You are on page 1of 13

ABSORBSI

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

DOSEN PEMBIMBING : Ir. Umar K. OLEH :

Restu Utami

(101411024)

KELAS 2 A

Tanggal praktikum : 5 Maret 2012 Tanggal penyarahan laporan : 9 Maret 2012
Tanggal praktikum
: 5 Maret 2012
Tanggal penyarahan laporan
: 9 Maret 2012

LABORATORIUM SATUAN OPERASI DIPLOMA 3 JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2012

  • I. DASAR TEORI

Absorbsi merupakan salah satu proses pemisahan dengan mengontakkan campuran gas dengan cairan sebagai penyerapnya. Penyerap tertentu akan menyerap setiap satu atau lebih komponen gas. Pada absorbsi sendiri ada dua macam proses yaitu :

  • a. Absorbsi fisik Absorbsi fisik merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan penyerap tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi gas H2S dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena adanya interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair. Dari asborbsi fisik ini ada beberapa teori untuk menyatakan model mekanismenya, yaitu :

    • 1. teori model film

    • 2. teori penetrasi

    • 3. teori permukaan yang diperbaharui

  • b. Absorbsi kimia Absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut didalam larutan penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi dengan adanya larutan MEA, NaOH, K 2 CO 3 , dan sebagainya. Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO 2 pada pabrik amoniak. Penggunaan absorbsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna dari campuran gasnya. Keuntungan absorbsi kimia adalah meningkatnya koefisien perpindahan massa gas, sebagian dari perubahan ini disebabkan makin besarnya luas efektif permukaan. Absorbsi kimia dapat juga berlangsung di daerah yang hampir stagnan disamping penangkapan dinamik. Hal-hal yang mempengaruhi dalam prsoses adsorbsi :

    • Zat yang diadsorbsi

    • Luas permukaan yang diadsorbsi

    • Temperatur

    • Tekanan

  • Absorben

    Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia. Absorben sering juga disebut sebagai cairan pencuci. Persyaratan absorben :

    1.
    1.

    Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).

    1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit,
    • 2. Selektif

    • 3. Memiliki tekanan uap yang rendah

    • 4. Tidak korosif.

    • 5. Mempunyai viskositas yang rendah

    • 6. Stabil secara termis.

    • 7. Murah

    Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gas-gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan), natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa).

    Kolom Absorpsi

    Adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsi penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut. Diantara

    jenis-jenis absorben ini antara lain, arang aktif, bentonit, dan zeolit.

    • 1. Arang aktif Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadikebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan aktif faktor bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25- 1000% terhadap berat arang aktif. Arang aktif dibagi atas 2 tipe, yaitu arang aktif sebagai

    pemucat dan sebagai penyerap uap. Arang aktif sebgai pemucat, biasanya berbentuk powder yang sangat halus, diameter pori mencapai 1000 A 0 , digunakan dalam fase cair,berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan, membebaskan pelarut dari zat-zat penganggu dan kegunaan lain yaitu pada industri kimia dan industri baru. Diperoleh dari serbukserbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah. Arang aktif sebagai penyerap uap, biasanya berbentuk granular atau pellet yang sangat keras diameter pori berkisar antara 10-200 A 0 , tipe pori lebih halus, digunakan dalam rase gas, berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut, katalis,pemisahan dan pemurnian gas. Diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyaibahan baku yang mempunyai struktur keras.

    2. Zeolit

    Mineral zeolit bukan merupakan mineral tunggal, melainkan sekelompok mineral yang terdiri dari beberapa jenis unsur. Secara umum mineral zeolit adalah senyawa alumino silikat hidrat dengan logam alkali tanah. serta mempunyai rumus kimia sebagai berikut :

    • M 2 x/n Si 1-x Al x O 2 .yH 2 O

    Dengan M = e.g Na, K, Li, Ag, NH, H, Ca, Ba Ikatan ion Al-Si-O adalah pembentuk struktur kristal, sedangkan logam alkali adalah kation yang mudah tertukar. Jumlah molekul air menunjukkan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit tersebut dipanaskan. Penggunaan zeolit cukup banyak, misalnya untuk industri kertas, karet, plastik, agregat ringan, semen puzolan, pupuk, pencegah polusi, pembuatan gas asam, tapal gigi, mineral penunjuk eksplorasi, pembuatan batubara, pemurnian gas alam, industri oksigen, industri petrokimia. Dalam keadaan normal maka ruang hampa dalam kristal zeolit terisi oleh molekul air bebas yang membentuk bulatan di sekitas kation. Bila kristal tersebut dipanaskan selama beberapa jam, biasanya pada temperatur 250-900 o C, maka kristal zeolit yang bersnagkutan berfungsi menyerap gas atau cairan. Daya serap (absorbansi) zeolit tergantung dari jumlah ruang hampa dan luas permukaan. Biasanya mineral zeolit mempunyai luas permukaan beberapa ratus meter persegi untuk setiap gram berat. Beberapa jenis mineral zeolit mampu menyerap gas sebanyak 30% dari beratnya dalam

    keadaan kering. Pengeringan zeolit biasanya dilakukan dalam ruang hampa dengan menggunakan gas atau udara kering nitrogen atau methana dengan maksud mengurangi tekanan uap ari terhadap zeolit itu sendiri.

    • 3. Bentonit

    Bentonit adalah istilah pada lempung yang mengandung monmorillonit dalam dunia perdagangan dan termasuk kelompok dioktohedral. Penamaan jenis lempung tergantung dari penemu atau peneliti, misal ahli geologi, mineralogi, mineral industri dan lain-lain. Bentonit dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan kandungan alu-munium silikat hydrous, yaitu activated clay dan fuller's Earth. Activated clay adalah lempung yang kurang memiliki daya pemucat, tetapi daya pemucatnya dapat ditingkatkan melalui pengolahan tertentu. Sementara itu, fuller's earth digunakan di dalam fulling atau pembersih bahan wool dari lemak. Sifat bentonit sebagai adsorben adalah :

    • mempunyai surface area yang besar (fisika)

    • bersifat asam yang padat (kimia)

    • bersifat penukar-ion (kimia)

    • bersifat katalis (kimia)

    Aplikasi Absorbsi

    Absorbsi dalam dunia industri digunakan untuk meningkatkan nilai guna dari suatu

    zat dengan cara merubah fasenya.

    • 1. Proses Pembuatan Formalin Formalin yang berfase cair berasal dari formaldehid yang berfase gas dapat dihasilkan melalui proses absorbsi.Teknologi proses pembuatan formalin Formaldehid sebagai gas input dimasukkan ke dalam reaktor. Output dari reaktor yang berupa gas yang mempunyai suhu 1820C didinginkan pada kondensor hingga suhu 55 0 C,dimasukkan ke dalam absorber.Keluaran dari absorber pada tingkat I mengandunglarutan formalin dengan kadar formaldehid sekitar 37 40%. Bagian terbesar dari metanol, air,dan formaldehid dikondensasi di bawah air pendingin bagian dari menara, dan hampir semua removal dari sisa metanol dan formaldehid dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan counter current contact dengan air proses.

    2. Proses Pembuatan Asam Nitrat Pembuatan asam nitrat (absorpsi NO dan NO 2 ).Proses pembuatan asam nitrat Tahap akhir dari proses pembuatan asam nitrat berlangsung dalam kolom absorpsi. Pada setiap tingkat kolom terjadi reaksi oksidasi NO menjadi NO 2 dan reaksi absorpsi NO2 oleh air menjadi asam nitrat. Kolom absorpsi mempunyai empat fluks masuk dan dua fluks keluar. Empat fluks masuk yaitu air umpan absorber, udara pemutih, gas proses, dan asam lemah. Dua fluks keluar yaitu asam nitrat produk dan gas buang. Kolom absorpsi dirancang untuk menghasilkan asam nitrat dengan konsentrasi 60 % berat dan kandungan NOx gas buang tidak lebih dari 200 ppm. Aplikasi absorbsi lainnya seperti proses pembuatan urea,produksi ethanol, minuman berkarbonasi, fire extinguisher,dry ice,supercritical carbon dioxide dan masih banyak lagi aplikasi absorbsi dalam industri. Selain itu absorbsi ini juga digunakan untuk memurnikan gas yang dihasilkan dari fermentasi kotoran sapi. Gas CO 2 langsung bereaksi dengan larutan NaOH sedangkan CH 4 tidak. Dengan berkurangmya konsentrasi CO 2 sebagai akibat reaksi dengan NaOH, maka perbandingan konsentrasi CH 4 dengan CO 2 menjadi lebih besar untuk konsentrasi CH 4 . Absorbsi CO 2 dari campuran biogas ke dalam larutan NaOH dapat dilukiskan sebagai berikut:

    CO 2(g) + NaOH (aq) → NaHCO 3(aq) NaOH (aq) + NaHCO 3 Na2CO 3(s) + HO (l)

    +

    CO2 (g) + 2NaOH (aq) Na2CO 3(s) + H 2 O (l) Dalam kondisi alkali atau basa, pembentukan bikarbonat dapat diabaikan karena bikarbonat bereaksi dengan OH - membentuk CO 3

    2-

    II.

    DATA PENGAMATAN

    Laju alir udara Laju alir Cairan Laju alir CO 2 Konsentrasi NaOH

    Konsentrasi HCl Volume Sampling

    : 60 L/menit : 4 L/menit : 2 L/menit : 0,1 N : 0,1 N : 10 mL

    t

       

    (menit)

    a

    b

    0

    8

    5

    5

    7

    9,1

     
    • 10 6,2

    9,7

     
    • 15 10,2

    6

     
     
    • 20 5,3

    10,7

     
    • 25 11,1

    5

     
     
    • 30 4,7

    11,5

    III.

    PENGOLAHAN DATA a = Volume HCl 0.1 N pada titrasi pertama, indikator PP

    b = Volume HCl 0.1 N pada titrasi kedua, indikator MO

    • T = 0 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    =

    =

    = 0.08

     
     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    • T = 5 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    = -0.03 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.08 + (-0.03) = 0.05

    =

    =

    = 0.07

     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    = 0.021 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.07 + 0.021

    • T = 10 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    = 0.091

     

    =

    =

    = 0.062

     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    = 0.035 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.062 + 0.035 = 0.097

    • T = 15 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    =

    =

    = 0.06

     
     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    = 0.042 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.06 + 0.042 = 0.102

    • T = 20 menit n Na 2 CO 3

    =

    n NaHCO 3

    n CO 2

    =

    = 0.053

     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    = 0.054 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.053 + 0.054 = 0.107

    • T = 25 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    =

    =

    = 0.05

     
     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    = 0.061 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3 = 0.05 + 0.061 = 0.111

    • T = 30 menit n Na 2 CO 3 n NaHCO 3

    =

    =

    = 0.047

     

    (

    )

    =

     

    (

    )

    =

    n CO 2

    = 0.068 = n Na 2 CO 3 + n NaHCO 3

    = 0.047 0.068 = 0.115

    IV. PEMBAHASAN Dalam berbagai industri proses sering dilakukan pemisahan yang secara umum bertujuan untuk pemurnian. Salah satu metode yang sering digunakan adalah absorbsi. Absorbsi ini merupakan proses pemisahan di mana zat yang terserap (adsorbat) bereaksi secara kimia dengan zat yang menyerap (adsorben) membentuk senyawa lain. Beberapa variabel yang mempengaruhi penyerapan CO 2 oleh NaOH addalah :

    Tinggi dan diameter kolom. Semakin tinggi kolom dan semakin besar diameternya

    maka waktu tinggal akan semakin lama dan akan mempengaruhi jumlah zat yang bereaksi. Tinggi, jenis isian (packing). Fungsi utama packing ini adalah untuk memperluas

    permukaan kontak. Semakin luas permukaan kontak, diharapkan semaki banyak zat yang saling bertumbukan dan mengalami reaksi. Laju alir udara, CO 2 , dan cairan (NaOH).

    Konsentrasi cairan (NaOH).

    Lamanya waktu kontak (proses absorbsi);

    Temperatur. Larutan NaOH 0,1 N diumpankan dari bagian atas kolom dengan menggunakan spray, sedangkan udara yang mengandung CO 2 diumpankan dari bagian bawah kolom. Sistem Spray digunakan untuk memeperkecil partikel air yang memasuki kolom dan dengan bantuan packing, maka luas permukaan dan waktu kontak akan bertambah. Umpan dengan masa jenis yang lebih besar diumpankan dari bagian atas kolom agar bergerak ke bawah, umpan dengan masssa jenis yang lebih kecil diumpankan dari bagian bawah agar bergerak ke atas sesuai dengan gravitasi bumi. Jika umpan dengan massa jenis yang lebih besar diumpankan dari bagian bawah dan umpan dengan massa jenis yang lebih kecil diumpankan dari bagian atas kolom maka kedua zat ini tidak akan dapat bertemu dan reaksi tidak akan terjadi. Pada praktikum ini kami menganalisa penyerapan CO 2 oleh NaOH dengan hanya memvariasikan variabel waktu kontak, sedangkan variabel lainnya konstant. Reaksi yang terjadi addalah sebagai berikut :

    CO 2(g) + NaOH (aq) → NaHCO 3(aq) NaOH (aq) + NaHCO 3 → Na2CO 3(s) + HO (l)

    +

    CO2 (g) + 2NaOH (aq) → Na2CO 3(s) + H 2 O (l)

    Pengambilan sampel dilakukan pada t 0 yaitu sebelum peralatan absorbsi dijalankan dan setiap 5 menit sekali selama 30 menit. Pengujian kandungan CO2 dilakukan melalui titrasi menggunakan HCl sebanyak 2 kali. Indikator yang digunkan dalam titrasi pertama adalah phenolftalein. Mula-mula, larutan sampel akan bewarna merah muda (memberi warna pada NaOH) dan perlahan berubah menjadi tidak bewarna setelah mencapai titik ekuivalen. Larutan kemudian dititrasi kemblai menggunakan metil orange. Mula-mula larutan akan bewarna jingga (memberi warna pada garam NaCl) dan berubah menjadi tidak bewarna setelah mencapai titik ekivalen. Berdasarkann titrasi, diperoleh data bahwa pada t 0 larutan sudah mengandung CO 2 . Hal ini dapat terjadi karena terdapat CO 2 yang larut secara spontan dalam air mineral (air tanpa penyulingan). Pada data berikutnya terlihat bahwa konsentrasi CO 2 dalam air meningkat. Namun peningkatan ini tidak dapat dianggap sebagai peningkatan penyerapan sebagai konsekuensi waktu. Karena umpan yang digunakan adalah hasil dari proses sebelumnya, jadi dapat dianggap bahwa proses ini berjalan secra batch. Karena tidak ada absorben baru yang diumpankan selama proses berlangsung. Jika diperhatikan pola data kadar CO 2 dalam air, maka meskipun meningkat, peningkatannya (delta mol) semakin menurun. Dari menit ke-0 ke menit ke-5, penyerapan CO 2 oleh NaOH meningkat sebesar 0,084 mol. Pada menit ke-5 sampai ke sepuluh peningkatan penyerapan hanya 0.006 mol. Kemudian peningkatan penyerapannya semakin menurun hingga hanya 0,04 mol. Kadar CO 2 dalam air dapat terus meningkat karena kolom mendapatkan umpan CO 2 murni secara terus menerus. Menurut hipotesa saya apabila percobaan ini dilanjutkan hingga waktu tertentu, mungkin saja kadar CO 2 dalam air tidak akan meingkat lagi karena konsentrasi CO 2 dalam air sudah mencapai titik jenuhnya.

    V.

    KESIMPULAN

    Berdasarkan data praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

    Variabel waktu tidak mempengaruhi proses penyerapan CO 2 oleh NaOH.

    NaOH berperan sebagai absorben.

    Peningkatan penyerapan CO2 oleh NaOH semakin lama semakin menurun.

    DAFTAR PUSTAKA

    tekimerzitez.wetpaint.com/page/Absorbsi+CO2+Dengan+NaOH