You are on page 1of 8

Biofarmasi 2 (2): 45-52, Agustus 2004, ISSN: 1693-2242 ¤ 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Analisis Komposisi Nutrisi Rumput Laut Sargassum crassifolium J. Agardh.
Nutritional composition analysis of seaweed Sargassum crassifolium J. Agardh.
TRI HANDAYANI, SUTARNO, AHMAD DWI SETYAWANj
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126. j Korespondensi: Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126. Tel. & Fax.: +62-271-663375. e-mail: unsjournals@yahoo.com. Diterima: 10 Juni 2004. Disetujui: 28 Juli 2004.

Abstract. The aims of the research were to find out nutritional composition of seaweed Sargassum crassifolium J. Agardh i. e. concentration of protein, amino acids, mineral (ash), mineral elements (Ca, Fe, and P), vitamin C, vitamin A, lipid, fatty acids and alginates. S. crassifolium is a species of brown seaweed that is consumed as source of food, however, it have not optimally used due to the nutritional composition information does not complete yet. The measurement of protein concentration was done according to Lowry method, while amino acids concentration was measured using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Mineral (ash) was measured by dry ash processing, and mineral elements of Ca, Fe, and P were measured using atomic absorption spectrophotometer (AAS) and UV-Vis spectrophotometer. Vitamin C concentration was measured by titration method, while vitamin A was measured using UV-Vis spectrophotometer. Lipid was measured by extraction method using soxhlet, fatty acids by fatty acids methyl esters (FAMEs) method, and alginates were measured by extraction method. The results indicate that the thallus of S. crassifolium contain protein in the average of 5.19% (w/w), and 17 amino acids (in Pmol amino acid/g wet weight) varies from 13.77 of glutamic acid to 0.83 for hydroxilicine concentration. Mineral/ash content was 36.93% (w/w), Ca: 1540.66 mg/100 g, Fe: 132.65 mg/100 g, P: 474.03 mg/100 g, vitamin C: 49.01 mg/100 g, vitamin A: 489.11 Pg RE/100 g, lipid: 1.63% (w/w), fatty acids concentrations were: 1.45%, 3.53%, 29.49%, 4.10%, 13.78%, 33.58%, 5.94% for lauric acid, meristic acid, palmitic acid, palmitoleic acid, oleic acid, linoleic acid, and linolenic acid subsequently. The concentration of alginates was 37.91% (w/w). Keywords: nutritional composition, seaweed, Sargassum crassifolium J. Agardh.

PENDAHULUAN Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia di samping sandang, perumahan, dan pendidikan. Pengembangan bahan pangan bergizi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam laut yang pemanfaatannya belum optimal. Sumber daya alam laut merupakan sumber pangan yang sangat potensial. Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya ini sangat didukung oleh kondisi perairan Indonesia. Kurang lebih 70% wilayah Indonesia terdiri dari laut, yang pantainya kaya berbagai jenis sumber daya hayati. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai panjang pantai kurang lebih 81.000 km dengan luas perairan pantai sekitar 6.846.000 km2. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan lautnya, termasuk rumput laut (Sulistyawati, 2003). Prospek rumput laut di masa mendatang cukup baik, mengingat potensi perairan Indonesia masih cukup besar untuk pembudidayaan komoditas tersebut (Anonim, 1991). Rumput laut merupakan salah satu komoditas hasil laut yang

penting, serta tumbuh dan tersebar hampir di seluruh perairan laut Indonesia. Tumbuhan ini bernilai ekonomi tinggi dalam bidang industri makanan maupun bukan makanan (industri kosmetik, tekstil, dan farmasi), untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun luar negeri (Indriani dan Sumiarsih, 1992). Manfaat rumput laut sebagai bahan pangan sudah lama diketahui. Di Indonesia rumput laut sudah lama dimanfaatkan penduduk pantai untuk sayur, lalapan, acar, kue, puding, dan manisan. Salah satu rumput laut yang dapat dimakan adalah Sargassum sp., yang merupakan golongan ganggang coklat (Phaeophyta) terbesar di laut tropis. Rumput laut ini mempunyai kemelimpahan dan sebaran yang sangat tinggi, terdapat hampir di seluruh wilayah laut Indonesia. (Atmadja dkk., 1996). Secara umum, rumput laut Sargassum sp. belum banyak dikenal dan dimanfaatkan. Padahal dari beberapa penelitian, dilaporkan bahwa ini mempunyai kandungan nutrisi/zat gizi cukup tinggi, seperti protein dan beberapa mineral esensial, hanya saja analisis komposisi nutrisinya masih belum lengkap. (Mursyidin dkk., 2002).

amonium molibdat. Cairan sampel disaring dengan kertas whatman 0. kemudian diencerkan dengan akuades sampai 100 ml. Analisis elemen mineral Elemen mineral kalsium dan besi (Ca dan Fe) dianalisis dengan menggunakan Atomic Absorbtion Spectrofotometer (AAS). 1990). boron trifluorida. Berdasarkan garis ini kandungan protein cuplikan dapat diketahui. crassifolium yang meliputi kadar protein. Analisis asam amino Asam amino dianalisis dengan menggunakan metode reaksi ninhidrin pasca kolom. dan Laboratorium Dasar Bersama Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Bahan dan alat Rumput laut S. standard vitamin A dan C. trifluoroasetat. tetapi juga oleh masyarakat umum.5 ml NaOH 0.. Dibuat kurva . Ditambahkan 1 ml HCl 6 N ke dalam tabung dan dialiri dengan gas nitrogen. Setelah 22 jam. petrolium eter. kalsium karbonat dan isopropanol.06.24. Kemudian ditambahkan 1. Analisis abu (mineral total) Kadar abu (total mineral) dianalisis berdasarkan metode pengabuan (Sudarmadji. Sehubungan dengan hal tersebut. kadar vitamin A. asam sulfat. Kadar abu sebagai kadar mineral.12. Sampai saat ini. Fe. (1990) dengan urutan kerja sebagai berikut: rumput laut kering ditambah dengan 10 ml asam nitrat pekat dan dibiarkan selama semalam. segera digojog dengan vortex dan diinkubasi pada suhu kamar selama 15 menit. 2. akuabides.18. dimasukkan ke dalam krus porselin yang telah diketahui beratnya. menurut Slamet dkk.. hal. Agustus 2004. Laboratorium Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. 2. Krus porselin dan rumput laut dipijarkan dalam furnace suhu 6000C sampai diperoleh abu berwarna keputih-putihan dan diperoleh berat konstan. jenis dan kadar asam lemak. Untuk analisis sampel selanjutnya ditambah 0. Cara kerja Analisis protein Kadar protein diukur dengan metode Lowry menggunakan spektrofotometer (Slamet dkk. No. asam klorida. 0. kemudian digojog dengan vortex. jenis dan kadar asam amino. Kimia Laboratorium Pusat MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. akuades. BSA. standard asam amino. 0. 1990). kemudian divortex dan diinkubasi pada suhu kamar selama 45 menit dan segera diukur absorbansinya pada 590 nm. Gas nitrogen. kadar lemak.. larutan ninhidrin. Sampel rumput laut diperoleh dari Balai Penelitian dan Budidaya Rumput Laut UNDIP di Teluk Awur. Analisis komposisi nutrisi dilaksanakan di Sub Lab. Rumput laut sebanyak 1 g diekstrak dengan akuades sampai volume 200 ml dan disaring dengan kertas saring. 00-00 Sargassum crassifolium J. Fe dan P). standard bovin serum albumin dengan konsentrasi 0. 0. Rumput laut segar sebanyak r 5 mg dimasukkan dalam tabung reaksi bertutup.. tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar pantai. Sebanyak 5 ml larutan hasil pengenceran ditambah dengan 2 ml reagen ammonium molibdat dan 0.02 N dan digetarkan dengan gelombang ultrasonik selama 5 menit. Dengan diketahui nilai gizinya diharapkan pemanfaatan rumput laut ini dapat meluas. maka dilakukan penelitian ini.01 N dan didiamkan selama 4 jam pada suhu kamar. metana. standard mineral (Ca. asam nitrat.46 Biofarmasi Vol. Larutan induk sebanyak 1 ml diencerkan menjadi 25 ml. Larutan yang diperoleh sebagai larutan induk. Dipanaskan hingga volume cairannya menjadi r 3 ml. natrium hidroksida. dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). heksana. kadar vitamin C. kemudian tabung ditutup. sehingga diperoleh garis regresi hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi protein. Rumput laut kering sebanyak 1 gram. aseton. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komposisi nutrisi rumput laut S. asam metafosfat. crassifolium. dan P).6diklorofenol indofenol. dan dipanaskan hingga larutan menjadi putih jernih.3 mg/ml akuades. Agardh banyak dimanfaatkan penduduk pantai untuk sayur dan lalapan. Jepara. kadar abu. Elemen mineral fosfor (P) dianalisis dengan menggunakan UV-Vis spektrofotometer (Slamet dkk. Sampel dihidrolisis dengan cara dimasukkan ke dalam oven selama 22 jam pada suhu 1100C. kadar elemen mineral (Ca. larutan buffer. Larutan siap diukur kadar mineralnya (Ca dan Fe) dengan AAS. 0.2 Pm dan siap untuk dinjeksikan pada KCKT untuk pemisahan asam amino. Larutan ditambah dengan 2 ml larutan asam perklorat pekat. asam asetat. masih sedikit informasi mengenai aspek biokimia dan komposisi nutrisi dari rumput laut ini. 2.5 ml HCl 0. aminonaftol sulfonat. dkk. 1984). 1 ml larutan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. ditambah 3 ml Lowry E. Larutan siap untuk dianalisis kadar fosfornya BAHAN DAN METODE Wkatu dan lokasi penelitian Penelitian dilaksanakan bulan September 2003-Januari 2004. serta kadar alginat (polisakarida). dan ditambah dengan 2 ml Lowry D. asam perklorat. sampel dikeringkan dengan gas nitrogen sambil direndam dalam air hangat (r 350C). kloroform.5 ml aminonafthol sulfonat. natrium karbonat. Biologi dan Sub Lab. reagen Lowry.

02 mg/ml ( 4. 12.47 474. Kadar nutrisi talus S. Lapisan atas adalah ester dan n-heksan.6 D (Sudarmadji dkk. – Kultur kalus Talinum paniculatum 47 dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 410 nm.4 Vitamin C (mg/100 g) Lemak (%. 6. b/b) Alginat x x x x Kadar (%. 0. crassifolium.55 r 8. Membuat larutan blanko (cairan sampel diganti dengan akuades). 3. dilanjutkan dengan perendaman dalam 10 ml NaOH 0. (1990).99 132. Dibuat kurva standard E-karoten sehingga diperoleh garis regresi hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi. 9. 0. 2. (2001). Filtrat yang diperoleh diasamkan dengan 10 ml HCl 5% selama 5 jam. 20 ppm). kemudian dilakukan pemucatan dengan CaCl2 1% sebanyak 10 ml. Lapisan inilah yang diinjeksikan pada alat kromatografi gas. Setelah itu. Rata-rata kadar (%.63 ± 0. Diambil 10 ml filtrat dan ditambah dengan 10 ml reagen HPO3–asam asetat. b/b) 5.19 ±0.. Analisis vitamin C Vitamin C dianalisis dengan menggunakan metode titrasi 2. diekstrak dengan 100 ml akuades.13 Jenis nutrisi Protein Abu dan mineral x x x x Abu (mineral) Ca (mg/100 g) Fe (mg/100 g) P (mg/100 g) Keterangan Berat basah 36.. Cairan pekat tersebut dikeringkan dalam oven suhu r 50oC sampai beratnya konstan. Sampel kemudian diekstraksi dengan 10 ml Na2CO3 7. Analisis alginat Alginat dianalisis berdasarkan metode dari Zaelanie dkk. diekstraksi dengan petrolium eter secukupnya. Destilat diuapkan pelarutnya dengan penangas air sampai larutan agak pekat.016. Tabel 1.. Berat residu dalam botol timbang dianggap sebagai berat lemak. sehingga terbentuk 2 lapisan. 0. kemudian divortex dan dipisahkan dengan setrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 3500 rpm.5% selama 30 menit. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. kemudian digojog sampai larutan merata.008.91 r 0. Analisis asam lemak Asam lemak dianalisis berdasarkan metode dari AOAC (1980). 8.005 150 mesh 49. Nilai rata-rata menunjukkan kadar nutrisi. dan 15 Pg E-karoten per ml. sedangkan deviasi standard menunjukkan tingkat penyimpangan kadar nutrisi. Endapan yang diperoleh diberi larutan isopropanol 95% dan dikeringkan pada suhu r 500C.66 r 6. kemudian direfluks selama 1 jam. Membuat standard fosfor dengan konsentrasi 0. 12. diekstraksi dengan petrolium eter secukupnya. Analisis E-karoten (vitamin A) Karoten diukur dengan menggunakan metode dari Slamet dkk. Rumput laut segar sebanyak 25 gram.01 r 0. destilat dimasukkan ke dalam botol timbang yang bersih dan diketahui beratnya.01 berat kering berat kering berat kering berat kering berat kering berat kering berat kering Vitamin A (Pg RE/100 g) 489. Rumput laut yang telah dihaluskan diambil 3 gram.03 r 1. Rumput laut kering sebanyak 1 gram direndam dalam 10 ml HCl 0. Filtrat sebanyak 3 ml ditambah 2 ml trifluoroasetat dalam kloroform (2:1). dengan menggunakan kromatografi gas. 1984). Rumput laut kering sebanyak 2 gram. kemudian dititrasi denngan 2. 1984). Filtrat (bagian yang tertinggal) diekstraksi dengan 1 ml BF3-methane 20% pada tabung reaksi yang ditutup rapat dan dipanaskan dengan penangas air pada suhu r 45oC sambil digoyang-goyang selama 30 menit.6 D yang telah distandardisasi.01 berat kering berat kering berat kering berat kering . Analisis data Data yang diperoleh dari masing-masing parameter pengujian dihitung nilai rata-rata dan deviasi standardnya. Kemudian sampel dihancurkan dengan mortar. 16. b/b) Warna pH Ukuran Partikel 37. Titrasi sampel dan blanko masing-masing dibuat 3 ulangan Analisis lemak Lemak dianalisis berdasarkan metode Soxhlet (Sudarmadji dkk.5% pada suhu 50 0C selama 2 jam menggunakan waterbath.5% selama 30 menit.34 Kuning kecoklatan 6. Rumput laut kering sebanyak 2 gram.WARDANI dkk. kemudian ditambah dengan 30 ml aseton-heksan (3: 7).75 1. kemudian petrolium eter diuapkan dengan penangas air sampai larutan agak pekat. Larutan diekstrak dengan 2 ml n-heksan. Alginat kering yang diperoleh ditimbang sampai didapatkan berat konstan.6 D yang telah distandardisasi.65 r 3.004. Setelah didestilasi selama 6 jam.93 ± 0. Diambil 5 ml larutan dan dititrasi dengan 2. Ekstrak disaring dan diencerkan menjadi 50 ml dengan 9% aseton dalam heksan. Larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 450 nm. Membuat standard E-karoten dengan konsentrasi 3.86 r 0. dan disaring.34 1540. sampel diendapkan dalam 10 ml NaOH 5% selama 5 jam.

05 r 1. dan tirosin. Asam amino Asam glutamat Asam aspartat Glisin Leusin Alanin Valin Serin Isoleusin Treonin Feninalanin Prolin Lisin Arginin Tirosin Sistein Histidin Hidroksi lisin Kadar (Pmol asam amino/g sampel) 13.44 4.17 12. histidin. fenilalanin. Komposisi asam amino talus S. fenilalanin.33 r 0. disamping sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan perairan laut yang mengandung berbagai mineral dengan konsentrasi tinggi. 51. Kelompok R polar tidak bermuatan adalah: glisin.47 1. Kadar kalsium tersebut lebih kecil dibandingkan dengan kadar Keterangan: pengukuran berdasarkan berat kering. hal ini diduga berhubungan dengan cara penyerapan hara mineralnya. Pada penelitian ini diperoleh rata-rata kadar kalsium talus S.71 6. valin.28 r 0. dan arginin. dan P) Dalam bahan makanan terdapat sejumlah elemen mineral. prolin.53 r 0. Penyerapan hara mineral pada rumput laut dilakukan melalui seluruh permukaan talus.41 5. hampir separuh asam amino pada rumput laut ini terdiri dari asam amino esensial.78 r 1.92 r 0. tidak melalui akar. tirosin. serta delapan asam amino non esensial ditemukan pada rumput laut ini.77 r 1.30 r 0. sehingga hidrolisis protein secara sempurna akan diperoleh asam-asam amino.38 r 0. bahwa rumput laut coklat mengandung protein sebesar 3-9% dari berat basah. Ke-17 asam amino yang berhasil diidentifikasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan berdasarkan sifat kelarutan dan ionisasi dari gugus R-nya. dan hidroksi lisin (Tabel 2). histidin. sistein. .66 r 0.75 7.48 Biofarmasi Vol.49 r 1.08 Keterangan: pengukuran berdasarkan berat basah. 17 asam amino berhasil diidentifikasi. alanin.95 r 0.24 13. asam aspartat. Kelompok R polar yang bermuatan negatif (asam) adalah: asam aspartat dan asam glutamat. No. Pada penelitian ini diperoleh ratarata kadar protein sebesar 5. Konsentrasi asam amino talus S.66 mg/100 g berat kering (Tabel 1). Asam lemak Asam Asam Asam Asam Asam Asam Asam laurat (12:0) miristat (14:0) palmitat (16:0) palmitoleat (16:1) oleat (18:1) linoleat (18:2) linolenat (18:3) Kadar (%) 1.94 Pmol asam amino/g sampel adalah asam amino esensial. Rumput laut S.44 4.45 r 0. serin.58 r 1. isoleusin. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio asam amino esensial terhadap asam amino non esensial adalah 0. Dari hasil pengabuan talus S. sehingga penyerapan hara mineral lebih efektif. dan hidroksi lisin. Fe. Rasio asam amino esensial terhadap semua asam amino adalah 0. glisin. arginin. hal.34 r 0.46. Protein dan asam amino Protein Kadar protein dalam bahan makanan sangat menentukan kualitas bahan makanan yang bersangkutan.11 10.59 4.12 0. crassifolium.94 r 1.22 12. isoleusin. treonin. sedangkan rumput laut merah dan hijau mengandung protein sebesar 6-20% dari berat basah. leusin. Kadar protein talus S.49 Sembilan asam amino esensial yaitu treonin. isoleusin.77 6.77 Pmol asam amino/g sampel (berat basah).92 r 1.10 r 0. 00-00 Tabel 2. Tabel 3.90 r 0.53 r 0. Kelompok R polar yang bermuatan positif (basa) adalah: lisin.19±0. yang mengemukakan bahwa rumput laut secara umum mengandung kadar abu sampai sekitar 36% dari berat keringnya. Komposisi asam lemak talus S.41 4. Dalam penelitian ini. Asam amino Protein tersusun dari asam-asam amino. leusin.83 r 0. sistein.48 4. Asam amino yang termasuk dalam golongan R non-polar adalah: alanin. prolin. Dari total asam amino ini.13% dari berat basah (Tabel 1).09 r 0. serin.93% dari berat keringnya (Tabel 1). tirosin.08 3. Rata-rata kadar abu rumput laut ini. lisin. sesuai dengan pendapat Dharmananda (2002). Total asam amino adalah 113.51 3.38 3. dan fenilalanin. 2. baik yang dibutuhkan dalam jumlah besar (makro-elemen) maupun yang dibutuhkan dalam jumlah kecil (mikro-elemen).93 8. arginin. sistein. lisin. Abu dan elemen mineral Abu Abu merupakan komponen dalam bahan makanan yang penting untuk menentukan kadar mineral. crassifolium dari yang terbanyak secara berurutan adalah: asam glutamat. valin.11 29. crassifolium ini sesuai dengan pendapat Burtin (2003).66 r 0. leusin. crassifolium dengan menggunakan furnace suhu 600oC diperoleh rata-rata kadar abu sebesar 36. crassifolium mempunyai kadar abu (mineral) yang tinggi. Agustus 2004.35 33. valin. crassifolium. Banyaknya hara mineral yang diserap mempengaruhi kadar abu pada jaringan rumput laut.84. sehingga kadar abu rumput laut ini tinggi.71 7. treonin. 2.86 r 0. crassifolium sebesar 1540. Elemen mineral (Ca.

yang menyatakan bahwa rumput laut coklat secara umun mengandung besi dengan kadar sebesar 0. crassifolium yang diukur adalah besi. Kadar E-karoten pada rumput laut ini sesuai dengan pendapat Burtin (2003) yang menyatakan bahwa rumput laut coklat mempunyai kadar Ekaroten antara 300-2800 Pg RE/100 g berat kering. kadar kalsium rumput laut coklat sebesar 200-300 mg/100 g (berdasarkan berat kering) dan Rucmaniar dalam Atmaja dkk. pada umumnya sekitar 0. Kadar vitamin C rumput laut ini lebih rendah dibandingkan dengan kadar vitamin C rumput laut coklat secara umum. sedangkan pigmen pada kloroplas yang berupa karotenoid khususnya karoten persentasenya lebih kecil. maka nilai RE rumput laut ini adalah sedang. Di antara ketiga elemen mineral yang diukur.03 mg/100 g berat kering (Tabel 1). (1996) mengemukakan bahwa kadar kalsium Sargassum sp. sehingga mempunyai potensi sebagai sumber fosfor. crassifolium ini lebih besar dibandingkan dengan kadar kalsium rumput laut coklat pada umumnya dan Sargassum sp. kadar vitamin C rumput laut coklat sebesar 50300 mg/100 g berat basah.10. diperoleh rata-rata kadar E-karoten sebesar 489. Kadar besi (Fe) rumput laut ini adalah 132.6% dari berat kering atau 300-600 mg/100 g berat kering. Kondisi tempat tumbuh rumput laut ini lebih banyak mengandung kalsium dibandingkan fosfor dan besi. 1999). mengemukakan bahwa rumput laut secara umum mengandung lemak sebesar 1-5% dari berat kering.. dan besi (Fe): 0.01 mg/100 g berat basah (Tabel 1).WARDANI dkk. Namun kadar kalsium talus S. Menurut Burtin (2003). Berdasarkan rata-rata kadar kalsiumnya. sehingga hanya terdapat dalam bahan makanan yang mengandung lemak. Rumput laut mengandung sangat sedikit lemak. Kadar fosfor rumput laut ini cukup tinggi. RE). Kadar rata-rata fosfor S. sehingga kadar kalsium pada rumput laut ini lebih besar dibandingkan dengan kadar fosfor dan besi. yaitu 13% dari berat kering. seperti yang dikemukakan oleh Wiqayah (1993) bahwa kadar besi talus Sargassum sp. crassifolium dapat digunakan sebagai bahan makanan sumber kalsium.63% dari berat kering (Tabel 1). Mikro-elemen mineral talus S. Pada penelitian ini diperoleh rata-rata kadar vitamin C sebesar 49. crassifolium dapat digunakan sebagai bahan makanan sumber vitamin A. Rumput laut dan tumbuhan pada umumnya menyimpan cadangan makanannya dalam bentuk karbohidrat terutama polisakarida. Kadar E-karoten menentukan aktivitas vitamin A. sehingga jika konsentrasinya dalam tubuh sudah jenuh maka akan dibuang.02 ppm (Buwono dkk.3-0.07 ppm. Berdasarkan rata-rata kadar E-karoten tersebut. sedang (nilai RE antara 100-499 Pg).163-58. Kadar besi tersebut lebih besar dibandingkan dengan kadar besi talus Sargassum sp. sehingga rumput laut ini mempunyai aktivitas vitamin A sedang. S. Sedangkan Dharmananda (2002). fosfor (P): 0. Kadar besi tersebut sesuai dengan pendapat Winarno (1990). Rata-rata kadar lemak rumput laut ini terletak pada rentangan kadar lemak total pada sebagian besar rumput laut yang dilaporkan oleh Mabeau dan Fleurence (1993) dan Dharmananda (2002). crassifolium dapat digunakan sebagai bahan makanan sumber besi. seperti yang dikemukakan oleh Dharmananda (2002) bahwa kadar kalsium rumput laut secara umum sekitar 4-7% dari berat kering atau sekitar 4000-7000 mg/100 g berat kering.2% dari berat kering atau sebesar 100-200 mg/100 g berat kering. S. Pigmen pada kloroplas rumput laut coklat lebih didominasi oleh fukosantin. Kadar elemen mineral rumput laut dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. menyimpan cadangan . Vitamin C Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air.. crassifolium tumbuh di perairan dengan konsentrasi kalsium (Ca): 450 ppm.65 mg/100 g berat kering (Tabel 1). pada umumnya adalah 21. Mabeau dan Fleurence (1993). Dari hasil pengukuran. Berdasarkan klasifikasi tersebut. Pada penelitian ini diperoleh rata-rata kadar lemak sebesar 1. kalsium merupakan elemen mineral yang kadarnya tertinggi.307 mg/100 g berat kering. Lemak dan asam lemak Lemak Bahan makanan sumber lemak (trigliserida) dapat berasal dari hewan yang disebut lemak hewani dan dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut lemak nabati. tinggi (nilai RE antara 500-999 Pg) dan sangat tinggi (nilai RE lebih dari 1000 Pg).. pada umumnya.42% dari berat kering atau sekitar 420 mg/100 g berat kering. Berdasarkan rata-rata kadar besinya. Rumput laut S. Tee dan Lim (1991) mengklasifikasikan nilai retinol equivalen (RE) pada bahan makanan menjadi 4 kategori yaitu rendah (nilai RE kurang dari 100 Pg). – Kultur kalus Talinum paniculatum 49 kalsium rumput laut pada umumnya. crassifolium hasil pengukuran dengan UV-Vis spektrofotometer adalah 474.55 Pg RE/100 g berat kering (Tabel 1). Menurut Winarno (1990). Aktivitas vitamin A dihitung berdasarkan kadar E-karoten dengan menggunakan nilai setara retinol (Retinol Equivalen. mengemukakan bahwa rumput laut mengandung sangat sedikit lemak. Kadar fosfor rumput laut ini sesuai dengan pendapat Winarno (1990) yang menyatakan bahwa kadar fosfor rumput laut coklat secara umum adalah 0. S. Vitamin A dan C Vitamin A Vitamin A termasuk vitamin larut dalam lemak. Sedangkan hewan.

Kualitas protein makanan dinilai berdasarkan 10 asam amino esensial. 2. Tabel 4 menunjukkan susunan asam amino esensial talus S. yaitu Laminaria sp. S. juga didukung oleh mudah diperolehnya rumput laut jenis ini dan tersedia dalam jumlah yang melimpah di alam. crassifolium berpotensi untuk dijadikan bahan pembuatan alginat. sedangkan asam lemak tidak jenuh sebesar 62. sebagaimana dilaporkan oleh Sherman dan Lanford (1962). ukuran partikel 150 mesh. No. 2003). Asam lemak yang terdapat pada lemak rumput laut ini berdasarkan konsentrasi asam lemak yang terbanyak secara berurutan adalah asam linoleat. Berdasarkan skor kimia asam amino esensialnya. rumput laut ini mempunyai kualitas protein rendah. Kelompok asam lemak tidak jenuh tunggal yang berhasil diidentifikasi adalah asam palmitoleat dan asam oleat.48% dengan rincian 43. Alginat yang diperoleh pada penelitian ini mempunyai pH 6. crassifolium untuk masing-masing asam amino terhadap asam amino esensial telur. crassifolium Nilai nutrisi dievaluasi dengan membandingkan kadar asam amino esensial talus S. alginat dapat berwarna coklat sampai putih. sedangkan lemak hewani mempunyai persentase yang tinggi. Sedangkan kelompok asam lemak tidak jenuh jamak yang berhasil diidentifikasi adalah asam linoleat dan asam linolenat. dan mutu alginatnya yang memenuhi persyaratan alginat komersial. Evaluasi nutrisi S. 7 asam lemak berhasil diidentifikasi. 2. asam miristat. crassifolium yaitu sebesar 37.46% asam lemak tidak jenuh tunggal. Asam lemak Lemak merupakan ester asam lemak dan gliserol. Protein hewani mengandung asam amino esensial lebih lengkap dan susunannya lebih mendekati susunan protein . dan asam linoleat. Terdapat 2 macam asam lemak esensial pada talus S. (Guiry. Alginat dalam penggunaan di bidang farmasi harus berwarna putih bersih. hal ini sesuai dengan pernyataan Lehninger (1997) bahwa hampir semua asam lemak di alam mempunyai jumlah atom C yang genap. dan Fucus sp. sehingga pengukuran jenis dan kadar asam lemak sangat penting untuk menentukan kualitas lemak. Oleh karena itu. crassifolium yang dibandingkan dengan susunan asam amino esensial telur.91% dari berat kering (Tabel 1). Dalam industri lain. kadar asam lemak tidak jenuh hampir dua kali lipat asam lemak jenuh. Alginat Kadar alginat yang diperoleh dari ekstraksi talus S. S. crassifolium ini menunjukkan bahwa kandungan asam lemak jenuh sebesar 37. dilihat dari standard mutu alginat berdasarkan warna alginat yang diperoleh. dan asam palmitat. Asam lemak yang mempunyai R tidak jenuh digolongkan lagi menjadi dua golongan berdasarkan jumlah ikatan rangkapnya yaitu asam lemak tidak jenuh tunggal dan jamak.5-10 dan ukuran partikel 10-200 mesh. crassifolium dengan metode yang telah dilakukan ini hanya cocok digunakan dalam industri untuk diolah kembali menghasilkan alginat yang layak untuk dikonsumsi. sehingga apabila lemak dipecah secara sempurna akan dihasilkan gliserol dan asamasam lemak. memiliki ikatan rangkap adalah asam palmitoleat. hal. asam palmitoleat.02% asam lemak tidak jenuh jamak dan 19.52%. crassifolium mempunyai skor kimia rendah.50 Biofarmasi Vol. asam linolenat. Sedangkan asam lemak yang termasuk dalam golongan R tidak jenuh. asam oleat. Asam lemak yang termasuk dalam golongan R jenuh. asam oleat. selain kadar alginatnya yang tinggi. Dalam penelitian ini. 2000). Hampir semua asam amino esensial talus S. asam palmitat. 00-00 makanannya dalam bentuk lemak dalam jaringan lemak (Sediaoetama. Agustus 2004. Kadar alginat pada rumput laut ini sebanding dengan kadar alginat pada rumput laut yang biasa dibudidayakan sebagai penghasil alginat. Persentase kandungan asam lemak talus S. asam lemak dengan 16 dan 18 atom C adalah yang paling dominan. Jika dibandingkan dengan standard mutu alginat komersial menurut Duma dan Latif (1985) dalam Handayani (1999) yang berkisar antara 5-15%. Asam-asam lemak yang berhasil diidentifikasi tersebut dapat digolongkan menjadi 2 golongan berdasarkan kejenuhan pada rantai alkananya. Standard mutu secara umum dari alginat menurut Indriani dan Sumiarsih (1992) adalah ber-pH 3. Alginat yang akan digunakan untuk campuran makanan harus berwarna putih terang. yang mempunyai kadar alginat antara 30-45% dari berat keringnya.86. tidak memiliki ikatan rangkap adalah asam laurat. Perbedaan bentuk penyimpanan cadangan makanan ini menyebabkan lemak nabati umumnya mempunyai persentase yang rendah. asam linolenat. Asam-asam lemak ini yang menentukan kualitas dari lemak itu sendiri. Ada penilaian lain bahwa mutu alginat tergantung pada penggunaannya. maka rumput laut ini mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai salah satu bahan mentah dalam pembuatan alginat. dan berwarna kuning kecoklatan (Tabel 1). Asam lemak jenuh yang dominan ditemukan adalah asam palmitat (16:0) dan asam lemak tidak jenuh yang dominan adalah asam linoleat (18:2). meskipun pH dan ukuran partikelnya telah memenuhi standard mutu alginat. crassifolium yaitu asam linolenat (asam lemak omega 3) dan asam lemak linoleat (asam lemak omega 6). maka alginat hasil ekstraksi dari S. asam miristat dan asam laurat (Tabel 3). crassifolium mempunyai kualitas protein rendah dilihat dari skor kimia terhadap asam amino esensial telur.

kadar vitamin A.4 Kol kembang Kes. RI (1964) dalam 500 60 26 450 500 48 54 20-59 th 500 50 15 250 450 48 54 >60 th Sediaoetama (2000) (Tabel 5). sumber kalsium. Sediaoetama (2000).05 0. vitamin C dan vitamin A pada S. dan besi.3 38 2. b. BB Protein Kalsium Fosfor Besi Vit C Vit A Kriteria Kadar vitamin A dan (Kg) (g) (mg) (mg) (mg) (mg) (RE) vitamin C rumput laut Laki-laki S. Berdasarkan 242 50 0.180 61.8 39 1.73 0. RI dalam crassifolium a) dengan sayur umumnya b).. crassifolium dengan angka kecukupan gizi rataTabel 4.490 dibandingkan dengan 47.3 Sawi (Tabel 5).400 Treonin relatif lebih tinggi 0. RI. nabati (Suharjo dan Kusharto. lemak sayuran pada umumnya yang dilaporkan oleh Dep. 500 50 14 450 700 54 35 10-12 th sebagaimana yang 500 60 19 450 700 62 46 13-15 th dilaporkan oleh Dep. Perbandingan komposisi proksimat. 9 69 0. Skor kimia asam amino esensial talus S.720 Leusin 5.352 diketahui bahwa kadar 1.4 2. Perbedaan Nilai nutrisi S. RI (1964) dalam 8 50 0. 1993).0 220 1. .crasifolium 5.7 2. fosfor. protein hewani.1 65 0. 500 60 25 450 600 51 50 16-19 th Kes.17 0. crassifolium terhadap ini menyebabkan protein nabati mempunyai nilai pemenuhan kebutuhan nutrisi tubuh dapat skor kimia yang rendah dibandingkan dengan diketahui dengan membandingkan nilai nutrisi S.789 Fenilalanin + tirosin protein dan lemak 48.19 36. Kadar abu dan Vit A elemen mineral ProCa Fe P LeVit C (Pg Abu Sampel tein (mg/ (mg/ (mg/ mak (mg/ (kalsium.5 Bayam 63 19 0. crassifolium dengan angka kecukupan gizi ratamineral terutama rata yang dianjurkan per orang per hari (Muhilal.2 1. fosfor.26 Valin 0.5 73 1. 1992).820 0.66 474.5 2. Nilai rata-rata dari n=3.01 489.550 0.0 Kangkung sayuran lokal yang 68 26 0.394 Arginin kadar protein dan Keterangan: Penghitungan kualitas asam amino S. dan vitamin Asam amino Konsentrasi asam amino (% b/b) Skor kimia (%) esensial (rasio telur x 100%) S.5 lebih besar 60. Kes.01 489.7 Kapri dilaporkan oleh Dep. a) Sherman dan Lanford (1962).2 15 0. Berdasarkan 5. dan RE/ (%) (%) 100g) 100g) 100g) (%) 100g) besi) rumput laut S.5 182 1.9 80 0.11 0.WARDANI dkk. crassifolium berdasarkan berat kering. Dari tabel ini 39.3 1.19 1540.2 6.4 122 1.55 Nilai nutrisi S.2 31 0.4 Kol putih Sediaoetama (2000) 646 02 0.65 474.2 44 1. rumput laut S. Kes. Dep. Tabel 5.49 0. crassifolium Telur a) C talus S crassifolium 49.3 27 2.394 Metionin + sistein talus S. – Kultur kalus Talinum paniculatum 51 Komposisi proksimat. (1964) dalam Sediaoetama bahwa rumput laut ini (2000). crassifolium kadar vitamin A dan per 100 g vitamin C pada Tabel 5.980 0.9 22 1.4 15 0. 100g) crassifolium ini jauh S.2 1.9 267 2. dkk.1 22 0.485 Isoleusin ditunjukkan pada Tabel 1. crassifolium ini 450 50 14 500 700 45 30 10-12 th 600 60 17 500 700 64 45 13-15 th terletak di antara 600 60 23 500 600 66 56 16-19 th rentangan kadar 600 60 13 500 500 55 62 20-59 th vitamin A dan vitamin 600 60 13 500 500 55 62 >60 th C sayuran pada Wanita umumnya.5 46 1.3 37 0. 60 10 0.47 0.830 0.3 50 2.65 49.03 1. crassifolium ini dapat digunakan sebagai tubuh manusia dibandingkan dengan protein bahan makanan sumber vitamin A dan vitamin C.03 132.5 3. crassifolium.63 49.4 Buncis dibandingkan dengan 630 32 0. Perbandingan nilai gizi S. crassifolium ini 72..0 Tomat 1200 6 0.2 37 0.3 3.900 Lisin 0.2 Wortel dapat dinyatakan Keterangan: a.02 0.2 72 1.920 53.93 1540.7 Selada kadar abu dan elemen 3 5 0.0 1.5 67 3.1 Terong mineral pada Tabel 5.4 7 1.1 1.66 132.380 57. sangat potensial sebagai bahan makanan sumber Tabel 6.

serin: 7. Jurnal Penelitian Ilmuilmu Hayati 11 (1): 41-57. Mursyidin. Menindak lanjuti penelitian ini maka diperlukan penelitian: (i) mengenai komposisi nutrisi yang lain misalnya Zn. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Pengamatan terhadap fluktuasi fitoplankton dan kondisi perairan di Teluk Awur. sehingga penggunaan rumput laut ini sebagai bahan makanan seperti sayur perlu memperhatikan batasan-batasan konsumsinya. asam palmitat (16:0): 29. dengan komposisi asam amino (dalam Pmol asam amino/g sampel segar) yang terdiri dari: asam glutamat: 13. Rumput laut S. Pedoman Analisis Zat Gizi. Ekstraksi dan Karakterisasi Alginat dari Rumput Laut Sargassum sp. asam aspartat: 12. Kandungan Nutrien dan Ketersediaan Besi dan Seng Hayati Sargassum sp. Sherman. Zaelanie. 1999. Penerjemah: Thenawidjaja.S. Struktur komunitas seaweed (rumput laut) di Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo.. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Indriani. Variasi pertumbuhan dan nitrogen interna Eucheuma cottoni dalam hubungannya dengan nitrogen lingkungan.66. Journal of Indonesian Marine Sciences 27 (7): 272-276. M.95. (2) kadar abu (mineral) sebesar 36. A. Slamet. Buwono.52. P.. Mahmud. Lim.. Jakarta: Erlangga. [Laporan Karya Tulis Ilmiah]. 1990.66. Muhilal. dengan kadar unsur Ca: 1540. 00-00 rata yang dianjurkan per orang per hari (Tabel 6). arginin: 4. Lehninger. Review of Trends in Food Science and Technology 10:25-28. Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI. P: 474. Yogyakarta: Liberty. vitamin C.03 mg/100 g. D. Virginia: Association of Official Analitical Chemists. Kusharto. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Perkasa. dan Rachmaniar.34. 2003. 2. http://www. T. Agustus 2004. H. dan hidroksilisin: 0. Susanto. Term Paper: Introductory Science Phylosophy 1: 1-13.. Setyawan. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.. crassifolium mempunyai potensi sebagai sumber kalsium. dan Y. S. and C.10%. Na. lama ekstraksi dan konsentrasi isopropanol. Lamford 1962. valin: 7. diketahui bahwa S. lisin: 4. Y. Rumput Laut di Indonesia: Seaweed in Indonesia. 1999. dengan komposisi asam lemak yang terdiri dari: asam laurat (12:0): 1. No. leusin: 10. 2001.S. Burtin. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Dian Rakyat.53%. 1991.M. jilid 1. glisin: 12. (4) kadar lemak sebesar 1. dan Hg yang terkandung pada rumput laut ini untuk menunjang pemanfaatannya sebagai bahan pangan. treonin: 6. asam linoleat (18:2): 33. 15th edition.55 Pg RE/100 g dan vitamin C sebesar 49. 1999. Darjamuni.58% dan asam linolenat (18:3): 5.93% (b/b). Yogyakarta: Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Official Methods of Analysis. Jakarta: Bank Bumi Daya.92.. Siklus nitrogen di laut. Sedioetama. Dasar-dasar Biokimia. crassifolium masih belum mencukupi kebutuhan gizi per orang per hari. 2003. and C.45%.S.S.19% (b/b). besi. untuk Mengatasi Krisis Ekonomi. Diukur secara In Vitro.09. Essential of Nutrition. Jurnal Ilmu Dasar 4 (1): 58-61. [Laporan Penelitian]. dan Simarmata. Dharmananda. J.05.49%. Fisiologi nutrisi nitrogen tanaman laut Indonesia: I. S. 1980.L. W. Sulistidjo. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. (3) kadar vitamin A sebesar 489. Jakarta: Penebar Swadaya. H.38. crassifolium mengandung kalsium dua kali lipat dari yang dianjurkan dan mengandung besi lima kali lipat dari yang dianjurkan dalam pemenuhan kebutuhan gizi rata-rata per orang per hari. tirosin: 3. Nutritional value of seaweed. Pemanfaatan Rumput Laut Sargassum sp.91% (b/b). 1992. 1990. Suhardjo dan C.78%. K. dan Suhardi. alanin: 8.D. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut.W. Fleurence. Simon. 2. B. dan Prabowo. Wiqayah. 1999. histidin: 1. Cl. dan Fe: 132. Risjani. Jurnal Teknologi Pertanian 2 (1): 13-15. 2003. W. asam oleat (18:1): 13.. The Nutritional and Medicinal Value of Seaweeds Used in Chinese Medicine. A. Sedangkan kadar protein per 100 gram S. D.83.65 mg/100 g. New York: The Macmillan Company. D. isoleusin: 6.G. crassifolium. F. Handayani. Sulistyowati.63% (b/b).P. [Laporan Penelitian]. Berdasarkan perbandingan nilai nutrisi dalam Tabel 6.66 mg/100 g. prolin: 4.33. Cu. D. dapat disimpulkan bahwa talus Sargassum crassifolium J. K. B. Jilid 1. serta bahan-bahan pencemar misalnya Cd. dan vitamin A yang telah mencukupi kebutuhan gizi per orang per hari..28. Mulyanto. Kadi. Journal of Food Chemistry 41: 303-319. Carotenoid composition and content of Malaysian vegetables and fruits by AOAC and HPLC methods. Pangan dan Zat Gizi Indonesia.94%.01 mg/100 g. fenilalanin: 4. Yogyakarta: Kanisius. Sumiarsih.90.86. H. dan Mg pada S. Winarno. A.C. 1996. 2002. hal. Dirjen Bina Gizi Masyarakat. 1992. H. Atmadja.L. Tee. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Journal of Agricultural Food Chemistry 2 (4): 1-6. Seaweed proteins: biochemical. Ekstraksi dan pemurnian alginat dari Sargassum fillipendula: kajian dari bagian tanaman. Cr.org/arts/seaweed.K. dan B. crassifolium yang dapat menunjang pemanfaatannya di bidang pengobatan (farmasi). fosfor. 2000. Jepara.H. (5) kadar alginat sebesar 37. Fardiaz. (8 Apr 2003). KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian ini. 1984. N. 2002.itmonline.30. 1991. (ii) mengenai kandungan metabolit sekunder pada S.77. asam palmitoleat (16:1): 4. Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Haryono. Pb.52 Biofarmasi Vol. 1989. sistein: 3. AOAC. S. dan E. Sudarmadji. Budidaya. Agardh memiliki komposisi nutrisi sebagai berikut: (1) kadar protein sebesar 5. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. . M.htm. 1997. asam miristat (14:0): 3.92. E. nutritional aspects and potential uses.