You are on page 1of 6

An Introductory of Epidemiology

TRANSITION EPIDEMIOLOGY
Summary of Transition Epidemiology
Dengan semakin berkembangnya kehidupan sosial masyarakat, penyakit dan status kesehatan mulai dirasakan bukan lagi merupakan masalah perorangan atau keluarga, melainkan telah menjadi masalah yang erat hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat dan keadaan lingkungan, maka pakar kesehatan masyarakat dan pakar ilmu kemasyarakatan lain secara bersama-sama mengembangkan suatu disiplin ilmu yaitu ilmu kesehatan masyarakat. PENGERTIAN TRANSISI EPIDEMIOLOGI Transisi epodemiologi yang dimaksud adalah perubahan distribusi dan faktorfaktor penyebab terkait yang melahirkan masalah epodemiologi yang baru. Keadaan transisi epidemiologi ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisi epidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya. Transisi Demografi Transisi demografi pada dasarnya adalah keadaan dimana struktur penduduk mengalami perubahan dengan berkurangnya proporsi balita serta meningkatnya proporsi usia remaja, usia produktif dan usia lanjut. Teori transisi demografi yang pernah dialami oleh berbagai negara maju menunjukkan bahwa pada awal pembangunanya, keadaan fertilitas maupun mortalitas agak stabil dan keduanya berada pada angka yang relatif tinggi.

Pertumbuhan penduduk agak stabil karena tingginya angka kematian diimbangi dengan tingginya angka kelahiran. Selanjutnya dengan perkembangan serta kemajuan status sosial ekonomi, angka kematian mulai turun kemudian diikuti oleh penurunan fertilitas. Pada akhir transisi dijumpai kedua angka tersebut menjadi stabil, dan hal ini ditunjukkan dengan dicapainya suatu angka Net Reproduction rate (NRR) sebesar satu. Kemudian disusul dengan angka NRR < 1. Teori transisi demografi tersebut tampaknya tidak sesuai dengan proses transisi pada berbagai negara berkembang dewasa ini termasuk Indonesia. Penurunan angka kematian di Eropa memerlukan waktu yang cukup lama, yakni sekitar dua abad, sedangkan di Indonesia penurunan ini cukup cepat yang dimulai sejak tahun 1960. Hal ini dikarenakan Indonesia tidak harus menunggu peningkatan status sosial ekonominya untuk dapat menghasilkan teknologi di bidang imunisasi maupun antibiotik karena telah tersedia melalui kemajuan teknologi kesehatan dunia. Begitu pula dengan keberhasian program KB yang dikembangkan Indonesia, proses penurunan tingkat fertilitas cukup signifikan karena Indonesia tidak pelu mencari-cari alat dan metode kontrasepsi. Penurunan angka kematian berarti banyak orang yang mengalami kelangsungan hidup (survive), namun perlu diperhatikan kualitas hidupnya khusunya pada keluarga miskin. Selain itu, penurunan angka kematian juga mengakibatkan naiknya jumlah penduduk lanjut usia. Ini juga berarti angka kesakita (morbiditas) juga meningkat pada usia lanjut. Teori Transisi Epidemiologi Dikenal berbagai dalil dalam terjadinya transisi demografi. Dalil 1 : kematian merupakan faktor mendasar dalam dinamika kependudukan Dalil 2 : perubahan pola kematian dan penyakit terjadi dalam jangka panjang Ada tiga perubahan yang mendasar (a) masa penyakit sampar dan kelaparan, angka kematian tinggi berfluktuasi, harapan hidup rendah (20-40) (b) Masa menyurutnya pandemi, angka kematian menurun secara progresif, epidemi berkurang frekuensi dan ukurannya, harapan hidup meningkat dari 30 menjadi 55 tahun. (c) Masa penyakit degeneratif dan buatan manusia, mortalitas menurun mendekati stabil, harapan hidup mencapai di atas 70 tahun

Dalil 3 : transisi epidemiologi lebih me nguntungkan orang muda dari pada orang tua, dan lebih menguntungkan wanita dibandingkan laki-laki. Dalil 4 : perubahan pola kesehatan dan penyakit lebih berkaitan dengan membaiknya standar kehidupan dan gizi dari pada kemajuan di bidang kedokteran Dalil 5 : variasi pola, laju, faktor penentu, dan akibat perubahan kependudukan dapat dibedakan menjadi 4, yaitu model barat (klasik), percepatan dari model klasik, model yang diperlambat, dan variasi dari model yang lambat Transisi Ekonomi dan Sosial Perkembangan ekonomi pedesaan menuju ekonomi industri di kota yang orientasinya pasar, pada umumya akan menimbulkan penurunan resiko penyakit menular oleh karena sanitasi dan pengetahuan yang lebih baik. Namun dalam waktu yang sama pertumbuhan ekonomi menyebabkan masalah kesehatan yang baru. Biasanya ada peningkatan angka kecelakaan yang disebabkanoleh kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan industri, maupun bahan kimia yang bersifat toksik (seperti pestisida). Kekurangan gizi dahulu, kini dapat ditangani dengan adanya kemajuan pasar. Namun disamping itu masalah ini beralih pada masalah kelebihan gizi seperti kegemukan (obesitas), hipertensi, penyakit jantung koroner, penyempitan pembuluh darah dan diabetes melitus. Kemudian pendapatan yang meningkat cendrung membawa perubahan pada gaya hidup masyarakat, misalnya peningkatan kebiasaan merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat terlarang yang mengakibatkan peningkatan resiko penderita Penyakit Tidak Menular (menahun). Transisi Lingkungan Transisi lingkungan ditandai dengan persedian air bersih yang semakin sulit dan meningkatnya kerusakan hutan mengarah pada perubahan keseimbangan alam. Disamping itu, akibat kepadatan penduduk terutama di kota besar, sanitasi tambah buruk dan pola penyakit penyakit juga berubah. Adannya transisi lingkungan sangat erat hubungannya dengan terjadinya proses transformasi industri. Tantangan dan permasalahan kesehatan lingkungan berbeda antar satu masa dengan lainnya.

Adapun masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi pada masa praindustri ditandaidengan masalah-masalah sanitasi dasar yang masih rendah disertai dengan masih tingginya prevalensi berbagai penyakit menular yang erat hubungannya dengan keadaan sanitasi dasar seperti penyakit-penyakit infeksi saluran pernafasan (tuberkulosis, ISPA), infeksi saluran pencernaan (demam, tifus, disentri dan kolera) dan berbagai inferksi oleh parasit lainnya seperti malaria, filaria dan lain-lain. Transisi lingkungan pada awal periode pembangunan, kita secara bertahap memasuki masa industrialisasi awal merupakan masa dengan masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja yang ditandai dengan belum teratasinya sanitasi dasar dan ledakan urbanisasi yang mengakibatkan timbulya pemukiman kumuh, kemacetan, pencemaran udara dan limbah cair, pengangguran dan peningkatan kriminalitas. Transisi Epidemiologi Berbagai transisi diatas merupa transisi yang mendorong terjadinya perubahan pola penyakit dalam masyarakat yang ditandai dengan transisi epidemiologi dimana akan terjadi pola kausa kematian dalam masyarakat. Dengan menurunnya angka kematian akibat penyakit menular, dan meningkatnya angka kematian karena penyakit tidak menular. Transisi pada negara berkembang bukanlah suatu proses yang dapat berlangsung dengan sendirinya dan juga tidaklah merupakan proses yang berdiri sendiri. Hal ini dapat dilihat dengan adanya perbedaan umur harapan hidup antara berbagai negara berkembang. Selain itu di dalam negara berkembang (dan juga negara maju) biasanya juga ada kesenjangan umur yang lebar antara golongan sosial maupun antar tempat yang berbeda. Menurut Frank dan kawan-kawan, kesenjangan epidemiologi. Dengan perkembangan ekonomi dan teknologi tidak hanya menimbulkan transisi angka kematian yang menurun tetapi juga diikuti dengan pergeseran sebab kematian dan pola penyakit dalam masyarakat. Pergeseran ini melalui beberapa tahap yaitu, The age of pestilence and famine ini merupan suatu polarisasi epidemiologi atau stagnasi

Angka mortalitas tinggi, berfluktuasi dan berlangsung dalam waktu yang lama Penyebab kematian utama : influensa, pneumonia, diare, cacar, TBC morbili dan penyakit infeksi lainnya Korban utama adalah bayi dan anak-anak Kematian ibu masih cukup tinggi Angka harapan hidup berkisar antara 20-40 th The age of receding pandemics Penurunan kematian berlangsung dengan cepat Dominasi penyakit infeksi bagi kaum muda berkurang Orang dewasa mulai terserang penyakit degeneratif : jantung koroner, hipertensi, diabetis, dlsb Kelompok bayi, anak-anak dan wanita subur memperoleh keuntungan dari kondisi tsb Harapan hidup sekitar 50-60 th The age of degeneratif and man-made disease Mortalitas relatif stabil pada angka yang rendah Penyebab kematian utama adalah penyakit degeneratif : jantung, kanker, stroke, dan penyakit kronis lainnya Yang terserang adalah kelompok usia lanjut. Kelompok laki-laki mempunyai resiko terserang penyakit degeneratif yang lebih tinggi dibandingkan perempuan Harapan hidup sudah mencapai di atas 60 th

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku Bustan, M.N.2006.Pengantar Epidemiologi.Jakarta:Rineka Cipta Bustan, M.N.2007.Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.Jakarta:Rineka Cipta Magnus, Manya.2010.Epidemiologi Penyakit Menular
Nasry Noor, Nur. 2008. Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta

Sumber Internet www.scribd.com www.who.int www.depkes.go.id