You are on page 1of 40

CASE REPORT SESSION GANGGUAN SOMATISASI

Disusun oleh : KELOMPOK XXXV-A (C2) RESI GUNAWAN 4151101016 ANISSA DEWI A 4151101017 WANDA TARI N 4151101018 DELILA ROLA 4151101019

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA FK UNJANI/RS DUSTIRA CIMAHI 2012

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI............................................................................................................1 PENDAHULUAN....................................................................................................2 TINJAUAN PUSTAKA A. Gangguan Somatisasi.............................................................................4 B. Gangguan Konversi..............................................................................14 C. Hipokondriasis......................................................................................25 D. Gangguan Dismorfik Tubuh................................................................29 E. Gangguan Nyeri....................................................................................32 DAFTAR PUSTAKA

2

PENDAHULUAN

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatofor, adalah tidak disebabkam oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSMIV) mempertahankan sebagian besar diagnosis yang dituliskan didalam edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R). Lima gangguan somatoform spesifik adalah dikenali: (1) Gangguan somatisasi yang ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ, (2) Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis, (3) Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan daripada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu, (4) Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi berlebihan-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat, (5) Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna

3

dieksaserbasi oleh faktor psikologis. DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform: (1) Gangguan somatoform yang tidak dibedakan (undiferentiated) termasuk gangguan somatoform, yang tidak dijelaskan lain, yang ada selama enam bulan atau lebih. (2) Gangguan somatoform yang tidak ditentukan (NOS; not otherwise specified) adalah kategori untuk gejala somatoform yang tidak memenuhi diagnosis gangguan somatoform yang sebelumnya disebutkan.

4

gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. dan perilaku mencari bentuan medis yang berlebihan. Nama awal untuk gangguan somatisasi adalah hysteria. (Kata “hysteria” didapatkan dari kata bahasa Yunani untuk rahim. adalah terlibat dalam patogenesis gejala. Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkan sistem organ yang multipel (sebagai contohnya. Di tahun 1859 Paul Briquetseorang dokter Oerancis. hysteria). Gangguan somatisasi telah dikenal sejak zaman Mesir kuno. Gangguan ini adalah kronis (dengan gejala ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun) dan disertai dengan penderitaan psikologis yang bermakna. mengamati banyaknya gejala dan sistem organ yang terlibat dan perjalanan penyakit yang biasanya kronis. Karena pengamatan klinis yang tajam tersebut. suatu keadaan yang secara tidak tepat diperkirakan hanya mengenai wanita. GANGGUAN SOMATISASI Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium. gastrointestinal dan neurologis). Pada abad ke-17 Thomas Syndenham menemukan bahwa faktor psikologis. yang dinamakannya penderitaan yang mendahukui (antecendent sorrow). gangguan ini dinamakan sindroma Briquet selama 5 .TINJAUAN PUSTAKA A.

walaupun istilah “gangguan somatisasi” menjadi standar di Amerika Serikat saat diperkenalkan DSM edisi ketiga (DSM-III) di tahun 1980. tetapi seringkali mulai selama usia belasan tahun.2 persen. dam sebanyak separuh pasien dengan gangguan somatsasi memiliki gangguan mental lainnya. Di antara pasien yang datang ke tempat praktek dokter umum dan dokter keluarga. walaupun beberapa kelopmok penelitian percaya bahwa angka sesungguhnya mungkin mendekati 0. walaupun perkiraan tertinggi mungkin karena kecenderungan awal yang tidak mendiagnosis gangguan somatisasi pada laki-laki. Gangguan berhubungan terbalik dengan posisi sosial. prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 1 atau 2 persen. Gangguan somatisasi didefinisikan sebagai dimulai sebelum usia 30 tahun. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa gangguan somatisasi seringkali bersama-sama dengan gangguan mental lainnya. dengan rasio wanita berbanding laki-laki adalah 5 berbanding 1. Sifat kepribadian atau gangguan kepribadian yang 6 . Wanita dengan gangguan somatisasi melebihi jumlah laki-laki sebesar 5 sampai 20 kali. terjadi paling sering pada pasien dengan pendidikan rendah dan miskin. Epidemiologi Prevalensi seumur hidup menderita gangguan pada populasi umum diperkirakan adalah 0. Kira-kira duapertiga dari semua pasien dengan gangguan somatisasi memliki gejala psikiatrik yang dapat diidentifikasi. sebanyak 5 sampai 10 persen pasien memenuhi criteria diagnostik untuk gangguan somatisasi.1 sampai 0. Namun demikian. gangguan ini bukan gangguan yang jarang ditemukan.5 persen.periode waktu tertentu.

dan etika moral mungkin mengajarkan anakanak untuk lebih bersomatisasi dibandingkan anak lain. nyeri pada usus seseroang). Pandangan perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa pengakaran parnteral. Faktor sosial. Faktor biologis. beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari rumah yang tidak stabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. paranoid. Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai suatu tipe komunikasi sosial. Etiologi Faktor psikososial. Dua gangguan yang tidak lebih sering ditemukan pada pasien dengan gangguan somatisasi dibandingkan dengan populasi umum adalah gangguan bipolar dan penyalahgunaan zat. atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan (sebagai contohnya. hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai contohnya. Penelitian tersebut mengajukan bahwa pasien memiliki gangguan perhatian dan kognitif karakteristik yang dapat menyebabkan persepsi 7 . contoh parental. Beberapa penelitian mengarah pada dasar neuropsikologis untuk gangguan somatisasi. Di samping itu. dan etnik mungkin juga terlibat di dalam perkembangan gejala gangguan somatisasi. mengerjakan ke pekerjaan yang tidak disukai). mengalahkan diri sendiri.seringkali meyertai adalah yang ditandai oleh cirri penghindaran. Penyebab gangguan somatisasi adalah tidak diketahui. cultural. Interpretasi psikoanalitik yang ketat tentang gejala terletak pada hipotesis bahwa gejala adalah substitusi untuk impuls instinctual yang direpresi. mengekspresikan emosi (sebagai contohnya. dan obsesif-kompulsif. kemarahan pada pasangan).

termasuk otak. Sejumlah terbata penelitian pencitraan otak telah melaporkam penurunan metabolisme di lobus frontalis dan hemisfer nondominan. dan tidak adanya selektivitas. Di dalam keluarga tersebut. Data genetika menyatakan bahwa. ketidakmampuan untuk membiasakan terhadap stimulus yang berulang. Suatu penelitian juga melaporkan angka kesesuaian pada 29 persen kembar monozigotik dan 10 persen kembar dizigotik. sekurang-kurangnya pada beberapa keluarga. Sitokin adalah molekukl pembawa pesan (messanger molecules) yang digunakan oleh sistem kekebalan untuk berkomunikasi dalam dirinya sendiri dan berkomunikasi dengan sistem saraf. Data menyatakan bahwa gangguan somatisasi cenderung berjalan di dalam keluarga. terjadi pada 10 sampai 20 persen sanak saudara wanita derajat pertama dari pasien dengan gangguan somatisasi. dan interferon. faktor nekrosis tumor. Gangguan yang dilaporkan adalah distraktibilitas yang berlebihan. transmisi gangguan somatisasi memiliki suatu komponen genetika.dan penilaian yang salah terhadap masuka (input) somatosensorik. dan sirkumstansial. asosiasi parsia. Satu bidang riset neuroilmiah dasar yang sangat relevan dengan gangguan somatisasi dan gangguan somatiform lainnya nempermaslahkan sitokin (cytokines). sanak saudara laki-laki derajat pertama adalah rentan terhadap penyalahgunaan zat dan gangguan kepribaian antisocial. Contoh sitokin adalah interleukin. jadi menyatakan suatu efek genetika. pengelompokan konstruksi kognitif atas dasar impresionistik. Beberapa percobaan awal menyatakan bahwa sitokin dapat membantu penyebabkan suatu gejala nonspesifik 8 . seperti yang dinyatakan oleh beberapa penelitian potensial cetusan.

Gambaran Klinis Pasien dengan gangguan somatisasi mungkin memiliki banyak keluhan somatik dan riwayat medis yang lama dan sulit. khususnya infeksi. regulasi abnormal sistem sitokin mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatoform. Diagnosis DSM-IV menyederhanaka criteria diagnostik yang diajukan di dalam DSMIII-R. dan depresi. pasien harus telah mengeluhkan sekurangnya empat gejala nyeri. seperti hipersomnia. anoreskia. kesulitan menelan. Keyakinan bahwa seseorang telah sakit pada sebagian besar kehidupannya juga sering. maka 9 . dua gejala gastrointestinal. DSM-IV mengharuskan onset usia sebelum usia 30 tahun Selama perjalanan penyakit.dari penyakit. Mual dan muntah (selain selama kehamilan). nafas pendek yang tidak berhubungan dengan aktivitas. satu gejala seksual. yang semuanya tidak ada yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium. Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal adalah menonjol: kecemasan dan depresi adalah kondisi psikiatrik yang menonjol. Walaupun data belum mendukung hipotesis. amnesia dan komplikasi kehamilan dan menstruasi adalah gejala yang paling sering. Untuk diagnostik gangguan somatoform. dan satu gejala neurologis semu. Ancaman bunuh diri adalah sering ditemukan. kelelahan. tetapi bunuh diri memang jarang terjadi. nyeri di lengan dan tungkai.

dan sosial. gangguan berhubungan zat. Kriteria Diagnosis untuk Gangguan Somatisasi A. Pasien mungkin dirasakan sebagai tergantung. haus akan pujian atau sanjungan. dan tidak tersusun. B. dan fobia. perpusat pada diri sendiri. Pasien biasanya tetapi tidak selalu menggambarkan keluhannya dalam cara yang dramatik. dengan bahasa yang gambling dan bermacammacam.ahgunaan zat. Tiap criteria berikut ini arus ditemukan. Kombinasi gangguan-gangguan tersebut dan gejala kronis meyebabkan peningkatan insidensi masalah perkawinan. tidak konsisten. dan berlebih-lebihan. termasuk gangguan depresif berat. tidak jelas. pekerjaan. samar-samar. gangguan kecemasan umum. Riwayat medis pasien seringkali sepintas. Paien tersebut mungkin mengacaukan akibat temporal dan tidak dapat membedakan dengan jelas gejala sekarang dari gejala lampau. Gangguan somatisasi seringkali disertai oleh gangguan mental lainnya.seringkali disertai dengan penya. dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan: 10 . Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan terapi yang dicari atau gangguan bermakna dalam fungsi sosisalm pekerjaanm atau fungsi penting lain. emosional. Pasien wanita dengan gangguan somatisasi mungkin berpakaian dalam cara yang eksibisionistik. gangguan kepribadian. dan manipulatif.

halusinasi. atau intolerans terhadap beberapa jenis makanan. Salah satu (1) atau (2): (1) Setelah penelitian yang diperlukan. muntah selain dari selama kehamilan. (2) dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain dari nyeri (misalnya. (4) satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbata (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau pada nyeri keseimbangan. mual. gejala disosiatif seperti amnesia. munath sepanjang kehamilan. kembung. sendi. menstruasi yang teratur. indiferensi seksual. perut. perdarahan menstruasi yang berlebihan. tiap gejala dalam criteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang 11 . dada. kejang. diare. disfungsu erektil atau ejakulasi. hilangnya sensasi sentuh atau nyeri. atau selama miksi). retensi urin. pumggumg. kebutaan. kepala. sulit menelan atau benjolan di tenggorokan. paralisis atau kelemahan setempat. rectum. selama selama hubungan seksual.(1) empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berhunbungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya. C. afonia. pandangan ganda. menstruasi. ketukian. anggota gerak. (3) satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya. atau kesadaran selain pingsan.

atau temuan diperkirakan dari laboratorium. efek cedera. alcohol) medikasi. miastenia gravis. hiperparatiroidisme. hipertiroidisme. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (spereti pada gangguan buatan atau pura-pura) Diagnosis Banding Klinisi harus selalu menyingkirkan kondisi medis nonpsikiatrik yang dapat menjelaskan gejala pasien.dikenal atau efek langsung dari suatu zat (misalnya. keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbukkannya adalah melebihi apa yang riwayat penyakut. Onset gejala somatic multipel pada seseorang pasien yang berusia lebih dari 40 tahun harus dianggap disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik sampai pemeriksaan medis yang luas telah dilakukan. dan skizofrenia semuanya dapat tapak 12 . Gangguan medis tersebut adalah sklerosis multipel. dan infeksi sistemik kronis. obat atau (2) Jika terdapat kondisi medis umum. Sejumlah gangguan medis seringkali tampak dengan kelainan yang nonspesifik dan sementara dalam kelompok usia yang sama. yang dipersulit oleh pemgamatan bahwa sekurangnya 50 persen pasien dengan ganggguan somatisasi menderita gangguan medis yang meyertai. D. Gangguan depresif berat. sindroma imunodefisisensi didapat (AIDS). porfiria intermiten akut. lupus eritomatous sistemik. pemeriksaan fisik. gangguan kecemasan umum. Banyak gangguan mentak yang dipertimbangkan dalam diagnosis banding.

dengan keluhan utama yang terpusat pada gejala somatik. jaranf seorang pasien dengan gangguan somatisasi berjalan lebih dari satu tahun tanpa menvari suatu perhatian medis. atau psikosis akhirnya menonjol di atas keluhan somatik. gejala harus mulai ada sebelum usia 30 tahun dan ada selama beberpa tahun. gejala depresi. Episode peningkatan keparahan diperkirakan berlangsung selama enam sampai Sembilan bulan dan dapat dipisahkan oleh periode yang kurang simptomatik yang berlangsung 9 sampai 12 bulan. pasien tersebut tidak terganggu oleh gejala somatic di antara serangan panik. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Gangguan somatisasi adalah suatu gangguan yang kronis dan sering meyebabkan ketidakmampuan. berbeda dengan gangguan somatisasi. pada semua gangguan tersebut. Gangguan nyeri adalah terbatas pada satu atau dua keluhan gejala nyeri. Seringkali terdapat hubungan antara periode peningkatan stress atau stress baru dan eksaserbasi gejala somatik. yang ditandai oleh permasalahan dengan banyak gejala. Hipokondriasis ditandai oleh keyakinan palsu bahwa sesorang menderita penyakit spesifik. Terapi 13 . Di antara gangguan somatoform lainnya. Menurut definisinya. Tetapi. bukannya berbagai gejala dai gangguan somatisasi. Walaupun pasien dengan gangguan somatic mungkin mengeluh banyak gejala somatik yang berhubungan dengan serangan paniknya. hipokondriasis. gangguan konversi. Tetapi. kecemasan. Gejala gangguan konversi terbata pasa satu atau dua gejala neurologis. dan gangguan nyeri perlu dibedakan dari gangguan somatisasi.

Tetapi pasien dengan gangguan somatisasi. baik individual dan kelompok. menurunkan biaya perwatan kesehatan penderita gangguan somatisasi sebesar 50 persen.Jika gangguan somatisasi telah didiagnosis. sebagian besar karena penurunan jumlah perawatan di rumah sakit. pasien memiliki banyak kesempatab untuk mengaekspresikan keluhan somatik. pemeriksaan laboratorium dan diagnostik tambahan biasanya harus dihindari. bukannya sebagai keluhan medis. secara teratur. biasanya dengan interval satu bulan.Pasien dengan gangguan somatisasi paling baik diobati jika mereka memiliki seorang dokter tunggsl sebagai perawat kesehatan utamanya. Psikoterapi. untuk mengekspresikan emosi yang mendasari. Dalam lingkungan psikoterapik. kemungkinan seorang dokter psikiatrik. pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya. Kunjungan harus relatif singkat. 14 . juga dapat meiliki penyakit fisik. dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka. walaupun pemeriksaan fisik sebagian harus dilakukan sebagai respon terhadap masing-masing keluhan somatic yang baru. dokter yang mengobati pasien harus mendengarjan keluhan somatic sebagai ekspresi emosional. dengan demikian dokter harus selalu menggunakan pertimbangan mengenai gejala mana yang perlu diperiksa dan sampai sejauh mana. Klinisi primer harus memeriksa pasien selama kunjungan terjadwal yang terartur. Jika terlibat lebih dari satu klinisi. Strategi luas yang baik bagi dokter perawatan primer adalah meningkatkan kesadaran pasien tentang kemungkinan bahwa faktor psikologis terlibat di dalam gejala sampai pasien mau mengunjungi klinisi kesehatan mental.

Medikasi harus dimonitor. Pada pasien tanpa ganggian mental pentera. berdasarkan penelitiannya pada Anna O. reaksi konversi. karena pasien dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obat secara berlebihan dan tidak dapat dipercaya. pada gangguan penyerta adalah diindikasikan. dan parestesia) yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis atau medis yang diketahui. Sindroma yang sekarang ini dikenal sebagai gangguan konversi awalnya dikombinasikan dengan sindroma yang sekarang dikenal sebagai gangguan somatisasi dan pada umumnya dinamakan hysteria. bahwa gejala gangguan konversi mencerminkan konflik bawah sadar. tetapi pengobatan psikoterpaik. Briquet dan Jean-Martin Charcot berperan dalam mengembangkan konsep gangguan konversi dengan menyatakan pengaruh herediter pada gejala dan seringnya hubungan dengan peristitwa traumatik. Di samping itu.Memberikan medikasi psikotropik bilamana ganggguan somatisasi ada bersama-sama gangguan mood atau kecemasan adalah selalu memiliki risiko. B. atau reaksi disosiatif. 15 . sedikt dara yang menyatakan bahwa terapi farmakologis adalah efektif. Istilah “konversi” diperkenalkan oleh Sigmud Freud. yang menghipotesiskan. kenutaan. diagnosis mengharuskan bahwa faktor psikologis berhubungan dengan awal atau eksaserbasi gejala. GANGGUAN KONVERSI DSM-IV mendefinisikan gangguan konversi sebagai suatu gangguan yang ditandai oleh adanya satu atau lebih gejala neurologis (sebagai contohnya paralisis.

dari masa anak-anak sampai lanjut usia. Menurut teori psikoanalitik. Data menyatakan bahwa gangguan kardioversi paling sering di populasi pedesaan. Suatu survei masyarakat menemukan bahwa insidensi tahunan gangguan konversi adalah 22 per 100. Gangguan konversi dapat memiliki onset pada setiap usia. Etiologi Faktor Psikoanalitik. gangguan konversi adalah disebabkan pleh represi konflik intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan ke 16 . dan anggota militer yang mengalami situasi peperangan. Rasio wanita terhadapa laki-laki pada pasien dewasa adalah sekurangnya 2 berbanding 1 dab sebanyaknya 5 berbanding 1. Di antara populasi spesifik. Gangguan konversi seringkali disertai dengan diagnosis komorbid gangguan depresif berat. kejadian gangguan konversi menjadi gangguan somatoform yang paling sering ditemukan pada beberapa populasi.000 orang. orang yang berpendidikan rendah.Epidemiologi Prevalensi beberapa gejala gangguan konversi yang tidak cukup parah untuk memerlukan diagnosis dapat terjadi pada sebanyak sepertiga populasi umum pada suatu waktu selama kehidupannya. dan skizofrenia. gangguan kecemasan. anak-anak memiliki penonjolan pada perempuan yang bahkan lebih tinggi lagi. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa 5 sampai 15 persen konsultasi psikiatrik di suatu rumah sakit Veterans Affair melibatkan pasien dengan diagnosis gangguan konversi. Laki-laki dengan gangguan konversi seringkali terlibat di dalam kecelakaan pekerjaan atau militer.

uji neuropsikologis menemukan gangguan serebral yang samar-samar dalam komunikasi verbal. Gejala gangguan konversi juga memungkinkan pasien mengkomunikasikan bahwa mereka membutuhkan perhatian khusus dan pengobatan khusus. daya ingat. Peningkatan tingkat keluaran kortikofugal. kewaspadaan. dan perhatian. Penelitian pencitraan otak awal telah menemukan hipometabolisme di hemisfer nondominan dan telah melibatkan gangguan komunikasi hemisferik didalam penyebab gangguan konversi. Semakin banyak dara yang melibatkan faktor biologis dan neuropsikologis dengan perkembangan gejala gangguan konversi. yaitu. Gejala mungkin disebabkan oleh kesadaran kortikal yang berlebihan yang mematikan loop umpan balik negatif anatar korteks serebral dan formasi retikularis batang otak. ketidaksesuaian afek. Pada beberapa pasien gangguan konversi.a gangguan konversi memiliki hubungan simbolik dengan konflik bawah sadar. sebaliknya menghambat kesadaran pasien akan sensai tubuh. agresif atau seksual) dan penghalangan terhadap ekspresinya. dimana beberapa pasien gangguan konversi dapat menjelaskan defisit sensorik yang diamati. sehingga pasien tidak peril secara sadar berhadapam dengan impuls mereka yang tidak dapat diterima. Gejala memungkinkan ekspresi sebagai keinginan atau dorongna yang dilarang tetapi tersembunyi. Diagnosis 17 . geja. Gejala tersebut sangat berfungsi sebagai cara nonverbal untuk mengendalikan atau memanipulasi orang lain. Faktor biologis.dalam suatu gejala fisik. Konflik adalah antara impuls instinctual (sebagai contohnya.

Kriteria Diagnostik Gangguan Konversi A. Pasien yang memenuhi criteria diagnostik tetapi yang memiliki gejala nonneurologis (sebagai contohnya. Diagnosis gangguan konversi mengharuskan bahwa klinisi menemukan suatu hubungan yang diperlukan dan penting antara penyebab gejala neurologis dan faktor biologis. Dokter tidak dapat menjelaskan gejala neurologis semata-mata berdasarkan adanya kondisi neurologis yang diketahui.DSM-IV mempersempit satu criteria diagnosis untuk gangguan konversi yang sebelumnya berada di dalam DSM-III dan DSM-III-R kembali ke criteria diagnostik yang serupa dengan ditemukan dlama edisi kedua (DSM-III). Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi mtork atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain. DSM-IV memungkinka untuk menyebutkan tipe gejala atau defisit yang terlihat pada gangguan konversi. Jelasnya DSM-IV membatasi diagnosis gangguan konversi pada gejala yang mempengaruhi fungsi motorik dan sensorik yang volunteer-yaitu. pseudokiesis) sekarang diklasifikasikan sebagai menderita gangguan somatoform yang tidak ditentukan. 18 . gejala neurologis. walaupun gejala tidak boleh diakibatkan oleh berpura-pura atau gangguan buatan. Diagnosis gangguan konversi juga mengeluarkan gejala nyeri dan disfungsi seksual dan gejala yang terjadi hanya pada gangguan somatisasi.

Gejala atau defisit tidak trebatas pada nyeri atau disfungsi seksual. kebutaan. tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi. dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik pleh gangguan metal lain.B. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura). atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis. E. atau oleh efek langsung suatu zat atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara cultural. dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umumm. F. D. Gejala atau defisit tidak dapat. dan mutisme adalah gejala gangguan konversi yang paling sering. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. Faktor psikologis dipertimbangkan berhunbungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului konflik atau stressor lain. C. pekerjaan. Sebutkan tipe gejala atau defisit: dengan gejala atau defisit motorik dengan gejala atau defisit sensorik dengan kejang atau konvulsi dengan gambaran campuran Gambaran Klinis Paralisis. setelah penelitian yang diperlukan. Gangguan konversi mungkin paling sering berhubungan dengan 19 .

yang menyebabkan ketulian. dan distribusi gangguan biasanya tidak konsisten dengan yang ditemukan pada penyakit neurologis sentral atau perifer. Gejala gangguan konversi mungkin melibatkan organ indera spesifik. dan bergelombang. Pada kebutaan gangguan konversi. kelemahan. Pergerakan biasanya memburuk jika diberikan perhatian padanya. dan demensial cetusan kortikal mereka adalah normal. irregular. tik dan sentakan-sentakan mungkin ditemukan. dokter dapat menemukan anesthesia “stocking-and-glove” yang karakterisktik pada tangan atau kaki atau hemianestesia pada tubuh yang tepat dimulai di garis tengah. mereka biasanya tidak mengalami cedera. Gejala motorik. pupilnya bereaksi terhadap cahaya. Semua modalitas sensorik dapat terlibat. dan penglihatan terowongan (tunnel vison). Satu gangguan gaya berjalan yang ditemukan pada gangguan konvers adalah astasia-abasia. anesthesia dan parestesia adalah sering ditemukan. Gejala motorik adalah kelainan pergerakan. Gejala sensorik. Gejala gangguan depresif dan kecemasan seringkali dapat memyertai gejala gangguan konversi dan pasien yang terkena berada dalam risiko untuk bunuh diri. dependen. 20 . pemeriksaan neurologis menemukan jalur sensorik yang utuh. Jadi. jika mereka terjatuh. cara berjalan. pasien berjalan berkeliling tanpa bertabrakan atau mencederai diri sendiri. khususnya pada anggota gerak. dan pareiform. antisocial. Gejala tersebut mungkin unilateral atau bilateral. sebagai contohnya. yaitu gaya berjalam yang sangat ataksik dan sempoyongan yang disertai oleh gerakan batang tubuh yang meyentak. Tetapi. Paien dengan gejala jarang terjatuh. Pada gangguan konversi.gangguan kepribadian pasif-agresif. dan histrionik. kebutaan.

Selain itu. Menggigit lidah. atau empat anggota gerak. dan pasien tidak memiliki peningkatan konsentrasi prolaktin pascakejang. Ciri penyerta lain. Pasien mendapatkan tujuan primer dengan memperhatikan konflik internal di luar kesadaran mereka. dan cedera setelah terjatuh dapat terjadi pada kejang semu. Beberapa gejala psikologis juga telag dihubungkan dengan gangguan konversi. dua. Klinisi mungkin akan merasa sulit dengan pengamatan saja untuk memebdakan kejang semu dari kejang yang sesungguhnya. inkontienensia urin. seperti dimaafkan dari kewajiban dan situasi kehidupan yang sukar. Kejang semu (pseudoseizure) adalah gejala lain pada ganggguan konversi. kirakira sepertiga pasien yang memiliki kejang semu juga memiliki gangguan epileptik yang menyertai. temuan elektromiografi adalah normal. Refleks tetap normal. Refleks pupil dan batuk adalah dipertahankan setelah kejang semu.Gangguan motorik lain yang sering adalah paralisis dan paresis yang mengenai satu. mendapatkan bantuan dan bantuan yang mungkin tidak didapatkannya pada keadaan lain. dan mengendalikan peilaku orang lain. walaupun distribusi otot yang terlibat tidak sesuai dengan jalur neural. Gejala memliki nilai simbolik yang mewakili konflik psikologis bawah sadar. Gejala kejang. 21 . walaupun gejala tersebut biasanya tidak ditemukan. pasien tidak memiliki fasikulasi atau atrofi otot (kecuali setelah paralisis konversi yang lama). Pasien mendapatkan keuntungan yang nyata akibat mereka sakit. TUJUAN PRIMER. TUJUAN SEKUNDER.

keadaan ini juga ditemukan pada beberapa pasien penyakit medis yang serius yang mengembangkan sikap pandai menahan sikap. pasien tampaknya tidak memperhatikan apa yang tampaknya merupakan gangguan berat. Ada atau tidak adanya la belle indifference adalah tidak akurat untuk menentukan apadakah pasien menderita gangguan konversi. Ketidakacuhan lunak tersebut mungkin tidak ditemukan pada beberapa pasien gangguan konversi. IDENTIFIKASI. Sebagai contohnya. pemeriksaan medis dan neurologis yang menyelurug adalah penting pada semua kasus. Diagnosis Banding Suatu permasalahan utama dalam membedakan gangguan konversi adalah kesulitannya untuk secara menyingkirkan gangguan medis.LA BELLE INDIFFERENCE. Keadaan ini sering terjadi pada reaksi dukacita patologis di mana orang yang kehilangan memiliki gejala orang yang telah meninggal. dan bukti-bukti gangguan neurologis sekarang atau sebelumnya atau suatu gangguan medis nonpsikologis yang dapat menyebaban gejala awal mereka. La belle indifference adalah sikap sombong pasien yang tidak sesuia terhadap gejala yang serius. Pasien gangguan konversi mungkin secara tidak disadari membentuk gejalanya pada seseorang yang penting bagi mereka. Gangguan medis nonpsikiatrik yang meyertai adalah sering ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan gangguan konversi. yaitu. orang tua atau orang yang baru saja meninggal mungkin berperan sebagai model untuk gangguan konversi. Dengan demikian. Jika gejala dapat 22 .

gangguan depresif. gangguan lain tersebut adalah disertai oleh gejala jelas mereka sendiri yang akhirnya memungkingkan diagnosis banding. tetapi. bukannya gangguan konversi. Sebagai contohnya. miopati didapat. Pada hipokondriasi pasien tidak mengalami kehilangan atau distorsi fungsi yang sesungguhnya. Jika gejala pasien terbata pada rasa nyeri. kelemahan dapat dikacaukan dengan miastenia gravis. maka gejala kemungkinan merupakan akibat gangguan konversi. keluhan somatik adalah kronis dan tidak terbatas pada gejala neurologis. Paien yang keluhannya adalah terbata pada disfungsi seksual diklasifikasian sebagai menderita disfungsi seksual. 23 . atau sklerosis multipel. dan gangguan kecemasan. Tetapi gangguan somatisasi adalah penyakit kronis yang mulai pada wal kehidupan dan memasukkan gejala banyak sistem organ lian. Penyakit lain yang dapat menyebabkan gejala yang membingungkan adalah sindroam Guillain-Barre. paralisis periodik. Neuritis optik mungkin keliru didiagnosis sebagai kebutaan gangguan konversi. dan sikap dan keyakinan hipokondriakal karakteristik ditemukan. gangguan nyeri dapat didiagnosis. Gejala gangguan konversi ditemukan pada skizofrwnia. Gejala senosorimotorik juga terjadi pada gangguan somatisasi. tumor otak. (Ativan) parenteral.dihilangkan oleh sugesti. atau amobarbital (Amytal) atau lorazepa. dan penyakit ganglia basalis harus dipertimbangkan di dalam diagnosis banding. polimositis. Gangguan neurologis (seperti demensia dan penyakit degeneratif lainnya). hipnosis. penyakit Creutz-Jacob. dan manifestais neurologis awal dari AIDS.

Berhubungan dengan prognosis yang baik adalah onset yang tiba-tiba.Pada pura-pura dan gangguan buatan. Seperti yang dinyatakan diatas. penyesuaian pramorbid yang baik. semakin buru prognosisnya. walaupun pemulihan kemungkinan dipermudah oleh tepai suportif berorientasi-tilikan aau terapi 24 . tidak ada gangguan psikiatrik atau medis komorbid. dengan gangguan konversi mengalami pemulihan gejala pertamanya dalam beberapa hari atau kurang dari satu bulan. Terapi Pemulihan gejala ganguan konversi biasanya spontan. gejala adalah di bawah kendali sadar dan vilunter. Dengan demikian. tetapi 25 persen mungkin mengalami episode tambahan selama periode stress. Semakin lama terdapat gejala gangguan konversi. stressor yang mudha dikenali. Dilaporkan 75 persen pasien mungkin tidak mengalami episode lain. 25 sampai 50 persen pasien mungkin selanjutnya menderita suatu ganggua neurologis atau kondisi medis nonpsikiatrik yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Sebagian besar pasien. paien dengan gangguan konversi harus mendapatkan pemeriksaan medis dan neurologis yang lengkap pada saat diagnosis. dan tidak ada tuntuan yang terus menerus. Riwayat orang yang berpura-pura biasanya lebih tidak konsisten dan tidak cocok dibandingkan dengan riwayat pasien gangguan konversi dan perilaku curang orang yang berpura-pura adalah jelas diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. kemungkinan 90 smapai 100 persen.

C. Pada pasien yang kebal terhadap ide psikoterapi. bukannya menjadi kebih baik. Menceritakan pada pasien tersebut bahwa gejalanya adalah tidak nyata dapat menyebabkan gejala lebih memburuk. Pendekatan psikodinamika adalah termasuk psikoanalisis dam psikoterapi berorientasi-tilikan.perilaku. dan latihan relaksasi perilaku adalah efektif pada beberapa kasus. Pasien dengan hipokondriasis memiliki interpretasi yang tidak realistis maupun akurat terhadap gejala atau sensasi fisik. cirri yang paling penting dari terapi adalah hubungan terapetik yang merawat dan menguasai. HIPOKONDRIASIS Definisi Hipokondriasis didefinisikan sebagai seseorang yang berpreokupasi dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius dalam kurun waktu 6 bulan atau lebih. dokter dapat mengajurkan bahwa psikoterapi dipusatkan kepada masalah stress dan mengatasinya. Amobarbital atau lorazepam parenteral mungkin membantu dalam mendapatkan informasi riwayat penyakit tambahan. meskipun tidak 25 . Semakin lama pasien gangguan konversi berada dalam peranan sakit dan semakin mereka tergegresi semakin sulit pengobatannya. Hipnosis. Pasikoterapi jangan singkat bentuk langsung dan singkat juga telah digunakan untuk mengobati gangguan konversi. ansiolitik. khususnya jika baru saja dialami suatu peristiwa traumatic. dimana pasien menggali konflik intrapsikis dan simbolisme dengan gejala gangguan koversi.

Epidemiologi Sebuah studi melaporkan bahwa prevalensi hipokondriasis terjadi pada 4-6% populasi pasien medik umum dan yang tertinggi adalah 15%. mereka terfokus pada sensasi fisik dan salah menginterpretasikannya. Pada jenis kelamin wanita dan pria didapatkan rasio yang sama. Preokupasi pasien ini menimbulkan penderitaan bagi dirinya dan mengganggu kemampuannya untuk berfungsi secara baik di bidang sosial. interpersonal dan pekerjaan. menunda tantangan yang tidak dikehendaki 26 . namun hanya bersifat sesaat. karena rasa tidak nyaman secara fisik. kelainan ini paling banyak ditemui pada usia 20 sampai 30 tahun. Peran sakit ini memberikan peluang bagi seseorang untuk menghindari kewajiban berat. Gejala-gejala hipokondriasis dapat dilihat sebagai permintaan untuk mendapatkan peran sakit pada seseorang yang menghadapi masalah berat yang tak dapat diselesaikannya. Pasien dengan hipokondriasis menambah dan memperbesar sensasi somatik yang dialaminya. ambang sakit yang rendah dan toleransi rendah terhadap rasa sakitnya tersebut. Etiologi Pasien dengan hipokondriasis memiliki skema kognitif yang salah. Teori yang kedua mengatakan bahwa hipokondriasis dipandang dari sudut pembelajaran sosial.ditemukan penyebab medis. Meskipun hipokondriasis dapat menyerang berbagai usia dalam onsetnya. Keluhan hipokondriasis juga terjadi pada 3% mahasiswa kedokteran pda 2 tahun pertama pendidikan.

Padahal kecemasan akan simtom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik tersendiri.dan mendapatkan permakluman untuk tidak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya. Dengan demikian. Diperkirakan 80% pasien hipokondriasis juga memiliki gangguan depresi atau cemas bersamaan. dorongan agresivitas dan permusuhan yang ditujukan kepada orang lain dipindahkan ke dalam keluhan-keluhan somatik lewat mekanisme represi dan displacement. sebuah lingkaran setan (vicious cycle) akan muncul. Orang dengan hipokondriasis dapat menjadi marah saat dokter 27 . Teori yang ketiga memandang bahwa hipokondriasis adalah bentuk dari gangguan mental lainnya. bahkan pingsan. Hipokondriasis juga dipandang sebagai pertahanan terhadap rasa bersalah dan sebagai tanda dari kepedulian berlebihan terhadap diri sendiri. Gambaran Klinis Pasien hipokondriasis yakin bahwa mereka menderita penyakit serius yang belum bisa dideteksi dan mereka sulit diyakinkan yang sebaliknya. Keyakinannya bertahan meskipun hasil laboratorium negatif. misalnya keringat berlebihan dan pusing. Mereka mempertahankan bahwa dirinya mengidap suatu penyakit dan dengan berjalannya waktu keyakinannya beralih ke penyakit lain. jinaknya perjalanan penyakit yang dicurigai dan penentraman dari dokter. seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit rasa sakit serta nyeri. Menurut teori psikodinamik. Orang dengan hipokondriasis menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik. yang tersering adalah depresi dan cemas.

b. Preokupasi dengan ketakutan atau ide bahwa seseorang mempunyai penyakit serius berdasarkan interpretasi yang salah terhadap gejala-gejala tubuh. tetapi bisa menjadi kronis bila diperkuat oleh orang-orang dalam sistem sosial pasien atau oleh profesi kesehatan. 28 . Berdasarkan kriteria DSM-IV-TR. Preokupasi menetap meskipun telah dilakukan evaluasi medik dan penentraman.mengatakan betapa ketakutan mereka sendirilah yang menyebabkan simtomsimtom fisik tersebut. Diagnosis DSM-IV-TR menyebutkan bahwa gangguan ini harus sudah berlangsung sekurangnya 6 bulan dengan tidak ditemukannya keadaan patologis pada uji medis dan tes neurologis. Kondisi hipokondriasis sesaat sebagai respons terhadap tekanan biasanya hilang bila tak ada tekanan lagi. Gangguan hipokondriakal juga dapat terjadi sesaat saja karena ada tekanan yang berat misalnya kematian atau penyakit serius yang diderita seseorang yang bermakna bagi pasien. hipokondriasis adalah sebagai berikut: a. Hipokondriasis seringkali disertai dengan gejala depresi atau berkomorbid dengan gangguan depresi dan gangguan cemas. Keadaan ini yang berlangsung kurang dari 6 bulan harus didiagnosis sebagai Gangguan somatoform yang tak tergolongkan. Mereka sering ‘belanja dokter’ dengan harapan bahwa seorang dokter yang kompeten dan simpatik akan memperhatikan mereka sebelum terlambat.

episode depresif. 29 . jenis somatik) dan tak terbatas kepedulian tentang penampilan seperti pada body dysmorphic disorder. Keyakinan pada kriteria A tidak mempunyai intensitas waham (seperti gangguan waham. Psikoterapi kelompok bermanfaat bagi pasien hipokondriasis karena memberikan dukungan sosial dan interaksi sosial sehingga menurunkan kecemasan. Preokupasi bukan disebabkan karena gangguan cemas menyeluruh.c. cemas perpisahan atau gangguan somatoform lainnya. terapi kognitif dan hipnosis. d. Terapi Pasien hipokondriasis biasanya menolak terapi psikiatrik. terapi perilaku. atau apabila hipokondriasis merupakan kondisi sekunder terhadapp gangguan mental primer lainnya maka gangguan primer harus diatasi. pekerjaan dan fungsi penting lainnya. e. Farmakoterapi diberikan pada pasien yang berkomorbiditas dengan gangguan lain seperti gangguan cemas dan gangguan depresi. Beberapa bersedia menerima terapi psikiatrik apabila dilakukan pada setting medis dan dengan fokus menurunkan stress serta edukasi untuk menghadapi penyakit kronik. Bentuk psikoterapi lainnya yang bermanfaat adalah psikoterapi individual berorientasi tilikan. gangguan panik. gangguan obsesif kompulsif. Preokupasi menimbulkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau hendaya di bidang sosial. f. Lamanya gangguan sekurangnya 6 bulan.

Awitan umumnya terjadi pada usia antara 15 dan 30 tahun serta wanita lebih banyak daripada pria. hal ini menunjukkan bahwa 30 . Gangguan ini biasanya terjadi bersama gangguan mental lainnya. Suatu penelitian meyebutkan 90% pasien dengan gangguan ini pernah mengalami satu episode depresi berat dalam hidupnya. 70% mengalami gangguan cemas dan 30% mengalami gangguan psikotik. Pasien dengan gangguan ini juga umumnya tidak menikah. Pada beberapa pasien dilaporkan berespons baik dengan obat-obat yang bekerja pada serotonin. meskipun penampilan pasien ini sangat normal. Epidemiologi Penelitian gangguan ini sangat minim karena pasien umumnya tidak pergi ke psikiater tetapi ke dermatologis. internis atau bedah plastik.D. Ketakutan ini sulit diredakan dengan penentraman atau pujian. Etiologi Penyebab gangguan dismorfik tubuh tidak diketahui. Inti dari gangguan ini bahwa pasien berkeyakinan kuat atau takut dirinya tidak menarik atau bahkan menjijikkan. GANGGUAN DISMORFIK TUBUH Definisi Definisi gangguan ini adalah preokupasi dengan kecacatan tubuh yang tidak nyata. atau keluhan yang berlebihan tentang kekurangan tubuh yang minimal atau kecil. misalnya seseorang yang merasa hidungnya kurang mancung. Gangguan ini berkomorbiditas tinggi dengan depresi.

buah dada dan genitalia. sering bercermin dan adanya usaha untuk menyembunyikan bagian tubuh yang dianggap deformitas dengan pakaian atau riasan. khususnya bagian tertentu misalnya hidung. Diagnosis 31 .patofisiologi gangguan ini kemungkinan melibatkan dengan gangguan mental lainnya. Menurut model psikodinamika. Bagian tubuh yang lain yang sering menjadi perhatian adalah rambut. gangguan ini mencerminkan pemindahan (displacement) konflik seksual atau emosional kepada bagian tubuh lainnya yang tak terkait. yang usaha tersebut sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. simbolisasi dan proyeksi. serotonin dan berkaitan Konsep stereotipik tentang kecantikan atau keindahan yang dianut dlam keluarga atau kultur tertentuakan berpengaruh besar pada pasien gangguan dismorfik tubuh. pekerjaan atau kesehatannya. distorsi. Gambaran Klinis Bagian tubuh yang menjadi keprihatinan umumnya adalah cacat atau kekurangan pada wajah. biasanya pasien-pasien ini juga memiliki ciri kepribadian obsesif-kompulsif. skizoid dan narsistik. Asosiasi ini terjadi melalui mekanisme defensi represi. disosiasi. Gejala-gejala lain terkait adalah ide atau waham rujukan tentang orang-orang yang memperhatikan cacat tubuhnya. Varian lain terjadi pada pria adalah hasrat untuk membesarkan otot tubuhnya. Selain berkomorbid dengan gangguan depresif dan cemas.

biasanya tidak berhasil mengatasi keluhannya. c. Obat-obatan yang bekerja pada serotonin misalnya klomipramin dan fluoksetin dapat mengurangi gejala yang dikeluhkan pasien minimal 50%. Preokupasinya mengakibatkan penderitaan dan hendaya yang secara klinis bermakna di bidang sosial. penghambat monoamin oksidase dan pimozide bermanfaat pada kasus individual. Apabila terdapat gangguan mental lain yang menyertai. E. Faktor psikologis sangat berperan pada gangguan ini.Diagnosis menurut DSM-IV-TR: a. pekerjaan atau fungsi penting lainnya. dermatologis. Preokupasinya bukan karena gangguan mental lainnya (misal: ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia nervosa) Terapi Pengobatan pasien dengan gangguan dismorfik tubuh dengan prosedur medik pembedahan. b. seperti gangguan depresi atau cemas. GANGGUAN NYERI Definisi dari gangguan nyeri menurut DSM-IV-TR adalah gangguan nyeri yang merupakan keluhan utama dan menjadi fokus perhatian klinis. Bila terdapat anomali fisik ringan. maka harus diatasi dengan pemberian farmakoterapi dan psikoterapi yang memadai. Pemberian antidepresan trisiklik. kedokteran gigi dan lainnya. keprihatinannya sangat berlebihan. Gejala utama adalah nyeri pada satu 32 . Preokupasi dengan cacat yang dikhayalkan.

gangguan nyeri idiopatik dan gangguan nyeri atipikal. Di Amerika diperkirakan sebanyak 7 juta orang menderita dan dan mengalami hendaya akibat nyeri pinggang bawah. gangguan nyeri psikogenik. Gangguan ini disebut juga sebagai gangguan nyeri somatoform. Epidemiologi Nyeri merupakan keluhan tersering dalam praktek kedokteran. yang mungkin disebabkan toleransi terhadap rasa nyeri menurun sesuai peningkatan usia. Puncak awitan pada usia empat-puluhan dan lima-puluhan. Etiologi Faktor psikodinamik Pasien yang mengalami sakit dan nyeri pada tubuh tanpa penyebab fisik yang dapat diidentifikasi mungkin mengekspredisikan konflik intrapsisik secara simbolik 33 .tempat atau lebih. mungkin karena berkaitan dengan tingginya kejadian trauma karena pekerjaan. yang tidak dapat dimasukan secara penuh sebagai kondisi medik ninspokiatrik maupun neurologik Gangguan ini berkaitan dengan penderitaan emosional dan hendaya dalam fungsi kehidupan. jadi warisan genetik atau mekanisme prilaku kemungkinan berperan dalam transmisi gangguan ini. Keturunan pertama dari pasien dengan gangguan nyeri mempunyai kesempatan yang lebih tinggi menderita gangguan yang sama. Gangguan nyeri sering terjadi pada pekerja-pekerja kasar. Gangguan nyeri lebih banyak didiagnosis pada wanita dibanding pria.

Identifikas sampai taraf tertentu berperan apabila pasien mengambil-alih peran obyek cinta ambivalen (misalnya orangtua) yang juga menderita nyeri. mendapat keuntungan financial. subtitusi dan reprensi. Banyak pasien sulit dan tidak berespons terhadap pengobatan karena mereka yakin dirinya pantas untuk menderita. Pasien yang menderita eleksitimia.melalui tubuh. Faktor Interpersonal 34 . yang tidak mampu mengartikulasikan perasaannya secara verbal akan mengekspresiakan diri lewat tubuh. penebus rasa bersalah serta perasaan bahwa dirinya jahat. atau bila keluhan berhasil dipakai untuk menghindari aktivitas yang tak menyenangkan. hukuman terhadap kesalahan. atau merepresi agresi. Nyeri dapat berfungsi sebagai cara untuk memperoleh cinta. Pasien lain secara tak disadari menganggap luka emosional sebagai suatu kelemahan dan tak diperbolehkan secara sosial sehingga dengan memindahkan (displacing) masalah pada tubuh. mereka merasa mempunyai cara yang sah untuk memenuhi kebutuhan akan ketergantungannya. Faktor Perilaku Perilaku nyeri diperkuat apabila dihargai dan dihambat apabila diabaikan atau diberi hukuman. Makna simbolik dari ganguan tubuh juga dapat berkaitan dengan penebusan terhadap rasa berdosa atau bersalah. Mekanisme defensi yang digunakan pasien dengan gangguan nyeri adalah pemindahan (displacement). Misalnya keluhan nyeri sedang menjadi berat ketika orang lain mencemaskannya dan memberi perhatian.

dan endorfin berperan dalam memodulasi susunan saraf pusat untuk nyeri. sakit kepala. misalnya untuk memastikan kesetiaan anggota keluarga atau untuk menjaga stabilitas perkawinan yang rapuh. Gambaran Klinis Pasien dengan gangguan nyeri merupakan sekumpulan orang yang bersifat heterogen dengan nyeri pinggang bawah. nyeri faisal atipikal.Nyeri yang sulit diobati telah diketahui sebagai sarana untuk memanipulasi memperoleh keuntungan dalam hubungan interpersonal. 35 . Nyeri mungkin terjadi setelah trauma. Faktor Biologis Korteks serebral dapat menghambat tersulutnya serabut aferen nyeri. neurologik. nyeri pelvik kronik dan nyeri lainya. Beberapa pasien yang menderita gangguan nyeri dan tidak gangguan mental lainnya. Karena abnormalitas stuktur limbik dan sensorik atau kimiawi yang menjadi faktor predisposisi untuk mengalami nyeri. Serotonin mungkin merupakan neurotransmiter utama dalam jaras penghambatan. Untuk menegakan diagnosis gangguan nyeri harus terdapat faktor psikolagis bermakna yang terlibat terjadinya keluhan nyeri. nueropatik. Keuntungan sekunder merupakan hal terpenting dari pasien dengan gangguan nyeri. iatrogenik atau muskulos keletal. Defisiesi endorfin berhubungan dengan peningkatan stimulus sensorik yang datang.

Nyeri pada satu tempat anatomis atau lebih yang merupakan fokus utama dari manifestasi klinis dan cukup berat untuk dijadikan perhatian klinis. Ada pendapat yang meyakini bahwa nyeri kronik merupakan varian dan gangguan depresi. Gambaran klinis dapat bercampur dengan gangguan akibat penggunaan zat. penurunan libido. depresi terselubung atau depresi dengan gejala somatisasi. Sedangkan variasi diurnal. anhedonia. pekerjaan dan fungsi penting lainnya. C. Gangguan depresi berat terjadi pada 25-50% pasien gangguan nyeri. eksaserbasi. Mereka mengunjungi banyak dokter. bahkan medesak untuk melakukan pembedahan. insomnia dan iritabel. Faktor psikologis berperan penting dalam awitan. Mereka berpreokupasi dengan rasa nyerinya dan menyalahkan hal itu sebagai sumber kesengsaraannya. dan 60100% menderita gangguan distimik atau gejala-gejala depresi. Seringkali pasien menyangkal sumber lain sebagai emosi disforiknya dan meyakini hidupnya penuh kebahagiaan bila tidak didera nyeri. atau bertahannya nyeri. keparahan. apabila pasien menggunakan alkohol atau zat lainnya sebagai upaya untuk mengurangi rasa nyeri. Nyeri menyebabkan penderitaan klinis bermakna atau hendaya di bidang sosial. B. 36 . penurunan berat badan dan retardasi psiko motor lebih jarang dialami Diagnosis Diagnosis berdasarkan DSM-IV-TR: A. meminta banyak obat. Gejala depresi yang menonjol pada pasien nyeri adalah anergia.Pasien dengan gangguan nyeri memiliki riwayat panjang perawatan medis dan pembedahan.

E. eksaserbasi. atau bertahannya nyeri). Catatan: Berikut ini tidak dimasukkan sebagai gangguan mental dan dimasukkan di sini untuk memfasilitasi diagnosis diferensial. eksaserbasi. Beri kode sbb: Gangguan nyeri berasosiasi dengan faktor psikologis: faktor psikologis dinilai mempunyai peran dalam awitan. atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria untuk dipareunia. Gejala atau defisit tidak dibuat dengan sengaja atau berpura-pura (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).D. keparahan. keparahan. Jenis gangguan nyeri ini tidak didiagnosis bila kriterianya juga memenuhi untuk gangguan somatisasi. keparahan. atau bertahannya nyerii. 37 . Golongkan: Akut: durasi kurang dari 6 bulan Kronik: durasi 6 bulan atau lebih Gangguan nyeri berasosiasi baik dengan faktor psikologis maupun kondisi medik umum: baik faktor psikologik maupun kondisi medik umum dinilai berperan dalam awitan. (Bila terdapat kondisi medik umum. hal itu tidak berperan sebagai onset. Nyeri tidak dapat dijelaskan sebagai akibat gangguan suasana perasaan (mood). Kondisi medik umum yang terkait atau letak anatomis dan nyerii dikodekan pada aksis III. Golongkan: Akut: durasi kurang 6 bulan Kronik: durasi 6 bulan atau lebih. atau bertahannya nyeri. cemas.

namun biasanya menjadi kronik. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Nyeri pada gangguan nyeri umumnya muncul tiba-tiba dari derajat keparahan meningkat dalam beberapa minggu atau bulan. kepala. nyerinya akan hilang bila penguat eksternal diobati atau dikurangi. dan memiliki riwayat panjang nyeri. keparahan. eksaserbasi atau bertahannya nyeri). tenggorok dan saluran kemih. Pasien dengan prognosis yang buruk. Apabila faktor psikologis mendomonasi gangguan nyeri. Prognosis bervariasi. menimbulkan penderitaan dan ketidak-berdayaan yang parah. payudara. dengan atau tanpa pengobatan. Kode diagnosis nyeri dipilih berdasarkan kondisi medik umum yang terkait bila sudah ditentukan atau pada lokasi anatomis nyeri.Gangguan nyeri berasosiasi dengan kondisi medik umum: kondisi medik umum berperan besar dalam awitan. sendi. bila kondisi medik umum yang mendasari belum ditegakkan dengan jelas—misalnya pinggang bawah. skiatik. Biasanya pasien terlibat dalam penyalahgunaan zat. mata. (Bila terdapat faktor psikologis. Sejak awal pengobatan terapis sudah harus mendiskusikan tentang faktor psikologis yang merupakan faktor sangat penting 38 . telinga. dada. karena tidak mungkin mengurangi rasa nyerinya. hal itu tidak berperan besar dalam awitan. tulang. mempunyai masalah yang menetap terutama menjadi pasif dan tak berdaya. Terapi Pendekatan terapi harus menyertakan rehabilitasi. perut. keparahan. eksaserbasi atau bertahannya nyeri. panggul. ginjal. wajah.

Terapi kognitif berguna untuk mengubah pikiran negatif dan mengembangkan sikap positif. 39 . Jangan melakukan konfrontasi dengan pasien. khususnya bila digunakan sebagai tambahan bersama SSRI. Namun terapis harus memahami bahwa nyeri yang dialami pasien adalah sesuatu yang nyata. Amfetamin yang mempunyai efek analgesik dapat bermanfaat pada beberapa pasien. Farmakoterapi Obat-obatan analgetik tidak membantu pasien. Antidepresan trisiklik dan penghambat ambilan serotonin spesifik (SSRT) paling efektif untuk gangguan nyeri. karena nyeri yang dialami pasien nyata meskipun menyadari bahwa hal itu berasal intrapsikik.sebagai penyebab dan konsekuensi dan nyeni fisik maupun psikogenik. Jelaskan pula bagaimana berbagai sirkuit di dalam otak yang terlibat dengan emosi (misal nya sistem limbik) mempengaruhi jaras nyeri sensorik. namun dosis harus dipantau. Keberhasilan SSRT mendukung hipotesis bahwa serotonin mempunyai peran penting dalam patofisiologi terjadinya gangguan ini. cenderung menimbulkan ketergantungan dan disalahgunakan. Psikoterapi Psikoterapi sangat bermanfaat bagi pasien. sedattif dan anticemas karena selain tak bermanfaat. Hati-hati memberikan obat analgetik. Langkah awal psikoterapi adalah membangun aliansi terapeutik dengan pasien lewat empati.

40 .