You are on page 1of 8

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 5 No.

2 Mei 2009 ; 68-75

PERFORMANSI PENGERING SURYA TIPE EFEK RUMAH KACA DENGAN SUPLEMEN ENERGI DARI BIOMASSA UNTUK PENGERINGAN SAWUT UBIJALAR
Hendri Syah

Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala


Abstract The objective of this research were to evaluate performance of green house effect (GHE) solar dryer and to identify the amount of energy consumption required during the drying process. The result showed that the GHE performance depends on drying capacity. Drying sweet potato grates using GHE solar dryer was found to be effective at capacity of 112.9 kg. Meanwhile, drying time of all experiments were about 900-960 minutes. The final moisture content of sweet potato grates at the end of drying process was varied both at different trays and across the tray. The trend orders of moisture loss in all experiments are relatively similar. Total input energy of the GHE solar dryer in this study varied from 415.9 to 429.54 MJ. Biomass energy consumption reach 70.36-71.85% of total input energy. On the other hand, the specific energy consumption reach about 5.16-5.50 MJ/kg H2O. Keyword : sweet potato grates, specific energy consumption, efficiency, biomass

1. PENDAHULUAN Krisis energi dan pangan saat ini ditandai dengan kenaikan harga minyak dan harga bahan pangan dunia. Ketergantungan terhadap energi fosil dalam pemenuhan energi ditengah masyarakat sangat tinggi, hal ini tampak sangat sulit dan berat karena subtitusi dengan sumber energi non fosil sangat lambat dan kecil. Begitu juga dengan bahan pangan, Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) mencatat pertengahan Mei 2006, harga gandum dunia sebagai bahan baku terigu mencapai angka tertinggi dalam 4 tahun terakhir sebesar US$ 201 per ton. Hal ini sangat rawan, karena ketergantungan masyarakat terhadap terigu sebagai sumber karbohidrat non beras cukup tinggi. Ketergantungan terhadap energi fosil dan produk pangan impor merupakan ancaman yang serius bagi pemenuhan energi dalam negeri dan ketahanan pangan nasional. Usaha yang dapat dilakukan adalah diversifikasi baik energi maupun pangan. Salah satu usaha diversifikasi dibidang pangan adalah pemanfaatan produk pangan berbasis potensi lokal. Ubijalar merupakan salah satu produk pangan lokal yang potensial dan prospektif. Menurut Widowati et al (2002) ubijalar memiliki kelebihan yaitu

memiliki kandungan karbohidrat dan kalsium cukup tinggi, umur panen relatif pendek 3-4 bulan serta produktifitas 10-30 ton/hektar. Menurut Sarwono (2005), subtitusi terigu dengan tepung ubijalar pada industri makanan olahan akan mengurangi penggunaan terigu 1.4 juta ton per tahun, disamping dapat menghemat penggunaan gula hingga 20%. Salah satu rantai pengolahan tepung ubijalar yang kritis adalah pengeringan. Hal ini dikarenakan proses pengeringan sangat mempengaruhi mutu dan daya guna produk yang dihasilkan. Selain itu, pengeringan memerlukan energi yang besar. Energi fosil yang semakin mahal harganya dan terbatas jumlahnya maka perlu dilakukan diversifikasi energi untuk proses pengeringan. Menurut Abdullah (1997) dalam Lamhot (2002), salah satu alternatif diversifikasi adalah energi surya, sumber energi terbarukan ini mempunyai keuntungan antara lain tidak menimbulkan polusi CO2 atau hujan asam seperti yang terjadi pada sistem yang menggunakan bahan bakar fosil. Potensi energi surya di daerah tropis seperti di Indonesia cukup melimpah walaupun memiliki kelemahan seperti tidak kontinyu dan intensitasnya bervariasi.

68

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 5 No. 2 Mei 2009 ; 68-75

Pengering efek rumah kaca (ERK) merupakan pengering yang menggunakan energi surya sebagai sumber panas, serta bahan bakar lain sebagai sumber panas tambahan. Bahan bakar yang cocok digunakan sumber energi selain energi surya adalah biomassa, yang jumlahnya cukup tersedia dimasyarakat. Penggunaan biomassa pada ERK bertujuan untuk mengurangi pemakaian minyak tanah. Kajian ini menyajikan proses pengeringan sawut ubijalar sebagai bahan baku tepung ubijalar dengan pengering ERK yang dilengkapi tungku biomassa sebagai pensuplai panas tambahan untuk mempercepat proses pengeringan dan mengatasi kendala cuaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pengering ERK dan menentukan konsumsi energi untuk pengeringan sawut ubijalar. 2. METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapangan Leuwikopo Bagian Energi dan Elektrifikasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Waktu penelitian dimulai pada bulan Agustus sampai September 2008. Bahan dan Peralatan Bahan yang dipakai pada penelitian ini adalah ubijalar yang diperoleh dari pedagang pengumpul di Bogor. Bahan lain yang digunakan adalah natrium bisulfit, arang (biomassa) dan minyak tanah. Peralatan yang digunakan adalah oven pegering, timbangan digital, pyranometer, anemomaster, termokopel (CC), termokopel (CA), chino recorder, termometer air raksa, mesin penyawut mekanis, timbangan (5 kg), timbangan (50 kg), stopwatch, pisau stainless steel, ember, sikat, drum perendaman, dan pengering ERK. Pengering Efek Rumah Kaca (ERK) Pengering ERK merupakan bangunan yang terbuat dari bahan transparan (tembus cahaya) sebagai penyekat sehingga energi panas yang masuk dapat meningkatkan suhu

di dalam ruang pengering. Ada beberapa bagian penting dari ERK yakni absorber yang meliputi plat hitam dan lantai, serta atap dan dinding transfaran. Fungsi absorber adalah menyerap energi surya dan mengubahnya menjadi energi panas, kemudian dengan sendirinya akan berpindah ke udara. Sedangkan fungsi dari atap dan dinding transfaran adalah untuk meneruskan cahaya matahari, menghambat radiasi balik dari absorber, sekaligus menghambat pindah panas dari udara dalam ke udara luar. Bagian lain adalah tungku biomassa sebagai tempat pembakaran biomassa. Panas yang dihasilkan dari tungku kemudian dialirkan melalui pipapipa penukar panas. Udara panas dari plat hitam pada bagian atas ERK ditarik oleh kipas, dan selanjutnya melewati pipa-pipa panas dari penukar panas. Udara panas ini yang digunakan untuk menguapakan air pada bahan. Udara lembab dari ruang pengering dikeluarkan melalui jendela outlet. Pengering ERK dapat dilihat pada Gambar 1. Prosedur penelitian Secara garis besar penelitian ini terbagi dua tahap yaitu pembuatan sawut dan uji kinerja. Tahapan pembuatan sawut sebagai berikut : 1. Proses ini didahului dengan penimbangan ubijalar segar. Selanjutnya, ubijalar dicuci secara manual, pada proses ini juga dilakukan pemotongan pangkal dan ujung umbi serta daging yang terkena boleng atau lanas. 2. Ubijalar bersih disawut secara mekanis dengan mesin penyawut. 3. Hasil proses penyawutan direndam ke dalam air yang telah dilarutkan natrium bisulfit 0.3% ( 30 menit). 4. Kemudian dilakukan penirisan dilakukan untuk melepaskan air dari permukaan sawut. 5. Sawut basah kemudian ditimbang dan siap untuk dikeringkan. Tahapan uji kinerja meliputi : 1. Pengukuran kadar air awal sawut basah menggunakan metode oven. 2. Membuat cuplikan bahan yang akan ditimbang setiap waktu (tiap 1 jam). 69

Performansi pengering surya tipe efek rumah kaca dengan suplemen energi dari biomassa..(Hendri Syah)

3. Meletakan sawut basah di tiap-tiap rak beserta cuplikan. 4. Cuplikan diletakkan pada masingmasing rak yang telah diberi kode A, B, C, dan D. Serta posisinya di dalam ruang pengering yaitu bagian atas, tengah, dan bawah. Denah rak dapat dilihat pada Gambar 2. 5. Memasukan rak yang telah berisi sawut dan cuplikan ke dalam ruang pengering ERK.

Parameter Pengukuran Parameter kinerja yang diukur meliputi: (1) kadar air ubijalar (SNI 01-4493-1998), (2) massa bahan; (3) penurunan massa cuplikan; (4) suhu; (5) kelembaan relatif (RH); (6) iradiasi; (7) kecepatan udara; (8) waktu pengoperasian alat; (9) konsumsi pemakaian arang dan minyak tanah.

Inlet

Kolektor Kipas Tungku

Outlet

Rak

Gambar 1. Pengering ERK

Rak D

Rak C

Rak B

Rak A

Tungku Kipas II dan Penukar panas Kipas I

Gambar 2. Denah posisi rak berdasarkan kode 70

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 5 No. 2 Mei 2009 ; 68-75

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Iradiasi Surya, Suhu, dan RH Lingkungan Iradiasi surya diukur menggunakan pyranometer, yang diletakkan di tempat yang terkena matahari secara langsung. Pengukuran iradiasi dilakukan pada saat alat pengering dioperasikan dan proses pengeringan berlangsung. Iradiasi surya yang tercatat pada semua percobaan sangat berfluktuatif dengan iradiasi rata-rata setiap percobaan masingmasing adalah I (449.1 W/m2), II (380 W/m2) dan III (490.6 W/m2). Iradiasi pada setiap percobaan dapat dilihat pada Gambar 3. Nilai iradiasi rata-rata pada penelitian ini tergolong rendah karena masih berada di bawah dari nilai iradiasi rata-rata Indonesia yaitu sebesar 562.5 W/m2 (Nelwan,1997). Rendahnya nilai iradiasi dikarenakan matahari tertutup awan. Pada Gambar 3 juga terlihat nilai iradiasi nol (malam hari). Nilai iradiasi surya maksimum dan minimum dapat dilihat pada Tabel 1.
1000 900 800

Iradiasi (W/m2)

700 600 500 400 300 200 100 0 0 120 240 360 1300 1365 1485 1605 1725

Sama halnya dengan iradiasi, suhu dan RH juga berfluktuatif. Suhu udara maksimum terjadi pada siang hari. Suhu udara maksimum pada percobaan I terjadi pada pukul 13:15-14:15. Sedangkan, pada percobaan II terjadi pada pukul 10:35-11:35 (pada hari ke-1) dan pukul 12:00 (pada hari ke-2) dan percobaan III terjadi pada pukul 10:00. Nilai suhu maksimum dapat dilihat pada Tabel 1. Suhu udara rata-rata pada semua percobaan berkisar antara 32.6oC33.4oC. Suhu udara merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengeringan. Kelembaban relatif (RH) juga berfluktuatif, RH maksimum terjadi pada pagi hari (percobaan I) dan sore hari (percobaan II), sedangkan pada percobaan III, RH maksimum terjadi pada saat gerimis. Nilai RH maksimum, minimum dan rata-rata dapat dilihat pada Tabel 1. Suhu udara lingkungan yang tinggi membantu proses pengeringan secara tidak langsung. Kebalikannya dengan RH, semakin tinggi nilai RH maka kemampuan udara dalam menyerap uap air akan semakin kecil.

Waktu (me nit)


Percobaan I Percobaan II Percobaan III

Gambar 3. Iradiasi surya setiap percobaan

Tabel 1. Nilai Iradiasi, Suhu dan RH Lingkungan


Percobaan I II III Iradiasi (W/m2) RataMaks Min rata 821.4 845.7 887.1 38.6 7.1 1.4 449.1 380.0 490.6 Suhu (oC) Maks 35.0 36.0 37.5 Min 26.5 27.5 28.5 Ratarata 33.0 32.6 33.4 Maks 85.0 81.8 82.3 RH (%) Min 46. 9 37.6 40. 3 Ratarata 58.3 58.6 53.5

71

Performansi pengering surya tipe efek rumah kaca dengan suplemen energi dari biomassa..(Hendri Syah)

Performansi ERK Ubijalar segar dikecilkan ukurannya menjadi sawut, hal ini bertujuan untuk meningkatkan rasio ukuran luas permukaan terhadap volume bahan sehingga dapat meningkatkan kontak bahan dengan udara pengering. Kadar air awal rata-rata sawut yang digunakan pada semua percobaan berkisar antara 76.55%bb-76.75%bb. Kapasitas sawut masing-masing percobaan yang dimuat di pengering ERK adalah I (112.9 kg), II (111.7 kg), dan III (105.7 kg). Titik-titik pengukuran suhu di dalam bangunan ERK meliputi suhu plat atas, suhu plat bawah, suhu kolektor, suhu udara atas, suhu outlet HE (heat exchanger). Semua suhu hasil pengukuran tesebut berfluktuasi, hal ini dapat dilihat dari Gambar 4 (percobaan III). Suhu rata-rata plat atas dan bawah pada percobaan I hampir sama, masing-masing 44.6oC dan 45.9oC. Sedangkan pada percobaan II, suhu rata-rata plat bawah lebih tinggi dibandingkan suhu plat atas, dimana suhu plat bawah dan atas masing-masing adalah 45oCdan 42.1oC. Sama halnya dengan percobaan I dan II, percobaan III juga memiliki suhu plat bawah yang lebih tinggi dibandingkan suhu rata-rata plat atas yaitu 50.5oC, sedangkan suhu plat atas adalah 44.3oC. Tingginya suhu plat bawah diduga karena panas plat tidak hanya diperoleh dari iradiasi surya tapi juga panas dari pembakaran biomassa. Hal ini dikarenakan posisi plat bawah yang mengarah ke ruang pengering. Suhu kolektor merupakan suhu udara yang berada disekitar kolektor (udara bagian atas plat). Suhu kolektor masing-masing percobaan adalah I (41.5oC), II (39.2oC) dan III (41oC). Suhu udara ruang pengering merupakan suhu udara di kolektor yang mengalami proses pemanasan lanjutan ketika melewati pipa-pipa penukar panas atau suhu outlet HE. Suhu rata-rata ruang pengering tertinggi terjadi pada percobaan I yaitu 44.5oC dan diikuti percobaan III dan II masingmasing yaitu 42.9oC dan 40.7oC

80 70 60 50

Suhu (C)

40 30 20 10 0 0

malam hari

500

1000

1500

2000

W a ktu (m e nit)
Suhu plat baw ah Suhu udara kolektor Suhu udara atas Suhu outlet HE Suhu udar a plat atas

Gambar 4. Pengukuran suhu di dalam bangunan ERK (percobaan III) Pengukuran RH rata-rata bangunan ERK dilakukan pada outlet dari pengering ERK, Jumlah uap air di dalam ruang pengering dapat diduga dari nilai RH di outlet. Uap air yang dikeluarkan oleh sawut pada saat pengeringan akan ditampung oleh udara pengering, apabila uap air yang dikeluarkan oleh bahan lebih banyak maka RH udara pengering akan meningkat sehingga tekanan uap air udara juga meningkat sehingga kemampuan perpindahan uap air dari bahan ke udara akan menurun karena beda tekanan lebih rendah, hal ini kurang menguntungkan untuk proses pengeringan. Pengukuran RH dibagi atas 2 berdasarkan hari pengukurannya. Pada Gambar 5 terlihat bahwa nilai RH rata-rata outlet pada hari-2 lebih rendah dibandingkan pada hari-1 pada semua percobaan. Hal ini menunjukan bahwa semakin lama proses pengeringan maka semakin sedikit uap air yang ditampung oleh udara.

72

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 5 No. 2 Mei 2009 ; 68-75

80 70 60
Percobaan III
1.24 1.69

2.52

RH outlet (%)

50 40 30 20 10 0

3.52

II
1.57

2.13

3.27

I
1.69

2.95

II

III

P e rcobaan
H a r i- 1 H a r i- 2

Kecepatan udara rata-rata (m/s) Inlet Outlet Belakang Kipas

Gambar 5. RH rata-rata di outlet selama Percobaan. Kecepatan udara merupakan faktor yang mempengaruhi proses pengeringan. Ada tiga lokasi pengukuran kecepatan udara yaitu jendela inlet, outlet, dan di belakang kipas. Kecepatan udara rata-rata ketiga lokasi pengukuran tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Kecepatan udara rata-rata di outlet lebih tinggi dibandingkan dengan di inlet, hal ini dipengaruhi oleh dorongan udara dari kipas di dalam ruang pengering.

Gambar 6. Kecepatan udara rata-rata di bangunan ERK semua percobaan Proses pengeringan tidak dilakukan secara kontinyu karena pada malam hari alat tidak dioperasikan. Proses pengeringan sawut ubijalar pada penelitian ini dilakukan selama 2 hari pada semua percobaan. Hari pertama percobaan dimulai agak siang yaitu 10:1511:15, hal ini dikarenakan proses penyawutan, pengangkutan ke lokasi pengering ERK, serta proses loading ke pengering memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 2.5 jam. Pada hari kedua percobaan dilakukan lebih pagi (8:00-8:30) karena lanjutan dari hari sebelumnya. Waktu pengeringan dihitung pada saat pengering dioperasikan, dari semua percobaan diperoleh lamanya proses pengeringan berkisar antara 900-960 menit. Sedangkan waktu istirahat (alat tidak beroperasi) berkisar antara 925-975 menit. Waktu istirahat lebih lama dibandingkan dengan waktu pengeringan.

Tabel 2. Waktu pengeringan dan istirahat


Waktu Waktu pengeringan (menit) Waktu istirahat (menit) Total (menit) Percobaan II 900 960 975 925 1875 1885 I III 960 945 1905

Penurunan kadar air sawut selama proses pengeringan (percobaan III) dapat dilihat pada Gambar 7. Profil penurunan kadar air sawut semua percobaan menunjukan pola yang hampir sama. Pada percobaan III penurunan

kadar air pada awal pengeringan (hari ke-1) terlihat agak lambat, hal ini disebabkan suhu pengeringan pada awal pengeringan (hari ke1) lebih rendah dibandingkan hari ke-2. Rendahnya suhu pengeringan diduga 73

Performansi pengering surya tipe efek rumah kaca dengan suplemen energi dari biomassa..(Hendri Syah)

disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan diantaranya yaitu iradiasi surya rata-rata hari1 (351.84 W/m2) lebih rendah daripada hari ke-2 (629.37W/m2), suhu lingkungan rata-rata hari ke-1 (31.4oC) lebih rendah daripada hari2 (35.4oC), serta RH rata-rata hari-1 (63.1%) lebih tinggi dibandingkan dengan RH ratarata hari ke-2 (43.8%). Faktor yang menghambat penurunan kadar air diantaranya adalah rendahnya suhu dan tingginya RH. Selama pengoperasian alat diistirahatkan perubahan kadar air tetap berlangsung. Berdasarkan posisi bahan pada rak, maka bahan yang berada pada rak bagian atas dan tengah lebih cepat kering dibandingkan dengan dengan rak bawah. Rak paling atas lebih dekat dengan plat, sehingga suhu udara pada bagian rak atas lebih tinggi, sedangkan rak bagian tengah, selain dari udara panas dari tungku juga kecepatan udaranya lebih tinggi sehingga pengeringan lebih cepat. Berdasarkan letak rak, maka rak A dan C lebih cepat kering dibandingkan dengan rak B dan D, hal ini dikarenakan rak A dan C lebih dekat dengan tungku biomassa sehingga suhu pada bagian rak tersebut lebih tinggi, selain itu juga rak A dan C lebih dekat dengan kipas. Penurunan kadar air bahan pada rak bagian bawah (dekat lantai) tidak berpengaruh terhadap letak rak pada semua percobaan. Kadar air sawut terendah diperoleh pada masing-masing percobaan adalah percobaan I (6.23%bb) berada pada rak C tengah, percobaan II (6.45%bb) berada pada rak B atas, dan percobaan III (3.31%bb) berada pada rak A tengah.
90 80 70

Sumber energi yang digunakan pada pengering ERK terdiri dari biomassa, iradiasi, minyak tanah dan listrik. Energi yang bersumber dari biomassa merupakan energi terbesar yang digunakan pada pengering ERK. Biomassa yang digunakan adalah arang. Nilai kalor arang cukup tinggi yaitu sekitar 29.5 MJ/kg. Kebutuhan arang pada masing-masing percobaan berkisar antara 10.58-11 kg. Persentase energi biomassa dari total input energi yang digunakan pada masing-masing percobaan berkisar antara 70.36-71.85%, hal ini terlihat bahwa percobaan yang konsumsi biomassa paling besar berarti input energinya juga paling besar. Energi listrik yang dikonsumsi pada pengering ERK paling rendah pemakaiannya sekitar 6.67-7.01% dari total input energi, pemakaian energi listrik digunakan hanya untuk menggerakkan kipas. Input energi dari berbagai sumber dan total input energi yang digunakan pada pengering ERK dapat dilihat pada Tabel 3. Penggunaan minyak tanah pada penelitian ini tidak terlalu banyak, hanya digunakan untuk pengapian arang.

Tabel 3. Sumber energi dan total input energi


Sumber Energi Biomass (MJ) Radiasi (MJ) Minyak (MJ) Listrik (MJ) Total (MJ) Percobaan I II III 320.08 324.50 324.50 50.83 43.55 63.52 44.99 51.91 41.52 29.70 31.68 31.68 451.6 445.60 4 461.22

Kadar Air (%bb)

60 50 40 30 20 10 0 0

malam hari

500

1000

1500

2000

W a ktu (m e nit)
Rak A atas Rak A tengah Rak A baw ah Rak B atas Rak B tengah Rak B baw ah Rak C atas Rak C tengah Rak C baw ah Rak D atas Rak D tengah Rak D baw ah

Gambar 7. Grafik penurunan kadar air (percobaan III) Kebutuhan Energi 74

Energi panas dari pembakaran biomassa dan iradiasi dimanfaatkan langsung untuk pemanasan udara, pemanasan bahan, dan penguapan air. Besar pemanfaatan energi dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tiap-tiap percobaan menunjukan bahwa energi untuk menguapkan air dari bahan lebih besar dibandingkan dengan energi untuk memanaskan udara dan sawut. Tabel 4. Pemanfaatan Energi

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 5 No. 2 Mei 2009 ; 68-75

Pemanfaatan Energi Pemanasan Udara (MJ) Pemanasan Sawut (MJ) Penguapan (MJ)

Percobaan I II III 146.4 6 102.22 94.57 4.47 3.73 211.16 209.16 3.79 205.16

Konsumsi energi spesifik merupakan total jumlah energi per jumlah air yang diuapkan selama proses pengeringan. Konsumsi energi spesifik dari semua percobaan berkisar antara 5.16-5.50 MJ/kg H2O. Rendah konsumsi energi spesifik disebabkan pengeringan dilakukan dengan kapasitas besar. Proses pengeringan dikatakan baik apabila nilai konsumsi energi spesifiknya kecil, hal ini terbukti bahwa percobaan I memiliki kapasitas pengeringan yang besar sehingga memiliki konsumsi energi spesifik yang paling kecil dibandingkan dengan percobaan yang lainnya. Efisiensi termal yang diperoleh dari pengering ERK untuk pengeringan sawut ubijalar masih sangat rendah yaitu berkisar antara 22-35.2% dan efisiensi total berkisar antara 44.5-47.4%. Kapasitas pengering berpengaruh terhadap efisiensi termal dan total, pengering dengan kapasitas besar memiliki efisiensi termaldan total yang tinggi begitu pula sebaliknya. Konsumsi energi spesifik dan efisiensi dapat dilihat pada Tabel 5.

3. Biomassa merupakan sumber input energi terbesar pengering ERK yang digunakan untuk pengeringan sawut ubijalar. 4. Pengering ERK dengan kapasitas yang tinggi memiliki konsumsi energi spesifik yang paling kecil, efisiensi termal dan total tertinggi.

5. DAFTAR PUSTAKA [APTINDO] Asosiasi Produsen Terigu Indonesia. 2006. Harga gandum mencapai angka tertinggi dalam 4 tahun. http://www.bogasari.com [ 16 April 2007] [BSN] Badan Standardisasi Nasional. 1998. Ubijalar SNI 01-4493-1998. Jakarta : BSN Damardjati, Said D, Widowati S. 1994. Pemanfaatan ubijalar dalam program diversifikasi guna mensukseskan swasembada pangan. Malang : balitan No.3 : 1-25. ubi I-2 Hafsah MJ. 2004. Prospek Bisnis Ubijalar. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Manalu LP, Abdullah K. 2001. Model simulasi proses pengeringan kakao memakai pengering surya efek rumah kaca. Buletin Teknik Pertanian 15(3) : 154 Konsumsi Efisiensi Efisiensi Mujumdar AS. 2000. Pengeringan untuk bahan berbentuk padatan Percobaan Energi Spesifik Termal Total partikulat, bubur dan lembaran. (MJ/kg H2O) (%) (%) Penerjemah : Armansyah dkk, I 5.16 35.2 47.4 editor. Bogor : IPB Press. II 5.29 24.3 46.3 Terjemahan dari : Mujumdars III 5.50 22.0 44.5 practical guide to industrial drying. 4. KESIMPULAN Nelwan, L. O. 1997. Pengeringan Kakao 1. Pengering ERK dengan tungku dengan Energi Surya Menggunakan Rak biomassa dapat mengeringkan bahan Pengering dengan Kolektor Tipe Efek dengan kapasitas 105.7-112.9 kg sawut Rumah Kaca. Tesis. Program Studi basah. Keteknikan Pertanian. Program 2. Lamanya pengeringan untuk masingPascasarjana. IPB. Bogor. masing percobaan berkisar antara 900-960 Sarwono B. 2005. Ubijalar. Jakarta : Penebar menit. Kadar air sawut kering terendah Swadaya. pada semua percobaan yang diperoleh berkisar antara 3.31%bb-6.45%bb.

75