P. 1
Makalah Kisaran Toleransi Dan Faktor Pembatas

Makalah Kisaran Toleransi Dan Faktor Pembatas

|Views: 469|Likes:
Published by Anggita Amelia

More info:

Published by: Anggita Amelia on Mar 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Lingkungan (environment) adalah salah satu faktor penting dalam interaksi makhluk hidup dalam sistem ekologi. Lingkungan adalah suatu sistem yang kompleks yang terdiri dari sejumlah faktor lingkungan yang dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok, yaitu : mineral. 2) Lingkungan biotik yaitu makhluk hidup di sekitarnya. Lingkungan adalah sistem kompleks yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup dan merupakan ruang tiga dimensi, dimana makhluk hidupnya sendiri merupakan salah satu bagiannya. Lingkungan bersifat dinamis berubah setiap saat. Perubahan yang terjadi dari faktor lingkungan akan mempengaruhi makhluk hidup dan respon makhluk hidup terhadap faktor tersebut yang akan berbeda-beda menurut skala ruang dan waktu, serta kondisi makhluk hidup. Faktor-faktor lingkungan mempengaruhi suatu organisme secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari berbagai faktor. Pengaruhnya dapat menentukan kehadiran atau keberadaan dan proses kehidupan makhluk hidup. Terdapat berbagai prinsip yang mendasari hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya, seperti makhluk hidup tidak dapat hidup pada lingkungan yang hampa udara; segala sesuatu yang dapat mempengaruhi makhluk hidup akan membentuk lingkungan atau faktor lingkungan yang terdiri dari faktor lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Setiap jenis, individu, kelompok atau umur makhluk hidup dipengaruhi atau membutuhkan faktor lingkungan yang berbeda-beda. Komponen-komponen lingkungan terdiri dari faktor-faktor lingkungan fisiko-kimiawi dan biologi, seperti energi, tanah, gas-gas atmosfir, tumbuhan hijau, manusia atau dekomposer. Dari analisis faktor-faktor lingkungan berdasarkan aspek factor lingkungan yang penting, terdapat macam-macam factor lingkungan, seperti faktor iklim, geografis dan edafis (lingkungan abiotik) dan faktor tumbuhan, hewan, dekomposer, dan manusia sebagai lingkungan biotik. Berkaitan dengan sifat-sifat toleransi dan adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, terdapat beragam jenis, sifat, keanekaragaman, kelimpahan, dan pola sebaran makhluk hidup. 1
1)

Lingkungan abiotik, seperti tanah/lahan, cahaya matahari, suhu udara, air, nutrien, hara, dan

2 .1. 3. Untuk mengetahui toleransi hidup hewan di suatu kondisi lingkungan tertentu. Untuk mengetahui kinerja hewan pada lingkungan yang optimal. Untuk mengetahui kinerja hewan terhadap lingkungannya. 2.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut. timbul masalah bagaimana kisaran toleransi dan faktor pembatas dapat mempengaruhi kehidupan hewan? 1.3 Tujuan 1.

sedang beberapa ikan laut sempit (stenohalin. polihalin). terlebih dalam lingkungan alami. Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berjenis hewan yang berbeda dapat berbeda pula. Jenis hewan yang satu mungkin lebar kisaran toleransinya (euri-). nutien yang masuk kedalam tubuh ikan juga tinggi. Jika konsumsi pakan tinggi.1. Ikan Mujair misalnya mempunyai kisaran toleransi yang relatif lebar terhadap salinitas (eurihalin). Jenis-jenis hewan yang kisaran toleransinya untuk banyak faktor lebar. Setiap organisme terdedah pada sejumlah faktor lingkungan. dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk pertumbuhan. Dengan kata lain. Pada proses pencernaan yang tak sempurna akan dihasilkan banyak feses. dan oleh adanya suatu interaksi faktor. Misalnya suatu individu hewan akan merasakan efek suhu tinggi yang lebih keras apabila kelembaban udara tinggi.1 Kisaran Toleransi Setiap organisme hanya dapat hidup dalam kondisi faktor lingkungan yang dapat ditolelirnya dinyatakan secara lain. 3 . hewan akan lebih tahan terhadap suhu tinggi apabila udara kering dibandingkan dengan pada kondisi udara yang lembab. maka sesuatu faktor lingkungan dapat mengubah efek faktor lingkungan lain. dibandingkan dengan pada kelembaban udara yang relatif rendah. Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Ikan Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan. yaitu menurut Hukum Toleransi (Shelford) setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungannya. Tidak mudah untuk menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan terhadap suatu faktor lingkungan. 2. biasanya mempunyai daerah sebaran yang relatif luas. sehingga banyak energi yang terbuang.1. Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu makannya meningkat.BAB II PEMBAHASAN 2. Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga akan semakin meningkat. jenis hewan lain mungkin sempit (steno-). Demikian pula halnya suatu jenis hewan tertentu dapat berbeda-beda kisaran toleransinya terhadap berbagai faktor lingkungan yang berbeda. Misalnya hewan itu bersifat stenohidris dan oligohidris tetapi euritermal. sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi.

Konsumsi pakan yang tinggi akan meningkatkan jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh. Fluktuasi faktor lingkungan akan mempengaruhi kehidupan organisme. Pengaruh Lingkungan Terhadap Organisme Akuatik Faktor-faktor lingkungan sering berfluktuasi.2. Tingginya kadar metabolit dalam darah menyebabkan ikan cepat lapar dan memiliki nafsu makan tinggi. kadang-kadang ditemukan kondisi yang ekstrim. Contoh pada suhu 20°C pada ikan Channel Catfish (Ictalurus punctatus) memperlihatkan pertumbuhan optimum dengan kadar protein 35 %. 4 . Energi ini akan digunakan untuk proses-proses maintenance dan selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan. Kebutuhan protein pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum sangat dipengaruhi oleh suhu. Kisaran ekstrim dari variable lingkungan yang menyebabkan kematian bagi organisme disebut zone lethal. Enzim metabolisme berpengaruh terhadap proses katabolisme (menghasilkan energi) dan anabolisme (sintesa nutrien menjadi senyawa baru yang dibutuhkan tubuh). baik yang bersifat harian maupun musiman. Berdasarkan hukum van’t Hoff. Untuk mengurangi pengaruh buruk dari lingkungannnya maka ikan melakukan adaptasi. Jika aktifitas enzim metabolisme meningkat maka laju proses metabolisme akan semakin cepat dan kadar metabolit dalam darah semakin tinggi. sehingga tingkat konsumsi pakan meningkat. 2. Kemampuan mentolerir variable lingkungan ini erat kaitannya dengan faktor genetik dan sejarah hidup sebelumnya. Kisaran intermedier dimana suatu organisme masih dapat hidup disebut zone toleransi. Suhu media yang optimum akan mendorong enzim-enzim pencernaan dan metabolisme untuk bekerja secara efektif.2. Proses metabolisme ikan umumnya meningkat jika suhu naik hingga dibawah batas yang mematikan. Namun demikian posisi dari zone-zone tersebut dapat berubah selama hidup suatu organisme. sedangkan pada suhu 25°C membutuhkan protein 40%. Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian diri secara bertahap yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap kondisi baru.Suhu media juga berpengaruh terhadap aktifitas enzim yang terlibat proses katabolisme dan anabolisme. kenaikan suhu sebesar 10°C akan menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan pada kondisi normal. tingkah lakunya dan mortalitas. Dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Konsumsi pakan yang tinggi yang disertai dengan proses pencernaan dan metabolisme yang efektif. proses-proses fisiologis. hewan memiliki toleransi dan resistensi pada kisaran tertentu dari variasi lingkungan. akan menghasilkan energi yang optimal untuk pertumbuhan.

Masking factor. infeksi dan atau stimulasi sosial dapat menyebabkan stress pada ikan. yaitu faktor lingkungan mempengaruhi laju metabolisme tetapi melalui pembatasan penyediaan nutrien atau pembuangan sisa metabolisme. 5 . racun. belum tentu menunjukkan bahwa kondisi dari satu atau beberapa faktor lingkungan di tempat itu menunjukkan preferendumnya. Mekanisme homeostasis ini terjadi pada tingkat sel yaitu dengan pengaturan metabolisme sel. yaitu faktor lingkungan yang menyebabkan gerakan atau terganggunya aktivitas suatu organisme.Ikan akan melakukan mekanisme homeostasi yaitu dengan berusaha untuk membuat keadaan stabil sebagai akibat adanya perubahan variabel lingkungan. Controlling factor. Directive factor. Suhu ekstrim.2 Kondisi Lingkungan Ekstrem Kondisi faktor lingkungan sekitar yang optimum (preferendum). Jika terjadi stress. yaitu faktor lingkungan yang merusak sistem integrasi dari suatu organisme dan dapat menyebabkan kematian. yaitu: • • • • • Lethal factor. Tidak demikian halnya di lingkungan alami. Terkonsentrasinya dalam jumlah banyak individu-individu suatu spesies hewan di suatu tempat dalam habitat alaminya. penurunan glikogen hati. peningkatan glukosa darah. yaitu faktor lingkungan yang merubah atau menghambat bekerjanya faktor lain (tidak langsung). perbedaan osmotik yang tinggi. menyusutnya diameter lambung menipisnya lapisar mukosa Pengaruh lingkungan terhadap organisme dapat dibedakan kepada 5 kategori. Limiting factor. 2. akan menghasilkan kinerja Biologis yang paling tinggi. yaitu faktor lingkungan yang mempengaruhi aktivitas molekuler pada mata rantai metabolisme. pengontrolan permeabilitas membran sel dan pembuangan sisa metabolisme. penurunan jumlah leucosit. Preferendum untuk sesuatu faktor lingkungan relatif mudah ditentukannya di laboratorium. maka ikan akan merespon dengan cara: • • • • • • penurunan volume darah.

Jadi extremophile adalah mikroba yang menyukai lingkungan habitat ekstrem untuk kelangsungan hidupnya.3 Lingkungan sebagai Faktor Pembatas Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi lingkungan yang mendekati batas kisaran toleransinya. hewan yang didedahkan pada suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi kritis berupa hipotermia. Extremophile yang menyenangi lingkungan sangat panas ini biasa disebut hyperthermophile. Sebagai contoh. Mikroba-mikroba ini biasa disebut "extremophile". maka hewan akan mati. Penelitian terhadap extremophile meningkat pesat sejak ditemukan mikroba yang dapat hidup mendekati suhu air mendidih oleh ilmuwan bernama Stetter dari Jerman. 2. Manusia dan hampir seluruh mamalia hampir mustahil bisa hidup di dalam lingkungan dengan kondisi sangat ekstrem. walaupun menurut dugaan banyak ilmuwan telah hidup di bumi jauh lebih tua daripada makhluk hidup lainnya. Apabila kondisi lingkungan suhu yang mendekati batas-batas kisaran toleransi hewan itu berlangsung lama dan tidak segera berubah menjadi baik. Setiap kondisi faktor lingkungan yang besarnya atau intensitasnya mendekati atas kisaran toleransi organisme. di kisaran-kisaran optimum yang sebenarnya. tetapi baru diketahui keberadaannya sekitar tahun 1980-an. Mikroba-mikroba ini justru tidak dapat berkembang di lingkungan di mana sebagian besar makhluk hidup lain dapat hidup dengan nyaman di dalamnya. sedang pada suhu ekstrim tinggi akan mengakibatkan gejala hipertemia. yang berperan dalam menetukan kesintasan organisme. Makhluk hidup jenis ini. Ada extremophile yang menyukai lingkungan yang bersuhu sangat tinggi mendekati suhu didih (90ºCelcius). "phile" berarti menyukai. Namun ada makhluk-makhluk berukuran mikro yang justru menyenangi hidup di lingkungan sangat panas atau sangat dingin. Sebutlah suhu yang teramat dingin atau teramat panas.Kehadiran pesaing atau predator dapat menyebabkan terhalangnya populasi hewan untuk mendiami tempat dengan kondisi faktor-faktor lingkungan penting. Bahkan hasil penemuan akhir-akhir ini menunjukkan ada mikroba yang bisa hidup di suhu 130ºCelcius. 6 . akan beroperasi sebagai faktor pembatas. Penemuan hyperthermophile yang bisa hidup pada suhu di atas 100ºCelcius membawa spekulasi kepada kemungkinan adanya mikroba yang bisa hidup pada suhu lebih tinggi di atasnya. maka organisme akan mengalami keadaan tekanan (stress) fisiologis. "Extremo" berarti sangat berlebihan (ekstrem). misalnya 200ºCelcius.

maksimum atau optimum sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan hewan menurut batas-batas toleransinya. Shelford. Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal sebagai Hukum faktor pembatas. tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Suatu jenis hewan yang mempunyai toleransi yang luas sebagai faktor pembatas cenderung mempunyai sebaran jenis yang luas. Justus von Liebig adalah seorang pionir yang mempelajari faktor-faktor lingkungan dan menjelaskan bahwa faktor lingkungan yang terdapat dalam jumlah minimumlah yang dapat berperan sebagai faktor pembatas. karena satu jenis hewan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda menurut habitat dan waktu yang berlainan.Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuh hewan pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan. pernyataan taraf relatif terhadap faktor-faktor lingkungan dinyatakan dengan awalan steno (sempit) atau eury (luas) pada kata yang menjadi faktor lingkungan tersebut. seperti cahaya. Penemuannya kemudian lebih dikenal sebagai "hukum minimum Liebig". Bagi hewan tertentu misalnya factor lingkungan seperti suhu udara atau kadar garam (salinitas) yang terlalu rendah/sedikit atau terlalu tinggi/banyak dapat mempengaruhi berbagai proses fisiologinya. dan batas toleransi hewan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut. yang menyatakan: jika semua proses kebutuhan hewan tergantung pada sejumlah faktor yang berbeda-beda. yang dikemukakan oleh F. misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum. disebut euryionik. Misalnya toleransi yang sempit terhadap suhu udara disebut stenotermal atau toleransi yang luas terhadap kadar pH tanah. kemudian dikenal sebagai "hukum toleransi Shelford". Dalam ekologi.E. Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu hewan berbeda-beda. Masa reproduksi merupakan masa yang kritis bagi hewan jika faktor lingkungan dan habitatnya dalam keadaan minimum. maka laju kecepatan suatu proses pada suatu waktu akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu saat. Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ternyata tidak saja berperan sebagai faktor pembatas minimum.F Blackman. Faktor-faktor lingkungan penting yang berperan sebagai sifat toleransi faktor pembatas minimum dan faktor pembatas maksimum yang pertama kali dinyatakan oleh V. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan faktor fisik. Faktor-faktor lingkungan tersebut dinyatakan penting jika dalam keadaan minimum. 7 . suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.

4 Faktor Pembatas Fisik dan Indikator Ekologi Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme/ kelompok organisme tergantung kepada komples keadaan. mineral. Beberapa keadaan faktor pembatas. semakin jelas kemungkinan apakah suatu organisme mampu bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu. suhu letal atas dan bawah. Seperti pada suhu normal. Dengan adanya faktor pembatas. maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas. tapi jika mereka beraklimasi pada suhu yang lebih tinggi maka batas letal rendah akan bertambah. tanah. Kadaan yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai yang membatasi (faktor pembatas). 2. Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup. Suhu letal atas adalah 27ºC untuk ikan diletakkan pada suhu 0ºC. arus dan tekanan. Aklimasi termal adalah kemampuan untuk mentolerir perubahan suhu di bawah dan di atas kisaran suhu normal dengan mengubah mekanisme homeostasis menurut perubahan tahapan termal lingkungan. Sebaliknya apabia organisme hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam. untuk ikan yang diletakkan pada suhu sampai setinggi 17ºC.5 Aklimasi Aklimasi adalah adaptasi terhadap pendedahan yang cukup lama pada kisaran suhu rendah atau tinggi yang dapat ditoleransi. termasuk diantaranya adalah temperatur. Setiap organisme mempunyai kisaran kepekaan terhadap faktor pembatas. maka faktor tadi bukan merupakan faktor pembatas. Organisme ini disebut sebagai indikator biologi (indikator ekologi) pada wilayah tersebut.2. bahkan jika diletakkan di atas suhu 36ºC misalnya saja 39ºC membentuk batas aklimasi atas. air. suhu letal rendah adalah 0ºC/ sedikit lebih rendah lagi. Contoh. Ikan mas tidak dapat menyesuaikan diri pada suhu yang lebih tinggi dari 41ºC. juga ada suhu aklimasi atas dan bawah. aklimasi termal ikan mas. gas atmosfir. Sebaliknya. Dengan adanya faktor pembatas. dan bertambah sampai 41ºC untuk ikan yang diletakkan pada suhu 36ºC. cahaya. serta api. 8 . maka faktor ini dianggap dapat ikut menseleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah.

karena setiap jenis hewan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda.BAB III PENUTUP Berdasarkan uraian tersebut. akan beroperasi sebagai faktor pembatas. yang berperan dalam menetukan kesintasan organisme. --- 9 . Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu hewan berbeda-beda. Setiap kondisi faktor lingkungan yang besarnya atau intensitasnya mendekati atas kisaran toleransi organisme. Aklimasi adalah adaptasi terhadap pendedahan yang cukup lama pada kisaran suhu rendah atau tinggi yang dapat ditoleransi. 4. 2. 3. Setiap organisme hanya dapat hidup dalam kondisi faktor lingkungan yang dapat ditolelirnya. maka dapat diambil kesimpulan bahwa : 1.

perubahan lingkungan d. dan penampilan. Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang mendekati batas kisaran toleransinya. kelimpahan. pengendalian hama b. hal ini termasuk dalam kondisi … a. stenohidris. polihalin c. Jawaban : A 10 . spesies indikator ekologi b. oligodidris e. Suatu spesies organisme yang kehadiran atau kelimpahannya dapat memberikan petunjuk pada kita mengenai bagaimana kondisi faktor-faktor fisiko-kimia lingkungan di suatu tempat. Maka organisme akan mengalami keadaan cekaman (stres) fisiologis. Dari uraian tersebut. Sebagai contoh mollusca bercangkang tipis karena kurangnya zat kapur. spesies indikator komunitas e. Hal ini akan menunjukkan kondisi kritis berupa … a. perubahan ekosisitem c. Pada faktor lingkungan yang kondisinya berubah-ubah dari waktu ke waktu mengakibatkan lingkungan berperan penting dalam menentukan kehadiran. faktor pembatas ekologi c.SOAL – SOAL 1. faktor pembatas komunitas. Jawaban : D 3. stenohalin b. perubahan ekosistem. indikator ekologi e. disebut … a. hipotermia d. Jawaban : C 2. faktor pembatas ekosistem d.

faktor pembatas e. toleransi hewan c. a. mampu bertahan pada kondisi ekstrem. Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berjenis hewan yang berbeda dapat berbeda pula. Misalnya suatu individu hewan akan merasakan efek suhu tinggi yang lebih keras apabila kelembaban udara tinggi. Apabila kondisi lingkungan suhu yang mendekati batas-batas kisaran toleransi hewan itu berlangsung lama dan tidak segera berubah menjadi baik. hewan memiliki toleransi dan resistensi pada kisaran tertentu terhadap variasi lingkungan. relatif dinamis terhadap salinitas e. Jawaban : E 5. mampu bertahan pada lingkungan yang dinamis. e. relatif konstan terhadap salinitas d. Setiap kondisi faktor lingkungan yang besarnya atau intensitasnya mendekati atas kisaran toleransi organisme. Jawaban : C 6. kondisi ekstrim . kemampuan organisme untuk mendiami suatu habitat terhalang. terjadinya proses aklimatisasi. kemampuan organisme untuk bertahan hidup menurun. a. relatif sempit terhadap salinitas c. kisaran toleransi d. hewan tersebut … a. mampu beradaptasi pada lingkungan yang berbeda.. mampu melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya. b. debandingkan dengan pada kelembaban udara yang relatif rendah..4. b. kemampuan organisme untuk bertahan hidup meningkat. Dengan kata lain. c.. akan beroperasi sebagai . Ikan Mujair misalnya mempunyai kisaran toleransi yg . c. kematian bagi organisme. Salah satunya kisaran ekstrim (kondisi di luar toleransi). relatif lebar terhadap salinitas b. d. Dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya. maka hewan akan mati.. kinerja hewan Jawaban : B 7.. d. yang akan menyebabkan . mampu melakukan respon terhadap perubahan. e. relatif fluktuatif terhadap salinitas 11 b.. a.

. torpor Jawaban : A b. estivasi e.. a. tingkat reproduksi b. a. baik yang bersifat harian maupun musiman.Selamat Bekerja - 12 . cukup ekstrem c. menunjukkan bahwa kondisi dari satu atau beberapa faktor lingkungan di tempat itu . kadang-kadang ditemukan kondisi yang ekstrim.Jawaban : D 8. optimal d.. kondisi kehidupan organisme Jawaban : E 10. Terkonsentrasinya dalam jumlah banyak individu-individu suatu spesies hewan di suatu tempat dalam habitat alaminya. belum optimal .. proses-proses fisiologis e. cukup optimal e. Fluktuasi faktor lingkungan akan mempengaruhi . Faktor-faktor lingkungan sering berfluktuasi.. tingkah laku d. aklimasi b. hibernasi d.. ekstrim Jawaban : C 9. Kondisi ikan mas yang mampu beradaptasi terhadap pendedahan yang cukup lama pada kisaran suhu rendah atau tinggi yang dapat ditoleransi disebut . a. tingkat mortalitas c. aklimatisasi c.

H.com/search? q=Kehidupan+di+Lingkungan+Ekstrem&sourceid=opera&num=0&ie=utf-8&oe. 2008. I. http://www. Di 2009.com/kompas-cetak/0107/22/IPTEK/kehi22. 2006. Kramadibrata. Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi hewan air terhadap lingkungannya.ac. Slamet.id/wpcontent/uploads/2008/02/akurnain-danmasoendjoto. Is. Universitas Sriwijaya. Bandung: Penerbit ITB. Kehidupan di Lingkungan Ekstrem.175.132/search?q=cache:kaRZPGL3OXAJ:lemlit. Mgs. Helianti.M. akses tanggal 25 Maret 2009. 2001. http://209.unlam. Ekologi Hewan. Diktat Penuntun Belajar Fisiologi Hewan.htm. http://www2.google. Diakses tanggal 25 Maret 2009.pdf+kondisi+lingkungan+ekstrim+pada+hewan&cd=11&hl=en&ct=clnkD iakses tanggal 25 Maret 2009.Tibrani. Adeng. 2008.85.DAFTAR PUSTAKA Ekologi.kompas. 1995. 13 . Inderalaya: FKIP Pendidikan Biologi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->