OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. nyeri tekan. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. lokasi. murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. pulsasi/peristaltic. Lanjut ke palpasi lien. ukuran. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). Perhatikan adanya murmur. biasanya ga keraba. simetris. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. ukuran). minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). Palpasi: Hangatkan tangan dulu. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. beri tekanan ke atas. Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). normalnya 4-8 cm. bentuk. normalnya 8-12 cm. tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. Saat pasien ekspirasi. konsistensi. rectus abdominis. bekas luka operasi. kemudian pasien disuruh inspirasi. Tes Ascites: 4 . di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. terdengar wheezing. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. perkusi lien (di ruang traube. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. parallel dan lateral dari m. Trus lakukan deep palpation. umumnya 10 cm. akan terdengar ronki. untuk mengidentifikasikan massa abdomen. Normalnya ga keraba. tangan kanan di kuadran kanan atas. sejajar. normalnya semua timpani). dokter pindah ke sisi kiri pasien. Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. mobilitas. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. bentuk. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. warna kulit. dan adanya masa. massa (lokasi. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). Selanjutnya lakukan palpasi hepar. umumnya 6 cm). pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. minta pasien utk inspirasi. lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. dan nyeri tekan. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular.

izin/informed consent 2. Sentil abdomen dengan tangan kanan. 5. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. Kalau nggak ada diplopia. lutut fleksi 90 derajat.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. continous. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Tandai daerah itu. Rebound Tenderness. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. tutup mata jangan ditekan. b. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. kalo udah perforasi. pakai visus jauh. liat jangan dipicingkan. Tekan dengan ketat. dan terletak di titik Mc Burney 2. Extraocular eye movement a. Sampaikan tujuan. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. kacamata dilepas. dan tangan kiri diarah sebaliknya. Minta pasien untuk berbaring miring. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. 4. Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. snellen chart. prosedur. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. Tes konvergensi 5 . Superior Oblique N IV. periksa mata kanan & kiri gentian. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang.1. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. 2. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. nyerinya jadi localized. visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3.

lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII). deformitas d.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. dokter tutup mata kanan). kelopak ditekuk ke atas. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). pembengkakan  Sclera: warna. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 . opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. lihat pakai senter  Warna. permukaan. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . deformitas e. simetris. darken the room a. Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. penipisan.  Anopsia  lesi N. deformitas f. tanda inflamasi. permukaan. Kelopak mata: lesi kulit. nggak usah tutup mata. miosis (pupil mengecil) 4. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). lihat pakai senter  Warna. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. akomodasi lensa. masa protruding. masa protruding. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. Visual eye field a. pola vaskularisasi. Cornea Pakai penlight boleh langsung. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. Conjunctiva bulbi  Warna.

lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. normal/orange. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. sesuaikan fokus 7. Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. Sampaikan hasil a. 3/5 7 . Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope.

Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. prosedur. fiksasi jari di pipi pasien. Telinga a. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . ruang semi gelap 3. Jelaskan tujuan. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. izin / informed consent 2. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Tes pendengaran. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. posisi memegang seperti memegang ballpoint. cuma ada sel pigmen & batang. Duduk face to face oblique. auricula  Mastoid  otitis media c. Macula Tempatnya fovea centralis.

kalo nyeri. lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan.. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. Tenggorokan a. ga usah deh yee. Bibir  UKK b. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 . Jari telunjuk untuk fiksasi. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. tapi karena ga ada di checklist buku. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. palpasi sinus frontalis & maxillaries. ditutup waktu udah dikeluarin. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b.Di proc. mastoideus. Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c. palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah. e. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung.  5.

. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e.NEURO EXAM 1. Mini mental status examination a. N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. Weber. N V2 (maxillaries). Noting  menyebutkan 3 objek c. bila. cengkeh. III. IV (trochlear). N I (olfactorius)  bau2an tembakau. lipat2. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. VII. Kalo mau lengkap: a. kalau <25  disorder. dll b. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. dan. IV. N III (occulomotor). Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. Schwabach g. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. kopi. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. N V3 (mandibularis) e. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. atau. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. XII. trapezius 10 . dokter nahan m. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. N XI Angkat bahu. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. N II (optic)  snellen chart c. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. VI.

hitung sampe 10. Taktil Pakai brush. pejam mata. di olecranon.i. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. deltoid. proc styloideus medial lateral. bandingkan kanan-kiri c. maleolus medial lateral e. scm N. posisi supinasi. Pronator drift  suruh ngangkat tangan. dorsofleksi. bisa menahan pemeriksa c. epicondylus medial lateral. lutut. Getaran Pakai 256 Hz. terasa atau tidak b. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. triceps. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. dokter nahan di pipi. Neuromotoric exam a. medianus. ekstensi lutut. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. Movement 11 . m. Sensoris examination a. biceps. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. Noleh kiri kanan.

Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. biceps. Rossolimo pukul bantalan ibu jari.Gerakin jari . positif = menggenggam b. positif = dorsofleksi jempol. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. kaki yang lain ikut naik c. positif= dorsofleksi jempol. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. dipukul di tendo triceps brachii c. mekar jari2nya (fanning) d. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. 1 tangan di dada. Refleks patologis a. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . Gordon  jepit betis. Kernig sign  lutut fleksi. Patella  lutut dibiarkan menggantung. di pukul di tendo quadriceps femoris e. normalnya bisa lurus. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. positif= dorsofleksi jempol. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. kakinya rapat. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. diketuk dari bawah. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. trus kaki coba dilurusin ke atas. Jatuh ke arah lesi. mekar jari2nya g. 2. Hoffman  yang dipegang jari tengah. biceps brachii. Tromner  yang dipegang jari tengah. propiosepsi tetap. cek vestibular. positif = menggenggam c. mekar jari2nya h. positif = nyeri Periksa vertigo 1. Tanda iritasi meningeal a. Refleks fisiologis a. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. cari tendo m. tarik dari belakang. Pasien diminta berdiri. Schaeffer  jepit Achilles. Brachioradialis  mirip kaya m. diketuk dari atas. mekar jari2nya f. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. tutup mata. lalu agak difleksikan. mekar jari2nya e. di pukul di tendo Achilles.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. RPS i. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. air dingin 20oC c. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. Treatment : c. Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. hoarseness. Adakah mati rasa? iii. Onset : masa inkubasi : 2 minggu. Anamnesis a. Agravating –relieving : tidak ada v. mati rasa. Siapkan alat a. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. anestesi. apakah ada penebalan saraf? ii. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b.30 tahun ii.  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. Kapas. maluku e. Air hangat 40o C . Perkenalan diri 2. Informed consent 4. Review system : i. Pulpen d. RPD : ngga terlalu ngaruh d. Alkohol spray 14 . jarum pentul b. erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3.

Cuci tangan 6. N.N. ulnaris . medianus : . bercak. dan menginspeksi dada. Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i. tangan ventral. lagophtalmus. N. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . 1. vi. dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii.Sensoris : telapak tangan 3. tangan.N. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. jari2. peroneus komunis  di lateral caput fibula . N. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. N. ii. Minta pasien untu memutar. atrofi kulit. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan . tibialis posterior  jongkok. tibialis : sensoris 15 . inspeksi aspek dorsal leher telinga. N. ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan.5 medial . Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. simetris atau tidak . ada pembesaran n. 5 lateral .N.Motoris : jari kelingking abduksi. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. hipopigmentasi b. punggung. Suhu : dengan air panas/ dingin iii. cahaya ruangan harus cukup a. atrofi tenar/ hipotenar iii. 1: tidak bisa abduksi iii. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v. peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. lalu di beri tahanan iv.5. Kepala : ada madarosis atau tidak. perut. area gluteal. nyeri.Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. Tangan  ada jari kiting atau tidak. langsung diraba pake tangan kiri . ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. ada celah atau tidak. hipopigmentasi. angkat kaki. lalu ditahan. hidung pelana . Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. Inspeksi i. aspek dorsal dari kaki. ada/ tidak nyeri c.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . N.Motoris : jempol ke arah hidung.

XXX s. I s. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1.5 jam 2.Pasien harus mengekspos telapak kaki. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. implant. jadi harus taat minum obat b. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1. XXX s. ANC.d. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No. gyn exam.d.d tab 1 8. Pengobatan ini memang lama. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3.d. sekitar 8 jam 2. Fase laten Pembukaan 0-3 cm. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No. Pakai masker. Edukasi a. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del. pas di spina ischiadica 16 . 7.1.d.. lalu dites dengan pulpen. papsmear. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.I s. karena penularan lewat droplet c. Treatment .Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter.1.1. Fase aktif Pembukaan 4-10. I s. XXX s.d. Periksa urin 2-4 jam 3.

Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar. nyebabin effacement serviks. dagu nempel di dada. Fetoscope/stetoskop Laennec p. ambil napas dalam lewat hidung. pakai sarung tangan 5. simetris b. ibu memasuki kala 2. Pasien ingin meneran c. Dari partograf RM. Mohon kerja sama 3. benang untuk jahit epis n. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. Sarung tangan o. 1 di atas perut ibu. Kateter nelaton/logam m. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. keluarkan lewat hidung. Cuci tangan. Melahirkan kepala 17 . 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. tangan bisa pegangan paha. tutup mulut. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. Lampu ginekologi  nyalakan c. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. dominasi fundus. Klem tali pusar j. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. Periksa perineum rigid/nggak. Salam dan perkenalan Selamat sore. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. needle.Kala 2 1. Gunting epis g. Wadah bengkok q. Menentukan waktu untuk meneran a. Klem lurus h. Anus berdilatasi & membuka e. Chlorin 0. Bloody show 7. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g.5% 4. Pakai apron b. Gunting jaringan untuk tali pusar i. Berdiri depan vulva 6. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. satu kali 20-40 detik. Meja ginekologi d. lakukan ketika kenceng2 10. Perineum menegang d. Bagian mukosa anus muncul f. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Ergometrin l. 1 dipegang buat nahan perineum e. Persiapan alat a. ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. Needle holder. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu.

kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. Periksa vasa di pars fetal. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. 17. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal.dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. kita tekan di simfisis pubis. 18. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. tangan kanan megang plasenta. lahirkan bahu anterior Ke atas. imunitas. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. 16. Pijat uterus dengan ujung jari kiri. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu. 12. Jempol tetep di fundus agak bawah. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. 15. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu.11. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). 21. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. lap muka bayi. 14. di posterior introitus vagina. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. 13. Tangan kanan dilapisi linen. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). 18 . Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar. pegang kepala. diklem terus dipotong. leher. yang gerak jari2nya aja. Kalau ada.

Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. transvers. 28. hipertensi) f. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. Minta ibu tiduran di atas meja periksa. edem/makin bengkak) e. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. Informed consent 26. Cuci tangan: pake sabun. oblique Presentasi: chepalic (vertex. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. handukan atau pake alcohol. 27. presentasi muka  dagu. brow).ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. GPA b. concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. minta ibu menekuk kaki. Kalau udah deket2 HPL. tujuan. Saya perlu meraba2. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. bilas. Berdiri di kanan. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. Anamnesis a. bulan -3. Ga pake glove. Minta ibu berkemih dahulu. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. 25. shoulder Attitude: conveks (melengkung). ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. Salam dan perkenalan 23. breech. face. Penyakit yang pernah dialami (DM. Jelaskan prosedur.

Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. 20 . 30. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. elongated Limb: small. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. 5 detik berhenti. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. Sampai di fundus. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. 32. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. normal 120-160 x/menit. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. Finger di segmen bawah rahim 36. Mengukur fundal height berapa jari dari proc. Berdiri di kanan pasien. bukan pulsasi ibu. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. 5 detik berhenti. Hitung: selama 25 detik. multiple Leopold 3 33. Dengan monoaural fetoscope. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. soft. hard. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. caranya 5 detik itung. 5 detik itung.Leopold 1 29. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35.

discharge berbusa & hijau. Kapan kontrol lagi 42. DJJ normal/nggak c. Pengukuran umur kehamilan d. Identitas: nama. Anamnesis ginekologis a. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. frekuensi. RPD: sudah pernah? e. Estimasi kelahiran f.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. Posisi bayi b. gatal. Greeting & perkenalan diri 2. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. jenis kelamin. kuantitas. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. dilihat pakai NaCl 0. vaginalis. bilas.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. bau. pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. konsistensi). umur b. Estimasi berat janin e.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. karakteristik (warna. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. ciri baunya amis kayak ikan. seperti susu basi. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). & nyeri c. Penjelasan ke ibu a. Cuci tangan: sabun. terutama pada pagi hari. dan handuk 41. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 .5). Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan. RPK: ada yang punya keluhan sama? f. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d.

Tampontang/klem pean. 0. Meminta pasien buka celana dalam. Air hangat c. Lisol. 4 slide. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. kalau bukan IMS Periksa IMS h. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. masuk anus yang terakhir. Speculum graves. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. 4. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. Sarung tangan l. minimal siapkan 2 ukuran b. 11.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. 12.3. untuk membersihkan e. 14. 3 Lidi + kapas j. Memposisikan & menyalakan lampu 9. bentuk lingkaran. . 15. 13. dari kanan medial sampai paha medial. tidur pada posisi lithotomy 7. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. Silakan bila ingin BAK 6. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). Pakai apron. Mangkok isi NaCl 95% k. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat. mengecek peralatan: a. Duk steril Toilet vulva luar d. Klem ovarium g.

atau tidak  OUE terlihat atau tidak. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. Cerviks  Mencucu. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. ada massa vesikel. putar 90o: adakah fistula. dasarnya tidak bersih. Sedikit kendorin. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. 21. Laporkan a. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. tepi meninggi.5% chlorine Bimanual examination 23. Berdiri. telunjuk di atas. nyeri  chancroid Multiple.Clitoris Introitus discharge. Melubrikasi tangan 24. dilatasi. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. Vulva 23   . dirotasi 90%. nyeri  herpes genitalis 16. nggah usah diputar. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. jempol menahan. Unlock & remove speculum 22. jari lain fleksi 26. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. tumor. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. Masukkan ke larutan 0. Inspeksi a. dasarnya bersih.

ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0. 30.5% Sebelum dilepas. Parametrium f. Glove e. Alat a. Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. 43. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. kanan kiri) e. ber-rugae  Tumor. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. Adnexa (ovarium. tuba fallopi. konsistensi. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. Pakai apron b. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. Endocervix brush/ayre spatula h. 31. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. cuci tangan.ducreyi. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. Linen berlubang f. Lampu ginekologi d.28. b. 29. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. berarti nggak usah dilanjutin. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif. Speculum grave g. Meja & kursi periksa c. Vagina  Dinding licin.

Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. masa. lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. baru pap smear) d. pakai duk berlubang Cek area genital. 45. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. Katakan telah selesai Post-action Management 60.5% dan ke tempat sampah 61. Tanda2 cervicitis (kalau ada. diskolorasi 52. obati dulu 53. jumlah pasangan >1 hari c. erosi. Waktu ngeluarin. Cuci tangan & pakai gloves 51. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis.44. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. jangan menyentuh sekitar 56. Surat rujukan ke PA 65. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. berhenti. masa fragil. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50. Tanyakan pertama kali hubungan seks b.5%. In speculo exam. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. 49. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. & kondisi abnormal lain 54. Terlihat serviks. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. 48. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. bleeding. & dinding vagina Laporkan discharge. Matikan lampu Counseling 63. obati dulu 12 minggu. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . 47. forniks. 46. a. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. Keluarkan spekulum 59. drainasi.

Tujuan. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral.1. thromboembolic. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. Udah menikah? b. gangguan hormonal. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . abnormal uterus bleeding. Salam & perkenalan diri 2. anomaly in heart coronary vessel. tumor hepar. minta pasien berbaring. brain vascular disease. Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. headache kronis? Severe sirosis hepar. infeksi hepar. Informed consent 5. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. estetika jelek (-) oral: murah. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. Durasi KB? g. Vaginal bleeding? f. harus rajin minum. icterus. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. Anamnesis a. Cuci tangan. breast malignancy. acute liver disease.

tanggal insersi. 16. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). kapan (bulan & tahun) lepas. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. 15. ke mana utk lepas IUD 1. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. aspirasi dulu. Identitas b. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. 19. 18. Riwayat GPA c. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. keluarkan plunger. Tujuan d. bengkak. 8. 10. Anamnesis a. 1 cc di kiri Subcutan. 11. gambar pakai ballpoint. Salam & perkenalan diri 2. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. 1 cc di kanan. 13. 12. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. 17. isi capsul dg implant. Lakukan hal yang sama utk tiap implant.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 .7. 14. 9. Kontraindikasi  Hamil.

Klem ovari i. 16. 19.5% o. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. IUD set l. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a. 20. 11. 22. Povidone iodine f. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. Handuk b. Klem buaya n. Gunting panjang untuk potong benang m. Kasa e. Glove c. Peyan d. Basin berisi chlorin 0. 23. Duk berlubang g. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. 14. 12. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. 7. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. Sonde uteri j. 8. 17.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. 10. 21. 6. 5. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. 4. cervix lunak. 18. 9. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 .3. 13. 15. Speculum h.

2.24. Plunger dikeluarin 27. jenis kelamin. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1. Kalau ada perdarahan. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Lepas tenaculum 32. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Indikasi. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. ras. Taruh sonde di samping inserter. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. Inserter dikeluarin 30. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. Potong benang pakai gunting benang. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Tulis laporan di rekam medis 37. agak nyeri. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing. Matikan lampu 35. Cuci sarung tangan di basin chlorin. lepas sarung tangan 34. Sirkumsisi. dari samping 29.

sekalian dibuka 30 . agak sedikit nyeri 3.Risiko: ada bekas luka. Sikat tangan steril. Sabun 3. Pakai baju bersih. mask 6. Posisikan pasien 5. Pastikan air nyala 2. Informed consent 4. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1. alkohol. Pembersih kuku 4. cap. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. google.

tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. Tuang NaCl. Buang handuk 13. kuku c. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Pakai gown a. tangan Palmar. . Pakai d. 11. Tutup/ikat 14. dan sabun antiseptik cair c. Siapkan sikat steril. Cek air b. Scrub a. Initial washing a. Aspirasi. pegang di tampat sama d. Tangan diangkat e. Buang e. 8. Bilas d. 10. Scrub. Transfer sikat. kalau nggak ada darah. suntikkan anestesi. Handukan a. Bilas f. Masuk ke ruang operasi 12. Persiapan a. Raba kerah c. Pakai gaun raba dalam b. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. dorsal. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. Bersihkan kuku f. Buka kran dengan siku b. Keringkan tangan satu-satu c. ulnar. Membuka bungkus sikat steril 9. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. Sabun taruh di sikat b. pembersih kuku. Tutup kran dengan siku 11. Buang pembersih kuku 10. radial. 9. grojog. interdigiti. Ambil & bagi handuk b. Initial washing & liquid soap c.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

lalu dijahit. tidak ada fluktuasi. pak/bu. dan umumnya tidak nyeri. benjolan diambil. masa akan tampak lebih jelas. mobile. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. Pakai baju bersih 25. ukuran. berbatas tegas. single/multiple. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. Indikasi. ini namanya lipoma/verucca. Posisikan pasien 24. Informed consent 23.. Pada pencubitan kulit. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . permukaan. bentuk.  Indikasi: efek tekanan. berwarna merah atau coklat. Risiko: ada bekas luka. batas tegas. 20. & umumnya tidak nyeri. papula terkadang ada celah pada permukaannya. agak sedikit nyeri 22. diameter 1-10 mm. Verucca: lokasi. tidak tampak pulsasi. ada yang bentuk bunga kol. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik.

Kalau taplaknya nempel sama benda lain. biarin aja. Pembersih kuku 8. Persiapan d. Initial washing g. Pastikan air nyala 6. Scrub g. Buka kran dengan siku h. Cek air e. Initial washing & liquid soap i. Buang pembersih kuku 17. minta ganti taplak aja. dan sabun antiseptik cair f. Tangan diangkat k. alkohol. Geser meja pake kaki. Membuka bungkus sikat steril 16. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Sabun 7. pembersih kuku. Bilas j.. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. Kalau ada bagian meja yang kebuka. Sikat tangan steril.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Sabun taruh di sikat 36 . Bersihkan kuku l. Siapkan sikat steril.

tunggu kering. ulnar. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. pake clamp/needle holder. Scrub. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. Ikuti garis Langer 6. Raba kerah g. Tutup kran dengan siku 18. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. Pakai gown e. ke 4 arah. Transfer sikat. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. interdigiti. Bilas l. Tangan kiri megang pegangan blade. Buang k. tangan kanan megang clamp. Pakai h. Handukan d. pegang di tampat sama j. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. Kalau ada perdarahan. 15-30 derajat.h. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). 15-30 derajat. dorsal. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. Terus povidone iodine 3x. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. Tutup/ikat 21. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. 27. tangan Palmar. sampai indurasi. Ambil & bagi handuk e. Masukin retraktor (pertama satu arah. 2. Tangan kanan insisi. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. Pakai gaun raba dalam f. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). kuku i. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Pakai sarung tangan closed method 26. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. scalpel nomer 3 atau 4 3. Pasang scalpel. Masuk ke ruang operasi 19. Buang handuk 20. radial. Irisan kulit 1. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. muterin si elips 28. Keringkan tangan satu-satu f. sampai indurasi. Pisau nomer 10.

bentuk bingkai 38. Lepas tissue retractor. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). keluar pus)  Tidak boleh kotor. Jahit subcutan  lipoma only. Pakai sofratul. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. As. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab.34.5 % & cuci tangan 39. medicamentosa. Amox. Edukasi pasien (daily plan. Mef. kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. Spesimen masuk larutan fiksasi. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 .

chorioamnionitis c. lembut. Personal protection/general precaution Cuci tangan. Informed consent 4. prolonged kala 2 (>2 jam). hipertensi (pregnancy/kronis). Kateter. prolonged labour (>24 jam). CPR. Peralatan: radiant warmer/table warmer. Fetal: fetal distress. IUGR 3. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. kering. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). dibantu dengan alat. EKG. ET. Suction devise 39 . & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. pakai glove. 6. placenta previa. Antisipasi faktor risiko a. Antepartum: diabetes. iv line. 1 untuk alas. Peralatan a. Perkenalan diri 2. Linen bersih. DresBand.EMERGENCY Neores. 1 untuk nerima bayi 8. 7. anemia. infeksi b. dinyalain.

Stetoskop 9. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b. airway. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. lurus Ukuran no. Bernapas/menangis kah? 13. Bebas mekonium kah? 12. 8F. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. Beri O2 bila perlu 40 . Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. 10F. 4 mm 2. 12 F. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. 16. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. Jam g. 3. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. At term kah? 11. Bag. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d.5. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi.01-0. 3. Hangatkan 15.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. 0. napas.5. valve.

selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25.. Setelah initial care. Bila ada meconium pada cairan amnion.. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Respirasi/menangis? 19. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. mulut. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. two.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. good muscle tone 22. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit.. g. warna 23.. Pilih device & instrumen b. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. tetapi tidak mata Tutup dagu. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. Respirasi b.. HR > 100 bpm. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. Warna kulit  Ada mekonium: 21. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . dan hidung. tekanan. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. two. jadi cuma 20x ventilasi. Apply suction saat ET ditarik f. Frekuensi. 3 pegang mask. baru hidung Jari 1. katakan breath. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. Lakukan selama 30 detik. three. Insert laryngoscope c. three. Evaluasi: respirasi. Bila tidak vigorous a. HR. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. Tekan bag f. Warna kulit 26. Test bag & mask d. 2. Detak jantung.. breath. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b.

valve. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Ratio. e. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. yang chest compression menghadap bayi b. Respirasi b. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. Respirasi b. mask d. One and two and three and breath. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. Gloves b. Spray alkohol c. Warna kulit 27. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. jadi cuma 15 siklus. Bag. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. breathing/crying. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus. Kalau udah oke (HR>100x/menit. Respirasi b. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c.5 detik kompresi dada & 0. perawatan tali pusar. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. Persiapan alat a. Warna kulit 29.. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 . Warna kulit 28.a.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

Teknis a. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. sepsis  Identifikasi vena. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. tutup regulator  Buka outflow botol infus. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 .  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. periksa spike & tabung. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. bakteremia. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. & tepuk ringan di atas vena. tunggu 30 detik. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. posisikan menghadap atas.  Tusuk lubang outflow dengan spike. jangan dipalpasi lagi b. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. paling distal dari jantung  Vena lurus.

Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . Maintain aseptic procedure 5. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. kemerahan.Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c. sayu. Universal precaution 6. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan. stupor. Cari asisten 7. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d.

5x Shock Apapun Shock (takikardi.Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2. kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak.5x 1. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid. 48 . setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. hipotensi. Indikasi. anatomi relevan. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml.5 jam masukkan 1. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak.5 jam masukkan 1. tapi demi kebaikan bapak. Prosedur ini memang tidak nyaman. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. pakai kristaloid 3x. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. 2 jam pertama 0.

Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .Kalau bapak bersedia. tiduran & pakai selimut. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.  Permisi  Posisikan pasien 3.

diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. Kateter dileletin ke gel. terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. Lepas duk steril. pakai 16 F. ada aliran urin. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. Fiksasi kateter di paha bagian atas. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b. Kalau nggak urin keluar. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). Waktu di urethra pars membranaceae. terus disambung. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. ditekan terus ditampung di bengkok. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. Teknis a. atur posisi penis paralel thd tubuh. Kalau ada urin. Catat volumenya. Masukkan kateter gently Pertama. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. Kateter diganti setelah 2 minggu. Buka gloves. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. pastikan nggak merucut. celupin ke betadin. balon 5 ml tergantung ukuran. urine bag keluar lewat lubang duk steril. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm.33 mm = 1 French = 1 Charriere). ambil kassa.Kateter Foley (0. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. Tarik sedikit. Plester. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk. fiksasi urin bag ke meja. Kalau udah masuk. 50 . Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. Urin bag ditutup dg cara ditekan.

sebelah adam’s apple  B (+). lengan lurus. Reasses Look. gatal 6. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. Saya akan mencoba menolong pasien ini. feel 25. Breathing. biarkan recoil sempurna. 5. evaluasi setiap 1 menit. korban. Cek pulsasi di carotis. lingkungan 18. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella. Kedalaman 4-5 cm. Maintain aseptic procedure Buang sampah. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. cuci tangan. listen. Postposedure & education  Tirah baring. frekuensi 30 : 2. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. bahu vertikal di atas dada pasien. Airway a. 1 menit ada 3 siklus. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). d. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Prof behavior CPR 16.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. Secure urethral catheter properly e. C (-) Berlutut di kanan pasien.Cuci tangan. Safety diri. 17. C (+) recovery position  B (-). Pasien datang 51 . saya mahasiswa kedokteran. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). 24. jangan ditarik. Telpon 118 20. Berhenti kalau a. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. jangan banyak bergerak. kecepatan 100 kali/menit. jatuhkan berat badan. lepas sarung tangan. Komunikasi & relationship 7. manubrium 19. FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. Perkenalkan diri Bapak/Ibu.

2. perkenalan diri. Salam. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. Ambulance datang d. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . infeksi Feel vaskularisasi  suhu. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. move 10.5 cm lengan 5 cm tangan 5. plester 8. Dressing & Bandaging 1. Environmental hazard c. kassa. & bina hubungan baik dengan pasien 2. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. 4. mempercepat proses penyembuhan. Telpon 118 lagi 27. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. kassa. Capek 26. Bandaging 9. Tutup softratul. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. Recovery position Tangan kanan ke atas. Terlalu kencang? Evaluasi look. WPK. feel. 6. betadin. menyerap eksudat. badan dibalikkan dalam 1 baris. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4.b. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. kaki kiri ke kanan. 5. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. 3. Aliri luka dengan NaCl. tangan kiri ke pipi. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6.

Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . 8. 9. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . Usia d. Irama a. Identitas b. 10. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. tanggal. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. 14. 13. Gender c.7. 11. III. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. Frekuensi a. 12. Hari. tidak semua P diikuti QRS. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b.

Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course. Durasi 54 . aVF + normal aVL +  antara lead I & II. no true QRS complex 3. 0 – 60 aVL.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. antara lead II & aVF. aVL (+) aVF. 60 – 90 Lead I +. LAD (+) I. III. 0 . prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. RAD (-) I. avF – Lead II +  antara I dan aVL. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. aVL (-) aVF.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b. aVF 1) Atas P sebelum QRS.

Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e. bagian depan lebih lebar dari belakang. irama ventricular c. Interval PR 0.5 mm atau <0.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0.25 detik di v5. Interval QRS. normalnya berbentuk piramid tidak simetris. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil.22 s (3 – 5. v2 (>0.5 kotak kecil) Memanjang > 0.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral.a. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB. normalnya simetris.25 detik) c. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5. II Memendek < 0. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal. RBBB. Morfologi a. hipertrofi atrium kanan b. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium. v6 S melebar di v1.12-0. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d. Gelombang T Repolarisasi ventrikel. v2 Gelombang s diperlama 0. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave. normal < 0. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 . seperti tenda.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b. lebar dan tinggi <2.22 s pada AV blok derajat I.

P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . III. R wave > S wave di v1 3. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1. aVF) Durasi tetap 2. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. Hipertrofi atrium a. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. peak P: tinggi P wave ≥ 2. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. aVL anterior extensive Lead II. Ventrikel kiri v5. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. II. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. v2 3. lebih landai.5 mm pada lead inferior (II. v6 Kanan  RVH 1. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P. Kanan  RAH P pulmonal. RAD 4. Kiri  LAH P mitral. S persisten di v5 & v6 2. I.f. LAD 4. v6 Ventrikel kanan v1.

Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 . AV Block a. Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif. tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c.4.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

dan Non-Shockable (PEA dan asystole). Cek airway: a. 7. pasien. listen. krepitasi di leher. sternum. lalu cek nadi setiap 2 menit. d. lunula kuku. b. persiapan shock 59 . Leadnya ada 2. jejas diatas clavicula. pain  cek respon nyeri di glabella. Kalo dapet VT. dibahasnya per irama ya. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. Shout for help  telfon 118 5. Kalo obstruksi oleh cairan. seperti kain. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). Safety: safety untuk diri sendiri. Response: Cek respon dengan verbal.. Kalo dapet VT pulseless atau VF. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. Pasang IV dan ET. dan pain. VT yang shockable adalah VT yang pulseless..Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Pada pasien henti jantung respon negatif. 9. dan lingkungan 3. c. Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. serta O2. Verbal  dipanggil namanya (shout). dan penurunan kesadaran. 4. Kalo VF gausah di cek pulsenya. yaitu warna merah dan putih. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. and feel 6. Berdasarkan irama. Jika ambulan sudah datang. fisik  diguncangkan (shake). lalu cek kembali nafas dan pulse di a. fisik. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. Look. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. kalo ada trauma dengan jaw thrust. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama. 2. Nah untuk memudahkan ceklist. carotis communis selama 10 detik. cek pulse dulu.

dll). dan 360 J jika monofasik. ada yang lepas atau ngga. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. RJP dihentikan sementara. 6. Cek irama 5. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. Kalo dapet asistol. 8. 7. Cek irama lagi. 11. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. 13. Tetap shockable.5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. 2. Pada saat masang ET. Setelah kasih shock. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. tetap shockable. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya.3. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . baru cek monitor. 14. 5. 3. Kalo ET sudah terpasang. tetap lakukan RJP 5 siklus. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. 4. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. Langsung pasang ET dan IV. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. Kasih shock. 15. Masih non-shockable. atau malah jadi non-shockable. Charge defib pada 200 J jika bifasik. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. 4. nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. Langsung RJP 5 siklus. 9. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. lanjut urutan shockable. Berikan shock. kembali charge defib. Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. Selama nunggu defibnya dicharge. RJP 2 menit. trus lanjut RJP 5 siklus 10.. dan yang lain pada ictus cordis. dengan paddle satu pada sternum . cek lead dulu. siklus kompresi dan breathing berubah.

Stop kompresi saat: a. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. Tambahan: 1. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. abis cek lagi. shockable lagi. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin.  Kalo dapet irama asistole. jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling). Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. Pasang ET 2. iramanya jadi non-shockable. yaitu kasih epinefrin. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. Kasih shock b. Cek irama c. trus jdi nonshockable lagi. 61 . trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. dari shockable trus jadi non-shockable. maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. refleks pupil hilang c.

Salam. Pemakaian kontrasepsi RPD a. Keluhan lain: nyeri. Anamnesis RPS a. 6. Karakteristik: ukuran. Status reproduksi (GPA) g. Riwayat kanker. Perkembangan benjolan c. Riwayat laktasi h. ulcus Discharge. 5. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. perkenalan 2. setelah  4x 4. Permukaan kulit: warna. & deviasi: kanker 62 . retraksi d. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b. misal DCIS c. locomotor. post stroke BREAST EXAM 1. 8. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x.genitourinary. cairan. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. bentuk. 7.OTHERS  Breast. Keluhan utama 3. Sejak kapan b. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. arah. discharge. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. ulcus. Riwayat FAM b.

& manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. ke arah jam 12. pori2 membesar. Periksa putting Inspeksi: retraksi. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. fisura. & axilla. Pelaporan Gambar payudara.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. terus ke arah jam 1. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). tangan di sisi Kalau payudara besar. pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. sisik Untuk pemeriksaan discharge. dimpling di payudara. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. terus badannya digoyang 9. balik ke sentral lewat jalur yang sama. tengah. clavicula. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. usia muda.

Perhatikan bila ada perubahan 8. Nontrauma: RPS. Luka terbuka b. di depan cermin 7. 5. 2. Bisa saat berdiri. RPD. mobile (FAM. kaki  posisi tidur Look a. batas (tegas  FAM. Deformitas 64 .3. bentuk. Heel strike b. Berdarah c.4). konsistensi. saat mandi. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. sambil sabunan. 4. Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. sedang. kista. perubahan pada papilla mamae. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. tangan di belakang kepala. Dimpling. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. ukuran. Swing phase 6. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. nyeri (kista). 3. tergantung area lemak) 5. seberapa keras tekanan (sirkular. Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. Mid-stance c. berat. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. ringan. Toe off d. nggak  payudara).

Vaskularisasi: suhu. ekstensi c. Simetrisitas Feel a. melewati lutut b. Memperkenalkan diri 65 . betis putar ke luar) f. eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Gelang bahu Fleksi. Siku Fleksi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. eksorotasi (tengkurap. 10. palmarfleksi. radial deviasi. ekstensi. fleksi. d. Lutut Fleksi. adduksi. ekstensi (posisi supinasi) g. 9. inversi. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. Inervasi: taktil c. betis putar ke dalam). Jari pakai goniometer khusus e. Wrist Ulnar deviasi. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Gelang paha Abduksi. dorsofleksi. jempol RCTI oke) d. Pergelangan Plantarfleksi. pronasi. ekstensi (sambil tengkurap). True: dari SIAS sampai malleolus medial. WPK. eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). abduksi. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c.7. pulsasi b. adduksi. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. 11. endorotasi (tengkurap. dorsofleksi. 8.

anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. Dilatasi vena c. 4.2. UKK (masa. udah sunat? Palpasi penis a. atrofi e. Vas deferens. balloteman. Urethral meaturs e. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. hipospadia. suprapubik. Tanda2 inflamasi d. 5. Inspeksi penis a. kayak kawat Varicocele? d. Ke epididimis. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . Glans penis. Simetris: hipoplasi. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. hidrocele. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. Persebaran rambut b. urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. d. Angulus inguinalis externus 9. tumor. Testis. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Batang d. Oedem b. atrofi? b. Daerah inguinal (barangkali belum turun). Funiculus spermaticus e. dipalpasi kanan & kiri simetris. informed consent. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. ambilnya di fossa navicularis 8. inflamasi. b. c. ada cysta? c. hipoplasia. 6. epispadia. nyeri) Kandung kemih 7. Tumor f. warna) c. 3.

Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. jari tengah aja.. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. sedangkan kalo perdarahan. tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi.. Ada 3 macam inisial position : supine.. eksorotasi paha. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12. nungging 13. Saya dokter …. normal kayak biji kenari).. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul. tempatkan jari di sulvus prostat. walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya . saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. Posisi pasien.Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . ekstensi lutut. meriksa prostat (ukuran. fleksi siku. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. masukin pake lubrikan. ekstensi ankle. spingter ani kontraksi). Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis.

o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . Pelan-pelan saja y pak. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. siku dan pergelangan tangannya. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. posisi kaki kaya meluk guling. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. sebelum didudukin. punggung baru pinggang.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. bapak bertumpu dulu pada bahu. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. Waktu pasien bertumpu disiku. tangan satunya di pergelangan tsngan. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. secara aktif dan pasif. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. jadi pelan2 dimulai dari bahu. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. pelan – pelan aja. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. Kalo instruktur ku dulu. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. Kita abduksiin jari. eksorotasiin lengan.

“Bapak.. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2.. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . yang S di atas N.caranya seperti tadi saat mau duduk. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. Selesaiiiiiiii . sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. latihan hari ini sudah selesai. kita akan berlatih keseimbangan tubuh. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi. Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak.. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak. lalu kaki pasien dipelintir lagi. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya. trus di baringin lagi : “ baik bapak. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh. Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping.

Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .

Gout . OA 71 .Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA .

Malaria. kolestitis. udah reda/belum 3. Meningitis. isi nadi 3. palpasi 5. Yang dilaporkan: regular. lingkungan. Olahraga. thypoid. Profil pasien: Rokok. lemah/kuat. KU 2. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. Pekerjaan Anamnesis 1. Aggravating. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. OMA infeksi lain 2. RPK. TB/BB 2. Red eye: conjunctivitis. palpasi. DHF. Parafrase Bilang ke pasien. ukuran manset. normal ce: thoracoabdominal. Umur. Review system gejala yang belum di-explore 7. RUQ: hepatitis. Teratur berolahraga Keluhan: 1. Relieving. HCC 3. Nadi  pertama pegang dua tangan. sirosis. Abdominal Pain. sebuah ringkasan. RPS: Onset. dll) Vital sign: 1. Treatment  apa obatnya. pneumonia. Respiration rate  frekuensim regularitas. travelling 5. PID. frekuensi. perkusi. Alamat. UTI 4. Fever: with jaundice: hepatitis. palpatoar dulu. auskultasi 4. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. pola pernapasan abnormal. baru auskultoar. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. tiga ama empat. without jaundice UTI. keratitis. Kepala/leher 3. glaucoma akut (sudut tertutup). cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. Abdomen : inspeksi. PID.IPM GENERAL. Riwayat sosial 8. psikologis. Tekanan Darah  pake bel. Makan 6. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. RLQ: app. Lokasi. auskultasi. kalo regular. pucat. kondisi umum (lemes. Characteristics. Awasi tekanan darah. posisi duduk ato tidur 2. sirosis hepar. Alergi 4. Abdominal Pain. Enyahkan rokok. gizi. meriksanya pake satu tangan aja. Yang dilaporkan: berapa BPnya. ditangan mana diukurnya. retinopathy 72 . Fatigue: anemia. Hindari stress. keganasan 5. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. dimana diukurnya (axilla. KET. perkusi. chyene stokes dkk) 4. kolesistitis. Suhu  berapa suhunya. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. Durasi. Thorax : inspeksi. uveitis. jari ke dua.

sindrom nefrotik. cikungunya. pneumothorax. Insomnia: anxiety. Dizziness: BPPV. thypoid. TB. Sorethroat: pharyngitis. hipertensi. UTI. migraine. CHF. meningitis 16. Joint pain: OA. Konstipasi: thypoid. peningkatan TIK. UTI. CHF.6. Vomiting: diare. DKA 10. alergi. stenosis spinalis. migraine. gout. tumor. LBP non spesifik. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. Cough: pneumonia. Diare: diare. BPPV. meningitis 8. ACS. Weight Loss: TB. asma. Indigestion: GERD. 73 . tonsilitis 14. gastritis 7. 18. IBS diare 19. cluster. meniere. Backache: HNP. depresi 17. Dyspnea: asma. sindrom nefrotik 20. pneumonia lobus bawah 9. anorexia 12. DHF Keterangan : yang di bold. pharyngitis viral. meniere 11. Chest pain: ACS. keganasan. anaphylactic 13. Headache: TTH. RA. IBS-konstipasi 15. Pruritus: ikterus. DM. Stroke pendarahan.

Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. Lokasi : c. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. Olahraga: b.4 c dan temperatur axila>37. nyeri otot dan sendi. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. DHF. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala. Meningitis. lesu. DHF. Kondisi umum : lemah. Fever 1. Agravating : aktivitas fisik f. Akut (< 1minggu) : malaria. perut sebah. kronik (>2minggu) : Thypoid 1. kadang memegang kepala. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam.5 derajat celcius.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. Diet : c.gelisah. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. Onset : < 1minggu b. menggigil. sakit kepala. 74 . Durasi : 24 jam d.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37.5 c dan rektal lebih rendah 0. e. Faringitis bakterial. 2. kulonprogo. papua.

Rajin minum obatkarena parasit. KU : Demam. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . gagal napas . nafsu makan turun. Vivax(eritrosit membesar) b. Vital sign : demam. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). BP normal. HR dan RR meningkat. sakit kepala mual. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16.a) 2. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. eosinofilia (normal 0-3). splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . buang air ga lancar.2. sejak 6 hari. RPK -. Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. sore saja. co 45-55). ce 12-14).hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. RPD -. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. leukosit normal.d. sudah ke puskesmas tp ga membaik. Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s. memperburuk:aktivitas berat.  DBN 3. falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari. HCT turun (normal ce 40-50.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus. kuning malariaberat  balik ke dokter 2.perut sebah.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

r. Hct naik > 20 %. trs 6. trs 6.d.n 3. perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin .d.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 . adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia.p.Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat . Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10. XV S.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No.

Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. Pola makan: c. kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). pendengaran berkurang. demam b. Tahap-tahap: 1. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Olahraga: b. keluhan demam sudah menghilang 5. keluar cairan (discharge). Lokasi i. j. newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. Onset h. Parafrase ke pasien e. Agravating : l. durasi >8 minggu). Diet : c.    Relieving : - m. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. Otomycosis (gatal. nyeri. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. Pemeriksaan fisik : 80 . OMK (SNHL. Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii. KU : telinga terasa penuh. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3.4. Anamnesis :  RPS g.

Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 .b. Analgesic  paracetamol c. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit. Terapi a. telinga terasa penuh 6. Pemeriksaan penunjang 9.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz. Rinne (-).n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8.5. Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d.b. yg lain d. nyeri. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10. Vital sign : fever. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b. Kesan umum : demam.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7.

BAK: air teh c. suntik. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). Tiba2 tadi pagi mata kuning. Diet : Hep Amakan tidak higienis c. Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. demam.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). . mual. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. Olahraga:b. sebah. meriang.Fase prodormal 2-3 minggu. perut terasa penuh. Mual muntah d. BAB pucat.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . 30% jadi sirosis. Athralgia 82 .Fase ikterik  1-4 minggu. Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. Nafsu makan menurun e. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). muncul ikterik. BAK seperti air teh. (hep B inkubasi 15-180 hari). 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. (hep. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d.ABDOMINAL PAIN. Aktifitas seksual (hep B) e. Review system : keluhan lain : a. cirinya influensa-like syndrome . tindik (B) f. RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. Pernah mentato. 5-10% jadi HCC. lemas. BAB: pucat b.

lemah Vital sign : febris. takikardi.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan.pusing. hep B. GGT : meningkat 83 . RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d.5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c.

dikasih tau penyebarannya gimana. lama h. Hep B= imunomodulator (INF-a). Merokok  Review system a. berasa mbesesek/sebah. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). Terdapat penurunan nafsu makan 84 .d.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a.. jarum suntik. Hep A: Bed rest. Hep B: Pasangan.. obat kuat. Dulu sering minum jamu-jamuan. dikatakan hepatitis B. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . Diet : c. Edukasi g. makanan dijaga. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar.d tab I f. antivirus (lamivudine. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb. Pola makan d.Tidak ada kencing manis. dikasih obat dan sembuh. mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning.Terapi e. Olahraga: b.

kulit kening. ginekomasti. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali.splenomegali. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. Albumin <<. Ginekomastia e. ascites +  splenomegali. dan d. tanya gatal-gatal atau tidak c. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi. kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i. CBC albumin dan globulin. globulin >> 85 . hepatitis B/C.b. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. hepatomegali (teraba bernodul). clubbing finger. Karna kuning. caput medusa.perut.

Olahraga : b. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. LFT bilirubin direct. anti Hbc k.muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis. Diet : suka makan makanan berlemak c. sirosis hepatis. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign). muntah. Serologi: Hbs Ag. ALT. Forty. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.AST naik.j. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. gizi cukup. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. ALP dan GGT naik. Fat. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas.

tekan.5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas. pasien akan berhenti tarik napas). Edukasi 1. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal.bisa juga ditemukan ada batu. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. Hindari makanan berlemak 2. kelihatan cairan peri cholecystic.

Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. pada perut bag bawah). :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. yg meningkatkan tekanan intra abdomen. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid.Karakteristik : walanya colicky pain.5-38. nyeri difus. kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk). Olahraga : b. Agravating : batuk. pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas). dull. PID (dispareuni. intermittent (difus). : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia.5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis). ga migrasi. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri. lemah : App akut. aktivitas berat. pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien.

Agravating : celana dalam ketat.gangren. difus.     RPD : menstruasi ga teratur. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. pemakaian pembalut wanita. Appendicogram udah pasti app. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. CBC  Leukositosis. Diet dan pola makan : 89 . di perut kanan bawah. perforasi) o. (suppurative. Olahraga : b.netrofil > 95% kalo m. USG appendix terlihat membesar n. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. untuk mencari stadium app.

tab 1 p. XXVIII S. Tetrasiklin 100 mg No. dispareuni (patognomonis). USG. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. kaku. Lepas IUD 3. Antibiotik : R/ Tab. Review system  keluhan lain : mual.c. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi. vaginal swab. Jangan melakukan irirgasi vagina 2.d. 2. Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan.n 3.p. Apendisitis.d. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. memegang perut bagian bawah. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.c. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . muntah. 11.d. S.d. IX.r. Jangan memakai panty liner 90 . adneksa teraba. tab 1 p. Edukasi 1.Mefenamat 500 mg No.

colicky.di perut bawah kanan/kiri. PID . memegang perut bagian bawah. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. Olahraga : b. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 . Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. difus. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET.

d.p.Mefenamat 500 mg No.OG 92 .n 3. S.c. tab 1 p.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. Rujuk ke Sp.r. IX. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.d.

subfebril. pneumonia. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari.BATUK DD : TB. CHF. kakexia. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. bronchitis akut. penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. Pharyngitis. PPOK. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. ganti – ganti pasangan. penurunan berat badan.5). penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 . RR.

A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. neutrofilia. infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq.2 dari 3 sputum sewaktu. pagi. limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-). anemia ringan (Hb>10). limfositosis. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen). Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 .

Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . XXVIII S 1. trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no.d. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no.37 kg 38 .. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3. Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya .Tabel 2.d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.

55 . imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk. X S p.d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang). jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM. kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas.r. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 . A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat. R: T : Udah minum obat batuk.n 3.d. PPOK. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut.n Tab I pc R/ Syr.r. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no. infeksi viral.

pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3. pasien tampak lemah VS : RR ↑. aktivitas. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas.d. atopi (-) 97 . keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. Ronki basah (+). riwayat alergi. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman.Review System : demam (+/-). ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat.d. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ . penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan.

perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓. jarak kart. JVP ↑.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. pemanjangan ekspirasi. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi. tanda kor pulmo.suprasternal saat eksp < 4cm.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. bibir cyanotic. penggunaan otot bantu pernapasan. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. posisi tripod. krikoid dan inc. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . tampak adanya kesulitan bernapas VS : T. nasal flare. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor.

hentikan rokok 99 . blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. vitamin dan sayuran antioksidan.

Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga. Ankylosis Spondylitis. Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral.dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia . ada discharge  konjunctivitis Nyeri. glaucoma akut Photopobia  Iritis. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease. Glaukoma akut (SKDI 3A). minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis. chlamydial) .Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4).Sarcoidosis. Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. alergi. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. Keratitis (SKDI 2). glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. iritis. iritis. bakteri. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. muntah  Glaukoma akut Mata berair. pusing. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . visus menurun  keratitis.

discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . Konjunctivitis viral  discharge watery. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. ada prbhn reflek kornea. disebabkan oleh beberapa kausa. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe.

Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri).1. Ada discharge. Keadaan umum Keadaan umum. respirasi  normal 3.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . tekanan darah... Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5. Jernih. Merah.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. atau Gentamycin 0. BB/TB. 2. kesadaran  mata merah. nadi. terdapat folikel limfoid di tarsal. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu.5% atau naphazoline 0. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0. gizi.

Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri.d. nyeri kepala ipsilateral.od R/ Tube Insto No.r.6. 7. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. nyeri kepala hebat 2. mual muntah.4.p. Tanda vital Suhu. respirasi 3. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 . Keadaan umum Keadaan umum.os.1gtt. kesadaran  mata merah. nadi.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital. Prognosis dr.I S.2 gtt. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No. deficit visual. BB/TB. gizi.os.n. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat. I S.d.d.d. tekanan darah.3.

kesadaran 2. penglihatan kabur 1. 6. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. photopobia.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. Keadaan umum Keadaan umum. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. 7. Tanda vital Suhu. gizi. tekanan darah.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. respirasi 3. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . BB/TB. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. synechiae Jernih. deficit visual. nadi. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0.

Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. 7.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema. gizi. nadi.tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5. trauma. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant.. kesadaran 2.ciliaris Cyclopentolate 0. Keadaan umum Keadaan umum. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 . Terapi Tindakan Farmakoterapi : : . bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4.5-2% 1gtt 3dd . Tanda vital Suhu. tekanan darah. pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak. corneal disease 1.Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. BB/TB. penurunan imunologis. Pemeriksaan penunjang Reaktif . respirasi 3..

posterior synechiae Normal Normal Normal 5. ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas. 106 . Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina. 7.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6.

Cardiovascular = ACS 2. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. beberapa lama 1. mitral regurgutaion 2. Durasi : beberapa menit yang lalu. CHF. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . epiglotitis akut 3. Anafilaktik akut 5.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. mitral stenosis. Severe respiratory infection: pneumoni. Lokasi p. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. tiap serangan biasanya hanya sebentar. PPOK 3. Anamnesis :  RPS n. tanya durasinya udh berapa lama. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit.asthma. Onset o. Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset. KU : sesak napas h. Respiratory: PPOK .

q. sesak napas seperti diikat. antihistamin t. kelelahan. Relieving: menghindari allergen. c. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. tidak ada demam dan pilek i. sulit untuk berbicara r. Vital sign : RR ↑. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. faktor stres (misal mendekati ujian) s. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. musim semi. musim. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. asma. memiliki hewan peliharaan. debu. makanan. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. wheezing Kepala : Nasal flaring. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. SCM. obat-obatan. Agravating : terpapar alergen. kesuliatan bernapas 13. j. stress. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. b. alergi. takikardi. BP & T normal 14. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. pakai otot bantu pernapasan. perubahan suhu (malam hari). pekerjaan. infeksi. oksigen. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular.

Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. Pemeriksaan penunjang a. IgE spesifik dan total c. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Skin prick test b. Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b. CBC eosinofilia.

KU : sesak napas b. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 .d.d.r.n 3. Hindari allergen CHF a.d puff II 17. Edukasi 1.

Pemeriksaan fisik : 1. respirasi ↑ 3. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . b. diberi obat. hepatomegali c. c. Kondisi umum : lemah.  Sistolik: infarct ventrikel kiri. pucat. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. Parafrase ke pasien d. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. efusi pleura.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. Vital sign : nadi ↑. belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. berkeringat. regurgitasi mitral. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. hipertensi. sesak napas terutama malam (pnd).

Efusi pleura 4. Dispnea d’effort 3. Ortopnea/PND 3. Edem paru akut 4. Edem ekstremitas 5. berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. Hepatomegali 112 . Cardiomegali 2. pitting edema.Hepatomegali. Tachicardia 2. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. ↑JVP 6. RBB (+) 5.

Furosemid 20 mg No XXX S 3. Captopril 12. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7. Edukasi 1. Batasi asupan Na 2.c. EKG Kiri  LVH 5. R/ Tab. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. v2 b. RAD 8.d. R wave > S wave di v1 7. Aksigenasi 3. Strain pattern st depressed & T inverted di v5.d. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. Pemeriksaan penunjang a. Batasi aktivitas fisik 113 . R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. S persisten di v5 & v6 6. v6 Kanan  RVH 5. LAD 8. Terapi R/ Tab. tab I p. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c.d.d.5 mg No XXX S 3. Beta blocker  pada post MI 6.c. tab I p.4.

Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. 114 . Sehingga setiap ada napas. namun pada saat ekspirasi. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. Pada saat ekspirasi. dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. Look (gerakan napas tertinggal). kanan. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. Assess: Listen (sucking chest sound). Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. sehingga akan menekan paru-paru. udara akan masuk ke rongga pleura. Akibat patah  nyeri. sehingga menimbulkan sucking chest sound. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. multiple. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. dicoblos di linea midclavicular SIC 2. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. Setiap kali inspirasi. dan akhirnya akan paru akan kempis. volume makin meningkat  tension. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard.

bibir). nafsu makan berkurang.manifesnya semakin parah z. Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. berat badan bertambah tapi merasa lemes y. Kesan umum : gelisah. Lokasi w. ascites ato ga? (SN ada ascites). BAK terganggu => frekuensi meningkat. Pemeriksaan fisik : 18. dll. ). scrotum. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. Relieving aa. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak. kenaikan serum lipid trigliserid. k. BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. keluar dikit2. Parafrase ke pasien n. sesak napasnya paroksismal dyspneu. Olahraga: b. riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). Anamnesis :  RPS u. 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). Diet : protein berlebih (telur) c. KU : Bengkak-bengkak l.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. hipertensi Lifestyle : a. Onset v. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). sesak napas 115 . pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m.). tidur pake bantal. hipoalbuminemia. Sebutkan DD : CHF.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata.5 gr/hari). labium mayor. (<3 gr/ml). warna keruh).

1.5 gr/hari). Furosemide 80 mg s. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. Edukasi 1. Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . no fever.5 mg s. Bed rest b. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3.d. Diet rendah garam dan tinggi protein (0.19.Terapi a.Furosemide untuk mengatasi udem Tab. diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) . Darah  ada dislipidemia. Pemeriksaan fisik : Thorax : .Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab.d. Bed rest. .8 – 1 gr/kg BB) c. diet rendah garam dan tinggi protein 2. Berdasar etiologi : .batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d. 20.d tab I 23. Captopril 12.2.Vital sign : BP naik.n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21.d tab I . Pemeriksaan penunjang a.b. hipoalbumin <3 gr/mL 22.

nyeri dada b. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. Kondisi umum : cemas. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit. leher. mual. Durasi : akut. berkeringat. rokok. Onset cc. GERD 117 .CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. ada kolateral obstruksi total a. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee. seperti tertindih. Parafrase ke pasien d. c. muntah c. Sebutkan DD e. megang dada : ACS. Anamnesis :  RPS bb. obesitas DM. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Pemeriksaan fisik : 24. Faktor risiko : dislipidemia. b. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. KU : sesak napas. burning. diremas. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. Lokasi dd. Agravating : aktivitas fisik gg.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. gelisah.

NSTEMI. Clopidogrel f. Oksigen 4L/mnt. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b. Terapi Berikan MONACO a. Pertimbangkan reperfusi 118 .Vital sign : hipertensi. Periksa cardiac enzyme CK-MB. pertahankan saturasi O2>90% c. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26..Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27. Aspirin 160-325 mg e. unstable Lihat pambahasan EKG.25. troponin I c. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28. Nitrogliserin SL d. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b. Pemeriksaan penunjang a.

n. Turunkan berat badan 2.Characteristics : nyeri seperti tebakar. kadang . dll). saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29. Nitrogliserin 0.Duration : beberapa menit . Aktivitas fisik aerobik 4.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh . RPK : Profil pasien : .Edukasi 1. .kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan).Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah . Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : . faktor hormonal (mis : 119    . IV (dikunyah.3 mg No VII S. theofilin. p. Tab.d. Aspirin 80 mg no XXVIII S.r. opiat.r. beta adrenergic. menggunakan obat .amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia.Aggravating : tidur setelah makan . mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah.Relieving : . 1. Management lipid 5.d. Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan. sublingual (saat serangan) R/ Tab.kambuhan.obatan tertentu (antikolinergik.n.Onset : akut . p.Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. Stop merokok 3. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.

Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg .Antasid : 4 x sehari .  Cisapride : 3 x 10 . peningkatan progesterone karena kehamilan). coklat .Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. soft drink.Hindari makan sebelum tidur 120  .Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat . peppermint .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus.  Domperidone : 3 x 10 .20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam . .Meninggikan kepala saat tidur . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : . Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : . Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus. namun tidak untuk penyembuhan lesi. konsumsi alkohol .

- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat. etc) 121 .obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik. beta adrenergik. peppermint. kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat .

presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. BPPV. biasanya disertai mual. Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. diabetic autonomic neuropathy. seperti perabotan atau lukisan dinding. menierre. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . fistula N VIII : akustik neuroma. kehamilan usia muda. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). Apakah objek dalam pandangan anda. kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif. transquilliser. tumor Labyrinth : labyrinthitis. muntah.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. antikonvulsan Penyakit lain : anemia.

murni. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. atau kelainan sentral pada batang otak. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. akustika. fistula perilimfatik TIA. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late).jam BPPV. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak. 3. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. 4. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. 5. neuroma 123 . Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. vertigo sentral atau perifer. migraine. 6. Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. fistula perilimfatik Meniere. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. fistula perilimfatik post trauma. stroke. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII.

hilang dalam hitungan minggu – bulan. Ménière’s disease. diuretic. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. multiple sclerosis.. immunosuppressive medications. aminoglikosidm antikonvulsan. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. antidepresan. kokain. excessive straining. migraine. stress) Changes in ear pressure. tidak hilang saat mata terfokus pada objek. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional.. antihipertensi. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. hilang saat mata focus pada suatu objek. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis.e. horizontal atau torsional. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. barbiturate. salisilat. BPPV. nitrogliseride. migraine Immunosuppression (e. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis . cerebrovascular disease (stroke or TIA). cerebellopontine angle tumor. head trauma.g.Aggravating : induksi obat seperti alcohol. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. advanced age.

Diving (+/-) Riwayat infeksi sal. acute middle ear disease (e. otitis media. masih mampu berjalan Parah. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang. salisilat. Headache Hearing loss cerebrovascular disease.. Ménière’s disease Acoustic neuroma. sulit hingga tidak mampu berjalan. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma. bahkan berdiri Nausea.g. migraine Ménière’s disease. vomite Hearing loss.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor.

T (N). dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. disequilibrium. Ménière’s disease DD : Vertigo. Imbalance cholesteatoma. Bila BP rendah. herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). acoustic neuroma. serta system kardiovaskular. kepala dan leher. acoustic neuroma.  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . BP (N). 126 . photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. cendrung curiga ke sentral. cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+).fistula. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. Kalau negative. curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo. presinkop. otosclerosis. yaitu pemeriksaan pada system saraf. RR (N). transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia.

Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. glukosa. CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. factor resiko penyakit kardiovaskular. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya. Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. (3). psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness.VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. Ada gangguan neurologis fokal. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. (2). Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. kardiovaskuler Singkirkan dd. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . Kepala dan Leher. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. tuli saraf (kerusakan n. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere.

tinnitus.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. pucat. MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual. sensasi penhu akibat hidrops endolimph. instabilitas dan SNHL. VI S 2. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley.d.X S 3. terdapat periode freedom 128 .d. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala.d Tab I   Psikiatrik : sedative. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi.

diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. x  Tanda peningkatan TIK 129 . vi. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n.A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. tinnitus. ix. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d). SNHL Tx : serangan akut  bed rest. tinnitus.v.

Pharyngitis biasanya mendahului 130 . Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. G. dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. misalnya Streptococcus pyogenes. komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. secara klinis mirip dengan M pneumoniae.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. pharyngitis. rheumatic heart disease. termasuk scarlatiniform rash. Namun. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). Pasien biasanya mengeluhkan batuk. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS.  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 .  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. nose. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk). and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. therefore. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. eyes. ears. untuk menilai keadaan emergensi. demam. laju respirasi dan suhu/temperature. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. denyut nadi. Meski demikian. Terdapat kriteria centor.  Head. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS). berdasarkan penelitian terbaru. yakni onset yang tiba-tiba. various degrees of dehydration result. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. Pada pharyngitis viral. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS.  Vital sign: Tekanan darah. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. Walaupun demikian.

 Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis . Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif. dan infeksi herpesvirus . pneumoniae or C pneumoniae. Dengan demikian. Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal. eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae.mononucleosis. adenovirus. C pneumoniae. A haemolyticus.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS.  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease).

Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. namun sensitivitasnya bervariasi. 136 . o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. intubasi jika diperlukan. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur. o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut.Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat.  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. bila tes dilakukan secara tepat. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa.

o Jika secara klinis meragukan. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS. Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. atau abses oropharyngeal. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 . Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. epiglottitis.  Evaluasi status hidrasi. Evaluasi tanda-tanda toksisitas. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1.

Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari.r.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat. karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas.r. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. 138 . Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari. makan yang cukup dan bergizi.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari.

otitis media.memakai masker selama gejala berlangsung. o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. Manifestasinya antara lain hematuria. dan hipertensi. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. polyarthritis. peritonsillar abscess. minum obat sesuai dosis. sinusitis. cervical lymphadenitis. subcutaneous nodule. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. erythema marginatum. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. mastoiditis. edema. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. chorea. 139 .  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess.

rubella. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. ISK bagian atas : disertai mual. susah kencing. dibagi secara anatomis jadinya gini... gusi berdarah. serta nyeri perut bagian bawah. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. dan rasa sakit pada costovertebra. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever. 140 . Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. ISK bawah → urethritis (urethra). susah menahan kencing. leptospirosis. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. Lokasi : demamnya seluruh tubuh.varicella. dengue fever. d. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. Onset : akut b. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. sering kencing. dll. dll. Kalau lokasi infeksinya. muntah. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. tanpa jaundice 2. infeksi HSV. Anamnesis RPS a. g. abses intrarenal dan perinephric c. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. prostatits. e. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. KU : demam mendadak.

malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. imunosupresi. obstruksi saluran kemih. OMA. suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. batu pada saluran kemih.- Riwayat DM. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. Tanyakan kebersihan diri. kehamilan. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. tempat menyimpan air. RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. kondisi rumah tinggal seperti selokan. Pemeriksaan fisik a. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. Ternyata ada faktor genetik juga loh. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya). menopause. dll → waspadai kemungkinan meningitis. 141 .

Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu.b. Pada pasien ISK simptomatis. Leher : pembesaran limfonodi. Thorax f. Vital sign : Tekanan darah. c. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Suhu tubuh tinggi. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. Adanya bakteri pada 142 . Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. d. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. 4. luka. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam.. e. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. Pemeriksaan Penunjang a. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. Pada pasien ISK asimptomatis.

riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh.5gr/8 jam i. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria). 143 . Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. Pada pasien dengan infeksi berulang. atau yang mengidap AIDS. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. yang tidak disirkumsisi. f. c. b. kultur darah bila keadaan sitemik buruk. Darah → darah rutin. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual. c. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. d. riwayat infeksi saat anak0anak.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. yang paling umum digunakan adalah USG. calculi. sering urinasi (jangan menahan urin). urea dan elektrolit. Terapi dan edukasi a. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam.o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p.v lalu secara oral selama 7 hari. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik. dan pyelonephritis berulang. b. g. d.penggunaan instrumen. e. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram.o selama 4 minggu. e. h. Memperbanyak intake cairan. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1. 5. atau hematuria yang tidak sakit. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang.

Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan. i. HNP 6. Durasi : bisa macem2. 144 . Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa.tapi biasanya berminggu2 yaa k..o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati. Anamnesis RPS h. Onset : akut progresif. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. KU : low back pain 7. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n.- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p.o selama 7 hari. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. susah pakai celana sendiri). belakang paha. bisa kejadian deh HNP). Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat.ischiadicus) j. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu.

Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk. inflamasi. tumor. bersin. Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah.. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB). makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini... n. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. osteoporosis. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 . cauda equina syndrome. stenosis spinalis.20 l. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak. ketawa. dll) gitchu. ankylosing spondylitis. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. m..

Inflamasi: RA. Metabolik: osteoporosis 6. Tumor 5. keringat malam.- Demam. 3. 4. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. Degeneratif: spondilosis. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. strain-sprain otot or ligamen. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru. osteoarthritis. HNP. sama kisah tentara itu). Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . 2. ankylosing spondylitis. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi.

Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. suhu. j. Reflex fisiologis: patella. e. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. b. taktil. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). sering metas ke vertebra. Tes Lasegue: pasien bobokan. c. Pemeriksaan fisik g.jugularis interna pasien (kanan kiri). terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. dll).. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. d.kayak Alm.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. i. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. Chrisye). bekas trauma.. susah jalan. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas. Thorax : screening ada keganasan ga. tajam-tumpul. Vital sign : Tekanan darah. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. h. Tes Nafzinger: kita teken v. Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. Keadaan umum : kesakitan. 147 . tb ga? l. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. vibrasi. propriosepsi.

Fisioterapi. jalan. Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. 148 .9. berdiri. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). kerja. Diskografi. Vitamin B. metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. L. 10.

Nyeri berdenyut. migraine  unilateral. tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b.7 hari. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c. Disertai injeksi konjungtiva d. durasi bervariasi 30 menit.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. Kebanyakan pada wanita. Lakrimasi unilateral g. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. mual. fonofobia c. durasi 4-72 jam b. Kebanyakan pada laki2. kepala seperti diikat c. Cluster: a. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2. Nyeri retroorbital h. TTH : a. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b. Rhinorrhea f. Disertai dengan aura: fotofobia. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. Terdiri atas 3 macam: 1. Migraine: a. Aggravating: alcohol 3. Ptosis e. d.

diazepam. Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH.Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. Migraine  hindari faktor aggravating g. sumatriptan (5-H1 antagonis) d. c. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. TTH  paracetamol. fotofobia dan fonofobia (migraine). Diet : c. kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . Cluster  paracetamol Edukasi e. deficit neurologis. Migraine  cavergot (vasokonstriktor).n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. cluster. amitriptilin. migraine. ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. TTH  bed rest f. Olahraga: tergantung pasien b.b. nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d.

depresi) Relieving: stressor hilang. HF o Otak: stroke. angina. stroke. DM. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. Merokok ga? d. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. Olahraga:b. b. picuan faktor psikologis (stress. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. stroke. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. penyakit ginjal dan hepar. penyakit jantung. Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. DM Lifestyle : a. berkunang-kunang. MI. sulit tidur. Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. bisa localized di tengkuk : bervariasi. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 .Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. pas siang hari. cemas. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. telinga berdengung. penyakit jantung.

penyakit tiroid. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). hypercorticol. HR. suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit).renalis. exudat keras) Leher : pembesaran v. RR. pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. pembesaran ren.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. stenosis a. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . DM.jugularis interna. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. vasa kaku. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. pheocromocytoma. o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. obat2an. 2 posisi (duduk dan bobo). sleep apnea. hyperaldosteron.

j. Urinalisis: apakah ada DM. Rontgen dada: kardiomegali i. kreatinin. enzim jantung. lipid. EKG: LVH.Pemeriksaan penunjang h. infark CBC: glukosa. serum urea. renal disease? l. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . elektrolit k.

Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. keluhan lain: 154 .Edukasi Tumor otak 1. Anamnesis : RPS a. Aggrevating: waktu f. Location: tergantung lokasi tumor c. KU : sakit kepala 2. Relieving: dikasih analgesik. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d.

power Neurosensori: taktil.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. BB/TB c. tajam tumpul. Partial thromboplastin time (PTT) 5. suhu normal d. kejang. trauma. Vital sign : BP naik. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4. demam. Elektrolit 8. abses 2. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Bleeding time 10. sama paresis ekstremitas. Monitor ICP 3. Kondisi umum: kesakitan. vibrasi. motion. hidrosefalus akut. gang memori dll tergantung letak lesi). 3. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. Protrombin time (PT) 4. suhu. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). posture. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. Pemeriksaan penunjang 1. Darah rutin 6.cranialis Neuromotor: stabilitas. ataxia. Mual muntah. 155 . Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. Analisa Gas Darah 5. HR turun. menggigil. Pemeriksaan fisik a. Fungsi hepar 9. Troponin 7. bisa juga dateng pas udah LOC b.

. stres Review system. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. disertai kaku kuduk e. bisa juga dateng pas udah LOC b. 3. muntah. obese. Vital sign : BP biasanya tinggi. Kadang pakai kejang juga. HR. RR juga. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. lack of exercise. Ada kaku kuduk. Anamnesis : RPS a. KU : sakit kepala banget. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus.cranialis 156 . fotofobia. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. Karakteristik: sakit kepala terberat. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Location: generalized c.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. Durasi: sakit bgt terus d.. Onset: mendadak. sama paresis ekstremitas. diet tinggi lemak dan garam. Aggrevating: buruk terus-terusan f. Pemeriksaan fisik a. kalau parah: penurunan kesadaran 2. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b.

kronis. kaku kuduk. Analisa Gas Darah 5. Bleeding time 9. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini. Troponin 6. Durasi: akut. KU : sakit kepala. posture. vibrasi. Location: generalized c. mual muntah. Protrombin time (PT) 3.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. Elektrolit 7. Relieving: tiduran RPD 157 . Karakteristik: sakit kepala. non infeksius) b. 30 mg kalau SBP 120-140. Partial thromboplastin time (PTT) 4. parasit. disertai demam 2. kronis (fungal. tajam tumpul.- Neuromotor: stabilitas. Aggrevating: f. sub akut (viral. dll). Darah rutin 5. 4. motion. pertahankan <120 Meningitis 1... Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Anamnesis : RPS a. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. Pemeriksaan penunjang 1. Fungsi hepar 8. suhu.. fotofobia e. sub akut. power Neurosensori: taktil. Imaging → CT scan 2.

papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. HR naik/N. sclera. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system. tajam tumpul. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. lemah. penurunan kesadaran bisa terjadi. Vital sign : BP turun/N. vertigo 3. RR naik/N. posture.cranialis Neuromotor: stabilitas. BB/TB g. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. f. Kondisi umum: kesakitan. vibrasi. power Neurosensori: taktil. motion. Pemeriksaan fisik e. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. somnolent. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. suhu meningkat h. suhu.

urinalisis e. Koagulasi d. Terapi       Antibiotika intravena. pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada. protein. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . Urea dan elektrolit plasma b. wbc. brudzinski 1-4 4. sesegera mungkin (30 menit awal). Glukosa darah c. kultur bakteri 5. Pemeriksaan penunjang a.- Spesifik: kernig. CSF: glukosa.

tapi kalo GA sama OA. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. nodul rheumatoid (+). DM. trauma. suhu dingin (pagi hari). pergelangan kaki. perlu juga ditanyain karena f. alcohol. istirahat. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. kaku pada pagi hari < 30’. perdarahan. trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. arthritis pada 3 daerah dan simetris. HT. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. RA. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). obesitas. bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam. RF (+). arthritis di sendi tangan. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas.NYERI SENDI Dd : GA. metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul.r nya bisa genetic juga 160 . PIP. makanan tinggi purin. pangkal ibu jari kaki bagian dalam. degenerative. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. soalnya kan dia autoimun.

eritem. osteofit. kalo OA dan GA (). poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar. kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. pada RA : anemia. pembengkakan sendi. bird like face dll. hangat. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi.lunak OA :penyempitan celah sendi. leukositosis. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif). bengkak terutama pada kapsul sendi. RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 . namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. ekstrimitas hangat.Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya.

turunkan BB 162 .d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0. kurangi aktivitas sendi. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu.d tab I …………………………….d tab I R/ tab Colchicines 0.d.d.1.1. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2.d. tetap d gerakkan namun kurangi akt.d.d.d.d tab I Intercritical : Kolkisin 0.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s.6 mg no IV S.d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.berat OA :dukungan psikososial.d.6 mg no VI S 1. koreksi postur.6-1. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi.

DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. sebelum hamil dia normal aja. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. dia kekurangan key (si insulinnya).1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar. p=pancreatic disease dll. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. DM banyak macamnya: a. polydypsia. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria. BB turun. genital thrush.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. Penderitanya jadi insulin dependent. otot. Kalau pada orang sehat. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. weight loss. b. c. jumlah keduanya pas sama banyak. Nah kalo orang DM tipe 1. Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11. visual blurring. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. infeksi.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. Kalau DM tipe 2. d. polyuria. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya.

infark. metabolik synd. katarak. terus seringnya pada anak-anak. GE.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien.Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. PAD. uti. neuropati. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . GE. Infeksi (pneumonia. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. gastroparesis. gastroparesis. terus ada metabolik syndrome (central obese. gangguan genitourinari. dislipidemia). Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. ginjal. infeksi. gangguan genitourinari. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. infark. obat (koakain).GIT: diare. katarak. vasa. hipertensi. sepsis). sepsis). otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. hiperglikemi. obat (koakain). hamil. hamil. Infeksi (pneumonia. vasa. luka ga sembuh2. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. jantung. jantung. dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. obat TB. uti. saraf tepi. nefropati) atau makrovaskular (CAD. . Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. Biasanya obese. cvd. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. bisa di mata. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. saraf. infeksi.

infeksi. BBLR. mukosa kering. . tenderness. ASI. hipotensi. RR usually in normal limit. tachypnea pola Kussmaul. kurus Biasanya normal. luka. luka. sindrom nefrotik). Mual muntah. kistik fibrosis. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. infeksi. letargik) DM tipe 2 Obese. mukosa kering. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. massa. gagal ginjal. tinggi. lnn. cushing’s. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior.saat intrauteri ataupun postnatal. Obese. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. massa. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. kehamilan. Apakah ada : Mata cowong. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. Tanda DKA: kussmaul. (exclude dehidrasi. walau bisa aja sih ga obese. acromegaly. werner’s. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. lemah BP bisa tinggi. shortness breath. tenderness. edema periorbital. sindrom nefrotik). Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. Tanda DKA: kussmaul. ASI. tachypnea pola Kussmaul. (exclude dehidrasi. shortness breath. polikistik ovari. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. Biasanya normal. dll. RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. hipotensi. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. lnn. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. Mual muntah. edema periorbital.

Inspeksi: ada luka.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. Femoralis. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a.tibialis.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11.8-11. endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5. dan cara pengobatan. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi. bukan minggu ini rajin. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. joging. Femoralis. terus cepet). Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . a.dosalis pedis. progressive (porsi latian bertambah). a. renang).Ekstremitas Inspeksi: ada luka. memodifikasi gaya hidup. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor).6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. Bandingkan sama atau gak.brachialis.8mmol/L 5. a. Bandingkan sama atau gak. a.30 menit. terus 2 minggu males). a. ex. ulkus.brachialis.6-6. komplikasi yang mungkin terjadi. Pemeriksaan Lab. Peripheral artery disease: raba pulsasi a. interval (pelaan. a. pengobatan yang harus dilakukan.dosalis pedis.tibialis. terus lebih cepat. ulkus.

DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 .25 gr/hari. Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. 167 . (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. protein 15-20%. 2.5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. insulin detemir.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. KH<50-60%. Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan.ketahanan). DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. insulin graline. b. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. Jenis makanan: fat <30%. 3. Macam-macam insulin Insulin subkutan. diinjeksikan secara subkutan. gula maks. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin. Modifikasi DIET 1. (lihat di daftar obat). Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan.

Obat-obatnya Umumnya. Setelah 8 minggu periksa HbA1c. Tab I Kalau masih ga mempan lagi.5 No. Normalnya <7. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab.d.d.2. harus kasih insulin. post AMI. Untuk DM tipe 2.d. XIV S.d. Untuk DM tipe 2. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting. 168 . Monitoring : 1. Glibenclamide mg 2. 2.5% atau <6.d.5% pada yang ada penyakit arteri ex. Metformin mg 500 No. Metformin mg 500 No.2. XIV S.d. Tab I R/ Tab. Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). VII S.1. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue).

dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety. yang bukan nyeri. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan. Setelah melihat hasil pemeriksaan. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . pankreatitis. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. seperti kolelitiasis. C-13 Urea Breath Test. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. ulkus peptikum. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. berpusat di abdomen bagian atas. 2. serta feses bewarna hitam. dan stool antigenic test. bernama mbak Gastricia. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut. Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. dsb. bloating.

Patofisiologi: Faktor defensive: a. Growth Factor and Prostaglandin 170 . Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat. Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. dan beberapa growth factor b. dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. intracellular tight junction.

Konsumsi alkohol. surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. altered gastric emptying. bikarbonat.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. cokelat. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . pylori H. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. kopi. Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. bile salt b. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa.

Treatment: Pada beberapa pasien. serta tes dan terapi untuk infeksi H. seperti saran untuk makan makanan yang sehat. Serta pola makan yang teratur. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. cokelat. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 . mengurangi berat badan.. Selain itu. dan makanan yang berlemak. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. pylori. kopi. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. dapat diberi saran sederhana. pylori dengan breath test atau stool antigen test. pylori. dan berhenti merokok. seperti alkohol.

Keterangan: 173 .

Specify the therapeutic objective reduce acid production. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1. pylori (if any) 3. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 . treat H.

d. a. 2. cokelat.c. tab. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi. rokok.d. dan makanan yang berlemak.d. memperbanyak sayur dan buah. 175 .c. kopi.2.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab. R/ Tab Guarposid no.d. tab II.d.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil.d.2. R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s. XIV s. seperti mengonsumsi alkohol. Omeprazole 20 mg no. tab. I a.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. I a.c. XIV s.

pekerjaan.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. jenis kelamin. progress. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. nama. Greeting. durasi.  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. umur. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . etc). Prosedur Pemeriksaan : 1.  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor. Pengobatan yang sudah diberikan. frekuensi.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. suku / bangsa. status perkawinan. agama. 4. tidak lulus ujian. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana. karena interpretasinya bisa beda ntar). etc). pendidikan. 3. etc. 176 . alamat. etc).  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan. 2.

apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. Ex. bukan diagnosis (ingat!). jumlah saudara. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional.  Lalu golongkan menjadi : a. Menurut ICD-10. Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. Neurodermatitis. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. kebutaan. Ex. Batuk.silsilah keluarga. sulung / bungsu. b. kelompok yang termasuk 177 . keluarga utuh / cerai. ga konsen sama kuliah dll). Ex. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. life style. dll. c. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. “ini saya mesti kanker ini dok. apakah anak angkat / tiri. meninggalnya saat pasien usia berapa?). Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak. perut saya ini kayak ada ularnya!”. pola hubungan keluarga. Anamnesis system. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. lingkungan. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. diare). udah sampe shopping doctor gitu. urticaria. batuk kronis + kecemasan. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. stres. tidak ada keluhan mental (ex. pilek. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis.

napza 6. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). cemas. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial . baik di keluarga. dll 4.  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih.  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. kerja. dll). psikotik : ngomong sendiri. Ada tidaknya pemakaian rokok. 178 . sex. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. PS. misalnya : banyak pikiran 3. FG. cemas : gelisah. maupun masyarakat. Pertanyaan aktif antara lain : 1. ME. telanjang depan umum.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . ga tenang depresi : murung. mudah tersinggung. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. perasaan). RPK.RPD. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. alkohol. pekerjaan.d. PS. ME. Nb. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas). karena interpretasinya bisa beda ntar). life style. Menurunnya semangat belajar. 5. sekolah. lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG.

menilai citra diri. pemeriksaan neurologis. tegang. mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan.5. kerja. menilai keadaan jiwa (sedih. 8. Pemeriksaan fisik : vital sign. Rokok. baik di keluarga. dll (males ngapa2in lah pokoke). hiperaktif. pucat. maupun masyarakat. pemeriksaan fisik diagnostik. etc). 179 . menilai roman muka (tegang. sekolah. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar. gelisah. Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. 10. 7. curiga. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. napza 6. etc). etc yang relevan aja. misalnya. menilai kesan penampilan penderita. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). 9. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. alkohol. sex. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. Gangguan fungsi ex. etc). sosial . pekerjaan. merencanakan pemeriksaan lanjutan. psiko tes . DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal.

Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi.dll”) → mencemaskan sesuatu. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU.. ada juga yang meleeek terus). Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. dll. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. itu ntar aja galinya). Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran.GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun. besok mau OSCE kek. nangis. Dia mikirin apa sih (GALI!). harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen. sesek. Kata dr. sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. atau pas di kelas jadi ketiduran terus). ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. dll. jadinya juga ganggu keseharian. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi). 180 . Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang. besok telat osce. Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia).

Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat. Gangguan fungsi hidup. Moodnya sediiiihh. DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. debar-debar. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. Gangguan nafsu makan. kagetan. Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. ga konsen. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. minderan/ga pede. seks. sensi. gemetar. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. CEMAS Susah masuk tidur. nulis diary dll). Kehidupan sehari-hari ga bergairah. negetif.hari terganggu ga? Misal. Terapi dan edukasi 181 . Sesek. kringetan tangannya. ga konsen sama kerjaan. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). bad dream. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. kayak kehidupan sehari.

n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab. XiV S. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. penurunan konsentrasi. guilty. DIazepam mg 5 no.d Tab.1. XiV S. Sebenernya saat bapak mengunci itu. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. R/ Tab. I o. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. agitasi. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok. Imipramin mg 25 no. gangguan bobo. loss apetite. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup). apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . pikiran mau mati. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan.d Tab. I o.1.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex.d.d. ngecek pintu terus udah dikunci belom.

nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. sampe ganggu macem2: R/ Tab. XXI S. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . pusing. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah. atur nafas. tercekik. mual. 3.d. terapi perilaku saja.d Tab. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. jangan fokus ke keluhan saat serangan. nyeri dada. Clomipramin mg 25 no. Parah.

I o.- R/ Tab.d Tab.5 no VII S.1.d.d.1.d Tab.I 184 .n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab. Imipramin mg 25 no VII S.Lorazepam mg 0.

Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. CBC count 185 . Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. KU : mencret. Durasi : 2 hari ll. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. Agravating : aktifitas berat. masih mau minum ga? r. Kondisi umum : sangat lemah. Pemeriksaan penunjang a.Persisten : 14 hari. BAK. diare q. t. Lokasi : kk. Parafrase ke pasien s. Anamnesis :  RPS ii. bisa ada darah. 31. sakit perut.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. berlendir. p. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. thypoid. Akut : < 2 minggu. Pemeriksaan fisik : 30. Vital sign : mungkin demam 32. Olahraga : b. Sebutkan DD : diare. Relieving: oo. kurang minum nn.

disentri R/ tab. tab 2 p. Makan dijaga higienitasnya 5.d. kolera R/ Tab.tab 1. X. Ampicilin 500 mg no XXIV s.Berikan oralit  R/ sach.p. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6.p.c 35.d. 4.b. X S.r. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.oralit 200 No. amoebiasis  R/ Tab.d.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . 4. S.p. Tetrasiklin 500mg no. Metronidazole 250 mg no x s. Edukasi 1.c. Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34. Terapi .d. 2. giardiasis R/ Tab. Oralit diminum setelah BAB segera 4.c 3.d. 3.3.XII S. Minum air putih banyak 2.c 4.Antibiotik : 1.tab 1 p. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 .d.d Tab 1.d. Metronidazole 500 mg No.

Olahraga: ga spesifik b. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. vesikel atau bula. Diet : c. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa.DKI. v. vesikel atau bula. papulovesikel. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. uu. papulovesikel. Pemeriksaan fisik : 36. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Durasi : 3 hari ss. Onset : 3 hari qq. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. u. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. dermatitis atopi x. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut. skuama. Sebutkan DD : DKA. Vital sign :normal 38.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. Pola makan : d. Parafrase ke pasien w. likenifikasi & fisur tidak jelas.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. Anamnesis :  RPS pp. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 . likenifikasi & fisur tidak jelas. skuama.

Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40. hentikan treatment atau ganti obat lain f.Pemeriksaan penunjang .Patch test untuk test alergi . CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 .39. daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g. Membersihkan bagian yang teriritasi c. Edukasi a. Bila ada efek samping serius. Terapi 41. Mencegah terjadinya ruam d. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e. Mejauhkan alergen secepat mungkin b.

. Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan. dan defek anatomis. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . missal IBS. Tidak memerlukan emergency.. . Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. abnormalitas motilitas. Akut membutuhkan tindakan emergency.terutama karena diet yang buruk. Typhoid (SKDI 4).biasanya karna fungsional.riwayat Ca pada eluarga..muntah. . kurang exercise. ex : Ileus. Sering pada orang tua.Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu). tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A). Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : .Perdarahan (hematochezia). kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras.penurunan berat badan.

pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. atau konsistensi fese keras dan kecil2.Mucorrhea .Berkurang nyeri setelah defekasi . antipsikosis. whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) . kesulitan dalam mengejan.Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB . hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an. anticonvulsant. suplemen besi dapat memperparah konstipasi.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun.Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : . antidepresan. dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu.Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . sayur. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik.

Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . gizi.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2. 4. nadi. sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. Inflamasi. kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare. IBS-C (constipation predominant). atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah . dyspareunia.Berhubungan dengan dyspepsia.Konstipasi. .Diet kaya serat .Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). 5.a. 4.k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t. IBS-M (mixed diarrhea and constipation). Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : . 7.a.Minum air putih yang cukup . kesadaran  secara umum tampak sehat.Perasaan bloating . 6. . Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress.a. respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. tekanan darah. heartburn. 3.Nasehatin pasien supaya jgn stress. dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation).k Thorax t. Keadaan umum Keadaan umum. 1. Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu. BB/TB. 191 .Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri.k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia.

Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S.typhii Secara umum. long-term neurologic sequelae (extremely rare). 3%-4% chronic carriers. gallbladder cancer (RR=167. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 . gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse.

dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu. 5. kesadaran Tanda vital Suhu. namun jarang.typhi) L= D = 7-14 hari .Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam.. nyeri abdomen difus. tekanan darah. Pemeriksaan penunjang 193 . gizi. Keadaan umum Keadaan umum. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. 4. konstipasi. malaise. 2. nadi. Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1. 3. BB/TB. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya.

. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1.o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. gejala mulai berkurang stlh 2 hari..0 gram p.. 8. Week 1  kultur darah/bone marrow 2. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. ofloxacin). .o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p..Makan yang lunak2 dulu seperti bubur .5-1. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia. ELISA IgG & IgM 3. Deteksi antigen O dan H 2. Week 2  stool 3. cefixime) Ciprofloxacin 0. 7.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi . cephalosporin (ceftriaxone. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara.6.Istirahat yang cukup. 194 . 1.Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat.

2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2.6-6. 1. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4.01 6.4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1. infark >0. Infeksi:     3.2-5.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0. Lipid:     4. menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4.06) IU/l μg/l <10 <0. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal. Hepar:  5.01.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No .8-5.1 .

03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1..35-7. hehehe. al. HBA1c >6. GNK.Albumin (pada gangguan ginjal. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal. kami mohon maaf yah..3 0. ISK. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman.9 mEq/l mmHg mmHg 7. 196 . meningkat) 7. semoga osce kita sukses! (mardian et.003-1. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA. 2011).5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9. Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. kalau ada salah.6-1.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6.5-0. Post Prandial 2 jam >200.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful