You are on page 1of 2

Pencemaran tanah, air dan udara oleh sampah plastik di daerah Pekayon, Bekasi

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume serta jenis sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang digunakan sehari-hari Di daerah tempat saya tinggal saat ini, terdapat satu lingkungan yang mayoritas pekerjaannya adalah pengumpul gelas ataupun sampah plastik lainnya. Sudah lebih dari 10 tahun daerah ini menjadi tempat yang kumuh. Padahal letaknya sangat berdekatan dengan kompleks perumahan. Entah siapa yang memulai menjadikan tempat ini sebagai tempat pembuangan sampah. Warga yang tinggal disana juga sudah banyak yang membangun rumah semi permanen yang terbuat dari kayu kayu dan triplek. Tidak banyak memang yang mengeluh mengenai masalah ini, namun lambat laun masalah tempat pembuangan sampah ini akan menjadi sebuah masalah yang amat berat. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan orang indonesia belum sadar akan bahayanya sampah plastik yang sering dibuang secara sembarangn di lingkungan sekitar. Pada kasus ini, para pengumpul plastik ini menumpukkan sampah plastiknya pada karung karung besar, banyak juga yang dibiarkan tercecer di tanah dan terus tertimbun. Namun mereka yang tinggal disitu seakan tidak peduli akan bahaya dan dampak yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan bahkan merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Dampak bagi lingkungan dan kesehatan. Sampah plastik sangat sulit untuk terurai dan hancur. Ini akan membuat tanah yang banyak mengandung plastik menjadi tidak subur dan sukar untuk ditumbuhi tanaman. Selain itu tanah yang tercemar juga akan mengancam kehidupan organisme di dalamnya. Ketika saya melakukan pengamatan, jumlah tanaman yang hidup disini bisa dibilang sedikit, mungkin dikarenakan kondisi tanahnya yang tercemar dan tidak dapat ditumbuhi oleh tanaman. Air tanah yang terdapat di dalamnya juga lama kelamaan akan menjadi kotor dan tidak layak untuk di konsumsi. Yang lebih parah lagi, para pekerja disini suka membakar sampah plastik yang sudah tidak dibutuhkan. Bahan pembuat plastik (PVC) yang terbakar dan mengeluarkan asap akan menjadi senyawa karsinogenik dan bila terhirup akan memicu kanker. Dampaknya memang tidak langsung terasa. Namun bila terus dilakukan akan sangat berbahaya bagi mereka yang hidup di sekitar daerah itu. Kualitas Air Ketika dilakukan pengamatan, saya bertanya pada salah satu warga disana, dan ternyata mereka menggunakan air tanah, air tersebut mereka gunakan untuk keperluan MCK namun untuk dikonsumsi mereka menggunakan air kemasan isi ulang yang dihargai 4000-5000 rupiah. Namun tidak sedikit juga yang mengkonsumsi air tanah yang terlebih dahulu di rebus. Padahal banyak juga warga yang mengaku bahwa air di daerah ini tidak enak untuk di konsumsi, banyak bilang sedikit berbau tidak enak. Ini mengindikasikan bahwa kualitas air tanah disini buruk. Penyebab buruknya kualitas air disini mungkin karena air tanah terkontaminasi oleh zat zat yang terkandung dalam sampah plastik yang tertimbun disini. Ketika hujan turun, air yang masuk ke tanah sudah jelas melewati sampah sampah tersebut, sehingga air tanah yang diambil banyak yang sudah tercemar.

sudah tidak terhitung lagi jumlah limbah rumah tangga yang dibuang dan akhirnya merusak alam. Sekarang pencemaran terjadi justru karena ulah manusia sendiri. Lampiran dokumentasi pengamatan. Kita seakan tidak perduli akan dampak yang akan terjadi. Sungai yang tercemar oleh sampah timpukan sampah Seorang pengumpul sampah dengan sampah yang menumpuk dan rumahnya . Padahal dengan sedikit tindakan akan membuat bumi kita lebih bersih dan bebas dari pencemaran. namun pencemaran yang terjadi adalah pencemaran alamiah. Manusia kian hari makin banyak jumlah nya. Seperti letusan gunung berapi yang mengeluarkan material material panas serta debu yang membuat berbagai ekosistem terganggu.Pencemaran lingkungan sebenernya juga sudah terjadi sejak dulu.