AKANKAH MALAM KEMULIAAN MENYAPA KITA? ∗ H. Acep Zoni Saeful Mubarok, M.Ag.

Sungguh semalam bersama para Malaikat dengan diselimuti kehangatan rahmat-Nya di malam lailatul Qadar bagi para abidin (ahli ibadah) merupakan suatu moment penting yang sangat dinanti dan ditunggu. Kado istimewa tahunan yang tak mampu ternilai oleh harga duniawi dan hanya dianugerahkan Allah SWT kepada mereka yang mujahadah dalam amaliyah Ramadannya. Tentang malam kemuliaan ini Allah SWT mengabarkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar (Q.S. Al-Qadar: 1-5). Sejatinya, penantian yang diharapkan oleh umat Islam harus diikuti dengan persiapan akhlaqiyah dan ruhiyah yang matang. Karena hanya dengan kedua persiapan inilah sang lailatul qadar itu datang. Bagi mereka yang tidak mempunyai emosional-spiritual tinggi meskipun melek dan terus berjaga, tidak akan pernah mendapatkan fasilitas agung tersebut. Diantara yang harus dipersiapkan oleh mereka yang berharap malam keagungan itu adalah menebarkan perdamaian di antara sesama makhluk Allah SWT, saling memaafkan, mencari solusi damai, sehingga Ramadhan tidak diciderai dengan kerusuhan, peperangan, pertikaian, baik di rumah tangga, masyarakat, termasuk perang urat syaraf negatif para kompetitor di elit politik yang berujung saling memfitnah. Seharusnya tebar damai dan maaf ini sudah dirintis, diamalkan dan diwujudkan oleh masyarakat muslim sejak awal Ramadhan sampai tak terbatas, karena ini merupakan akhlak islami. Apalagi di tengah-tengah Ramadhan yang mulia ini, di tengah menyeruaknya peristiwa yang tidak begitu mengenakkan. Dan hampir rata-rata itu berkenaan dengan sengketa atau ketidakakuran, baik antar individu maupun kelompok yang pada akhirnya melahirkan ketidakharmonisan bahkan peperangan yang menimbulkan jatuh korban baik fisik maupun psikis. Sungguh, sangat disayangkan apabila karena hal emosi yang tak terkontrol malam kemuliaan yang senantiasa dinanti justeru lewat tanpa menyapa. Marilah kita bercermin dan mengambil ‘ibrah dari suatu peristiwa pada masa Rasulullah SAW yang terekam dalam sebuah Hadits: Dari Ubadah bin Shamit R.A. berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW keluar untuk memberitahu kami mengenai Lailatul Qadar. Tetapi sayang waktu itu terjadi pertengkaran di antara dua orang Islam; Setelah itu Rasulullah bersabda, `Aku keluar untuk memberitahu kapan munculnya Lailatul Qadar, tetapi sayang si fulan dan si fulan saling mencaci, sehingga penentuan mengenainya telah diangkat, barangkali hal itu lebih baik dari kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (di sepuluh hari terakhir)” (H. R. Bukhari). Peristiwa ini memberikan pelajaran yang begitu indah, tentang pentingnya cerdas emosional dan spiritual dengan tebar damai dan maaf di antara sesama makhluk Allah SWT. Bahkan dalam kesempatan lain Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Maukah kamu aku beritahukan suatu amalan yng lebih baik dari shalat, puasa dan sedekah?” Para sahabat menjawab “Beritahukan kami, “Rasulullah SAW, “Menjalin hubungan baik di antara sesama adalah amalan yang paling mulia, dan pertengkaran di antara sesama adalah pengikisan terhadap agama seperti pisau cukur mencukur bersih rambut seketika” Kemuliaan Islam hanya ada dalam ajarannya yang amat mulia. Suatu ajaran indah yang senantiasa memberikan kedamaian untuk seluruh alam. Satu senyuman yang ikhlas untuk saudaranya dinilai sebagai shadaqah yang bernilai tinggi dihadapan Sang Pencipta.

Sekretaris V MUI Kota Tasikmalaya dan Koordinator GSB Kota Tasikmalayal

Amin.Dalam sejarah banyak pemaparan yang mengagumkan dan mencengangkan para sejarawan betapa keshalehan ritual dan sosial yang ditebarkan Rasulullah SAW. Semoga Allah mendatangkan kepada kita malam kemuliaan yang penuh sesak dengan kehadiran para malaikat dari langit yang menaburkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. . para sahabat dan generasi awalun mampu menarik perhatian dunia untuk mengakui Islam sebagai agama tauhid yang lurus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful