P. 1
ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DESA LANU KECAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DESA LANU KECAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

|Views: 1,257|Likes:
Published by yosefninu
Dalam khazanah kesusastraan suku Timor, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui sejarah yang panjang dari para leluhur. “Toes Nono Mnah Ba” sebagai salah satu sastra lisan yang dituturkan dalam bentuk jenis puisi biasa, namun memiliki keunikan atau arti yang sangat mendalam
Dalam khazanah kesusastraan suku Timor, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui sejarah yang panjang dari para leluhur. “Toes Nono Mnah Ba” sebagai salah satu sastra lisan yang dituturkan dalam bentuk jenis puisi biasa, namun memiliki keunikan atau arti yang sangat mendalam

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: yosefninu on Mar 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DE33SA LANU KECAMATAN AMANATUN

SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH: YEFRI TRADUS SELE 31 07 0063

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TIMOR KEFAMENANU 2012

LEMBARAN PENGESAHAN

Propasal yang berjudul “ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DESA LANU KECAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN” telah disahkan oleh pembimbing pada hari…….............., tanggal….., bulan……….……. Tahun 2012.

Pembimbing I

Pembimbing II

Maria Prisila Oki, S.Pd., M.Hum. NIP 19760717200501 2 001

Maria M. N. Nahak, S.Pd., M.Hum. NIP 19690816200501200

Mengetahui Ketua Program Studi

Maria M. N. Nahak, S.Pd., M.Hum. NIP 19690816200501200

KATA PENGANTAR

Dalam langkah yang tersendat-sendat, penulis hampir menyita waktu dalam menyelesaikan proposal ini. Namun, sang aktor kehidupan tidak pernah membiarkan anak bangsa untuk berhenti berkarya di bawah tenda langit yang penuh misteri ini, sehingga penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan proposal yang berjudul “ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DESA LANU KECAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN” dengan baik. Penulis menyadari bahwa penulisan proposal ini dapat diselesaikan atas berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Yoseph Nahak Seran, S.Pd., M.Si. sebagai dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menyelesaikan proposal ini. 2. Maria M. N. Nahak, S.Pd., M.Hum. sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah sekaligus sebagai pembimbing II yang telah memberikan persetujuan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini. 3. Maria Prisila Oki, S.Pd., M.Hum. sebagai pembimbing I yang telah memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini.

4. Para dosen program studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia serta karyawan/i yang telah membantu penulis. 5. Kedua orang tuaku (Bapak Kain Sele dan Ibu Helena Banunaek) yang telah membesarkan, memotivasi dan mempercayai penulis hingga saat ini. 6. Kekasih tercinta Yusmina Eliseba Hauoni, S.Pd yang selalu setia menemani penulis dalam menyelesaikan proposal ini. 7. Teman-teman seperjuangan dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan proposal ini. Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif penulis sangat mengharapkan demi penyempurnaan proposal ini.

Kefamenanu, ................2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL .................................................................................................................. i PENGESAHAN ................................................................................................... ii KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii DAFTAR ISI ........................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 7 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 7 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 8 1.5 Batasan Konsep ......................................................................................... 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Analisis Struktur ........................................................................................ 12 2.2 Fungsi ........................................................................................................ 17 2.3 Sastra Lisan Toes ....................................................................................... 18 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ...................................................................................... 19 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian..................................................................... 19 3.3 Data Dan Sumber Data............................................................................. 20 3.4 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 20 3.5 Teknik Analisis Data ................................................................................ 21 3.6 Jadwal Penelitian...................................................................................... 22 3.7 Biaya Penelitian ....................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sastra berasal dari bahasa sansakerta ”shastra” yang artinya adalah tulisan yang mengandung intruksi atau pedoman. Kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Berbicara mengenai sastra berarti kita sedang berbicara mengenai keindahan berbahasa. Kesusastraan adalah sebuah unsur kebahasaan yang mempunyai nilai-nilai estetik yang tinggi. Berbicara mengenai sastra berarti kita mencoba untuk menggali nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam bahasa itu sendiri (struktur dan fungsinya). Karya sastra merupakan sebuah struktur, sehingga karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem. Kalimat disamping mengandung arti bahwa antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik dan saling menentukan. Struktur memiliki tiga ide dasar, yaitu ide kesatuan, ide transformasi dan ide pengaturan diri sendiri (Hawkes, 1978: 16). Pertama, struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagianbagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua, struktur itu berisi gagasan tranformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis. Struktur itu mampu melakukan prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru diproses dengan prosedur dan melalui prosedur itu. Ketiga, struktur itu mengatur diri sendiri, dalam arti struktur itu tidak

memerlukan pertolongan bantuan dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasinya. Setiap unsur mempunyai fungsi tertentu berdasarkan aturan dalam struktur itu. Dalam kemasyarakatan, sastra memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut. 1. Fungsi rekreatif Sastra berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat karena mengandung unsur keindahan 2. Fungsi didaktis Sastra memiliki fungsi pengajaran karena bersifat mendidik dan mengandung unsur kebaikan dan kebenaran 3. Fungsi estetis Sastra memiliki unsur dan nilai-nilai keindahan bagi para pembacanya. 4. Fungsi moralitas Sastra mengandung nilai-nilai moral yang menjelaskan tentang yang baik dan yang buruk serta yang benar dan yang salah. 5. Fungsi religius. Sastra mampu memberikan pesan-pesan religius untuk para pembacanya. Dalam kesusastraan, sastra dibagi menjadi dua, yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Sastra lisan merupakan karya sastra yang dapat kita temukan dalam masyarakat atau diwariskan secara turun temurun dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, sastra lisan dapat disebut sebagai folklor. Folk merupakan sebuah komunitas masyarakat tertentu yang memiliki ciri-ciri budaya yang sama. Sedangkan lore merupakan sebagaian kebudayaan masyarakat yang

disampaikan secara turun temurun dalam bentuk lisan. Jadi, folklor atau sastra lisan adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu yang diperoleh secara turun-temurun dari mulut ke mulut secara lisan. Bahasa Dawan merupakan salah satu bahasa daerah di pulau Timor yang juga adalah bagian dari kesusastraan. Atoni Meto selalu menggunakan bahasa Dawan dalam komunikasi sehari-hari. Bagi “Atoni Pah Meto” atau orang-orang Timor (suku Dawan), selalu menyebut bahasanya dengan istilah “lais Meto, uab Meto atau molok Meto”, yang berarti hal, masalah atau sesuatu yang perlu dibicarakan, “uab” atau “molok”, artinya bahasa, ucapan dan pembicaraan, “Meto” artinya kering, karena kata “Meto” berhubungan langsung dengan masyarakatnya yang mendiami atau tinggal di daerah kering dan mengolah lahan kering. Hal ini dapat dipahami bahwa suku “Atoni Pah Meto” tidak mengenal budaya tulis, namun yang dikenal adalah budaya lisan. Selain bahasa Meto merupakan alat komunikasi dalam keluarga dan masyarakat, bahasa Meto juga merupakan lambang kebanggaan masyarakat Timor, bahasa Meto juga menunjukkan identitas kedaerahan, yang mana bahasa Meto juga digolongkan ke dalam sastra lisan. Dalam khazanah kesusastraan suku Timor, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui sejarah yang panjang dari para leluhur. Di dalam tradisi masyarakat Timor, secara simultan meniscayakan terjadinya dialektika budaya yang saling mengisi dan melengkapi. Ekspresi estetik tradisi sastra

lisan Dawan dalam bentuk doa (onen atau toes), sumpah adat (tabison fanu), ceritera-ceriteraa historis (nu’u), narasi adat (natoni atau takanab) dan

sebagainya. Meskipun demikian, karya sastra lisan daerah tersebut penulis memfokuskan kajian pada “Toes Nono Mnah Ba”, termasuk salah satu tradisi sastra lisan yang diucapkan atau dituturkan dalam tradisi bertani “Atoni Pah Meto”, khususnya pada suku Sele, yang biasanya dilaksanakan pada permulaan atau awal mnah ba’ (makan jagung muda). Dalam upacara “Toes Nono Mnah Ba” biasanya dipimpin oleh “A’ naet” atau anak Sulung untuk memberkati setiap kepala keluarga dan seluruh anggota keluarga yang menghadiri upacara “Toes Nono Mnah Ba”, sehingga “mnah ba” yang akan dinikmati dapat menjadi berkah. Ritus “mnah ba” biasanya dilakukan di lopo mnasi (rumah adat) Suku Sele yang disebut lopo mnasi Fatusene. Toes merupakan salah satu bentuk tuturan adat yang ada dalam masyarakat Meto dalam melakukan suatu kegiatan. “Toes Nono Mnah Ba” sebagai salah satu sastra lisan yang dituturkan dalam bentuk jenis puisi

biasa, namun memiliki keunikan atau arti yang sangat mendalam. Masyarakat Amanatun Selatan, khususnya Desa Lanu dan terlebih khusus lagi pada Suku Sele selalu mengadakan upacara tersebut pada setiap tahun dengan penuturan “Toes Nono Mnah Ba”. Upacara ini bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, Raja Alam Semesta, para leluhur, maupun dewa-dewa, (Uisneno, haote in tuan ma in usin), yang dianggap mempunyai kekuatan untuk menjauhkan malapetaka, terutama sakit-penyakit, kematian dan kelaparan. Selain itu juga,

upacara tersebut bertujuan untuk melakukan pemujaan atau penghormatan kepada dewa dan roh nenek moyang. Sesuai dengan informasi yang penulis peroleh dari beberapa informan, maka “Toes Nono Mnah Ba” hanya dikusai oleh orang-orang tertentu saja yang disebut mafefa (tua adat), Sedangkan mafefa menurut Tarno adalah penyair lisan (lais tonis). Penyair lisan (Lasi Tonis) dalam masyarakat Timor diyakini merupakan orang yang diberkati dan memiliki kekuatan magis religius (Tarno, 1993: 16). Dia dipercaya memegang peranan utama dalam melaksanakan segala pelaksanaan upacara adat. Di desa-desa di seluruh NTT, sastra lisan bukanlah hal yang asing. Mereka yang menguasai, mendengar, memahami dan menghayati sastra, diaggap tinggi kedudukannya. Mafefa (tua adat) sering dilukiskan sebagai orang berilmu “tinggi” dan memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat karena menguasai “cipta sastra”. Tuturan-tuturannya dianggap lebih berharga dari pada mutiara. Kata-katanya dianggap menyampaikan dan menunjukkan kebenaran. Sastra lisan telah menjadi perbendaharaan kehidupan rohani masyarakat, khususnya

masyarakat yang hidup di pedesaan. Dilihat dari bentuknya, “Toes Nono Mnah Ba” merupakan puisi yang sangat sederhana, yakni terdiri dari satu bait empat baris. Dalam kesederhanaan bentuk toes, penulis melihat ada nilai yang sangat istimewa yang memiliki struktur dan fungsi dalam upacara “Toes Nono Mnah Ba”.

Toes merupakan salah satu jenis puisi yang dituturkan pada saat sebelum upacara pembukaan makan jagung muda. Toes ini biasanya dipimpin oleh A’naet (anak Sulung), dimana telah dipersiapkan sesajian seperti jagung, kacang-kacangan, sain (sesawi), serta hewan kurban (babi) yang sudah diletakkan pada tikar besar yang sudah dibentangkan dalam rumah adat (nahe naek). Dengan cara seperti ini, maka A’naet langsung mengungkapkan atau menuturkan dalam wujud tindakan ritual adat. Pada hakekatnya, toes merupakan doa (onen) yang artinya doa adat untuk melakukan komunikasi intensif dengan arwah leluhur (haote in uisne ma in tuan). Sesuai dengan penjelasan Toes Nono Mnah Ba’di atas maka upacara yang dilakukan oleh Suku Sele sebagai bagian dari kebudayaan suku Timor, isinya menunjukkan kekayaan rohani dalam bentuk nilai-nilai moral, gagasan, cita-cita, dan pedoman hidup masyarakat Timor (Desa Lanu, Kabupaten Timor Tengah Selatan) pada masa lampau baik tentang manusia secara pribadi maupun manusia dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan hidupnya. Bertolak dari penjelasan di atas, secara terperinci alasan penulis melakukan penelitian ini yaitu mengingat Toes Nono Mnah Ba’ ditengarai terdapat nilai-nilai luhur bangsa, isinya menunjukkan kekayaan rohani dalam bentuk nilai-nilai moral, gagasan, cita-cita, dan pedoman hidup masyarakat Timor (Desa Lanu, Kabupaten Timor Tengah Selatan) pada masa lampau maka Toes Nono Mnah Ba’ ini perlu dilestarikan atau diawetkan. Salah satu cara melesatarikan sastra lisan Timor, yaitu dengan melakukan penelitian

melalui aspek perekaman dan pendokumentasian. Selain alasan di atas juga penulis memiliki alasan yang berkaiatan dengan besik ilmu yang penulis geluti saat ini. Dalam kaitannya dengan pengajaran sastra di Perguruan Tinggi, lebih utamanya Mata Kuliah Sastra Daerah, antara lain terdapat pokok bahasan tentang struktur dan fungsi sastra lisan. Dengan mengacu pada kedua alasan di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TOES NONO MNAH BA’ PADA SUKU SELE DESA LANU KACAMATAN AMANATUN SELATAN KABUPATEN TIMOR

TENGAH SELATAN”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Bagaimanakah struktur “Toes Nono Mnah Ba” pada suku Sele Desa Lanu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS? 2. Apasajakah fungsi “Toes Nono Mnah Ba” pada suku Sele Desa Lanu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini, yaitu: a) untuk mengetahui dan mendeskripsikan Stuktur “Toes Nono Mnah Ba” dan menerjemahkan. b) untuk mengetahui fungsi dan menganalisis “Toes Nono Mnah Ba” agar dimasukan kedalam jenis sastra, khususnya puisi. 2. Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini, yaitu: 1. Untuk melestarikan tuturan adat tradisional masyarakat “Atoni Pah Meto” yang menjadi kekayaan budaya wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan. 2. Untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang perlu dilestarikan dalam ungkapan sastra lisan suku “Atoni Pah Meto”. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, manfaat dari penelitian, yaitu: a) untuk mempelajari makna budaya sastra lisan yang terkandung dalam upacara “Toes Nono Mnah Ba”. b) untuk mengkaji kembali ilmu sastra yang telah punah di tengah-tengah kehidupan masyarakat bagi ilmu sejarah dan adat istiadat. 2. Manfaat Praktis a) untuk memperkenalkan kekayaan budaya tradisional dan nilai-nilai budaya pada generasi berikutnya.

b) untuk menjadi motivasi bagi masyarakat “Atoni Pah Meto”, untuk mewariskan kebudayaan tradisional yang tidak mendapatkan

perhatian dan hampir punah.

1.5 Batasan Konsep Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap istilah-istilah yang berkaitan dengan judul penelitian ini, maka penulis perlu menjelaskan tentang istilah-istilah yang diperlukan sebagai berikut. a. Analisis Analisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk

memecahkan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang saling berkaitan atau berhubungan (Taum, 1992: 29). b. Struktur Struktur merupakan sesuatu yang disusun secara teratur, sacara keseluruhan yang utuh dan bagian-bagian lainnya yang membentuk karya sastra yang tidak dapat berdiri sendiri dengan unsur-unsur lainnya (Dalnandjaya, 1984: 192). c. Fungsi Fungsi adalah suatu kegunaan atau faal yang diambil dalam melakukan sesuatu. d. Toes Toes merupakan salah satu bentuk tuturan yang ada dalam masyarakat “Atoni Pah Meto” dalam melakukan suatu kegiatan (Wilhelmus, 2001: 122).

e. Sastra Lisan Menurut Rafiek (2010: 53), menyatakan bahwa sastra lisan adalah karya yang penyebarannya disampaikan dari mulut kemulut seara turun temurun. f. Meto Meto adalah sebutan bagi suku yang mendiami pulau Timor yang kebanyakan orang menyebutnya Dawan. Namun dalam penelitian ini, penulis lebih cenderung menyebutnya sebagai suku “Meto”, yang artinya kering, karena orang-orangnya tinggal di daratan pedalaman lahan kering. g. Toes Nono Mnah Ba’ Toes merupakan salah satu jenis puisi yang dituturkan pada saat upacara pembukaan makan jagung muda. Toes ini biasanya dipimpin oleh A’naet (anak Sulung), dimana telah dipersiapkan sesajian seperti jagung, kacang-kacangan, sain (sesawi), serta hewan kurban (babi) yang sudah diletakkan pada tikar besar (nahe naek) yang sudah dibentangkan dalam rumah adat (lopo naek). Dengan cara seperti ini, maka A’naet langsung mengungkapkan atau menuturkan dalam wujud tindakan ritual adat. Pada hakekatnya, toes merupakan doa (onen) yang artinya doa adat untuk melakukan komunikasi intensif dengan arwah leluhur (haote in uisne ma in tuan). h. Folklore Kata folklor berasal dari kata bahasa inggris folklore. Kata itu adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk yang sama arti dengan kata kolektif (collectivity). Menurut Dundes (dalam Danandjaja,

2007 : 1) folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik sosial dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompokkelompok lain. Jadi Folk adalah sinonim dengan kolektif, yang juga memiliki cirriciri pengenalan fisik atau kebudayaam yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai suatu kesatuan masyarakat. Sedangkan lore adalah tradisi folk yaitu sebgian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat (Memonic Device). Jadi folklore adalah sebgain kebudayan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, diantara kolektif macam apasaja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (memonic device) .

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Tulisan

ini

merupakan

karya

ilmiah

yang

membutuhkan

pertanggungjawaban sacara ilmiah. Oleh karena itu, harus dibangun atas dasar karya sastra yang relevan dan dijadikan sebagai kerangka konseptual dalam penelitian ini, sehingga teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai acuan, yaitu teori strukturalisme.

2.1 Teori Struktur Menurut Abrams (Pradopo, 2002: 21), karya sastra itu adalah sesuatu yang mandiri, bebas dari pengaruh sekitarnya, baik pengarang dan pembaca. Dari pengertian ini konsep struktur dalam karya sastra mengutamakan totalitas. Pengertian ini diperkuat oleh Teeuw (Pradopo, 2002: 72, 276) bahwa struktur itu murni untuk membongkar apa yang membentuk karya sastra. Hubungan pengertian para ahli ini dengan konsep struktur yang diaplikasikan dalam penelitian Toes Nono Mnah Ba’ adalah bangun struktur puisi. Yang dimaksud dengan struktur adalah keseluruhan hubungan antara berbagai unsur sebuah teks, sedangkan teori strukturalisme menekankan fungsi karya sastra sebagai sebuah struktur yang otonom atau sebagai sebuah kesatuan yang organik. Hal ini terlihat pada pendekatan struktural yang dikemukakan oleh Teeuw (1984: 135) dan Pradopo (1993: 117) pada

prinsipnya

melihat

karya

sastra

secara

otonom,

sehingga

dalam

pemahamannya harus secara keseluruhan. Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan sastra yang cukup tua dalam perkembangan sastra dari segi analisis ciri-ciri intrinsik pada pendekatan struktural. Bagi peneliti sastra, analisis struktural merupakan tugas utama atau pekerjaan pendahuluan, karena karya sastra merupakan dunia dalam kata yang mempunyai kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Teeuw (Sukada, 1987: 30-31), merumuskan kembali pandangannya itu dalam kutipan berikut “strukturalisme membawa (kembali) perolehan yang langgeng, dalam artian bahwa analisis struktur sebuah karya merupakan prasarana bagi studi manapun juga yang lebih lanjut, pada esensi pendekatan strukturalis terhadap karya sastra tak lain dan tak bukan usaha untuk membaca dan memahami sebaik mungkin binaan kata itu”. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, gambaran, bagian yang menjadi satu komponen yang secara bersama-sama membentuk kebulatan yang indah dalam memahami sastra lisan meto. Pradopo (dalam Hawkes, 1995: 75) mengemukakan bahwa prinsip strukturalisme ialah karya sastra itu merupakan struktur yang unsur-unsurnya saling berkaitan erat dengan unsur lainnya atau secara keseluruhan.

Roman Ingarden menyatakan bahwa, “Puisi” (sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu dianalisis sehingga dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual (Danandjaya, 1984: 93). Unsur-unsur tersebut meliputi diksi atau pilihan kata, bunyi (rima, irama), larik atau baris, bait, gaya bahasa dan makna. Karya sastra tidak hanya merupakan sebuah sistem norma karena system ini terdiri dari beberapa strata atau lapis norma. Roman Ingarden (dalam Pradopo, 1987: 14). 1. Diksi atau Pilihan Kata Diksi puisi adalah kata-kata yang dipilih dan disusun dengan cara sedemikian rupa, sehingga artinya dapat menimbulkan suatu maksud untuk memahami imajinasi ekstrinsik, Barfield (dalam Pradopo, 2002: 54). Diksi merupakan salah satu aspek penting yang dianalisis dalam puisi. Diksi adalah pilihan kata penyair. Penyair hendak mencurahkan perasaan dan isi pikirannya seperti apa yang ada di batinnya. Selain itu tentunya penyair juga ingin mengekspresikan perasaannya dan

pengalaman jiwanya sehingga harus dipilih kata-kata yang tepat. Barfield (dalam Pradopo, 1987: 54) mengemukakan bahwa bila dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut „diksi puitis‟.

Pada akhirnya penyair harus lebih cermat dalam memilih kata untuk mengungkapkan atau mengekspresikan pengalaman jiwanya secara padat dengan mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat. 2. Bunyi Bunyi adalah sesuatu yang didengar atau ditangkap oleh telinga. Ada beberapa unsur bunyi, yaitu: a. Rima Rima adalah bunyi yang berselang dan berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Bunyi dalam puisi

menghasilkan rima dan ritme. Rima merupakan pengulangan bunyi yang ada dalam puisi untuk menghasilkan efek yang lebih merdu. Pengulangan bunyi membentuk musikalitas atau orkestra. Khusus berarti persamaan bunyi atau dalam istilah tradisional disebut sajak. Secara luas rima menyangkut perpaduan bunyi konsonan dan vokal untuk membangun orkestrasi atau musikalitas (Waluyo, 1987: 90). Penciptaan rima dalam sebuah puisi bisanya juga memiliki tujuan khusus yaitu menciptakan makna. b. Irama Irama adalah paduan bunyi yang menimbulkan unsur

musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjangpendek dan kuat-lemah, yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta makna tertentu (Amimuddin, 2000: 137).

c. Ragam bunyi Ragam bunyi meliputi: 1. Euphony Bunyi euphony adalah ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, totalitas maupun gerak berupa bunyi vokal yang mengandung unsur yang sangat menyenangkan (Aminuddin, 2000: 138). 2. Cocophony Cocophony adalah ragam bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian atau kepedihan. Bunyi cocophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. 3. Anomatope Anomatope adalah sebagian bunyi dalam puisi yang umumnya hanya memberikan sugesti suara yang sebenarnya. 3. Larik atau Baris Larik atau baris puisi adalah satuan yang pada umumnya lebih besar dari kata atau telah mendukung satuan makna

tertentu,(Aminuddin, 2000: 145) 4. Bait Puisi Bait adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok, dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran yang terpisah dari kelompok larik.

5. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis atau penutur yang akan menimbulkan sesuatu perasaan tertentu dalam hati para pembaca atau pendengar (Sudjiman dalam Pradopo, 2000: 90). 6. Makna Makna sebuah teks adalah hubungannya dengan konteks. Strukturalisme memberikan suatu cara berdisiplin untuk memulai dengan cara konteks suatu karya sastra sebagai langkah pertama dalam menganalisis struktur itu, kita akan melangkah keluar dari teks ke dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang merupakan konteks yang lebih luas (Sukada, 1985: 31). 2.2 Fungsi Fungsi adalah suatu kegunaan atau faal yang dapat diambil dalam melakukan sesuatu. Demikian juga dengan karya sastra, memiliki fungsi dalam masyarakat, apakah itu fungsi langsung atau tidak langsung. Bila dilihat secara langsung, fungsi karya sastra itu pada dasarnya adalah media penyampaian isi hati pengarang atas apa yang dirasakan atau yang dialami oleh pengarang itu sendiri atas apa yang terjadi pada masyarakat. Karya sastra dapat dikatakan merupakan gambaran tentang apa yang terjadi dalam masyarakat. Dengan kata lain, hal yang disampaikan dalam karya sastra adalah cerminan masyarakat.

2.3 Sastra Lisan Toes Sastra lisan “Toes Nono Mnah Ba” merupakan suatu ritus adat yang dilakukan sebelum pembukaan makan jagung muda. Dalam ritus ini dilaksanakan di lopo mnasi yang dipimpin oleh a”naet (anak Sulung) yang memiliki otoritas. Menurut Hutomo (1192: 2), menyatakan bahwa sastra lisan merupakan kesusastraan yang mencakup ekspresi sastra warga suatu kebudayaan yang disebarluaskan dan diturunkan sacara lisan dari mulut ke mulut. Toes merupakan salah satu jenis puisi yang dituturkan pada saat upacara pembukaan makan jagung muda. Toes ini biasanya dipimpin oleh a’naet (anak Sulung), dimana telah dipersiapkan sesajian seperti jagung, kacang-kacangan, sain (sesawi), serta hewan kurban (babi) yang sudah diletakkan pada tikar besar yang sudah dibentangkan dalam rumah adat (nahe naek). Dengan cara seperti ini, maka a’naet langsung mengungkapkan atau menuturkan dalam wujud tindakan ritual adat. Pada hakekatnya, toes merupakan doa (onen) yang artinya doa adat untuk melakukan komunikasi intensif dengan arwah leluhur (haote in uisne ma in tuan).

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode berasal dari kata methodos, bahasa latin sedangkan methodos itu sendiri berasal dari kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodos berarti jalan cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan sebab akibat berikutnya. (Nyoman, 2004: 34) Metode penelitian adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh dalam usaha untuk menemukan atau menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan demikian, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan berpodoman pada analisis strukturalisme (Rafiek, 2010: 75). 3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Lanu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. 2. Waktu Penelitian Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah selama ± 2 bulan.

3.3 Data Dan Sumber Data 1. Data Dalam penelitian ini, informasi serta data yang diperoleh adalah tuturan “Toes Nono Mnah Ba” serta memperoleh informasi dari nara sumber, yaitu penutur. Nara sumber dari penelitian ini adalah mafefa (penyair lisan) di desa Lanu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS. 2. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, mafefa (penyair lisan) pada suku Sele di desa Lanu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data-data yang akurat dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan tiga (3) cara atau teknik, yaitu: 1. Observasi atau pengamatan Dalam tahap observasi ini, peneliti secara langsung mengamati penuturan “Toes Nono Mnah Ba”. 2. Wawancara Dalam pengumpulan data “Toes Nono Mnah Ba”, dilakukan dengan cara mewawancarai penutur “Toes Nono Mnah Ba”. Wawancara yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam melakukan wawancara dengan masyarakat meto untuk memperoleh sesuatu secara umum. Berdasarkan teknik pengumpulan data ini, maka perlengkapan

yang harus dipersiapkan adalah tape recorder, kaset, buku catatan dan bulpen. 3. Perekaman Pada tahap ini, peneliti merekam secara langsung “Toes Nono Mnah Ba” yang dituturkan oleh penutur asli, yaitu mnais kuan atau tua adat. Teknik perekaman ini dilakukan dengan maksud untuk menghimpun informasi dalam upacara “Toes Nono Mnah Ba”.

3.5 Teknik Analisis Data Data yang telah diperoleh dari hasil penelitian ini akan dianalisis dengan teknik sebagai berikut: 1. Transkripsi Setelah direkam tuturan “Toes Nono Mnah Ba”, dicatat, penulis menerjemahkannya dalam bentuk teks tertulis sesuai aslinya. Untuk kepentingan kearsipan teks lisan atau tuturan, maka dilengkapi dengan identitas informan yang lengkap, yaitu nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan dan bahasa yang dikuasai. 2. Terjemahan Teks tersebut menuliskan rumuskan “Toes Nono Mnah Ba” dalam bentuk bahasa Meto dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baku. 3. Analisis Setelah data-data diterjemahkan, maka penulis menganalisis struktur dan fungsi dari “Toes Nono Mnah Ba” dengan menggunakan teori sastra lisan dan pendekatan strukturalisme analisis terhadap struktur toes.

4. Penyimpulan Berdasarkan hasil analisis secara menyeluruh terhadap data yang ada, maka diambil suatu kesimpulan tentang bangun struktur puisi dan fungsi “Toes Nono Mnah Ba”.

3.6 Jadwal Penelitian Tahap pelaksananakan penelitian akan dilaksanakan pada akhir bulan Februari 2012 sampai akhir bulan Maret 2012. Adapun tahapan-tahapan penelitiannya adalah sebagai berikut. Tabel 1 Jadwal Penelitian No 1 2 3 4 5 Kegiatan Perencanaan Pelaksanaan Analisis data Penyusunan laporan Ujian Skripsi dan Perbaikan Skripsi I √ II √ √ √ √ Bulan III IV

V

VI

3.7 Biaya Penelitian Rincian biaya dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: Tabel II Rincian Biaya Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 Rincian Biaya Penelitian Persiapan proposal Seminar Revisi/perbaikan proposal Penelitian Penulisan skripsi Revisi/perbaikan skripsi Transportasi Jilid skripsi Jumlah Jumlah Rp. 750.000 Rp. 50.000 Rp. 150.000 Rp. 500.000 Rp. 750.000 Rp. 750.000 Rp. 250.000 Rp. 250.000 Rp. 2.750.000

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 2000. proposal-skripsi. vatmy.files.wordpress.com/ Danandjaja James. 2007. Folklor Indonesia (Ilmu Gosip, Dongeng Dan LainLain). Jakarta. Pustaka Utama Grafiti. Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: PT. Pustaka Belajar Hutomo. 1991. Mutiara Yang Tak Terlupakan (Pengantar Studi Sastra Lisan). Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur. http://sheltercloud.blogspot.com/2009/11/pengertian-dan-fungsi-sastra.htmlb diakses tanggal 30 Juli 2011 http://aamovi.wordpress.com/2010/02/20/teori-analisis-struktur-naskah-sastra/ diakses tanggal 30 Juli 2011 http://watuneso.blogspot.com/2010/04/sastra-lisan-adat-lio.html diakses tanggal 30 Juli 2011 M. Rafiek. 2010. Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik. Bandung: PT. Refika Aditama Nyoman R. K. 2004. Teori, Metode Dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Pudentia, MPSS (Editor). 1998. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: CV. Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan repository.usu.ac.id/bitstream/ diakse tanggal 30 Juli 2011 Sukada, Made. 1993. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia Masalah Sistematika Analisis Struktur Fiksi. Bandung: Angkasa. Tarno, dkk. 1993. Sastra Lisan Dawan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud Taum Y. Yosep. 1992. Bahasa Merajut Sastra Menurut Budaya. Universitas Michigan: Sanata Darma. Waluyo Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi http://books.google.co.id/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->