REFERAT Dehisensi Luka Pasca Operasi Laparotomi dan Penanganannya di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto Periode Januari 2008

– November 2011

Pembimbing : dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, SpB

Disusun Oleh : Sintia Dewi SMK G1A210006

SMF ILMU PENYAKIT BEDAH RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2011

1

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT Dehisensi Luka Pasca Operasi Laparotomi dan Penanganannya di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto Periode Januari 2008 – November 2011

Oleh : Sintia Dewi SMK G1A210006

Presentasi referat ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian bedah RSUD Margono Soekarjo Purwokerto

Purwokerto,

Desember 2011

Mengetahui, Pembimbing

dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, SpB

2

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul Dehisensi Luka Pasca Operasi Laparotomi dan Penanganannya di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto Periode Januari 2008 – November 2011. Penulisan referat ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Bedah RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Penulis berharap referat ini dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran. Penyusunan referat ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada:
1.

dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, SpB selaku Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan referat ini. Teman-teman FK Unsoed dan FK UPN serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini masih memiliki

2.

kekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan masukan yang dapat menjadi perbaikan.

Purwokerto,

Desember 2011

Penulis

3

DAFTAR ISI

I. Pendahuluan…………………………………………………………………….. 1 A. Latar Belakang……………………………………………………………. 1 B. Tujuan…………………………………………………………………….. 2 C. Manfaat…………………………………………………………………… 2 II. Tinjauan Pustaka………………………………………………………………. 3 A. Anatomi dan Fisiologi Kulit……………………………………………… 3 1. Anatomi Kulit………………………………………………………… 3 2. Fisiologi Kulit………………………………………………………… 7 B. Luka dan Penyembuhan Luka……………………………………………. 5 1. Luka…………………………………………………………………... 9 2. Penyembuhan Luka………………………………………………….. 12 C. Laparatomi………………………………………………………………. 22 D. Wound Dehisensi ………………………………………………….......... 24 1. Definisi………………………………………………………………. 24 2. Klasifikasi…………………………………………………………… 24 3. Manifestasi Klinis…………………………………………………… 25 4. Etiologi ……………………………………………………………… 25 5. Faktor Resiko…………………………………………....................... 26 6. Penatalaksanaan……………………………………………………... 27 III. Metode Penelitian…………………………………………………………… 31 IV. Hasil dan Pembahasan………………………………………………………. 33 V. Kesimpulan………………………………………………………………….. 38 Daftar Pustaka………………………………………………………………… 39

4

Jenis Penyembuhan Luka…………………………………………… 18 5 . 17 Gambar 7. Penyembuhan Luka …………………………………………………. Fase Remodelling……………………………………………………. 17 Gambar 8.. 13 Gambar 5. Fase Proliferasi………………………………………………………. 6 Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 15 Gambar 6. Anatomi kulit………………………………………………………… 3 Gambar 2. Lapisan Dermis ………………………………………………………. Lapisan Epidermis …………………………………………………… 5 Gambar 3. Fase Inflamasi……………………………………………………….

. 34 Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel 4.4 Karakteristik responden berdasarkan jenis operasi laparotomi………. 33 Tabel 4.5 Penatalaksanaan Dehisensi ………………………………………….. 35 6 .1 Karakteristik responden berdasarkan usia…………………………….. 33 Tabel 4.2 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin…………………. 34 Tabel 4.3 Karakteristik responden berdasarkan kelas perawatan………………..

usia lanjut. Terjadinya wound dehiscence berkaitan dengan berbagai kondisi seperti anemia. keganasan. 2008.25% sampai 3% dari seluruh operasi laparotomi yang dilakukan. infeksi pada rongga abdomen. hipoalbumin. Wound dehiscence juga dapat terjadi karena perawatan luka yang tidak adekuat serta faktor mekanik seperti batuk-batuk yang berlebihan.I. 2008). PENDAHULUAN A. prosedur pembedahan spesifik seperti pembedahan pada kolon atau laparotomi emergency. Latar Belakang Laparatomi merupakan suatu proses insisi bedah ke dalam rongga abdomen yang dilakuakan dengan berbagai indikasi seperti trauma abdomen. 2009). kejadiannya berkisar antara 0. 2009. sumbatan pada usus halus dan usus besar serta masa pada abdomen (Anonim. Penanganan wound dehiscence secara umum dibedakan menjadi penanganan operatif dan penanganan non operatif. Anonim. Wound dehiscence post laparotomy merupakan komplikasi utama yang serius. perdarahan saluran cerna. 2008). 2009. obesitas dan diabetes. 7 . Tindakan laparotomi dapat menimbulkan berbagai komplikasi pasca bedah antara lain gangguan perfusi jaringan. Afzal et al. malnutrisi. Spiolitis et al. maka kami bermaksud untuk menyusun referat dengan judul ‘Dehisensi Luka Pasca Operasi Laparotomi dan Penanganannya di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto Periode Januari 2008 – November 2011’. 2009). dengan angka kematian berkisar antara 10-20% (Spiloitis et al. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. ileus obstruktif dan hematom serta teknik operasi yang kurang baik (Afzal et al. Sedangkan penanganan non operatif dilakukan diberikan kepada penderita yang sangat tidak stabil dan tidak mengalami eviserasi (Singh. Penanganan operatif dilakukan pada sebagian besar penderita luka operasi terbuka. infeksi pada luka yang menyebabkan buruknya integritas kulit serta terjadinya dehisensi luka operasi (Anonim. 2009).

3. 2. C. Sebagai sarana pembelajaran bagi penulis dan pembaca khususnya mengenai wound dehiscence.B. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui materi mengenai Wound Dehiscence post Laparotomy 2. Manfaat Penulisan Manfaat yang diharapkan bisa diambil dari diadakannya penyusunan refrat ini yaitu: 1. Mengetahui penanganan Wound Dehiscence post Laparotomy di RSUD Margono Soekardjo Purwokerto periode Januari 2008 – November 2011. Mengetahui jumlah penderita Wound Dehiscence post Laparotomy di RSUD Margono Soekardjo Purwokerto periode Januari 2008 – November 2011. 8 . Sebagai sarana evaluasi mengenai penanganan pasca operasi laparotomi di RSUD Margono Soekardjo Purwokerto.

2007). Kulit tipis terletak pada kelopak mata.5 – 1.II. dermis dan hypodermis atau subkutis yang merupakan jaringan penyambung di bawah kulit (Branon. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan. 2007) a. telapak kaki. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0.5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak. Lapisan Kulit Kulit terdiri dari tiga lapis yaitu epidermis sebagai lapisan yang paling luar. 9 .7 – 3. Anatomi dan Fisiologi Kulit 1. Gambar 1. labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Pada orang dewasa sekitar 2. TINJAUAN PUSTAKA A. bahu (Branon. Anatomi Kulit (Branon.9 meter persegi.6 kg dan luasnya sekitar 1. membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. punggung. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh. 2007). penis. umur dan jenis kelamin. Anatomi Kulit Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian tubuh.

pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. berupa garis translusen. 2007. Amirlak. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk. organisasi sel. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. (3). pembelahan dan mobilisasi sel. Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. 2007. (4). sintesis vitamin D dan sitokin. paling tebal pada telapak tangan dan kaki. usia dan faktor lain. Epidermis terdiri atas lima lapisan : (1). 2008). Terdapat sel Langerhans. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Langerhans dan merkel. Stratum Korneum. terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril. Stratum Granulosum. 10 . Stratum Spinosum. Pada epidermis terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu (Branon. ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum Basale (Stratum Germinativum). mengandung sel melanosit. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Amirlak.1) Epidermis Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. (2). Terdapat sel Langerhans. Tidak tampak pada kulit tipis. dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit (Branon. Fungsi Epidermis antara lain proteksi barier. Stratum Lusidum. biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. hal ini tergantung letak. (5). 2008). Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh.

Lapisan Epidermis (Amirlak. tebal terdiri dari jaringan ikat padat (Amirlak. 2008) 2) Dermis Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin”. Amirlak.Gambar 2. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal. Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan penunjang. karena fungsinya dalam membentuk jaringan-jaringan kulit yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit. 11 . tipis mengandung jaringan ikat jarang. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput (Branon. 2008). Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastic yang dapat membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein ini yang disebut kolagen. Lapisan retikuler. Tebalnya bervariasi. Lapisan papiler. kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. yang paling tebal terdapat pada telapak kaki sekitar 3 mm. 2007. 2008). Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. Dermis terdiri dari dua lapisan : (1). (2).

Pada umumnya. Gambar 3. Kelenjar sebasea membentuk sebum. telapak kaki. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis (Branon. Lapisan Dermis 12 . kening dan di bawah ketiak. Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kelenjar sebasea terletak pada bagian atas dermis berdekatan dengan folikel rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel). Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar) dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki. latihan jasmani. Ada dua jenis kelenjar keringat yaitu Ekrin dan Apokrin (Branon. satu batang rambut hanya mempunyai satu kelenjar sebasea yang bermuara pada saluran folikel rambut (Amirlak. emosi dan obat-obat tertentu. Semua bagian tubuh dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat dipermukaan telapak tangan. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut. kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga kelunakan rambut. 2008). kelenjar sebasea terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka. 2007). Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas.Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. 2007).

Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis.Fungsi Dermis antara lain sebagai struktur penunjang. yaitu pleksus superfisialis dan pleksus profunda (Branon. Pada lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. menahan shearing forces dan respon inflamasi (Amirlak. 13 . b. kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber (Branon. cadangan kalori. Fungsi Subkutis / hipodermis antara lain untuk melekatkan kulit ke struktur dasar. 2008). 2007). mengontrol suhu tubuh (termoregulasi). Pelindung atau proteksi Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh-pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman (Branon. isolasi panas. tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Amirlak. Subkutis berfungsi menunjang suplai darah ke lapisan dermis untuk regenerasi. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis. 2007). Vaskularisasi dikulit diatur oleh 2 pleksus. eskresi dan metabolisme (Branon. Amirlak. sensasi. 2007. 2. 3) Hypodermis tau Subkutis Lapisan ini merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. mechanical strength. Vaskularisasi Kulit Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. 2007). sebagai barier infeksi. 2008). suplai nutrisi. 2007. Fisiologi Kulit Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. a.

d. merembes melalui dinding pembuluh f. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap sekitar 36. Ketika terjadi perubahan suhu luar. yodium dan zat kimia lainnya. Pengeluaran (ekskresi) Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam. Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit. 2008). Penyimpanan : Kulit menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak. Kulit dapat menahan suhu tubuh. 2007. Amirlak. darah dan kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian seperlunya dalam fungsinya masing-masing.5ºC. Penyerapan terbatas Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari. Penerima rangsang Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan dengan nyeri. rabaan. terutama zat-zat yang larut dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. tekanan. e. b. mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari. suhu panas atau dingin. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis (Branon. 14 . menahan luka-luka kecil.Lapisan paling luar epidermis diselubungi lapisan tipis lemak yang menjadikan kulit tahan air. Pengatur panas atau thermoregulasi Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi. c. dan getaran.

B. 2009). mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan. Yadi. Kriteria luka akut adalah luka baru. 2008). Namun yang umum dipakai adalah sebagai berikut : a. Sebagai contoh pada luka sayat. luka tusuk dan crush injury. luka bakar. pucat maupun konstraksi otot penegak rambut (Branon. Luka Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. Luka operasi juga dapat dianggap sebagai luka akut yang dibuat oleh ahli bedah. Luka dan Penyembuhan Luka 1. zat kimia. perubahan suhu. g. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul. Penunjang penampilan Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus. sengatan listrik atau animal bite (Sinaga. Berdasarkan waktu terjadinya 1) Luka Akut Luka akut merupakan luka yang biasanya segera mendapat penanganan dan biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi komplikasi. 2007. 2) Luka Kronik 15 . 2008). ledakan. Amirlak. 2009. Ada beberapa penggolongan klasifikasi luka. putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan.darah ke dalam peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya. Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah. Contoh pada luka jahit dan skin grafting (Sinaga.

Contoh pada ulkus dekubitus. c. tendon dan tulang dengan adanya destruksi atau kerusakan yang luas (Sinaga. 4) Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Tawi. Berdasarkan kedalaman luka 1) Stadium I : Luka Superfisial atau Non-Blanching Erithema : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. Berdasarkan tingkat kontaminasi 1) Clean Wounds (Luka bersih). 2007). dimana terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya disebabkan oleh masalah multifaktor dari penderita. Yadi. blister atau lubang yang dangkal.Luka kronik merupakan luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali (recurrent). luka bakar dan lain sebagainya (Sinaga. 2008). ulkus venosus. yaitu luka bedah tak terinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan dan infeksi pada sistem pernafasan. 2009. tidak berespon baik terhadap terapi dan mempunyai kemungkinan untuk timbul kembali. Pada luka kronik terjadi luka yang gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. genital dan urinari tidak terjadi (Hidayat. ulkus diabetik. 16 . Luka yang terjadi mengenai lapisan epidermis. 2008). 2) 3) Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit secara keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. 2009. pencernaan. b. Merupakan luka superficial ditambah dengan adanya tanda klinis seperti abrasi. dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot.

4) 5) 6) 7) Luka bakar (Combustio). 2007). luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna. maupun bahan kimia (Hidayat. Missal yang terjadi akibat pembedahan. listrik. Luka tembus (Penetrating Wound). 2) Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi). termasuk luka terbuka. matahari. terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak. pencernaan. terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. pada kategori ini juga termasuk insisi akut. inflamasi nonpurulen. 2007).Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup. jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%. 4) Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi). terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%. Luka tusuk (Punctured Wound). terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. fresh. 2) 3) Luka lecet (Abraded Wound). seperti pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil. Berdasarkan Mekanisme terjadinya 1) Luka insisi (Incised Wound). terjadi akibat adanya benda. 3) Contamined Wounds (Luka terkontaminasi). kontaminasi tidak selalu terjadi. perdarahan dan bengkak. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%. 17 . yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. d. yaitu luka pembedahan dimana saluran respirasi. yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka (Hidayat. Luka memar (Contusion Wound). genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol. Luka gores (Lacerated Wound). Penyembuhan Luka 2. yaitu luka akibat terkena suhu panas seperti api.

sel endotelial dan fibroblas. 2003). 2007. suhu hangat (kalor). Agregat trombosit akan mengeluarkan mediator inflamasi Transforming Growth Factor beta 1 (TGF b1) yang juga dikeluarkan oleh makrofag. Fase inflamasi secara klinis ditandai dengan cardinal sign: kemerahan karena kapiler melebar (rubor). rasa nyeri (dolor). pembentukan jaringan atau proliferasi dan maturasi atau remodeling (Tawi. a. Adanya TGF b1 akan mengaktivasi fibroblas untuk mensintesis kolagen (Yadi. Insulin-like Growth Factor (IGF). Faktor apapun yang mengganggu proses ini akan memperlambat penyembuhan luka. dan pembengkakan (tumor) serta function laesa (Anonim. aktivitas seluler dan terbentuknya bahan kimia sebagai substansi mediator di daerah luka merupakan komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan luka. Fase ini dimulai sejak terjadinya luka dan berlangsung selama 3 sampai 7 hari. Proses ini berlangsung dinamis melibatkan mediator cair. Komponen hemostasis ini akan melepaskan dan mengaktifkan sitokin yang meliputi Epidermal Growth Factor (EGF). Inflamasi Inflamasi merupakan tahap pertama penyembuhan luka. jaringan tidak akan 18 . Pada fase ini kemudian terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit Polymorphonuclear (PMN). Yadi. Proses penyembuhan luka secara umum terdiri atas tiga fase yaitu inflamasi. Braz. Baxter. Plateled-derived Growth Factor (PDGF) dan Transforming Growth Factor beta (TGF-β) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis netrofil. serta sel-sel parenkim. sel darah. 2005. makrofag. mast sel. bio-kimia terjadi berkesinambungan. 2008.Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks karena berbagai kegiatan bio-seluler. 2008). Selama fase inflamasi akut. Penggabungan respons vaskuler. Setelah terjadinya luka jaringan pembuluh darah segera mengalami vasikonstriksi disertai reaksi hemostasis karena agregasi trombosit yang bersama jala fibrin membekukan darah. 2005). matriks ekstraseluler.

2005. Kolagen yang merupakan substansi protein adalah konstituen utama dari jaringan ikat. Tahap proliferasi ini disebut juga fase fibroplasias karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses rekonstruksi jaringan (Sjamsudidajat. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (Tawi. 2008. 2008). elastin. 2007). Braz et al. Pembentukan serat kolagen menentukan kekuatan regangan dan kelenturan penyembuhan luka. 2008). kemudian akan berkembang serta mengeluarkan beberapa substansi seperti kolagen. ditandai dengan munculnya fibroblast. asam hyaluronic.memperoleh kekuatan regangan yang cukup tetapi tergantung pada pendekatan tepi luka (Braz et al. Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Proliferasi Fase proliferasi penyembuhan luka dimulai kira-kira 2-3 hari setelah terjadinya luka. fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka. Gambar 2008) b. Sesudah terjadi luka. 4. Fase Inflamasi (Ismail. Tawi. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan. 19 . fibronectin dan profeoglycans yang berperan dalam rekonstruksi jaringan baru (Tawi. 2007).

2008). migrasi. Keratinisasi akan dimulai dari pinggir luka dan akhirnya membentuk barrier yang menutupi permukaan luka. sedangkan proses proliferasi fibroblas dengan aktifitas sintetiknya disebut fibroblasia. 2007). Respons yang dilakukan fibroblas terhadap proses fibroplasia adalah: proliferasi. 20 . Fase ini terjadi setelah hari ketiga. jaringan granulasi akan menjadi terang dan merah. Pada fase ini fibroplasia dan angiogenesis merupakan proses terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan oleh platelet dan makrofag (Tawi. dimana fibroblas mengeluarkan keratinocyte growth factor (KGF) yang berperan dalam stimulasi mitosis sel epidermal. Bantalan kapiler tebal yang mengisi matriks akan memberikan suplai nutrien dan oksigen yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka. 2008. Kegagalan vaskuler akibat penyakit misalnya diabetes. Braz et al. Angiogenesis atau proses pembentukan pembuluh kapiler baru didalam luka juga mempunyai arti penting pada tahap proliferasi proses penyembuhan luka. 2005. Dengan sintesa kolagen oleh fibroblas.Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam di dalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan granulasi. 2007). Ketika serat kolagen terisi dengan pembuluh darah baru. Braz et al. Lamanya fase ini bervariasi berdasarkan tipe jaringan yang terlibat dan tekanan atau tegangan yang diberikan luka selama periode ini (Sjamsudidajat. Jaringan vaskuler yang melakukan invasi kedalam luka merupakan suatu respons untuk memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup di daerah luka karena pada daerah luka terdapat keadaan hipoksik dan turunnya tekanan oksigen. radiasi atau penggunaan preparat steroid dalam jangka waktuyang lama mengakibatkan lambatnya proses penyembuhan luka. Proses selanjutnya adalah epitelisasi. pembentukan lapisan dermis ini akan disempurnakan kualitasnya dengan mengatur keseimbangan jaringan granulasi dan dermis. Kolagen ini kemudian akan berada diantara luka dan akan memberikan tekanan normal. deposit jaringan matriks dan kontraksi luka (Tawi.

Fase Proliferasi (Ismail. Graft kulit digunakan untuk menurunkan kontraksi pada lokasi yang tidak diinginkan (Braz et al. 2007). 2008. Fungsi kontraksi akan lebih menonjol pada luka dengan defek luas dibandingkan dengan defek luka minimal (Tawi. Braz et al.Untuk membantu jaringan baru tersebut menutup luka. Kontraksi luka akan sangat menguntungkan pada penutupan luka pada area-area seperti glutea dan trokanter. 2008). Gambar 5. 2007). terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth factor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet (Tawi. Tujuan dari fase ini adalah menyempurnakan terbentuknya 21 . pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Luka operasi yang ditutup secara perprimum memiliki respon kontraksi yang minimal. fibroblas akan merubah strukturnya menjadi myofibroblast yang mempunyai kapasitas melakukan kontraksi pada jaringan. Hal ini akan mengurangi area yang terbuka dan jika berhasil akan menghasilkan luka yang kecil. tetapi akan membahayakan pada area seperti tangan atau sekitar leher dan wajah dimana hal ini akan menyebabkan kelainan bentuk dan jaringan parut berlebihan. 2008) c. Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk. Kontraksi luka adalah proses yang mendorong tepi luka bersama untuk penutupan luka. Remodelling Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan kembali jaringan yang berlebih.

Jumlah kolagen yang terbentuk bergantung pada volume awal jaringan granulasi (Braz et al. yaitu lebih kuat dan struktur yang lebih baik pada fase remodeling (Tawi. Kolagen muda (gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase proliferasi akan berubah menjadi kolagen yang lebih matang. Fase Remodelling (Ismail. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar. fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan garunalasi. Sintesa kolagen yang telah dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi atau remodelling. Selain pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen oleh enzim kolagenase. 2005). 2007). 2008) 22 . 2008). 2007). sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka. Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan ajringan kulit mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktivitas yang normal (Tawi. Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. pembuluh darah pada luka akan berangsur-angsur menurun dan kemerahan dari jaringan mulai berkurang sehingga permukaannya akan menjadi lebih pucat dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. 2008. Ketika deposisi kolagen selesai.jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu (Sjamsudidajat. Gambar 6. Braz et al.

Penyembuhan melalui Intensi Pertama (Penyatuan Primer). berjalan secara alami.Gambar 7. sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intensi pertama. Pada luka dimana terjadi pembentukan pus (supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling 23 . dan penutupan dengan baik. bedah terdapat 3 bentuk penyembuhan luka. seperti dengan suture atau proses penjahitan untuk mentautkan luka. atau ketiga (Sinaga. Penyembuhan melalui Instensi Kedua (Granulasi). dengan perusakan jaringan minimum. penyembuhan luka (Braz et al. Luka dibuat secara aseptik. kedua. Cara ini biasanya membutuhkan waktu yang lama dan meninggalkan parut yang kurang baik. terutama jika lukanya terbuka lebar. b. yaitu penyembuhan melalui intensi pertama. 2007) Penyembuhan luka kulit tanpa pertolongan dari luar seperti yang telah diterangkan tadi. jaringan granulasi tidak tampak dan pembentukan jaringan parut minimal. Ketika luka sembuh melalui instensi pertama. 2009). Penyembuhan ini disebut penyembuhan sekunder. Dalam penatalaksanaan a.

Faktor – faktor eksternal yang mempengaruhi penyembuhan luka antara lain : a. Hal ini mengakibatkan jaringan parut yang lebih dalam dan luas (Sinaga. 2009). c. Gambar 8. proses perbaikannya kurang sederhana dan membutuhkan waktu lebih lama. Penyembuhan melalui Instensi Ketiga (Suture Sekunder). dua permukaan granulasi yang berlawanan disambungkan. 2009) Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka terbagi menjadi faktor eksternal dan faktor internal. Jenis Penyembuhan Luka (Sinaga.merapat. merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasihat – nasihat khususnya Tradisi 24 . b. Jika luka dalam baik yang belum dijahit atau terlepas dan kemudian dijahit kembali nantinya. dimana pasien akan untuk merawat kebersihan pasca terjadinya luka atau pembedahan. Lingkungan Dukungan dari lingkungan keluarga.

d. Gizi Asupan gizi yang cukup dan baik Makanan yang bergizi dan sesuai porsi akan mempercepat masa penyembuhan luka (Hidyat. dapat pula karena sudah ada jaringan nekrotik pada tepi luka sebelumnya. Penanganan petugas Pada terjadinya luka atau pasca pembedahan. atau hipotensi generalisata. pembersihannya harus dilakukan dengan tepat oleh penangan petugas kesehatan. 2005). Faktor Lokal a. hal ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka. Sosial ekonomi Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi dengan lama penyembuhan luka adalah keadaan fisik dan mental pasien dalam melakukan aktifitas seharihari pasca pembedahan. penutupan luka yang terlalu rapat sehingga merusak kapiler pada tepi 25 . faktor sistemik dan faktor tekhnik (Yadi. 1. 2009). e. f. meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Jika tingkat sosial ekonomi rendah. 2007. Sedangkan faktor – faktor internal yang berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu faktor lokal. c. Sinaga. Iskemia : kurangnya suplai darah ke jaringan luka dapat berupa tidak adekuatnya aliran darah ke jaringan luka misalnya akibat ligasi. Pengetahuan Pengetahuan pasien dan keluarga tentang perawatan pasca bedah atau perlukaan sangat menentukan lama penyembuhan luka. bisa jadi penyembuhan luka berlangsung lama karena timbulnya rasa malas dalam merawat diri. Apabila pengetahua tentang masalah kebersihan kurang maka penyembuhan lukapun akan berlangsung lama.Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca bedah atau penyembuhan luka masih banyak digunakan. peripheral vascular disease.

2005). atau regangan yang kuat sehingga mengganggu merapatnya kontraksi luka. keganasan dan penggunaan steroid jangka panjang dapat menyebabkan kegagalan sintesis kolagen dan terganggunya fungsi imun sehingga menimbulkan gangguan pada penyembuhan luka (Anonim. 3. Yadi. Selain itu tekhnik operasi dan perawatan luka juga sangat berpengaruh terhadap penyembuhan luka operasi (Yadi. Baxter.luka. Sejumlah komplikasi dapat terjadi selama proses penyembuhan luka. Infeksi : adanya dead space menyebabkan terkumpulnya darah dan cairan serous lainnya menjadi media yang baik untuk bakteri sehingga terjadi infeksi. antara lain: 26 . e. anemia. Faktor teknik Tindakan asepsis sebelum operasi dan pemberian antibiotic profilaksis dapat berpengaruh pada penyembuhan luka pasca operasi. kekurangan nutrisi. 2003. Faktor sistemik Faktor-faktor sistemik seperti usia. gagal ginjal. f. 2. iskemia kronik. hipertensi dan jaringan parut yang luas dapat menyebabkan penyembuhan luka yang buruk. hipoksia atau syok hipovolemia. kondisi gizi dan kesalahan teknik operasi atau terapi yang tidak adekuat. b. Penyakit kronik jaringan : keadaan seperti limfadenopati kronik. penyakit yang diderita. diabetes. 2008). Trauma lokal : adanya trauma lokal misalnya benturan dapat menyebakan kerusakan jaringan pada bekas operasi dan menyebabkan iskemia lokal atau total. Komplikasi tersebut dapat disebabkan oleh proses yang mendasari. Jika terlalu longgar juga dapat menyebabkan terjadinya dead space . Ketegangan luka : Ketegangan dalam penjahitan juga hendaknya diperhatikan. 2008. 2005). d. terlalu tegang dapat menyebabkan iskemia. Radiasi : radiasi sebelum atau sesudah operasi dapat menyebaban buruknya penyembuhan luka operasi karena terjadinya fibrosis dan mikroangiopati (Anonim. c.

atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Sedangkan “tome” berarti pemotongan (Sjamsudidajat. dan peningkatan jumlah sel darah putih (Anonim. Dehisensi luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kolagen meluas di daerah luka (Sjamsudidajat R. nyeri. kemerahan dan bengkak di sekeliling luka. “lapara” dan “tome”. multiple trauma. Tanda-tanda hipovolemia tidak langsung terlihat saat terjadi perdarahan. Perdarahan Perdarahan dapat menunjukkan adanya suatu pelepasan jahitan. penambahan tekanan balutan luka steril . Kata Laparatomi terbentuk dari dua kata Yunani. 2005). 3. antara lain adanya sekret purulent. batuk yang berlebihan. Dehisensi adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Ismail. peningkatan suhu. Ismail. pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan (Anonim. 2008). Kata “lapara” berarti bagian lunak dari tubuh yg terletak di antara tulang rusuk dan pinggul. Laparatomi dilakukan dengan berbagai macam sayatan. Dehiscence dan Eviscerasi Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. peningkatan drainase. 2008. 2008). kurang nutrisi.1. Infeksi Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma. C. muntah. 2008. selain itu sejumlah faktor meliputi kegemukan. dan dehidrasi mempertinggi resiko terjadinya dehisensi luka. yaitu : 1. Gejala muncul 2 – 7 hari setelah pembedahan. Midline incision 27 . Laparatomi Laparatomi merupakan suatu prosedur tindakan pembedahan dengan melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen. Jika perdarahan terjadi terus menerus. selama pembedahan atau setelah pembedahan. adanya gangguan faktor pembekuan pada daerah jahitan. 2005). infeksi. Biasanya didahului oleh infeksi. Sedangkan eviscerasi adalah keluarnya isidi bawah jahitan luka melalui daerah irisan. 2.

cepat di buka dan di tutup. usus bagian bagian bawah. perdarahan saluran cerna. salpingo oofarektomi dan vagotomi. 2009) 28 . rektosigmoid. diantaranya: adrenalektomi. 2009). 2009. Transverse lower abdomen incision. yaitu . organ pelvis. pankreas. peritonitis. dengan panjang insisi ± 12. karena sedikit perdarahan. mioma uteri. dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah (Anita. bagian bawah ±4cm di atas anterior spinal iliaka. 2009). kerugian jenis insisi ini adalah terjadinya hernia sikatrialis. terutama indikasi dalam bidang digestif dan kandungan. 2009. pankreatektomi. Indikasinya pada eksplorasi gaster. serta plenoktomi. appendiktomi.Metode ini merupakan insisi yang paling sering digunakan. nefrektomi. dengan indikasi pada jenis operasi lambung. sistektomi. kolektomi. antara lain : Trauma abdomen baik tumpul maupun tajam. yaitu. eksplorasi dapat lebih luas. hepar. dan lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis. gastrektomi. 2009. Namun demikian. pada operasi appendectomy (Anonim. Anonim. Transverse upper abdomen incision. 4. (Wain. histerektomi.5 cm. 2. tidak memotong ligamen dan saraf. Anonim. pancreatitis dan sebagainya (Kate. prostatektomi. adhesi atau perlengketan jaringan abdomen. Wain. obstruksi usus. serta tidak memotong ligamen dan saraf.2009). insisi di bagian atas. Paramedian incision Insisi paramedian yaitu insisi abdomen dengan sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. Bedah laparatomi dilakuakan atas berbagai indikasi. dan organ dalam pelvis (Anita. eksplorasi pankreas. 3. Insisi paramedian memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis. Laparotomi terdiri dari beberapa jenis.5 cm). misalnya. 2009). appendicitis. insisi melintang di misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. Terbagi atas 2 yaitu paramedian kanan dan kiri. kehamilan ektopik. seksio sesarea.

Infeksi Infeksi luka sering muncul pada 36 .Seperti halnya jenis pembedahan yang lain. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi dan ambulatif dini (Kate. hati.46 jam setelah operasi. sianosis pada bibir. antara lain : 1. 2009). 2009). 2009). takipnea.14 hari setelah operasi. Bakteri ini mengakibatkan pernanahan atau abses (Kate. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah Staphylokokus aureus yang merupakan organisme gram positif. laparatomi juga dapat menimbulkan beberapa komplikasi pasca pembedahan. dan otak. sedangkan eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam tubuh melalui insisi yang terbuka kembali. hemoragi intermediet terjadi beberapa jam setelah pembedahan. 2. Dehisensi luka dan Eviserasi Dehisensi luka merupakan terbukanya kembali tepi-tepi luka. Tromboplebitis. Hemoragi primer terjadi pada waktu pembedahan. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi 29 . gusi dan lidah. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 . 5. Hemorhagi Hemoragi post laparotomi bisa terjadi primer. Manifestasi klinisnya antara lain : anemis. takikardi dengan penurunan tekanan nadi serta tekanan darah rendah dan urine pekat (Anita. intermidiet maupun sekunder. 4. 3. sedangkan hemoragi sekunder terjadi beberapa waktu setelah pembedahan karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainase. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paruparu. Syok Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengekspresikan produk metabolisme. akral dingin.

biasanya penderita sering merasa ada jaringan dari dalam rongga abdomen yang bergerak keluar disertai keluarnya cairan serous berwarna merah muda dari luka operasi (85% kasus). Terdapat pula tanda-tanda infeksi umum seperti adanya rasa nyeri. 2008. adanya infeksi. status gizi dan faktor lainnya (Anonim. edema dan hiperemis pada daerah sekitar luka operasi. 2003. Dehisensi luka operasi dini : terjadi kurang dari 3 hari paska operasi yang biasanya disebabkan oleh teknik atau cara penutupan dinding perut yang tidak baik. 3. 2009) 2. Biasanya dehisensi luka operasi didahului oleh infeksi yang secara klinis terjadi pada hari keempat hingga sembilan pascaoperasi. 2009). Definisi Wound dehiscence adalah salah satu komplikasi dari proses penyembuhan luka yang didefinisikan sebagai keadaan dimana terbukanya kembali sebagian atau seluruhnya luka operasi. Spiolitis. D. Dehisensi Luka 1. Kate. 2009. Penderita 30 .2005). dapat pula terjadi pus atau nanah yang keluar dari luka operasi (Anonim. Sjamsudidajat R.adalah infeksi luka. dan peningkatan tekanan intraabdominal akibat dari batuk atau muntah (Anonim. kesalahan menutup luka saat pembedahan. b. 2008. Klasifikasi Berdasarkan waktu terjadinya dehisensi luka operasi dapat dibagi menjadi dua: a. Pada pemeriksaan didapatkan luka operasi yang terbuka. Keadaan ini sebagai akibat kegagalan proses penyembuhan luka operasi (Baxter. Sjamsudidajat R. Pada keadaan ini biasanya dihubungkan dengan usia. Manifestasi Klinik Dehisensi luka seringkali terjadi tanpa gejala khas.2005). Dehisensi luka operasi lambat : terjadi kurang lebih antara 7 hari sampai 12 hari paska operasi.

Faktor infeksi Semua faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi luka operasi akan meningkatkan terjadinya dehisensi luka operasi. diabetes mellitus. hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan jumlah leukosit yang sangat tinggi dan pemeriksaan jaringan di sekitar luka operasi didapatkan reaksi radang berupa kemerahan. 2003.datang dengan klinis febris. Etiologi Faktor penyebab dehisensi luka operasi berdasarkan mekanisme kerjanya dibedakan atas tiga yaitu: a. luka operasi dibedakan menjadi luka bersih. Dehisensi luka operasi akan segera terjadi jika infeksi tidak diatasi. 4. Infeksi luka jahitan yang terjadi dini ditandai dengan peningkatan temperature dan terjadinya selulitis dalam waktu 48 jam setelah penjahitan. Spioloitis et al.2008.9 paska operasi dengan gejala suhu badan yang meningkat disertai tanda peradangan disekitar luka. hangat. Faktor mekanik tersebut antara lain batuk-batuk yang berlebihan. gangguan keseimbangan elektrolit serta defisiensi vitamin dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka. Afzal. c. (Webster et al. terkontaminasi dan kotor. nyeri. anemia. ileus obstruktif dan hematom serta teknik operasi yang kurang. fluktuasi dan pus (Afzal. Menurut National Nosocomial Infection Surveilance System. Faktor mekanik : Adanya tekanan dapat menyebabkan jahitan jaringan semakin meregang dan mempengaruhi penyembuhan luka operasi. bersih terkontaminasi. Secara klinis biasanya terjadi pada hari ke 6 . 5. Sedangkan pada infeksi lanjut seringkali tidak disertai peningkatan temperatur dan pembentukan pus. b.2008. 2009). pembengkakan. Faktor metabolik : Hipoalbuminemia. 2009). Infeksi dini seringkali disebkan oleh streptococcus B haemolyticus. Spioloitis et al. Faktor Resiko 31 . dan terutama disebabkan oleh Stafilococcus aureus.

sehingga arah kontraksi otot-otot dinding perut berlawanan dengan arah insisi sehingga akan mereganggkan jahitan operasi. Makela J. Tehnik ini di satu sisi memiliki keuntungan yaitu mengurangi kemungkinan perlengketan jaringan. operasi emergensi. b. Singh. c. Spiloitis et al.Faktor risiko terjadinya wound dehiscence dibedakan atas faktor preoperasi yang berhubungan erat dengan kondisi dan karakteristik penderita. keganasan. Sedangkan faktor-faktor pascaoperasi yang dapat meningkatkan d. 2009. Makela. Cara penjahitan : Pemilihan tehnik penutupan secara lapis demi lapis juga berperan dalam terjadinya komplikasi ini. terapi radiasi dan kemoterapi. penyakit paru obstruktif serta pemakaian preparat kortikosteroid jangka panjang (Afzal. Faktor risiko preoperasi meliputi jenis kelamin (laki-laki lebih rentan dibandingkan wanita). serta faktor pascaoperasi (Webster et al. 2008. 2005). namun di sisi lain mengurangi efektifitas dan kekuatannya (Afzal. Tekanan intraabdominal yang tinggi akan menekan otot-otot dinding abdomen sehingga akan teregang. Spiloitis et al. Jenis benang : Pemakaian benang chromic catgut juga dapat menjadi suatu perhatian khusus. muntah. Faktor risiko operasi antara lain : a. Regangan otot 32 . Jenis insisi : Tehnik insisi mediana lebih rentan untuk terbuka daripada transversal dikarenakan arah insisinya yang nonanatomik. 2008. faktor operasi yang berhubungan dengan jenis insisi dan tehnik penjahitan. sepsis. dikarenakan kecepatan penyerapannya oleh tubuh sering kali tidak dapat diperkirakan (Afzal. 2009. 2005). Tehnik penjahitan : tekhnik penjaitan terputus cenderung lebih aman daripada tekhnik penjaitan kontinyu. diabetes mellitus. 2005. Peningkatan tekanan intra abdomen misalnya batuk. obesitas. usia lanjut (>50 tahun). terjadinya dehisensi luka antara lain: a. 2009. gagal ginjal. Spiloitis et al. 2009). 2008. anemia. ileus dan retensio urin. Makela J. 2003). malnutrisi.

Diberikan pula 33 . c. 6. diberikan nutrisi yang adekuat untuk mempercepat penutupan kembali luka operasi. Ismail. Nutrisi pascaoperasi yang tidak adekuat. Penatalaksanaan Penatalaksanaan Wound Dehiscence dibedakan menjadi penatalaksanaan non operatif atau konservatif dan penatalaksanaan operatif tergantung atas keadaan umum penderita. Defisiensi tersebut akan mempengaruhi proses fibroblasi dan kolagenisasi yang merupakan proses awal penyembuhan luka. 2005). Penanganan Nonoperatif/ Konservatif Penanganan non operatif diberikan kepada penderita yang sangat tidak stabil dan tidak mengalami eviserasi. 2009. Asupan nutrisi yang tidak adekuat terutama protein salah satunya akan menyebabkan hipoalbuminemia. b. Terapi radiasi dan penggunaan obat antikanker : radiasi pasca operasi dapat menyebaban buruknya penyembuhan luka operasi karena terjadinya fibrosis dan mikroangiopati (Afzal. Spiloitis et al. keadaan ini akan mengurangi sintesa kolagen yang merupakan bahan dasar penyembuhan luka. Perawatan pascaoperasi yang tidak optimal Perawatan luka pasca operasi yang tidak optimal memudahkan terjadinya infeksi pada luka sehingga memudahkan pula terjadinya dehisensi luka operasi. 2008. e. 2008).dinding abdomen iniah yang akan menyebabkan berkurangnya kekuatan jahitan bahkan pada kasus yang berat akan menyebabkan putusnya benang pada jahitan luka operasi dan keluarnya jaringan dalam rongga abdomen. Makela J. Hal ini dilakukan dengan penderita berbaring di tempat tidur dan menutup luka operasi dengan kassa steril atau pakaian khusus steril. Penggunaan jahitan penguat abdominal dapat dipertimbangkan untuk mengurangi perburukan luka operasi terbuka (Anonim. Selain perawatan luka yang baik. 2008. 1.

dan Bogota bag repair (Sukumar. Pemberian antibiotik sebelum operasi dilakukan. Jika terdapat tanda. Tindakan awal yang dilakukan adalah eksplorasi melalui dehisensi luka jahitan secara hati-hati dan memperlebar sayatan jahitan lalu mengidentifikasi sumber terjadinya dehisensi jahitan. dan penyebab terbukanya luka operasi murni karena kesalahan tekhnik penjahitan (Sukumar. 2008. Penanganan Operatif Penanganan operatif dilakukan pada sebagian besar penderita dehisensi. Pada luka yang sudah terkontaminasi dilakukan tindakan debridemen terlebih dahulu sebelum penutupan kembali luka operasi. Tehnik yang sering digunakan adalah dengan melepas jahitan lama dan menjahit kembali luka operasi dengan cara satu lapisan sekaligus. Selain penjahitan ulang dilakukan pula tindakan debridement pada luka (Spiloitis et al. 2008). Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan keadaan stabil. 2. 2005). 2004). Sjamsudidajat. mesh repair. 2004). Tindakan eksplorasi dilakukan dalam 48 ± 72 jam sejak diagnosis dehisensi luka operasi di tegakkan. Tutup kulit secara erat dan dapat dipertimbangkan penggunaan drain luka intraabdominal. Pastikan mengambil jaringan cukup dalam dan hindari tekanan berlebihan pada luka. Penjahitan ulang luka operasi dilakukan secara dalam. yaitu dengan menjahit seluruh lapisan abdomen menjadi satu lapis. 2009.tanda sepsis akibat luka. membebaskan omentum dan usus di sekitar luka. Ismail. Jenis operasi rehecting atau penjahitan ulang paling sering dilakukan hingga saat ini.antibiotik yang memadai untuk mencegah perburukan dehisensi luka (Singh. vacuum pack. Ada beberapa jenis operasi yang dilakukan pada dehisensi luka yang dilakukan antara lain rehecting atau penjahitan ulang luka operasi yang terbuka. Dalam perencanaan jahitan ulangan perlu dilakukan pemeriksaan yang baik seperti laboratorium lengkap dan foto throraks. buka kembali jahitan luka operasi dan lakukan perawatan luka operasi 34 . abdominal packing.

Penjahitan dengan tehnik terputus sekurangnya 3 cm dari tepi luka dan jarak maksimal antar jahitan 3 cm. Jahitan penguat dengan karet atau tabung plastic lunak (5-6cm) dapat dipertimbangkan guna mengurangi erosi pada kulit. Prinsip pemilihan benang untuk penjahitan ulang adalah benang monofilament nonabsorbable yang besar. 2008. Ismail. yaitu penutupan luka dengan bahan sintetis yaitu mesh yang berbentuk semacam kasa halus elastis yang berfungsi sebagai pelapis pada jaringan yang terbuka tersebut dan bersifat diserap oleh tubuh. Tekhnik ini dilakukan pada dehisensi yang telah mengalami eviserasi. Tekhnik lain yang digunakan adalah Bogota bag. Jangan mengikat terlalu erat. 2009). Bogota bag adalah kantung dengan bahan dasar plastik steril yang merupakan kantong irigasi genitourin dengan daya tampung 3 liter yang digunakan untuk menutup luka operasi yang terbuka kembali. Selain Rehecting. Namun mesh repair menimbulkan angka komplikasi yang cukup tinggi. Plastik ini dijahit ke kulit atau fascia pada dinding abdomen anterior (Sukumar. baik pada jahitan dalam ataupun pada kulit. Ismail. Dilaporkan terdapat sekitar 80% pasien dengan mesh repair mengalami komlplikasi dengan 23% mengalami enteric fistulation (Sukumar. Tekhnik ini menggunakan sponge steril untuk menutup luka operasi yang terbuka kembali setelah itu ditutup dengan vacuum bag dengan sambungan semacam suction di bagian bawahnya.secara terbuka dan pastikan kelembaban jaringan terjaga (Anonim. 2008. 2004). 2008). Spiloitis. Jahitan penguat luar diangkat setidaknya setelah 3 minggu (Anonim. 2008. Metode yang biasa dilakukan antara lain mesh repair. 2004). banyak tekhnik yang dilakukan untuk menutup dehisensi luka secara sementara maupun permanen. 35 . Selain itu digunakan pula vacuum pack.

C. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskripsi retrospektif.Desember 2011 di bagian Rekam Medik RSUD Prof.III. Populasi pada penelitian adalah semua pasien dengan diagnosis wound dehiscence pasca laparotomi di RSUD Prof. Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan November . 36 . Margono Soekarjo Puwokerto. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Dr. METODE PENELITIAN A. Data diperoleh dari data sekunder (catatan medik di RSMS). Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 November 2011. Dr. B.

37 . E. Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 November 2011. Dr. F. 4. Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 November 2011 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tata Urutan Kerja Sampel diambil menggunakan metode Total Sampling. Total pasien dengan diagnosis wound dehiscence pasca laparotomi di RSUD Prof. SPSS merupakan paket program statistik untuk mengolah dan menganalisis data. Dr.2.0. Dr. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian menggunakan rancangan penelitian Deskripsi retrospektif Penelitian Deskriptif retrospektif dengan mengeksplorasi data sekunder dari data pasien wound dehiscence pasca laparotomi di bagian bedah RSUD Prof. Kriteria Inklusi: Pasien dengan diagnosis wound dehiscence pasca laparotomi di RSUD Prof. 4 pasien tidak memebuhi kriteria eksklusi sehingga total sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 34 sampel. Kriteria Eksklusi : Pasien dengan diagnosis wound dehiscence pasca laparotomi dengan data penunjang untuk penelitian yang tidak lengkap 3. Sampel pada penelitian ini adalah semua pasien dengan diagnosis wound dehiscence pasca laparotomi di RSUD Prof. D. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul akan diolah dengan menggunakan sistem komputerisasi Software Statistical Programme for Social Science (SPSS) for Windows versi 16. Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai 31 November 2011 adalah sebanyak 38 pasien. Dr. Teknik Sampling Jumlah Sampel . Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai 31 November 2011.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Margono Soekarjo Purwokerto selama periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 November 2011. jenis kelamin. Data dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan beberapa faktor antara lain.1 Karakteristik responden berdasarkan usia <=20 tahun 2008 2009 2010 2011 Total 2 6 2 2 12 usia dalam tahun 21-40 41-60 1 2 2 4 2 2 2 2 7 10 >60 3 0 2 0 5 Total 8 12 8 6 34 38 . disajikan dan dilaporkan dalam bentuk persentase. IV.Penelusuran data dilakukan dengan mengambil data sekunder dari data rekam medis pasien wound dehiscence pasca laparotomi di bagian bedah RSUD Prof. Hasil 1. didapatkan gambaran umum responden sebagai berikut : Tabel 4. Dr. usia. distribusi pasien dan penatalaksanaan kasus. Gambaran Umum Responden Dari penelitian yang dilakukan. output pasien. Data yang didapat kemudian ditabulasi. jumlah kasus per tahun.

3 Karakteristik responden berdasarkan kelas perawatan kelas 1 5 4 2 1 12 kelas dirawat kelas 2 kelas 3 1 2 3 3 0 6 0 5 4 16 vip 0 2 0 0 2 Total 8 12 8 6 34 tahun 2008 2009 2010 2011 Total Tabel 4.Tabel 4. sedangkan yang berusia lebih dari 60 tahun sebanyak 5 orang.1 menunjukan bahwa sebagian responden berusia kurang dari 20 tahun yaitu sebanyak 12 orang. kelas 2 sebanyak 4 orang. Tabel 4.2 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4 4 9 3 6 2 4 2 23 11 Total 8 12 8 6 34 tahun 2008 2009 2010 2011 Total Tabel 4. Tabel 4.4 Karakteristik responden berdasarkan jenis operasi laparotomi Jenis operasi laparotomi cito tahun 2008 2009 2010 4 7 5 elektif 4 5 3 Total 8 12 8 39 .3 menunjukan bahwa sebagian responden dirawat dikelas 3 sebanyak 16 orang. Tabel 4.2 menunjukan bahwa sebagian responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 23 orang sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 11 orang. berusia antara 21-40 tahun sebanyak 7 orang. berusia antara 41-60 sebanyak 10 orang. kelas 1 sebanyak 12 orang dan kelas VIP sebanyak 2 orang.

3.5 Penatalaksanaan Dehisensi penatalaksanaan konservatif konservatif rawat jalan rawat inap operatif Total tahun 2008 3 3 2 8 2009 2 5 5 12 2010 1 4 3 8 2011 3 3 0 6 Total 9 15 10 34 Tabel 4. konservatif rawat 40 .4 menunjukan bahwa sebagian responden menjalani operasi cito atau emergensi yaitu sebanyak 21 orang sedangkan yang menjalani operasi elektif sebanyak 13 orang. Analisis Deskriptif Tabel 4.2011 Total 5 21 1 13 6 34 Tabel 4.5 menunjukan bahwa sebagian responden dilakukan penatalaksanaan konservatif rawat jalan sebanyak 9 orang.

dan penatalaksanaan operatif sebanyak 10 orang. 6 5 4 3 penatalaksanaan konservatif raw at ja lan 2 1 konservatif raw at in ap Count 0 2008 2009 2010 2011 operatif tahun 2. 41 .inap sebanyak 15 orang. Pembahasan Jumlah kasus pasien yang menderita wound dehisensi post operasi laparotomi di RS Margono Soekarjo periode 1 Januari 2008 .31 November 2011 sebanyak 39 kasus dengan jumlah sampel yang diambil untuk penelitian sebanyak 34.

Sedangkan untuk kelompok usia didominasi oleh kelompok usia kurang dari 20 tahun yaitu sebesar 42%. 2003). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh webster et al afzal et al. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Yadi di semarang pada tahun 2005 yang menyebutkan bahwa faktor resiko terjadinya dehisensi yaitu lebih banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki (Yadi. Penatalaksanaan dehisensi post laparotomi RSMS terbanyak adalah tindakan konservatif sebanyak 70% dengan pembagian 26% konservatid rawat jalan dan 44% konservatif rawat inap. 2005). 2008. Sedangkan 42 . Webster. dan spiloitis et al yang menerangkan bahwa faktor resiko dehisensi yaitu usia lanjut dengan pertimbangan bahwa sistem imun padi usia lanjut sudah mengalami penurunan dan tidak maksimal seperti pada usia produktif sehingga lebih mudah terkena infeksi dan terjadi dehisensi (Afzal. 2008). 2003. Spiloitis et al. Makela et al . Penatalaksanaan konservatif yang dilakukan antara lain dengan perawatan luka secara berkesinambungan. Dapat digambarkan bahwa kelompok dengan tingkat sosial ekonomi rendah lebih rentan terkena dehisensi post laparotomi dengan pertimbangan asupan nutrisi yang tidak adekuat dan pengetahuan tentang perwatan luka yang kurang baik (Afzal. Webster. Untuk jenis operasi laparotomi yang dilakukan didapatkan lebih banyak responden dengan jenis operasi cito atau emergensi yang menglami dehisensi dibandingkan dengan responden yang menjalani operasi elektif. Dilihat dari kelas mana pasien dirawat dapat dilihat secara kasar bagaimana kondisi ekonomi pasien. 2009. Makela et al yang menyebutkan salah satu faktor resiko terjadinya dehisensi paska operasi laparotomi adalah tindakan emergensi (Afzal. 2009. 2008. dan spiloitis et al. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh webster et al afzal et al. 2005). Spiloitis et al. pemberian antibiotik dan nutrisi yang adekuat serta mobilisasi.Jumlah pasien dehisensi post laparotomi yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pasien yang berjenis kelamin laki-laki mempunyai persentase 67% dan perempuan 33%. Dari gambaran umum pasien dehisensi post laparotomi didapatkan pasien yang dirawat di kelas 3 lebih banyak dari yang lain yaitu sebesar 47%.

2003. . KESIMPULAN DAN SARAN A. Webster. 2008. 2005). V. Spiloitis et al. Kesimpulan 43 .untuk tindakan operatif sebanyak 30% yang dilakukan adalah rehecting dan wound repair atau penjahitan ulan dan debridemen (Afzal. Yadi. 2009.

dan pada kelompok usia kurang dari 20 tahun sebanyak 42%. Sedangkan terapi operatif sebanyak 30%. 2.1. Distribusi sampel penelitian terbanyak berada pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 67%. DAFTAR PUSTAKA 44 . Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Dehisensi post laparotomi untuk melihat lebih jauh factor-faktor resiko pada pasien. Saran 1. 3. Kelangkapan catatan medis mengenai diagnosis pasien dan penatalaksanaan yang dilakukan perlu diperhatikan untuk memudahkan dilakukannya penelitian. 2. B. Jumlah pasien Dehisensi post laparotomi di RSUD Margono Soekardjo periode 1 Januari 2008 sampai 31 November 2011 adalah sebanyak 38 pasien. Penatalaksanaan dehisensi post laparotomi di RSUD Margono Soekardjo periode 1 Januari 2008 sampai 31 November 2011 didominasi oleh penatalaksanaan konservatif sebanyak 70%.

ac. FK-UNPAD: Bandung. Diakses Desember 2011 dari: http://www.com. Diakses Desember 2011 dari : http://ocw. Loss AB.pdf 45 . Nur Time 99(13) .infectioncontroltoday. Japiassi AM. Wound healing and sacrring sutures.com/cs/skinanatomy/a/anatomy. Bardia. 170 (4): 387-390 Sinaga. 2005. diakses Desember 2011 dari: http:// emedicine.scribd. 1-6. 2003. Diakses Desember http://www. Heather. Wound Healing.br/cirur/cirur. Kiviniemi H.com/doc/56192741/DEHISENSI2 Anonim. The Federal University of Rio de Janeiro. Luka dan Perawatannya. com/ article/ 1294744-overviewAnita. King Edward Medical University Lahore . 2009.id/topik/files/2011/12/Merawat-luka. 2008. H. 2009. Diakses Desember 2011 dari: http://emedicine. et al.medstudents. 2011.medscape.scribd.unpad. Diakses Desember 2011 dari : http://www. B.pdf Kate. Bashir M.com/article/1829835-overview Makela J. Diakses Desember 2011 dari : http://pustaka. Penyembuhan Luka dan Dehisensi.com/doc/74673683/LP-Laparatomi 2011 dari: Barnard. 2007. Laparotomi. 2008. 2007.html Braz FSV. Virgo Publishing . Annals 14:3 Amirlak. Management of surgical wound.id/wpcontent/uploads/2009/04/pencegahan_infeksi_luka_operasi. 2008.pd f Ismail.ac. Cecilia.id/course/download/128-KEBUTUHAN-DASARMANUSIA/kdm_slide_kebutuhan_dasar_manusia_konsep_luka. Pencegahan Infeksi Luka Operasi. Prevention of surgical site infection. Determinants of Wound Dehiscence in Abdominal Surgery in Public Sector Hospital. Juvonen T. 2009.Afzal S. 2007. 2003. Nucki.usu. about. 2008. Skin Anatomy.1-9 Brannon. 1-5.htm Hidayat.ac. Yusuf.com Baxter. FK UNAND: Padang Anonim. Factors influencing wound dehiscence after midline laparotomy. Infection Control Today Magazine. medscape. Skin Anatomy. Asuhan Keperawatan Laparotomy. Exploratory Laparotomy. Diakses Desember 2011 dari : http://umy. Vikram. Department of Community Medicine. http://www. Diakses Desember 2011 dari: http:// dermatoloy. American journal of surgery.

Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. India. 2009. 2009. World Journal of Emergency Surgery 4:12 Sukumar N. 2005. Neumayer L. et al. Max Heart and Vascular Institute. Resident Medical Officer. Razman J. Yohana. Asuhan Keperawatan Laparotomi atas indikasi Kista Ovari. Cases Journal 1:363 Sjamsudidajat R.Singh. 2005. Bogota Bag in the Treatment of Abdominal Wound Dehiscence. 2003.com/2008/05/13/proses-penyembuhan-luka/ Wain. Proses Penyembuhan Luka. Datsis A. Muhammad. Tsiveriotis K. 2009. Tesis : Wound Dehiscence Pasca Bedah Sesar. Prognostic models of abdominal wound dehiscence after laparotomy. et al. Abhijit. et al. 2008. 109 (2): 130-137 Yadi. New Delhi. Smout R. Luka Operasi. Saket. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta Spiloitis J. 59:2 Tawi. Shaharin S. Medical Journal Malaysia.wordpress. Akademi Keperawatan UPN: Jakarta Webster C. Journal of Surgical Research. Mizral. De Jong W. Wound dehiscence: is still a problem in the 21th century: a retrospective study. FK UNDIP : Semarang 46 . Case Report: Spontaneous scar dehiscence of a repaired bladder rupture in a 5 yr old girl – a case study. Diakses Desember 2011 dari : http://syehaceh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful