You are on page 1of 18

Pengarang: Tahun terbit: Judul: Kota terbit: Penerbit: Jumlah halaman

:

Sindhunata 1983 Anak Bajang Menggiring Angin Jakarta Gramedia 363

Sinopsis (Ringkasan Cerita) Diceritakan, di sebuah negeri Lokapala, seorang putra dari Begawan Wisrawa, Prabu Danareja jatuh cinta pada putri Sukesi. Putri dari sahabatnya, Sumali, seorang raksasa dari negeri Alengka. Sang Ayah yang sangat mencintai anaknya memutuskan untuk pergi menemui Sumali untuk melamar putri Sukesi. Sesampai di sana, Begawan Wisrawa mengutarakan niatnya. Sumali, sahabat yang dikasihinya itu menceritakan syarat yang diinginkan oleh Sukesi. Sukesi bersumpah hanya mau menerima lamaran dari orang yang bisa menerjemahkan arti mimpinya, yaitu menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Wisrawa memutuskan untuk menguakkan makna Sastra Jendra demi putranya. Apakah Sukesi berhasil menguraikan Sastra Jendra? Apakah dengan memahami Sastra Jendra maka keduanya telah menjadi sempurna sebagai titah? Batara Guru memutuskan untuk turun ke dunia, ia akan mencobai kekuatan budi Wisrawa dan Sukesi. Gagal menaklukkan kedua makhluk dunia yang berada di ambang kesempurnaan, Batara Guru kembali ke kahyangan. Sementara itu jagad raya bergemuruh. Bala tentara kejahatan menemui Batara Guru. Hai Raja para Dewa, keluarlah, dan dengarkanlah kami, Lihatlah, berjuta-juta manusia yang mengiringi kami. Mereka ini belum lelah dengan dosa-dosanya. pandanglah tangis mereka. Kami ingin mereka tetap menangis, karena memang demikian kehendak mereka. Jangan sampai tangis mereka diubah menjadi kebahagiaan oleh kesucian Wisrawa dan Sukesi, yang kini sudah berada di ambang Sastra jendra.

Maka, hai Raja para Dewa, jangan kau mengira mereka telah berhasil memasuki alam ilahimu. Mereka masih milik kami. Percobaanmu terhadap mereka belum lengkap. Manusia itu adalah laki-laki dan wanita. manusia belum menjadi ilahi, bila hanya lelaki saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Dan manusia belum ilahi pula, bila hanya wanita saja yang bisa memiliki cahaya ilahi. Turunlah ke dunia dan cobailah mereka berdua bersama-sama. Nanti kau akan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang masih ingin berdosa. Wisrawa dan Sukesi tak mungkin menghindar dari kekuasaan kami. mereka sama dengan manusiamanusia yang mengiringi kami dengan tangisnya ini. Batara Guru kembali ke dunia bersama Dewi Uma. Keduanya menyusup ke dalam tubuh masing-masing pria dan wanita itu. Wisrawa dan Sukesi pada akhirnya gagal menghayati Sastra Jendra dalam kehidupannya meski mereka sudah memahami dalam pikirannya. Dalam penyesalannya mereka berdua mendengar suara ilahi. ….. Hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan tak terkira. Maka, anakku Sastra Jendra pada hakekatnya adalah kepasrahan hati pada ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan hati itulah yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra. Kau dihukum oleh kesombongan budimu sendiri, yang tidak mempedulikan jeritan hati dalam belenggu jasmaninya yang masih berdosa tapi ingin pasrah. Dan, Sukesi pun melahirkan kandungannya, seorang anak dengan sepuluh muka raksasa, yang kemudian dinamakan Rahwana. Kelak, Rahwana inilah yang menculik Dewi Sinta dari suaminya, Rama. Sepuluh muka Rahwana melambangkan semua nafsu manusia dan kekacauan budinya.

Diceritakan Rahwana sebagai penguasa negeri Alengka menculik Dewi Sinta, hanya

sekedar sebagai pemuas nafsunya belaka. Di kesunyian kesengsaraan Dewi Sinta ini, sang Dewi memperoleh kemuliawan atas penderitaan yang ia jalani. Tentunya, Ramawijaya, kekasih Dewi Sinta tidak tinggal diam. Penculikan Dewi Sinta ini memicu peperangan antara pasukan Rahwana dengan Ramawijaya. Raja Alengka ini dapat dikalahkan akibat kejahatan dirinya sendiri, Rahwana. Di saat perang melanda negerinya, Rahwana tetap bernafsu untuk memiliki Dewi Sinta, terutama tubuhnya. Dewi Sinta dapat mempertahankan kesuciannya, ini berkat keagungan cintanya pada Ramawijaya. Singkat cerita, Rama tidak yakin akan kesucian kekasihnya, Dewi Sinta. Apakah kesucian Dewi Sinta sidah terjamah atau belum oleh Rahwana si raksasa. Terjadi perdebatan antara Rama, Dewi Sinta, Trijata, dan Anoman mengenai cerita yang lalu-lalu. Rama menginginkan Dewi Sinta terjun ke dalam api untuk membuktikan kesuciannya itu. Dengan segala rasa cinta matinya kepada Rama, Dewi Sinta memenuhi permintaan Rama. Berkobarlah api panas yang menjilat-jilat, lenyaplah Dewi Sinta bersama kesuciannya dalam bara yang menghanguskan.

Perbandingan dengan Karya Sastra Lain

Pada pembahasan kali ini Saya membandingkan Karya Sindhunata Anak Bajang Menggiring Angin dengan karya Walmiki Ramayana. Bahwa cerita Ramayana tentang Rahwana yang bermuka sepuluh menculik Sinta. Sementara Sinta yang jadi eksil di hutan karena mengikuti Rama yang juga diikuti Lesmana, tertangkap Rahwana karena tidak mau menurut untuk terus berada di dalam lingkaran. Bahwa dalam usaha merebut Sinta itu, Rama dibantu oleh kera Anoman yang sempat membakar Alengka dengan ekornya. Bahwa setelah Sinta bisa didapatkan kembali, ternyata Rama ragu akan kesucian Sinta sehingga ia menyuruh supaya Sinta membuktikannya dengan masuk ke api, jika terbakar berarti tidak suci, tapi kalau tidak apa-apa berarti suci, masih belum diapaapakan Rahwana. Tapi membaca buku karya Romo (Rama) Sindhunata ini, Saya baru sadar bahwa ada begitu banyak filosofi tentang cinta dan tentu saja fatalisme. Asal-usul terjadinya suatu hal dan Mengapa hal itu harus dilaksanakan begitu dijelaskan melalui alur cerita sebagai contohnya dan untuk menerima ilmu itu dan memahaminya Kita dibuai dengan katakata yang indah. Bukan penjelasan kaku langsung dari ilmunya. Hal ini yang membuat kita mudah memahami bahwa hukum kehidupan adanya seperti itu. Kisah Ramayana yang terkenal itu masih sangat relevan untuk menggambarkan karut marut kekuasaan yang sedang melanda bumi Indonesia. Manusia yang berkuasa tak lebih dari sosok Rahwana atau Dasamuka, yang hanya mengejar nafsu dunia, menghalalkan segala cara. Atau sosok manusia bertopeng dusta. Banyak juga tokoh-tokoh agama yang semestinya jadi pantutan ternyata juga hanya mudah berkotbah dan mudah tergelincir dalam nafsu birahi yang semestinya telah berhasil dia kekang erat, seperti tergambar dalam sosok Resi Wisrawa yang jatuh cinta pada Dewi Sukesi. Itulah awal petaka ketika keduanya justru tidak mampu menjalani rahasia kehidupan yang tersurat dalam Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Cinta yang seharusnya tumbuh sebagai cinta agape, telah tergelincir ke dalam jurang cinta eros yang terlarang.

Persoalan cinta itu menjadi kian pelik ketika dalam sosok Rama masih meragukan

kesucian cinta Dewi Shinta, setelah diculik Rahwana. Apa gunanya mengerahkan ratusan pasukan kera menyeberang ke Alengka, menewaskan ribuan nyawa, hanya untuk membuktikan cinta yang dia tolak sendiri? Ternyata Rama bukanlah sosok lelaki sejati, yang bisa menerima segala kekurangan yang ada. Justru saya menemukan sosok mulia pada diri Hanoman, sosok kera yang berhati manusia. Bukankah memang lebih baik menjadi kera yang berhati manusia, daripada jadi manusia yang berhati kera? Ya! Setelah membaca kedua karya sastra pewayangan tersebut kita temui persamaan bahwa terlahir dari seorang indung, yaitu anak dengan sepuluh muka raksasa, yang kemudian dinamakan Rahwana. Kelak, Rahwana inilah yang menculik Dewi Sinta dari suaminya, Rama. Dan sama-sama menceritakan Rama yang ingin membuktikan kesucian kekasihnya, Dewi Sinta apakah sudah terjamah oleh Rahwana atau belum. Perasaan cinta mati Dewi Sinta kepada Rama dibuktikan dengan kerelaan Dewi Sinta menenggelamkan dirinya pada api.

Pengaruh Bicara soal pewayangan, Sindhunata mencantolkan karya sastranya Anak Bajang

Menggiring Angin dengan karya Walmiki Ramayana. Ada lagi indungnya, yaitu Mahabrata. Wujud epos kali ini dikemas berbeda oleh wartawan harian Kompas. Adat Hindu-Budha diakulturasikan oleh seorang katolik. Psati punya kesan pemikiran yang berbeda. Mengenai judul, Anak Bajang Mneggiring Angin pasti punya filosofi sendiri dari seorang Sindhunata. Menurut sumber dunia maya yang Saya kunjungi dan baca, Bajang itu artinya kecil, krdil, cacat. Secara istilah Saya simpulkan Anak Bajang ialah anak kecil, atau anak yang cacat. Saya menangkap, keterlibatan anak bajang dalam cerita ini, yaitu anak bajang hampir selalu muncul setelah satu masalah selesai dengan kedamaian atau keharuan. .... Rahwana merasakan gelap di sekitarnya, dan menjeritlah ia ketika Gunung Suwela menimpanya. Seketika teranglah suasana, damai di mana-mana, anak-anak bajang berpelukan, dan turunlah hujan bunga dan aroma dari surga. Sementara Rahwana menjerit menyayat di bawah Gunung Suwela. (halaman 347) Kemunculan anak bajang pada cerita yang hampir selalu muncul setelah satu masalah selesai, menurut Saya pada pencerminannya bajang menyimbolkan rakyat. Rakyat bisa dikatakan bagian kecil dari sebuah negara, tetapi sebenarnya rakyatlah yang sangat berperan penting dalam sebuah negara. Rakyat sebagai penggerak berjalannya kegiatan berkebangsaan dan bernegara. Ditambah kata anak sebelum kata bajang mengartikan rakyat jelata atau wong cilik yang justru hanya mampu menyaksikan keadaan negaranya tanpa ikut andil. Dalam cerita, anak bajang tidak pernah terlibat dalam menentukan nasib masa depan negerinya, namun anak bajang selalu menyaksikan proses dan hasilnya. Begitu juga jika dicerminkan dengan kenyataan yang ada. Misalnya, pada kasus keadilan hukum seorang nenek miskin yang mencuri singkong di kebun perusahaan bahan pangan yang akan dijatuhi hukuman penjara atau denda. Akhirnya bebas dari jerat hukum karena sumbangan dari hakim pengadilan itu sendiri dan para penyaksi sidang sebagai pengganti denda.

Berkaitan dengan hal tersebut, arti menggiring angin pada judul Anak Bajang Menggiring Angin adalah hal yang tidak masuk akal. Hal ini dapat diartikan bahwa segala hal di dunia ini dapat terjadi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini atau sesuatu yang kecil bukan tidak mungkin mampu melakukan hal di luar logika Kita.

Rahwana menjadi amat takut, dan sangat terkejutlah dia ketika di tengah sana ada pemandangan yang tidak bisa dipercaya mata: ada seekor katak akan menelan naga berbisa. .... Maka inilah Nak, kebalikan hidup yang tak pernah kaupikirkan juga. (halaman 294-295) Peristiwa diatas, sama halnya dengan balatentara kera yang mengalahkan raksasaraksasa utusan Rahwana. Bisa juga di akhir cerita yang membuat Kita berpikir bahwa mana mungkin bisa membuktikan kesucian dengan menyerahkan diri pada kobaran api toh akhirnya lenyap juga raga Dewi Sinta. Cerita yang seakan menyayat-nyayat hati ini dikemas oleh Sindhunata dengan bahasanya yang indah. Kaya dengan metafora. .... Anoman melihat kebahagian itu terbuka laksana sepasang buah dada indah tersembunyi dalam lipatan malam raba-raba.... Anoman menyusup dalam gulita, lipatan malam disingkapkannya. Pejam matanya meraba-raba, sedap malam bertaburan dengan aroma dan berpeganganlah olehnya buah dada yang telanjang indah. Betapa nikmat 215-216) kebahagiaan Anoman. Ia bagaikan bersandaran di kehangatan purnama kembar. (halaman

Dari penggalan cerita tersebut, Adegan yang dapat dinilai vulgar terutama menurut adat Kita, disajikan dengan penuturan bahasa yang sopan. Hal ini menjadi salah satu faktor Saya menikmati alur cerita menjadi tidak gelisah dan tabu seperti membaca wacana porno.

Dengan gaya bahasa yang indah, Saya mendapatkan manfaat dari membaca Anak Bajang Menggiring Angin. Novel ini memberikan pelajaran mengenai kehidupan. Diantaranya, pentingnya waktu kesendirian bagi seseorang, cara menghadapi penderitaan, cara menggenggam kekuasaan, dan yang paling mengesankan mengenai cinta sejati. Empat hal tersebut berkaitan satu sama lain. Novel ini menceritakan Rahwana sebagai penguasa negeri Alengka menculik Dewi Sinta, hanya sebagai pemuas nafsunya. Di kesunyian kesengsaraan Dewi Sinta ini, sang Dewi memperoleh kemuliawan dari penderitaan yang Ia dapatkan. Ramawijaya, kekasih Dewi Sinta tidak tinggal diam. Penculikan Dewi Sinta ini memicu peperangan antara pasukan Rahwana dengan Ramawijaya. Raja Alengka ini dapat dikalahkan akibat kejahatan dirinya sendiri, Rahwana. Di saat perang melanda negerinya, Rahwana tetap bernafsu untuk memiliki Dewi Sinta, terutama tubuhnya. Sangat luar biasa bahwa Dewi Sinta dapat mempertahankan kesuciannya, ini berkat keagungan dan kesungguhan cintanya untuk Ramawijaya.

Kekurangan Novel Saya sebenarnya tidak begitu suka gaya tulisan Sindhunata dalam novel ini terasa rumit. Hal ini mebuat Saya sulit memahami jalan cerita Anak Bajang Menggiring Angin sehingga sesekali mengulang pembacaan. Ada yang membuat Saya hanya memutar-mutar mata ke atas sambil terus membaca

Terimalah perhiasanku ini, Nak," kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna. Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarnalah kini penderitaan itu menjadi raja. Bahasa dalam novel ini terlalu puitis yang fantasi sehingga membuat kacau citra lihatan kita kalau membacanya tidak dihayati pelan-pelan sekali atau pikiran kita tidak serius. Jadi, intinya, bahasa yang digunakan Sindhunata terlalu serius.

Kelebihan Novel Sindhunata memiliki kepekaan luar biasa untuk menjelaskan kakawin Ramayana itu secara surealis. Alam kayangan yang tergambar di sana terasa surealis. Sebab alam itu memang belum terjamah akal manusia. Kita juga meraba-raba, apakah seperti itu suasananya? Tapi itu menjadi tidak penting, karena yang lebih penting adalah apa yang kita peroleh setelah membaca buku itu. Adakah pengayaan rohani setelah membacanya?

Benang merah Anak Bajang Menggiring Angin ini yang menceritakan bahwa nafsu yang bersemayam di setiap diri manusia. Tidak peduli dia itu raja, resi, begawan, pertapa, satria atau seekor kera sekalipun. Di sana ada nafsu amarah, nafsu birahi, ataupun nafsu kekuasaan. Bahwa kerinduan akan kesempuraan itu jauh lebih indah dan mulia daripada sudah merasa sempurna dan melupakan kodrat manusia yang akan mudah jatuh tergelincir dalam dosa-dosa. Tapi mungkin inilah model bahasa karya sastra tahun 80-an. Dan mungkin juga karena Saya sudah terlalu rusak oleh bahasa Indonesia karya-karya terjemahan dan bacaan-bacaan zaman sekarang (novel populer biasanya). Bagi Saya halaman yang paling sulit dibaca dari sebuah buku mungkin adalah 100-50 halaman terakhir. Pada halaman-halaman itu biasanya penulis akan mengulur-ulur cerita atau kalau buku fiksi sudah mulai bicara ngalor ngidul dan rumit. Bahkan dibuat tidak karuan ceritanya yang membuat jadi malas meneruskan. Saya sendiri biasanya sudah mulai takut atau merasa puas diri karena merasa sudah cukup tahu isi buku itu secara keseluruhan, seperti aku membaca untuk menulis resensi saja. Ini tidak terjadi di sini, bahkan halaman-halaman dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin justru seruserunya.

Bagian tentang perang dan pertumpahan darah, siasat dan ilmu-ilmu yang dikeluarkan tentu saja adalah yang paling menarik. Seperti kembali ke masa anak-anak saat menyaksikan film-film seri silat yang menampilkan jagoan-jagoan dengan ilmu-ilmu khusus, apalagi kalau pendekar-pendekarnya itu sudah berkumpul dan membentuk koalisi. Tapi buku ini bukan sekadar kisah silat. Dan syukurlah karena memang begitu. Aku mungkin tidak terlalu tertarik filsafat Jawa atau filsafat wayang. Aku merasa aku bisa mengetahuinya dari orang-orang di sekitarku langsung. Tapi aku tertarik pada ceritanya. Membaca atau melihat orang-orang

Barat bicara dengan mengutip kisah-kisah mitologi Yunani membuatku sering merasa iri. Aku juga sering agak merasa aneh saat orang-orang Indonesia, apalagi kalau orang Jawa, juga menulis dengan mengutip kisah yang sama. Seperti hanya supaya terlihat cerdas atau karena tidak kenal cerita mitos di kalangannya sendiri. Ah, mungkin aku hanya mengolok diri sendiri. Apapun itu, aku kini mulai tertarik dengan kisah-kisah wayang seperti itu. Tapi mungkin akan lebih baik jika mencari tahunya dari buku saja, bukan dari pagelaran wayang maupun film macam yang dari India di TPI dulu itu. Apakah buku ini sudah ada lanjutannya? Membaca buku karya Romo (Rama) Sindhunata ini, Saya baru sadar bahwa ada begitu banyak filosofi tentang cinta dan tentu saja fatalisme. Asal-usul terjadinya suatu hal dan Mengapa hal itu harus dilaksanakan begitu dijelaskan melalui alur cerita sebagai contohnya dan untuk menerima ilmu itu dan memahaminya Kita dibuai dengan kata-kata yang indah. Bukan penjelasan kaku langsung dari ilmunya. Hal ini yang membuat kita mudah memahami bahwa hukum kehidupan adanya seperti itu. Lalu tentang cinta yang dibalut sikap fatalistik. Tentang makna-makna, meski mengingatkan Saya dengan para pejabat, terutama di zaman Suharto, yang mencoba berfilsafat. Nama-nama yang sekarang banyak dipakai untuk nama orang membuat Kita tersenyum. Saya mulai tertarik saat membaca bagian yang menceritakan lahirnya ksatria bernama Gunawan Wibisana. Hehehe... yang bikin menarik tentu saja karena itu satu-satunya nama tokoh yang pakai nama depan, Gunawan, jadi membuat Kita membayangkan itu seperti nama pengusaha yang etnis Tionghoa. Bahwa ada orang tua yang menamai anaknya dengan nama karakter gandruwa seperti Andarini juga cukup mencengangkan. Tentang pocong, jrangkong, banaspati, wewe, dan sebagainya membuat Kita ingin tahu lebih banyak. Saya belum bisa merangkai kesan yang utuh. Seperti biasanya akan sulit jika harus menceritakan ulang sebuah film yang baru saja selesai ditonton. Yang jelas, memang jelas hebat manusia luar biasa seperti Sindhunata bisa merangkum sebuah cerita epos dalam 363 halaman saja.

Hal-Hal Menarik Unsur Adat Rasanya di zaman sekarang ini sudah tidak aneh lagi mengenai peperangan, pertumpahan darah, penculikan, perebutan kekasih, kekuasaan. Hal yang mengesankan bagi Saya Membaca novel karya Sindhunata ini seperti membaca buku sejarah zaman kerajaan,

Hindu-Budha. Bahwa zaman dahulu mengenai perebutan kekuasaan zaman kerajaan berdasarkan kasta dari yang terendah sampai kasta tertinggi. Brahmana, Ksatria, waisya, dan Sudra. Terjadi pelacakan yang luar biasa rumit dan taguh. Pembunuhan berantai atau penyiksaan sadis. Rahwana yang akan menculik Dewi Sinta diwatakkan sangat kejam dan angkuh akan materi yang ada di dalam dirinya. Ini sama saja dengan sinetron-sinetron zaman sekarang yang membuat kita geregetan tidak karuan. Ini mengingatkan Kita ke masa sejarah negara Kita, bukan? Bagaimana para raja perkasa memperebutkan sesuatu yang berharga. Seperti Kisah Ken Arok yang menggugah ingatan Kita pada pencarian yang ulet tiada henti dan pembunuhan berantai. Di sini Rahwana yang begitu ingin sekali mendapatkan Dewi Sinta diceritakan begitu menegangkan. Dan Kita selalu berpihak pada Rama. Terjun dan tenggelamnya Dewi Sinta ke dalam api untuk membuktian kesuciannya bisa dikaitkan dengan upacara kematian adat Hindu-Budha, pembakaran mayat, ngaben. Raga yang dimasukkan ke dalam api kemudian diambil abunya untuk mengenang kesuciannya kemudian ditaburkan ke laut lepas agar kembali kepada alam. Sama seperti setelah Kita membaca novel Anak Bajang Menggiring Angin yang mengingatkan Kita pada hukum alam dan segala isinya. Mengesankan.

Unsur Sosial Cerdasnya Sindhunata merangkai alur cerita dalam Novel Anak Bajang Menggiring Angin. Ketika dimulai dari halaman 358 sampai 363. Menceritakan perdebatan yang sengit antara Rama, Sinta, Trijata, Anoman, beserta rakyat-rakyat yang menyaksikan kegalauan Rama akan kesucian Dewi Sinta. Trijata dan Anoman yang ingin meyakinkan hal tersebut terus berusaha. Dewi Sinta yang mengorbankan nyawanya demi menunjukkan kesuciannya kepada Rama. Dan Dewi Sinta yang merelakan dirinya dijilat api panas dan tenggelam dalam bara yang menghanguskan demi membuktikan kesuciannya. Hal tersebut mebuktikan bahwa Dewi Sinta sangat mencintai Rama. Cinta mati kepada rama, merelakan segala yang Ia lakukan hanya untuk Rama. Dan sifat simpati masyarakat akan menyaksikan mana yang menurut mereka benar dan yang salah. Namun tetap saja dasar kera sifat dasarnya binatang yang tak peduli pada kebenaran. .... Trijata, tak ingin Aku mendnegar kata-kata orang lain. Aku ingin mendengar dari junjunganmu sendiri. Maka katakan Sinta, tidakkah kau au menyerahkan kesucianmu kepada raja raksasa itu? Sahut Rama yang tak mau padam rasa curiganya itu. .... Rama, ketahuilah, segala-galanya telah ku perbuat demi dirimu. Aku menderita tapi Aku tak ingin menarikmu ke dalam jalan penderitaank, karena Aku yakin kebahagiaan tersedia bagimu. Aku tahu nasib malang menuntunku pada jalan yang berat ini, namun tak sedikit pun Aku membayangkan untuk memaksamu melewati nasibku. Aku tak takut menjalani nasibku itu, yang kutakutkan hanyalah kesakitan san kepedihanmu yang akan menyebabkan lumpuh kekuatanmu untuk menyongsong masa depan di mana kebebasan dan kemuliaan menantimu. Aku tak mau kebebasan dan kemuliaan itu hilang bagimu, hanya karena Aku memaksamu untuk melewati jalan nasib penderitaanku. Jerit Sinta.... .... Sinta, cukup sudah segala kata-katamu. Sekarang buktikanlah kesucianmu. Kalau kau berani membuktikannya, terjunlah ke dalam api yang akan kusediakan bagimu. Dan bila kau memang suci, belum terjamah oleh Rahwana sedikit jua, takkan api menelanmu sampai binasa. Kata Rama memerintah.

.... Paduka, cincin Paduka menyala ketika dikenakan dijari manis kekasih Paduka. Tapi ingatkah Paduka, permata Dewi Sinta tak menyala terang ketika Paduka kenakan di dada Paduka. Tidakkah keraguan Paduka sendiri yang menuduh Paduka, sampai Paduka tidak tahan, lalu melemparkan tuduhan itu oada kekasih Paduka, yang tak bercela. .... Rama, sediakan api bagiku, Aku akan terjun ke dalamnya, karena memang demikianlah kehendakmu. Aku telah berbuat segala-galanya demi dirimu, mengapa Aku takut akan api yang hendak menguji kesucianku? Rama, tak hendak Aku membuktikan kesucianku, karena sejak pertama kali bertemu denganmu tak pernah Aku menodai kesucian itu. Semata-mata Aku hanya hendak menunjukkan betapa Aku mencintaimu. .... Hadirin menanti dengan hati berdebar-debar, sementara di sebelah taman Argasoka, sebukit kayu telah disiapkan. .... .... Datnglah wanita-wanita Alengka. Bersama Trijata, mereka memukul-mukul tengannya ke tumpukkan kayu yang sebentar lagi menjadi bara Serentak Mereka membalik, mata mereka tajam memandang Rama, menyatakan garam dan amarahnya. .... .... Maka disulutlah tumpukkan kayu kering yang membukit. Dan berkobar-kobarlah api ke angkasa. Dalam sekejap tertelanlah Sinta dalam warna merah yang panas menjilatjilat. Makin lama, makin ganaslah api membungkus kesuciannya. Dan pandangan pun menjadi kejam, merah membara, menyilaukan mata. .... Tapi lihatlah, di tengah kekejaman dan kesedihan itu nampak anak-anak keradan anak-anak raksasariang bermain bersama-sama. Sepasang-sepasang, anak raksasa menggendong seekor anak kera. Lalu berlombalah mereka sampai terengah-engah nafasnya. Sungguh mengharukan, bukan? Sindhunata mengemas cerita begitu indah,

mengesankan, dan membawa Kita kepada suasana indah cinta yang dikorbankan. Hal tersebut menyadarkan Kita bahwa tidak ada yang abadi bahkan cinta sejati cinta

yang dijaga perasaan sekalipun.

DAFTAR PUSTAKA http://rumahbaca.wordpress.com/2011/08/23/anak-bajang-menggiring-angin/ http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_Bajang_Menggiring_Angin http://buku.enggar.net/2011/11/10/341/ Sindhunata, 1983, Anak Bajang Menggiring Angin, Jakarta, Gramedia.

TUGAS MATA KULIAH SASTRA BANDINGAN SINDHUNATA ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055

SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011