PENAMPUNGAN SEMEN DAN SNI SEMEN BEKU

OLEH : RINALDI 100306003

MATAKULIAH ILMU REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan perlindungan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari tugas ini adalah

“Penampungan Semen dan SNI Semen Beku”. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Dr.Ir.Ristika Handarini,MP. selaku dosen mata kuliah Ilmu Reproduksi dan Inseminasi Buatan yang telah membeir arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Maret 2012

Penulis

PENAMPUNGAN SEMEN
Penampungan semen bertujuan untuk memperoleh semen yang jumlah (volume)-nya banyak dan kualitasnya baik untuk diproses lebih lanjut untuk keperluan inseminasi buatan. Semen dapat ditampung melalui beberapa metode, seperti :1. Metode Pengurutan (Masase) : Metode penampungan semen melalui pengurutan dapat diterapkan pada ternak besar (sapi, kerbau, kuda), dan pada ternak unggas (kalkun dan ayam). Pada ter-nak besar metodepengurutan ampulla vas deferens diterapkan apabila hewan jantan tersebut memiliki potensi genetik tinggi akan tetapi tidak mampu melaku-kan perkawinan secara alam, baik karena nafsu seksualnya rendah atau mempu-nyai masalah dengan kakinya (lumpuh atau pincang/ cedera). Sedangkan pada ternak

ayam atau kalkun metode pengurutan punggung merupakan satu-satunya metode penampungan yang paling baik hasilnya. 2. Metode Elektrojakulator Penampungan semen menggunakan metode ini adalah upaya untuk memperoleh semen dari pejantan yang memiliki kualitas genetik tinggi tetapi tidak mampu melakukan per-kawinan secara alam akibat gangguan fisik atau psikis. Metode ini saat ini lebih banyak diterapkan pada ternak kecil seperti domba dan kambing karena pada ternak besar lebih mudah dilakukan melalui metode pengurutan ampula vas deferens. 3. Metode Vagina Tiruan Penampungan semen menggunakan vagina tiruan merupakan metode yang pa-ling efektif diterapkan pada ternak besar (sapi, kuda, kerbau) ataupun ternak kecil (domba, kambing, dan babi) yang normal (tidak cacat) dan libidonya bagus. Kelebihan

metode penampungan menggunakan vagina tiruan ini adalah selain pelaksanaannya tidak serumit dua metode sebelumnya, semen yang diha-silkannya pun maksimal. Hal ini terjadi karena metode penampungan ini meru-pakan modifikasi dari perkawinan alam. Sapi jantan dibiarkan menaiki peman-cing yang dapat berupa ternak betina, jantan lain, atau panthom (patung ternak yang didesain sedemikian rupa sehingga oleh pejantan yang akan ditampung semennya dianggap sebagai ternak betina). Ketika pejantan tersebut sudah me-naiki pemancing dan mengeluarkan penisnya, penis tersebut arahnya dibelokkan menuju mulut vagina tiruan dan dibiarkan ejakulasi di dalam vagina tiruan. Vagina tiruan yang digunakan dikondisikan supaya menyerupai kondisi (teruta-ma dalam hal temperatur dan kekenyalannya) vagina yang sebenarnya. Mengingat ternak jantan yang akan dijadikan sumber semen harus memiliki kondisi badan yang sehat dan nafsu seksual yang baik, maka sebaiknya kita mengutamakan metode penampungan semen menggunakan vagina tiruan pada ternak mamalia (sapi, kerbau, kuda, domba, dan kambing). Sedangkan pada ternak unggas (ayam dan kalkun) pelaksanaannya akan lebih mudah menggunakan metode pengurutan.

PENAMPUNGAN DENGAN VAGINA BUATAN

Hal yang perlu diperhatikan yaitu suhu vagina buatan saat melakukan penampungan, waktu penampungan, ransangan seksual sebelum penampungan (teasting), hewan pemancing (teaster) serta perlakuan lain yang erat kaitannya dengan tata cara penampungan semen.

1. Mempersiapkan peralatan penampungan

Sebelum penampungan perlu dipersiapkan peralatan/bahan penampungan semen antara lain :

· · · · · · · · · ·

Handuk besar dan lap tangan Vaselin (bahan pelican) steril Kapas Label/nomor bull Thermometer Alkohol Stick Glass Vagina buatan Tali Dll

Mempersiapkan vagina buatan

· Selinder karet tebal, kenyal tetapi kaku, berukuran panjang antara 25-40 cm dan diameternya 5-6 cm. Panjang dan diameter vagina buatan disesuaikan dengan atau tergantung pada umur dan ukuran pejantan. Pada bagian tengah selinder tersebut terdapat sebuah lubang berkatup seperti skrup (kran ) tempat memanaskaqn air panas dan diantaranya ada semacam pentil untuk meniupkan udara kedalam AV.

·

Selongsongan karet tipis sebagai lapisan dalam(iner liner) dari selinder karet tebal, panjangnya 40-50 cm dan diameter 5-6 cm.

·

Corong penampung terbuat dari karet tipis panjangnya ± 7 cm pada pangkal dan ± 1cm pada ujungnya. Sebuah ventilasi (lubang) corong tersebut karena tekanan berlebihan yang ditimbulkan oleh dorongan penis sewaktu ejakulasi.

·

Sebuah tabung penampung semen yang berskala dan terbuat dari gelas panjang ± 11cm dan diameter ± 1cm

· Sebuah tabung plastic yang dilapisi kain atau kertas. Tabung ini digunakan sebagai pelindung tabung penampung semen terhadap isnar matahari dan benturan.

Cara memasang vagina buatan

·

Pasang corong karet pada bagian vagina buatan dengan cara mengikat dan lubang udara pada corong tersebut harus ada diatas sejajar dengan kran vagina buatan.

· Pasang tabung gelas penampung sperma yang telah diberi nomor bull yang akan ditampung pada ujung corong karet vagina buatan dan diikat.

· Pasang tabung pelindung (tabung plastik)

· Masukkan

air

panas/hangat

kedalam

vaniga

buatan

dengan

cara

memompa/meniup melalui tabung berkatup , sampai terlihat permukaan vagina buatan menggelembung.

· Oleskan vaselin (penisilin) secukupnya kedalam mulut vagina buatan dengan menggunakan stick glass.

·

Mengecek

kembali

temperature

vagina

butan

sebelum

melakukan

penampungan.

Pelaksanaan Penampungan

Untuk mempermudah penampungan semen dengan vagina buatan, harus disediakan fasilitas dimana secara aman kita dapat mengawasi hewan pemancing (teaster) dan hewan jantan pada waktu penampungan. Untuk itu dipakai kandang khusus yang disebut Breeding Rack atau Service Crate, lantainya harus baik dan tidak licin, karena itu perlu diberi alas dan tiak menghambat.

Pejantan

Persiapan vagina buatan dilaksanakan di laboratorium. Sedangkan pejantan yang akan dipersiapkan dengan memotong bulu dekat ujung preputium harus digunting sehingga panjangnya 1,5 cm. Daerah ventral abdomen disekeliling preputium dicuci dengan air hangat tanpa sabun dan keringkan.

Pejantan yang akan ditampung dibiasakan dengan keadaan sekitar dan terhadap hewan pemancing atau teaster. Pelihara ketenangan tempat penampungan dan ketenangan kondisi psykologis.

Teasting

Pejantan yang akan ditampung semennya diusahakan menaiki teaster pada saat tersebut penisnya harus keluar, kolektor (pelaksana

penampungan) memindahkan penis tersebut dengan memindahkan posisi penis pejantan dengan memegang preputiumnya ditarik kearah samping atau kearah kolektor, biarkan pejantan turun kembali. Biarkan kondisi ini

berlangsung hingga 3-4 kali dan penisnya jangan sampai menyentuh bagian belakang tease, hal ini supaya tidak terjadi ejakulasi , setelah libidonya optimal baru dilakukan penampungan.

Cara Penampungan Semen

a.

Penampungan menggunakan teaster

-

Kolektor harus dalam posisi siap menapung dengan kaki kiri sejajar kaki kanan yang telah memakai sepatu khusus.

-

Pada waktu penis pejantan keluar sewaktu menaiki teaster maka kolektor menagkapnya pada bagian preputium dan menarahkan kemulut vagina buatan myang terletak disamping pantan teaster.

-

Setelah ujung penis menyentuh mulut vagina buatan maka akn terjadi ejakulasi.

-

Hasil semen yang telah ditampung dikirim kelaboratorium untuk diadakan pemeriksaan.

-

Bersihkan peralatan yang telah digunakan

-

Mengembalikan pejantan dan teaster ke kandang masing-masing

b. Penampungan menggunakan “Dummy Cow”

Dummy Cow merupakan alat untuk menggantikan pemancing (teaster) sedangkan metoda yang digunakan adalah metoda vagina buatan. Pelaksaan Dummy Cow adalah sebagai berikut :

-

Menghubungkan panel listrik pada mesin yang terpasang

-

Menempatkan Dummy Cow pada temapt yang rata

-

Menyesuaikan kulit penutup Dummy cow sesuai dengan bangsa pejantan

-

Mendekatkan pejantan yang akan ditampung dengan Dummy Cow

-

Perangsangan berjalan 2-3 kali mounting/penunggangan sehingga ereksi pejantan berlangsung secara maksimal.

-

Petugas penapung duduk didalam Dummy Cow sambil tetap memegang vagina buatan

-

Setelah ejakulasi pejantan bertopang pada Dummy Cow dan secara perlahan Dummy Cow dimajukan sampai pejantan berdiri seperti biasa atau pejantan turun sendiri.

Standar Nasional Indonesia

SNI 01-4869.1-2005

Semen beku sapi
ICS 65.020.30 Badan Standardisasi Nasional
SNI 01-4869.1-2005

ii Prakata Standar Nasional Indonesia Semen beku sapi ini merupakan revisi dari SNI 014869.1-1998, Semen beku sapi. Standar ini disiapkan Panitia Teknis 34 T Perbenihan dan Pembibitan Pertanian, dan telah dibahas dalam konsensus nasional di Jakarta pada 25 September 2003. Hadir dalam konsensus tersebut wakil-wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi, asosiasi dan instansi pemerintah yang terkait. Standar ini dirumuskan sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan mutu (quality assurance). SNI 01-4869.1-2005 iii Pendahuluan Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu upaya pemanfaatan bibit pejantan unggul secara maksimal dalam rangka perbaikan mutu genetik ternak. Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan IB ialah mutu semen beku. Faktor lain yang ikut mempengaruhi yaitu reproduksi ternak betina dan keterampilan petugasnya. Ketepatan dan pelaporan deteksi berahi serta pemeliharaan ternak betina. Oleh sebab itu untuk terjaminnya mutu semen beku sapi yang beredar,

perlu ditetapkan standar semen beku sapi. Mutu semen beku sapi yang memenuhi standar harus didukung oleh penanganan yang baik dan benar agar mutu semen beku sapi dapat dipertahankan hingga siap untuk diinseminasikan.

SNI 01-4869.1-2005 1 dari 4 Semen beku sapi 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi istilah dan definisi, spesifikasi, persyaratan mutu, pengemasan, pengambilan contoh semen beku di tingkat produsen dan konsumen, pemeriksaan contoh untuk semen beku sapi. 2 Istilah dan definisi 2.1 semen beku sapi semen yang berasal dari pejantan sapi terpilih yang diencerkan sesuai prosedur proses produksi sehingga menjadi semen beku dan disimpan di dalam rendaman nitrogen cair pada suhu -196oC pada kontainer 2.2 pejantan unggul pejantan sapi yang sudah diseleksi berdasarkan standar bibit yang berlaku yaitu garis keturunannya (pedigree/silsilah), kemampuan produksi dan reproduksi keturunannya (progeny) 2.3 pengencer semen bahan organik atau anorganik yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: a) mempunyai sifat isotonik terhadap semen; b) mempunyai sifat sebagai buffer;

c) dapat melindungi spermatozoa dalam proses pendinginan, pembekuan dan pencairan kembali (thawing); d) bersifat sebagai sumber nutrisi; e) mempunyai efek antibakteri; f) menjaga fertilitas spermatozoa; g) tidak boleh mengandung zat-zat yang bersifat toksik atau racun, baik terhadap spermatozoa maupun terhadap saluran reproduksi sapi betina. 2.4 motilitas spermatozoa 2.4.1 skala motilitas spermatozoa derajat motilitas spermatozoa dinyatakan angka dengan nilai nol (0) sampai dengan empat (4) sebagai berikut: a) nol (0) adalah tidak ada gerakan maju individu spermatozoa; b) satu (1) adalah gerakan maju individu spermatozoa lamban; c) dua (2) adalah gerakan maju individu spermatozoa sedang; d) tiga (3) adalah gerakan maju individu spermatozoa cepat; e) empat (4) adalah gerakan maju individu spermatozoa sangat cepat. SNI 01-4869.1-2005 2 dari 4 2.4.2 persentase mobilitas spermatozoa persentase jumlah pergerakan spermatozoa hidup dan bergerak maju/progresif yang nilainya berkisar antara 0% – 100% 2.5 pemeriksa semen beku petugas pemeriksa yang berkompeten yaitu yang telah mengikuti pelatihan penanganan semen beku dan bersertifikat

3 Spesifikasi 3.1 Semen berasal dari pejantan sapi unggul yang sehat. 3.2 Semen diencerkan dengan menggunakan pengencer organik atau anorganik. 3.3 Jumlah sel spermatozoa a) mini straw minimal 25 juta/straw; b) medium straw minimal 30-50 juta/straw. 4 Persyaratan mutu 4.1 Kualitas semen sesudah proses pembekuan Pemeriksaan semen beku segera sesudah dicairkan kembali (post thawing) pada suhu 37oC selama 30 detik harus menunjukkan spermatozoa hidup dan bergerak maju (motil spermatozoa) minimal 40 (empat puluh) persen dan gerakan individu spermatozoa minimal 2 (dua). 5 Pengemasan 5.1 Ukuran straw a) mini straw volume 0,25 ml; b) medium straw volume 0,50 ml. 5.2 Penandaan straw a) kode pejantan; b) nama pejantan; c) kode batch; d) nama produsen; e) breed/bangsa pejantan. 5.3 Kode pejantan dan warna straw

Kode pejantan terdiri dari 6 (enam) digit. Dua digit pertama menandakan kode bangsa, dua digit tengah menandakan tahun kelahiran pejantan dan dua digit terakhir menandakan nomor urut pejantan. Kode bangsa dan warna straw mengacu pada Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan no.

112/TN.270/Kpts/DJP/Deptan/0297 tentang syarat dan spesifikasi teknis semen beku sapi dan kerbau serta alat penyimpannya.

SNI 01-4869.1-2005 3 dari 4 5.4 Penyimpanan Semen beku harus disimpan dan terendam penuh dalam nitrogen cair suhu -1960C pada kontainer kriogenik. Penyimpanan semen beku dalam kontainer tersebut dapat menggunakan canister dan goblet sesuai jenis/tipe kontainer. 5.5 Label dan segel Setiap pengiriman semen beku dalam kontainer harus diberi label, disegel dan disertai kartu petunjuk isi kontainer. Kartu petunjuk isi kontainer tersebut minimal harus berisi keterangan tentang breed/bangsa, kode pejantan, jumlah, tanggal dan hasil pemeriksaan mutu semen serta nama produsen. 6 Pengambilan contoh semen beku ditingkat produsen dan konsumen 6.1 Pengambilan contoh dilakukan oleh petugas pemeriksa semen beku berkompeten. 6.2 Pengambilan contoh dilakukan pada setiap kode batch masingmasing minimal 2 (dua) straw. 6.3 Pengambilan contoh dilakukan secara acak.

7 Pemeriksaan contoh 7.1 Pemeriksaan dilakukan oleh petugas pemeriksa semen beku yang berkompeten.7.2 Pemeriksaan dilakukan setelah proses pembekuan dan sebelum dikirimkan kepada jam. 7.3 Pemeriksaan dilakukan segera sesudah semen beku mencair kembali (post thawing) pada suhu 370 C - 380C selama 15 detik - 30 detik. 7.4 Pemeriksaan dilakukan pada sekurang-kurangnya 3 (tiga) lapangan pandang dibawah mikroskop pembesaran 20 x 40 atau 40 – 45 x 10 dengan menggunakan meja pemanas 370C. konsumen dan setelah diterima konsumen paling lambat 24

SNI 01-4869.1-2005 4 dari 4 Bibliografi Salisbury,G.W dan Van Demark,N.L 1985, Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Ternak, Terjemahan oleh R.Januar, Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan no.

112/TN.270/Kpts/DJP/Deptan/0297 tentang syarat dan spesifikasi teknis semen beku sapi dan kerbau serta alat penyimpannya. Toelihere, N.R 1977,Inseminasi Buatan pada Ternak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful