You are on page 1of 12

ARGENTOMETRI

oleh: Click to edit Master subtitle style ADI SANTOSO 3K3/01

Apa itu Argentometri….?
 Istilah Argentometri diturunkan dari

bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ion halida (Cl-, Br-, I-).

Beberapa metode dalam titrasi argentometri yang dibedakan berdasarkan indikator yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi, antara lain:

Metode gay lussac
Pada metode ini TIDAK digunakan indikator untuk penentuan titik akhir. Karena sifat dari endapan AgX yang membentuk larutan koloid bila ada ion sejenis yang berlebih. AgX tidak mengendap ,tetapi merupakan kekeruhan yang homogen. Titik akhir titrasi dicapai bila setetes penitrasi yang ditambahkan tidak lagi memberiikan kekeruhan.

GAMBAR TITRASI GAY LUSSAC

Titik akhir titrasi dicapai bila setetes penitrasi yang ditambahkan tidak lagi memberiikan kekeruhan.

METODE MOHR
Metode Mohr biasanya digunakan untuk menitrasi ion halida seperti NaCl, dengan AgNO3 sebagai titran dan K2CrO4­ sebagai indikator. Titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna suspensi dari kuning menjadi kuning coklat. Perubahan warna tersebut terjadi karena timbulnya Ag2CrO4, saat hamper mencapai titik ekivalen, semua ion Cl­ hampir berikatan menjadi AgCl. Pada analisa Cl­ mula­mula terjadi reaksi: Ag+(aq) + Cl­(aq) ↔ AgCl(s) ↓ Sedang pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi: 2Ag+(aq) + CrO4(aq) ↔ Ag2CrO4(s) ↓

GAMBAR TITRASI MOHR

Indikator K2CrO4 menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran, sehingga terbentuk endapan Ag2CrO4(s)↓ yang berwarna merah-bata, yang menunjukkan titik akhir karena warnanya berbeda dari warna endapan analat dengan Ag+.

METODE VOLHARD
Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+ sebagai indikator. Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan Ag, membentuk endapan putih. Ag+(aq) + SCN­(aq) ↔ AgSCN(s)↓ (putih) Sedikit kelebihan titrant kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks yang sangat kuat warnanya (merah) SCN­(aq) + Fe3+(aq) ↔ FeSCN2+(aq)

GAMBAR TITRASI VOLHARD

titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan Ag, membentuk endapan putih. Ag+(aq) + SCN­(aq) ↔ AgSCN(s)↓ (putih) kelebihan titrant kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks yang sangat kuat warnanya

(merah)

SCN­(aq) + Fe3+(aq) ↔ FeSCN2+(aq)

METODE FAJJANS
Dalam titrasi Fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan (diadsorpsi) dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen, antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH. Cara kerja indikator adsorpsi ialah sebagai berikut: indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, fluoresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFl saja). HFl(aq) ↔ H+(aq) +Fl­(aq) Ion Fl­ inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda.

Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya (fotosensifitasi) dan menyebabkan endapan terurai.

Titrasi menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan terpercaya. Sebaliknya penerapannya agak terbatas karena memerlukan endapan berbentuk koloid yang juga harus dengan cepat.

SEKIAN

TERIMA KASIH

ADI SANTOSO 3K3/01