MAKALAH PENGOLAHAN AIR DAN LIMBAH INDUSTRI

DI SUSUN OLEH :

NAMA NIM GROUP MODUL

: : : :

TIKA WULANDARI 05 01 076 C AMMONIUM (NH4)

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI MEDAN

2

2007 BAB I PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan sektor industri pada beberapa daerah telah terjadi berbagai kasus pencemaran terhadap sumber-sumber air, lebih jauh dari itu bahan pencemar air yang seringkali menjadi masalah terhadap masyarakat dan lingkungan adalah terdapatnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Berbagai cara penanggulangan pencemaran sumber air telah banyak dilakukan baik secara langsung pada sumber pencemaran maupun pada badan air penerima limbah. Teknik pengurangan limbah atau penghilangan limbah pada prinsipnya dapat dibagi menjadi 4 (empat) cara, yaitu :  Menghilangkan dan mengurangi limbah pada sumbernya.  Mendaur ulang atau menggunakan kembali limbah di lokasi kegiatan atau di luar lokasi kegiatan.  Mengolah limbah untuk mengurangi tingkat toksisitas, mobilitas, kuantitasnya.  Membuang limbah dengan cara yang aman seperti di lahan urug (landfill).

Proses bioremediasi adalah salah satu teknik pengurangan atau penghilangan tingkat toksisitas, mobilitas dan kuantitas B3 pada sumber air. Proses ini dimana bahan organik berbahaya didegradasi secara biologis, menjadi senyawa lain yang lebih sederhana misalnya karbon dioksida, metan, air, garam anorganik, biomassa dan hasil lain yang sangat sederhana komposisinya. Pengembangan teknik bioremediasi untuk proses minimasi

3 bahkan degradasi bahan pencemar secara biologis tersebut, adalah teknologi alternative pengendalian pencemaran sumber-sumber air oleh limbah B3 secara in situ. Hal ini dikarenakan prinsip proses bioremediasi, dimana dengan memanfaatkan aktifitas mikroflora atau mikroorganisme bahan pencemar dirubah secara biologis menjadi senyawa sederhana berdasarkan siklus karbon, sehingga seluruh proses penghilangan dan pengurangan bahan pencemar dapat dikembangkan secara langsung di lapangan. Perubahan kualitas air di sungai menyebabkan perubahan komposisi komunitas makrozoobentos. Untuk itu diperlukan suatu upaya pemantauan mengenai status kualitas sungai dengan menggunakan hewan makrozoobentos. Kemerosotan kualitas air sungai biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti buangan dari kumbahan domestik, perindustrian, binatang ternakan dan pertanian. Ini akan meninggalkan banyak kesan buruk kepada hidupan akuatik dan manusia. Justru itu, untuk menilai kualiti air sungai, Jabatan Alam Sekitar, Malaysia telah menggunakan suatu parameter yang dikenali sebagai Indeks Kualiti Air (IKA). Pengukuran nilai IKA melibatkan himpunan parameter - parameter pH, oksigen terlarut (DO), permintaan oksigen biokimia (BOD), permintaan oksigen kimia (COD), jumlah pepejal terampai (TSS) dan ammonia. Nilai IKA antara 81 -100% menunjukkan air sungai yang di uji adalah dalam keadaan bersih. Bila antara 60 - 80% menunjukkan air sungai dalam keadaan sedikit tercemar dan 0 - 59% menunjukkan air sungai dalam keadaan tercemar.

4

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Pencemaran Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam air / udara, dan berubahnya tatanan (komposisi) air / udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya. Pada saat ini, pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:  Pencemaran air  Pencemaran udara  Pencemaran tanah

1.Pencemaran air

5 Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

2.Pencemaran udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global. Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer

6 karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder. Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat. Kegiatan manusia  Transportasi  Industri  Pembangkit listrik  Pembakaran (perapian, kompor, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar) Sumber alami  Gunung berapi  Rawa-rawa  Kebakaran hutan  Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi Sumber-sumber lain  Transportasi amonia  Kebocoran tangki klor  Timbulan gas metana dari lahan uruk /tempat pembuangan akhir sampah  Uap pelarut organik Jenis-jenis pencemar

7  Karbon monoksida  Oksida nitrogen  Oksida sulfur  CFC Hidrokarbon  Ozon  Volatile Organic Compounds  Partikulat Dampak kesehatan Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paruparu, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik. Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015. Dampak terhadap tanaman Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik

8 hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis. Hujan asam pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:  Mempengaruhi kualitas air permukaan  Merusak tanaman  Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan  Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan Efek rumah kaca Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global. Dampak dari pemanasan global adalah:  Pencairan es di kutub  Perubahan iklim regional dan global  Perubahan siklus hidup flora dan fauna Kerusakan lapisan ozon Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan

9 penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekulmolekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon. Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

3.

Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping). Ketika suatu zat berbahaya / beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Dampak Pada kesehatan Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal

10 sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi. Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian. Dampak Pada ekosistem Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lamakelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

11 Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama. Penanganan Remediasi Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi. Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak / tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit. Penanganan Bioremediasi Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

12 Biofuel Biofuel adalah setiap bahan bakar baik padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Biofuel dapat dihasilkan secara langsung dari tanaman atau secara tidak langsung dari limbah industri, komersial, domestik atau pertanian. Ada tiga cara untuk pembuatan biofuel: pembakaran limbah organik kering (seperti buangan rumah tangga, limbah industri dan pertanian); fermentasi limbah basah (seperti kotoran hewan) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas (mengandung hingga 60 persen metana), atau fermentasi tebu atau jagung untuk menghasilkan alkohol dan ester; dan energi dari hutan (menghasilkan kayu dari tanaman yang cepat tumbuh sebagai bahan bakar). Proses fermentasi menghasilkan dua tipe biofuel: alkohol dan ester. Bahan - bahan ini secara teori dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil tetapi karena terkadang diperlukan perubahan besar pada mesin, biofuel biasanya dicampur dengan bahan bakar fosil. Uni Eropa merencanakan 5,75 persen etanol yang dihasilkan dari gandum, bit, kentang atau jagung ditambahkan pada bahan bakar fosil pada tahun 2010 dan 20 persen pada 2020. Sekitar seperempat bahan bakar transportasi di Brazil tahun 2002 adalah etanol.

B.

Senyawa Organik Kimia organik adalah percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur,

sifat, komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Definisi asli dari kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga

13 sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyama organik maupun anorganik. Contoh lainnya adalah larutan HCl, larutan ini berperan besar dalam proses pencernaan makanan yang hampir seluruh organisme (terutama organisme tingkat tinggi) memakai larutan HCl untuk mencerna makanannya, yang juga digolongkan dalam senyawa anorganik. Mengenai unsur karbon, kimia anorganik biasanya berkaitan dengan senyawa karbon yang sederhana yang tidak mengandung ikatan antar karbon misalnya oksida, garam, asam, karbid, dan mineral. Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada senyawa karbon tunggal dalam senyawa organik misalnya metan dan turunannya.

C.

Ion Ammonium Ion – ion Ammonium diturunkan dari ammonia, NH3 dan ion Hidrogen H+. Ciri –

cirri khas ion ini adalah serupa dengan ion khas logam – logam alkali. Dengan elektrolisis memakai katode dari merkurium dapat dibuat dari amonim amalgam, yang mempunyai sifat – sifat serupa dengan amalgam dari natrium atau kalium. Garam – garam ammonium umumnya adalah sneyawa – senyawa yang larut dalam air, dengan membentuk larutan yang tidak berwarna (kecuali bila anionnya berwarna). Dengan pemanasan, semua garam ammonium terurai menjadi ammonia dan asam yang sesuai. Kecuali jika asamnya tidak mudah menguap, garam ammonium dapat dihilangkan secara kuantitatif dari campuran kering dengan memanaskan.

Reaksi – reaksi ion ammonium

14 Untuk mempelajari reaksi – reaksi ini, dapat dipakai larutan ammonium klorida NH4Cl. 1. Larutan natrium hidroksida Gas ammonia dilepaskan ketika dipanaskan. NH4+ + OHNH3 ↓ + H2O

Ini dapat diidentifikasikan : a. Dari baunya (dengan hati – hati ciumlah uap setelah mengangkat tabung uji atau gelas piala kecil dari api) b. Dari terbentuknya uap putih ammonium klorida bila sebuah batang kaca yang dibasahi asam klorida pekat dipegangi dalam uapnya. c. Dari fakta bahwa gas ini menyebabkan kertas lakmus merah berubah menjadi biru atau kertas kunyit menjadi coklat d. Dari kemampuannya untuk mengubah kertas saring yang dibasahi larutan merkurium (I) nitrat menjadi hitam (ini adalah uji yang sangat terpercaya) e. Kertas saring yang dibasahi larutan mangan (II) klorida dan hydrogen peroksida memberi warna coklat, karena oksidasi terhadap mangan oleh larutan basa yang terbentuk itu. Dalam uji I (d), terbentuk campuran merkurium (II) amidonitrat (endapan putih) dan merkurium (endapan hitam): 2NH3 + Hg22+ + NO3Hg(NH2)NO3 ↓ + Hg ↓ + NH4+

Dalam uji I (e) terbentuk mangan (IV) oksida berhidrat: 2NH3 + Mn2+ + H2O2 + H2O MnO(OH)2 ↓ + 2NH4+

15 2. (II)) Endapan coklat atau pewarnaan coklat atau kuning dihasilkan sesuai dengan jumlah ammonia atau ion ammonium yang terdapat. Endapan adalah merkurium (II) amidoiodida basa : NH4+ + 2[HgI4]2- + 4OHHgO . Hg(NH2)I ↓ + 7I- + 3H2O Reagensia Nessler (Larutan basa dari kalium tetraiodomerkurat

Rumus endapan coklat yang ditulis sebagai 3HgO . Hg(NH3)2I2 dan sebagai NH2.Hg2I3. Uji ini luar biasa peka, dan akan mendeteksi runutan ammonia yang terdapat dalam air minum. Semua logam, kecuali natrium atau kalium tidak boleh ada. Reagensia dibuat dengan melarutkan 10 gram kalium iodide dalam 10 ml air bebas ammonia, lalu tambahkan larutan merkurium (II) klorida jenuh (60 g / l) sedikit demi sedikit, sambil dikocok, sampai terbentuk endapan yang sedikit dan tetap, lalu tambahkan 80 ml larutan kalium hidroksida 9 M dan encerkan sampai 200 ml. Diamkan semalaman, dan dekantasi cairan yang jernih. Maka reagensia terdiri dari larutan kalium tetraiodomerkurat (II), K2[HgI4] yang basa. Reagensia Nessler yang asli pernah diuraikan sebagai larutan yang terdiri dari kalium tetraiodomerkurat (II), K2[HgI4] kira – kira 0,09 M, dan kalium hidroksida 2,5 M. Cara lain untuk membuat reagensia ini adalah dengan lartan 23 gram merkurium (II) iodide dan 16 gram kalium iodide dalam air yang bebas ammonia, dan tambahkan volemunya sampai menjadi 100 ml. Tambahkan lagi 100 ml narium hidroksida 6 M. Diamkan selama 24 jam, dan dekantasi larutan dari setiap endapan yang mungkin terbentuk. Larutan harus disimpan dalam tempat yang gelap.

16 Teknik uji bercaknya adalah sebagai berikut. Campurkan setetes larutan uji dengan setetes larutan natrium hidroksida pekat di atas kaca arloji. Pindahkan setetes mikro larutan atau suspensi yang dihasilkan ke atas kertas reaksi – tetesdan tambahkan setetes reagensia nessler. Dihasilkan noda atau cincin berwarna kuning atau merah jingga. 3. Natrium heksanitritokoaltat (III), (Na3[Co(NO2)6]) Endapan kuning ammonium heksanitritokobalttat (III) (Na3[Co(NO2)6]) , yang serupa denga yang dihasilkan oleh ion kalium : 3NH4+ + [Co(NO2)6]3- + (Na3[Co(NO2)6]) ↓ 4. Asam heksakloroplatinat (IV) (H2[PtCl6]) Endapan kuning ammonium heksakloroplatinat (IV) : 2NH4+ + [PtCl6]2(NH4)2[PtCl6] ↓

Ciri – cirri khas endapan adalah serupa dengan cirri garam kalium yang bersangkutan, tetapi berbeda darinya dalam hal endapan ini terurai ketika dipanaskan dengan larutan natrium hidroksida, dengan melepaskan gas ammonia. 5. Larutan natrium hydrogen tartrat (NaH . C4H4O6) Endapan putih ammonium tartat asam NH4 . H . C4H4O6, yang serupa tetapi sedikit lebih larut daripada garam kalium yang bersangkutan, dari zat mana endapan itu dapat dibedakan karena dilepaskannya gas ammonia, sewaktu endapan dipanaskan dengan larutan natrium hidroksida. NH4+ + HC4H4O66. NH4HC4H4O6 ↓

Larutan asam perklorat atau natrium perklorat Tidak ada pengendapan (perbedaan dari kalium)

17 7. Uji asam tanat – perak nitrat Dasar dari uji ini adalah sifat mereduksi dari asam tanat (suatu glokosida dari asam digalat) atas kompleks perak aminaa [Ag(NH3)2]+ untuk menghasilkan perak hitam, karena itu asam tanat mengendapkan perak dengan adanya ammonia, tetapi tidak dari larutan perak nitrat yang sedikit asam. Campurkan 2 tetes larutan asam tanat (tanin) 5 persen denga 2 tetes larutan perak nitrat 20 persen, dan taruh campuran di atas kertas reaksi tetes atau di atas sedikit kapas. Pegang kertas dalam uap yang dihasilkan pada pemanasan suatu garam ammonium dengan larutan natrium hidroksida. Terbentuk noda hitam di atas kertas atau di atas kapas itu. Uji ini adalah uji yang peka. 8. Reagensia p – nitrobenzene – diazonium klorida Reagensia (I) menghasilkan pewarnaan merah (ditimbulkan oleh II) dengan garam ammonium, bila terdapat larutan natrium hidroksida. O2N N ═ N ─ Cl- + NH4+ + 2OHO2N N ═ NONH4 + Cl- + H2O

Taruh setetes larutan uji yang netral atau sedikit asam di atas lempeng bercak, diikuti oleh setetes reagensia dan sebutir (granul) kalsium oksida di antara kedua tetes itu. Terbentuk suatu zona merah sekitar kalsium oksida. Uji blanko harus dilakukan terhadap setetes air.. 9. Uji pembentukan ammonia Ini adalah suatu mdifikasi dari reaksi 1, yang disesuaikan untuk analisis yang peka. Alatnya terdiri dari sebuah tabung uji kecil dengan kapasitas 1 ml, yang dapat ditutup dengan penutup kecil dari kaca ashan yang pada ujung bawahnya terdapat kait kaca kecil.

18 Taruh setetes larutan uji atau sedikit zat padat dalam tabung uji mikro itu, dan tambahkan setetes larutan natrium hidroksida 2 M. Pasang sepotong kecil kertas lakmus merah pada kait kaca, dan masukkan penutup ke tempatnya. Panaskan sampai 40oC selama 5 menit. Kertas jadi berwarna biru. Kepekaan : 0,01 g NH3, Batas konsentrasi : 1 dalam 5.000.000. Sianida tidak boleh ada, karena zat – zat ini menghasilkan ammonia dengan alkali: CN- + 2H2O HCOO- + NH3 ↓

Tetapi, jika ditambahkan sedikit merkurium (II) oksida, atau garam merkurium(II), terbentuk merkurium(II) sianida, Hg(CN)2, yang stabil terhadap alkali, sehingga efek mengganggu dari sianida telah sebagian besar dihilangkan. Cara lain untuk melakukan uji ini adalah dengan memakai reagensia mangan(II) nitrat – perak nitrat. Dengan mengolah larutan netral garam – garam mangan (II) dan perak dengan ammonia, terbentuk endapan hitam : 4NH3 + Mn2+ + 2Ag+ + 3H2O 10. Uji kering Semua logam ammonia menguap dan terurai, bila dipanaskan sampai sesaat sebelum berpijar. Pada beberapa kasus, dimana asamnya mudah menguap, uapnya akan bergabung kembali setelah mendingin dengan membentuk sublimate garam itu, misalnya ammonium klorida. MnO(OH)2 ↓ + 2Ag ↓+ 2NH4+ ↓

19 PENETAPAN KADAR NH4 DALAM AIR Bahan :  Larutan standart NH4 Timbang dengan teliti 2,972 gram NH4Cl anhydrat, dan dilarutkan dalam 1 liter aquadest. 1 ml = 1 µg NH4+ Buat larutan standart NH4+ 1 ml = 1µg NH4+ Larutan / Pereaksi Nesler:  Larutkan 10 gran HgI2 dan 7 gram KI dengan aquadest, campurkan larutan 50 ml NaOH 30 % tambahkan aquadest menjadi 100 ml, Simpan dalam botol berwarna gelap. Larutam garam Rochelle:  Larutkan 50 gram KNa tartrat 4H2O dalam 100 ml aquadest. Prosedur kerja: Untuk sample (Air )  Pipet 25 ml contoh air dalam tabung nesler 50 ml  Tambahkan 1 ml larutan garam Rochelle  Tambahkan juga 1 ml pereaksi Nesler  Biarkan selama 5 menit Untuk Larutan Stock NH4+  Buat larutan dengan memipet larutan stok 1 ml  Larutan stok 1 ml = 10 µg NH4+ 1,0 ; 2,0 ; 3,0 ; 4,0 ; 5,0 dalam labu nesler 50 ml Kerjakan sama seperti diatas. Bandingkan warna standar dengan warna sampel

20

DATA PENGAMATAN PENETAPAN KADAR NH4 DALAM AIR 1. Sampel = Air CLEAN Q Sampel (Air CLEAN Q) 25 ml + Lar. Garam Rochelle 1 ml Larutan Bening + Larutan Pereaksi Nessler 1 ml Larutan Orange + Aquadest (Di add kan) Biarkan 5 menit Larutan Bening Larutan Orange

Orange

Kadar NH4+ (ppm)

=

µg ml sample

=

2 x 10 25

=

0,8 ppm

2. Sampel = Air PAM Sampel (Air PAM) 25 ml + Lar. Garam Rochelle 1 ml Larutan Bening + Larutan Pereaksi Nessler 1 ml Larutan Orange + Aquadest (Di add kan) Biarkan 5 menit Larutan Bening Larutan Orange

Orange

Kadar NH4+ (ppm)

=

µg ml sample

=

3 x 10 25

=

1,2 ppm

3. Larutan Stock NH4+ Larutan Stock NH4+ 25 ml + Lar. Garam Rochelle 1 ml Larutan Bening + Larutan Pereaksi Nessler 1 ml Larutan Orange + Aquadest (Di add kan) Biarkan 5 menit Larutan Bening

Orange Orange

21

D.

Amonia

22 Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati

Amonia Nama sistematis Azana Hidrogen nitrida Spiritus Hartshorn Nama lain Nitrosil Vaporol NH3 17.0306 g / mol Gas tak berwarna

Rumus molekul Massa molar Penampilan

berbau tajam Massa jenis and fase 0.6942 g/L, gas.[3] Kelarutan dalam air 89.9 g/100 ml pada 0 °C. Titik lebur -77.73 °C (195.42 K) Temperatur autosulutan 651 °C Titik didih -33.34 °C (239.81 K) Keasaman (pKa) 9.25 Kebasaan (pKb) 4.75 Bentuk molekul piramida segitiga Momen dipol 1.42 D Sudut ikatan 107.5° Bahaya Bahaya utama berbahaya, kaustik, korosif

NFPA 704

1 3 0

Flash point

Tidak ada R: R10, R23, R34, R50 S: (S1/2), S16, S36/37/39,

Pernyataan R/S

23 Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena amonia mendidih di suhu -33 °C, cairan amonia harus disimpan dalam tekanan tinggi atau temperatur amat rendah. Walaupun begitu, kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksi biasa di dalam sungkup asap. "Amonia rumah" atau amonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam air. Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baumé. Produk larutan komersial amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baumé (sekitar 30 persen berat amonia pada 15.5 °C). Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia. Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=9.25).

E.

Nitrogen Nitrogen atau zat lemas terdapat dalam udara sekita 78% dari volum udara. Akan

tetapi kelimpahan nitrogen dalam kulit bumi hanya sekitar 0,03 %. Mineral terpenting dari sumber nitrogen adlah senawa ynag terdapat di India, dan sendawa yang terdapat di Chili, Amerika Selatan. Sifat-sifat nitrogen :  Tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.  Nitrogen mengembun paad –195,8 0C dan membeku pad –210 0C  Tergolong unsur yang sukar bereaksi dan hanya bereaksi pad suhu tinggi dengan bantuan katalisator.

24 Penggunaan Nirtogen  Untuk membuat Amoniak  Membuat atmosfer innert dalam berbagai proses yang terganggu oleh oksigen, misalnya dalam industri elektronika.  Sebagai atmosfer inert dalam makanan kemasan untuk memperpanjang masa penggunaan.  Nitrogen cair sebagai pendingin. Pengolahan Nitrogen Pemisahan nitrogen dan oksigen dari udara dilakukan dengan cara distilasi bertingkat udara cair. Mula-mula disaring untuk membersihkan dari debu. Udara bersih lalu dikompresikan yang menyebabkan suhu yang meningkat. Kemudian dilakukan pendinginan. Pada tahap ini air dan karbondioksida sudah membeku dan dapat dipisahkan. Setelah melalui menara pendingin, udara kemudian dialirkan ke menara yang lebih besar sehingga udara turun dan sebagian udara akan mecair. Udara yang belum mencair di sirkulasikan, dialirkan lagi ke dalam kompresor. Daur Nitrogen Nitrogen masuk ke dalam rantai makana melalui tumbuhan yang berupa tumbuhan polong-polongan yang hanya dapat menangkap nirogen dengan bantuan bakteri pengikat. Nitrogen dalam tanah berasal dair fiksasi nitrogen atmosfer atau perombakan senyawa organik. Fiksasi nitrogen terjadi melalui 2 jalur, yaitu karena pengaruh petir dan bakteri. Petir dapat melangsungkan reaksi nitrogen dengan oksigen membentuk nitrogen oksida. NO tersebut kemudian membentuk nirogen dioksida kemudian larut dalam air hujan membentuk asam nitrat. Pupuk Nitrogen

25 Beberapa contoh pupuk nirogen dalah;  Urea CO(NH2)2 mengandung 46% nitrogen  ZA (zwafel amonium) (NH4)2SO4 mengandung 21% nitrogen  Amonia NH3  Amonium Nitrat NH4NO3  Kalium nitrat KNO3 F. Tanaman dan Biologikal Filter Tanaman lebih dari sekedar hiasan di akuarium; dapat juga untuk menjaga kondisi ikan tetap baik. Senyawa nitrogen - biasanya Ammonia dan Nitrit- sesunguhnya beracun untuk ikan. Hobist untuk beberapa tahun sangat tergantung pada proses nitrifikasi (dikenal sbg filter biologis) untuk mengubah senyawa beracun ini menjadi nitrat yang tidak berbahaya. Hobist dan (bahkan) penjual tanaman air mengabaikan nitrogen yang dipakai oleh tanaman air atau berasumsi (sayang-nya salah) bahwa tanaman air hanya memakai nitrat. Tanaman air memilih ammonium (NH4) dibanding nitrat (NO3) Banyak tanaman darat seperti buncis dan tomat tumbuh bagus dengan nitrat dari pada ammonium. Oleh karena-nya, beberapa hobist berasumsi bahwa hal tersebut akan sama dengan tanaman air yang memakai dan tumbuh bagus dengan nitrat. Tetapi, percobaan membuktikan sebaliknya Ilmuwan dari seluruh dunia telah mempelajari penggunaan nitrogen pada tanaman air dgn berbagai variasi percobaan. Laporan percobaan dari 33 tanaman air yang berbeda. Hanya 4 dari 33 spesies yang mengacu pada nitrat (tabel 1)
Table 1. Nitrogen Preference of Tested Species.

26
Referensi selengkapnya untuk percobaan ini ada pada daftar yang lain [10]

Ammonium Agrostis canina Callitriche hamulata Ceratophyllum demersum Drepanocladus fluitans Eichhornia crassipes Elodea densa Elodea nuttallii Fontinalis antipyretica Hydrocotyle umbellata Juncus bulbosus Jungermannia vulcanicola Lemna gibba Lemna minor Marchantia polymorpha Myriophyllum spicatum Pistia stratiotes Ranunculus fluitans Salvinia molesta Scapania undulata Sphagnum cuspidatum Sphagnum fallax Sphagnum flexuosum Sphagnum fuscum Sphagnum magellanicum Sphagnum papillosum Sphagnum pulchrum Sphagnum rubellum Spirodela oligorrhiza Zostera marina

Nitrate: Echinodorus ranunculoides Littorella uniflora Lobelia dortmanna Luronium natans

Walaupun demikian, ke-4 spesies ini berasal dari lingkungan kurang nutrisi-nya, yang tidak biasa untuk tanaman air. Lebih anjut, kelompok tanaman yang mengacu ke ammoniumlebihbesar. Contoh, duckweed Lemna gibba menghilangkan 50% dari ammonium di campuran nutrisi dalam waktu 5 jam, walaupun nutrisi tersebut berisi nitrat ratusan kali lipat bila dibandingkandenganammonium.

27 Elodea nuttallii, diletakkan di campuran ammonium dan nitrat, menghilangkan 75% dari total ammonium dalam waktu 16 jam dengan tidak menyetuh sedikitpun nitrat (gambar1). Hanya ketika tidak ada ammonium, tanaman mulai memakai nitrat.

Sama halnya, ketika giant duckweed Spirodela oligorrhiza tumbuh di campuran ammonium dan nitrat, ammonium cepat sekali di ambil dan nitrat di abaikan (gambar 2). Karena tanaman pada percobaan ini tumbuh di lingkungan steril, maka hilangnya ammonium tidak disebabkan oleh proses nitrifikasi. Penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman tumbuh dengan cepat selama percobaan, hal ini menunjukan bahwa pemakaian ammonium bukan sekedar experimental lagi, tetapi itu mungkin disertai peningkatan biomass tanaman dan kebutuhan akan nitrogen (konsentrasi unsur N di tanaman berkisar 0.6% ~ 4.3% dari berat kering).
Tabel 2. Waktu yang dibutuhkan selada air untuk mengambil nitrat di banding ammonium [6].
Penyelidikan meletakkan tanaman di wadah dengan cairan nutrisi yang berisi penambahan nitrat murni atau ammonium murni. Waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan N berdasarkan asumsi bahwa 1 gram tanaman kering perliter dan cairan secara konstan di kendalikan. (mg/l = miligram per liter)

Nitrogen in the Nutrient Solution Nitrate Uptake 0.025 mg/l 18 hours 0.05 18 0.1 19 0.2 19 0.4 20 0.8 21 1.6 25 3.2 31 6.4 44 13 71 26 123 Tabel 2 menunjukkan seberapa cepat nitrat dan

Ammonium Uptake 3.9 hours 4.1 4.2 4.2 4.2 4.2 4.2 4.3 4.3 4.3 4.3 ammonium dihilangkan dari air

oleh selada air (water lettuce - Pistia stratiotes). Tanaman yang diletakkan di campuran dengan isi 0.025 mg/l nitrat membutuhkan 18 jam untuk menghilangkannya. Tetapi,

28 tanaman yang sama bila diletakkan di campuran ammonium membutuhkan hanya 3,9 jam untuk menghabiskan ammonium. Ketika penelitian menambahkan konsentrasi nitrogen, terjadi perbedaan besar. Untuk 13 mg/l nitrat, menghabiskan waktu 71 jam (hampir 3 hari), tetapi untuk ammonium membutuhkan waktu hanya 4 jam. Pada tanaman air, penggunaan nitrat membutuhkan usaha yang lebih dari pada ammonium. Contoh, selada air sangat lambat mengambil nitrat pada saat gelap, dimana kecepatan ammonium sama cepatnya saat terang atau gelap. Hal ini menyimpulkan pengambilan nitrat membutuhkan banyak energi dari pada ammonium. Lebih jauh, pengambilan nitrat sering harus dipancing sebelum dapat ukur. Sebagai contoh, pemakaian nitrat secara maksimum pada selada air tidak terjadi sampai tanaman pada nitrat murni untuk 24 jam (adanya ammonium akan mencegah pengambilan nitrat). Ammonium sesungguhnya mencegah pemakaian dan assimilasi nitrat pada berbagai organisme seperti tanaman, alga dan jamur. Contoh, alga tidak memakai nitrat jika konsentrasi ammonium lebih dari 0.02 mg/l.

Pada duckweed, nitrat yang di pakai ditandakan dengan penambahan ammonium di cairan nutrisi. Tapi proses pencegahan ini biasanya bersifat terbalik, karena tanaman akan memulai memakai nitrat satu atau dua hari sesudah ammonium habis. Dapat di hipotesakan bahwa kemampuan ammonium menghalangi pemakaian nitrat, melindungi tanaman dari pamakaian nitrat, yang dapat menghabiskan energi tanaman Nitrit (NO2) yang dipakai tanaman Sesungguhnya tanaman bisa mempergunakan nitrit sebagai sumber N, hal mendasar yang dipertanyakan oleh para hobis adalah, apakah tanaman air menghilangkan nitrit sebelum nitrat yang tidak beracun? Tidak menemukan bukti yang cukup dari literatur yang bisa menunjukkan hal itu.

29 Bagaimanapun juga, reduksi kimia dari nitrit menjadi ammonium membutuhkan energi yang lebih sedikit dari pada nitrat ke ammonium. Tanaman harus merubah baik nitrit dan nitrat menjadi ammonium sebelum bisa dipergunakan menjadi sumber protein. Karenanya, tidak mengejutkan ketika Spirodela oligorrhiza yang tumbuh di media yang berisi nitrit dan nitrat, memilih menghabiskan nitrit (gambar 3). Tanaman air memilih daun untuk mengambil ammonium Jika tanaman air memilih mengambil ammonium lewat akar ditanah dari pada daun di air, maka kemampuan menghilangkan ammonium akan dipertanyakan. Untungnya untuk para hobist, tanaman air lebih memilih mempergunakan daun dibandingkan pengambilan daritanah. Contoh di percobaan ruang terpisah dengan rumput laut Zostera marina, ketika ammonium ditambahkan ke ruang daun/batang, aktifitas akar berkurang hingga 77%. Tetapi pada saat ammonium ditambahkan ditempat akar, aktifitas daun tidak berkurang. (percobaan di ruang kedap terpisah, tanaman tumbuh dengan akar dibagian bawah ruang kedap dan daun dibagian atas) Percobaan dengan tanaman lain juga mendukung hal diatas. Bahkan seagrass Amphibolis antarctica dapat mengambil ammonium 5 hingga 38 kali lebih cepat lewat daun daripada akar. Dan Myriophyllum spicatum yang ditanam dimedia yang subur dapat tumbuh dengan baik tanpa adanya ammonium diair, ketika ammonium ditambahkan di air (0.1mg/l N), tanaman kelihatan mengambil lebih unsur N dari air dari pada media tanam. Beberapa tanaman air (Juncus bulbosus, Sphagnum flexuosum, Agrostis canina, dan Drepanocladus fluitans) mengambil 71 hingga 82% ammonium lewat daun; sementara akar hanya berfungsi sedikit.

30 Hobist yang menggunakan pupuk tablet mungkin perlu mempertimbangkan tentang perilaku tanaman yang memakai daun daripada akar untuk menyerap ammonium. Di kolam dan akuarium, tanaman harus bisa memenuhi kebutuhan N dari ammonium yang dihasilkan ikan. Lebih lanjut, nitrogen yang ditambahkan di media tanam bisa berakibat merusak. Ammonium bisa beracun bagi akar. Bahkan nitrat dari pupuk tablet juga bisa menjadi masalah. Hal ini dikarenakan bakteri di media tanam dengan cepat mengubah nitrat menjadi nitrit yang beracun.

Tanaman air vs. Filter Biologis Tanaman, alga dan semua organisme photositesis menggunakan nitrogen dari ammonium -bukan nitrat- untuk menghasilkan protein. Jika tanaman mengambil nitrat, maka harus dirubah menjadi ammonium yang dikenal dengan proses "nitrate reduction" proses nitrate reduction ditanaman merupakan kebalikan dari proses bakteri nitrifikasi. Bakteri nitrifikasi memperoleh energi untuk kehidupan dengan mengubah oksida ammonium menjadi nitrat, total energi yang dihasilkan dari 2 langkah nitrifiksai sebesar 84kcal/mol. Keseluruhan reaksinya adalah : NH4+ + 2 O2 » NO3- + H2O + 2 H+ Secara teori tanaman harus menghabiskan energi yang hampir sama besar (83 kcal/mol) untuk merubah nitrat kembali menjadi ammonium. Proses 2 langkahnya NO3- + H2O + 2 H+ » NH4+ + 2 O2

31 Energi yang dibutuhkan untuk nitrate reduction sebanding dengan 23,4% energi yang dihasilkan pembakaran glukosa. Karenanya jika bakteri merubah ammonium menjadi nitrat, maka tanaman akan memaksa (dengan energi) merubah nitrat menjadi ammonium kembali. Ini menerangkan mengapa beberapa tanaman air (misal water hyacinth, Salivinia molesta, hornwort, dan Elodea nuttallii) tumbuh lebih baik di ammonium atau campuran ammonium/nitrat dibanding dipaksa tumbuh pada nitrat murni. Hobist sering menyalahartikan siklus nitrogen dengan mengira bakteri mengubah ammonium menjadi nitrat, lalu tanaman mengambil nitrat. Sebenarnya, baik tanaman dan bakteri berebut ammonium. Hanya jika kondisi terpaksa baru tanaman mengambil nitrat. Karenanya tidak mengherankan nitrat akan terakumulasi di kolam dan akuarium tanaman. Filter yang dilengkapi kemampuan proses nitrifikasi penting mecegah ikan dari keracunan ammonium pada akuarium tanpa tanaman. Akan tetapi akuarium tanaman merupakan hal yang berbeda. Pada kenyataanya tanaman memperluas permukaan untuk bakteri nitrifikasi. Area tanaman di pada habitat alami (sungai, danau dsb) menunjukkan peningkatan exponensial jumlah koloni bakteri. Anda bisa yakin bahwa setiap permukaan daun dan batang yang ada di akuarium dilapisi oleh lapisan bakteri nitrifikasi. Pada akurium tanaman hanya sedemikian kecil filter biologi yang dibutuhkan. Ketika saya selesai mengurangi filter biologi dengan mengurangi media filter dari filter cannister, ikan tetap hidup dengan sehat. Akhirnya satu tahun berikutnya saya putuskan untuk melepas cannister dan hanya mempergunakan pompa internal yang murah untuk sirkulasi air. Ikan tidal merasa berbeda, karena sesungguhnya akuarium tanaman itulah filternya. Tanaman air lebih dari sekedar hiasan akuarium. Bisa juga dipergunakan untuk menghilangkan ammonium. Bahkan dalam hitungan jam (gambar 1, tabel 2). Ketika

32 menset-up aquarium dengan tanaman, tidak perlu menunggu 8 minggu untuk menghidar new tank syndrome. (bakteri nitrifikasi membutuhkan beberapa minggu sebelum ada dengan sendirinya di akuarium baru dan membuat filter biologi berfungsi penuh). Karenanya, ketika men-setup akuarium baru dengan tanaman, langsung memasukkan ikan pada hari yang sama. Kesimpulannya, ada banyak bukti dari beberapa percobaan yang menunjukkan bahwa tanaman cendrung memakai ammonium dari pada nitrat untuk sumber N. Bahkan pada nitrat yang berlimpah, tanaman akan menunggu 24 jam untuk ammonium. Tanaman juga meningkatkan pengurangan kadar ammonium dengan meningkatkan jumlah koloni bakteri nitrifikasi. Saya harap ini dapat menjelaskan sangat berharganya tanaman air dalam hal kesehatan ikan

33 Gambar1

Gambar2

34

Gambar3

35

G.

Limbah Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri

maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

36 Karakteristik limbah:  Berukuran mikro  Dinamis  Berdampak luas (penyebarannya)  Berdampak jangka panjang (antar generasi) Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah:  Volume limbah  Kandungan bahan pencemar  Frekuensi pembuangan limbah Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4  Limbah cair  Limbah padat  Limbah gas dan partikel  Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:  pengolahan menurut tingkatan perlakuan  pengolahan menurut karakteristik limbah Indikasi Pencemaran Air Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian.  Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH

37 netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam.  Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa.  Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidsar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangibahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD. Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari :  Bahan buangan padat  Bahan buangan organik  Bahan buangan anorganik Limbah beracun

38 Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3). Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan

manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3. Macam Limbah Beracun Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan. Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama. Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.

39 Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut. Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi. Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. Tabel 1. Parameter dan metode pengukuran kwalitas air No. 1. 2. 3. 4. 5. Parameter Nir Kualitas Air Kecepatan arus Kedalaman air Tipe substrat Faktor Fisika Suhu Padatan tersuspensi Faktor Kimia 6. 7. 8. 9. 10. PH Oksigen terlarut BOD5 COD Amonium (NH4) mg/l mg/l mg/l mg/l pH-meter Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Lapangan Lapangan Laboratorium Laboratorium Laboratorium Satuan m/det m °C mg/l Metode Pelampung/Stopwatch Tongkat penduga Ukuran partikel Thermometer Gravimetrik Tempat Lapangan Lapangan Laboratorium Lapangan Laboratorium

40 11. Kesadahan mg/l Titrimetrik Laboratorium

DAFTAR PUSTAKA

1. David RA Jr 1972. Prinsip-prinsip oseanografi. Terj. Patimah, I & Mohd. Nasir, S. Universiti Putra Malaysia, Serdang, hlm. 181. 2. Citroreksoko, Padmono, (1996), Pengantar Bioremediasi, Prosiding lokakarya Peranan Bioremediasi Dalam Pengelolaan Lingkungan, LIPI-BPPT-HSF Jerman, Cibinong, Bogor. 3. Julistiono, Heddy, (1996), Penggunaan Mikroalga Untuk Bioremediasi, Prosiding lokakarya Peranan Bioremediasi Dalam Pengelolaan Lingkungan, LIPI-BPPT-HSF Jerman, Cibinong, Bogor. 4. Setiana, Adang, (1996), Teknik Pengurangan dan Minimasi Limbah, Prosiding lokakarya Peranan Bioremediasi Dalam Pengelolaan Lingkungan, LIPI-BPPT-HSF Jerman, Cibinong, Bogor. 5. _______,. (1996). Panduan Penyuluhan Prokasih. Pemerintah Propinsii Daerah Tingkat I Jawa Timur dan Perum Jasa Tirta. Surabaya. 16 hal. 7. Musa, M.; Kartini; M. Mahmudi. (1996). Studi Tentang Jenis Limbah…di

Kawasan Hutan Mangrove Desa Curah Sawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang. 8. Odum, E.P. (1993). Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Alih Bahasa :

Samingan, T. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

41 9. G. Svehla (1990). VOGEL Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro

Dan Semimikro. Edisi Kelima. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful