REFERAT APPENDICITIS

Jansen Laory 0610162 Astri Kanopi 0210168 Arif Firmansyah 0610090 Dian Widya 0210159 Tiara Indah PS 0510141 Amanda C 0510086 FX Jarot 9410109

Pembimbing : dr. Dono Pranoto, Sp.B., M.Kes

KSM Ilmu Bedah Rumah Sakit Immanuel Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung 2011

1

BAB I PENDAHULUAN Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis. Appendix merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan. Peradangan akut Appendix atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah. Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia, meskipun tidak umum pada anak sebelum usia sekolah. Hampir 1/3 anak dengan Appendicitis acuta mengalami perforasi setelah dilakukan operasi. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan antibiotik yang lebih baik, appendicitis pada anak-anak, terutama pada anak usia prasekolah masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan. Diagnosis Appendicitis acuta pada anak kadang-kadang sulit. Hanya 50-70% kasus yang bisa didiagnosis dengan tepat pada saat penilaian awal. Angka appendectomy negatif pada pasien anak berkisar 1050%. Riwayat perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam mendiagnosis Appendicitis2. Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendix yang terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis dan syok. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen di seluruh dunia 3. Appendicular infiltrat merupakan komplikasi dari Appendicitis acuta yang terjadi bila Appendicitis gangrenosa atau mikroperforasi dilokalisir atau dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI, FISIOLOGI, DAN EMBRIOLOGI APPENDIX Appendix merupakan derivat bagian dari midgut yang terdapat di antara Ileum dan Colon ascendens. Caecum terlihat pada minggu ke-5 kehamilan dan Appendix terlihat pada minggu ke-8 kehamilan sebagai suatu tonjolan pada Caecum. Awalnya Appendix berada pada apeks Caecum, tetapi kemudian berotasi dan terletak lebih medial dekat dengan Plica ileocaecalis. Dalam proses perkembangannya, usus mengalami rotasi. Caecum berakhir pada kuadran kanan bawah perut. Appendix selalu berhubungan dengan Taenia caecalis. Oleh karena itu, lokasi akhir Appendix ditentukan oleh lokasi Caecum.1,2,3

Gambar 1. Appendix vermicularis4) Vaskularisasi Appendix berasal dari percabangan A. ileocolica. Gambaran histologis Appendix menunjukkan adanya sejumlah folikel limfoid pada submukosanya. Pada usia 15 tahun didapatkan sekitar 200 atau lebih nodul limfoid. Lumen Appendix biasanya mengalami obliterasi pada orang dewasa. 1,3

3

Meskipun dasar Appendix berhubungan dengan Taenia caealis pada dasar Caecum. Variasi lokasi Appendix vermicularis1 4 . dengan rata-rata panjang 6-9 cm. 1.2 Gambar 3. Potongan transversa Appendix 5 Panjang Appendix pada orang dewasa bervariasi antara 2-22 cm.Gambar 2. Variasi lokasi ini yang akan mempengaruhi lokasi nyeri perut yang terjadi apabila Appendix mengalami peradangan. ujung Appendix memiliki variasi lokasi seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

baik lokal maupun generalisata. Salmonella. Walaupun Appendix merupakan komponen integral dari sistem Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT). gallstone. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya Appendicitis adalah trauma. chicken pox. barium yang mengering pada pemeriksaan sinar X. Obstruksi Appendix juga dapat terjadi akibat tumor carcinoid. Namun akhir-akhir ini.2-1.3. Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enterik atau sistemik. yaitu sekitar 20% pada anak dengan Appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan perforasi Appendix.1 Obstruksi Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta.3 : 1. dan herediter.6 5 . Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia jaringan limfoid di sub mukosa Appendix. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada kelenjar yang mensekresi mukus.2 INSIDENSI Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur. Schistosoma. Reaksi jaringan limfatik. stress psikologis. fungsinya tidak penting dan Appendectomy tidak akan menjadi suatu predisposisi sepsis atau penyakit imunodefisiensi lainnya. Namun jarang pada anak kurang dari satu tahun. seperti measles. Selama lebih dari 200 tahun. Insidensi Appendicitis juga meningkat pada pasien dengan cystic fibrosis. dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya Appendicitis. 2 2. Enterobius vermicularis. dan cytomegalovirus.Awalnya. Rasio pria : wanita = 1. cacing usus terutama Oxyuris vermicularis. dapat disebabkan oleh infeksi Yersinia. khususnya jika tumor berlokasi di 1/3 proksimal.2 2. dan Shigella. Strongyloides. biji sayuran. corpus alienum seperti pin. atau Ascaris. Fecalith merupakan penyebab umum obstruksi Appendix. biji-bijian.3 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI 2. Appendix dianggap tidak memiliki fungsi. atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba. Appendix dikatakan sebagai organ imunologi yang secara aktif mensekresikan Imunoglobulin terutama Imunoglobulin A (IgA).

Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi. sekitar 65% pada kasus Appendicitis gangrenosa tanpa perforasi. sangat rentan terhadap kekurangan suplai darah. Distensi biasanya menimbulkan refleks mual. Appendicitis (dengan fecalith) 8) Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi normal mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. muntah. Sekresi sekitar 0.6. Proses inflamasi segera melibatkan serosa Appendix dan peritoneum parietal pada regio ini. 2) Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa. 1.1 mL.6.2. daerah dengan suplai darah yang paling sedikit akan mengalami kerusakan paling parah. nyeri difus pada perut tengah atau di bawah epigastrium. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui tekanan arteriol. dan nyeri yang lebih nyata. mengakibatkan perpindahan nyeri yang khas ke RLQ. dan 90% pada kasus Appendicitis acuta gangrenosa dengan perforasi. Kapasitas lumen pada Appendix normal 0. 2.7) Gambar 3. mengakibatkan nyeri yang samar-samar. Dengan adanya 6 . Sejalan dengan peningkatan tekanan organ melebihi tekanan vena. tetapi juga dari pertumbuhan bakteri yang cepat di Appendix. Akan tetapi aliran arteriol tidak terhambat.5 mL pada distal sumbatan meningkatkan tekanan intraluminal sekitar 60 cmH2O. Fecalith ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana.1.7 ) Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix. Distensi merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral. aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular.

terjadi gangguan aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang lebih hebat. Nyeri awal ini bersifat nyeri tumpul di dermatom Th 10. takikardia.6 Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral yang dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical.6 Appendix yang mengalami obstruksi merupakan tempat yang baik bagi perkembangbiakan bakteri.6. 7 . pasien akan mengalami gejala gangguan gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan. dan leukositosis akibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia jaringan. infark jaringan. gangguan vaskuler. Distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan muntah dalam beberapa jam setelah timbul nyeri perut. Akhirnya. atau keduanya. serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi Appendix. infark. dan gangren. nyeri pada testis. perubahan kebiasaan BAB. 1. Nyeri pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal dapat timbul di punggung atau pinggang. dan kesalahan pencernaan. invasi bakteri. dapat dipikirkan diagnosis lain.2. nyeri somatik biasanya tertunda karena eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sebelum terjadi perforasi Appendix dan penyebaran infeksi.distensi. Hal-hal tersebut semakin meningkatan tekanan intraluminal Appendix. Inflamasi ureter atau Vesica urinaria akibat penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih. bakteri melakukan invasi ke dinding Appendix. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal. Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan dengan peritoneum parietale. diikuti demam. Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis. Jika mual muntah timbul mendahului nyeri perut. peningkatan tekanan ini menyebabkan gangguan aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan iskhemia jaringan intraluminal Appendix.7) Di awal proses peradangan Appendix. terjadi perforasi biasanya pada salah satu daerah infark di batas antemesenterik. yang terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan frekuensi BAK. Pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal atau di pelvis. Jarang terjadi nyeri somatik pada kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. khususnya di titik Mc Burney’s. atau nyeri seperti terjadi retensi urine. Setelah itu. Appendix yang berlokasi di pelvis. khususnya pada anak-anak.

dan gejala dapat menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. Sekitar 60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob.7) 8 .2. dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik.2 Bakteriologi Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix normal. Appendicitis acuta dan Appendicitis perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis. Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix. Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan tubuh pasien berespon terhadap perforasi tersebut.Perforasi Appendix akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis difus.6 2. Peritonitis difus lebih sering dijumpai pada bayi karena bayi tidak memiliki jaringan lemak omentum. 1. Bakteri ini hanya terlihat pada orang dewasa. leukositosis > 14. Tenesmus ad ani sering dijumpai. Adanya diare dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis.000. yang terjadi dalam jangka waktu yang pendek.3. Diare sering dijumpai pada anak-anak. Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja. lebih memungkinkan untuk terjadi abscess. Flora pada Appendix akan tetap konstan seumur hidup kecuali Porphyomonas gingivalis. 2) Flora normal pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon normal. Diduga lumen merupakan sumber organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa terganggu oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran infeksi akibat perforasi.2. Flora normal Colon memainkan peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke Appendicitis gangrenosa dan Appendicitis perforata. 1.6oC. Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi. akibat iritasi Ileum terminalis atau caecum. dengan beberapa kasus didapatkan lebih dari 14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami perforasi. Namun berbagai variasi dan bakteri fakultatif dan anaerob dan Mycobacteria dapat ditemukan.7) Appendicitis merupakan infeksi polimikroba. Abscess tersebut dapat diketahui dari adanya massa pada palpasi abdomen pada saat pemeriksaan fisik. dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan aspirasi Appendix yang normal. Tanda perforasi Appendix mencakup peningkatan suhu melebihi 38.6 Konstipasi jarang dijumpai.

Burkitt mengemukakan bahwa diet orang Barat dengan kandungan serat rendah.3. Apalagi.6) 2. Penggunaan irigasi antibiotik pada drainage rongga peritoneal dan transperitoneal masih kontroversi. 2. antibiotik diberikan 7-10 hari secara intravena hingga leukosit normal atau pasien tidak demam dalam 24 jam. organisme yang dikultur dan kemampuan laboratorium untuk mengkultur organisme anaerob secara spesifik sangat bervariasi. Coccus Gr (+) Streptococcus anginosus Streptococcus sp. Organisme yang ditemukan pada Appendicitis acuta 2) Bakteri Aerob dan Fakultatif Batang Gram (-) Eschericia coli Pseudomonas aeruginosa Klebsiella sp.Tabel 1. seringkali pasien telah mengalami perbaikan. sebagai akibat dari obat-obatan atau penyakit lain.4 MANIFESTASI KLINIS 9 . dan pasien yang mengalami abscess setelah terapi Appendicitis. Appendicitis. Perlindungan antibiotik terbatas 24-48 jam pada kasus Appendicitis non perforata. lebih banyak lemak. Kultur intraperitonal rutin yang dilakukan pada pasien Appendicitis perforata dan non perforata masih dipertanyakan kegunaannya. flora normal. carcinoma Colorectal lebih sering pada orang dengan diet seperti di atas dan lebih jarang diantara orang yang memakan makanan dengan kandungan serta lebih tinggi. Pada Appendicitis perforata. Coccus Gram (+) Peptostreptococcus sp. dan gula buatan berhubungan dengan kondisi tertentu pada pencernaan.3 Peranan lingkungan: diet dan higiene 7) Di awal tahun 1970an. Batang Gram (-) Clostridium sp. penyakit Divertikel. 2. Kultur peritoneal harus dilakukan pada pasien dengan keadaan imunosupresi. Saat hasil kultur selesai. dan keadaan lumen yang mempunyai kecenderungan untuk timbul fecalith. Fusobacterium sp. Enteococcus sp. Burkitt mengemukakan bahwa diet rendah serat berperan pada perubahan motilitas. Bakteri Anaerob Batang Gram (-) Bacteroides fragilis Bacteroides sp.

urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia.8 Umumnya. Appendix di daerah pelvis menyebabkan nyeri suprapubis. Gejala Appendicitis acuta 9) Gejala* Nyeri perut Anorexia 10 Frekuensi (%) 100 100 .12. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi satu atau dua kali saja.8 Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix. Awalnya. Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. suhu tubuh meningkat hingga > 39oC. 2.2. sebagai contoh.7.3. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Umumnya. Nyeri yang menetap ini umumnya terlokalisasi di RLQ. Variasi dari lokasi anatomi Appendix berpengaruh terhadap lokasi nyeri. nyeri dirasakan difus terpusat di epigastrium.4. kadang disertai kram yang hilang timbul. Durasi nyeri berkisar antara 1-12 jam.13 Tabel 1. retroileal Appendix dapat menyebabkan nyeri testicular. 2. Appendix yang panjang dengan ujungnya yang inflamasi di LLQ menyebabkan nyeri di daerah tersebut. Tetapi pada keadaan perforasi. dimulai dengan nyeri perut yang didahului anoreksia. lalu menetap.1 Gejala Klinis Gejala Appendicitis acuta umumnya timbul kurang dari 36 jam. diikuti nyeri perut dan muntah. dengan rata-rata 4-6 jam.8 Muntah yang timbul sebelum nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis. Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis.3.13 Gejala utama Appendicitis acuta adalah nyeri perut. Bila muntah mendahului nyeri perut. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-anak. pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix. biasanya suhu naik hingga 38oC. maka diagnosis Appendicitis diragukan. 1.12.2.

dehidrasi. Pada beberapa kasus yang meragukan.Mual Muntah Nyeri berpindah Gejala sisa 90 75 50 klasik (nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian 50 demam yang tidak terlalu tinggi) *-.2 Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi.Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam Skor Alvarado Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu. dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan hasil PA diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu radang akut dan bukan radang akut. nyeri lokal pada perut kanan bawah. bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan.12. Setelah Appendectomy. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas mengorok.11) Tabel 2.13 Gejala Klinik Adanya migrasi nyeri Anoreksia Mual/muntah Nyeri RLQ Nyeri lepas Febris Leukositosis Shift to the left 11 . skor <6 dan skor >6. mulai dari yang menunjukkan kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu. Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang khas. pasien dapat diobservasi dulu selama 6 jam.2 Value Gejala 1 1 1 Tanda 2 1 1 Lab 2 1 Total poin 10 Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit. Selanjutnya ditentukan apakah akan dilakukan Appendectomy. bayi yang tampak sepsis.

muncul gejala muntah. dan Rovsing’s sign bersifat konfirmasi dibanding diagnostik. obturator sign. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi. Posisi yang dilakukan untuk mengurangi nyeri perut10) 12 . karena pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkat inflamasi pada Appendix. dan nyeri. Pada kedua kelompok tersebut. Pemeriksaan rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibanding diagnostik. pada akhirnya jarang didiagnosis sebagai Appendicitis. Anak yang menggeliat dan berteriak-teriak. diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya telah mengalami perforasi.6 Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha kanan. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik Mc Burney’s. hanya dijumpai gejala letargi. terjadi perangsangan ureter sehingga nyeri yang timbul menyerupai nyeri pada kolik renal. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal. Selanjutnya.2 Tanda Klinis Anak-anak dengan Appendicitis biasanya lebih tenang jika berbaring dengan gerakan yang minimal. Adanya psoas sign. 6 Gambar 4.4. Pada Appendicitis letak retrocaecal.13 2. dan anoreksia.12 Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua. khususnya pada pasien dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix. demam. irritabilitas. Hal tersebut akan mengurangi tekanan ke arah Appendix sehingga nyeri perut berkurang. kecuali pada anak dengan Appendicitis letak retrocaecal.Pada pemeriksaan fisik.

Appendicitis letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior superior. Dasar anatomis terjadinya Psoas sign 10 • Obturator sign Pasien terlentang.6 Secara teori. Sering positif pada Appendicitis namun tidak spesifik. maka terasa nyeri di RLQ. Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif. peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada pemeriksaan rektum (Rectal toucher).Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney. 360o mengelilingi pangkal Caecum. Namun perlu diingat bahwa letak anatomis Appendix sebenarnya dapat pada semua titik. Kemudian pemeriksa memposisikan sendi lutut 13 . • Psoas sign Pasien berbaring pada sisi kiri. pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis. Namun. Kemudian tungkai kanan pasien digerakkan dalam arah anteroposterior. Manuver ini tidak bermanfaat bila telah terjadi rigiditas abdomen. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal.6 Secara klinis. Gambar 5. tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki kanan pasien sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Nyeri pada manuver ini menggambarkan kekakuan musculus psoas kanan akibat refleks atau iritasi langsung yang berasal dari peradangan Appendix. maka pemeriksaan rectal toucher tidak diperlukan lagi. tangan kanan pemeriksa memegang lutut pasien dan tangan kiri menstabilkan panggulnya. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum. dikenal beberapa manuver diagnostik: 10 • Rovsing’s sign Jika LLQ ditekan.

• Baldwin’s test 14 . iritasi M. Nyeri pada manuver ini menunjukkan adanya perforasi Appendix. abscess lokal. atau adanya hernia obturatoria. Obturatorius oleh Appendicitis letak retrocaecal. Manuver ini dikatakan positif bila pada saat dilepaskan. Dasar anatomis Obturator sign10) • Blumberg’s sign (nyeri lepas kontralateral) Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya. • Wahl’s sign Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di RLQ.pasien dalam posisi fleksi dan articulatio coxae dalam posisi endorotasi kemudian eksorotasi. pasien merasakan nyeri di RLQ. Cara melakukan Obturator sign10) Gambar 7. Tes ini positif jika pasien merasa nyeri di hipogastrium saat eksorotasi. dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren pada auskultasi. Gambar 6.

Jika hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan shift to the left pergeseran ke kiri.7) Leukositosis ringan berkisar antara 10.5.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG 2. Appendicitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan polimorfonuklear sedang. Kombinasi 3 tes yaitu adanya peningkatan CRP ≥ 8 mcg/mL. dan persentase neutrofil ≥ 75% memiliki sensitivitas 86%. Hitung jenis sel darah putih di atas jumlah tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi Appendix dengan atau tanpa abscess. 15 . Pemeriksaan urine bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis infeksi dari saluran kemih.1 Laboratorium2. pada Appendicitis acuta dalam sample urine catheter tidak akan ditemukan bakteriuria. Jarang hitung jenis sel darah putih lebih dari 18.000/ mm3. dan spesifisitas 90.000/ mm3 pada Appendicitis tanpa komplikasi. diagnosis Appendicitis acuta harus dipertimbangkan.7%.000-18.Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkai kanannya ditekuk. Walaupun dapat ditemukan beberapa leukosit atau eritrosit dari iritasi Urethra atau Vesica urinaria seperti yang diakibatkan oleh inflamasi Appendix. biasanya didapatkan pada keadaan akut. • • Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral Dunphy’s sign (nyeri ketika batuk) 2. Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasi atau Appendicitis letak pelvis. • • Defence musculare Nyeri pada daerah cavum Douglasi Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix. CRP (C-Reactive Protein) adalah suatu reaktan fase akut yang disintesis oleh hati sebagai respon terhadap infeksi bakteri. Jumlah dalam serum mulai meningkat antara 6-12 jam inflamasi jaringan. hitung leukosit ≥ 11000.6.3.

yang dengan tekanan ringan merupakan struktur akhiran tubuler yang kabur berukuran 5 mm atau kurang.2. USG sama efektifnya pada anak-anak dan wanita hamil. bagian usus yang nonperistaltik yang berasal dari Caecum.2. Sewaktu diagnosis Appendicitis acuta tersingkir dengan USG. Ditemukannya appendicolith akan mendukung diagnosis. Dengan penekanan yang maksimal. dan pasien obesitas Appendix mungkin tidak tertekan karena proses inflamasi Appendix yang akut melainkan karena terlalu banyak lemak.7) Ultrasonografi cukup bermanfaat dalam menegakkan diagnosis Appendicitis. 16 . Diagnosis Appendicitis acuta dengan USG telah dilaporkan sensitifitasnya sebesar 78%-96% dan spesifitasnya sebesar 85%-98%.Ultrasonografi1. Gambaran USG dari Appendix normal. walaupun penerapannya terbatas pada kehamilan lanjut. dilatasi Tuba fallopi. letak retrocaecal. akan menyingkirkan diagnosis Appendicitis acuta.2. USG memiliki batasan-batasan tertentu dan hasilnya tergantung pada pemakai. Penilaian dikatakan positif bila tanpa kompresi ukuran anterior-posterior Appendix 6 mm atau lebih. atau bila Appendix mengalami perforasi oleh karena tekanan.5. pengamatan singkat dari organ lain dalam rongga abdomen harus dilakukan untuk mencari diagnosis lain. Penilaian positif palsu dapat terjadi dengan ditemukannya periappendicitis dari peradangan sekitarnya. Appendix diukur dalam diameter anterior-posterior. organ-organ panggul harus dilihat baik dengan pemeriksaan transabdominal maupun endovagina agar dapat menyingkirkan penyakit ginekologi yang mungkin menyebabkan nyeri akut abdomen. Penilaian dikatakan negatif bila Appendix tidak terlihat dan tidak tampak adanya cairan atau massa pericaecal. Appendix dinilai membesar dan dikelirukan oleh usus kecil. Appendix diidentifikasi/ dikenal sebagai suatu akhiran yang kabur. USG negatif palsu dapat terjadi bila Appendicitis terbatas hanya pada ujung Appendix.6. Pada wanita-wanita usia reproduktif. benda asing (inspissated stool) yang dapat menyerupai appendicolith.

Teknik radiografi tambahan meliputi CT Scan. Meskipun CT Scan telah dilaporkan sama atau lebih akurat daripada USG.7) Foto polos abdomen jarang membantu diagnosis Appendicitis acuta. hal ini merupakan temuan yang tidak spesifik. Pemeriksaan radiologi1.7.6. memerlukan operasi segera saat ada indikasi klinis. kadang dapat terlihat gambaran abnormal udara dalam usus. dan radioisotop leukosit. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan barium enema tergantung pada penemuan yang tidak spesifik akibat dari masa ekstrinsik pada Caecum dan Appendix yang kosong dan dihubungkan dengan ketepatan yang berkisar antara 50-48 %. Karena alasan biaya dan efek radiasinya.3.2. 17 . tetapi dapat sangat bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis banding. CT Scan diperiksa terutama saat dicurigai adanya Abscess appendix untuk melakukan percutaneous drainage secara tepat. tapi jauh lebih mahal. barium enema. Pemeriksaan radiografi dari pasien suspek Appendicitis harus dipersiapkan untuk pasien yang diagnosisnya diragukan dan tidak boleh ditunda atau diganti.Gambar 3. tapi bila ditemukan sangat mendukung diagnosis. Pada pasien Appendicitis acuta. Foto thorax kadang disarankan untuk menyingkirkan adanya nyeri alih dari proses pneumoni lobus kanan bawah.Ultrasonogram pada potongan longitudinal Appendicitis 10) 2.5. Adanya fecalith jarang terlihat pada foto polos.

8. Gambaran CT Scan abdomen: Penebalan Appendix (panah) dengan appendicolith1) Tabel 3.9. Gambaran CT Scan abdomen: Appendicitis perforata dengan abscess dan kumpulan cairan di pelvis1) Gambar 3. Perbandingan USG dan CT Scan Appendix pada Appendicitis10) USG Sensitivitas Spesifitas Penggunaan 85% 92% Evaluasi pasien pada pasien Appendicitis 18 CT Scan Appendix 90-100% 95-97% Evaluasi pasien pada pasien Appendicitis .Gambar 3.

2. Hampir selalu ditemukan infeksi saluran pernafasan atas.6) Diagnosis banding Appendicitis tergantung dari 3 faktor utama: lokasi anatomi dari inflamasi Appendix. 2. Nyeri biasanya kurang atau bisa lebih difus dan rasa sakit tidak dapat ditentukan lokasinya secara tepat seperti pada Appendicitis. Hal ini karena manifestasi klinik yang tidak spesifik untuk suatu penyakit tetapi spesifik untuk suatu gangguan fisiologi atau gangguan fungsi.Keuntungan Aman Relatif murah Dapat menyingkirkan penyakit pelvis pada wanita Lebih baik pada anak-anak Tergantung operator Secara teknik tidak adekuat dalam menilai gas Nyeri Lebih akurat Lebih baik dalam mengidentifikasi Appendix normal. serta umur dan jenis kelamin pasien. Jadi pada dasarnya gambaran klinis yang identik dapat diperoleh dari berbagai proses akut di dalam atau di sekitar cavum peritoneum yang mengakibatkan perubahan yang sama seperti Appendicitis acuta. 2. namun pada umumnya proses-proses penyakit yang diagnosisnya sering dikacaukan oleh Appendicitis sebagian besar juga merupakan masalah pembedahan atau tidak akan menjadi lebih buruk dengan pembedahan. tingkatan dari proses dari yang simple sampai yang perforasi. Observasi selama beberapa jam bila ada kemungkinan diagnosis Adenitis mesenterica. karena Adenitis mesenterica 19 .6) 1.6) Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi operasi. phlegmon dan abscess Mahal Radiasi ionisasi Kontras Kerugian 2. tetapi sekarang ini telah menurun.6 DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari Appendicitis acuta pada dasarnya adalah diagnosis dari akut abdomen. Adenitis Mesenterica Acuta Diagnosis penyakit ini seringkali dikacaukan oleh Appendicitis acuta pada anakanak.

Appendicitis sangat jarang dibawah umur 2 tahun. Penyakit urogenital pada laki-laki. sangat penting untuk membedakan Intususseption dari Appendicitis acuta karena terapinya sangat berbeda. Nyeri hiperperistaltik abdomen mendahului terjadinya diare. dan leukositosis sering dikelirukan sebagai Appendicitis. Mual 20 . Gastroenteritis akut Penyakit ini sangat umum pada anak-anak tapi biasanya mudah dibedakan dengan Appendicitis. satu-satunya jalan adalah operasi segera. karena nyeri epigastrik dapat muncul sebagai gejala lokal pada awal penyakit ini. Chron’s enteritis Manifestasi enteritis regional berupa demam. terdapat diare dan anorexia. Vesikulitis seminalis dapat juga menyerupai Appendicitis namun dapat dibedakan dengan adanya pembesaran dan nyeri Vesikula seminalis pada waktu pemeriksaan Rectal toucher. nyeri RLQ. Penyakit urogenital pada laki-laki harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding Appendicitis. Massa berbentuk sosis dapat teraba di RLQ. 3. epididimitis akut. Namun jika meragukan. sedangkan terapi pemberian barium enema pada pasien Appendicitis acuta sangat berbahaya. yang ditandai dengan adanya diare. Selain itu. Diverticulitis Meckel Penyakit ini menimbulkan gambaran klinis yang sangat mirip Appendicitis acuta. termasuk diantaranya torsio testis. Gastroentritis karena virus merupakan salah satu infeksi akut self limited dari berbagai macam sebab. mual. Umur pasien sangat penting.adalah penyakit yang self limited. 5. Intususseption Sangat berlawanan dengan Diverticulitis Meckel. dan muntah. Terapi yang dipilih pada intususseption bila tidak ada tandatanda peritonitis adalah barium enema. 6. sedangkan Intususseption idiopatik hampir semuanya terjadi di bawah umur 2 tahun. Perbedaan preoperatif hanyalah secara teoritis dan tidak penting karena Diverticulitis Meckel dihubungkan dengan komplikasi yang sama seperti Appendicitis dan memerlukan terapi yang sama yaitu operasi segera. Pasien biasanya mengeluarkan tinja yang berdarah dan berlendir. 2. 4. Hasil pemeriksaan laboratorium biasanya normal. perih.

12. Bila ditemukan bermacam–macam bakteri. Perforasi ulkus peptikum Gejala perforasi ulkus peptikum menyerupai Appendicitis jika cairan gastroduodenal mengalir ke bawah di daerah caecal. Peritonitis Primer Peritonitis primer jarang menyerupai Appendicitis acuta simplex namun dapat ditemukan gambaran yang sangat mirip dengan peritonitis difus sekunder yang disebabkan oleh ruptur Appendix. Infeksi saluran kencing Pyelonephritis acuta. Purpura Henoch–Schonlein 21 . jarang terjadi mual dan muntah. Diagnosis ditegakkan dengan aspirasi peritoneal. Batu Urethra Bila calculus tersangkut dekat Appendix dapat dikelirukan dengan Appendicitis retrocaecal. nyeri berlangsung terus menerus hingga epiploic appendage yang mengalami infark dioperasi. scrotum atau penis. terutama yang terletak di sisi kanan dapat menyerupai Appendicitis acuta letak retroileal. gejala nyeri abdomen bagian atas menjadi minimal. nyeri costo vertebra kanan. 8. hematuria. Gejala dapat minimal atau terjadi gejala abdomen yang dapat berlangsung hingga beberapa hari. Nyeri alih ke daerah labia. Pyelografi dapat memperkuat diagnosis. 7. Bila ditemukan bakteri coccus pada pewarnaan Gram. Jika perforasi secara spontan menutup. 10. Rasa dingin. Pasien tidak tampak sakit. dapat mengarahkan diagnosis kepada enteritis namun tidak menyingkirkan diagnosis Appendicitis acuta. dan atau tanpa demam atau leukositosis mendukung adanya batu. peritonitis tersebut adalah peritonitis sekunder. 9. 11. peritonitis tersebut adalah peritonitis primer dan terapinya adalah obat–obatan. dan nafsu makan tidak berubah. Terdapat nyeri tekan pada daerah yang terkena. Pada 25% kasus. dan terutama pemeriksaan urine biasanya cukup untuk membedakan keduanya.dan muntah yang jarang. Epiploic appendagitis Epiploic appendagitis mungkin disebabkan oleh infark Colon sekunder dari torsi Colon.

Bila cairan sangat banyak dan berasal dari ovarium kanan. Nyeri dan nyeri tekan agak difus. Leucositosis dan demam minimal atau tidak ada. 22 . dengan urutan yang tersering adalah PID. Karena nyeri ini terjadi pada pertengahan siklus menstruasi. termasuk adenitis mesenterica. Umumnya infeksinya ringan dan self limited. sering disebut mittelschmerz. purpura dan nephritis juga hampir selalu ditemukan. dapat dikelirukan dengan Appendicitis. • Pelvic Inflammatory Disease (PID) Infeksi ini biasanya bilateral tapi bila yang terkena adalah tuba sebelah kanan dapat menyerupai Appendicitis. Angka rata-rata Appendectomy yang dilakukan pada Appendix normal yang pernah dilaporkan adalah 32%–45% pada wanita usia 15–45 tahun.Sindrom ini biasanya terjadi 2-3 minggu setelah infeksi Streptococcus. namun nyeri sendi. Yersiniosis Infeksi Yersinia menyebabkan berbagai macam gejala klinik. Kecurigaan pada diagnosis preoperatif tidak boleh menunda operasi. namun pada beberapa dapat terjadi sepsis sistemik yang umumnnya sangat fatal bila tidak diobati. Penyakit–penyakit organ reproduksi pada wanita sering dikelirukan sebagai Appendicitis. karena secara klinis Appendicitis yang disebabkan oleh Yersinia tidak dapat dibedakan dengan Appendicitis oleh sebab lainnya. endometriosis dan ruptur kehamilan ektopik. Mual dan muntah hampir selalu terjadi pada pasien Appendicitis. • Ruptur Folikel de Graaf Ovulasi sering mengakibatkan keluarnya darah dan cairan folikuler serta nyeri yang ringan pada abdomen bagian bawah. Kelainan–kelainan ginekologi Umumnya kesalahan diagnosis Appendicitis acuta tertinggi pada wanita dewasa muda disebabkan oleh kelainan–kelainan ginekologi. Pada pasien PID hanya sekitar separuhnya. ruptur folikel de Graaf. Sekitar 5% dari kasus Appendicitis acuta disebabkan oleh infeksi Yersinia. Laparoskopi mempunyai peranan penting dalam menentukan diagnosis. 13. colitis dan Appendicitis acuta. kista atau tumor ovarium. ileitis. Nyeri abdomen merupakan gejala yang paling menonjol. 14.

Appendicular infiltrat Appendicular infiltrat adalah Appendicular infiltrat adalah infiltrat/massa yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum. Massa Appendix lebih sering dijumpai pada pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang. 17 Pada anak-anak.2. Peritonitis 2. dinding Appendix lebih tipis. Patofisiologi Bila semua proses patofisiologi Appendicitis berjalan lambat.3. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.16 2. Peradangan Appendix tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.7 KOMPLIKASI 2. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.1.1.17 23 . karena omentum lebih pendek dan Appendix lebih panjang. Umumnya massa Appendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup Appendix dengan omentum. usus halus. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.7. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah Appendix hingga timbul suatu massa lokal yang disebut Appendicularis infiltrat. Jika tidak terbentuk abscess.17 Appendicularis infiltrat merupakan tahap patologi Appendicitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding Appendix dalam waktu 24-48 jam pertama. usus halus atau usus besar.7.7.2. Perforasi 2. Appendicitis akan sembuh dan massa periappendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.3.7. atau Adnexa sehingga terbentuk massa periappendikular.

Terdapat juga keluhan anoreksia. Dalam 2-12 jam nyeri beralih ke kuadran kanan. oleh karena itu penderita harus benar-benar istirahat (bedrest). Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif.3. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Manifestasi Klinis Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular.18 Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan.7. Bisa terdapat perbedaan suhu axillar dan rektal sampai 1°C. mungkin sudah terjadi perforasi. daya tahan tubuh. 19 Appendix yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna.3. mual dan muntah.7.3. Pemeriksaan Fisik Demam biasanya ringan. dan demam yang tidak terlalu tinggi.2. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. bisa disertai nyeri lepas. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.Kecepatan terjadinya peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme. 18 2. Gejala klasik Appendicitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Pada penekanan perut kiri bawah 24 . Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. uterus tuba. malaise. Appendicitis infiltrat atau adanya Appendicular abscess terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. dengan suhu sekitar 37. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. peritoneum parietale dan juga organ lain seperti Vesika urinaria. fibrosis pada dinding Appendix. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis.5°C. mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. usus yang lain. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. omentum.5-38. Defence muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Bila suhu lebih tinggi.17 2.

dengan atau tanpa muntah dan waktu serangan dapat 25 . Pada Appendicitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Penegakan diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Pada Appendicitis tuberkulosa. Hal ini perlu dipastikan dengan colon in loop dan benzidin test. Adnexitis dan Kista Ovarium terpuntir . peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat Appendicitis perforata. mengarahkan diagnosis ke massa atau abscess Appendikuler.4. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk. misalnya pada Appendicitis pelvika. penyakit Crohn. biasanya terjadi pada orang tua dengan tanda keadaan umum jelek. maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas. Jika Appendix intrapelvinal maka massa dapat diraba pada RT(Rectal Toucher) sebagai massa yang hangat.18 2. enteritis tuberkulosa. Diagnosis Riwayat klasik Appendicitis akut. anemia dan turunnya berat badan. 18 Pada Appendicitis pelvika tanda perut sering meragukan. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak Appendix.18 Tumor Caecum. yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di region iliaka kanan dan disertai demam. amuboma dan Lymphoma maligna intra abdomen.3. klinisnya antara lain keluhan nyeri yang tidak begitu hebat disebelah kanan perut.7. dan kelainan ginekolog seperti Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). Pada anak-anak tumor Caecum yang sering adalah sarcoma dari kelenjar mesenterium. Perlu juga disingkirkan kemungkinan aktinomikosis intestinal.17 Peristaltik usus sering normal. 18 Jika sudah terbentuk abscess yaitu bila ada omentum atau usus lain yang dengan cepat membendung daerah Appendix maka selain ada nyeri pada fossa iliaka kanan selama 3-4 hari (waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan abscess) juga pada palpasi akan teraba massa yang fixed dengan nyeri tekan dan tepi atas massa dapat diraba. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dengan karsinoma Caecum.

dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya. dapat terjadi penyebaran pus 26 . tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan 3. Massa Appendix dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengan: 1. dan karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi.timbul panas badan. 2. kadang-kadang teraba massa. ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang Appendix yang mungkin gangrene.7. 17 Urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit. Jika peradangan pada Appendix tidak dapat mengatasi rintanganrintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum. 2.17 Massa Appendix terjadi bila terjadi Appendicitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. biasanya terdapat nyeri tekan dan rigiditas pada kuadran lateral bawah kanan. 3. laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. pemeriksaan lokal abdomen tenang.3. keadaan umum pasien masih terlihat sakit. Penatalaksanaan Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat Appendix menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam. pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat tanda-tanda peritonitis.17 Massa Appendix dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan: 1.16 2. massa tadi menjadi terisi nanah. sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abscess yang dapat mudah didrainase. massa yang terbentuk tersusun atas campuran bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. pergeseran ke kiri.5. suhu tubuh tidak tinggi lagi. suhu tubuh masih tinggi. Pada massa periappendikular yang pendindingannya belum sempurna. Mula-mula. tetapi segera menjadi abscess yang jelas batasnya. semula dalam jumlah sedikit. leukositosis sedang.

17 Tatalaksana Appendicular infiltrat pada anak-anak sampai sekarang masih kontroversial. appendectomy direncanakan pada Appendicular infiltrat tanpa pus yang telah ditenangkan. Pada anak. dengan cairan intravena. jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abscess. Pasien dewasa dengan massa periappendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna. dan leukosit normal. Bila sudah tidak ada demam. Pada penderita dewasa. penderita boleh pulang dan Appendectomy elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Sehingga terapi non-operatif pada appendicular infiltrat yang diikuti dengan Appendectomy elektif merupakan metode yang aman dan efektif. infeksi karena luka saat operasi. dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh. massa periapendikular hilang. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan Appendectomy.20 Akhir-akhir ini terdapat manajement terapi yang terbaru yaitu dengan PLD (Primary Laparoscopic Drainage) yang dapat diikuti dengan LA (Laparoscopic Appendectomy). ukuran massa. abses intrabdominal. akan terbentuk abscess Appendix. Bila terjadi perforasi.keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. 27 . Terapi tersebut sama dengan pada orang dewasa yaitu dengan konservatif terlebih dahulu yang diikuti dengan appendectomy elektif. dan teraba pembengkakan massa. dan pemasangan NGT bila diperlukan. kebanyakan adalah konservatif yaitu dengan observasi ketat dan antibiotik. Dari hasil penelitian komplikasi setelah operasi dengan penanganan konservatif terlebih dahulu lebih sedikit bila dibandingkan dengan terapi pembedahan segera seperti cedera pada ileum (Ileal injury). Dari hasil penelitian kasus terapi Appendicular infiltrat pada anak-anak. bertambahnya nyeri. lalu direncanakan untuk dilakukan Appendectomy elektif setelah 4-6 minggu kemudian untuk mencegah kemungkinan risiko rekurensi dan perforasi yang lebih luas. dianjurkan untuk operasi secepatnya. Baru setelah keadaan tenang. Sebelumnya pasien diberikan antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi. dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Hal ini dikarenakan untuk mencegah komplikasi post operasi dan risiko dari prosedur pembedahan yang besar (extensive). Konservatif berlangsung selama ± 6 hari di rumah sakit.20 Pada anak-anak. serta luasnya peritonitis. serta bertambahnya angka leukosit.

sedangkan bila dilanjutkan dengan LA.8 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu 1. 5. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. dapat dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah.v. pada pasien yang menjalani laparotomi. penurunan panas badan pasien menjadi afebril pada 4-7 hari setelah PLD. Teknik operasi Appendectomy 1. terapi pada pembedahan meliputi.6. Bila dilakukan pembedahan. Dibuat sayatan kulit: Horizontal Oblique 28 .6. dan pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut. PLD ini tidak terbukti terdapat komplikasi selama intra maupun post operasi. makanan oral dapat diberikan 2-3 hari setelah PLD.8): a. Pemberian antibiotika i.7) 1.20 2.2. Jika ternyata tidak ditemukan keluhan atau gejala apapun. 2. 4. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan didapatkan beta-hCG positif secara kualitatif. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah. komplikasi yang dapat terjadi adalah adhesi obstruksi usus. jangan berikan apapun per oral 3. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.PLD ini rata-rata memakan waktu operasi sekitar 80-100 menit.3. dianjurkan untuk drainase saja dan Appendectomy dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. perawatan di rumah sakit antara 7-15 hari. 2. antibiotik intravena dapat dilepas 4-5 hari setelahnya. Open Appendectomy 1. Puasakan pasien.2.20 Bila sudah terjadi abscess. digunakan single dose dipilih antibiotika yang bisa melawan bakteri anaerob.

3. 1) Incisi apponeurosis M. 29 . Dibuat sayatan otot. rectus abdominis karena fascianya ada 2 agar tidak tertinggal pada waktu penjahitan. dapat terjadi hernia cicatricalis. rectus abdominis lalu otot disisihkan ke medial. Mc Burney/ Wechselschnitt/ muscle splitting Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot. 2 lapis M. sayatan M. Fascia diklem sampai saat penutupan vagina M. ditarik ke medial b.rectus abd. ada dua cara: a. Pararectal/ Paramedian Sayatan/ incisi pada vaginae tendinae M.rectus abd. Obliquus abdominis externus dari lateral atas ke medial bawah. Bila yang terjahit hanya satu lapis fascia saja.

bahwa N. obliquus internus diincisi searah dengan seratnya ke arah lateral. Keterangan gambar: Dari tepi sarung rektus. obliquus internus hendaklah berhati-hati agar tak terjadi trauma jaringan. Dapat ditambahkan. Obliquus abdominis internus dari medial atas ke lateral bawah. Obliquus abdominis externus. Incisi kedua mengenai jaringan subkutan sampai ke fascia M. transversus abdominis arah horizontal. fascia tipis M. 2) Splitting M. Keterangan gambar: Pada saat menarik M.Keterangan gambar: Satu incisi kulit yang rapi dibuat dengan perut mata pisau. 3) Splitting M. iliohipogastricus dan 30 .

31 . Setelah Appendix ditemukan. Yang nampak di sini ialah pinset jaringan De Bakey. menggambarkan proses yang ada di bawahnya. Appendix dibebaskan dari mesoappendix dengan cara: Mesoappenddix ditembus dengan sonde kocher dan pada kedua sisinya. kemudian dipotong di antara 2 ikatan. obliquus externus dan internus. Secuil peritoneum angkat dengan pinset. Dokter bedah melepaskan pinset. Asisten juga mengangkat dengan cara yang sama pada sisi di sebelah dokter bedah. Caecum dicari kemudian dikeluarkan kemudian taenia libera ditelusuri untuk mencari Appendix. Tarikan yang terlalu keras akan merobek pembuluh dan membahayakan saraf. Peritoneum dibuka. memasang lagi sampai dia yakin bahwa hanya peritoneum yang diangkat. Appendix diklem dengan klem Babcock dengan arah selalu ke atas (untuk mencegah kontaminasi ke jaringan sekitarnya). Keterangan gambar: Kasa Laparatomi dipasang pada semua jaringan subkutan yang terpapar. 5. diklem. 4. Peritoneum sering nampak meradang.pembuluh yang memperdarahinya terletak di sebelah lateral di antara M.

Appendix tak boleh terlalu banyak diraba dan dipegang agar tidak menyebarkan kontaminasi. Klem Babcock melingkari appenddix dan satu klem dimasukkan lewat mesenterium seperti pada gambar. lalu bekas klem yang pertama diikat dengan benang yang diabsorbsi (supaya bisa lepas sehingga tidak terbentuk rongga dan bila terbentuk pus akan masuk ke dalam Caecum). Cara lainnya ialah dengan mengklem ujung bebas mesenterium di bawah ujung appenddix.Keterangan gambar: Appendix dengan hati-hati diangkat agar mesenteriumnya teregang. 7. Appendix dipotong di antara ikatan dan klem. Appendix di klem pada basis (supaya terbentuk alur sehingga ikatan jadi lebih kuat karena mukosa terputus sambil membuang fecalith ke arah Caecum). Klem dipindahkan sedikit ke distal. 32 . 6. puntung diberi betadine.

Dengan menggunakan laparoscope akan mudah membedakan penyakit akut ginekologi dari Appendicitis acuta. b.8. Laparoscopy sangat berguna untuk pemeriksaan wanita dengan keluhan abdomen bagian bawah.7 tidak dapat dilakukan. Dibuat jahitan tabak sak pada Caecum. puntung Appendix diinversikan ke dalam Caecum. 10. Perawatan puntung Appendix dapat dilakukan dengan cara: a. c. b. dapat dilakukan penjahitan 2 lapis seperti pada perforasi usus. misalnya bila puntung rapuh. Bila no. Laparoscopic Appendectomy Laparoscopy dapat dipakai sebagai sarana diagnosis dan terapeutik untuk pasien dengan nyeri akut abdomen dan suspek Appendicitis acuta. Resiko kontaminasi dan adhesi. maka Appendix dipotong dulu. Bila prosedur a+b tidak dapat dilaksanakan. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.1) 33 . Puntung dijahit saja dengan benang yang tidak diabsorbsi. baru dilepaskan dan mesenteriolumnya (retrograde). Tabak sak dapat ditambah dengan jahitan Z. 9.

tuberculosis. cairan i.000 pada tahun 1939 sampai 0. mungkin karena emboli retrograd dari sistem porta ke dalam vena di gaster/ duodenum. 2. Posisi operasi Laparoscopic Appendectomy 1) 2. Perdarahan dari traktus digestivus: kebanyakan terjadi 24–27 jam setelah Appendectomy.10 PROGNOSIS 2) Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9. 2. Ileus 4.10.9% per 100. Aktinomikosis. Hernia cicatricalis. Fistel berfaeces Appendicitis gangrenosa.faktor yang menyebabkan penurunan secara signifikan insidensi Appendicitis adalah sarana diagnosis dan terapi. 3.2% per 100. 34 .v. Faktor.000 pada tahun 1986. yang semakin baik. ketersediaan darah dan plasma. Sumbernya adalah echymosis dan erosi kecil pada gaster dan jejunum.9 KOMPLIKASI POST OPERASI 1) 1. karena benda asing.Gambar 3. antibiotika. maupun fistel tak berfaeces. kadang–kadang setelah 10–14 hari.. serta meningkatnya persentase pasien yang mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi.

BAB III KESIMPULAN Appendicitis adalah peradangan pada Appendix vermicularis. Psoas sign. muntah. Blumberg’s sign. bakteriologi. mual. Obturator sign. nyeri berpindah. Baldwin test. dan diet. Appendix merupakan derivat bagian dari midgut. nyeri pada daerah cavum Douglas Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada 35 . yang lokasi anatomisnya dapat berbeda tiap individu. dan gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu tinggi. Dunphy’s sign. Faktorfaktor yang menjadi etiologi dan predisposisi terjadinya Appendicitis meliputi faktor obstruksi. anorexia. Appendicitis acuta. Gejala klinis Appendicitis meliputi nyeri perut. Defence musculare. Tanda klinis yang dapat dijumpai dan manuver diagnostik pada kasus Appendicitis adalah Rovsing’s sign. Wahl’s sign. Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan.

peritonitis. o kelamaan akan mengecil dan menghilang) o sembuh. nyeri pada pemeriksaan rectal toucher. 36 . dan radiologi. batu urethra. Etiologi dan patofisiologi Appendicular infiltrat diawali oleh adanya Appendicitis acuta. Epiploic appendagitis. infeksi saluran kencing. dan perdarahan GIT. Intususseption. peritonitis primer. serta kelainan–kelainan ginekologi. shock Septic. Adenitis Mesenterica Acuta. Appendicular infiltrat. puasakan pasien. ultrasonografi. Chron’s enteritis. mesenterial pyemia dengan Abscess hepar. pada pasien yang menjalani laparotomi. perforasi ulkus peptikum. pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. Diverticulitis Meckel. Appendicular infiltrat adalah proses radang Appendix yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (Appendiceal mass) yang lebih sering dijumpai pada pasien berumur 5 tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang. Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh Appendicitis adalah perforasi. Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta meliputi. analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah.v. Purpura Henoch–Schonlein. Appendicular infiltrat merupakan komplikasi dari Appendicitis acuta. pemberian antibiotika i. Appendicular abscess. terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau terjadi Appendicular infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama Appendicitis kronis. Yersiniosis. Skor Alvarado. Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah pemeriksaan laboratorium. Dimulai dari acute focal Appendicitis  acute suppurative Appendicitis  gangrenous Appendicitis (tahap pertama dari Appendicitis yang mengalami komplikasi)  dapat terjadi 3 kemungkinan: o perforated Appendicitis. penyakit urogenital pada laki-laki.bila ada abscess di rongga abdomen atau Appendix letak pelvis. Diagnosis banding Appendicitis antara lain. merupakan serangan ulang Appendicitis yang telah rongga peritoneum akan menimbulkan peritonitis generalisata. Gastroenteritis akut.

Terapi Appendicular infiltrat yang terbaik adalah terapi non-operatif (konservatif) yang diikuti dengan Appendectomy elektif (6-8 minggu kemudian). Ed:Townsend CM. 2003:668-72 4. Ed: Brunicardi FC. adneksitis ataupun torsi kista ovarium.unifi. Retrieved at October 20th 2011 From: http://www . Pollock RE. Appendix. DAFTAR PUSTAKA 1. New York: McGraw Hill Companies Inc. Jaffe BM. Berger DH. 17th edition. Andersen DK. Andrassy RJ. Ed:Way LW. Cox CS. Billiar TR. In: Sabiston Texbook of Surgery. Dunn DL. Appendicitis tuberkulosa. Beauchamp RD.jpg 37 .jpg 5.Appendicular infiltrat dapat didiagnosis dengan didasari anamnesis adanya riwayat Appendicitis acuta. In: Current Surgical Diagnosis & Treatment. limfoma maligna intra abdomen. pemeriksaan fisik berupa teraba massa yang nyeri tekan di RLQ. Crohn’s disease. In: Schwartz’s Principles of Surgery Volume 2. Mattox KL. tetapi apabila massa tetap dan nyeri perut pasien bertambah berarti sudah terjadi abses dan massa harus segera dibuka dan dilakukan drainase. Philadelphia: Elsevier Saunders. Boston: McGraw Hill. 2004: 1381-93 2. Way LW. The Appendix. 2005:1119-34 3. amoeboma.org/faqs/vestiges/vermiform_Appendix.med. Evers BM. Lally KP. Doherty GM. Hunter JG. 11 edition. Human Anatomy 205. 8th edition. Appendix. http://www. Diagnosis Appendicular infiltrat dapat didiagnosis banding dengan tumor Caecum.it/didonline/annoV/clinchirI/Casiclinici/Caso10/Appendicitis1x. dan juga kelainan ginekolog seperti KET.talkorigins.

Appedix In: Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol 1. 2000: 647-62 8 Prinz RA.net/gifs/naturesplatform. Lippincott Williams & Wilkins.fcgi?artid=1294889&blobtype=pdf 38 . Ed: Zinner Mj. New York: Springer Verlag Inc. 4th edition. Retrieved at June 25th 2007. Appendix and Appendectomy. Ed: Norton JA. Schwartz SI.aafp. 2001: 1466-78 9 Hardin DM. http://www.60: 2027-34. Owen TD. Retrieved at October 20th 2011. Philadelphia. Mulvihill SJ. From: http://www. Ellis H. American Academy of Family Physician News and Publication. Acute Appendicitis: Review and Update.alkalizeforhealth. Lowry SF. In : Maingot’s Abdominal Operations Vol II. Stiff G. Thompson RW. Singapore: McGraw Hill Co. Rees BI. In: Mastery of Surgery Vol II. Ed: Baker RJ. 1999. Chang AE.6.gov/picrender. Ashley SW. Ellis H. Pass HI.pubmedcentral.nih. From: http://www. McFadden DW. 2001: 1191-222 7 Soybel DI. Appendicitis and Appendiceal Abscess. Jenkinson LR. Madura JA. Evaluation of the Alvarado score in acute Appendicitis. 10th edition.org/afp/991101ap/2027. Nathanson LK. Bollinger RR. Williams H. Fiscer JE.gif 11.html 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful