P. 1
Definisi Pembelajaran Kontekstual 1

Definisi Pembelajaran Kontekstual 1

|Views: 52|Likes:
Published by Amel Leya

More info:

Published by: Amel Leya on Mar 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

Definisi Pembelajaran Kontekstual (CTL) Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kontekstual tidak ada sebuah definisi atau

pengertian tunggal. Setiap pakar dan komunitas pakar memberikan definisi beragam. Namun mereka bersepakat bahwa hakekat pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang mendorong pembelajar untuk membangun keterkaitan, independensi, relasi-relasi penuh makna antara apa yang dipelajari dengan realitas, lingkungan personal, sosial dan kultural yang terjadi sekarang ini (Moh.ImamFarisi,2005). Definisi Pembelajaran Kontekstual atau CTL menurut para ahli. Ada tiga ahli pendidikan yang kami ambil untuk mendefinisikan pembelajaran kontekstual ini (CTL). Definisi tersebut antara lain. Elaine B. Johnson Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disebut secara lengkap dengan Sistem Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Dengan pengertian tentang pembelajaran kontekstual diatas, diperlukan usaha dan strategi pengajaran yang tepat, sehingga dapat dicapai tujuan untuk mengantarkan guru dan murid dalam sebuah pendidikan yang kontekstual. Untuk mencapai tujuan ini, sistem pembelajaran kontekstual mempunyai delapan komponen utama. Komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut: 1. membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, 2. melakukan pekerjaan yang berarti, 3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, 4. melakukan kerja sama, 5. berpikir kritis dan kreatif, 6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang (konstruktivisme), 7. mencapai standar yang tinggi, 8. dan menggunakan penilaian autentik. Akhmad Sudrajat Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

3. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. sedikit demi sedikit. Melakukan hubungan bermakna (making meaningful connection). membuat keputusan. dan dari proses mengonstruksi sendiri. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) Siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif yaitu dapat menganalisis. sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas. orang yang dapat bekerja sendiri atau kelompok. memecahkan masalah. sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. 5. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Menurut Johnson ada delapan komponen utama dalam pembelajaran kontekstual 1.Diknas Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. . 2. 4. dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing). Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok. Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuan. dan menggunkan logika dan bukti-bukti. ada hubungannya dengan penentuan pilihan. ada urusannya dengan orang lain. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning) Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat. membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling bekomunikasi. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan ( doing significant work). dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata. membuat sintesis. Bekerja sama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual.

Siswa menghormati temannya dan orang dewasa. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata. minat. 8. dan laporan tertulis. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standard) Siswa mengenal dan mencapai setandar yang tinggi yaitu mengidentifikasi tujuan dan memotifasi siswa untuk mencapainya. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar. bukan hanya pada hasil pembelajaran. Menggunakan penilaian yang autentik (using authentic assesment) Proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. menganalisa. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual) Siswa memelihara pribadinya yaitu mengetahui. Namun siswa tidak akan berhasil tanpa dukungan orang dewasa. penilaian authentic diarahkan pada proses mengamati. oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. siswa diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Adapun bentukbentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portfolio. Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar. portfolio juga memberikan kesempatan yang lebih luas untuk berkembang serta memotivasi siswa. memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Sebagai contoh. Dengan demikian. Para penonton dapat memberikan evaluasi . dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. serta bakat dari masing-masing siswa. siswa diminta membentuk kelompok proyek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan siswa. Dalam penilaian melalui demonstrasi. melainkan melihat pada proses siswa sebagai pembelajar aktif. 7. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar.6. Sebagai contoh. memiliki harapan-harapan yang tinggi. Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. memberi perhatian. Portfolio merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan siswa dalam konteks belajar di kehidupan sehari-hari. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka. Gambaran perkembangan pengalaman siswa perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. siswa diminta untuk melakukan survey mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya. Selain itu. demonstrasi. tugas kelompok. Tugas kelompok dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek.

siswa diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan drama. merefleksikan dan menyempurnakan pembelajaran. 3. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri. Siswa mengunakan kemampuan berpikir kritis. Melakukan penilaian terhadap pemahaman siswa. Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan mereka. diskusi. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan. 3. 4.html#ixzz1cz74hsYL Beberapa ciri pembelajaran kontekstual antara lain: 1. 5. dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. agar proses pengajaran kontekstual dapat lebih efektif kaitannya dengan pembelajaran siswa. 6. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. Perilaku dibangun atas kesadaran diri. selanjutnya memilih dan mengkaitkannya dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontekstual. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. ikut bertanggungjawab atas terjadinya pembelajaran yang efektif. Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengkaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan mengkaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Untuk keperluan itu. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl. . dan saling mengoreksi. guru diharuskan merencanakan. Berkaitan dengan peran guru. 2.pertunjukkan siswa. terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran efektif. Sebagai contoh. Read more: http://kafeilmu. 7. 5. mengimplementasikan. Selanjutnya siswa didorong untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep/ teori yang sedang dipelajarinya 6. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut : 1. 2. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. 4. Hasil penilaian tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap rancangan pembelajaran dan pelaksanaannya.

bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Hal ini sangat penting. Kelemahan 1. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula. peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. 2. . Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. sihingga tidak akan mudah dilupakan. Guru lebih intensif dalam membimbing. Dengan demikian. Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning Kelebihan 1. Karena dalam metode CTL.Penerapan CTL dalam pembelajaran Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Like .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->