You are on page 1of 2

Mudik Ditinjau dari Berbagai Sisi

Arfan Yap Bano

08/09/2010 10:30

Liputan6.com, Jakarta: Idul Fitri bagi sebagian warga identik dengan mudik, dan saat ini musim itu pun telah tiba. Jutaan orang pun bergegas untuk pulang ke kampung halamannya dalam rangka menyambut hari kemenangan di tempat kelahirannya. Tahun ini diperkirakan ada sekitar 17,4 juta orang yang akan mudik ke kampung halamannya. Seorang teman pernah merasa heran dengan fenomena mudik ini. Bagaimana tidak orang rela berdesak-desakan dan rebutan di kendaraan umum baik yang berjenis kereta api mapun bus, hanya untuk bisa mudik. Bahkan rela menyambung nyawa dengan menggunakan sepeda motor agar dapat bersilaturahmi dengan kerabatnya di kampung halamannya. "Tidak masuk akal, tidak rasional," tutur sang teman yang memang tidak pernah mudik, karena orang tua dan kerabatnya banyak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Namun beberapa tahun kemudian sahabat saya itu kena tulahnya. Dirinya bahkan saat ini sudah menjadi salah seorang pemudik. Setelah menikah dengan wanita asal Lampung, dirinya pun rutin menjadi pemudik setiap tahun untuk mengunjungi mertuanya. "Istri cemberut aja tuh kalau gak mudik," katanya setelah menjadi orang yang "Tidak Rasional dan Tidak Masuk Akal." Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, mudik adalah kegiatan perantauan atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Berbagai ahli dari berbagai bidang studi banyak berpendapat soal mudik ini. Dari sudut ekonomi misalnya, ada trilyunan rupiah yang dibawa para pemudik, sehingga dana itu diprediksikan dapat menggerakan ekonomi di daerah. Menurut pakar keuangan keluarga Ligwina Hananto, pemudik membuat distribusi uang di desa berputar secara merata. Distribusi uang itu paling terasa di bidang transportasi dan pariwisata. Sedangkan menurut Arifin Purwakananta, Direktur Dompet Dhuafa, diperkirakan ada Rp 80,9 triliun uang yang mengalir dari para pemudik. Dana puluhan triliun tersebut akan mengalir melalui transportasi yang digunakan pemudik, kedermawanan kepada sanak keluarga, dan untuk wisata. Aliran dana yang dibawa para pemudik bila dialokasikan pada usaha yang produktif yang dapat mempunyai efek pengganda yang luar biasa, seperti belanja oleh-oleh bagi pemudik sudah tentu akan menghidupi ribuan industri kecil yang ada di desa. Dengan adanya mudik tersebut paling tidak ekonomi perdesaan bisa menggeliat sesaat.

Sedangkan bagi sisi demografi atau kependudukan, fenomena mudik akan meningkatkan urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Para pemudik yang memamerkan keberhasilannya di perantauan akan menjadi iklan efektif bagi para kerabat atau warga di kampungnya untuk ikut merantau. Tingginya tingkat urbanisasi dan ketidaksiapan kota menerima mereka akan berakibat timbulnya berbagai masalah sosial. Himbauan Gubernur DKI Fauzi Bowo agar pemudik tidak membawa sanak saudaranya yang tidak siap tinggal di Jakarta, hanya akan menjadi retorika tanpa arti. Tingkat urbanisasi tetap saja tinggi. "Meski sudah mengalami tren penurunan, tahun lalu misalnya tingkat urbanisasi yang masuk Jakarta tinggal 68.000, turunnya 20 persen dari tahun sebelumnya yang 80.000-an, sebelumnya lagi lebih 100.000-an," ujar Foke. Namun ternyata penurunan jumlah pendatang di Jakarta tersebut diiringi dengan peningkatan jumlah pendatang di kota-kota sekitar Jakarta, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. Peningkatan jumlah urbanisasi warga di sekitar wilayah ibu kota ini pada akhirnya tetap saja menekan Jakarta sebagai tempat yang dianggap memiliki magnet paling tinggi. Mereka bisa tinggal di Bekasi, Depok, atau Tangerang, tapi fokus mencari uang tetap di Jakarta. Sedangkan dari sisi agama, mudik memang bukan bagian dari ajaran agama Islam. Namun menurut cendikiawan muslim Quraish Shihab dalam bukunya "Lentera Hati" mudik biasanya bermotifkan silaturahmi. Mudik yang baik adalah jika pemudik yang berkunjung, dia membawa sesuatu meskipun hal itu kecil ataupun sedikit. Hal ini menurut Shihab sesuai dengan makna silaturahmi yang dikenal dalam ibadah muamalah. Kata silaturahim sendiri diambil dari kata shilat dan rahim. Kata shilat bisa diartikan "menyambung", "menghimpun", dan bisa pula diartikan "pemberian". Sedangkan rahim berarti "kasing sayang", kemudian berkembang maknanya dalam arti "kandungan". Jadi, rahim bisa mengandung makna relasi antara anak dan orang tua dan kasih sayang. sepertinya sah saja jika Anda ingin bermudik. Jaga keselamatan diri Anda dan keluarga selama menempuh perjalanan, jangan lupa berdoa untuk memohon perlindungan Allah selama di perjalanan. Selamat bermudik ria, selamat bersilaturahim dengan orang-orang dekat Anda di kampung halaman.(Dirangkum dari berbagai sumber/AYB)