EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF TAI (TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DILENGKAPI MODUL DITINJAU DARI PENCAPAIAN

HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI KELAS XI IPA SEMESTER GENAP SMA NEGERI 1 PATI TAHUN PELAJARAN 2005/2006

Oleh : ANDRIANI SETYOWATI NIM. K3301018

Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Kimia Jurusan P MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2006

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF TAI (TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DILENGKAPI MODUL DITINJAU DARI PENCAPAIAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI KELAS XI IPA SEMESTER GENAP SMA NEGERI 1 PATI TAHUN PELAJARAN 2005/2006

SKRIPSI

Oleh : ANDRIANI SETYOWATI NIM K3301018

Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Kimia Jurusan P MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2006 ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Kimia Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Bakti Mulyani, M.Si. NIP. 131 472 285 iii

Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si. NIP. 132 206 588

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari Tanggal

: :

Tim Penguji Skripsi: Nama Terang Ketua Sekretaris Anggota I : Dra. Hj. Kus Sri Martini, M.Si : Endang Susilowati, S.Si, M.Si : Dra. Bakti Mulyani, M.Si Tanda tangan ..................... ..................... ..................... .....................

Anggota II : Sri Retno Dwi Ariani, S.Si, M.Si

Disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Dekan,

Drs. Trisno Martono, M.M NIP. 130 529 720 iv

ABSTRAK

Andriani Setyowati. EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF TAI (TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DILENGKAPI MODUL DITINJAU DARI PENCAPAIAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI KELAS XI IPA SEMESTER GENAP SMA NEGERI 1 PATI TAHUN PELAJARAN 2005/2006. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desember 2006. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati yang terdiri dari 6 kelas dan diambil 2 kelas untuk menjadi sampel dengan teknik random sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan rancangan Randomized ControlGroup Pretest-Postest Design. Data utama dalam penelitian ini berupa pencapaian hasil belajar siswa yang terdiri atas hasil belajar yang diperoleh melalui tes dalam bentuk obyektif untuk aspek kognitif dan metode angket untuk aspek afektif. Analisis data dilakukan dengan uji t pihak kanan dengan taraf signifikansi 0,05. Sebagai prasyarat analisis digunakan uji normalitas dengan uji Lilliefors dan uji homogenitas dengan uji Bartlett. Dari hasil analisis data diperoleh nilai t hitung untuk aspek kognitif dan afektif berturut-turut adalah 1,921 dan 3,56. Nilai ini lebih besar daripada t tabel yaitu 1,66. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia dengan metode TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

v

MOTTO

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu” (Q.S Al Baqarah: 45)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S Alam Nasyrah: 6)

“Jadikanlah setiap masalah menjadi sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri” (Penulis)

PERSEMBAHAN

vi

Karya ini aku persembahkan untuk: 1. Alm. Bapak 2. Ibu 3. Masku Ardian, Adikku Alin dan Alan 4. “My Love” 5. Almamater KATA PENGANTAR

Allhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Kimia Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

vii

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari mendapat banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Drs. Trisno Martono, M.M, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian. 2. Ibu Dra. Sri Dwiastuti, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Ibu Dra. Hj. Kus Sri Martini, M.Si selaku Ketua Program Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin penelitian. 4. Ibu Dra. Bakti Mulyani, M.Si selaku Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu dan membimbing dengan penuh kesabaran. 5. Ibu Sri Retno Dwi Ariani, S.Si, M.Si selaku Pembimbing II, yang telah meluangkan waktu dan membimbing penyusunan skripsi. 6. Ibu Dra. Hj. Azizah selaku Kepala SMA Negeri 1 Pati yang telah memberikan ijin penelitian. 7. Bapak Soebijanto, B.Sc selaku guru Kimia SMA Negeri 1 Pati yang telah memberikan arahan dan bimbingan pada penulis. 8. Segenap siswa SMA Negeri 1 Pati. 9. Teman-teman Diaz Community (Ida, Yo, Luthf, Sha, Esth, Ist, Indy, Niken, Cecil, Kis, Re, Wid, Wibow & mbak-mbak alumni Diaz) “thanks atas kebersamaan yang indah ini” 10. Tiny dan Natar, moga persahabatan kita tak akan putus. 11. Seluruh rekan-rekan seperjuangan Progdi Kimia angkatan ‘01. 12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan kritik yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik dan lebih bermanfaat di masa yang akan datang. viii

Surakarta, Desember 2006

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ i HALAMAN PENGAJUAN................................................................................. ii HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................. iii HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................. iv ABSTRAK ........................................................................................................... v ix

HALAMAN MOTTO .......................................................................................... vi HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... vii KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii DAFTAR ISI........................................................................................................ ix DAFTAR TABEL................................................................................................ x DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ xii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 4 C. Pembatasan Masalah .................................................................... 5 D. Perumusan Masalah...................................................................... 5 E. Tujuan Penelitian.......................................................................... 6 F. Manfaat Penelitian........................................................................ 6 BAB II KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS............................. 7 A. Kajian Teori.................................................................................. 7 1. Efektifitas Pengajaran Kimia ................................................. 7 2. Belajar.................................................................................... 9 a. Pengertian Belajar ............................................................ 9 b. Pengertian Pembelajaran.................................................. 10 3. Metode Diskusi ...................................................................... 11 a. Pengertian Metode Diskusi ............................................. 11 b. Kelebihan Metode Diskusi.............................................. 11 c. Kelemahan Metode Diskusi ............................................ 12 4. Metode Kooperatif................................................................. 12 5. Pembelajaran Kooperatif Model TAI .................................... 16 6. Media Pendidikan .................................................................. 19 a. Batasan Media Pendidikan.............................................. 19 b. Kegunaan Media Pendidikan .......................................... 20 c. Macam-macam Media Pendidikan.................................. 21 7. Stoikiometri ........................................................................... 23 x

a. Stoikiometri Umum ........................................................ 23 b. Stoikiometri Larutan ....................................................... 28 8. Pencapaian Hasil Belajar ....................................................... 30 a. Aspek Kognitif................................................................ 31 b. Aspek Afektif.................................................................. 32 B. Kerangka Pemikiran..................................................................... 32 C. Perumusan Hipotesis .................................................................... 34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................... 35 A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 35 1. Tempat Penelitian .................................................................. 35 2. Waktu Penelitian.................................................................... 35 B. Metode Penelitian......................................................................... 36 1. Rancangan Penelitian............................................................. 36 2. Prosedur Penelitian ................................................................ 36 C. Populasi dan Sampel .................................................................... 37 1. Populasi Penelitian................................................................. 37 2. Sampel Penelitian .................................................................. 37 D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 38 E. Instrumen Penelitian..................................................................... 38 1. Instrumen Penilaian Kognitif................................................. 38 a. Uji Validitas .................................................................... 38 b. Uji Reliabilitas ................................................................ 39 c. Taraf Kesukaran Soal...................................................... 40 d. Daya Pembeda ................................................................ 41 2. Instrumen Penilaian Afektif................................................... 42 a. Validitas Instrumen Penelitian ......................................... 43 b. Reliabilitas Instrumen Penelitian .................................... 43 F. Teknik Analisis Data.................................................................... 44 1. Uji Prasyarat .......................................................................... 44 a. Uji Normalitas.................................................................. 44 b. Uji Homogenitas .............................................................. 45 xi

2. Uji Hipotesis .......................................................................... 46 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 48 A. Deskripsi Data .............................................................................. 48 B. Uji Prasyarat Analisis................................................................... 52 C. Pengujian Hipotesis...................................................................... 54 D. Pembahasan.................................................................................. 55 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ................................... 58 A. Kesimpulan................................................................................... 58 B. Implikasi....................................................................................... 58 C. Saran............................................................................................. 58 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 59 LAMPIRAN......................................................................................................... 61

DAFTAR TABEL

No 1. 2. 3. 4.

Keterangan

Hal

Prinsip-prinsip Dasar Metode Kerja Kooperatif ......................................... 15 Desain Penelitian Randomized Control-Group Pretest-Postest Design...... 36 Kriteria Validitas Soal................................................................................. 38 Rangkuman Hasil Uji Validitas Tes Aspek Kognitif.................................. 39 xii

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Kriteria Reliabilitas Soal............................................................................. 40 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Tes Aspek Kognitif .............................. 40 Kriteria IK ................................................................................................... 41 Rangkuman Hasil Uji Taraf Kesukaran Soal.............................................. 41 Kualifikasi Daya Pembeda Soal.................................................................. 42 Rangkuman Hasil Uji Daya Pembeda Soal................................................. 42 Kriteria Skor Aspek Afektif........................................................................ 42 Rangkuman Hasil Uji Validitas Tes Aspek Afektif.................................... 43 Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Tes Aspek Afektif ................................ 43 Rangkuman Deskripsi Data Penelitian ....................................................... 48 Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Eksperimen TAI 49 Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Kontrol .............. 49 Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Eksperimen TAI .. 51 Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Kontrol ................ 51 Ringkasan Hasil Uji Normalitas Selisih Nilai Kognitif .............................. 53 Ringkasan Hasil Uji Normalitas Selisih Nilai Afektif ................................ 53 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Selisih Nilai Kognitif .......................... 53 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Selisih Nilai Afektif ............................ 53 Ringkasan Hasil Uji t-Pihak Kanan Selisih Kognitif Kelas Eksperimen TAI dan Kelas Kontrol ....................................................................................... 54

24.

Ringkasan Hasil Uji t-Pihak Kanan Selisih Afektif Kelas Eksperimen TAI dan Kelas Kontrol ....................................................................................... 54

DAFTAR GAMBAR

No 1. 2. 3. 4.

Keterangan

Hal

Histogram Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Eksperimen TAI................ 49 Histogram Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Kontrol .............................. 50 Histogram Selisih Nilai Kognitif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.... 50 Histogram Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Eksperimen TAI.................. 51 xiii

5. 6.

Histogram Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Kontrol ................................ 52 Histogram Selisih Nilai Afektif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...... 52

DAFTAR LAMPIRAN

No 1. 2. 3. 4.

Keterangan

Hal

Satuan Pelajaran......................................................................................... 61 Modul ......................................................................................................... 65 Instrumen Penelitian Kognitif.................................................................... 86 Jawaban Soal-soal Try Out ........................................................................ 96 xiv

5. 6.

Alat Penilaian Afektif ................................................................................ 97 Uji Validitas, Reliabilitas, Tingkat Kesukaran Soal dan Daya Pembeda Soal............................................................................................................. 101

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Uji Validitas dan Reliabilitas Angket Afektif............................................ 103 Uji t-matching ............................................................................................ 105 Data Induk Penelitian................................................................................. 106 Distribusi Frekuensi Data Selisih Nilai (Gain Score) ................................ 108 Uji Normalitas............................................................................................ 111 Uji Homogenitas ........................................................................................ 123 Uji Hipotesis (Uji t-Pihak Kanan).............................................................. 129 Surat-surat Perijinan................................................................................... 131

xv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan penting dalam proses pembangunan bangsa. Harus disadari bahwa proses pendidikan selalu diarahkan untuk menyediakan atau membentuk tenaga terdidik yang profesional bagi kepentingan bangsa Indonesia. Pendidikan yang berkualitas merupakan hal yang penting yang merupakan dasar kualitas manusia Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan-perbaikan baik sarana maupun prasarana pendidikan. Pendidikan bukanlah sesuatu yang statis melainkan sesuatu yang dinamis sehingga menuntut adanya suatu perbaikan terus-menerus. Perbaikan yang dilakukan diantaranya kurikulum, metode mengajar, buku pelajaran dan sebagainya. Perbaikan dan pembaharuan yang dilakukan bertujuan untuk dapat mengembangkan suatu potensi yang ada pada diri anak didik semaksimal mungkin sehingga dapat menghasilkan manusia yang cerdas, mandiri, dan dapat bersaing di tingkat internasional. Dalam kaitan dengan hal tersebut, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu membenahi kurikulum sekolah dengan mengembangkan “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK). Perbedaan utama antara kurikulum ’94 dengan KBK terletak pada pengembangan, penataan materi dan metode pembelajaran. Dalam hal metode pembelajaran, Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai hasil pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Siswa tidak saja harus mengetahui fakta, konsep atau prinsip, tetapi juga terampil untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam menghadapi masalah kehidupan dan teknologi. Mata pelajaran Kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam yang mempelajari tentang sifat, struktur materi, komposisi, perubahan materi serta xvi

energi yang menyertai perubahan materi secara umum yang diperoleh melalui hasil-hasil eksperimen dan penalaran. Secara umum pengajaran kimia bertujuan untuk mengembangkan sumberdaya manusia yang memiliki ketrampilan intelektual dan psikomotor dalam bidang kimia yang dilandasi oleh sikap ilmiah sehingga mampu mengikuti perkembangan iptek (Depdiknas, 2003: 2). Metode yang masih banyak dikembangkan dan dianut oleh para guru SMA adalah metode ceramah. Tetapi metode ini kurang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi karena disini guru hanya memberi penjelasan kepada siswa tanpa memperhatikan tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang diberikan, sehingga tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien, salah satunya diperlukan suatu metode mengajar yang tepat. Ketepatan dalam menggunakan metode mengajar yang dilakukan oleh guru akan dapat membangkitkan motivasi dan minat siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan, juga terhadap proses dan hasil belajar siswa. Siswa akan mudah menerima materi yang diberikan oleh guru apabila metode mengajar yang digunakan tepat dan sesuai dengan tujuan pengajarannya. Metode mengajar yang baik adalah metode yang disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan, kondisi siswa, sarana yang tersedia, serta tujuan pengajarannya. Suatu metode mengajar mempunyai spesifikasi tersendiri, artinya suatu metode yang cocok untuk suatu materi belum tentu cocok jika diterapkan pada materi yang lainnya. Penerapan metode mengajar yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran. Penerapan metode mengajar yang bervariasi ini berupaya untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar sekaligus sebagai salah satu indikator dalam peningkatan kualitas pendidikan. Metode mengajar yang baik hendaknya disesuaikan dengan karakteristik pokok bahasan materi yang akan disampaikan. Materi yang berkaitan dengan hafalan tentu saja memerlukan metode pengajaran yang berbeda dengan materi hitungan. Menurut Slavin (1995: 101) kesulitan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan hitungan tidak dapat dipecahkan dengan menerapkan metode konvensional tetapi dapat dibantu dengan menerapkan metode pembelajaran xvii

kooperatif (gotong royong). Penerapan pembelajaran kooperatif menurut penelitian yang selama ini dilakukan terbukti efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu dalam kelompok (Slavin, 1995: 5). Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemukan pada metode konvensional. Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community) (Nurhadi, 2004: 112). Salah satu metode kooperatif yang dikenal yaitu metode TAI (Teams Assisted Individualization). Metode pembelajaran TAI mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang mempunyai pengetahuan lebih dibandingkan anggotanya. Kesulitan pemahaman materi yang dialami oleh siswa dapat dipecahkan bersama dengan ketua kelompok serta dengan bimbingan guru. Kesulitan pemahaman konsep-konsep awal yang berkaitan dengan materi stoikiometri dapat dipecahkan bersama karena keberhasilan dari tiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Untuk itu pengajaran TAI menitikberatkan pada keaktifan siswa dan memerlukan kemampuan interaksi sosial yang baik antara semua komponen pengajaran. Untuk menunjang pengajaran TAI diperlukan media yang dapat membantu siswa dalam belajar. Modul merupakan salah satu jenis media cetak yang memuat unit pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa sendiri. Pendekatan dalam pengajaran modul adalah menggunakan pengalaman belajar siswa melalui berbagai macam penginderaan, melalui pengalaman dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar itu. Materi stoikiometri berisi hukum-hukum dasar kimia, konsep-konsep, dan rumus-rumus dengan berbagai hubungan serta reaksi-reaksi kimia, sehingga perlu banyak latihan dalam mempelajarinya. Dalam mempelajari stoikiometri sering ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal hitungan kimia, hal ini dapat dikarenakan strategi guru yang kurang tepat dalam pembelajarannya. Guru seringkali hanya memberikan materi dengan sedikit xviii

contoh dan latihan soal, sehingga siswa seringkali merasa kesulitan dalam menggunakan konsep yang harus ia gunakan untuk menyelesaikan soal yang pada akhirnya ia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal stoikiometri. Pada kegiatan tersebut guru akan menganggap siswa benar-benar dapat menerima dan mampu mengerjakan soal dengan baik. Dalam mengatasi masalah-masalah tersebut di atas dapat dilakukan dengan mengambil alternatif usaha mengurutkan konsep-konsep dalam memecahkan soal-soal hitungan kimia, sehingga akan mempermudah siswa pada proses pembelajaran terutama pada pengerjaan soal stoikiometri larutan. Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian guna membantu siswa dalam menguasai konsep-konsep dan hitungan kimia. Adapun judul dalam penelitian ini adalah “EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KIMIA

MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF TAI (TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DILENGKAPI MODUL DITINJAU DARI

PENCAPAIAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI KELAS XI IPA SEMESTER GENAP SMA NEGERI 1 PATI TAHUN PELAJARAN 2005/2006”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan, terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan proses belajar termasuk penggunaan metode: 1. Apakah metode kooperatif TAI dilengkapi modul dapat digunakan untuk menyampaikan pokok bahasan stoikiometri? 2. Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul dalam proses belajar mengajar pada materi pokok stoikiometri dapat meningkatkan hasil belajar siswa? 3. Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa?

xix

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan pasti, maka perlu diberikan batasan masalah. Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka pembatasan masalah dititikberatkan pada: 1. Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati Tahun Pelajaran 2005/2006. 2. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskusi untuk kelas kontrol dan metode kooperatif TAI dilengkapi modul untuk kelas eksperimen. 3. Materi Pokok Materi yang diberikan dibatasi pada materi pokok stoikiometri. Adapun pemahaman siswa akan materi stoikiometri dilihat dari nilai siswa hasil selisih pretest dan postest (gain skor) siswa. 4. Hasil Belajar Hasil belajar dibatasi pada aspek kognitif dan aspek afektif.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006”.

xx

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006.

F. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk: 1. Memberikan informasi kepada guru mengenai alternatif lain penggunaan metode dan media pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif TAI dilengkapi modul. 2. Memberikan gambaran kepada guru tentang penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul dalam memilih metode pembelajaran yang tepat. 3. Memberikan sumbangan bagi guru untuk bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran kimia di dalam kelas.

xxi

BAB II KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1.

Efektivitas Pembelajaran Kimia

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 284), efektif berarti dapat membawa hasil; berhasil guna (tentang usaha, tindakan). Menurut Margono (1995: 3) efektif berarti semua potensi dapat dimanfaatkan dan semua tujuan dapat dicapai. Sedangkan menurut Roestiyah N.K (1991: 12) efektif menunjuk pada sesuatu yang mampu memberikan dorongan atau bantuan dalam mencapai suatu tujuan. Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa efektif adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Dari pengertian efektif di atas, maka efektifitas pembelajaran adalah pembelajaran yang didalamnya terdapat pemanfaatan potensi (komponen dan faktor belajar mengajar) yang mampu menjadi sarana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu memanfaatkan semua potensi yang mendorong tercapainya tujuan. Metode mengajar yang tepat dan efektif dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran yang tepat adalah pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, sedangkan pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu memanfaatkan semua potensi yang mendorong tercapainya tujuan. Berikut ini adalah beberapa syarat yang diperlukan untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, antara lain: a. Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Di dalam belajar anak harus mengalami aktivitas mental misalnya siswa dapat mengembangkan

kemampuan intelektualnya, kemampuan berpikir kritis, juga mengalami aktivitas jasmani seperti mengerjakan sesuatu.

xxii

b. Guru harus mempergunakan banyak metode mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian anak, mudah diterima anak dan kelas menjadi hidup. Metode penyajian yang selalu sama akan membosankan bagi anak. c. Motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan perkembangan anak selanjutnya melalui proses belajar. Bila motivasi dari guru tepat mengenai sasaran, akan meningkatkan kegiatan anak belajar. Dengan tujuan jelas, anak akan belajar lebih giat, lebih tekun dan bersemangat. d. Guru perlu mempertimbangkan pada perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pembelajaran saja karena masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam berbagai segi, misal intelegensi, bakat, tingkah laku, sikap dan lain-lain. e. Guru akan mengajar secara efektif bila selalu membuat perencanaan sebelum mengajar. Dengan persiapan mengajar guru akan mantap di depan kelas, perencanaan yang masak dapat menumbuhkan banyak inisiatif dan daya kreatif guru waktu mengajar, dapat meningkatkan interaksi dalam proses belajar mengajar. (Suko, 2004: 8) Efektivitas program pembelajaran menurut Gilbert Sax dalam Suharsimi Arikunto (2002: 169-170) dapat diukur minimal dengan tiga cara yaitu: a. Pendekatan analitis, penilai menentukan standar minimum yang harus dicapai siswa. b. Pendekatan deskriptif, memberi tahu kepada evaluator tentang tingkat keberhasilan yang dicapai siswa dalam belajarnya. c. Pendekatan eksperimen, dengan cara membandingkan dua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan catatan kondisi kedua kelompok sama. Untuk kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda maka akan diketahui efektif tidaknya perlakuan tersebut.

xxiii

Menurut Medley dalam Soekartawi (1995: 38-39) diutarakan sebagai berikut: “...At first, effectiveness was perceived as the consequence of certain personality traits or characteristics possessed by the teacher...Later, effectiveness was seen not so much as a function of characteristics of the teacher but of the methods of teaching used...Then, effectiveness was seen as mainly dependent on the climate the teacher created and maintained in the classroom. More recently, effectiveness has been viewed as mastery of a repertoire of competencies, and finally, there has been increasing emphasis on the ability to deploy these competencies appropriately, that is, on profesional decision making”. Ada empat karakteristik dari mengajar yang efektif, yaitu: a. Penampilan pengajar (penguasaan bahan ajar), persiapan mengajar, dan sebagainya; b. Cara mengajar (pemilihan model instruksi, alat bantu mengajar dan evaluasi yang dipakai); c. Kompetensi dalam mengajar; d. Pengambilan keputusan yang bijaksana. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar yang efektif yaitu metode mengajar yang dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.

Belajar

a. Pengertian Belajar Belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak lahir manusia telah memulai usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dan

mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, para ahli berusaha menjelaskan pengertian belajar menurut sudut pandang yang berbeda-beda, walaupun demikian terdapat juga persamaan dalam definisi-definisi tersebut. Menurut Slameto (1995: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. xxiv

Beberapa ahli telah mengemukakan beberapa definisi belajar yang lain, antara lain: 1) Belajar menurut Piaget adalah perkembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupan yang lebih baik. Belajar di sini memperhatikan perkembangan intelektual anak pada masa pertumbuhannya (Mulyati Arifin, 1995: 88). 2) Menurut Gagne, belajar adalah perubahan perbuatan yang terjadi pada individu. Ketika berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi (Ngalim Purwanto, 1992: 84). 3) Belajar adalah proses aktif yang diarahkan pada suatu tujuan dan merupakan proses berbuat melalui berbagai pengalaman (Nana Sudjana, 1996: 6). 4) Menurut Whittaker dalam H.J.Gino (2000: 5) belajar dinyatakan “learning may be difined as a process by which behaviour originates or is alterd through training or experience”. Dari beberapa definisi belajar tidak dapat ditentukan definisi yang paling baik, tetapi antara definisi yang satu dengan yang lain saling melengkapi. Jadi belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual dan didapatkannya kecakapan baru dan biasanya hasil belajar akan tahan sampai waktu lama.

b. Pengertian Pembelajaran Menurut Purwadarminta dalam H. J. Gino (2000: 30), istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction” atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti yang sama dengan cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan. Bila pengajaran diartikan sebagai perbuatan mengajar, tentunya ada yang mengajar dan ada yang diajar atau yang belajar. Dengan demikian pembelajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan mengajar (oleh guru). Beberapa definisi pembelajaran dari para ahli antara lain: 1) Menurut aliran psikologi kognitif, pembelajaran adalah kegiatan mengaktifkan unsur-unsur kognisi agar memperoleh pemahaman, sedangkan pengertian dapat didasarkan dengan jalan menggunakan alat bantu belajar/media. Disamping itu sistem penyampaian pengajaran secara bervariasi, artinya menggunakan banyak metode (Gredler, 1991: 47). 2) Pembelajaran adalah kegiatan mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan xxv

menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar (Nana Sudjana, 1996: 7). 3) Menurut Alwin W. Howard, pembelajaran adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengembangkan ketrampilan, sikap, cita-cita, penghargaan dan pengetahuan (Roestiyah N. K., 1991: 15). Dari berbagai definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari pengajar untuk membuat proses belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri pebelajar yang berlaku dalam waktu relatif lama.

3.

Metode Diskusi

a. Pengertian Metode Diskusi Menurut Hasibuan dan Mudjiono (2002: 20) metode diskusi adalah suatu penyampaian bahan pelajaran dengan cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Sedangkan menurut Conny Semiawan (1992: 76) metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajaran melalui sarana pertukaran pemikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Dari berbagai definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pendapat sehingga didapat suatu kesimpulan.

b. Kelebihan Metode Diskusi Setiap metode mengajar pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian pula halnya dengan metode diskusi. Menurut Roestiyah (1991: 5) kelebihan metode diskusi adalah sebagai berikut: 1) dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual 2) dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan dan kesatuan 3) mengembangkan rasa sosial

xxvi

4) memberikan kemungkinan untuk saling mengeluarkan pendapat 5) memperluas pandangan 6) menghayati kepemimpinan dan mengembangkan kepemimpinan

c. Kelemahan Metode Diskusi Menurut Roestiyah (1991: 6) kelemahan metode diskusi adalah sebagai berikut: 1) kadang-kadang terjadi pembicaraan menyimpang 2) dalam diskusi menghendaki pembuktian logis 3) tidak dapat dipakai dalam kelompok besar 4) peserta mendapat informasi yang terbatas 5) mungkin dikuasai orang-orang yang suka bicara 6) biasanya orang menghendaki pendekatan yang formal Langkah-langkah penggunaan metode diskusi menurut Hasibuan dan Mudjiono (2002: 23) adalah sebagai berikut: 1) Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara pemecahannya. 2) Dengan pertimbangan guru, siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih pemimpin diskusi, mengatur tempat duduk, ruangan dan sebagainya. 3) Para siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke yang lainnya untuk menjaga ketertiban agar diskusi berjalan lancar.

4.

Metode Kooperatif

Salah satu metode pembelajaran yang perlu dikembangkan saat ini adalah metode pembelajaran kooperatif. Menurut Nurhadi (2004: 112) pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran xxvii

kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan seseorang adalah bentukan (konstruksi) orang itu sendiri. Pengetahuan seseorang akan suatu benda, bukanlah tiruan benda itu, melainkan konstruksi pemikiran seseorang akan benda itu. Tanpa keaktifan seseorang mencerna dan membentuknya, seseorang tidak akan mempunyai pengetahuan. Pada pembelajaran ini diyakini bahwa keberhasilan peserta didik akan tercapai jika setiap anggota kelompoknya berhasil. Kelompok dibuat kecil, biasanya terdiri dari tiga sampai lima orang, agar interaksi antar anggota kelompok menjadi maksimal dan efektif. Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama siswa. Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemenelemen yang saling terkait. Elemen-elemen tersebut adalah: a. Saling ketergantungan positif Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan dapat dicapai melalui: 1) Saling ketergantungan mencapai tujuan 2) Saling ketergantungan menyelesaikan tugas 3) Saling ketergantungan bahan atau sumber 4) Saling ketergantungan peran 5) Saling ketergantungan hadiah b. Interaksi tatap muka Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka saling berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru. Interaksi semacam itu sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.

xxviii

c. Akuntabilitas individual Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan sumbangan demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual. d. Keterampilan menjalin hubungan antarpribadi Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antarpribadi (interpersonal

relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. (Nurhadi, 2004: 112-113) Ada beberapa model metode pembelajaran kooperatif, antara lain: a. STAD (Student Teams Achievement Divisions) b. TGT (Teams Games Tournamen) c. CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) d. Jigsaw e. TAI (Teams Assisted Individualization) Perbandingan antara beberapa metode pembelajaran kooperatif menurut Slavin (1995: 12) dapat dilihat pada Tabel 3.

xxix

Tabel 1. Prinsip- prinsip Dasar Metode Kerja Kooperatif
Metode Tujuan Kelompo k √ TGT √ TAI √ CIRC √ Jigsaw √ √ √ (tugas khusus) √ √ (perseorangan) √ (bagian kelompok) √ (nilai perbaikan) √ X √ √ √ Tanggung Jawab Individu √ Kesempatan yang sama untuk sukses √ (nilai perbaikan) √ (sistem pertandingan) Kompetisi antar kelompok (kadangkadang) √ Tugas Khusus Penyesuaian Diri dengan lingkungan X

STAD

X

X

X

X

X √

X

X

Keterangan:

= ada = tidak ada

X

STAD = Student Teams Achievement Divisions TGT TAI = Teams Games Tournament = Teams Assisted Individualization

CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Berikut beberapa keuntungannya: a. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial. b. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan. c. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial. d. Memungkinkan komitmen. e. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois. f. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa. g. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan. h. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia. xxx terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan

i. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif. j. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik. k. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan

kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas. (Nurhadi, 2004: 116) Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan suatu situasi sedemikian sehingga keberhasilan kelompok mengakibatkan keberhasilan kelompok itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan dari salah satu anggota, maka salah seorang anggota melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil (Slavin, 1995: 16-17).

5.

Pembelajaran Kooperatif Model TAI

Metode pembelajaran TAI adalah suatu metode pembelajaran yang dikemukakan oleh Slavin, 1995. “Teams Assisted Individualization” dapat diartikan sebagai kelompok yang dibantu secara individual atau kelompok dimana ada seorang asisten yang membantu secara individual. Metode pengajaran TAI ini merupakan metode pembelajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu, berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam satu kelompok. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Pada pembelajaran TAI akan memotivasi siswa untuk saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetisi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif. Secara umum TAI terdiri dari delapan komponen utama, yaitu:

xxxi

a. Kelompok / Tim Peserta didik dalam pembelajaran TAI terdiri dari 4 sampai 5 siswa yang mewakili bagiannya dari kelas dalam menjalankan aktivitas akademik. Fungsi utama dari tim adalah membentuk semua tim agar mengingat materi yang telah diberikan dan lebih memahami materi yang nantinya digunakan dalam persiapan mengerjakan lembar kerja sehingga bisa mengerjakan dengan baik. Dalam hal ini biasanya siswa menggunakan cara pembelajaran diskusi tentang masalah-masalah yang ada, membandingkan soal yang ada, dan mengoreksi beberapa miskonsepsi jika dalam tim mengalami kesalahan. Semuanya tersebut dilakukan setelah presentasi awal dari guru dan pemberian lembar kerja. Anggota kelompok yang mengalami kesulitan dapat bertanya kepada anggota yang telah ditunjuk sebagai ketua atau anggota lain yang lebih tahu. b. Tes Pengelompokan Siswa-siswa diberi tes awal pada awal program pembelajaran. Hasil dari tes awal digunakan untuk membuat kelompok berdasarkan point yang mereka peroleh. c. Materi Kurikulum Pada proses pembelajaran harus disesuaikan dengan materi yang terdapat pada kurikulum yang berlaku dengan menerapkan teknik dan strategi pemecahan masalah untuk penguasaan materi. d. Kelompok Belajar Berdasarkan tes pengelompokan maka dibentuk kelompok belajar. Siswa dalam kelompoknya mendengarkan presentasi dari guru dan mengerjakan lembar kerja. Jika ada siswa yang belum paham tentang materi dapat bertanya pada anggota lainnya atau ketua yang telah ditunjuk, kalau belum paham juga baru meminta penjelasan dari guru. e. Penilaian dan Pengakuan Tim Setelah diberikan tes, kemudian tes tersebut dikoreksi dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu. Tim akan mendapatkan sertifikat / penghargaan atau sejenisnya jika dapat melampaui kriteria yang telah ditentukan.

xxxii

f. Mengajar Kelompok Materi yang belum dipahami oleh suatu kelompok dapat ditanyakan kepada guru dan guru menjelaskan materi pada kelompok tersebut. Pada saat guru mengajar, siswa dapat sambil memahami materi baik secara individu maupun kelompok dengan kebebasan tetapi bertangung jawab. Keaktifan siswa sangat diutamakan pada pembelajaran TAI. g. Lembar Kerja Pada setiap sub konsep materi pokok diberikan lembar kerja secara individual untuk mengetahui pemahaman bahan atau materi dapat berupa ringkasan materi yang dipelajari di rumah kemudian pertemuan selanjutnya dikerjakan. h. Mengajar Seluruh Kelas Setelah akhir dari pengajaran pokok bahasan suatu materi guru menghentikan program pengelompokan dan menjelaskan konsep-konsep yang belum dipahami dengan strategi pemecahan masalah yang relevan. Pada akhir pembelajaran diberikan kesimpulan dari materi. (Slavin, 1995: 102-104) Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI, dalam pelaksanaannya terbagi dalam: a. Pengelompokan Sebelum pembelajaran TAI dilaksanakan suatu tes awal (tes kemampuan awal) yang menyangkut tentang konsep-konsep yang akan diajarkan. Tes awal ini berguna untuk pembentukan kelompok agar penyebaran siswa berdasarkan point yang didapat pada tes awal tersebut secara homogen. Selain itu dalam tes awal ini dapat digunakan untuk menunjuk ketua atau asisten yang memimpin suatu kelompok. Dalam proses pengelompokan juga didasarkan pada prestasi belajar sebelumnya, dalam hal ini nilai ulangan harian pokok bahasan sebelumnya. b. Tahap Penyajian Materi Pelajaran Pada tahap ini bahan-bahan atau materi pelajaran diperkenalkan melalui penyajian kelas. Pada penyajian materi pelajaran ini dilakukan melalui:

xxxiii

1) Pengajaran Kelompok Jika terdapat materi pelajaran yang kurang dipahami dalam suatu kelompok, maka kelompok tersebut dapat meminta guru untuk menjelaskan materi yang belum dipahami tersebut, sedangkan kelompok lain yang sudah paham dapat melanjutkan pekerjaannya. 2) Pengajaran Seluruh Kelas Pengajaran ini dilakukan pada akhir proses pembelajaran. Guru menyimpulkan penekanan materi yang dianggap penting. Dalam pembelajaran, keaktifan siswa sangat diharapkan melalui latihan pengajaran. c. Kegiatan Kelompok Setelah terbagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing individu

mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui lembar kerja pada buku mereka. Mereka bekerja sebagai satu tim, jika terdapat kesulitan dipecahkan secara bersama-sama dengan kelompoknya. Setelah selesai mengerjakan secara mandiri, kemudian saling mencocokkan dengan teman sekelompoknya. Paket soal yang terdapat di LKS diberikan menurut tingkat kesukaran soal, diurutkan dari soal yang mudah dilanjutkan soal yang sukar dan juga sesuai dengan urutan materi, dari materi yang mudah dilanjutkan materi yang sulit. Setelah paket soal selesai dikerjakan maka dicocokkan dengan kelompok lain untuk mengukur keberhasilan dari kelompok untuk kemudian diberikan nilai oleh guru.

6.

Media Pendidikan

a. Batasan Media Pendidikan Perlu diketahui bahwa “proses belajar dan pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran /media tertentu ke penerima pesan” (Arif S. Sadiman, 1996: 11) Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan. Media xxxiv

adalah

pengantar

pesan

dari

pengirim

ke

penerima

pesan

(Arif S.Sadiman, 1996: 6). Beberapa definisi media yaitu: 1) Menurut Gagne (1970) media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar (Arif S.Sadiman, 1993: 6). 2) Media pendidikan merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan pada sasaran atau penerima pesan tersebut dan materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar (Yusufhadi Miarso, 1984: 47). 3) Menurut Briggs (1970) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar (Arif S.Sadiman, 1993: 6). 4) Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association /NEA) dikatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya (Arif S.Sadiman, 1993: 6). Dari beberapa definisi yang diberikan, ada persamaan-persamaan di antaranya yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

b. Kegunaan Media Pendidikan Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). 2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera. 3) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif dari anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk: a) menimbulkan kegairahan belajar b) memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan

xxxv

c) memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya 4) Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk semua siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam: a) memberikan perangsang yang sama b) mempersamakan pengalaman c) menimbulkan persepsi yang sama (Arif S. Sadiman, 1996: 16-17)

c. Macam-macam Media Pendidikan Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam khazanah pendidikan seperti ilmu cetak-mencetak, tingkah laku (behaviorisme), komuikasi, dan laju perkembangan teknologi elektronik, media dalam perkembangannya tampil dalam berbagai jenis dan format (modul, film televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, komputer, dan sebagainya) masingmasing dengan ciri-ciri dan kemampuannya sendiri (Arif S. Sadiman, 1996: 19). Dari sini kemudian timbul usaha-usaha penataannya, yaitu

pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakteristiknya. Salah satunya adalah klasifikasi menurut Anderson. Anderson melihat pemilihan media sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan instruksional. Untuk keperluan itu dia membagi media dalam sepuluh kelompok, yaitu: 1. Audio: - pita audio (rol atau kaset) - piringan audio xxxvi

- radio (rekaman siaran) 2. Cetak: - buku teks terprogram - modul - buku pegangan - buku tugas 3. Audio Cetak: - buku latihan dilengkapi kaset atau pita audio - pita, gambar, bahan (dilengkapi dengan suara pita audio) 4. Proyeksi Visual Diam: - film bingkai (slide) - film rangkai (berisi pesan verbal) 5. Proyeksi Visual Diam dengan Audio: - film bingkai (slide) suara - film rangkai suara 6. Visual Gerak: - film bisu dengan judul ( caption) 7. Visual Gerak dengan Audio: - film suara - video 8. Benda: - benda nyata - model tiruan (mack-ups) 9. Manusia dan sumber lingkungan 10. Komputer: - program instruksional terkomputer (CAI) (Arif S. Sadiman, 1996: 96)

xxxvii

7. Stoikiometri

Stoikiometri adalah cabang ilmu Kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksinya (www.bebas.vlsm.org). Stoikiometri merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan numerik unsur-unsur di dalam senyawa, penentuan perbandingan bobot unsur-unsur yang bersenyawa, dan hubungan bobot antara reaksi. Dalam pokok bahasan ini akan dibahas tentang hubungan kuantitatif antar zat dalam satu reaksi. Pengetahuan ini akan sangat penting dalam merencanakan suatu percobaan maupun dalam industri sehingga kita dapat memperhitungkan jumlah zat yang harus direaksikan serta memperhatikan jumlah produknya. Dalam bab ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama Stoikiometri Umum yang membahas dasar-dasar perhitungan kimia dan berbagai jenis perhitungan kimia. Bagian kedua adalah Stoikiometri Larutan yang khusus membahas perhitungan kimia yang melibatkan larutan.

a. Stoikiometri Umum 1) Arti Koefisien Reaksi Koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah partikel dari zat yang telibat dalam reaksi. Oleh karena 1 mol setiap zat mengandung jumlah partikel yang sama, maka perbandingan jumlah partikel sama dengan perbandingan jumlah mol. Jadi, koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi. Contoh: Untuk reaksi, 1N2 (g) + 3H2 (g) 2NH3 (g)

koefisien reaksinya menyatakan bahwa: 1 molekul N2 bereaksi dengan 3 molekul H2 membentuk 2 molekul NH3, atau 1 mol N2 bereaksi dengan 3 mol H2 menghasilkan 2 mol NH3

xxxviii

Dengan pengertian tersebut, maka banyaknya zat yang diperlukan atau dihasilkan dalam reaksi kimia dapat dihitung dengan menggunakan persamaan reaksi setara. Apabila jumlah mol salah satu zat diketahui, maka jumlah mol zat yang lain dalam reaksi itu dapat ditentukan dari perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini dapat dilihat dalam contoh soal berikut ini: Aluminium larut dalam asam sulfat menghasilkan aluminium sulfat dan gas hidrogen, 2Al(s) + 3H2SO4(aq) aluminium? Perbandingan mol Al : H2 = 2 : 3 Jika direaksikan 0,5 mol Al, maka jumlah H2 yang dapat dihasilkan
3 x 0,5 mol = 0,75 mol 2

Al2 (SO4)3 (aq) + 3H2 (g)

Berapa mol gas hidrogen dapat dihasilkan jika digunakan 0,5 mol

2) Hitungan Kimia Sederhana Menghitung jumlah suatu zat yang diperlukan atau dihasilkan dalam suatu reaksi di mana jumlah salah satu zat lain dalam reaksi itu diketahui, kita golongkan sebagai hitungan kimia sederhana. Hitungan kimia sedehana dapat diselesaikan menurut 4 langkah sebagai berikut: · · · · Menuliskan persamaan reaksi setara, Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui, Menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi, Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.

Seperti pada contoh soal berikut: Hitunglah volum gas hidrogen (STP) yang terbentuk jika 5,4 gram Al (Ar = 27) dilarutkan dalam asam sulfat! Langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut: (1) Persamaan setara untuk reaksi aluminium dengan asam sulfat adalah 2Al(s) + 3H2SO4 (aq) Al2 (SO4)3 (aq) + 3H2 (g)

xxxix

(2) Mol Al =

5,4.g = 0,2 mol 27.g .mol -1
3 x 0,2 mol = 0,3 mol 2

(3) Mol H2 =

(4) Volum H2 = 0,3 mol x 22,4 L mol -1 = 6,72 liter 3) Pereaksi Pembatas Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang habis lebih dahulu. Apabila zatzat yang direaksikan tidak ekivalen, maka salah satu pereaksi akan habis lebih dahulu sedangkan pereaksi yang lain bersisa. Jumlah hasil reaksi bergantung pada jumlah pereaksi yang habis lebih dahulu. Oleh karena itu, pereaksi yang habis lebih dahulu disebut pereaksi pembatas. Contoh: Sebanyak 8 gram gas metana dibakar dengan 40 gram gas oksigen. Berapa gram CO2 yang terbentuk? (H = 1; C = 12; O = 16) Penyelesaiannya adalah sebagai berikut: Persamaan setara reaksi pembakaran metana: CH4 (g) + 2O2 (g) Jumlah mol metana (CH4) = Jumlah mol oksigen (O2) = CO2 (g) + 2H2O(g)
8. g = 0,5 mol 16.g .mol -1 40.g = 1,25 mol 32.g .mol -1

Metana akan habis dahulu karena hasil bagi jumlah mol dengan
æ 0,5 1,25 ö koefisien reaksinya lebih kecil daripada oksigen ç < ÷ 2 ø è 1

Jumlah mol CO2 yang terbentuk bergantung pada jumlah mol CH4 =
1 x 0,5 mol = 0,5 mol 1

Massa CO2 = 0,5 mol x 44 g mol -1 = 22 gram

xl

4) Hitungan yang Melibatkan Campuran Apabila suatu campuran dari dua jenis zat direaksikan dengan suatu pereaksi dan kedua komponen campuran itu bereaksi, maka persamaan reaksinya haus ditulis secara terpisah. Contoh: Reaksi paduan logam Al dan Mg dengan larutan HCl encer harus ditulis secara terpisah sebagai berikut: 2Al(s) + 6 HCl(aq) Mg(s) + 2HCl(aq) 2AlCl3 (aq) + 3H2 (g) MgCl2 (aq) + H2 (g)

Susunan suatu campuran dapat ditentukan dengan mengukur jumlah pereaksi atau salah satu hasil reaksi yang setara dengan campuran itu. Seperti pada contoh soal berikut ini: Suatu campuran terdiri atas CaO dan Ca(OH)2. Untuk menentukan susunan campuran itu, dilakukan percobaan sebagai berikut. Sebanyak 1 gram campuran dilarutkan dalam 50 mL air. Ternyata untuk menetralkan larutan itu membutuhkan 0,032 mol HCl. Berapa persen massa CaO dalam campuran itu? (H = 1; O = 16; Ca = 40). Penyelesaiannya adalah sebagai berikut: Persamaan setara reaksi CaO dan Ca(OH)2 dengan HCl adalah sebagai berikut: CaO(s) + 2HCl(aq) CaCl2 (aq) + H2O(l) CaCl2(aq) + 2H2O(l)

Ca(OH)2 + 2HCl(aq)

Misal massa CaO = x gram, maka massa Ca(OH)2 = 1 – x gram Mol CaO =
x mol 56

x 2x mol CaO memerlukan mol HCl 56 56

Mol Ca(OH)2 =

1- x mol 74

xli

1- x 2(1 - x) mol Ca(OH)2 memerlukan mol HCl 74 74

Jumlah mol HCl yang terpakai = 0,032 mol Persamaan: Atau
2x 56 x 28

+ +

2(1 - x) = 0,032 74 1- x 37

= 0,032

37x + 28(1-x) = 0,032 x 28 x 37 37x + 28 – 28x = 33,152 9x = 5,152 x = 0,572 Jadi, massa CaO = 0,572 gram % CaO =
0,572 x 100% 1

= 57,2 % 5) Hidrat Hidrat adalah zat padat yang mengikat beberapa molekul air sebagai bagian dari struktur kristalnya. Contoh: · · · · Terusi, CuSO4.5H2O: Tembaga (II) sulfat pentahidrat Gips, CaSO4.2H2O: Kalsium sulfat dihidrat Garam Inggris, MgSO4.7H2O: Magnesium sulfat heptahidrat Soda hablur, Na2CO3.10H2O: Natrium karbonat dekahidrat

Jika suatu hidrat dipanaskan, sebagian atau seluruh air kristal dapat lepas (menguap). Contoh: · CaSO4.2H2O(s) Gips · CuSO4.5H2O(s) Terusi
1 1 CaSO4. 2 H2O(s) + 1 H2O(g) 2

Gips bakar CuSO4(s) + 5H2O(g) Tembaga (II) sulfat anhidrat

xlii

Jika suatu hidrat dilarutkan dalam air, maka kristalnya akan lepas. Contoh: CuSO4.5H2O(s) CuSO4(s) + 5H2O(l)

Jumlah molekul air kristal dari suatu hidrat dapat ditentukan melalui berbagai cara, salah satu cara diberikan pada contoh berikut. Contoh: Sebanyak 10 gram hidrat besi (II) sulfat dipanaskan sehingga semua air kristalnya menguap. Massa zat padat yang tersisa adalah 5,47 gram. Bagaimanakah rumus hidrat itu? (H = 1; O = 16; S = 32; Fe = 56). Penyelesaiannya adalah sebagai berikut: Misal jumlah air kristalnya adalah x, jadi rumus hidrat itu adalah FeSO4.xH2O. Pada pemanasan air kristalnya menguap sehingga zat padat yang tertinggal adalah FeSO4. Jadi, massa FeSO4 adalah 5,47 g dan massa air = 10 – 5,47 = 4,53 g FeSO4.xH2O(s) 10 g Jumlah mol FeSO4 Jumlah mol H2O Mol FeSO4 : mol H2O = FeSO4(aq) + xH2O(g) 5,47 g 4,53 g

5,47.g = 0,036 mol 152.g .mol -1 4,53.g 18.g .mol -1

=

= 0,252 mol

= 0,036 : 0,252 = 1 : 7

Jadi, 1 molekul FeSO4 mengikat 7 molekul air. Rumus hidrat itu adalah FeSO4.7H2O.

b. Stoikiometri Larutan Banyak reaksi yang berlangsung dalam bentuk larutan. Sebagaimana telah diketahui, larutan adalah campuran. Banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan dapat diketahui jika kadar atau konsentrasi larutan diketahui. Dalam bagian ini akan dibahas tentang kemolaran, dan beberapa contoh reaksi dalam larutan. xliii

1) Pengertian Kemolaran Salah satu cara yang paling umum digunakan untuk menyatakan konsentrasi (kepekatan) larutan adalah kemolaran (M). Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat terlarut dalam tiap mL larutan.
n mol L -1 V n mmol mL -1 V

M=

M=

dengan, M = kemolaran larutan n = jumlah mol zat terlarut V = volum larutan Contoh: Berapakah kemolaran larutan yang dibuat dengan melarutkan 2 gram NaOH dalam 100 mL larutan? Penyelesaiannya adalah sebagai berikut: 2 gram NaOH =
2 mol = 0,05 mol 40

Volum larutan 100 mL = 0,1 L M = =
n mol L -1 V

0,05 mol L -1 0,1

= 0,5 mol L -1 Salah satu keuntungan yang diperoleh jika konsentrasi larutan dinyatakan dalam kemolaran adalah kemudahan untuk mengetahui jumlah mol zat terlarut dalam volum tertentu larutan. Untuk tujuan seperti itu, rumus kemolaran di atas disusun ulang menjadi: n = V x M mol atau n = V x M mmol (jika volum larutan dinyatakan dalam mL)

(jika volum larutan dinyatakan dalam liter)

xliv

Contoh: Hitunglah jumlah mol dan massa urea (M r = 60) yang terdapat dalam 200 mL larutan urea 0,4 M! Penyelesaian: Jumlah mol urea (n) = V x M = 0,2 L x 0,4 mol L -1 = 0,08 mol Massa 0,08 mol urea= 0,08 mol x 60 g mol -1 = 4,8 g 2) Beberapa Contoh Reaksi dalam Larutan Pada bagian ini diberikan contoh perhitungan yang melibatkan larutan. Contoh soal: Zink (seng) dilarutkan dalam asam sulfat encer menghasilkan gas hidrogen menurut persamaan: Zn(s) + H2SO4(aq) liter gas H2 (STP)? Penyelesaian: Mol H2 Mol H2SO4 = =
6,72.L = 0,3 mol 22,4.L.mol -1

ZnSO4(aq) + H2(g)

Berapa mL asam sulfat 2 M diperlukan untuk dapat menghasilkan 6,72

1 x 0,3 mol 1

= 0,3 mol =
0,3.mol = 0,15 L 2.mol.L-1

Volum H2SO4 =

V =

n M

(Michael Purba, 2002: 3-10)

8. Pencapaian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan xlv

demikian jika pencapaian hasil belajar siswa itu tinggi, dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar itu berhasil. Hasil belajar yang didapat di sekolah sering juga disebut dengan prestasi belajar, yaitu hasil yang dicapai oleh siswa setelah melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Usaha tersebut dipengaruhi oleh kondisi dan situasi tertentu, yaitu pendidikan dan latihan dalam suatu jenjang pendidikan. Pengukuran hasil belajar dapat dilakukan dengan tes atau evaluasi. Untuk melakukan evaluasi diperlukan alat evaluai yang objektif, menyeluruh dan berkesinambungan. Hasil belajar dapat dijabarkan menjadi lima macam kemampuan manusia (Slameto, 1995: 93): a. Ketrampilan intelektual yang merupakan hasil belajar terpenting. b. Strategi kognitif, mengatur cara belajar dan berpikir seseorang di dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah. c. Informasi verbal pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. d. Kemampuan motorik yang diperoleh di sekolah, antara lain ketrampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka dan sebagainya. e. Sikap dan nilai berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana dapat disimpulkan kecenderungannya bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian

a. Aspek Kognitif Evaluasi aspek kognitif, mengukur pemahaman konsep yang terakit pada percobaan yang dilakukan (Mulyati Arifin, 1995: 24). Untuk aspek pengetahuan, evaluasi dapat dilakukan melalui tes lisan maupun tertulis yang relevan dengan IPHB (Indeks Pencapaian Hasil Belajar) dalam pokok bahasan tersebut. Menurut Mulyati Arifin (1995: 24), aspek kognitif dapat berupa pengetahuan dan ketrampilan intelektual yang meliputi produk ilmiah dan proses ilmiah. Produk ilmiah meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, generalisasi, teori dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan proses ilmiah meliputi pengamatan, pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi. xlvi

b. Aspek Afektif Evaluasi aspek afektif berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan tehadap suatu objek (Mulyati Arifin, 1995: 123). Evaluasi aspek afektif dalam hal ini digunakan penilaian kecakapan hidup yang meliputi kesadaran diri, kecakapan bepikir rasional, kecakapan sosial dan kecakapan akademik. 1) Kesadaran diri · · Mensyukuri nikmat Tuhan atas karunia yang diberikan kepada manusia berupa manfaat mempelajari konsep stoikiometri Sadar dan bertanggung jawab dalam menerapkan konsep stoikiometri dalam kehidupan sehari-hari 2) Kecakapan berpikir rasional · · · · · · · Menggali informasi tentang stoikiometri Mengolah informasi tentang stoikiometri Menarik kesimpulan tentang stoikiometri Memecahkan masalah tentang stoikiometri

3) Kecakapan sosial Mengkomunikasikan secara lisan ataupun tertulis tentang stoikiometri

4) Kecakapan akademik Mengkaji dan menganalisis tentang stoikiometri Mengidentifikasikan variabel yang berkaitan dengan stoikiometri

B. Kerangka Pemikiran

Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih tetap merupakan suatu masalah yang amat menonjol dalam setiap pembaharuan sistem pendidikan nasional. Sejalan dengan itu upaya pembaharuan pendidikan terus dilakukan, salah satunya adalah pembaharuan pada metode pembelajaran yang digunakan. Pokok bahasan stoikiometri merupakan salah satu materi ilmu kimia yang berisi hukum-hukum dasar kimia, konsep-konsep, dan rumus-rumus dengan berbagai hubungan serta reaksi-reaksi kimia, sehingga perlu banyak latihan dalam xlvii

mempelajarinya. Dalam mempelajari stoikiometri sering ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal hitungan kimia. Untuk mengatasi kesulitan pada siswa diperlukan suatu metode atau media yang mampu membantu meningkatkan pemahaman dalam mengerjakan soal-soal hitungan tersebut. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran kooperatif model TAI dan media yang digunakan adalah modul stoikiometri. Metode pembelajaran TAI mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang mempunyai pengetahuan lebih dibandingkan anggotanya. Kesulitan pemahaman materi yang dialami oleh siswa dapat dipecahkan bersama dengan ketua kelompok serta dengan bimbingan guru. Kesulitan pemahaman konsep-konsep awal yang berkaitan dengan materi dapat dipecahkan bersama karena keberhasilan dari tiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Dengan pembelajaran kooperatif model TAI diharapkan bisa merangsang siswa untuk lebih siap belajar kimia, tanpa ada rasa takut untuk mempelajarinya atau bahkan siswa akan tertarik untuk mempelajari ilmu kimia lebih dalam atau lebih detail. Untuk menunjang pembelajaran dan juga memperbaiki kelemahan buku pelajaran dalam rangka mengatasi kesulitan belajar kimia pada materi pokok stoikiometri larutan, maka disusunlah modul yang memungkinkan siswa belajar lebih banyak. Modul ini dilengkapi dengan bermacam-macam contoh soal yang bervariasi dan terstruktur. Sebagai contoh untuk menyelesaikan soal stoikiometri larutan dalam reaksi diberikan beberapa cara pemecahan, langkah-langkah pemecahannya dan cara memeriksa kebenaran hitungan. Dengan menggunakan modul, siswa yang berkemampuan tinggi dapat belajar sesuai dengan kecepatannya sehingga dapat belajar lebih banyak, sedang siswa yang lamban/ berkemampuan rendah dapat mengukur apakah ia sudah dapat melanjutkan materi berikutnya atau belum dan dapat mengejar ketinggalannya dengan belajar sendiri dengan modul di rumah. Dengan demikian, siswa yang bekemampuan tinggi potensinya dapat berkembang secara optimal, dan siswa yang bekemampuan sedang ataupun rendah akan lebih mudah mempelajari dan menyelesaikan berbagai hitungan kimia, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar kimia. xlviii

C.

Perumusan Hipotesis

Dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut: “Metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006.”

xlix

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Pelaksanaan try out dan pengambilan data dalam penelitian ini adalah di SMA Negeri 1 Pati. Sebagai objek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati Tahun Pelajaran 2005/2006.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 17 bulan dari bulan Agustus 2005 sampai bulan Desember 2006. Pada penelitian ini, waktu penelitian dilakukan secara bertahap yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap penelitian dan tahap penyelesaian. a. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi pengajuan judul skripsi, permohonan ijin survei, pembuatan proposal skripsi serta konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. Waktu yang dibutuhkan dalam tahap ini adalah 8 bulan, yaitu dari bulan Agustus 2005 sampai Maret 2006. b. Tahap Penelitian Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan, yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data penelitian. Waktu yang diperlukan pada tahap penelitian adalah 1 bulan yaitu pada bulan April 2006. c. Tahap Penyelesaian Tahap penyelesaian meliputi analisis data, penyusunan laporan dan perbanyakannya. Waktu yang dibutuhkan pada tahap penyelesaian adalah 8 bulan yaitu dari bulan Mei sampai Desember 2006.

l

B. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Eksperimen yang dimaksud adalah pembelajaran dengan metode kooperatif model TAI dilengkapi modul. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul pada materi pokok Stoikiometri. Desain penelitiannya adalah Randomized Control-Group Pretest-Postest Design yang dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 2. Desain Penelitian “Randomized Control- Group Pretest-Posttest Design” Kelompok Pretest Perlakuan Postest Eksperimen Kontrol Keterangan: T 1 = Pretest terhadap penguasaan konsep pokok bahasan stoikiometri X = Pembelajaran pokok bahasan stoikiometri dengan TAI dilengkapi modul T 2 = Posttest terhadap penguasaan konsep pokok bahasan stoikiometri T1 T1 X T2 T2

2. Prosedur Penelitian

Pelaksanaan

penelitian

dilakukan

secara

bertahap

dan

berkesinambungan. Rangkaian kegiatan yang dilakukan adalah: 1. Melakukan observasi di SMA Negeri 1 Pati, meliputi observasi objek penelitian, pembelajaran serta fasilitas yang dimiliki. 2. Membuat instrumen hasil belajar Stoikiometri. 3. Mengundi kelas yang akan digunakan. 4. Memberikan tes awal (pretest) untuk mengukur rata-rata kemampuan kognitif, dan afektif sebelum diberi perlakuan.

li

5. Memberikan pembelajaran Kimia Materi Pokok Stoikiometri dengan metode TAI dilengkapi modul untuk kelas eksperimen (dari 41 siswa dibagi menjadi 10 kelompok) dan dengan metode diskusi kelas untuk kelas kontrol. 6. Memberikan tes akhir (postest) untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan afektif. 7. Mengolah dan menganalisis data penelitian.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006 yang terdiri dari 6 kelas dan rata-rata jumlah siswa tiap kelas 41 orang.

2. Sampel Penelitian

Dari 6 kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tersebut diambil secara acak 2 kelas, terambil kelas XI IPA5 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA6

sebagai kelas kontrol. Dengan asumsi populasi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati homogen, hal ini dikarenakan latar belakangnya sama yaitu NEM sebagai dasar penerimaan siswa. Selain itu semua mendapat fasilitas dan perlakuan yang sama serta tidak ada kelas unggulan. Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah: a. Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode diskusi untuk kelas kontrol dan metode kooperatif TAI dilengkapi modul untuk kelas eksperimen. b. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada materi pokok Stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati

lii

D. Teknik Pengumpulan Data

Data adalah hasil pencatatan peneliti baik berupa fakta atau angket. Pada penelitian ini data yang diambil adalah data hasil belajar Stoikiometri, diperoleh langsung dari siswa dengan menggunakan tes bentuk obyektif dan angket afektif. Tes ini diberikan sebelum dan sesudah siswa mengikuti pelajaran materi pokok Stoikiometri dengan soal yang sama antara tes awal dan tes akhir.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini terdiri atas dua instrumen yaitu instrumen penilaian kognitif dan instrumen penilaian afektif.

1. Instrumen Penilaian Kognitif

Instrumen penilaian kognitif menggunakan tes bentuk obyektif. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, instrumen tersebut diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas soal. Uji coba soal ditujukan untuk mengetahui validitas soal, reliabilitas suatu soal, taraf kesukaran soal dan taraf pembeda item soal. a. Uji Validitas Validitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu test mampu mengukur apa yang sebenarnya diukur. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana taraf korelasi atau taraf empirisnya. Untuk menghitungnya digunakan rumus: rxy = Keterangan: r xy X Y = Koefisien validitas = hasil pengukuran suatu tes yang ditentukan validitasnya = kriteria yang dipakai
{N å X 2 - (å X ) 2 }{N å Y 2 - (å Y ) 2 } N å XY - (å X )(å Y )

liii

Adapun kriteria validitas soal dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Kriteria Validitas Soal Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91 - 1,00 Sangat Tinggi 0,71 - 0,90 Tinggi 0,41 - 0,70 Cukup 0,21 - 0,40 Rendah negatif - 0,20 Sangat Rendah (Masidjo, 1995 : 243-246) Adapun rangkuman hasil uji validitas tes aspek kognitif dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Validitas Tes Aspek Kognitif Jenis Soal Jumlah Soal Valid Invalid Obyektif 25 23 2 b. Uji Reliabilitas Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai di mana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas dilakukan dengan mengukur koefisien reliabilitas didasarkan bentuk instrumen yang dibuat, yaitu bentuk tes obyektif. Rumus yang digunakan adalah rumus Kuder-Richardson (KR20) yaitu sebagai berikut:
2 é n ù é S1 - å PQ ù Rtt = ê ú 2 úê S1 ë n - 1û ê ú ë û

Keterangan: Rtt n Q P S = koefisien reliabilitas = jumlah item = 1-P = indeks kesukaran = standar deviasi (Masidjo, 1995: 233)

liv

Hasil perhitungan tingkat reliabilitas tersebut kemudian dikonsultasikan dengan tabel r product moment. Apabila harga rhitung > rtabel, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen reliabel Adapun kriteria reliabilitas soal dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 5. Kriteria Reliabilitas Soal Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91 - 1,00 Sangat Tinggi 0,71 - 0,90 Tinggi 0,41 - 0,70 Cukup 0,21 - 0,40 Rendah negatif - 0,20 Sangat Rendah (Masidjo, 1995: 209) Adapun rangkuman hasil uji reliabilitas tes aspek kognitif dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 6. Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Tes Aspek Kognitif Jenis Soal Jumlah Soal rtt Keterangan Obyektif 25 0,804 Tinggi c. Taraf Kesukaran Soal Tingkat kesukaran soal ditunjukkan dengan indeks kesukaran yaitu bilangan yang menunjukkan sukar mudahnya suatu soal, dan harganya dapat dicari dengan rumus: IK = Keterangan : IK B = indeks kesukaran = jumlah jawaban benar yang diperoleh siswa dari suatu item N Skor maksimal = kelompok siswa = besarnya skor yang dituntut oleh suatu jawaban benar dari suatu item N X Skor maksimal = jumlah jawaban benar yang seharusnya diperoleh siswa dari suatu item (Masidjo, 1995: 189)
B N ´ Skormaksimal

lv

Adapun kualifikasi indeks kesukaran (IK) soal dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 7. Kriteria IK IK - IK Kualifikasi IK 0,81 – 1,00 Mudah Sekali (MS) 0,61 – 0,80 Mudah (M) 0,41 – 0,60 Sedang/ Cukup (Sd/ C) 0,21 – 0,40 Sukar (S) 0,00 – 0,20 Sukar Sekali (SS) (Masidjo 1995 : 192) Adapun hasil uji terhadap taraf kesukaran soal dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 8. Rangkuman Hasil Uji Taraf Kesukaran Soal Jenis Soal Jumlah Soal MS M Obyektif 25 13 d. Daya Pembeda Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang pandai (kemampuan tinggi) dan siswa yang kurang pandai (kemampuan rendah) dan dihitung dengan rumus: ID = Keterangan: ID KA = Indeks Diskriminasi = Jumlah jawaban benar yang
KA - KB NKA.atau.NKB.x.SkorMaksimal

Sd 5

S 5

SS 2

diperoleh dari siswa yang tergolong kelompok atas KB = Jumlah jawaban benar yang

diperoleh dari siswa yang tergolong kelompok bawah NKA atau NKB = Jumlah siswa yang tergolong kelompok atas atau bawah NKA atau NKB x Skor Maksimal = Perbedaan jawaban benar dari siswa-siswa lvi yang tergolong

kelompok atas dan bawah yang seharusnya diperoleh (Masidjo, 1995: 198) Adapun kualifikasi daya pembeda soal dapat dilihat dari tabel di bawah ini. Tabel 9. Kualifikasi Daya Pembeda Soal ID Kualifikasi ID 0,80 - 1,00 Sangat Membedakan (SM) 0,60 - 0,79 Lebih Membedakan (LM) 0,40 - 0,59 Cukup Membedakan (CM) 0,20 - 0,39 Kurang Membedakan (KM) negatif - 0,19 Sangat Kurang Membedakan (SKM) Adapun rangkuman hasil uji daya pembeda soal dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 10. Rangkuman Hasil Uji Daya Pembeda Soal Jenis Soal Jumlah Soal SM LM CM Obyektif 25 11 KM 12 SKM 2

2. Instrumen Penilaian Afektif

Instrumen penelitian penilaian afektif berupa angket. Jenis angket yang digunakan adalah angket langsung dan sekaligus menyediakan alternatif jawaban. Responden / siswa memberikan jawaban dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Dalam menjawab pertanyaan responden / siswa hanya dibenarkan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Tabel 11. Kriteria Skor Aspek Afektif Skor untuk aspek yang dinilai Nilai SS : Sangat Setuju 5 S : Setuju 4 N : Netral 3 TS : Tidak Setuju 2 STS: Sangat Tidak Setuju 1

lvii

a. Validitas instrumen penelitian Untuk menghitung validitas butir soal angket digunakan rumus sebagai berikut : rxy = Keterangan : rxy = koefisien validitas X = hasil pengukuran tes yang ditentukan validitasnya Y = kriteria yang dipakai Taraf signifikan yang dipakai dalam penelitian ini adalah 5 %. Adapun rangkuman hasil uji validitas tes aspek afektif dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 12. Rangkuman Hasil Uji Validitas Tes Aspek Afektif Jenis Soal Jumlah Soal Valid Invalid Obyektif 20 25 0 b. Reliabilitas instrumen penelitian Untuk mengetahui tingkat reliabilitas digunakan rumus alpha (digunakan untuk mencari reliabilitas yang skornya bukan 1 dan 0), yaitu sebagai berikut:
2 æ n öæ å S i ç1 r tt = ç ÷ S t2 è n - 1 øç è

{N å X 2 - (å X ) 2 }{N å Y 2 - (å Y ) 2 }

N å XY - (å X )(å Y )

ö ÷ ÷ ø

Keterangan : rtt n = koefisien reliabilitas = jumlah item
2 i

åS
St2

= Jumlah kuadrat S dari masing-masing item = kuadrat dari S total keseluruhan item

Adapun hasil uji reliabilitas soal tes aspek afektif dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 13. Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Tes Aspek Afektif Jenis Soal Jumlah St2 Variabel total rtt Keterangan Angket 20 42,58 8,241 0,849 Tinggi

lviii

F. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t-pihak kanan, dimana data yang diperoleh berupa kemampuan kognitif dan afektif. Oleh karena itu, perlu dipenuhi uji persyaratan analisisnya, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

1. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas Untuk penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak. Rumus yang digunakan: L 0 = F(z i )-S(z i ); i: 1,2,3,... Keterangan: F(z i ) S(zi) (zi) L0 zi = peluang zn yang lebih kecil atau sama dengan zi = proporsi cacah zn yang lebih kecil atau sama dengan zi = skor standar = koefisien Liliefors pengamatan =
Xi - X ; dengan S adalah standar deviasi S

(Sudjana, 1996: 466) Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1) Menghitung rata-rata ( X ) dan simpangan bakunya (s2)
X =
2

åX
n

1

S =

nå X i - (å X i ) 2
2

n(n - 1)

lix

2) Menghitung nilai z i zi =
(Xi - X ) S

3) Mencari nilai F(z i ) (pada daftar distribusi normal baku) 4) Menghitung S(z i ), yaitu banyaknya
z1 , z 2 ,..., z n < z i n

5) Menghitung selisih F(z i )-S(z i ) kemudian ditentukan harga mutlaknya 6) Mengambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut (L0) 7) Membandingkan L0 dengan nilai L tabel 8) Kriteria pengujian adalah: tolak H0 jika L0 < Ltabel yang berarti sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal (Sudjana, 1996: 466-467)

b. Uji Homogenitas Uji homogenitas untuk menguji apakah sampel berasal dari populasi yang homogen. Untuk mengetahui homogenitas variansi digunakan uji Bartlett. X2 B S
2

= (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= (log S2) å (ni - 1) =

å (n - 1)S å (n - 1)
i i

2

i

Keterangan: X2 = chi kuadrat S = simpangan baku S2 = variasi gabungan dari semua sampel (Sudjana, 1996: 263) Hipotesis : H 0 = sampel berasal dari variasi yang sama (homogen) H 1 = sampel berasal dari variasi yang tidak sama (tidak homogen)

lx

Adapun langkah-langkah pengujian homogenitas dengan menggunakan Uji Bartlett adalah sebagai berikut: 1) Menghitung varians masing-masing sampel (Si2) Si2 =
(Xi - X ) n -1

2) Menghitung varians gabungan (s2) dari semua sampel S =
2

å (n - 1)S å (n - 1)
i i

2

i

3) Menghitung harga satuan B B = (log S2) å (ni - 1) 4) Menghitung Chi Kuadrat (X2) x2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

5) Menghitung X2 dari tabel distribusi chi kuadrat pada taraf signifikansi 5% 6) Kriteria pengujian: tolak H0 jika x2hitung ≥ x2tabel yang berarti sampel tidak homogen

2. Uji Hipotesis

Data yang diperoleh dalam penelitian akan diolah dengan menguji kesamaan rata-rata. Uji yang digunakan adalah uji t-pihak kanan. Rumus yang digunakan: t=
s X1 - X 2 1 1 + n1 n 2
2 2

(n - 1) S1 + (n2 - 1) S 2 S = 1 n1 + n 2 - 2
2

Keterangan:

X 1 = rata-rata kemampuan siswa kelompok eksperimen X 2 = rata-rata kemampuan siswa kelompok kontrol

lxi

n1 = jumlah sampel kelompok eksperimen n2 = jumlah sampel kelompok kontrol
S = simpangan baku gabungan
S 2 = varians sampel kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

S1 = varians kelompok eksperimen S 2 = varians kelompok kontrol
2

2

Dengan kriteria sebagai berikut: H 0 : m1 £ m 2 H 1 : m1 > m 2 Dimana: H0= Pencapaian hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih rendah atau sama dengan pencapaian hasil belajar siswa kelas kontrol H1= Pencapaian hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada pencapaian hasil belajar siswa kelas kontrol Keterangan: µ1 = nilai rata-rata kelas eksperimen µ2 = nilai rata-rata kelas kontrol Kriteria pengujian: a. Jika t hitung < t tabel maka hipotesis nol diterima. b. Jika t hitung > t tabel maka hipotesis nol ditolak. (Sudjana, 1996: 239)

lxii

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Pada penelitian ini data yang didapatkan berupa nilai pretest dan postest siswa pada pembelajaran Kimia materi pokok Stoikiometri. Pencapaian belajar siswa meliputi aspek kognitif dan aspek afektif. Data-data tersebut diambil dari 1 kelompok eksperimen dan 1 kelompok kontrol. Jumlah siswa yang dilibatkan pada penelitian ini adalah 82 siswa dari kelas XI-IPA5 dan XI-IPA6 SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006. Untuk lebih jelasnya dibawah ini disajikan deskripsi data penelitian dari masing-masing variabel.

1. Hasil Belajar Materi Pokok Stoikiometri Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Data penelitian mengenai hasil belajar meliputi aspek kognitif dan aspek afektif siswa pada materi pokok Stoikiometri kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing sampel sebanyak 41 siswa, selengkapnya dapat dilihat di lampiran 10 dan 11. Sedangkan deskripsi data penelitian mengenai hasil belajar secara ringkas disajikan dalam Tabel 14. Tabel 14. Rangkuman Deskripsi Data Penelitian Uraian TAI dilengkapi Modul Rata-rata pretest kognitif 5,30 Rata-rata pretest afektif 6,97 Rata-rata postest kognitif 7,52 Rata-rata postest afektif 7,69 Rata-rata selisih kognitif 2,22 Rata-rata selisih afektif 0,72 Kontrol 5,41 6,70 7,33 7,17 1,92 0,46

Data penelitian dipaparkan dalam set distribusi frekuensi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam pengamatan hasil penelitian.

lxiii

2. Selisih Nilai Kognitif Materi Pokok Stoikiometri

Distribusi frekuensi selisih nilai kognitif siswa kelas eksperimen TAI pada materi pokok Stoikiometri disajikan dalam Tabel 15 dan histogramnya dapat dilihat dalam Gambar 1. Tabel 15.Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Eksperimen TAI Interval Nilai Tengah Frekuensi Frek.Relatif (%) 0,4 – 0,9 0,65 3 7,32 1,0 – 1,5 1,25 5 12,2 1,6 – 2,1 1,85 7 17,07 2,2 – 2,7 2,45 16 39,02 2,8 – 3,3 3,05 8 19,51 3,4 – 3,9 3,65 2 4,88
16 14 12 Frekuensi 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

Gambar 1. Histogram Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Eksperimen TAI Distribusi frekuensi selisih nilai kognitif siswa kelas kontrol pada materi pokok Stoikiometri disajikan dalam Tabel 16 dan histogramnya dapat dilihat dalam Gambar 2. Tabel 16.Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Kontrol Interval Nilai Tengah Frekuensi Frek.Relatif (%) 0,4 – 0,9 0,65 2 4,88 1,0 – 1,5 1,25 10 24,39 1,6 – 2,1 1,85 9 21,95 2,2 – 2,7 2,45 18 43,9 2,8 – 3,3 3,05 2 4,88 3,4 – 3,9 3,65 lxiv

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

Gambar 2. Histogram Selisih Nilai Kognitif Siswa Kelas Kontrol Sedangkan histogram keduanya dapat dilihat dalam gambar 3 berikut:
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

Frekuensi

Frekuensi

eksperimen kontrol

Gambar 3. Histogram Selisih Nilai Kognitif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

3. Selisih Nilai Afektif Materi Pokok Stoikiometri

Distribusi frekuensi selisih nilai afektif siswa kelas eksperimen TAI pada materi pokok Stoikiometri disajikan dalam Tabel 17 dan histogramnya dapat dilihat dalam Gambar 4.

lxv

Tabel 17.Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Eksperimen TAI Interval Nilai Tengah Frekuensi Frek.Relatif (%) 0,1 – 0,3 0,2 7 17,07 0,4 – 0,6 0,5 12 29,27 0,7 – 0,9 0,8 9 21,95 1,0 – 1,2 1,1 10 24,39 1,3 – 1,5 1,4 2 4,88 1,6 – 1,8 1,7 1 2,44
12 10 Frekuensi 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

Gambar 4. Histogram Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Eksperimen TAI Distribusi frekuensi selisih nilai afektif siswa kelas kontrol pada materi pokok Stoikiometri disajikan dalam Tabel 18 dan histogramnya dapat dilihat dalam Gambar 5. Tabel 18.Distribusi Frekuensi Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Kontrol Interval Nilai Tengah Frekuensi Frek.Relatif (%) 0,1 – 0,3 0,2 17 41,46 0,4 – 0,6 0,5 14 34,15 0,7 – 0,9 0,8 8 19,51 1,0 – 1,2 1,1 2 4,88 1,3 – 1,5 1,4 1,6 – 1,8 1,7 -

lxvi

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

Gambar 5. Histogram Selisih Nilai Afektif Siswa Kelas Kontrol Sedangkan histogram keduanya dapat dilihat dalam gambar 6 berikut:
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

Frekuensi

Frekuensi

Eksperimen Kontrol

Gambar 6. Histogram Selisih Nilai Afektif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

B. Uji Prasyarat Analisis

Sebelum melaksanakan analisis uji t-pihak kanan, untuk menguji hipotesis penelitian perlu dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

lxvii

1. Uji Normalitas

Dalam pengujian normalitas ini menggunakan uji Liliefors dengan rumus yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Hasil uji normalitas untuk selisih nilai kognitif dan selisih nilai afektif secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 13 dan telah dirangkum dalam tabel-tabel sebagai berikut: Tabel 19. Ringkasan Hasil Uji Normalitas Selisih Nilai Kognitif No Kelompok Siswa Harga L Kesimpulan Berdistribusi Hitung Tabel 1 TAI dilengkapi Modul 0,0950 0,1384 Normal 2 Kontrol 0,1292 0,1384 Normal Tabel 20. Ringkasan Hasil Uji Normalitas Selisih Nilai Afektif No Kelompok Siswa Harga L Kesimpulan Berdistribusi Hitung Tabel 1 TAI dilengkapi Modul 0,1377 0,1384 Normal 2 Kontrol 0,1269 0,1384 Normal Dari tabel-tabel di atas dapat diketahui bahwa harga statistik uji Lhitung kurang dari Ltabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas

Dalam penelitian ini, uji homogenitas yang digunakan adalah Uji Bartlett dengan taraf signifikansi 5%. Hasil uji homogenitas ini secara lengkap dijabarkan dalam tabel-tabel sebagai berikut: Tabel 21. Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Selisih Nilai Kognitif S2 B X2 Hitung X2 Tabel Kesimpulan 0,4999 -24,0893 1,7421 3,84 Homogen Tabel 22. Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Selisih Nilai Afektif S2 B X2 Hitung X2 Tabel Kesimpulan 0,1072 -77,584 1,639 3,84 Homogen 2 Dari tabel-tabel di atas dapat diketahui bahwa harga X hitung kurang dari X2tabel atau berada diluar daerah kritik, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang homogen.

lxviii

C. Pengujian Hipotesis

1. Uji Hipotesis untuk Selisih Nilai Kognitif antara Kelas Eksperimen TAI dilengkapi Modul dan Kelas Kontrol

Uji hipotesis ini dilakukan dengan uji t-pihak kanan H0: rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi H1: rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi Berdasarkan perhitungan dapat dibuat tabel sebagai berikut: Tabel 23. Ringkasan Hasil Uji t-Pihak Kanan Selisih Kognitif Kelas Eksperimen TAI dan Kelas Kontrol Kelompok Sampel Rata-rata Variansi t Kelas Eksperimen TAI 2,22 0,60 1,921 Kelas Kontrol 1,92 0,40 Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 1,921 dan setelah dikonsultasikan dengan tabel distribusi t pada taraf signifikansi 0,05 didapat harga ttabel = 1,66. Jadi, keputusan uji thitung > ttabel (1,921 > 1,66). Kesimpulan: hipotesis nol (H0) ditolak. Dengan demikian rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas kontrol. 2. Uji Hipotesis untuk Selisih Nilai Afektif antara Kelas Eksperimen TAI dilengkapi Modul dan Kelas Kontrol

Uji hipotesis ini dilakukan dengan uji t-pihak kanan H0: rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi H1: rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi Berdasarkan perhitungan dapat dibuat tabel sebagai berikut: Tabel 24. Ringkasan Hasil Uji t-Pihak Kanan Selisih Afektif Kelas Eksperimen TAI dan Kelas Kontrol Kelompok Sampel Rata-rata Variansi t Kelas Eksperimen TAI 0,72 0,13 3,56 Kelas Kontrol 0,46 0,09 lxix

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 3,56 dan setelah dikonsultasikan dengan tabel distribusi t pada taraf signifikansi 0,05 didapat harga ttabel = 1,66. Jadi, keputusan uji thitung > ttabel (3,56 > 1,66). Kesimpulan: hipotesis nol (H0) ditolak. Dengan demikian rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi.

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengajaran Kimia dengan metode TAI dilengkapi modul pada materi pokok Stoikiometri lebih efektif dan menghasilkan hasil belajar yang lebih tinggi daripada metode diskusi. Hasil belajar yang dimaksud meliputi aspek kognitif dan aspek afektif. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI-IA5 sebagai kelas eksperimen dan XI-IA6 sebagai kelas kontrol yang diperoleh dengan teknik random sampling. Untuk mengetahui apakah kedua sampel setara (matching) dilakukan uji t matching. Adapun rata-rata nilai pretest siswa kelas XI-IA5 adalah 5,30 dan kelas XI-IA6 adalah 5,41. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kedua sampel setara. Ini sesuai dengan kondisi sekolah yang diteliti bahwa pembagian siswa dalam tiap kelas adalah setara, tidak ada kelas unggulan. Selain digunakan dalam uji t matching, pretest juga dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan digunakan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok agar kelompok bersifat heterogen. Setelah pembelajaran selesai, dilakukan postest untuk mengukur aspek kognitif siswa dan mengisi angket kecakapan hidup untuk aspek afektif. Setelah dilakukan pengujian hipotesis dapat diketahui bahwa pencapaian hasil belajar siswa pada pengajaran Kimia materi pokok Stoikiometri dengan metode TAI dilengkapi modul lebih tinggi daripada metode diskusi. Ini dapat dilihat dari rerata selisih nilai kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol yaitu untuk kelas eksperimen 2,22 (kognitif) dan 0,72 (afektif) sedangkan untuk kelas kontrol 1,92 (kognitif) dan 0,46 (afektif). Hal ini juga dapat dibuktikan

lxx

dengan menggunakan analisis uji t-pihak kanan, dimana harga thitung lebih besar dari harga ttabel. Dari hasil analisis uji t-pihak kanan, pencapaian hasil belajar siswa untuk aspek kognitif pada pembelajaran dengan metode TAI dilengkapi modul lebih tinggi daripada diskusi. Hal ini karena harga thitung > ttabel (1,921 > 1,66). Selisih thitung dengan ttabel sangat kecil, ini disebabkan siswa SMA 1 Pati sebagian besar memang merupakan siswa yang pandai sehingga dengan menggunakan metode apapun mereka bisa memahami pelajaran yang diberikan. Materi pokok Stoikiometri terdiri dari beberapa sub materi yaitu Koefisien Reaksi, Hitungan Kimia Sederhana, Pereaksi Pembatas, Hidrat, Hitungan Kimia yang Melibatkan Campuran, Kemolaran, Perhitungan Kimia yang Melibatkan Larutan. Materi Stoikiometri ini merupakan salah satu materi pokok yang dianggap sulit dan bersifat hitungan sehingga perlu mengurutkan konsep-konsep dalam memecahkan soal-soal hitungan kimia. Untuk materi yang bersifat hitungan perlu banyak latihan agar mudah memahaminya. Dalam hal ini pengajaran yang memungkinkan adalah TAI dilengkapi modul karena walaupun pengajarannya secara bekelompok namun tetap memfokuskan pada kemampuan individual. Metode pengajaran TAI ini merupakan metode pembelajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu, berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam satu kelompok. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Pada pembelajaran TAI akan memotivasi siswa untuk saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetisi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif. Selain itu dalam penelitian ini dilengkapi dengan penggunaan modul yang dapat membantu proses belajar siswa. Modul ini dilengkapi dengan bermacam-macam contoh soal yang bervariasi dan terstruktur. Sebagai contoh untuk menyelesaikan soal stoikiometri larutan dalam

lxxi

reaksi diberikan beberapa cara pemecahan, langkah-langkah pemecahannya dan cara memeriksa kebenaran hitungan. Sedangkan metode diskusi kelas adalah metode yang diterapkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi di sekolah ini. Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar pendapat sehingga didapat suatu kesimpulan. Metode ini dapat meningkatkan partisipasi siswa secara individual serta memberi

kemungkinan untuk saling mengeluarkan pendapat dan bertukar pikiran. Di samping itu metode ini tidak dapat membuktikan secara langsung suatu konsep yang dipelajari. Apalagi dalam penelitian ini materi yang diteliti bersifat hitungan, sehingga memerlukan banyak latihan untuk mempelajarinya. Dari hasil analisis uji t-pihak kanan, pencapaian hasil belajar siswa untuk aspek afektif pada pembelajaran dengan metode TAI dilengkapi modul dan metode diskusi kelas diperoleh harga thitung = 3,56 lebih besar daripada harga ttabel = 1,66. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa pencapaian hasil belajar siswa untuk aspek afektif pada pembelajaran dengan metode TAI dilengkapi modul lebih tinggi daripada metode diskusi kelas. Aspek afektif dalam pembelajaran ini mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai dari siswa. Seorang siswa akan sulit untuk mencapai keberhasilan studi secara optimal apabila siswa tersebut tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu, dalam hal ini adalah pelajaran Kimia. Dari sini dapat diketahui bahwa kompetensi siswa pada aspek afektif menjadi penunjang keberhasilan untuk mencapai hasil pembelajaran pada aspek kognitif.

Pengembangan aspek afektif dalam pembelajaran ini lebih diarahkan pada pengembangan sikap ilmiah siswa yang meliputi kesadaran diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial dan kecakapan akademik. Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan metode TAI membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemukan pada metode konvensional. Oleh karena itu, penggunaan metode TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok Stoikiometri. lxxii

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran dengan metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pati tahun pelajaran 2005/2006. Hal ini ditunjukkan oleh kedua harga thitung kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan uji t-pihak kanan untuk nilai kognitif = 1,921 dan untuk nilai afektif = 3,56 lebih besar daripada harga ttabel = 1,66 sehingga hipotesis nolnya ditolak.

B. Implikasi Dari hasil penelitian menimbulkan suatu pemikiran agar dalam proses belajar mengajar guru memiliki suatu metode yang dapat membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran. Untuk itu diperlukan metode pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa yaitu metode TAI dilengkapi modul.

C. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dalam penelitian ini, maka

penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut: 1. Guru hendaknya menggunakan metode TAI dilengkapi modul pada pembelajaran kimia materi pokok Stoikiometri karena pemahaman tentang materi pelajaran akan lebih diingat apabila dilakukan secara berkelompok. 2. Proses pembelajaran Kimia hendaknya dilakukan dengan melibatkan keaktifan siswa sehingga kompetensi yang diharapkan dapat dicapai. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan metode TAI pada pembelajaran Kimia materi pokok yang lain, misalnya Termokimia, Laju Reaksi, Sifat Koligatif Larutan lxxiii

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Ronald H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Terjemahan Yusufhadi Miarso. Jakarta: CV Rajawali Arief S. Sadiman. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa Conny Semiawan. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Grasindo Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Dan Penilaian. Direktorat Pendidikan Menengah Umum Ditjen. Dikdasmen Gredler, Margaret.E Bell. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Terjemahan Munandir. Jakarta: Rajawali Press H.J Gino. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Surakarta: UNS Press Ignatius Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius J.J Hasibuan & Mudjiono. 2002. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito Margono. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: UNS Press Michael Purba. 2002. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga Mulyati Arifin. 1995. Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia. Surabaya: Unair Press Nana Sudjana. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo Ngalim Purwanto. 1992. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: Grasindo Roestiyah N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Slavin. 1995. Cooperative Learning, Theory, Research and Practice. Boston: Allyn and Bacon

lxxiv

Soekartawi. 1995. Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya St.Vembriarto. 1985. Pengantar Pengajaran Modul. Yogyakarta: Paramita Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Suko Pangestuti. 2004. Efektivitas Pengajaran Kimia Menggunakan Metode TAI (Teams Assisted Individualization) Terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Sub Pokok Bahasan Tetapan Kesetimbangan Kimia Kelas 2 Semester 1 SMA Negeri 1 Gombong Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi. Surakarta: UNS Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka www.bebas.vlsm.org. Stoikiometri (diakses tanggal 1 Desember 2005 jam 20.10) Yusufhadi Miarso, dkk. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan, Pengertian dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta: CV Rajawali

lxxv

SATUAN PELAJARAN

Mata Pelajaran Satuan Pendidikan Kelas Semester Materi Pokok Waktu

: Kimia : SMA : XI-IA (IPA) :4 : Stoikiometri : 4x45 menit

I.

Standar Kompetensi Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya

II.

Kompetensi Dasar Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit

III.

Indikator Pencapaian Hasil Belajar 1. Mengkomunikasikan arti koefisien reaksi 2. Menggunakan konsep hitungan kimia sederhana 3. Menggunakan konsep pereaksi pembatas dalam hitungan kimia 4. Mengkomunikasikan tentang hidrat 5. Menggunakan konsep hitungan kimia dalam menyelesaikan hitungan kimia yang melibatkan campuran 6. Mengkomunikasikan arti kemolaran 7. Menggunakan konsep mol, konsentrasi dan volume larutan dalam perhitungan kimia yang melibatkan larutan

IV.

Materi Pembelajaran Seperti tercantum pada materi pokok Stoikiometri (halaman 24-32)

lxxvi

V.

Strategi Belajar Mengajar A. Metode Pembelajaran TAI dilengkapi modul B. Skenario Pembelajaran No Materi Skenario Pembelajaran 1 Pretest - Guru memberikan soal dan mengawasi - Siswa mengerjakan soal 2 Stoikiometri a. Kegiatan Guru - Membagi siswa menjadi beberapa kelompok - Membagikan modul - Memberikan pengarahan secara singkat - Mengawasi jalannya pengelompokan - Memberikan penghargaan terhadap tim yang paling tinggi nilainya - Guru menghentikan program pengelompokan dan menjelaskan konsepkonsep yang belum dipahami b. Kegiatan Siswa - Mendengarkan pengarahan yang diberikan - Memahami modul - Mengerjakan soal-soal dalam modul secara individual - Mencocokkan jawaban dengan teman sekelompoknya - Mencocokkan paket soal dengan kelompok lain untuk dinilai 3 Postest - Guru memberikan soal dan mengawasi - Siswa mengerjakan soal

VI.

Penilaian A. Prosedur Penilaian 1. Penilaian ranah kognitif 2. Penilaian ranah afektif B. Alat Penilaian 1. Penilaian ranah kognitif 2. Penilaian ranah afektif : instrumen soal-soal bentuk obyektif : instrumen angket sikap : tes tertulis : tes tertulis

VII.

Sumber Bacaan 1. Michael Purba. 2000. Kimia 2000 2A. Jakarta: Erlangga 2. Michael Purba. 2004. Kimia untuk SMA 2B. Jakarta: Erlangga

lxxvii

SATUAN PELAJARAN

Mata Pelajaran Satuan Pendidikan Kelas Semester Materi Pokok Waktu

: Kimia : SMA : XI-IA (IPA) :4 : Stoikiometri : 4x45 menit

I.

Standar Kompetensi Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya

II.

Kompetensi Dasar Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit

III.

Indikator Pencapaian Hasil Belajar 1. Mengkomunikasikan arti koefisien reaksi 2. Menggunakan konsep hitungan kimia sederhana 3. Menggunakan konsep pereaksi pembatas dalam hitungan kimia 4. Mengkomunikasikan tentang hidrat 5. Menggunakan konsep hitungan kimia dalam menyelesaikan hitungan kimia yang melibatkan campuran 6. Mengkomunikasikan arti kemolaran 7. Menggunakan konsep mol, konsentrasi dan volume larutan dalam perhitungan kimia yang melibatkan larutan

IV.

Materi Pembelajaran Seperti tercantum pada materi pokok Stoikiometri (halaman 24-32)

lxxviii

V.

Strategi Belajar Mengajar A. Metode Pembelajaran Diskusi Kelas B. Skenario Pembelajaran No 1 2 Materi Pretest Stoikiometri Skenario Pembelajaran - Guru memberikan soal dan mengawasi - Siswa mengerjakan soal a. Kegiatan Guru - Membagi siswa menjadi beberapa kelompok - Memberikan pengarahan secara singkat - Mengawasi jalannya diskusi b. Kegiatan Siswa - Mendengarkan pengarahan yang diberikan - Mengadakan diskusi antar kelompok - Membuat kesimpulan - Guru memberikan soal dan mengawasi - Siswa mengerjakan soal

3

Postest

VI.

Penilaian B. Prosedur Penilaian 1. Penilaian ranah kognitif 2. Penilaian ranah afektif C. Alat Penilaian 1. Penilaian ranah kognitif 2. Penilaian ranah afektif : instrumen soal-soal bentuk obyektif : instrumen angket sikap : tes tertulis : tes tertulis

VII.

Sumber Bacaan 1. Michael Purba. 2000. Kimia 2000 2A. Jakarta: Erlangga 2. Michael Purba. 2004. Kimia untuk SMA 2B. Jakarta: Erlangga

lxxix

MODUL 1

Mata Pelajaran Modul Topik Kelas/ Semester Waktu

: Kimia : Stoikiometri : Stoikiometri Umum : XI IPA/ 4 : 2x 45 menit

A. Petunjuk untuk Siswa 1. Materi ini merupakan kelanjutan dari materi kelas X tentang konsep mol. 2. Pelajarilah baik-baik materi ini. Apabila mendapatkan kesulitan, tanyakanlah kepada gurumu. Kerjakan tugas-tugas yang diminta pada lembar kerja. 3. Jika sudah memahami modul unit ini, dapat dilanjutkan ke unit berikutnya (dapat diminta pada gurumu).

B. Standart Kompetensi Setelah mempelajari modul ini, siswa mampu mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya.

C. Kompetensi Dasar Siswa mampu menerapkan konsep mol dalam menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi pada reaksi dalam larutan.

D. Hasil Belajar Siswa mampu menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi pada reaksi dalam larutan elektrolit.

lxxx

E. Indikator Siswa dapat: 1. Mengkomunikasikan arti koefisien reaksi. 2. Menggunakan konsep hitungan kimia sederhana. 3. Menggunakan konsep pereaksi pembatas dalam hitungan kimia. 4. Mengkomunikasikan tentang hidrat. 5. Menggunakan konsep hitungan kimia dalam menyelesaikan hitungan kimia yang melibatkan campuran.

F. Kegiatan Belajar 1. Uraian dan Contoh a. Arti Koefisien Reaksi Koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah partikel dari zat yang telibat dalam reaksi. Oleh karena 1 mol setiap zat mengandung jumlah partikel yang sama, maka perbandingan jumlah partikel sama dengan perbandingan jumlah mol. Jadi, koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi. Contoh: Untuk reaksi, 1N2 (g) + 3H2 (g) 2NH3 (g)

koefisien reaksinya menyatakan bahwa: 1 molekul N2 bereaksi dengan 3 molekul H2 membentuk 2 molekul NH3, atau 1 mol N2 bereaksi dengan 3 mol H2 menghasilkan 2 mol NH3 Dengan pengertian tersebut, maka banyaknya zat yang diperlukan atau dihasilkan dalam reaksi kimia dapat diitung dengan menggunakan persamaan reaksi setara. Apabila jumlah mol salah satu zat diketahui, maka jumlah mol zat yang lain dalam reaksi itu dapat ditentukan dari perbandingan koefisien reaksinya. Perhatikan contoh soal berikut: Aluminium larut dalam asam sulfat menghasilkan aluminium sulfat dan gas hidrogen, lxxxi

2Al(s) + 3H2SO4(aq) aluminium? Jawab: Perbandingan mol Al : H2 = 2 : 3

Al2 (SO4)3 (aq) + 3H2 (g)

Berapa mol gas hidrogen dapat dihasilkan jika digunakan 0,5 mol

Jika direaksikan 0,5 mol Al, maka jumlah H2 yang dapat dihasilkan
3 x 0,5 mol = 0,75 mol 2

b. Hitungan Kimia Sederhana Menghitung jumlah suatu zat yang diperlukan atau dihasilkan dalam suatu reaksi di mana jumlah salah satu zat lain dalam reaksi itu diketahui, kita golongkan sebagai hitungan kimia sederhana. Hitungan kimia sedehana dapat diselesaikan menurut 4 langkah sebagai berikut: · · · · Menuliskan persamaan reaksi setara, Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui (yang dapat ditentukan jumlah molnya) Menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi, Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.

Perhatikan contoh soal berikut: Hitunglah volum gas hidrogen (STP) yang terbentuk jika 5,4 gram Al (Ar = 27) dilarutkan dalam asam sulfat! Jawab: (5) Persamaan setara untuk reaksi aluminium dengan asam sulfat adalah 2Al(s) + 3H2SO4 (aq) (6) Mol Al =
5,4 g = 0,2 mol 27 gmol -1
3 x 0,2 mol = 0,3 mol 2

Al2 (SO4)3 (aq) + 3H2 (g)

(7) Mol H2 =

(8) Volum H2 = 0,3 mol x 22,4 L mol -1 = 6,72 liter lxxxii

c. Pereaksi Pembatas Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang habis lebih dahulu. Apabila zatzat yang direaksikan tidak ekivalen, maka salah satu pereaksi akan habis lebih dahulu sedangkan pereaksi yang lain bersisa. Banyaknya hasil reaksi akan bergantung pada jumlah mol pereaksi pembatas. Oleh karena itu, langkah penting dalam menyelesaikan hitungan seperti ini adalah menentukan pereaksi pembatasnya. Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1) Menuliskan persamaan setara 2) Menentukan jumlah mol zat-zat yang diketahui 3) Membandingkan jumlah mol masing-masing zat dengan koefisien reaksinya. Pereaksi pembatas adalah zat yang hasil baginya paling kecil. 4) Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan berdasarkan perbandingan koefisien dengan pereaksi pembatas. 5) Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan. Contoh: Sebanyak 8 gram gas metana dibakar dengan 40 gram gas oksigen. Berapa gram CO2 yang terbentuk? (H = 1; C = 12; O = 16) Jawab: · Persamaan setara reaksi pembakaran metana: CH4 (g) + 2O2 (g) · Jumlah mol metana (CH4) = Jumlah mol oksigen (O2) = · · CO2 (g) + 2H2O(g)
8g = 0,5 mol 16 gmol -1 40 g = 1,25 mol 32 gmol -1

Metana akan habis dahulu karena hasil bagi jumlah mol dengan koefisien reaksinya lebih kecil daripada oksigen (0,5/1 < 1,25/2) Jumlah mol CO2 yang terbentuk bergantung pada jumlah mol CH4 =
1 x 0,5 mol = 0,5 mol 1

·

Massa CO2 = 0,5 mol x 44 g mol-1 = 22 gram lxxxiii

d. Hitungan Stoikiometri yang Melibatkan Campuran Apabila suatu campuran dari dua jenis zat direaksikan dengan suatu pereaksi dan kedua komponen campuran itu bereaksi, maka persamaan reaksinya haus ditulis secara terpisah. Pada umumnya hitungan yang melibatkan campuran diselesaikan dengan pemisalan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut: 1) Menuliskan persamaan setara untuk masing-masing komponen. 2) Memisalkan salah satu komponen dengan x, maka komponen lainnya sama dengan selisihnya. 3) Menentukan jumlah mol masing-masing komponen. 4) Menentukan jumlah mol zat lain yang diketahui. 5) Membuat persamaan untuk menentukan nilai x 6) Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan Contoh: Reaksi paduan logam Al dan Mg dengan larutan HCl encer harus ditulis secara terpisah sebagai berikut: 2Al(s) + 6 HCl(aq) Mg(s) + 2HCl(aq) 2AlCl3 (aq) + 3H2 (g) MgCl2 (aq) + H2 (g)

Susunan suatu campuran dapat ditentukan dengan mengukur jumlah peeaksi atau salah satu hasil reaksi yang setara dengan campuran itu. Perhatikan contoh soal berikut: Suatu campuran terdiri atas CaO dan Ca(OH)2. Untuk menentukan susunan campuran itu, dilakukan percobaan sebagai berikut. Sebanyak 1 gram campuran dilarutkan dalam 50 mL air. Ternyata untuk menetralkan larutan itu membutuhkan 0,032 mol HCl. Berapa persen massa CaO dalam campuran itu? (H = 1; O = 16; Ca = 40). Jawab: · Menuliskan persamaan setara untuk masing-masing komponen. CaO(s) + 2HCl(aq) CaCl2 (aq) + H2O(l) CaCl2(aq) + 2H2O(l) lxxxiv

Ca(OH)2 + 2HCl(aq)

· ·

Membuat pemisalan Misal massa CaO = x gram, maka massa Ca(OH)2 = 1 – x gram Menentukan jumlah mol masing-masing komponen. Mol CaO =
x mol 56 1- x mol 74

Mol Ca(OH)2 = · ·

Menentukan jumlah mol zat lain yang diketahui, yaitu HCl Jumlah mol HCl yang terpakai = 0,032 mol Membuat persamaan Mol HCl untuk reaksi (1) = 2 x mol CaO = 2x Mol HCl untuk reaksi (2)
x mol 56 1- x mol 74

= 2 x mol Ca(OH)2 = 2x =

1- x mol 37

Persamaan: Atau
x 28

2x 56

+

2(1 - x) = 0,032 74

+

1- x 37

= 0,032

Kedua ruas dikalikan dengan 28 x 37, diperoleh 37x + 28(1-x) = 0,032 x 28 x 37 37x + 28 – 28x = 33,152 9x = 5,152 x = 0,572 · · Jadi, massa CaO = 0,572 gram % CaO =
0,572 x 100% 1

= 57,2 %

lxxxv

e. Hidrat Hidrat adalah zat padat yang mengikat beberapa molekul air sebagai bagian dari struktur kristalnya. Contoh: · · · · · Terusi, CuSO4.5H2O: Tembaga (II) sulfat pentahidrat Gips, CaSO4.2H2O: Kalsium sulfat dihidrat Garam Inggris, MgSO4.7H2O: Magnesium sulfat heptahidrat Soda hablur, Na2CO3.10H2O: Natrium karbonat dekahidrat Garam Glauber, Na2SO4.10H2O: Natrium sulfat dekahidrat Jika suatu hidrat dipanaskan, sebagian atau seluruh air kristal dapat lepas (menguap). Contoh: · CaSO4.2H2O(s) Gips · CuSO4.5H2O(s) Terusi
1 1 CaSO4. 2 H2O(s) + 1 H2O(g) 2

Gips bakar CuSO4(s) + 5H2O(g) Tembaga (II) sulfat anhidrat

Jika suatu hidrat dilarutkan dalam air, maka kristalnya akan lepas. Contoh: CuSO4.5H2O(s) CuSO4(s) + 5H2O(l)

Jumlah molekul air kristal dari suatu hidrat dapat ditentukan melalui berbagai cara, salah satu cara diberikan pada contoh berikut. Contoh: Sebanyak 10 gram hidrat besi (II) sulfat dipanaskan sehingga semua air kristalnya menguap. Massa zat padat yang tersisa adalah 5,47 gram. Bagaimanakah rumus hidrat itu? (H = 1; O = 16; S = 32; Fe = 56). Jawab: · Misal jumlah air kristalnya adalah x, jadi rumus hidrat itu adalah FeSO4.xH2O. lxxxvi

·

Pada pemanasan air kristalnya menguap sehingga zat padat yang tertinggal adalah FeSO4. Jadi, massa FeSO4 adalah 5,47 g dan massa air = 10 – 5,47 = 4,53 g FeSO4.xH2O(s) 10 g FeSO4(aq) + xH2O(g) 5,47 g = = 4,53 g

· · · · ·

Jumlah mol FeSO4 Jumlah mol H2O

5,47 g = 0,036 mol 152 gmol -1

4,53 g 18 gmol -1

= 0,252 mol

Mol FeSO4 : mol H2O = 0,036 : 0,252 = 1 : 7 Jadi, 1 molekul FeSO4 mengikat 7 molekul air. Rumus hidrat itu adalah FeSO4.7H2O.

2. Latihan 1 Supaya lebih memahami materi pelajaran di atas, kerjakan latihan ini seperti pada contoh di atas. Jawabanmu dapat dicocokkan dengan kunci jawaban, bila menemui kesulitan tanyakan pada teman atau gurumu. 1) Persamaan reaksi pembakaran asetilena 2C2H2(g) + 5O2(g) dihasilkan? 2) Alkohol (C2H5OH) terbakar menurut persamaan reaksi: C2H5OH(l) + 3O2(g) (H = 1; C = 12; O = 16) 3) Aluminium (Al) bereaksi dengan oksigen (O2) untuk membentuk aluminium oksida (Al2O3). Jika oksigen berlebih dan 5,4 gram aluminium bereaksi, berapa gram aluminium oksida yang dihasilkan? (Al = 27; O = 16). 4) Sebanyak 1 gram campuran yang terdiri atas MgO dan dilarutkan dalam 50 mL air. Ternyata untuk menetralkan larutan itu membutuhkan 0,036 mol HCl. Berapa persen massa MgO dalam campuran itu? lxxxvii 2CO2(g) + 3H2O(l) Pada pembakaran 9,2 gram alkohol, hitunglah massa CO2 yang dihasilkan! 4CO2(g) + 2H2O(g)

Untuk membakar 3 mol gas asetilena, berapa mol karbondioksida yang

5) Sebanyak 1 gram hidrat tembaga (II) sulfat (CuSO4.xH2O) dipanaskan sehingga semua air kristalnya menguap. Massa zat padat yang tertinggal adalah 0,64 gram. Tentukanlah rumus hidrat tersebut!

(Cu = 63,5; S = 32; O = 16; H = 1).

Kunci Jawaban Latihan 1 1) 6 mol 2) 17,6 gram 3) 10,2 gram 4) 9,7% 5) CuSO4.5H2O

3. Rangkuman a. Koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi. b. Hitungan kimia sederhana yaitu menghitung jumlah suatu zat yang diperlukan atau dihasilkan dalam suatu reaksi di mana jumlah salah satu zat lain dalam reaksi itu diketahui. c. Langkah-langkah penyelesaian hitungan kimia sederhana: · · · · Menuliskan persamaan reaksi setara, Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui (yang dapat ditentukan jumlah molnya) Menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi, Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.

d. Pereaksi pembatas adalah pereaksi yang habis lebih dahulu. e. Langkah-langkah penyelesaian hitungan yang berkaitan dengan pereaksi pembatas: · · Menuliskan persamaan setara Menentukan jumlah mol zat-zat yang diketahui

lxxxviii

· · · · · · · · ·

Membandingkan jumlah mol masing-masing zat dengan koefisien reaksinya. Pereaksi pembatas adalah zat yang hasil baginya paling kecil. Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan berdasarkan perbandingan koefisien dengan pereaksi pembatas. Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.

f. Langkah-langkah penyelesaian hitungan yang melibatkan campuran: Menuliskan persamaan setara untuk masing-masing komponen. Memisalkan salah satu komponen dengan x, maka komponen lainnya sama dengan selisihnya. Menentukan jumlah mol masing-masing komponen. Menentukan jumlah mol zat lain yang diketahui. Membuat persamaan untuk menentukan nilai x Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan

4. Tes Formatif 1 Petunjuk: Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E untuk jawaban yang Anda anggap paling tepat. 1) Satu mol aluminium dilarutkan dalam asam sulfat menurut persamaan: 2Al(s) + 3H2SO4(aq) Al2SO4(aq) + 3H2(g)

Jumlah mol asam sulfat yang terpakai dalam reaksi itu adalah.... A. B. C. D. E.
1 mol 3 2 mol 3 3 mol 4 4 mol 3 3 mol 2

lxxxix

2) Volum gas O2 (STP) yang dibutuhkan pada pembakaran sempurna 6 gram C2H6 menurut persamaan berikut adalah....(C = 12; Ca = 40) 2C2H6(g) + 5O2(g) A. 2,24 liter B. 4,48 liter C. 8,96 liter D. 11,2 liter E. 89,6 liter 4CO2(g) + 7H2O(g)

3) Sebanyak 2 gram cuplikan belerang direaksikan dengan oksigen berlebihan menghasilkan 4 gram belerang trioksida (SO3): 2S(s) + 3O2(g) A. 20% B. 25% C. 40% D. 50% E. 80% 2SO3(g) Kadar belerang dalam cuplikan itu adalah....(O = 16; S = 32)

4) Sebanyak 7,8 gram logam campur Mg dan Al dilarutkan dalam asam sulfat berlebihan, membebaskan 8,96 liter gas H2 (STP). Massa Al dalam logam campur tesebut adalah....(Mg = 24; Al = 27) A. 2,4 gram B. 3,2 gram C. 3,4 gram D. 4,2 gram E. 5,4 gram

xc

5) Kristal tembaga (II) sulfat yang berwarna biru berubah menjadi putih pada pemanasan karena kehilangan air kristalnya. CuSO4.xH2O(s) CuSO4(s) + xH2O(g)

Jika pada pemanasan massa kristal itu berkurang 36%, maka nilai x dalam rumus hidrat tersebut adalah....(Cu = 63,5; S = 32; O = 16; H = 1) A. 1 B. 2 C. 5 D. 7 E. 10

5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawabanmu dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang dapat diminta pada gurumu. Hitunglah jumlah jawabanmu yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaanmu terhadap materi Modul 1. Rumus: Tingkat Penguasaan =
jumlah. jawabanmu. yang.benar X 100% jumlah.soal

Arti tingkat penguasaan yang kamu capai: 90% - 100% = baik sekali 80% - 89% = baik 70% - 79% = cukup 69% = kurang

Kalau Kamu mencapai tingkat penguasaan di atas 80%, Kamu dapat melanjutkan ke Modul 2. Bagus! Tetapi kalau tingkat penguasaan Kamu di bawah 80%, Kamu harus mengulang kembali Modul 1, terutama bagian yang belum Kamu kuasai.

xci

MODUL 2

Mata Pelajaran Modul Topik Kelas/ Semester Waktu

: Kimia : Stoikiometri : Stoikiometri Larutan : XI IPA/ 4 : 2 x 45 menit

A. Petunjuk untuk Siswa 1. Materi ini merupakan kelanjutan dari materi kelas X tentang konsep mol. 2. Pelajarilah baik-baik materi ini. Apabila mendapatkan kesulitan, tanyakanlah kepada gurumu. Kerjakan tugas-tugas yang diminta pada lembar kerja. 3. Jika sudah memahami modul unit ini, dapat dilanjutkan ke unit berikutnya (dapat diminta pada gurumu).

B. Standart Kompetensi Setelah mempelajari modul ini, siswa mampu mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya.

C. Kompetensi Dasar Siswa mampu menerapkan konsep mol dalam menghitung banyaknya peeaksi dan hasil reaksi pada reaksi dalam larutan.

D. Hasil Belajar Siswa mampu menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi pada reaksi dalam larutan elektrolit.

xcii

E. Indikator Siswa dapat: 1. Mengkomunikasikan arti kemolaran. 2. Menggunakan konsep mol, konsentrasi dan volume larutan dalam perhitungan kimia yang melibatkan larutan.

F. Kegiatan Belajar 1. Uraian dan Contoh Banyak reaksi yang berlangsung dalam bentuk larutan. Sebagaimana telah diketahui, larutan adalah campuran. Banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan dapat diketahui jika kadar atau konsentrasi larutan diketahui. Dalam bagian ini akan dibahas tentang kemolaran, dan beberapa contoh perhitungan yang melibatkan larutan. a. Pengertian Kemolaran Salah satu cara yang paling umum digunakan untuk menyatakan konsentrasi (kepekatan) larutan adalah kemolaran (M). Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat terlarut dalam tiap mL larutan.
n mol L -1 V n mmol mL -1 V

M=

M=

dengan, M = kemolaran larutan n = jumlah mol zat terlarut V = volum larutan Contoh: Berapakah kemolaran larutan yang dibuat dengan melarutkan 2 gram NaOH dalam 100 mL larutan? Jawab: 2 gram NaOH =
2 mol = 0,05 mol 40

Volum larutan 100 mL = 0,1 L xciii

M = =

n mol L -1 V

0,05 mol L -1 0,1

= 0,5 mol L -1 Salah satu keuntungan yang diperoleh jika konsentrasi larutan dinyatakan dalam kemolaran adalah kemudahan untuk mengetahui jumlah mol zat terlarut dalam volum tertentu larutan. Untuk tujuan seperti itu, rumus kemolaran di atas disusun ulang menjadi,

n = V x M mol

(jika volum larutan dinyatakan dalam liter)

atau n = V x M mmol

(jika volum larutan dinyatakan dalam mL)

Contoh: Hitunglah jumlah mol dan massa urea (M r = 60) yang terdapat dalam 200 mL larutan urea 0,4 M! Jawab: Jumlah mol urea (n) = V x M = 0,2 L x 0,4 mol L -1 = 0,08 mol Massa 0,08 mol urea = 0,8 mol x 60 g mol -1 = 4,8 g b. Beberapa Contoh Perhitungan yang Melibatkan Larutan Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan perhitungan yang melibatkan larutan adalah sebagai berikut: · · Menuliskan persamaan setara untuk masing-masing komponen Menentukan jumlah mol zat-zat yang diketahui

xciv

· ·

Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan berdasarkan perbandingan koefisien reaksi Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan Pada bagian ini diberikan beberapa contoh perhitungan yang melibatkan

larutan. Contoh: 1) Zink (seng) dilarutkan dalam asam sulfat encer menghasilkan gas hidrogen menurut persamaan: Zn(s) + H2SO4(aq) gas H2 (STP)? Jawab: · Persamaan setara: Zn(s) + H2SO4(aq) · · · Jumlah mol H2 Jumlah mol H2SO4 = = ZnSO4(aq) + H2(g)
6,72.L = 0,3 mol 22,4.L.mol -1
1 x 0,3 mol 1

ZnSO4(aq) + H2(g)

Berapa mL asam sulfat 2 M diperlukan untuk dapat menghasilkan 6,72 liter

= 0,3 mol

Volum H2SO4 = V =

n 0,3.mol = = 0,15 L M 2.mol.L-1

2) Hitunglah massa endapan yang terbentuk dari reaksi 50 mL timbel (II) nitrat 0,1 M dengan 50 mL KI 0,1 M! ( Pb = 207; I = 127) Jawab: · · · · Persamaan setara: Pb(NO3)2(aq) + 2 KI(aq) PbI2(s) + 2KNO3(aq)

Jumlah mol Pb(NO3)2 = 50 mL x 0,1 mmol/mL = 5 mmol Jumlah mol KI = 50 mL x 0,1 mmol/mL = 5 mmol KI akan habis terlebih dahulu karena hasil bagi jumlah mol dengan koefisien reaksi lebih kecil daripada Pb(NO3)2 (5/1 > 5/2) xcv

Oleh karena hasil bagi KI lebih kecil, maka pereaksi pembatasnya adalah KI. · Jumlah mol PbI2 (endapan) yang terbentuk dibandingkan dengan jumlah mol pereaksi pembatas yaitu KI: Mol PbI2 = =
1 x mol KI 2 1 x 5 mmol 2

= 2,5 mmol Massa PbI2 = mol x Mr = 2,5 mmol x 461 mg/mmol = 1152,5 mg 2. Latihan 2 Supaya lebih memahami materi pelajaran di atas, kerjakan latihan ini seperti pada contoh di atas. Jawabanmu dapat dicocokkan dengan kunci jawaban, bila menemui kesulitan tanyakan pada teman atau gurumu. 1) Tentukanlah volum H2SO4 2 M yang diperlukan untuk melarutkan 5,4 gram aluminium! (Al = 27) 2) Aluminium dapat bereaksi dengan larutan tembaga (II) sulfat. Jika massa aluminium yang bereaksi 2,7 gram, hitunglah massa tembaga yang diendapkan! (Al = 27; Cu = 63,5). 3) Larutan Pb(NO3)2 bereaksi dengan larutan NaCl membentuk endapan PbCl2. hitunglah massa endapan yang terbentuk jika direaksikan 10 mL Pb(NO3)2 0,2 M dengan 20 mL NaCl 0,4 M! 4) Sebanyak 2,7 gram aluminium dilarutkan ke dalam 500 mL asam sulfat 2 M. Tentukan volum NaOH 1 M untuk menetralkan kelebihan asam sulfat! (Al = 27) 5) Kalsium karbonat dan kalsium hidroksida bereaksi dengan asam klorida menurut persamaan: CaCO3(s) + 2HCl(aq) Ca(OH)2(s) + 2HCl(aq) CaCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g) CaCl2(aq) + 2H2O(l)

xcvi

Hitunglah volum larutan HCl 2 M yang diperlukan untuk melarutkan 25 gram campuran yang mengandung 40% CaCO3 dan 60% Ca(OH)2!

(H = 1; C = 12; O = 16)

Kunci Jawaban Latihan 2 1) 0,15 liter 2) 9,525 gram 3) 556 mg 4) 850 mL 5) 300 mL

3. Rangkuman a. Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat terlarut dalam tiap mL larutan. b. Salah satu keuntungan yang diperoleh jika konsentrasi larutan dinyatakan dalam kemolaran adalah kemudahan untuk mengetahui jumlah mol zat terlarut dalam volum tertentu larutan. c. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan perhitungan yang melibatkan larutan adalah sebagai berikut: · · · · Menuliskan persamaan setara untuk masing-masing komponen Menentukan jumlah mol zat-zat yang diketahui Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan berdasarkan perbandingan koefisien reaksi Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan

xcvii

4. Tes Formatif 2 Petunjuk: Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E untuk jawaban yang Anda anggap paling tepat. 1) Untuk membuat 4 gram besi (III) sulfat (Mr = 400) dari besi (III) oksida diperlukan larutan H2SO4 0,1 M sebanyak.... A. 10 mL B. 30 mL C. 100 mL D. 300 mL E. 600 mL 2) Diketahui reaksi 3Ca(NO3)2(aq) + 2Na3PO4 Ca3(PO4)2(s) + 6NaNO3(aq)

Jika 10 mL Ca(NO3)2 0,3 M dicampur dengan 10 mL Na3PO4 0,5 M akan menghasilkan endapan sebanyak....(O = 16; Na = 23; Ca = 40; P = 31; N = 14) A. 0,278 gram B. 0,85 gram C. 1,55 gram D. 3,10 gram E. 3,95 gram 3) Sebanyak 8,1 gram aluminium direaksikan dengan 200 mL asam sulfat 2 M. 2Al(s) + 3H2SO4(aq) (O = 16; Al = 27; S = 32) A. aluminium akan habis lebih dahulu B. jika diukur pada keadaan standar terbentuk 6,72 liter gas hidrogen C. terbentuk 45,6 gram aluminium sulfat D. pada akhir reaksi konsentrasi asam sulfat adalah 0,5 M E. pada akhir reaksi terdapat 2,7 gram aluminium sisa Al2(SO4)3(aq) + 3H2(g)

Pernyataan yang benar tentang reaksi tersebut adalah....

xcviii

4) Sebanyak 1,7 mL asam klorida pekat (massa jenis 1,2 gmL-1) dilarutkan dalam 20 mL air kemudian ditambahkan larutan AgNO3 berlebihan sehingga terjadi reaksi AgNO3(aq) + HCl(aq) AgCl(s) + HNO3aq)

Apabila massa endapan yang terjadi 2,87 gram, maka kadar HCl dalam asam klorida pekat adalah....(H = 1; Cl = 35,5; Ag = 108) A. 1,8% B. 3,65% C. 17% D. 36% E. 73% 5) Asam oksalat kristal H2C2O4.2H2O (Mr = 126) sebanyak 1,26 gram dilarutkan dalam air dan volum dijadikan tepat 100 mL. Sebanyak 10 mL dari larutan itu tepat dinetralkan dengan 5 mL suatu larutan NaOH. Kemolaran larutan NaOH tersebut adalah.... A. 0,1 M B. 0,2 M C. 0,4 M D. 0,5 M E. 0,8 M 6) Sebanyak 100 liter udara dari suatu ruang pertemuan (270C, 1 atm) dialirkan ke dalam air kapur [larutan Ca(OH)2], sehingga bereaksi membentuk endapan CaCO3 (Mr = 100): CO2(g) + Ca(OH)2(aq) adalah.... A. 0,02% B. 0,05% C. 0,1% D. 0,25% E. 0,49% xcix CaCO3(s) + H2O(l) Jika masa endapan yang terjadi 2 gram, maka kadar CO2 dalam udara tersebut

5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawabanmu dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang dapat diminta pada gurumu. Hitunglah jumlah jawabanmu yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaanmu terhadap materi Kegiatan Belajar 2. Rumus: Tingkat Penguasaan =
jumlah. jawabanmu. yang.benar X 100% jumlah.soal

Arti tingkat penguasaan yang kamu capai: 90% - 100% = baik sekali 80% - 89% = baik 70% - 79% = cukup 69% = kurang

Kalau Kamu mencapai tingkat penguasaan di atas 80%, Kamu dapat melanjutkan ke Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Tetapi kalau tingkat penguasaan Kamu di bawah 80%, Kamu harus mengulang kembali Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum Kamu kuasai.

c

Instrumen Penelitian Kognitif LEMBAR SOAL MATA PELAJARAN : KIMIA SEKOLAH : SMA NEGERI 1 PATI WAKTU : 60 MENIT

PETUNJUK UMUM: 1. Tulislah identitas dan kode soal Anda di baris paling atas dari lembar jawaban yang telah disediakan. 2. Periksa dan bacalah soal sebelum Anda menjawabnya. 3. Dahulukan menjawab soal-soal yang Anda anggap mudah. 4. Jumlah soal sebanyak 25 ( dua puluh lima ) butir dan semuanya harus dijawab. 5. Berilah tanda silang ( X ) pada salah satu huruf di lembar jawaban yang Anda anggap paling tepat. 6. Apabila jawaban Anda anggap salah dan Anda ingin

memperbaikinya, coretlah dengan dua garis lurus mendatar pada jawaban yang Anda anggap salah, kemudian berilah tanda silang pada huruf jawaban yang Anda anggap benar. Contoh: Pilihan semula :A B B C C D D E E

Dibetulkan menjadi : A

SELAMAT MENGERJAKAN

ci

1) Diketahui reaksi: 2AgNO3(aq) + CaCl2(aq) A. perbandingan molekul B. perbandingan mol C. perbandingan volum D. perbandingan massa E. jawaban b dan d benar 2AgCl(s) + Ca(NO3)2(aq)

Dari reaksi tersebut perbandingan koefisien menunjukkan....

2) Setengah mol aluminium dilarutkan dalam larutan asam sulfat menurut persamaan: 2Al(s) + 3H2SO4(aq) A. 1/3 mol B. 2/3 mol C. 3/4 mol D. 4/3mol E. 3/2 mol Al2SO4(aq) + 3H2(g)

Jumlah mol asam sulfat yang terpakai dalam reaksi itu adalah....

3) Sebanyak 5 liter gas etena dibakar sempurna dengan gas oksigen menurut persamaan: C2H4(g) + O2 (g) CO2(g) + H2O(g) (reaksi belum setara)

Maka perbandingan volum gas oksigen yang diperlukan dengan volum gas karbondioksida yang dihasilkan, diukur pada P dan T yang sama adalah.... A. 5 : 3 B. 3 : 2 C. 3 : 1 D. 2 : 3 E. 1 :3 cii

4) Gas nitrogen dapat bereaksi dengan gas hidrogen membentuk amoniak. Jika 6 liter gas hidrogen yang bereaksi, maka volum gas amoniak yang dihasilkan adalah.... A. 18 liter B. 12 liter C. 6 liter D. 4 liter E. 3 liter 5) Hitungan kimia sederhana dapat diselesaikan menurut langkah-langkah sebagai berikut.... A. Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui; menuliskan persamaan reaksi setara; menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan

perbandingan koefisien reaksi; menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan. B. Menuliskan persamaan reaksi setara;menyatakan jumlah mol zat yang diketahui; menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi; menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan. C. Menuliskan persamaan reaksi setara; menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi; menyatakan jumlah mol zat yang diketahui; menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan. D. Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui; menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi; menuliskan persamaan reaksi setara; menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan. E. Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui; menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan; menentukan jumlah mol zat yang ditanya berdasarkan perbandingan koefisien reaksi; menuliskan persamaan reaksi setara. 6) Berikut ini adalah nama hidrat sesuai dengan rumus molekulnya, kecuali.... A. Gips, CaSO4.2H2O B. Garam Inggris, MgSO4.7H2O C. Garam Glauber, FeSO4.7H2O D. Terusi, CuSO4.5H2O E. Soda Hablur, Na2CO3.10H2O ciii

7) Volum gas CO2 (STP) yang dapat terbentuk pada pembakaran sempurna 6 gram C2H6 adalah....(C = 12; H = 1; O = 16) A. 2,24 liter B. 4,48 liter C. 8,96 liter D. 11,2 liter E. 89,6 liter

8) Reaksi hidrogen dan oksigen membentuk air: 2H2(g) + O2(g) 2H2O(l)

Massa oksigen yang harus direaksikan dengan 5 gram hidrogen untuk membentuk 9 gram air adalah....(H = 1; O = 16) A. 2 gram B. 4 gram C. 5 gram D. 8 gram E. 80 gram

9) Gas klorin dapat dibuat dari NaCl melalui reaksi sebagai berikut: MnO2(s) + 2NaCl(s) + 2H2SO4(aq) Na2SO4(aq) Pada pembuatan 1 mol klorin (STP).... A. dibutuhkan 1 gram MnO2 B. dibutuhkan 2 molekul NaCl C. dihabiskan 2 liter H2SO4 D. terbentuk 2 liter H2O E. terbentuk 1 mol MnSO4 MnSO4(aq) + 2H2O(l) + Cl2(g) +

civ

10) Reaksi garam dapur dan air untuk menghasilkan soda api, klor dan hidrogen adalah sebagai berikut: 2NaCl(s) + 2H2O(l) 2NaOH(aq) + Cl2(g) + H2(g)

Jika soda api yang dihasilkan sebanyak 100 gram dan massa jenis air 1 kg/L, maka air yang bereaksi adalah....(Na = 23; Cl = 35,5; H = 1; O = 16) A. 2,5 mL B. 22,4 mL C. 45 mL D. 56 mL E. 100 mL

11) Jika unsur A dan B dengan berat yang sama dicampur, dan terjadi reaksi kimia membentuk senyawa AB2, ternyata pada akhir reaksi unsur B habis. Unsur A yang tidak bereaksi adalah....(Ar A = 40; B = 80) A. 25% B. 40% C. 50% D. 60% E. 75%

12) Sebanyak 6,5 gram logam seng (Ar = 65) habis bereaksi dengan larutan asam sulfat 1 M, menurut persamaan reaksi sebagai berikut: Zn(s) + H2SO4(aq) A. 0,1 mL B. 10 mL C. 100 mL D. 150 mL E. 200 mL cv ZnSO4(aq) + H2(g)

Volume H2SO4 paling sedikit yang telah digunakan adalah....

13) Sebanyak 4 gram cuplikan belerang direaksikan dengan oksigen berlebihan menghasilkan 8 gram belerang trioksida (SO3): 2S(s) + 3O2(g) A. 20% B. 25% C. 40% D. 50% E. 80% 2SO3(g) Kadar belerang dalam cuplikan itu adalah....(O = 16; S = 32)

14) Pada reaksi 27 gram kalsium dengan 5,6 gram nitrogen dihasilkan kalsium nitrida menurut persamaan reaksi: 3Ca(s) + N2(g) A. 14,8 gram B. 29,6 gram C. 44,4 gram D. 68,0 gram E. 148,0 gram Ca3N2(s)

Massa kalsium nitrida yang dihasilkan adalah....(Ca = 40; N = 14)

15) Sebanyak 1 gram campuran terdiri atas MgO dan Mg(OH)2 dilarutkan dalam 50 mL air. Ternyata untuk menetralkan larutan itu membutuhkan 0,032 mol HCl. Massa Mg(OH)2 dalam campuran adalah.... A. 0,079 gram B. 0,097 gram C. 0,197 gram D. 0,803 gram E. 0,903 gram (*)

cvi

16) Sebuah paduan (aliase) yang terdiri dari 90% Al (Ar = 27) dan 10% Cu (Ar = 63,5) digunakan untuk menghasilkan gas H2 dengan cara mereaksikan dengan asam klorida. Untuk menghasilkan 6,72 liter gas H2 (STP) dibutuhkan paduan sebanyak... A. 5,4 gram B. 6,0 gram C. 6,6 gram D. 7,6 gram E. 8,0 gram

17) Kristal tembaga (II) sulfat yang berwarna biru berubah menjadi putih pada pemanasan karena kehilangan air kristalnya. CuSO4.xH2O(s) CuSO4(s) + xH2O(g)

Jika pada pemanasan massa kristal itu berkurang 36%, maka nilai x dalam rumus hidrat tersebut adalah....(Cu = 63,5; S = 32; O = 16; H = 1) A. 1 B. 2 C. 5 D. 7 E. 10

18) Pada pemanasan 7,15 gram Na2CO3.xH2O beratnya berkurang menjadi 2,65 gram (Ar Na = 23); C = 12; O = 16; H = 1). Rumus kristal tersebut adalah.... A. Na2CO3.H2O B. Na2CO3.2H2O C. Na2CO3.4H2O D. Na2CO3.6H2O E. Na2CO3.10H2O

cvii

19) Bila 2,4 gram logam magnesium (Ar = 24) bereaksi sempurna menurut reaksi: Mg(s) + 2HCl(aq) MgCl2(aq) + H2(g) Maka volum HCl 1 M yang diperlukan sebanyak.... A. 300 mL B. 250 mL C. 200 mL D. 125 mL E. 100 mL

20) Sebanyak 200 mL KI 1 M dicampurkan dengan 50 mL Pb(NO3)2 1 M membentuk endapan PbI2 dan larutan KNO3. Jumlah mol pereaksi yang berlebihan setelah berlangsungnya reaksi adalah.... A. 0,05 mol KI B. 0,05 mol Pb(NO3)2 C. 0,10 mol KI D. 0,10 mol Pb(NO3)2 E. 0,15 mol KI

21) Sebanyak 8,1 gram aluminium direaksikan dengan 200 mL asam sulfat 2 M. 2Al(s) + 3H2SO4(aq) 32) A. aluminium akan habis lebih dahulu B. jika diukur pada keadaan standar terbentuk 6,72 liter gas hidrogen C. terbentuk 45,6 gram aluminium sulfat D. pada akhir reaksi konsentrasi asam sulfat adalah 0,5 M E. pada akhir reaksi terdapat 2,7 gram aluminium sisa Al2(SO4)3(aq) + 3H2(g)

Pernyataan yang benar tentang reaksi tersebut adalah....(O = 16; Al = 27; S =

cviii

22) Jika 10 mL Ca(NO3)2 1 M dicampur dengan 10 mL Na3PO4 2 M akan menghasilkan endapan sebanyak....(O = 16; Na = 23; Ca = 40; P = 31; N = 14) (*) A. 0,85 gram B. 1,03 gram C. 1,55 gram D. 3,10 gram E. 3,95 gram

23) Sebanyak 2 gram metana (Mr = 16) dibakar sempurna dengan O2 murni. Gas CO2 yang terbentuk dialirkan ke dalam larutan air kapur, Ca(OH)2, sehingga terbentuk endapan CaCO3 (Mr = 100). Berat endapan yang terbentuk adalah.... A. 7,5 gram B. 10 gram C. 12,5 gram D. 15 gram E. 20 gram

24) Sebanyak 100 liter udara dari suatu ruang pertemuan (270C, 1 atm) dialirkan ke dalam air kapur [larutan Ca(OH)2], sehingga bereaksi membentuk endapan CaCO3 (Mr = 100): CO2(g) + Ca(OH)2(aq) adalah.... A. 0,02% B. 0,05% C. 0,1% D. 0,25% E. 0,49% cix CaCO3(s) + H2O(l) Jika masa endapan yang terjadi 2 gram, maka kadar CO2 dalam udara tersebut

25) Asam oksalat kristal H2C2O4.2H2O (Mr = 126) sebanyak 1,26 gram dilarutkan dalam air dan volum dijadikan tepat 100 mL. Sebanyak 10 mL dari larutan itu tepat dinetralkan dengan 5 mL suatu larutan NaOH. Kemolaran larutan NaOH tersebut adalah.... A. 0,1 M B. 0,2 M C. 0,4 M D. 0,5 M E. 0,8 M

(*) : soal tidak dipakai (drop)

cx

Jawaban Soal-soal Try Out

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Jawaban B C B D B C C B E C E C E B E A C E C C C B C E B

cxi

Penilaian Afektif ALAT PENILAIAN AFEKTIF STOIKIOMETRI LARUTAN

NAMA : ...................................................................... KELAS : ......................................................................

Petunjuk Pengisian: Bacalah pernyataan berikut baik-baik, kemudian beri tanda cek ( V ) pada kolom yang sesuai dengan pendapat Anda. SS S N TS = Sangat Setuju = Setuju = Netral = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

No 1. Kesadaran Diri:

Aspek yang dinilai · Saya tertarik waktu membahas tentang stoikiometri · Saya bersyukur atas karunia Allah sehingga dapat mempelajari stoikiometri · Saya dapat merasakan manfaat mempelajari stoikiometri · Saya yakin banyak hal tentang stoikiometri yang belum saya ketahui · Mempelajari stoikiometri menambah keyakinan saya terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta

2.

Kecakapan Berpikir Rasional: · Saya akan berusaha untuk mencari literatur lebih banyak lagi tentang koefisien reaksi

cxii

· Saya akan berusaha untuk mencari literatur lebih banyak lagi tentang hitungan stoikiometri · Saya akan berusaha untuk mencari literatur lebih banyak lagi tentang pereaksi pembatas · Saya akan berusaha untuk mencari literatur lebih banyak lagi tentang hidrat · Saya akan berusaha untuk mencari literatur lebih banyak lagi tentang kemolaran 3. Kecakapan Sosial: · Saya dapat mengkomunikasikan dengan baik tentang koefisien reaksi · Saya dapat mengkomunikasikan dengan baik tentang pereaksi pembatas · Saya dapat mengkomunikasikan dengan baik tentang hidrat · Saya dapat mengkomunikasikan dengan baik tentang kemolaran 4. Kecakapan Akademik: · Saya tertarik membahas koefisien reaksi · Saya tertarik membahas hitungan stoikiometri sederhana · Saya tertarik membahas pereaksi pembatas · Saya tertarik membahas hitungan stoikiometri yang melibatkan campuran · Saya tertarik membahas hidrat · Saya tertarik membahas kemolaran Jumlah Total Jumlah Nilai

Pedoman Penskoran Skor untuk aspek yang dinilai SS Sangat Setuju

cxiii

S N TS STS

Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Keterangan: · · · · Jumlah nilai ≥ 80 – 100 sangat baik (A) Jumlah nilai ≥ 60 – 79 baik Jumlah nilai ≥ 40 – 59 cukup Jumlah nilai < 39 (B) (C) (D)

cxiv

Uji t-matching 1. Diketahui Sampel TAI Diskusi 2. Hipotesis : H0 : m1 £ m 2 : rata-rata nilai pretest siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi H1 : m1 > m 2 : rata-rata nilai pretest siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi 3. Komputasi
(n - 1) s1 + (n 2 - 1) s 2 S = 1 n1 + n2 - 2
2 2

n 41 41

Rata-rata 5,30 5,41

Variansi 0,44 0,46

2

=

(40 x0,44) + (40 x0,46) = 0,45 80

S = 0,6708 t =
S X1 - X 2 1 1 + n1 n 2

=

5,30 - 5,41 0,6708 x 0,0488

=

- 0,11 0,148

= -0,742 4. Daerah Kritik α = 0,05; dk = n1 + n2 - 2 ; tolak H0 jika t hitung ≤ t (1-a ;n1 + n2 - 2)

-1,66 -0,742

0,742 1,66

5. Keputusan : Karena harga t hitung < t 0,95(80) atau berada di luar daerah kritik, maka H0 diterima 6. Kesimpulan : Rata-rata nilai pretest siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi.

cxv

Data Induk Penelitian Kognitif
Kelas eksperimen metode TAI no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 ∑X ∑X Sd Var Min Max
2

Kelas kontrol metode diskusi kelas Pretest 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,65 4,35 5,65 5,22 5,22 6,09 6,52 6,52 5,22 5,65 6,09 6,09 4,78 5,65 4,78 4,78 4,78 4,35 6,09 6,09 4,78 6,52 6,52 5,65 5,65 4,35 4,35 5,65 4,35 5,65 5,65 5,65 5,65 4,78 6,52 4,35 221,74 1217,77 5,41 0,68 0,46 4,35 6,52 Postest 7,39 7,83 7,39 6,52 7,39 8,26 6,96 7,83 7,83 6,52 7,83 6,96 6,96 6,52 8,26 8,26 7,39 7,39 7,83 7,83 7,83 7,39 6,96 8,26 7,83 6,52 7,83 7,83 6,96 6,96 6,09 6,09 6,96 6,09 7,39 7,39 6,96 8,26 6,96 8,26 6,52 300,43 2218,34 7,33 0,65 0,42 6,09 8,26 Selisih 2,17 2,61 2,17 1,30 2,17 2,61 2,61 2,17 2,61 1,30 1,74 0,43 0,43 1,30 2,61 2,17 1,30 2,61 2,17 3,04 3,04 2,61 2,61 2,17 1,74 1,74 1,30 1,30 1,30 1,30 1,74 1,74 1,30 1,74 1,74 1,74 1,30 2,61 2,17 1,74 2,17 78,70 166,92 1,92 0,63 0,40 0,43 3,04

Pretest 4,78 5,65 4,78 5,65 6,09 5,22 4,78 5,22 4,35 4,78 5,22 6,09 6,96 5,65 4,35 4,35 4,35 5,22 5,65 4,35 5,65 5,65 5,65 5,22 5,65 5,22 4,78 4,78 4,35 6,09 5,65 5,22 6,09 4,35 6,09 4,78 6,09 6,52 5,22 5,22 5,65 217,39 1170,13 5,30 0,66 0,44 4,35 6,96

Postest 6,09 8,70 6,09 7,83 7,83 8,26 7,83 6,09 6,96 6,96 7,83 6,52 8,70 8,26 6,96 6,96 6,96 7,39 8,26 6,52 8,26 7,39 7,39 7,83 7,39 6,96 6,96 7,83 7,83 8,70 7,83 6,52 6,52 7,83 7,83 7,83 7,39 9,57 8,26 6,52 8,70 308,26 2344,61 7,52 0,82 0,67 6,09 9,57

Selisih 1,30 3,04 1,30 2,17 1,74 3,04 3,04 0,87 2,61 2,17 2,61 0,43 1,74 2,61 2,61 2,61 2,61 2,17 2,61 2,17 2,61 1,74 1,74 2,61 1,74 1,74 2,17 3,04 3,48 2,61 2,17 1,30 0,43 3,48 1,74 3,04 1,30 3,04 3,04 1,30 3,04 90,87 225,52 2,22 0,78 0,60 0,43 3,48

Rerata

cxvi

Data Induk Penelitian Afektif
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 ∑X ∑X
2

Kelas eksperimen metode TAI Pretest 7,2 8,5 6,4 6,6 6,5 6,9 6,8 6,6 6,4 6,5 6,4 6,7 7,3 7,0 6,3 7,2 7,0 6,8 7,2 7,0 6,9 6,8 6,6 7,7 7,6 7,0 7,3 6,5 7,2 8,2 7,2 6,4 7,4 6,4 7,6 6,2 6,0 7,7 7,4 5,7 8,5 285,6 2004,82 6,97 0,62 0,38 5,7 8,5 Postest 8,2 9,1 7,5 6,7 7,0 7,2 7,3 7,5 8,0 7,4 7,4 7,1 8,0 8,1 6,8 8,3 7,3 7,0 8,3 7,7 7,1 7,1 7,3 8,4 8,2 8,4 7,9 7,8 7,7 8,7 8,0 7,5 8,0 7,6 8,3 6,7 7,0 8,4 7,9 6,7 8,7 315,3 2439,75 7,69 0,61 0,38 6,7 9,1 selisih 1,0 0,6 1,1 0,1 0,5 0,3 0,5 0,9 1,6 0,9 1,0 0,4 0,7 1,1 0,5 1,1 0,3 0,2 1,1 0,7 0,2 0,3 0,7 0,7 0,6 1,4 0,6 1,3 0,5 0,5 0,8 1,1 0,6 1,2 0,7 0,5 1,0 0,7 0,5 1,0 0,2 29,7 26,65 0,72 0,36 0,13 0,1 1,6

Kelas kontrol metode diskusi kelas Pretest 6,6 6,7 6,7 7,2 5,9 7,5 6,3 7,5 6,5 6,4 8,0 7,3 6,9 6,8 5,3 5,9 6,9 6,0 8,0 5,4 5,7 6,7 6,0 7,0 8,1 6,6 7,6 7,6 7,2 6,6 6,5 6,1 6,4 7,0 6,4 6,9 6,3 6,6 5,4 7,5 6,8 274,8 1861,56 6,7 0,7 0,49 5,3 8,1 Postest 6,8 7,6 6,8 7,5 6,0 7,6 6,8 7,8 7,4 6,7 8,4 7,5 7,5 7,3 6,4 6,8 7,0 6,5 8,1 6,4 6,0 7,2 6,9 7,6 8,2 7,0 8,0 8,0 7,5 6,7 7,2 6,3 7,2 7,6 7,0 7,0 7,1 7,1 6,2 7,7 7,4 293,8 2119,38 7,17 0,59 0,35 6,0 8,4 selisih 0,2 0,9 0,1 0,3 0,1 0,1 0,5 0,3 0,9 0,3 0,4 0,2 0,6 0,5 1,1 0,9 0,1 0,5 0,1 1,0 0,3 0,5 0,9 0,6 0,1 0,4 0,4 0,4 0,3 0,1 0,7 0,2 0,8 0,6 0,6 0,1 0,8 0,5 0,8 0,2 0,6 19,0 12,24 0,46 0,29 0,09 0,1 1,1

Rerata Sd Var Min Max

cxvii

Distribusi Frekuensi Data Selisih Nilai (Gain Score) 1. Data Selisih Nilai (ΔT) Kognitif a. Kelas Eksperimen (TAI dilengkapi Modul) 1) Menentukan rentang Rentang = data terbesar – data terkecil = 3,48 – 0,43 = 3,05 2) Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas = 1 + (3,3) log n = 1 + (3,3) log 41 = 1 + (3,3) (1,6128) = 6,3221 6 atau 7 dipilih 6

3) Menentukan panjang kelas interval (p) p=
ren tan g 3,05 = = 0,51 banyak .kelas 6

dipilih 0,5 Frekuensi 3 5 7 16 8 2 Frek.Relatif (%) 7,32 12,2 17,07 39,02 19,51 4,88

Interval 0,4 – 0,9 1,0 – 1,5 1,6 – 2,1 2,2 – 2,7 2,8 – 3,3 3,4 – 3,9

Nilai Tengah 0,65 1,25 1,85 2,45 3,05 3,65

b. Kelas Kontrol (Diskusi) 1) Menentukan rentang Rentang = data terbesar – data terkecil = 3,04 – 0,43 = 2,61 2) Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas = 1 + (3,3) log n = 1 + (3,3) log 41 = 1 + (3,3) (1,6128) = 6,3221 6 atau 7 dipilih 6

3) Menentukan panjang kelas interval (p) p=
ren tan g = 2,61/6 = 0,435 banyak .kelas

dipilih 0,5

cxviii

Interval 0,4 – 0,9 1,0 – 1,5 1,6 – 2,1 2,2 – 2,7 2,8 – 3,3 3,4 – 3,8

Nilai Tengah 0,65 1,25 1,85 2,45 3,05 3,65

Frekuensi 2 10 9 18 2 -

Frek.Relatif (%) 4,88 24,39 21,95 43,9 4,88 -

2. Data Selisih Nilai (ΔT) Afektif a. Kelas Eksperimen (TAI dilengkapi Modul) 1) Menentukan rentang Rentang = data terbesar – data terkecil = 1,6 – 0,1 = 1,5 2) Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas = 1 + (3,3) log n = 1 + (3,3) log 41 = 1 + (3,3) (1,6128) = 6,3221 6 atau 7 dipilih 6

3) Menentukan panjang kelas interval (p) p=
ren tan g 1,5 = = 0,25 banyak .kelas 6

dipilih 0,3 Frekuensi 7 12 9 10 2 1 Frek.Relatif (%) 17,07 29,27 21,95 24,39 4,88 2,44

Interval 0,1 – 0,3 0,4 – 0,6 0,7 – 0,9 1,0 – 1,2 1,3 – 1,5 1,6 – 1,8

Nilai Tengah 0,2 0,5 0,8 1,1 1,4 1,7

b. Kelas Kontrol (Diskusi) 1) Menentukan rentang Rentang = data terbesar – data terkecil = 1,1 – 0,1 = 1,0 2) Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas = 1 + (3,3) log n

cxix

= 1 + (3,3) log 41 = 1 + (3,3) (1,6128) = 6,3221 6 atau 7 dipilih 6

3) Menentukan panjang kelas interval (p) p=
ren tan g 1,0 = = 0,16 banyak .kelas 6

dipilih 0,3 Frekuensi 17 14 8 2 Frek.Relatif (%) 41,46 34,15 19,51 4,88 -

Interval 0,1 – 0,3 0,4 – 0,6 0,7 – 0,9 1,0 – 1,2 1,3 – 1,5 1,6 – 1,8

Nilai Tengah 0,2 0,5 0,8 1,1 1,4 1,7

cxx

Uji Normalitas Pretest Kognitif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,78 4,78 4,78 4,78 4,78 4,78 4,78 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 6,09 6,09 6,09 6,09 6,09 6,09 6,52 6,96 5,30 0,66 normal Xi-

X

Zi -1,44 -1,44 -1,44 -1,44 -1,44 -1,44 -1,44 -0,79 -0,79 -0,79 -0,79 -0,79 -0,79 -0,79 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 0,53 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,84 2,50

F(Zi) 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,2148 0,2148 0,2148 0,2148 0,2148 0,2148 0,2148 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,4483 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,7019 0,8830 0,8830 0,8830 0,8830 0,8830 0,8830 0,9671 0,9938

S(Zi) 0,1707 0,1707 0,1707 0,1707 0,1707 0,1707 0,1707 0,3415 0,3415 0,3415 0,3415 0,3415 0,3415 0,3415 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,5610 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,8049 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0958 0,0958 0,0958 0,0958 0,0958 0,0958 0,0958 0,1267 0,1267 0,1267 0,1267 0,1267 0,1267 0,1267 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1127 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,1030 0,0682 0,0682 0,0682 0,0682 0,0682 0,0682 0,0085 0,0062 0,1267 0,1384

-0,95 -0,95 -0,95 -0,95 -0,95 -0,95 -0,95 -0,52 -0,52 -0,52 -0,52 -0,52 -0,52 -0,52 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 -0,08 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,35 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 1,22 1,65

cxxi

Uji Normalitas Postest Kognitif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 6,09 6,09 6,09 6,52 6,52 6,52 6,52 6,52 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 8,26 8,26 8,26 8,26 8,26 8,70 8,70 8,70 8,70 9,57 7,52 0,82 normal Xi-

X

Zi -1,74 -1,74 -1,74 -1,21 -1,21 -1,21 -1,21 -1,21 -0,68 -0,68 -0,68 -0,68 -0,68 -0,68 -0,68 -0,16 -0,16 -0,16 -0,16 -0,16 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,37 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 1,43 1,43 1,43 1,43 2,49

F(Zi) 0,0409 0,0409 0,0409 0,1131 0,1131 0,1131 0,1131 0,1131 0,2451 0,2451 0,2451 0,2451 0,2451 0,2451 0,2451 0,4364 0,4364 0,4364 0,4364 0,4364 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,6443 0,8159 0,8159 0,8159 0,8159 0,8159 0,9236 0,9236 0,9236 0,9236 0,9936

S(Zi) 0,0732 0,0732 0,0732 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,8780 0,8780 0,8780 0,8780 0,8780 0,9756 0,9756 0,9756 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0323 0,0323 0,0323 0,0820 0,0820 0,0820 0,0820 0,0820 0,1208 0,1208 0,1208 0,1208 0,1208 0,1208 0,1208 0,0514 0,0514 0,0514 0,0514 0,0514 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,1118 0,0621 0,0621 0,0621 0,0621 0,0621 0,0520 0,0520 0,0520 0,0520 0,0064 0,1208 0,1384

-1,43 -1,43 -1,43 -1,00 -1,00 -1,00 -1,00 -1,00 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 -0,13 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,31 0,74 0,74 0,74 0,74 0,74 1,18 1,18 1,18 1,18 2,05

cxxii

Uji Normalitas Selisih Kognitif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 0,43 0,43 0,87 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 3,04 3,04 3,04 3,04 3,04 3,04 3,04 3,04 3,48 3,48 2,22 0,78 normal Xi-

X

Zi -2,29 -2,29 -1,73 -1,17 -1,17 -1,17 -1,17 -1,17 -0,61 -0,61 -0,61 -0,61 -0,61 -0,61 -0,61 -0,05 -0,05 -0,05 -0,05 -0,05 -0,05 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 0,51 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,62 1,62

F(Zi) 0,0110 0,0110 0,0418 0,1210 0,1210 0,1210 0,1210 0,1210 0,2709 0,2709 0,2709 0,2709 0,2709 0,2709 0,2709 0,4801 0,4801 0,4801 0,4801 0,4801 0,4801 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,8577 0,8577 0,8577 0,8577 0,8577 0,8577 0,8577 0,8577 0,9484 0,9484

S(Zi) 0,0488 0,0488 0,0732 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 1,0000 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0378 0,0378 0,0314 0,0741 0,0741 0,0741 0,0741 0,0741 0,0950 0,0950 0,0950 0,0950 0,0950 0,0950 0,0950 0,0321 0,0321 0,0321 0,0321 0,0321 0,0321 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0611 0,0935 0,0935 0,0935 0,0935 0,0935 0,0935 0,0935 0,0935 0,0516 0,0516 0,0950 0,1384

-1,78 -1,78 -1,35 -0,91 -0,91 -0,91 -0,91 -0,91 -0,48 -0,48 -0,48 -0,48 -0,48 -0,48 -0,48 -0,04 -0,04 -0,04 -0,04 -0,04 -0,04 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,83 0,83 0,83 0,83 0,83 0,83 0,83 0,83 1,26 1,26

cxxiii

Uji Normalitas Pretest Kognitif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,78 4,78 4,78 4,78 4,78 4,78 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 5,65 6,09 6,09 6,09 6,09 6,09 6,52 6,52 6,52 6,52 6,52 5,41 0,68 normal Xi-

X

Zi -1,56 -1,56 -1,56 -1,56 -1,56 -1,56 -0,92 -0,92 -0,92 -0,92 -0,92 -0,92 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,64 1,64 1,64 1,64 1,64

F(Zi) 0,0594 0,0594 0,0594 0,0594 0,0594 0,0594 0,1788 0,1788 0,1788 0,1788 0,1788 0,1788 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,6406 0,8413 0,8413 0,8413 0,8413 0,8413 0,9495 0,9495 0,9495 0,9495 0,9495

S(Zi) 0,1463 0,1463 0,1463 0,1463 0,1463 0,1463 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,8780 0,8780 0,8780 0,8780 0,8780 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0869 0,0869 0,0869 0,0869 0,0869 0,0869 0,1139 0,1139 0,1139 0,1139 0,1139 0,1139 0,0981 0,0981 0,0981 0,0981 0,0981 0,0981 0,0981 0,0981 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,1155 0,0367 0,0367 0,0367 0,0367 0,0367 0,0505 0,0505 0,0505 0,0505 0,0505 0,1155 0,1384

-1,06 -1,06 -1,06 -1,06 -1,06 -1,06 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,19 -0,19 -0,19 -0,19 -0,19 -0,19 -0,19 -0,19 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,68 0,68 0,68 0,68 0,68 1,11 1,11 1,11 1,11 1,11

cxxiv

Uji Normalitas Postest Kognitif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 6,09 6,09 6,09 6,52 6,52 6,52 6,52 6,52 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 6,96 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 7,39 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 7,83 8,26 8,26 8,26 8,26 8,26 8,26 7,33 0,65 normal Xi-

X

Zi -1,91 -1,91 -1,91 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 1,44 1,44 1,44 1,44 1,44 1,44

F(Zi) 0,0281 0,0281 0,0281 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,2843 0,5398 0,5398 0,5398 0,5398 0,5398 0,5398 0,5398 0,5398 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,9251 0,9251 0,9251 0,9251 0,9251 0,9251

S(Zi) 0,0732 0,0732 0,0732 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 0,8537 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0451 0,0451 0,0451 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,1303 0,0700 0,0700 0,0700 0,0700 0,0700 0,0700 0,0700 0,0700 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0743 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,0749 0,1303 0,1384

-1,24 -1,24 -1,24 -0,81 -0,81 -0,81 -0,81 -0,81 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93 0,93

cxxv

Uji Normalitas Selisih Kognitif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 0,43 0,43 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,30 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 1,74 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,17 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 2,61 3,04 3,04 1,92 0,63 normal Xi- X -1,48 -1,48 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 -0,18 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69 0,69 1,12 1,12 Zi -2,36 -2,36 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,98 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 -0,29 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09 1,78 1,78 F(Zi) 0,0091 0,0091 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,1635 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,3859 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,6554 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,8621 0,9625 0,9625 S(Zi) 0,0488 0,0488 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 1,0000 1,0000 Lmax L0,05;41 [F(Zi)-S(Zi)] 0,0397 0,0397 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1292 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,1263 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0763 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0891 0,0375 0,0375 0,1292 0,1384

cxxvi

Uji Normalitas Pretest Afektif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 5,70 6,00 6,20 6,30 6,40 6,40 6,40 6,40 6,40 6,50 6,50 6,50 6,60 6,60 6,60 6,70 6,80 6,80 6,80 6,90 6,90 7,00 7,00 7,00 7,00 7,20 7,20 7,20 7,20 7,20 7,30 7,30 7,40 7,40 7,60 7,60 7,70 7,70 8,20 8,50 8,50 6,97 0,62 normal Xi- X -1,27 -0,97 -0,77 -0,67 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,57 -0,47 -0,47 -0,47 -0,37 -0,37 -0,37 -0,27 -0,17 -0,17 -0,17 -0,07 -0,07 0,03 0,03 0,03 0,03 0,23 0,23 0,23 0,23 0,23 0,33 0,33 0,43 0,43 0,63 0,63 0,73 0,73 1,23 1,53 1,53 Zi -2,04 -1,56 -1,24 -1,07 -0,91 -0,91 -0,91 -0,91 -0,91 -0,75 -0,75 -0,75 -0,59 -0,59 -0,59 -0,43 -0,27 -0,27 -0,27 -0,11 -0,11 0,06 0,06 0,06 0,06 0,38 0,38 0,38 0,38 0,38 0,54 0,54 0,70 0,70 1,02 1,02 1,18 1,18 1,99 2,47 2,47 F(Zi) 0,0207 0,0594 0,1075 0,1423 0,1814 0,1814 0,1814 0,1814 0,1814 0,2266 0,2266 0,2266 0,2776 0,2776 0,2776 0,3336 0,3936 0,3936 0,3936 0,4562 0,4562 0,5199 0,5199 0,5199 0,5199 0,6480 0,6480 0,6480 0,6480 0,6480 0,7054 0,7054 0,7580 0,7580 0,8461 0,8461 0,8810 0,8810 0,9767 0,9932 0,9932 S(Zi) 0,0244 0,0488 0,0732 0,0976 0,2195 0,2195 0,2195 0,2195 0,2195 0,2927 0,2927 0,2927 0,3659 0,3659 0,3659 0,3902 0,4634 0,4634 0,4634 0,5122 0,5122 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,7805 0,7805 0,8293 0,8293 0,8780 0,8780 0,9268 0,9268 0,9512 1,0000 1,0000 Lmax L0,05;41 [F(Zi)-S(Zi)] 0,0037 0,0106 0,0343 0,0447 0,0381 0,0381 0,0381 0,0381 0,0381 0,0661 0,0661 0,0661 0,0883 0,0883 0,0883 0,0566 0,0698 0,0698 0,0698 0,0560 0,0560 0,0899 0,0899 0,0899 0,0899 0,0837 0,0837 0,0837 0,0837 0,0837 0,0751 0,0751 0,0713 0,0713 0,0319 0,0319 0,0458 0,0458 0,0255 0,0068 0,0068 0,0899 0,1384

cxxvii

Uji Normalitas Postest Afektif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 6,70 6,70 6,70 6,80 7,00 7,00 7,00 7,10 7,10 7,10 7,20 7,30 7,30 7,30 7,40 7,40 7,50 7,50 7,50 7,60 7,70 7,70 7,80 7,90 7,90 8,00 8,00 8,00 8,00 8,10 8,20 8,20 8,30 8,30 8,30 8,40 8,40 8,40 8,70 8,70 9,10 7,69 0,61 normal Xi-

X

Zi -1,62 -1,62 -1,62 -1,45 -1,13 -1,13 -1,13 -0,96 -0,96 -0,96 -0,80 -0,64 -0,64 -0,64 -0,47 -0,47 -0,31 -0,31 -0,31 -0,15 0,02 0,02 0,18 0,34 0,34 0,51 0,51 0,51 0,51 0,67 0,83 0,83 1,00 1,00 1,00 1,16 1,16 1,16 1,65 1,65 2,30

F(Zi) 0,0526 0,0526 0,0526 0,0721 0,1292 0,1292 0,1292 0,1685 0,1685 0,1685 0,2119 0,2611 0,2611 0,2611 0,3192 0,3192 0,3783 0,3783 0,3783 0,4404 0,5080 0,5080 0,5714 0,6331 0,6331 0,6950 0,6950 0,6950 0,6950 0,7486 0,7967 0,7967 0,8413 0,8413 0,8413 0,8770 0,8770 0,8770 0,9505 0,9505 0,9893

S(Zi) 0,0732 0,0732 0,0732 0,0976 0,1707 0,1707 0,1707 0,2439 0,2439 0,2439 0,2683 0,3415 0,3415 0,3415 0,3902 0,3902 0,4634 0,4634 0,4634 0,4878 0,5366 0,5366 0,5610 0,6098 0,6098 0,7073 0,7073 0,7073 0,7073 0,7317 0,7805 0,7805 0,8537 0,8537 0,8537 0,9268 0,9268 0,9268 0,9756 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0206 0,0206 0,0206 0,0255 0,0415 0,0415 0,0415 0,0754 0,0754 0,0754 0,0564 0,0804 0,0804 0,0804 0,0710 0,0710 0,0851 0,0851 0,0851 0,0474 0,0286 0,0286 0,0104 0,0234 0,0234 0,0123 0,0123 0,0123 0,0123 0,0169 0,0162 0,0162 0,0124 0,0124 0,0124 0,0498 0,0498 0,0498 0,0251 0,0251 0,0107 0,0682 0,1384

-0,99 -0,99 -0,99 -0,89 -0,69 -0,69 -0,69 -0,59 -0,59 -0,59 -0,49 -0,39 -0,39 -0,39 -0,29 -0,29 -0,19 -0,19 -0,19 -0,09 0,01 0,01 0,11 0,21 0,21 0,31 0,31 0,31 0,31 0,41 0,51 0,51 0,61 0,61 0,61 0,71 0,71 0,71 1,01 1,01 1,41

cxxviii

Uji Normalitas Selisih Afektif Kelas TAI dilengkapi modul
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 0,10 0,20 0,20 0,20 0,30 0,30 0,30 0,40 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,60 0,60 0,60 0,60 0,70 0,70 0,70 0,70 0,70 0,70 0,80 0,90 0,90 1,00 1,00 1,00 1,00 1,10 1,10 1,10 1,10 1,10 1,20 1,30 1,40 1,60 0,72 0,36 normal Xi- X -0,62 -0,52 -0,52 -0,52 -0,42 -0,42 -0,42 -0,32 -0,22 -0,22 -0,22 -0,22 -0,22 -0,22 -0,22 -0,12 -0,12 -0,12 -0,12 -0,02 -0,02 -0,02 -0,02 -0,02 -0,02 0,08 0,18 0,18 0,28 0,28 0,28 0,28 0,38 0,38 0,38 0,38 0,38 0,48 0,58 0,68 0,88 Zi -1,74 -1,46 -1,46 -1,46 -1,18 -1,18 -1,18 -0,91 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,63 -0,35 -0,35 -0,35 -0,35 -0,07 -0,07 -0,07 -0,07 -0,07 -0,07 0,21 0,49 0,49 0,77 0,77 0,77 0,77 1,05 1,05 1,05 1,05 1,05 1,33 1,61 1,89 2,44 F(Zi) 0,0409 0,0721 0,0721 0,0721 0,1190 0,1190 0,1190 0,1814 0,2643 0,2643 0,2643 0,2643 0,2643 0,2643 0,2643 0,3632 0,3632 0,3632 0,3632 0,4721 0,4721 0,4721 0,4721 0,4721 0,4721 0,5832 0,6879 0,6879 0,7794 0,7794 0,7794 0,7794 0,8531 0,8531 0,8531 0,8531 0,8531 0,9082 0,9463 0,9706 0,9927 S(Zi) 0,0488 0,0976 0,0976 0,0976 0,1707 0,1707 0,1707 0,1951 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,3659 0,4634 0,4634 0,4634 0,4634 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6098 0,6341 0,6829 0,6829 0,7805 0,7805 0,7805 0,7805 0,9024 0,9024 0,9024 0,9024 0,9024 0,9268 0,9512 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41 [F(Zi)-S(Zi)] 0,0079 0,0255 0,0255 0,0255 0,0517 0,0517 0,0517 0,0137 0,1016 0,1016 0,1016 0,1016 0,1016 0,1016 0,1016 0,1002 0,1002 0,1002 0,1002 0,1377 0,1377 0,1377 0,1377 0,1377 0,1377 0,0509 0,0050 0,0050 0,0011 0,0011 0,0011 0,0011 0,0493 0,0493 0,0493 0,0493 0,0493 0,0186 0,0049 0,0050 0,0073 0,1377 0,1384

cxxix

Uji Normalitas Pretest Afektif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 5,30 5,40 5,40 5,70 5,90 5,90 6,00 6,00 6,10 6,30 6,30 6,40 6,40 6,40 6,50 6,50 6,60 6,60 6,60 6,60 6,70 6,70 6,70 6,80 6,80 6,90 6,90 6,90 7,00 7,00 7,20 7,20 7,30 7,50 7,50 7,50 7,60 7,60 8,00 8,00 8,10 6,70 0,70 normal Xi-

X

Zi -2,00 -1,85 -1,85 -1,43 -1,14 -1,14 -1,00 -1,00 -0,86 -0,57 -0,57 -0,43 -0,43 -0,43 -0,29 -0,29 -0,15 -0,15 -0,15 -0,15 0,00 0,00 0,00 0,14 0,14 0,28 0,28 0,28 0,42 0,42 0,71 0,71 0,85 1,14 1,14 1,14 1,28 1,28 1,85 1,85 1,99

F(Zi) 0,0228 0,0322 0,0322 0,0764 0,1271 0,1271 0,1587 0,1587 0,1949 0,2843 0,2843 0,3336 0,3336 0,3336 0,3859 0,3859 0,4404 0,4404 0,4404 0,4404 0,5000 0,5000 0,5000 0,5557 0,5557 0,6103 0,6103 0,6103 0,6628 0,6628 0,7611 0,7611 0,8023 0,8729 0,8729 0,8729 0,8997 0,8997 0,9678 0,9678 0,9767

S(Zi) 0,0244 0,0732 0,0732 0,0976 0,1463 0,1463 0,1951 0,1951 0,2195 0,2683 0,2683 0,3415 0,3415 0,3415 0,3902 0,3902 0,4878 0,4878 0,4878 0,4878 0,5610 0,5610 0,5610 0,6098 0,6098 0,6829 0,6829 0,6829 0,7317 0,7317 0,7805 0,7805 0,8049 0,8780 0,8780 0,8780 0,9268 0,9268 0,9756 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0016 0,0410 0,0410 0,0212 0,0192 0,0192 0,0364 0,0364 0,0246 0,0160 0,0160 0,0079 0,0079 0,0079 0,0043 0,0043 0,0474 0,0474 0,0474 0,0474 0,0610 0,0610 0,0610 0,0541 0,0541 0,0726 0,0726 0,0726 0,0689 0,0689 0,0194 0,0194 0,0026 0,0051 0,0051 0,0051 0,0271 0,0271 0,0078 0,0078 0,0233 0,0726 0,1384

-1,40 -1,30 -1,30 -1,00 -0,80 -0,80 -0,70 -0,70 -0,60 -0,40 -0,40 -0,30 -0,30 -0,30 -0,20 -0,20 -0,10 -0,10 -0,10 -0,10 0,00 0,00 0,00 0,10 0,10 0,20 0,20 0,20 0,30 0,30 0,50 0,50 0,60 0,80 0,80 0,80 0,90 0,90 1,30 1,30 1,40

cxxx

Uji Normalitas Postest Afektif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 6,00 6,00 6,20 6,30 6,40 6,40 6,50 6,70 6,70 6,80 6,80 6,80 6,80 6,90 7,00 7,00 7,00 7,00 7,10 7,10 7,20 7,20 7,20 7,30 7,40 7,40 7,50 7,50 7,50 7,50 7,60 7,60 7,60 7,60 7,70 7,80 8,00 8,00 8,10 8,20 8,40 7,17 0,59 normal Xi-

X

Zi -1,97 -1,97 -1,63 -1,46 -1,29 -1,29 -1,12 -0,79 -0,79 -0,62 -0,62 -0,62 -0,62 -0,45 -0,28 -0,28 -0,28 -0,28 -0,11 -0,11 0,06 0,06 0,06 0,23 0,39 0,39 0,56 0,56 0,56 0,56 0,73 0,73 0,73 0,73 0,90 1,07 1,41 1,41 1,58 1,74 2,08

F(Zi) 0,0244 0,0244 0,0516 0,0721 0,0985 0,0985 0,1314 0,2148 0,2148 0,2676 0,2676 0,2676 0,2676 0,3264 0,3897 0,3897 0,3897 0,3897 0,4562 0,4562 0,5239 0,5239 0,5239 0,5910 0,6554 0,6554 0,7123 0,7123 0,7123 0,7123 0,7673 0,7673 0,7673 0,7673 0,8159 0,8577 0,9207 0,9207 0,9429 0,9591 0,9812

S(Zi) 0,0488 0,0488 0,0732 0,0976 0,1463 0,1463 0,1707 0,2195 0,2195 0,3171 0,3171 0,3171 0,3171 0,3415 0,4390 0,4390 0,4390 0,4390 0,4878 0,4878 0,5610 0,5610 0,5610 0,5854 0,6341 0,6341 0,7317 0,7317 0,7317 0,7317 0,8293 0,8293 0,8293 0,8293 0,8537 0,8780 0,9268 0,9268 0,9512 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41

[F(Zi)-S(Zi)] 0,0244 0,0244 0,0216 0,0255 0,0478 0,0478 0,0393 0,0047 0,0047 0,0495 0,0495 0,0495 0,0495 0,0151 0,0493 0,0493 0,0493 0,0493 0,0316 0,0316 0,0371 0,0371 0,0371 0,0056 0,0213 0,0213 0,0194 0,0194 0,0194 0,0194 0,0620 0,0620 0,0620 0,0620 0,0378 0,0203 0,0061 0,0061 0,0083 0,0165 0,0188 0,0620 0,1384

-1,17 -1,17 -0,97 -0,87 -0,77 -0,77 -0,67 -0,47 -0,47 -0,37 -0,37 -0,37 -0,37 -0,27 -0,17 -0,17 -0,17 -0,17 -0,07 -0,07 0,03 0,03 0,03 0,13 0,23 0,23 0,33 0,33 0,33 0,33 0,43 0,43 0,43 0,43 0,53 0,63 0,83 0,83 0,93 1,03 1,23

cxxxi

Uji Normalitas Selisih Afektif Kelas Diskusi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Rerata Sd Keputusan Xi 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,20 0,20 0,20 0,20 0,30 0,30 0,30 0,30 0,30 0,40 0,40 0,40 0,40 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,60 0,60 0,60 0,60 0,60 0,70 0,80 0,80 0,80 0,90 0,90 0,90 0,90 1,00 1,10 0,46 0,29 normal Xi- X -0,36 -0,36 -0,36 -0,36 -0,36 -0,36 -0,36 -0,36 -0,26 -0,26 -0,26 -0,26 -0,16 -0,16 -0,16 -0,16 -0,16 -0,06 -0,06 -0,06 -0,06 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,24 0,34 0,34 0,34 0,44 0,44 0,44 0,44 0,54 0,64 Zi -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -1,24 -0,90 -0,90 -0,90 -0,90 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,56 -0,22 -0,22 -0,22 -0,22 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,47 0,47 0,47 0,47 0,47 0,81 1,15 1,15 1,15 1,49 1,49 1,49 1,49 1,83 2,17 F(Zi) 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1075 0,1841 0,1841 0,1841 0,1841 0,2877 0,2877 0,2877 0,2877 0,2877 0,4129 0,4129 0,4129 0,4129 0,5478 0,5478 0,5478 0,5478 0,5478 0,6808 0,6808 0,6808 0,6808 0,6808 0,7910 0,8749 0,8749 0,8749 0,9319 0,9319 0,9319 0,9319 0,9664 0,9850 S(Zi) 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,1951 0,2927 0,2927 0,2927 0,2927 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,4146 0,5122 0,5122 0,5122 0,5122 0,6341 0,6341 0,6341 0,6341 0,6341 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7561 0,7805 0,8537 0,8537 0,8537 0,9512 0,9512 0,9512 0,9512 0,9756 1,0000 Lmax L0,05;41 [F(Zi)-S(Zi)] 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,0876 0,1086 0,1086 0,1086 0,1086 0,1269 0,1269 0,1269 0,1269 0,1269 0,0993 0,0993 0,0993 0,0993 0,0863 0,0863 0,0863 0,0863 0,0863 0,0753 0,0753 0,0753 0,0753 0,0753 0,0105 0,0212 0,0212 0,0212 0,0193 0,0193 0,0193 0,0193 0,0092 0,0150 0,1269 0,1384

cxxxii

Uji Homogenitas I. Kognitif A. Nilai Pretest 1. Hipotesis Ho = Kelompok data nilai pretest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H 1 = Kelompok data nilai pretest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel ni-1 40 TAI Diskusi Jumlah S2 1/ ni-1 0,0244 Si2 0,4369 log Si2 -0,3596 -0,3339 -0,6935 (ni-1)logSi2 -14,3847 -13,3543 -27,7390

40 0,0244 0,4636 80 0,0488 0,9005 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,4369) + (40 x0,4636) 80

= 0,45025 Log S2 ln 10 B = -0,3465 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -27,7237 X2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= 0,0352 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik DK = X2│X20,95;1 = 3,84 5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima 6. Kesimpulan

cxxxiii

Kelompok data nilai pretest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen B. Nilai Postest 1. Hipotesis Ho = Kelompok data nilai postest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H 1 = Kelompok data nilai postest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel ni-1 40 TAI Diskusi Jumlah S2 1/ ni-1 0,0244 Si2 0,6734 log Si2 -0,1717 -0,3755 -0,5472 (ni-1)logSi2 -6,8691 -15,0205 -21,8895

40 0,0244 0,4212 80 0,0488 1,0946 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,6734) + (40 x0,4212) 80

= 0,5473 Log S2 ln 10 B = -0,2618 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -20,9420 X2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= 2,1819 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik DK = X2│X20,95;1 = 3,84 5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima 6. Kesimpulan

cxxxiv

Kelompok data nilai postest kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen

C. Selisih Nilai 1. Hipotesis Ho = Kelompok data selisih nilai kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H1 = Kelompok data selisih nilai kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel TAI Diskusi Jumlah S2 ni-1 40 1/ ni-1 0,0244 Si2 0,6031 log Si2 -0,2196 -0,4015 -0,6211 (ni-1)logSi2 -8,7844 -16,0615 -24,8459

40 0,0244 0,3967 80 0,0488 0,9998 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,6031) + (40 x0,3967) 80

= 0,4999 Log S ln 10 B
2

= -0,3011 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -24,0893 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

X2

= 1,7421 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik DK = X2│X20,95;1 = 3,84 5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima cxxxv

6. Kesimpulan Kelompok data selisih nilai kognitif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen

II. Afektif A. Nilai Pretest 1. Hipotesis Ho = Kelompok data nilai pretest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H 1 = Kelompok data nilai pretest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel TAI Diskusi Jumlah S2 ni-1 40 1/ ni-1 0,0244 Si2 0,3843 log Si2 -0,4153 -0,3070 -0,7223 (ni-1)logSi2 -16,6132 -12,2791 -28,8923

40 0,0244 0,4932 80 0,0488 0,8775 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,3843) + (40 x0,4932) 80

= 0,4388 Log S2 ln 10 B = -0,3578 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -28,6226 X2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= 0,6209 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik DK = X2│X20,95;1 = 3,84 cxxxvi

5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima 6. Kesimpulan Kelompok data nilai pretest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen

B. Nilai Postest 1. Hipotesis Ho = Kelompok data nilai postest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H1 = Kelompok data nilai postest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel TAI Diskusi Jumlah S2 ni-1 40 1/ ni-1 0,0244 Si2 0,3754 log Si2 -0,4255 -0,4543 -0,8798 (ni-1)logSi2 -17,02 -18,172 -35,192

40 0,0244 0,3513 80 0,0488 0,7267 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,3754) + (40 x0,3513) 80

= 0,3634 Log S2 ln 10 B = -0,4397 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -35,176 X2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= 0,037 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik DK = X2│X20,95;1 = 3,84 cxxxvii

5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima 6. Kesimpulan Kelompok data nilai postest afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen

C. Selisih Nilai 1. Hipotesis Ho = Kelompok data selisih nilai afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen H1 = Kelompok data selisih nilai afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi tidak homogen 2. Komputasi Data Sampel TAI Diskusi Jumlah S2 ni-1 1/ ni-1 Si2 40 0,0244 0,1284 40 0,0244 0,0859 80 0,0488 0,2143 2 é å (n1 - 1) S i ù = ê ú ê å (ni - 1) ú ë û =
(40 x0,1284) + (40 x0,0859) 80

log Si2 -0,8914 -1,066 -1,9574

(ni-1)logSi2 -35,656 -42,64 -78,296

= 0,1072 Log S2 ln 10 B = -0,9698 = 2,3026 = (log S2) å (ni - 1) = -77,584 X2 = (ln 10){B - å (ni - 1) log S i }
2

= 1,639 3. Taraf Signifikansi = 5 % 4. Daerah Kritik

cxxxviii

DK = X2│X20,95;1 = 3,84 5. Keputusan Uji Harga X2hitung < X20,95;1 atau berada diluar daerah kritik sehingga Ho diterima 6. Kesimpulan Kelompok data selisih nilai afektif siswa kelas TAI dan kelas diskusi homogen

Uji t – Pihak Kanan (Kognitif) 1. Diketahui Sampel TAI Diskusi n 41 41 Rata-rata 2,22 1,92 Variansi 0,60 0,4

2. Hipotesis : H0 : m1 £ m 2 : rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi H1 : m1 > m 2 : rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi 3. Komputasi
(n - 1) s1 + (n 2 - 1) s 2 S = 1 n1 + n2 - 2
2 2

2

=

(40 x0,6) + (40 x0,4) = 0,5 80

S = 0,707 t =
S X1 - X 2 1 1 + n1 n 2

=

2,22 - 1,92 0,707 x 0,04878

=

0,3 0,1562

= 1,921 4. Daerah Kritik α = 0,05; dk = n1 + n2 - 2 ; tolak H0 jika t hitung ≤ t (1-a ;n1 + n2 - 2)

cxxxix

-1,921 -1,66 1,66 1,921 5. Keputusan : Karena harga t hitung > t (1-a ;n1 + n2 - 2) atau berada di dalam daerah kritik, maka H0 ditolak 6. Kesimpulan : Rata-rata nilai kognitif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi.

Uji t – Pihak Kanan (Afektif) 1. Diketahui Sampel TAI Diskusi 2. Hipotesis : H0 : m1 £ m 2 : rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih rendah atau sama dengan siswa kelas diskusi H1 : m1 > m 2 : rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi 3. Komputasi S2 =
(n1 - 1) s1 + (n 2 - 1) s 2 n1 + n2 - 2
2 2

n 41 41

Rata-rata 0,72 0,46

Variansi 0,13 0,09

=

(40 x0,13) + (40 x0,09) = 0,11 80

S = 0,3317 t =
S X1 - X 2 1 1 + n1 n 2

=

0,72 - 0,46 0,33x 0,0488

=

0,26 0,073

= 3,56 4. Daerah Kritik α = 0,05; dk = n1 + n2 - 2 ; tolak H0 jika t hitung ≤ t (1-a ;n1 + n2 - 2)

cxl

-3,56

-1,66

1,66

3,56

5. Keputusan : Karena harga t hitung < t 0,95(80) atau berada di dalam daerah kritik, maka H0 ditolak 6. Kesimpulan : Rata-rata nilai afektif siswa kelas TAI lebih tinggi daripada siswa kelas diskusi.

cxli

cxlii

Lampiran 1 Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 1 Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 1 Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 1 Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 1 Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 1 Lampiran 6

Lampiran 2 Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 2 Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 2 Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 2 Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 2 Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 2 Lampiran 7

Lampiran 3 Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 3 Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 3 Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 3 Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 3 Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 3 Lampiran 8

Lampiran 4 Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 4 Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 4 Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 4 Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 4 Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 4 Lampiran 9

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 5 Lampiran 10

cxliii

Lampiran 11

Lampiran 12

Lampiran 13

Lampiran 14

Nilai Kognitif a. Kelas Eksperimen (TAI dilengkapi Modul) Interval 0,4 – 0,9 1,0 – 1,5 1,6 – 2,1 2,2 – 2,7 2,8 – 3,3 3,4 – 3,9 Nilai Tengah 0,65 1,25 1,85 2,45 3,05 3,55 Frekuensi 3 5 7 16 8 2 Frek.Relatif (%) 7,32 12,2 17,07 39,02 19,51 4,88

16 14 12 Frekuensi 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

cxliv

b. Kelas Kontrol Interval 0,4 – 0,9 1,0 – 1,5 1,6 – 2,1 2,2 – 2,7 2,8 – 3,3 3,4 – 3,9 Nilai Tengah 0,65 1,25 1,85 2,45 3,05 3,55 Frekuensi 2 10 9 18 2 Frek.Relatif (%) 4,88 24,39 21,95 43,9 4,88 -

18 16 14 12 Frekuensi 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

cxlv

18 16 14 Frekuensi 12 10 8 6 4 2 0 0,4-0,9 1,0-1,5 1,6-2,1 2,2-2,7 2,8-3,3 3,4-3,9 Interval

Nilai Afektif i. Kelas Eksperimen (TAI dilengkapi Modul) Interval 0,1 – 0,3 0,4 – 0,6 0,7 – 0,9 1,0 – 1,2 1,3 – 1,5 1,6 – 1,8 Nilai Tengah 0,2 0,5 0,8 1,1 1,4 1,7 Frekuensi 7 12 9 10 2 1 Frek.Relatif (%) 17,07 29,27 21,95 24,39 4,88 2,44

cxlvi

12 10 Frekuensi 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

ii.

Kelas Kontrol Interval 0,1 – 0,3 0,4 – 0,6 0,7 – 0,9 1,0 – 1,2 1,3 – 1,5 1,6 – 1,8 Nilai Tengah 0,2 0,5 0,8 1,1 1,4 1,7 Frekuensi 17 14 8 2 Frek.Relatif (%) 41,46 34,15 19,51 4,88 -

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

Frekuensi

cxlvii

18 16 14 Frekuensi 12 10 8 6 4 2 0 0,1-0,3 0,4-0,6 0,7-0,9 1,0-1,2 1,3-1,5 1,6-1,8 Interval

cxlviii

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful