delta sampai lower delta. 1982. dan Lamberson drr. Florschuetzia trilobata.0. 1991. Retistephanocolpites williamsii. Sementara itu.250 Jurnal Geologi Indonesia. lenticular. yang juga menunjukkan bahwa batubara ini diendapkan dalam lingkungan dengan pohon tinggi yang cukup rapat.35. Verrucatosporites usmensis. Gambar 5). yaitu berwarna hitam.45 . Selain itu. di beberapa tempat banyak mengandung kelompok maseral eksinit (3. Runtunan batuan sedimen pembawa batubara menunjukkan bahwa di Lajur Barat dan Tengah selain tersusun oleh batulempung dan endapan pasang surut juga dipengaruhi oleh adanya endapan saluran. Reflektansi vitrinit (Rv) lapisan batubara di Lajur Barat adalah 0. dan Lamberson drr. berasosiasi dengan perselingan batulumpur dan batupasir berbutir halus yang memperlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar. mencerminkan lingkungan backmangrove sampai rawa air tawar.47 %. Meyeripollis naharkotensis. Gambar 6). dengan dijumpainya Discoidites borneensis. Bombax sp. sehingga woody tissue di Lajur Timur lebih banyak yang terbentuk menjadi inertinit dan juga vitrinit dengan nilai reflektansi lebih tinggi (0. Secara megaskopis. Dijumpainya lapisan batubara jenis sapropelic tipe cannel (07AM44B) di Lajur Barat. kecuali pada percontoh batubara 07AM44B yang berbanding terbalik dengan kandungan eksinit.

Sedimentologi Formasi Tanjung di Bagian Barat. h. Ucapan Terima kasih---Ucapan terima kasih terutama ditujukan kepada Kepala Pusat Survei Geologi yang telah memberikan dukungan mulai dari penelitian lapangan sampai penulisan makalah ini. Krol. Koolhoven. Cameron. H..F. 2000a. XIV. Geologie Serie. 1963. Bandung. Verhandelingen. An appraisal of coal facies based on maceral characteristics. h. Evolusi Magmatik. U. D. Paleogeografi Cekungan Tersier Barito. Fasies. 1999a. . 1994. 2001. Proceedings 20th Symposium of Department Geology.K. Kalimantan Selatan. in the northern Meratus High (Amandit. U. Sutrisno. 2-24. h.C. On the correlation between coal fasies and depositional environment.F. 2004.. dan diskusi mengenai isi makalah ini. 2003. 16-26. Adapun lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan batubara di Lajur Timur termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar) pada lingkungan paparan banjir. H.. 2007.. R. 1918 deel. h. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. 2000b. H. Tengah dan Timur Tinggian Meratus. Over de geologie van een gedeelte van de Zuideren Oosterafdeeling van Borneo. Nederlandsch Oost-Indie. Kalimantan Selatan. di Lajur Tengah di lingkungan transisi (backmangrove . Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan IAGI 37. R. ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada rekan sejawat yang telah mendukung penelitian ini serta memberikan kritik. Kalimantan Selatan. Het primaire diamant voorkomen in Zuider .A. W. Tataan Stratigrafi. 2001. dan Panggabean. dalam kondisi genang laut. Philadelphia. 1981.. h. Heryanto. Selain itu.B. dalam kondisi genang laut. Jaarboek van het Mijnwezen. R. R. 1986. Krol. IX (93). L. Pengaruh tektonik terhadap pola deformasi batuan berumur Kapur Akhir dan Tersier (EosenMiosen) di daerah Belimbing Kalimantan Selatan. acuan American Society for Testing and Materials (ASTM). h. C. Heryanto..H. Heryanto..R. di Kalimantan Selatan.. Verhandelingen. 4 (2). R. R.). Pengendapan batuan sedimen Kelompok Pitap di bagian selatan Pegunungan Meratus. 78-93. De Mijningenieur. K. Southeast Kalimantan. Laporan Internal. Kalimantan Selatan (R. Bandung. Alimukim and paramasan Areas). R. 1935. Peta Geologi Lembar Belimbing. Petrografi Batupasir Formasi Manunggul di daerah Alimukim.. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. dan Panggabean. Heryanto.. Heryanto. 3.144.. Heryanto..19-22. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Jakarta – Indonesia.... Surono. Geological Association of Canada.. 2-19. Geologische Mijnbouw Genootschaap.D. Geologische Mijnbouw Genootschap.189-232.. Sanyoto. XIV (3). dan Sanyoto. Lingkungan pengendapan batubara di Lajur Barat mulai dari subakuatik sampai transisi (backmangrove – rawa air tawar).... Diagenesa Batupasir Formasi Manunggul di Daerah Alimukim. A. 2008. Heryanto. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. Coal Petrology : Its Principle. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. (Part 26). 1999b. R. 1998. 342-366.474-484. Kalimantan Selatan Skala 1 : 100... R. May 14. Koolhoven. Sukardi. Publikasi Khusus No 23. Heryanto.000. Heryanto. H. International Committee for Coal Petrology. sekala 1 : 250. Pennsylvania. X (109). dan Panggabean. R. sedangkan di Lajur Tengah termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada lingkungan upper sampai lower delta plain.Borneo (Voorloopige mededeeling). Australian Coal Geology. 1982. Grieve.rawa air tawar). FOSI 2nd Regional Seminar. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral.. France. 273 h.. C. U..M. dan Kalkreuth. Heryanto. Diessel. dan Hartono. 1. International Handbook of Coal Petrology – 2nd edition.000. R. W. Pusat Survei Geologi Heryanto. Jurnal Sumber Daya Geologi. h. H. saran.. L. 238-257. Surono. Evolusi Magmatik Kalimantan Selatan. W. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. 1983. Methods. Publikasi Khusus.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. h. Heryanto) 251 dalam kondisi genang laut. dan Lajur Timur di darat (rawa air tawar). h. dan Panggabean. Bandung..C. h. 2008. American Society for Testing and Materials. Sukamto. Eenige cijfers uit de 3 etages van het Eocen en uit het jong Tersier van Martapoera. h. Het primaire voorkomen van den Zuid Borneo diamant. Depositional Setting of the Sedimentary Rocks of Pitap Group. XIII (141). Diessel. Stratigraphy of the Meratus Mountains. IX (98). XIII (133). Kusumah. 1933.D. tidak dipublikasikan. The Deposition of the Pitap Group. Fakultas Teknik Geologi. 16-26. Peta Geologi Lembar Amuntai.Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya. R. Heryanto. Geologie Serie 8. 2-21. Paris. Centre National de la Recherce Scientifique. dan Agustianto. h. P. Kalimantan Selatan. University of New Castle. 138 . 11. dan Panggabean. Southeast Kalimantan. Kalimantan Selatan. P. Laporan Penelitian Proses Sedimentasi dan Tektonika Cekungan Tersier Barito Bagian Tengah.B. R. and Applications.H. Kalimantan. New South Wales. Hartono.K.. in the Meratus Mountains. D. R. 2000. Annual Book of ASTM standard. Dalam : Hartono. 47. verhandelingen. Bustin. No 23. Sukamto. South Kalimantan. 1925. (Eds. Universitas Padjadjaran Bandung. 1920. Short Course Notes.. Tesis S-2. 2003.. R.

Laporan Kegiatan Teknis. Netherlands. M. dan Kawoco. Purnamaningsih.. Teichmuller. 4 Desember 2009: 239-252 Stopes. Die Moglichkeiten der Flozgleichstellung unter Zuhilfenahme von Flozbildungdiagrammen. 2000. 1960. Palinologi Batubara Formasi Tanjung di Cekungan Barito. R. 1956.A. In: Stach. Th.N. A. A. Mackowsky. G. Peta Geologi Lembar Banjarmasin. Suminto. Gebruder Borntraeger.. 31.. The Geology of Indonesia. 1949. Suyoko.. BerlinStuttgart. M.D... Pengkajian Geologi Paleogen Daerah Kalimantan Selatan: Dengan acuan khusus palinologi batubara. Canada.. dan Kalkreuth. W. Vol.. Bergbau-Rundschau. 1994. Sihombing. 67-124. N. F. Laporan Kegiatan Teknis. P... Maryanto. Daftar Isian Kegiatan Suplemen (DIKS). M.W. Tahun Anggaran 2000... Origin of the petrographic constituents of coal. 4 No. Bustin. Kalimantan Selatan.. Gates Formation. Coal Petrology 3rd Edition. Van Bemmelen.C.M. Chandra. . 12. Tasch. Purnamaningsih. (Eds.. K.. Lamberson. h.. The Hague. P. M. 153-157. Bandung. Bandung. Sudijono.252 Jurnal Geologi Indonesia. S. Sudijono. h. Lithotype (maceral) composition and variation as correlated with paleo-wetland environment. International Journal of Coal Geology. Daftar Isian Kegiatan Suplemen (DIKS). 1919. h.000.. IA. Hasibuan. 470-480.). Printing Office. D. dan Teichmuller. dan Heryanto. Kalimantan Selatan skala 1 : 250. northeastern British Columbia. Proceedings of the Royal Society. Polhaupessy. A... Taylor. dan Limbong. H. Tahun Anggaran 2002.5-86. Marks. 233 h. 18. R. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. B. h. Sikumbang.. M. T. 90.. 1991. Djawatan Geologi. E. Publikasi Keilmuan No. H. R. Stratigraphic Lexicon of Indonesia. Teichmuller. Polhaupessy. 2002. 732 h. On the four visible ingradients in banded bituminous coal. R. 1982.A. Government.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.