You are on page 1of 2

Mekanika klasik Newton menganalisis gerak benda dengan memandangnya sebagai benda titik (partikel).

Teori klasik memandang meteri sebagai partikel bermassa; gerak partikel bebas didefinisikan menurut energi dan momentumnya . Newton memperkenalkan hukum-hukum gerak, salah satu yang paling populer adalah (1)

dimana , , dan masing-masing adalah gaya, massa dan percepatan. Newton juga memperkenalkan hukum gravitasinya yang dapat menjelaskan dinamika benda-benda langit seperti planet dan matahari.
Persamaan gerak partikel yang dinyatakan oleh persamaan Lagrange dapat diperoleh dengan meninjau energi kinetik dan energi potensial partikel tanpa perlu meninjau gaya yang beraksi pada partikel. Energi kinetik partikel dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari kecepatan, energi potensial partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif adalah fungsi dari posisi. Jika didefinisikan Lagrangian sebagai selisih antara energi kinetik dan energi potensial. Dari prinsip Hamilton, dengan mensyaratkan kondisi nilai stasioner maka dapat diturunkan persamaan Lagrange. Persamaan Lagrange merupakan persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari koordinat umum, kecepatan umum, dan mungkin waktu. Kegayutan Lagrangian terhadap waktu merupakan konsekuensi dari kegayutan konstrain terhadap waktu atau dikarenakan persamaan transformasi yang menghubungkan koordinat kartesian dan koordinat umum mengandung fungsi waktu. Pada dasarnya, persamaan Lagrange ekivalen dengan persamaan gerak Newton, jika koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.

Lagrange dan Hamilton merumuskan ulang mekanika Newton secara lebih elegan. Perumusan keduanya pada dasarnya setara. Lagrange memperkenalkan fungsi yang kemudian dikenal sebagai fungsi Lagrange, sedangkan Hamilton memperkenalkan fungsi Hamilton. Kita tinjau perubahan fungsi Lagrange (2)

(3)

Melalui pendefinsian aksi , dan mengambil perubahan stasioner kedua lenyap, sedangkan sisanya menghasilkan persamaan Lagrange sbb

, suku

(4)
Dari langkah-langkah tersebut, secara umum, pengkajian Lagrangian atau Hamiltonian dari suatu sistem memerlukan pengetahuan tentang energi kinetik dan energi potensial dari sistem tersebut. Selain itu, dalam prosesnya penghitungan dan hasil penghitungan dalam Lagrangian atau Hamiltonian dinyatakan dalam bentuk koordinat umum. Koordinat umum ini belum tentu memiliki dimensi jarak (misal: sudut)

Mengapa perlu formulasi Lagrangian ? Dalam mekanika Newtonian, konsep gaya diperlukan sebagai kuantitas fisis yang berperan dalam aksi terhadap partikel. Dalam dinamika Lagrangian, kuantitas fisis yang ditinjau adalah energi kinetik dan energi potensial partikel. Keuntungannya, karena energi adalah besaran skalar, maka energi bersifat invarian terhadap transformasi koordinat. Dalam kondisi tertentu, tidaklah mungkin atau sulit menyatakan seluruh gaya yang beraksi terhadap partikel, maka pendekatan Newtonian menjadi rumit pula atau bahkan tak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, pada perkembangan berikutnya dari mekanika, prinsip Hamilton berperan penting karena ia hanya meninjau energi partikel saja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan penyelesaian suatu masalah _sika saat ditinjau melalui pengkajian mekanika klasik Lagrangian atau Hamiltonian memiliki beberapa kelebihan dibanding melalui pengkajian Newton. Pengkajian suatu sistem _sis dengan pendekatan Newton akan mengalami masalah jika gaya pada sistem tersebut tidak diketahui atau gaya pada sistem tersebut merupakan bagian dari masalah yang harus diselesaikan, karena metode Newton mengharuskan untuk mengetahui resultan gaya yang bekerja pada benda sistem tersebut. Di sisi lain, pendekatan dengan Lagrangian atau Hamiltonian untuk sistemsistem yang sederhana mungkin terlihat terlalu berlebihan karena memiliki 4 langkah yang jauh lebih banyak daripada jika didekati dengan pengkajian Newton. Meski demikian, pengkajian dengan Lagrangian atau Hamiltonian terbukti ampuh untuk sistem-sistem _sis yang rumit. 5