Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara: 1.

Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekana darah ke normal. 2. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. 3. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. tekanan darah akan menjadi tinggi karena melalui proses terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme. ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. renin akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama . Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh, sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Jadi natrium dan klorida merupakn ion utama cairan ekstraselluler. Kandungan Na yang tinggi menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. Sebaliknya kalium merupakan ion utama di dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium adalah kebalikan dari natrium. Konsumsi kalium yang banyak akan meningkatkan konsentrasinya di dalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah.

Renin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh ginjal sebagai rspons terhadap penurunan tekanan darah atau penurunan konsentrasi natrium plasma. Sel-sel yang membentuk dan mengeluarkan renin, dan mengontrol pelepasannya, adalah sekelompok sel nefron yang disebut aparatus jukstaglomerulus. Kelompok sel ini mencakup sel-sel otot polos mensintesis renin dan berfungsi sebagai baroreseptor untuk memantau tekanan darah. Sel-sel makula densa adaalah bagian dari pars ascendens nefron. Sel-sel ini memantau konsentrasi natrium plasma. Sel-sel makula

Angiotensin II menyebabkan kontriksi arteriol-arteriol di seluruh tubuh. renin beredar dalam darah dan bekerja dengan mengkatalis penguraian protein kecil. termasuk arteriol aferen dan eferen. penurunan resistensi perifer total. Angiotensin dihasilkan oleh hati dan konsentrasinya di dalma darah tinggi. Dengna demikian. maka sel-sel otot polos meningkatkan pelapasan reninnya.densa dan sel-sel arteri aferen terletak berdekatan satu sama lain dititik dimana pars tubulus distalis hampir menyentuh glomerulus. dan penurunan tekanan darah kembali ke tingkat normal. yang menyebabkan produksi urin menurun. Aliran darah ginjal berkurang. Perubahan angiotensin menjadi angiotensin I berlangsung di seluruh plasma. . Setelah dikeluarkan. Apabila tekanan darah meningkat. Angiotensin I secara cepat bereaksi dengna enzim lain yang sudah ada di dalam darah. Hal ini menyebabkan peningkatan resisitensi perifer total dan pemulihan tekanan darah ke tingkat normal. yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan angiotensin II. pelepasan renin adalah langkah penentu kecepatan reaksi. Apabila tekanan darah turun. yaitu angiotensinogen. Apabila terjadi penurunan tekanan darah. maka sel-sel makula densa memberikan sinyal kepada sel-sel otot polos untuk menurunkan pelapasan renin. Hal yang sebaliknya akan terjadi apabila tekanan darah meningkat. . tetapi terutama di kapiler-kapiler paru. Penurunan angiotensin II menyebabkan arteriol aferen dan eferen melemas sehingga terjadi peningkatan aliran darah ginjal dan pengeluaran urin yang berfungsi untuk menurunkan tekanan darah.maka pengeluaran renin berkurang dan kada angiotensin II turun. ACE menguraikan angitensin I menjadi angiotensin II sebuah peptida 8 asam amino. Apabila tekanan darah naik maka sel-sel oto polos mengurangi pelepasan renin. Hal ini pula ikut membantu meningkatkan volume plasma dan tekanan darah. menjadi angitensin I suatu protein yang teridir dari 10 asam amino. Hal ini menyebabkan dilatasi arteriol-arteriol sistemik. Apabila kadar natrium plasma berkurang. maka sel-sel JG melepaskan renin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful