You are on page 1of 20

1

BAB I PENDAHULUAN

Kata fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatic yang berkaitan juga dengan gugus hidroksil. Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagai pada benzene atau asam benzoate dengan proses rasching, fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu bara. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptic seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptic. Fenol merupakan komponen utama pada antiseptic dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik. Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin,pembasmi rumput liar, dan lainnya).Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibtkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka. Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada aksekusi mati. Penyuntikan ini sering digunakan pada masa Nazi, Perang Dunia II. Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang yang kemah-kemah, terutama di Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan ini dilakukan oleh dokter secara

penyuntikan kevena (intra vena) dilengan dan jantung. Penyuntika ke jantung dapat mengakibatkan kematian langsung.(http://id.wikipedia.org/fenol)

Maksud percobaan adalah untuk mengetahui cara analisis kualitatif terhadap obat-obat golongan fenol. Tujuan percobaan adalah untuk menentukan cara anlisis kualitatif terhadap obat-obat golongan fenol. Prinsip percobaan adalah berdasarkan perubahan warna yang terjadi pada golongan fenol setelah penambahan pereaksi dengan cara analisa kualitatif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. TEORI UMUM Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat Kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dstruktulnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berkaitan dengan cincin fenil.(http://id.wikipedia.org/wiki/fenol) Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakn 8,3 gram/100 ml. fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O yang dapat dilrutkan dalam air.

(http://id.wikipedia.org/ wiki/fenol) Dibandingkan dengan alcohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. pada keadaan yang sama, alcohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan system aromatic, yang mendelokalisasi beban negative melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya. (http://id.wikipedia.org/wiki/fenol)

A. Uraian Bahan 1. Aquadest (FI Ed. III, hal. 96) Nama resmi Nama lain BM Rumus molekul Pemerian : AQUA DESTILLATA : Air suling : 18,02 : H2O :Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak berbau Penyimpanan K/P : dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan

2. Alkohol (FI Ed.III, hal 65) Nama resmi Nama lain Rumus melokul Pemerian : AETHANOLUM : Etanol, alkohol : C2H6O : Cairan tak berwarna, jernih,mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

K/P

: Zat tambahan

3. Asam sulfat (FI Ed. III, hal 58) Nama resmi Nama lain BM BJ Rumus melokul Pemerian : ACIDUM SULFURICUM : Asam sulfat : 98,07 : 1,84 : H2SO4 :Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan kedalam air

menimbulkan panas. Penyimpanan K/P : dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

4. Besi (III) klorida (FI Ed.III, hal. 659) Nama lain Rumus molekul Pemerian : Besi (III) klorida : FeCI3 : Hablur atau serbuk hablur, hitam kehijauan, bebas warna jingga dari gram hidrat yang telah terpengaruh oleh kelembaban. Kelarutan : Larut dalam air, larutan beropalesensi warna jingga Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

5. D.A.B HCl (FI Ed. III, hal.668) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Pemerian Kelarutan : DIMETILAMINOBENZALDEHID : Dimetilminobenzaldehid, DAB : (CH3)2NC6H4CHO : serbuk hablur putih, atau kuning pucat : praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95%) P Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan

6. Natrium Hidrokida (FI Ed. III, hal.412) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Pemerian : NATRII HYDROXYDUM : Natrium hidroksida : NaOH : Bentuk batang, butiran, massa hablur, atau keping, kering, keras rapuh, dan menunjukkan susunan hablur, puti mudah meleleh basa, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida Kelarutan Penyimpanan K/P : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)P : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan

7. Resorsin (FI Ed. III, hal. 556) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Rumus Bangun : RESORCINOLUM : Resorsin : C6H6O2 :

Pemerian

: Hablur terbentuk jarum atu serbuk hablur, putih atau hamper putih, bau khas, rasa manis diikuti rasa pahit.

Kelarutan

: Larut dalam 1 bagian air dan dalam 1 bagian etanol (95%)P, larut dalam eter P, dalam gliserol P dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, dan terlindung dari cahaya

K/P

: Keratolitikum

8. Rivanol (FI Ed. III, hal. 62) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Rumus bangun : AETHACRIDINI LACTAS : Etakridina laktat, rivanol : C18H21N3O4H2O :

Pemerian

: Serbuk hablur, kuning, tidak berbau, rasa sepat dan pahit

Kelarutan

: Larut dalam 50 bagian air, dalam 9 bagian air panas dan dalam 100 ml etanol (95%)P mendidih

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup baik, dan terlindung dari cahaya

K/P

: antiseptikum ekstern

BAB III METODE KERJA

A. Alat-alat yang digunakan 1. Batang pengaduk 2. Botol pereaksi 100 ml 3. Bunzen 4. Erlenmeyer 5. Gelas kimia 6. Gelas ukur 7. Gegep 8. Handscoun 9. Label 10. Lap halus 11. Lap kasar 12. Masker 13. Ose bulat 14. Pipet tetes 15. Rak tabung 16. Sendok tanduk 17. Sikat tabung 18. Tabung reaksi

10

B. Bahan-bahan yang digunakan 1. Alkohol 2. Aquadest 3. Asam sulfat pekat 4. Asam klorida pekat 5. Ammonia 6. Pereaksi besi (III) klorida 7. Pereaksi natrium hidroksida 8. Pereaksi D.A.B HCl 9. Resorsin 10. Rivanol C. Prosedur kerja a. Uji pendahuluan: 1. Larut dalam air, netral dingin + FeCl3 ----> warna-warna, + alcohol ---> warna lemah atau hilang. 2. REAKSI WARNA AZO Zat + diazol A + Diazol B + NaOH ----> merah prambos, dapat ditarik dengan eter/amil alcohol. 3. REAKSI MARQUIS: Zat dilarutkan dalam H2SO4 pekat + larutan formaldehid 0.1% 1% ----> cincin warna (merah, coklat, jingga, ungu, hijau, dsb) 4. REAKSI LIBERMAN:

11

Larutan pekat zat + reagen 4 kali banyak ----> warna lalu basahkan dengan NH4OH ----> warna, asamkan dengan asam asetat ----> warna (warna artinya spesifik untuk masing-masing) 5. REAKSI ALMEN: Larutan fenol dalam air + reagen MILLON ----> merah violet, lamalama jadi lemah. 6. REAKSI INDOFENOL: Larutan alinin encer (0,01%) + sedikit ammonia + Na hypoklorit + fenol ----> hijau/hijau biru stabil, pada pengasaman berubah menjadi merah. 7. REAKSI KOREK API: Batang korek api di celupkan pada larutan zat dalam HCl encer ---> positif. b. UJI PENEGASAN SENYAW FENOL 1. THYMOL a. Bau spesifik, jika dipanasi meleleh b. Dalam air dingin tenggelam, dalam air panas mengapung. 1. Zat + FeCl3 ----> kuning tak jelas 2. Larutan dalam Alc + FeCl3 ----> ungu kotor 3. Suspense dalam air + NaOH ad alkali + sol jadi ----> merah ---> menggumpal keruh.

12

2. RESORCINOL a. Kristal putih tak berwarna, bentuk jarum, rasa manis b. Diudara kena sinar matahari menjadi agak rose. c. T.L = 110 derajat selsius 113 derajat selsius d. Larut dalam spiritus, air, eter, dan gliserin. 1. Zat + FeCl3 ----> ungu kotor kehitaman + NH4OH ----> kuning coklat. 2. Zat + FeCl3 ----> ungu kotor kehitaman + HCl ----> kuning 3. Zat dalam larutan AIC ----> flurosensi hijau kuning. 4. Zat +H2SO4 pkt + lart as. Tatrat ----> merah 5. Lart. Zat + formalin 0,2 % + H2SO4 pkt melelui dinding tabung ----> cincin mereh. 6. Zat + fanacetin + H2SO4 ----> ungu merah. 3. GUAJACOLAT a. Serbul tak larut dalam air, larut dalam spir, gliserin. b. Bau spesifik c. T.L = 27,70 derajat celcius 1) Zat + maquis ----> merah violet 2) Zat + FeCl3 ----> biru ----> merah coklat. 3) Zat + H2SO4 + formaldhehida ----> violet 4) Zat + aq.brom ----> merah coklat 5) Zat + HNO3 ----> merah ----> jingga ----> kuning

13

4. KRESOL a. Larutan jernih, berwarna kuning mudah, coklat merah b. Bau spesifik T.L = 110 derajat celcius 1. Zat + FeCl3 ----> : biru violet (campuran) a) Ortho ----> : ungu, biru keruh b) Meta ----> : ungu keruh c) Para ----> : biru keruh, putih 2. Zat + aq.brom: a) Ortho ----> : b) Meta ----> : putih putih , kuning

c) Para ----> : tak ada 3. Zat + marquis ----> merah

4. Zat + as pikrat ----> 0-kersol ----> Kristal jarum jingga kuning. 5. EUGENOL a. Cairan, bau minyak cengkeh b. Tidak larut dalam air, larut dalam etanol, gliserin, minyak lemak. 1. Zat + H2SO4 encer ----> merah + air ----> ungu keruh 2. Zat + FeCl3 ----> hijau mudah, keruh seperti susu ----> coklat mudah. 3. Zat + MILLON ----> 6. P H E N O L a. Kristal tak berwarna, higroskopis, atau berwarna kemerahan coklat ungu.

14

b. Bau spesifik, beracun, caustic c. T.L = 41 derajat celcius d. Kelarutan dalam air : 1:12 1. Zat + FeCl3 ----> ungu biru + spir. Berlebih ----> hilang 2. Zat + MILLON ----> merah ungu 3. Zat + indefenol ----> hijau biru stabil 4. Zat + larutan jenuh hexamine ----> Kristal jarum 7. RIVANOL a. Kristal kuning seperti jarum b. Larut dalam air c. T.L = 220 derajat celcius 240 derajat celcius 1. Larutan zat dalam air + H2SO4 encer ----> Kristal kuning seperti bintang. 2. Zat + NaOH ----> merah

3. Zat + DAB HCl ----> merah jingga 4. Zat + H2SO4 encer + NaOH ----> merah karsen ungu.

15

BAB IV HASIL PENGAMATAN

A. Tabel pengamatan a. Uji pendahuluan Sampel Warna Bau Rasa bentuk kelarutan

Coklat Resorsional mudah

Tidak berbau

Keping/ larut hablur

Bau Rivanol Orange khas serbuk eklat

15

16

b. Uji penegasan Sampel Pereaksi/perubahan warna + FeCl3/ ungu kotor kehitaman + NaOH/ + FeCl3/ ungu kotor kehitaman + HCL/kuning Resorsional + H2SO4 P / coklat bening + Larutan as. Tartrat/ tetap + NaOH/orange + H2SO4/orange, Rivanol + NaOH/ orange susu putih

17

B.

Pembahasan Analisa farmasi merupakan ilmu yang digunakan untuk

mengetahui jenis atau jumlah kadar zat dalam suatu sampel, analisa ini sering digunakan untuk mengetahui kandungan dari kadar suatu zat tertentu dalam produk obat yang beredar di pasaran. Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kandungan senyawa resorsin dan rivanol maka dilakukan uji kualitatif. Pada uji kualitatif sebelumnya dilakukan uji organoleptis yang meliputi bau, rasa, warna, dan bentuk serta kelarutan, sedangkan pada uji golongan atau uji penegasan ditambahkan beberapa pereaksi spesifik pada sampel tersebut. Untuk sampel resorsin, didapatkan hasil yang mana punya bau khas, warna coklat muda, tidak berasa, berbentuk serbuk hablur, dan larut dalam air. Dimana jika direaksikan dengan FeCl3 mrnghasilkan warna ungu kotor kehitaman, bila ditambahkan NaoH tidak ada perubahan pada sampel.dan apabila feCl3 di tambahkan HCL menghasilkan warna kuning. Dari uraian tersebut sesuai dengan literature yaitu hasil uji dari resorsin. Untuk sampel revanol, didapatkan hasil yang mana berbau

khas, warna orange, tidak berasa, berbentuk serbuk halbur, dan sukar larut dalam air. Dimana jika direaksikan dengan H2SO4 pekat menghasilkan endapan putih Dimana jika direaksikan dengan NaOH

18

menghasilkan endapan orange. Dari uraian tersebut sesuai dengan literature yaitu hasil uji dari rivanol. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengamatan, antara lain: 1. 2. 3. 4. Sampel yang digunakan sudah agak lama. Pereaksi yang digunakan telah terkontaminasi . Alat yang digunakan tidak steril. Kurang teliti dalam melihat hasil reaksi yang diperoleh.

19

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Resorsin di tambahkan dengan FeCL3 menghasilkan ungu kotor

kehitaman, di tambahkan NaOH tdk terjadi perubahan pada sampel 2. Rivanol di tambahkan asam pekat menghasilkan warna orange endapan putih, dan jika di tambahkan NaOH menghasilkan warna orange susu B. Saran Praktikan sangat mengharapkan bimbingan dan arahan dari asisten dalam prktikum berlangsung maupun dalam pengumpulan laporan.

19

20

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, R. 1980. Analisis Kimia Farmasi. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin : Makassar. Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. Gandjar, G. I.,Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Herman, J. R. 1988. Analisis Farmasi. Gadjah Mada University

Press,Yogyakarta. Tim Dosen. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Analisis. Universitas Indonesia Timur, Makassar. Tim Dosen. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Farmasi Analisis. Universitas Indonesia Timur : Makassar. Tjay, T.H, 2002. ObatObat Penting EdisiV. Elex Media Kompetindo. kelompok Gramedia : Jakarta