SISTEM SARAF

Desember 6, 2011

BIOLISTRIK Biolistrik adalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup. Tegangan listrik pada tubuh berbeda dengan listrik yang kita bayangkan seperti listrik di rumah tangga. Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dapat dalam tubuh. Komposisi ion ekstra sel berbeda dengan komposisi ion intra sel. Pada ekstra sel lebih banyak ion Na dan Cl, sedangkan intra sel terdapat ion K dan anion protein. Dinding sel mempunyai pintu – pintu ion yaitu celah – celah yang dapat terbuka atau tertutup oleh pengaruh rangsang tertentu. Dalam keadaan istirahat tegangan listrik didalam lebih rendah dari pada diluar sel sekitar 70 mVolt. Bila terjadi rangsang nyeri, maka reseptor nyeri berupa ujung – ujung ion Na pintu ion Na terbuka syaraf tidak bermielin terkena rangsang masuk dengan cepat sehingga terjadi perbedaan muatan luar dan dalam sel sangat kecil bahkan bisa terbalik, artinya muatan dalam sel lebih positif yang selanjutnya terjadi potensial reseptor / tegangan reseptor. Hal ini merangsang terjadinya potensial aksi di akson sel saraf. Potensial aksi ini menjalar sepanjang akson disebut impuls. Sesampai di sambungan saraf dengan saraf ( sinap ) atau sambungan saraf dengan otot ( neuromial junction ) terjadi proses terjadi proses penyeberangan impuls dan diteruskan ke saraf berikut atau ke sel otot. Jadi jika nyeri yang merusak kulit akan diteruskan berupa impuls sampai ke otak hingga kita merasa nyeri dan terjadilah refleks berupa rekasi otot yang menghindari nyeri. OTAK Otak dibagi 2 yaitu otak besar (serebrum) dan otak kecil (serebelum). Otak besar terdiri dari lobus frontalis, lobus parientalis, lobus oksipitalis, dan lobus temporalis. Permukaan otak bergelumbang dan berlekuk-lekuk membentuk seperti sebuah lekukan yang disebut girus. Otak besar merupakan pusat dari : - Motorik : impuls yang diterima diteruskan oleh sel-sel saraf kemudian menuju ke pusat kontraksi otot - Sensorik : setiap impuls sensorik dihantarkan melalui akson sel-sel saraf yang selanjutnya akan mencapai otak antara lain ke korteks serebri. - Refleks : berbagai kegiatan refleks berpusat di otak dan batang otak sebagian lain di bagian medulla spinalis. - Kesadaran : bagian batang otak yang disebut formasio retikularis bersama bagian lain dari korteks serebri menjadi pusat kesadaran utama. - Fungsi luhur : pusat berfikir , berbicara berhitung dan lain – lain. Pada bagian anterior sulkus sentralis merupakan bagian motorik penggerak otot . SEREBLUM Otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan dan kooardinasi gerakan. Pada daerah serebelum terdapat sirkulus willisi, pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri carotid interna dan vertebral, lingkaran inilah yang disebut sirkulus willisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotid interna, anterior dan arteri serebral bagian tengah dan arteri penghubung anterior dan posterior. Arteri pada sirkulus willisi memberi alternative pada aliran darah jika salah satu aliran darah ateri mayor tersumbat.

serta alat pencernaan.Pernafasan meningkat . Diproduksi didalam ventrikel dan bersirkulasi disekitar otak dan medulla spinalis melalui sistem ventrikular.Merupakan pusat refleks-refleks yang ada disana . Cairan CSS didalam tubuh diserap oleh villiarakhnoid.CAIRAN SEREBROSPINAL Merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna dengan berat jenis 1. glukosa dan klorida.Denyut jantung meningkat . SARAF OTONOM Sistem saraf ini mempunyai kemampuan kerja otonom. secara organik dan non organik cairan CSS sama dengan plasma tetapi mempunyai perbedaan konsenterasi. serta immunoglobulin. Secara normal CSS hanya mengandung sel darah putih yang sedikit dan tidak mengandung sel darah merah.Metabolisme tubuh meningkat.Saraf torakal 12 pasang .Saraf servikal 8 pasang . SARAF SPINAL Dari medulla spinalis keluar pasangan saraf kiri dan kanan vertebra : . Sistim otonom dipengaruhi saraf simpatis dan parasimpatis.Penerus impuls motorik dari otak ke saraf motorik .007.Penerus sensorik ke otak sekaligus tempat masuknya saraf sensorik . Daerah torakal tidak membentuk anyaman tetapi masing – masing lurus diantara tulang kosta( nervus inter kostalis ). seperti jantung.Saraf lumbal 5 pasang .Saraf koksigeal 1 pasang Saraf spinal mengandung saraf sensorik dan motorik.Pusat pola geraka sederhana yang telah lama di pelajari contoh melangkah. . Peningkatan aktifitas simpatis memperlihatkan : . MEDULA SPINALIS . Jadi apabila terjadi kerusakan di pusat motorik kiri maka yang mengalami gangguan anggota gerak yang sebelah kanan. Cairan CSS diproduksi di pleksus koroid pada ventrikel lateral ketiga dan keempat. paru. Saraf-saraf ini sebagian berkelompok membentuk pleksus ( anyaman ) dan terbentuklah berbagai saraf (nervus) seperti saraf iskiadikus untuk sensorik dan motorik daerah tungkai bawah.Tonus otot – otot meningkat . Umumnya didalam nervus ini juga berisi serat autonom.Kesiagaan meningkat . terutama serat simpatis yang menuju ke pembuluh darah untuk daerah yang sesuai.Gerakan saluran cerna menurun .Sara sacrum / sacral 5 pasang . Serat saraf dari pusat di korteks serebri sampai ke perifer terjadi penyebrangan ( kontra lateral ) yaitu yang berada di kiri menyebrang ke kanan begitu pula sebaliknya. serat sensorik masuk medula spinalis melalui akar belakang dan serat motorik kaluar dari medula spinalis melalui akar depan kemudian bersatu membentuk saraf spinal. CSS mengandung protein. Berdasarkan tempat keluarnya dibagi menjadi saraf otak dan saraf spinal. SARAF SOMATIK : Merupakan saraf tepi berupa saraf sensorik dari perifer ke pusat dan saaf motorik dari pusat ke perifer.

semua itu tampak pada manusia apabila menghadapi masalah.Semua ini menyiapkan individu untuk bertempur atau lari. Sebelum mulai diperiksa.Metabolisme tubuh menurun Hal ini terjadi penyimpanan energi ( anabolisme ) dan terlihat apabila individu sedang istirahat.Pernafasan tenang . fila olfaktoria. pada keadaan ini terjadi peningkatan peggunaan energi / katabolisme. abdusens (VI). fungsi saraf kranial. Walaupun terdapat beragam prosedur diagnostik modern tetapi tidak ada yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik.Gerakan saluran cerna meningkat . cara yang dilakukan dan nyeri yang mungkin timbul dapat membantu memupuk kepercayaan penderita pada pemeriksa. kegelisahan penderita harus dihilangkan dan penderita harus diberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan untuk dapat menegakkan diagnosis. Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal. diusahakan kerjasama yang baik antara pemeriksa dan penderita selama pemeriksaan. sedang pusat parasimpatis berada dibagian medulla oblongata dan medulla spinalis bagian sacral. Penderita seringkali diminta kesediaannya untuk melakukan suatu tindakan yang mungkin oleh penderita dianggap tidak masuk akal atau menggelikan. olah raga. troklearis (IV). Okulomotorius (III). fasialis (VII). Peningkatan aktifitas parasimpatis memperlihatkan : . fungsi motorik. Pusat – pusat ini masih dipengaruhi oleh pusat yang lebih tinggi yaitu di hipotalamus sebagai pusat emosi. trigeminus (V). Suatu anamnesis lengkap dan teliti ditambah dengan pemeriksaan fisik akan dapat mendiagnosis sekitar 80% kasus. glossofaringeus (IX). tingkat kesadaran. traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama.I) Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius.Tonus otot-otot menurun . bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis. terdapat 12 pasang saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka romawi. refleks. optikus (II). Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubanglubang pada tulang yang dinamakan foramina. Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius. bekerja. Saraf Kranial Pemeriksaan saraf merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari : status mental. Agar pemeriksaan saraf kranial dapat memberikan informasi yang diperlukan. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I). Pusat saraf simpatis berada di medulla spinalis bagian torakal dan lumbal. cemas dan lain – lain. 1) SARAF OLFAKTORIUS (N. Memberikan penjelasan mengenai lamanya pemeriksaan. hipoglosus (XII). vagus (X). vestibula koklearis (VIII).Denyut jentung melambat . koordinasi dan gaya berjalan serta fungsi sensorik. Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks . dari sini.Kesiagaan menurun . asesorius (XI).

5) SARAF TRIGEMINUS (N. hipotalamus dan sistem limbik. Saraf ini merupakan satusatunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak. III) Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus otonom). kedalam dan abduksi dalam derajat kecil. Gigi maksilar dan mandibula. wajah. V) Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan serabut-serabut sensorik. dan inferior. Serabut-serabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yatu saraf oftalmikus. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis.Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis. otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris. hidung. Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah. Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma. Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran atas melalui lobus temporal. Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior. Serabut utama yang menghubungkan sistem penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis talamus. Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus oksipital. 4) SARAF TROKLEARIS (N. 3) SARAF OKULOMOTORIUS (N. Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit. dan mandibularis. IV) Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius. dahi. dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran timpani. Serabut-serabut saraf ini.tanpa dirilei di talamus. 2) SARAF OPTIKUS (N. Orientasi spasial serabutserabut dari berbagai bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya. . superior. ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. II) Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang. dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius. maksilaris. sinus. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. mukosa mulut. Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat yang berhubungan dengan talamus. Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya.

otot stapedius. XI) Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. yaitu ganglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. IX) Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut. VIII) Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen yang mengurusi keseimbangan. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius. VII) Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata. Serabut-serabut untuk keseimbangan mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus interna. otot stilohioideus. saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring. otot digastriktus posterior serta otot platisma. serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang dan serebelum. Serabut-serabut untuk pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti koklea di pons. Di antara otot ini dan otot stiloglosal. Serabut-serabut ini kemudian memasuki pons. Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. otot buksinator. saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus. otot frontal. saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas. 7) SARAF FASIALIS (N. otot oksipital. 10) SARAF VAGUS (N. Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot orbikularis okuli. VI) Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens mempersarafi otot rektus lateralis. . X) Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau jugulare dan ganglion inferior atau nodosum. 11) SARAF ASESORIUS (N.6) SARAF ABDUSENS (N. Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior lidah. saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion. tonsil dan sepertiga posterior lidah. 9) SARAF GLOSOFARINGEUS (N. keduanya terletak pada daerah foramen ugularis. Setelah melewati foramen. dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan kemudian menuju girus superior lobus temporalis. jantung dan paru-paru. 8) SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N.

Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen. dan gerakan tangan. pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. kalau penderita mengalami cedera kepala sedang atau berat. Objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah tengah jarak tersebut. Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai tercium baunya bahan tersebut dan kalau mungkin mengidentifikasikan bahan yang dicium baunya. Kartu Snellen Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel. Saraf Optikus (N. Jari tangan Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa melihat pada jarak 2 meter. tembakau. atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lururs kedepan dan tidak . PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS A. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus. II) Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity). Objek yang digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang kanan dan kiri (lateral dan medial). penglihatan perifer (visual field). I) Saraf ini tidak diperiksa secara rutin. Penglihatan perifer diperiksa dengan tes konfrontasi atau dengan perimetri / kompimetri. hipoglosus dan genioglosus. dan atau dicurigai adanya penyakit-penyakit yang mengenai bagian basal lobus frontalis.12) SARAF HIPOGLOSUS (N. pemeriksaan fundus okuli serta tes warna. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6). Pemeriksaan Penglihatan Perifer Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dair mata hingga korteks oksipitalis. Tes Konfrontasi Jarak antara pemeriksa – pasien : 60 – 100 cm. tetapi harus dikerjakan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman. Untuk menguji saraf olfaktorius digunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi. B. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung orang tersebut sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. jari tangan. Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity). refleks pupil. maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60. XII) Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus. parfum atau rempah-rempah. Saraf Olfaktorius (N. Gerakan tangan Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/310. jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas.

Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu. dan bawah. refleks pupil. 3. yaitu: . Gerakan bola mata. Refleks Pupil Saraf aferen berasal dari saraf optikal sedangkan saraf aferennya dari saraf occulomotorius. Caranya adalah dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke arah diskus. Gerakan bola mata dan Pupil 1. arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Saraf Okulomotoris (N. Perimetri / kompimetri Lebih teliti dari tes konfrontasi. perbedaan masih dianggap normal ).Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus normal. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan : -Refleks cahaya langsung (bersama N. Pupil Pemeriksaan pupil meliputi bentuk dan ukuran pupil. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. perbandingan pupil kanan dan kiri ( pupil sebesar diameter 1mm. II) -Refleks pupil akomodatif atau konvergensi . Semua vena-vena ini keluar dari diskus optikus. III) Pemeriksaan meliputi . Terdapat dua macam refleks pupil. Tes warna Untuk mengetahui adanya polineuropati pada nervus optikus. sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. II) -Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N.Respon cahaya konsensual Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama. C. Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi. Ptosis.Respon cahaya langsung. Pemeriksaan fundus occuli (funduskopi) Digunakan alat oftalmoskop. Bila retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus optikus. atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil. 2.boleh melirik kearah objek tersebut. Pakailah senter kecil. Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat diarahkan kepada fundus. kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu pemeriksaan fundus. atas. . Ptosis Pada keadaan normal bila seseorang melihat ke depan maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama secara bilateral.

2. Gerakan kedua bola mata ini disebut konvergensi. Pada pemeriksaan tidak langsung (konsensual). maksila. Strabismus konvergen 3. yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen).VII. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena). misal pasien diminta melirik kearah kanan atas maka kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi). V) Pemeriksaan meliputi. Saraf Trigeminus (N. Pada pemeriksaan langsung pasien diminta melirik ke arah laterosuperior. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan pemeriksa berusaha menutupnya. mandibula. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2. Diplopia E. sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya konsensual. Adapula untuk melihat adanya lesi UMN (certico bultar) penderita membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan pemeriksa diketuk . Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. D. Refleks Pemeriksaan refleks meliputi refleks kornea langsung dan tidak langsung. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul harus digambar dan pemeriksaan harus di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Gerak mata ke lateral bawah 2. V tetapi eferannya (berkedip) berasal dari N. Pasien disuruh mengatakan ―ya‖ setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya. kemudian dari arah lain kapas disentuhkan pada kornea mata. Temperatur tidak diperiksa secara rutin kecuali mencurigai siringobulbia. Saraf Troklearis (N. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri saraf aferen berasal dari N. motorik dan refleks 1. 3. Kemudian pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. yaitu oftalmik. IV) Pemeriksaan meliputi : 1. Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain. pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. sensibilitas. Motorik Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter.Bila seseorang melihat benda didekat mata (melihat hidungnya sendiri) kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri. Sensibilitas Ada tiga cabang sensorik. Mula-mula tes dengan ujung yang tajam dari sebuah jarum yang baru. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit. pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul.

Meniup sekuatnya. IX dan N X. detik arloji. seperti topeng) Tes kekuatan otot wajah 1. gembira. tes romberg dan berjalan lurus dengan mata tertutup. anamnesis meliputi kesedak / keselek (kelumpuhan palatom). F. head tilt test (Nylen – Baranny. bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing. 3. karena secara klinis sulit dipisahkan maka biasanya dibicarakan bersama-sama. 1) Pemeriksaan pendengaran. VII) Pemeriksaan saraf fasialis dilakukan saat pasien diam dan atas perintah (tes kekuatan otot) saat pasien diam diperhatikan asimetri wajah.mendadak dengan palu refleks. dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. 2) PemeriksaanFungsiVestibuler. dixxon – Hallpike) yaitu tes untuk postural nistagmus. Saraf Glosofaringeus (N. dan audiogram. VIII) Ada dua macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi vestibuler. Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri. Keadaan ini disebut Rinne negatif. Memperlihatkan gigi (asimetri) 4. Inspeksi meatus akustikus akternus dari pasien untuk mencari adanya serumen atau obstruksi lainnya dan membrana timpani untuk menentukan adanya inflamasi atau perforasi kemudian lakukan tes pendengaran dengan menggunakan gesekan jari. Gerakan-gerakan abnormal (tic facialis. dibelakang telinga. X) Pemeriksaan N. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan. Saraf Vestibulo kokhlearis (N. IX) dan Saraf Vagus (N. Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli konduksi dipakai tes Rinne dan tesWeber. Sebaliknya pada lesi UMN akan terlihat penutupan mulut yang kuat dan cepat. strabismus konvergen dan diplopia tandatanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain. Dalam keadaan normal masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Saraf abdusens (N. Bersiul dan memoncongkan mulut (asimetri / deviasi ujung bibir) 5. kesulitan . tetapi pada kelumpuhan nervus fasialis bilateral wajah masih tampak simetrik. I. H. Pada tuli saraf anda masih mendengar pada meatus akustikus eksternus. Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus. VI) Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral. grimacing. Kelumpuhan nervus VIII dapat menyebabkan penurunan sudut mulut unilateral dan kerutan dahi menghilang serta lipatan nasolabial. PadaTesRinne. Ekspresi muka (sedih. kejang tetanus/rhisus sardonicus tremor dan seterusnya ). takut. Saraf fasialis (N. Pada Webber Garpu tala 512 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal. 2. Mengangkat alis. G. bandingkan kanan dan kiri. Pemeriksaan fungsi vestibuler meliputi : nistagmus.

Dalam keadaaan normal. terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis). dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Saraf Asesorius (N. tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. J. Penyakit mukosa olfaktorius brochitis dan tumor nasal. K. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi ―countre coup‖. (N. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. XII) Pemeriksaan saraf Hipoglosus dengan cara inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut. IX). XI) Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah. sindrom Foster Kennedy. Sinusitas etmoidalis. osteitis tulang etmoid. XII disebut kelumpuhan pseudobulbar.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia. Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan senter perhatikan apakah terdapat pergeseran uvula. dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang seterusnya. tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). dan peradangan selaput otak didekatnya. Jika konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X. IX) setiap kali dilakukan. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS 1) Saraf Olfaktorius. Fasikulasi dapat unilateral atau bilateral.menelan dan disartria(khas bernoda hidung / bindeng). dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia. tetapi pada rhinitis kronik. IX. terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena) jika terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior. kemudian pasien disuruh menyebut ―aaaa‖ jika uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya kelumpuhan nervus X unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang sehat. Sekarang lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik). kemudian disuruh batuk . X. Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spacula. Saraf Hipoglosus (N. kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral . kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak (lesi nervus laringeus rekuren unilateral).

3. karsinoma nasofaring dan lesi orbital. istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. paralisis otot tunggalmenandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. 2. Penyebab kerusakan diperifer meliputi: a). suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial. Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1. Infark seperti pada arteritis dan diabetes. . radiatio optika. karena kemampuannya untuk merasakan aroma.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. astrositoma) . Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan. traktus optikus. sehingga reaksi pupil akan berubah. sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior. 2) Saraf Optikus (N. Fiksasi posisi mata. b). kerusakan biasanya terjadi di perifer. kebawah dan keluar. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh : . meningitis basalis. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata. Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial. maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia.Infeksi.Kelainan pembuluh darah . Lesi kompresif seperti tumor serebri. dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang. ke atas dan lateral. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut. dengan pupil ke arah bawah dan lateral.III). tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi.juga dapat merusak penciuman. mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum. sehingga kalau lumpuh. biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. 3) Saraf Okulomotorius (N.Trauma Kepala . disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis.Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya. Ptosis.Tumor serebri (kraniofaringioma. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi. kelopak mata akan jatuh ( ptosis). N. tumor hipfise. Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan kemedial. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas. 4) Saraf Troklearis (N. Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang. kortek penglihatan. meningioma. Pupil yang melebar. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang.

. terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis. perdarahan dan tumor. VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain : . V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea. ketika pasien melihat ke arah nasal. ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. . mononeuritis multipleks. mutiple sklerosis. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre. mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. dan otitis media. gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus.Penyebab pada pons. neurosifilis. dan meningitis kronik. sindroma Rumsay hunt. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. trombosis sinus kavernosus. dan keganasan parotis bilateral. sinusistis. meliputi neuroma akustik. fraktur basis kranialis. sudut mulut turun. Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. meningioma.5) Saraf Abdusens (N. meliputi tumor. dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. 6) Saraf Trigeminus (N. anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis. Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi. lesi vaskuler dan siringobulbia. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. fraktur. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit. mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu. . gangguan air mata dan ludah. bibir tertarik kesisi yang sehat.Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral. tetapi ini sangat jarang. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. 7) Saraf Fasialis (N.Pada fosa posterior. kelopak mata tidak bisa ditutup. ketika pasien melihat lurus ke atas.

XII ) Kelainan syaraf ini menyebabkan defisiasi miring kearah yang lemah dari bagian lidah. otoskleroris dan penyakit Paget. Degenerasi misalnya pada presbiakusis atau disebabkan Trauma. pasca operasi di daerah kranioservikal. tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Gangguan nervus IX dan N. sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. tidak perlu dianggap abnormal ( +++ ) 4 = Hyperaktif. 10) Saraf Asesorius (N. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. Pada labirin meliputi penyakit meniere. sindrom rubella kongenital dan sifilis kongenital.Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. mabuk kendaraan.Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler. infeksi misal.8) Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi. streptomisin atau alkohol. toksisitas misalnya oleh aspirin. 9) Saraf Glosofaringeus (N. Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. kelemahan ( + ) 2 = Normal ( ++ ) 3 = Lebih cepat dari rata-rata. Tuli saraf Dapat disebabkan oleh tumor. tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. intoksikasi streptomisin. Tuli konduktif Dapat disebabkan oleh serumen. IX dan N. kelainan syaraf ini juga menunjukkan terjadinya disphagia atau kelainan menelan. misal pada fraktur pars petrosa os temporalis. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). otitis media. X). Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paru-paru. pasca operasi trepansi serebelum. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler. berupa : 1. syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata). 11) Syaraf Hypoglosus ( N. IX) dan Saraf Vagus (N. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. Skala untuk peringkat refleks yaitu : 0 = Tidak ada respon 1 = Hypoactive / penurunan respon. 2. XI) Gangguan N. Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. dengan klonus ( ++++) . AKTIFITAS REFLEKS Pemeriksaan aktifitas refleks dengan ketukan pada tendon menggunakan refleks hammer. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain gangguan pendengaran. labirinitis akut. misal neuroma akustik.

Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu. lutut diangkat ke atas sampai fleksi kurang lebih 300. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut. Kemudian kepala klien difleksikan kedada secara pasif. Brudzinski I positif (+) bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi lutut. 2. PEMERIKSAAN KHUSUS SISTEM PERSARAFAN Untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan pemeriksaan : 1. 2. Tanda Brudzinski I Letakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. 4. supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). kemudian dipukul dengan refleks hammer. Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. Refleks patella Pasien berbaring terlentang. 6. . umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores. Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps. Untuk melakukan test ini. respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki. untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan / disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral. sehingga dagu tidak dapat menempel pada dada —. 5. Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m. sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Refleks Babinski Merupakan refleks yang paling penting. Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer. Refleks biceps Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 900 . Kalau digores seperti itu.Refleks-refleks yang diperiksa adalah : 1. 3. goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Normal jika timbul kontraksi otot biceps. sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara. Refleks abdominal Dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. biceps (diatas lipatan siku). Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Kaku kuduk Bila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan. Refleks triceps Lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 900 .kaku kuduk positif (+). Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal.tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Refleks achilles Posisi kaki adalah dorsofleksi. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki.

3. Elektromiografi. terjadi jika ada lesi pada midbrain. Nampak kedua lengan atas menutup kesamping. kedua lengan pronasi. bila tungkai bawah membentuk sudut 1350 terhadap tungkai atas. posisi. Normal. lama tindakan.Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal . Elekto Encephalografi. Mengkaji abnormal postur dengan mengobservasi : . dengan rahang mengepal. Untuk diagnostik .Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF 4. kedua siku. Persiapan pasien . Tanda Kernig Fleksi tungkai atas tegak lurus. kedua kaki ekstensi dengan memutar kedalam dan kaki plantar fleksi. pons atau diencephalon. Leher ekstensi.Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi . 4. terjadi jika ada lesi pada traktus corticospinal.Decerebrate posturing. Tanda Brudzinski II Tanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. 5. sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut .Indikasi a. TEST DIAGNOSTIK Lima Prosedur diagnostik yang lazim dilakukan yaitu Lumbal Pungsi. .Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan. Computerized Axial Tomografi Scan (CT Scan) Otak A.Kecurigaan meningitis . lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut. Kernig + bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan. ischiadicus.Decorticate posturing.Lumbal Pungsi 1.Pengertian Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal 2.Evaluasi hasil pengobatan b. Angiografi. kedua pergelangan tangan dan jari fleksi. prosedur.Tujuan Mengambil cauran cerebrospinaluntuk kepentingan pemeriksaan/diagnostik maupun kepentingan therapi 3. Persiapan a.Kecurigaan perdarahan sub arachnoid . Untuk Therapi . ekstensi dan menutup kesamping.Pemberian anesthesi spinal . kedua kaki lurus keluar dan kaki plantar fleksi. Test Laseque Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan nyeri sepanjang m.

Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain. Dokter mengenakan masker.Bak streil berisi jarum lumbal. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. spuit dan jarum. Pilih lokasi pungsi.Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempatnya .Bengkok . leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest) b. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik. meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4).Masker. Gaun. Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak. sarung tangan. Bila cairan tetap tidak keluar. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup. hindarkan mengedan. i. Bila akan mengetahui tekananCSF. k. infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum f.Lidokain/Xilocain . Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril . Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam. . h. j.Plester dan gunting . hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan. pakai sarung tangan dan gaun steril. Ulangi cara ini sampai keluar cairan. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra. e. kassa dan lidi kapas. sampai terasa lepas. dan duk bolong. Sebelum mengukur tekanan. d. tutup kepala 5.Pengalas . Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen. Persiapan Alat . Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. tutup kepala.Manometer . botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis). Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan.Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan b. c. g. normalnya 60 – 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahan-lahan. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal. . Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan.upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut .Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi. Prosedur Pelaksanaan a. petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan.Tabung reaksi tiga buah .

anjurkan tekhnik relaksasi. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc. setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF.7 ml dengan menggunakan pipet. Bila timbul sakit kepala. perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam waktu 0. Cara penilainnya adalah sebagai berikut: ( – ) Cincin putih tidak dijumpai ( + ) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih ( ++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (berkabut) ( +++ ) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh (++++) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin. manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. 6. kemudian masukkan cairan CSF 0. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0. Infeksi e. m.dan yang sudah berisi reagen. Setelah semua tindakan selesai. biakan dan pewarnaan gram. lakukan kompres es pada kepala. l. Herniasi Tonsiler b. Kerusakan diskus intervertebralis . cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF. protein dan glukosa. Kista epidermoid intraspinal f.5 . Sakit pinggang d. Komplikasi a. diamkan selama 2 – 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Setelah Prosedur a. Pasang balutan pada bekas tusukan. Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 – 4 jam b. bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang. Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF c.5 jam pada larutan asam sulfat. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural c. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful