You are on page 1of 8

MILD COGNITIVE IMPAIRMENT (GANGGUAN KOGNITIF RINGAN) Muhammad Trihatmowijoyo Bundjali Hadiq Firdausi

PENDAHULUAN Pada usia lanjut terjadi proses menua, dimana secara struktur anatomi maupun fungsional terjadi kemunduran, yaitu proses degenerasi (Makmun, 2009). Pada beberapa penderita tua terjadi penurunan daya ingat dan gangguan psikomotor yang masih wajar, disebut sebagai “ sifat pelupa benigna akibat penuaan” (benign senescent forgetfullness). Keadaan ini tidak menyebabkan gangguan pada aktivitas hidup sehari-hari (Darmojo, 2010). Secara klinis munculnya demensia pada seorang usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya yang tidak jelas dan perjalanan penyakitnya yang progresif namun perlahan (Rochmah, 2009). Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia merupakan dampak keberhasilan pembangunan, terutama dibidang kesehatan. Namun disisi lain, hal ini dapat menjadi masalah kesehatan sebagai prevalensi gangguan kognitif berkaitan dengan usia lanjut. Dengan semakin meningkatnya penduduk lansia, dibutuhkan perhatian dari semua pihak dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan penuaan penduduk. Akibat populasi usia lanjut yang meningkat maka akan terjadi transisi epidemiologi, yaitu bergesernya pola penyakit infeksi dan gangguan gizi menjadi penyakitpenyakit degenerative, seperti diabetes, hipertensi, neoplasma, penyakit jantung koroner (Soejono, 2009;KOMNAS LANSIA, 2010). Saat ini telah diketahui adanya keadaan transisi berupa perubahan kognitif dari proses penuaan normal ke penyakit dementia yang dikenal dengan nama Gangguan Kognitif Ringan/ Mild Cognitive Impairment atau disingkat MCI. Pasien dengan MCI memiliki gangguan kognitif akan tetapi belum cukup untuk dianggap sebagai dementia. Individu dengan gangguan kognitif ringan mampu menjalani aktifitasnya dalam kegiatan sehari-hari tetapi sedikit mengalami kesulitan, biasanya dengan kemampuan memorinya, seperti kesulitan mengingat nama orang yang mereka temui baru-baru ini dan kesulitan mengikuti aliran percakapan. Penderita MCI mengatasi kesulitan-kesulitan mereka dengan

mengkompensasi nya menggunakan alat bantu berupa catatan dan kalender. Dalam hal ini, MCI berbeda dari demensia. Pada demensia, individu tidak bisa lagi menyediakan kebutuhan hidup mereka sendiri dan mereka akan jatuh pada ketergantungan kepada lingkungan sekitarnya (Decarli, 2003). Tinjauan Kepustakaan Departemen-SMF Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSU dr. Soetomo, Surabaya 2011

1

DEFINISI & TERMINOLOGI Definisi kognisi menurut Kamus Kedokteran adalah kegiatan atau proses intelektual dimana seseorang memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalamannya sendiri atau memahami ide-ide yang melibatkan aspek persepsi, pemikiran, penalaran dan usaha untuk mengingat/ memori. Gangguan kognitif pada penderita dewasa dihubungkan dengan penurunan fungsi aktifitas sehari-hari, peningkatan risiko cedera, adanya kebutuhan terhadap orang yang merawat, dan bahkan mampu meningkatkan risiko mortalitas (Weisskopf, 2004). Walaupun dari berbagai literatur belum ada kesepakatan yang jelas mengenai konsep dan definisi gangguan ini, namun berbagai studi menunjukkan bahwa progresi menjadi demensia akan lebih tinggi pada populasi dengan MCI dibanding populasi usia lanjut normal. Gangguan fungsi kognitif yang ringan pada usia lanjut seringkali tidak terdiagnosis karena baik pasien maupun keluarga terdekat umumnya tidak memperhatikan adanya penurunan fungsi ini atau menganggap gangguan fungsi kognitif yang terjadi adalah hal yang wajar (Ghetu et al, 2010).

MILD COGNITIVE IMPAIRMENT
Cognitive Impairment Not normal for Age Not Demented Cognitive Decline Essentially Normal Functional Activities

MCI Yes
Amnestic MCI Memory Impairment ?

No
Not Amnestic MCI

Yes

Memory Impairment Only ?

No

Yes

Single Non Memory Cognitive Domain Impaired ?

No

Amnestic MCI Single Domain

Amnestic MCI Multiple Domain

Non Amnestic MCI Single Domain

Non Amnestic MCI Multiple Domain

Figure 10.4-1 : the current algorithm for diagnosing mild cognitive impairment (MCI) and its subtypes. (Repaired with permission from petersen RC : Mild cognitive impairment. Continuum 2004;10:9

Tabel.1. Pembagian subtype MCI (Petersen, 2004) 2

Terminologi Amnestic MCI

Definisi Adalah tipe MCI yang diikuti dengan gangguan pada kemampuan memori atau daya ingat.

Amnestic MCI Single Domain Adalah subtipe dari MCI yang hanya didapatkan dengan satu gangguan – aMCIsd Amnestic MCI kognitif yaitu gangguan memori. Multiple Adalah subtipe dari MCI yang diikuti dengan gangguan memori dan setidaknya terdapat satu gangguan kognitif yang lain. Adalah tipe MCI yang diikuti dengan gangguan kognitif, namun gangguan tersebut bukan pada aspek memori atau daya ingat. Single Adalah subtipe dari MCI yang hanya didapatkan dengan satu gangguan kognitif yaitu gangguan non-memori. Multiple Adalah subtipe dari MCI yang diikuti dengan lebih dari satu gangguan kognitif (kesemuanya tidak termasuk aspek memori).

Domain – aMCImd Nonamnestic MCI Nonamnestic MCI

Domain – naMCIsd Nonamnestic MCI

Domain – naMCImd

Tabel.2. Definisi subtype MCI (Ritchie, 2010) EPIDEMIOLOGI Menurut WHO, Organisasi Kesehatan Dunia (2009), jumlah orang yang berusia 60 tahun ke atas akan meningkat dua kali lipat menjadi 1,2 miliar orang pada tahun 2025. Penemuan ini memiliki implikasi penting sebagai prevalensi gangguan kognitif yang positif berkaitan dengan usia lanjut (Ritchie, 2010). Prevalensi MCI di Amerika Serikat diperkirakan berkisar 19,2% untuk usia 65-74 tahun, 27,6% untuk usia 75-84 tahun, dan 38% untuk usia 85 tahun keatas. Insiden dan prevalensi MCI akan

meningkat seiring meningkatnya usia dan pada mereka dengan latar belakang pendidikan yang rendah serta adanya faktor resiko begitupun insiden demensia yang ternyata meningkat secara bermakna seiring meningkatnya usia (Anderson ,2010) Saat ini telah banyak studi penelitian yang menunjukkan perubahan MCI ke arah demensia yang memperlihatkan bahwa individu dengan MCI akan mempunyai resiko untuk menjadi demensia dapat mencapai 25% pertahun. Pada penelitian yang lain disebutkan bahwa sekitar 20% penderita MCI akan menjadi demensia hanya membutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Sedangkan Petersen melaporkan bahwa seseorang dengan MCI akan berlanjut ke demensia rata-rata sebesar 10-15% tiap tahunnya. The Italian Longitudinal study on Aging (ILSA) melaporkan laju insidennya 21,5/1000 orang/tahun, sementara the Leipzig Longitudinal Study of of the Aged (LEILA) mendapatkan laju insiden MCI adalah 8,5/1000 orang/tahun. Beberapa penelitian yang lain memperlihatkan bahwa individu dengan MCI atau gangguan

3

kognitif yang lain pada periode lebih dari 5 tahun ternyata dapat mengalami evolusi menjadi demensia. Tetapi studi ini tergantung dari definisi dan populasi yang digunakan (Golomb, 2001;Palmer, 2002). FAKTOR RESIKO Berbagai penelitian mencoba untuk mendapatkan faktor resiko yang dapat memudahkan seseorang dapat mengalami penurunan fungsi kognitif baik yang ringan maupun yang berat. Secara garis besar faktor resiko tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor resiko yang dapat di modifikasi. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi : 1. Umur/usia lanjut 2. Jenis kelamin (belum dapat dikonfirmasi) 3. Genetik Faktor resiko yang dapat dimodifikasi : 1. Hipertensi 2. Diabetes melitus 3. Dislipidemia 4. Lain-lain ( merokok, obesitas, konsumsi alkhohol ) (Golomb, 2001) DIAGNOSA MCI merupakan suatu gangguan yang belum cukup untuk memenuhi suatu kriteria demensia. Kadang kala kondisi ini bisa dinamakan suatu “ sindroma predemensia” yang pada berbagai studi telah dibuktikan sebagian akan berlanjut menjadi demensia (terutama demensia tipe alzheimer) yang simtomatik. Di edisi keempat revisi teks Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSMIV-TR), MCI dijadikan tempat berbagai ketentuan (cognitive disorder not Otherwise Specified [NOS]), yang tidak dispesifikasikan (Andreescu & Aizenstein , 2009). MCI mengacu pada penurunan kognitif yang tidak memenuhi kriteria untuk demensia (McDade, 2010) Meskipun istilah MCI telah digunakan sejak 1982 sebagai descriptor tahapan 3 di Global Deterioration Scale (GDS), baru-baru ini, ini telah dikembangkan oleh Mayo Clinic Group sebagai kategori diagnostik yang didesain untuk mengisi gap antara perubahan-perubahan kognitif yang berkaitan dengan penuaan dan gangguan kognitif. Kriteria yang diajukan oleh Mayo Clinic Alzheimer’s Disease Research Center (kriteria MCADRC) adalah :
    

Adanya keluhan memori Fungsi memori yang tidak sesuai dengan umur dan pendidikan Fungsi kognitif umumnya masih baik Aktifitas sehari-hari masih baik Tidak demensia 4 (Andreescu & Aizenstein , 2009)

GEJALA & KELUHAN Gangguan memori adalah gejala yang paling sering timbul namun kadang tidak disadari pada pasien MCI. Ini mencakup anterograde amnesia (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru) dan retrograde amnesia (ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya). Gejala-gejala terkait mencakup confabulations, perubahan personalitas (apatis, kurangnya inisiatif, impulsivity) dan gejala-gejala neurologis yang lain (Andreescu & Aizenstein, 2009). Sangat sulit untuk mendiagnosa MCI karena kadang kala gejala tidak khas dan keterbatasan waktu dari pertemuan pasien dengan dokter. Gejala yang biasa terjadi adalah depresi, apatis, gelisah, dan lekas marah. Pasien MCI yang diikuti dengan fitur-fitur perilaku tersebut lebih rentan untuk berkembang menjadi Alzheimer Disease (AD) daripada pasien tanpa fitur tersebut (Ghetu et al, 2010). Tahap awal MCI dalam individu muncul sebagai perubahan halus yang mungkin tidak selalu terlihat, kecuali diamati oleh seorang profesional yang terlatih, atau dengan anggota keluarga atau teman yang dekat dengan penderita. Individu pada tahap awal MCI mengkompensasi nya dengan membuat daftar dan catatan untuk mendukung kegiatan sehari-hari (Sanchez, 2009). Tanda-tanda yang mungkin menjadi sinyal awal dari MCI adalah:   Memori, contohnya seperti: lupa dengan apa yang telah dilakukan kemarin. Bahasa, mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, seperti: ketidakmampuan untuk mengingat dan mengintegrasikan kata-kata dalam sebuah percakapan, atau untuk mengikuti suatu percakapan.   Kemampuan visuospatial ialah kemampuan terkait dengan mengambil perkiraan jarak, volume , dan posisi yang tepat. Pada dasarnya ini menyiratkan akurasi dalam estimasi. Fungsi eksekutif, seperti: kesulitan dengan pengambilan keputusan, perencanaan dan pengorganisasian (Sanchez, 2009). EVALUASI Pemeriksaan Status Kognitif Penegakan diagnosa MCI tidak berdasarkan penilaian status kognitif akan tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan. Penilaian status kognitif perlu diberikan kepada orang yang beresiko untuk konversi ke demensia (yaitu terutama mereka yang menunjukkan defisit memori) (Ritchie, 2010). Dalam mendiagnosis MCI sering dibantu dengan pemeriksaan kognitif seperti MMSE (Mini mental State Examination), CDR (Clinical Dementia Rating), dan GDS (Petersen, 2004). MMSE, tes kognitif yang paling banyak digunakan untuk mendefinisikan MCI. Skor 18 - 23 dari 30 pada MMSE telah dapat digunakan untuk mendefinisikan MCI. Skor 30 tidak selalu berarti fungsi kognitif normal dan skor nol bukan berarti tidak ada kognisi secara absolut. MMSE mempunyai

5

sensitivitas 79,8% dan spesifisitas 81,3%, dan menyimpulkan bahwa MMSE menawarkan akurasi sederhana, dapat digunakan sebagai perbandingan kombinasi dengan metode lain (Ghetu MV et al, 2010). CDR memiliki sensitivitas 95% dan spesifisitas 94% dimana instrument ini mencirikan enam aspek kinerja kognitif dan fungsional: Memori, Orientasi, Putusan & Pemecahan Masalah, Community Affairs, Home & Hobbies, dan Personal Care. Informasi yang diperlukan untuk membuat skoring yang diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dari pasien dan sumber informan (misalnya, anggota keluarga). Skor 0 menunjukkan nilai normal , 0,5 = Questionable Dementia/ MCI, 1 = Mild Dementia , 2 = Moderate Dementia dan 3= Severe Dementia (Petersen, 2004). GDS digunakan untuk skala rating demensia. Pada GDS, skor 1 atau 2 merupakan variasi dari fungsi normal dengan dan tanpa keluhan subjektif. Skor GDS 3 sampai dengan 7 mewakili tahap yang berbeda-beda, menunjukan tingkat kerusakan kognitif. Dalam hal skala ini, SKOR 3 dari GDS dapat mewakili MCI. Instrumen ini memiliki sensitivitas 83% dan spesifisitas 88% (Petersen, 2004). PENATALAKSANAAN Saat ini tidak ada pengobatan untuk menghilangkan penurunan kognitif ringan. Pada dasarnya penatalaksanaan dari MCI ditujukan untuk memperlambat timbulnya dementia. Dalam hal ini penatalaksanaan untuk MCI dibagi dua, yaitu non-farmakologis dan farmakologis (Anderson, 2010). NON FARMAKOLOGIS Aktivitas fisik, sosial, dan mental sering direkomendasikan untuk pasien dengan MCI, banyak ahli menganjurkan bahwa kegiatan yang merangsang fungsi kognitif, seperti teka-teki silang, permainan asah otak dan diskusi mungkin berguna untuk pasien dengan MCI. Meskipun bukti mutlak bagi keberhasilan kegiatan ini tidak tersedia, namun aktivitas ini tetap dianjurkan oleh para ahli (Anderson, 2010). Perubahan gaya hidup juga dapat mengurangi risiko. Kepatuhan terhadap diet ketat rendah lemak dikaitkan dengan kejadian MCI yang lebih rendah dan dengan insiden lebih rendah terhadap pengembangan demensia. Diet tersebut seperti mengkonsumsi buah dan sayuran,minyak zaitun, bijibijian, ikan dan unggas, makanan kaya akan antioksidan dan omega 3 (Mila, 2010) FARMAKOLOGI Beberapa obat telah diteliti untuk pencegahan pengembangan progresi demensia, diantaranya inhibitor cholinesterase, antioksidan, dan nootropics, yang memodifikasi tingkat kimia otak. (Mila, 2010) Penghambat Cholinesterase Penghambat cholinesterase biasanya digunakan untuk mengobati gejala tahap awal dari penyakit seperti Alzheimer. Hal ini karena diduga terjadi penurunan produksi asetilkolin semakin cepat seiring bertambahnya umur. Ini termasuk Donepezil, Tacrine, Rivastigmine & Galantamine, untuk

memperlambat timbulnya dementia. Donepezil adalah yang tersering diberikan dengan dosis harian yang diberikan biasanya 5-10 mg. Dosis ini diberikan hanya sekali sehari, baik di pagi hari atau di malam hari. 6

Efek samping dapat timbul setelah pemberian seperti mual, muntah, sakit kepala, sulit tidur dan pusing (Mila, 2010) Anti-Oksidan Zat-zat anti-oksidan seperti vitamin E dapat melindungi sel-sel otak dari stres oksidatif. Vitamin E adalah senyawa diet dengan sifat antioksidan yang terlibat dalam pencarian radikal bebas. Studi-studi Laboratorium dan penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa dengan Vitamin E (400 UI/hari) dimungkinkan mampu dalam memperlambat penurunan kognitif (Mila, 2010). Nootropics Nootropics adalah obat yang meningkatkan aktivitas otak dan memori. Nootropics meningkatkan fungsi otak. Piracetam adalah nootropic paling banyak digunakan, meningkatkan kinerja dalam berbagai tugas kognitif, tampaknya efektif pada demensia dan MCI. Sedangkan untuk dosis piracetam yang digunakan untuk MCI 1600 mg/hari (Mila ,2010). KESIMPULAN MCI diketahui sebagai keadaan transisi berupa perubahan kognitif dari proses penuaan normal ke penyakit dementia. Individu dengan gangguan kognitif ringan mampu berfungsi dalam kegiatan seharihari tetapi mengalami gangguan dengan kemampuan memori, bahasa, kemampuan visuospatial atau fungsi eksekutif. Penegakan diagnosa MCI tidak berdasarkan pemeriksaan status kognitif akan tetapi pemeriksaan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan. Penilaian status kognitif perlu diberikan kepada orang yang beresiko untuk konversi ke demensia. Dalam mendiagnosis MCI sering dibantu dengan pemeriksaan status kognitif seperti CDR (Clinical Dementia Rating), MMSE (Mini mental State Examination), dan GDS (Global deterioration Scale). Saat ini tidak ada pengobatan untuk MCI. Pada dasarnya penatalaksanaan dari MCI ditujukan untuk memperlambat timbulnya dementia. Dalam hal ini penatalaksanaan untuk MCI dibagi dua, yaitu non-farmakologis dan farmakologis.

DAFTAR PUSTAKA:    Anderson HS (2010) Mild Cognitive Impairment. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/1136393-overview [acccesed atDecember 10 ,2010) Andreescu C & Aizenstein H.J (2009) Amnestic Disorders And Mild Cognitive Impairment in the text book of Comprehensive Textbook of Psychitry, Kaplan & Saddock, pp 1198 - 1206. Darmojo RB (2009) Gerontologi Dan Geriatri di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Editor : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, simandibrata M, setiati, edisi V, Jakarta, pp 924-933

7

 

Decarli C (2003) Mild Cognitive Impairment : Prevalence, prognosis, aetiology and treatment. In : The Lancet Neurology Vol. 2 january, pp 15-21 Ghetu MV et al ( 2010) Diagnosis And Treatment of Mild Cognitive Impairment. Available at: file:///D:/MCi/Diagnosis-and-Treatment-Mild-Cognitive-Impairment.htm [Accesed at: October 10, 2010]

   

Golomb J et al (2001) Diagnosis of MCI. In: Clinicians Manual on Mild Cognitive Impairment. Holland, pp 9-20 KOMNAS LANSIA (2010) Profil Penduduk Lanjut Usia 2009, pp 35-52 Makmun LH (2009) Kegawatdaruratan pada Geriatri. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Editor : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, simandibrata M, setiati, edisi V, Jakarta, pp 904-906 McDade EM (2010) Mild Cognitive Impairment : Prognosis and treatment. Available at: http://www.uptodate.com/patients/content/topic.do?topicKey=~nZx6ARk4krXYRZ [ acccested on January 20,2011)

   

Mila C et al (2010) Therapeutical Strategies in Mild Cognitive Impairment, pp 40-45 Palmer K et al (2002) Differential evolution in non demented older person: Result from from the Kungsholmen Project. Am J Psychiatry, pp 436-42 Petersen RC (2004) Mild Cognitive Impairment as a Diagnostic Entity. Journal of Internal Medicine, pp 183 - 194 Ritchie LJ et al (2010) Mild Cognitive Impairmant: Case Definitions, Age, And Other Risk Factors. Available at: http://cirrie .buffal.edu/eccyclopedia/en/article/117 [accessed on December 20,2010)

 

Rochmah W, Harimurti K( 2009) Demensia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Editor : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, simandibrata M, setiati, edisi IV, Jakarta, pp 837–844 Sanchez R (2004) Mild Cognitive Impairment(MCI)-Tell tale Signs That You May Be At Increased Risk for Dementia or Alzheimer Disease. Available at:

http://www.alzheimersolution.com [accessed on December 20,2010)  Soejono (2009) Pengkajian Paripurna pada Pasien Geriatri. . Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Editor : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, simandibrata M, setiati, edisi V, Jakarta, pp 768-773  Weisskopf MG et al (2010) Cumulative Lead Exposure and Prospective Change in Cognition among Elderly Men, The VA Normative Aging Study. Am J Epidemiol, pp 1184 – 1193

8