P. 1
tp responsi

tp responsi

|Views: 21|Likes:
Published by nurzakiahz

More info:

Published by: nurzakiahz on Mar 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN

Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang menrupakan inflamasi akut dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan. Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis. Kasus kolesistitis ditemukan pada sekitar 10% populasi. Sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu; sedangkan 10% sisanya tidak. Kasus minoritas yang disebut juga dengan istilah acalculous cholecystitis ini, biasanya berkaitan dengan pascabedah umum, cedera berat, sepsis (infeksi berat), puasa berkepanjangan, dan beberapa infeksi pada penderita AIDS. Individu yang berisiko terkena kolesistitis antara lain adalah jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan, kehamilan, dan suku bangsa tertentu. Untuk memudahkan mengingat faktor-faktor risiko terkena kolesistitis, digunakan akronim 4F dalam bahasa Inggris (female, forty, fat, and fertile). Selain itu, kelompok penderita batu empedu tentu saja lebih berisiko mengalami kolesistitis daripada yang tidak memiliki batu empedu. Gejala yang dikeluhkan penderita umumnya berupa nyeri pada perut kanan bagian atas yang menetap lebih dari 6 jam dan sering menjalar sampai belikat kanan. Penderita kadang mengalami demam, mual, dan muntah. Pada orang lanjut usia, demam sering kali tidak begitu nyata dan nyeri lebih terlokalisasi hanya pada perut kanan atas. Dari pemeriksaan laboratorium, dapat ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis) dan peningkatan enzim-enzim hati (SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan bilirubin); namun hasil-hasil pemeriksaan ini tidak dapat memastikan diagnosis. Diagnosis umumnya dipastikan dengan pemeriksaan radiologi. Umumnya dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen atau USG. Foto polos hanya dapat memastikan ada atau tidaknya batu. Sedangkan USG, selain dapat memastikan ada tidaknya batu, juga dapat menilai ketebalan dinding empedu dan cairan peradangan di sekitar empedu. Tindakan untuk kasus kolesistitis akut yang baru didiagnosis meliputi istirahat usus dan memberikan makanan secara parenteral (lewat infus), pemberian obat penghilang rasa nyeri
1

Angka kesembuhan cukup tinggi apabila kolesistitis ditangani sebelum ada penyulit. atau kombinasi paracetamol dengan opioid. Adapun penyulit-penyulit yang dapat timbul antara lain: empiema kandung empedu. dan pecahnya kandung empedu. tindakan pilihan adalah pembedahan. pankreatitis. Analgesik pilihan adalah meperidine.(analgesik) dan antiemetik (antimuntah). perluasan sumbatan ke arah usus. piperacillin-tazobactam. pemberikan antibiotik parenteral. dan imipenem-cilastatin. Seterusnnya. Jika ditemukan bahwa kasus kolesistitis ini terkait batu empedu. ampicillin-sulbactam. Antibiotik pilihan antara lain meropenem. sepsis. 2 .

perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut.1 DEFINISI Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu. dan beberapa infeksi pada penderita AIDS. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif. dapat menyebabkan infeksi kandung empedu. biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus. cedera berat. Kolesistitis jenis ini merupakan penyulit utama tersering pada batu empedu dan penyebab tersering dilakukannya kolesistektomi darurat.Gejala mungkin timbul mendadak dan merupakan kejadian darurat bedah akut. cairan empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi air.BAB 2 KOLESTITIS 2. Kasus kolesistitis ditemukan pada sekitar 10% populasi. yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat. Pada individu normal. gejala mungkin ringan dan mereda tanpa 3 . puasa berkepanjangan. sedangkan 10% sisanya tidak. Dalam kandung empedu. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati. yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa. 2.2 PATOFISIOLOGI Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit. Sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu. Bisa juga. sepsis (infeksi berat).2. 2. cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat katup Oddi tertutup. Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu. Selain itu ia bisa terjadi akibat adanya obstruksi leher kandung empedu atau duktus sistikus. Kasus minoritas yang disebut juga dengan istilah kolesistitis akut akalkulus ini.1 Kolesistitis Akut Kalkulus Kolesistitis kalkulus terjadi akibat peradangan akut dinding kandung empedu yang mengandung batu. biasanya berkaitan dengan pascabedah umum. stasis empedu. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi zat-zat padat. Kolesistitis Kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu.

Kedua. Pertama. selain itu. Fosfolipase mukosa menghidolisis lesitin empedu menjadi lisolesitin yang bersifat toksik bagi mukosa. Lapisan mukosa glikoprotein yang secara normal bersifat protektif rusak . sepsis. sehingga epitel mukosa terpajan langsung ke efek detergen garam empedu. akibat peningkatan tekanan intraluminal dan distensi mengakibatkan iskemia pada mukosa dan dinding kandung empedu. keradangan bakteri dimana faktor ini berperan pada 50-85% kasus. keradangan kimiawi. hal ini bisa timbul pada pasien rawat inap lama dan mendapat nutrisi secara parenteral. Peregangan dan peningkatan tekanan intralumen juga mengganggu aliran darah ke mukosa. 4 . dehidrasi. Awal terjadi inflamasi adalah akibat iritasi kimiawi dan peradangan dinding kandung empedu yang berkaitan dengan obstruksi saluran empedu. pada sumbatan karena keganasan kandung empedu. Organism yang paling sering ditemukan pada kultur adalah Escherichia coli. Klebsiella spp. terdapat tiga faktor yang memicu proses peradangan pada dinding kandung empedu. Kolesistitis jenis ini bisa juga timbul akibat komplikasi penyakit seperti demam tifoid dan diabetes mellitus. trauma berat dan luka bakar luas. keradangan mekanis. Seterusnya ini juga bisa menyebabkan infeksi sekunder yang seterusnya mengakibatkan kolesistitis. Tekanan intraluminal yang meningkat ini akan mengakibatkan iskemia jaringan..2. and Clostridium spp. stasis empedu dan gangguan pembuluh darah. Setidaknya. Prostaglandin yang dibebaskan didalam dinding kandung empedu yang teregang ikut berperan dalam peradangan mukosa dan mural. nekrosis dan gangrene pada dinding kandung empedu. kolesistitis lebih disebabkan oleh faktor keracunan empedu (endotoksin) yang membuat garam empedu tidak dapat dikeluarkan dari kandung empedu. Sedangkan pada kasus tanpa batu empedu.2 Kolesistitis Akut Akalkulus Sebagian kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).intervensi medis. dan batu di saluran empedu. 2. baru setelah proses berlangsung cukup lama terjadi kontaminasi oleh bakteri. Batu empedu yang menyumbat saluran empedu akan menyebabkan tekanan intraluminal meningkat.. Streptococcus spp. dan kontaminasi bakteri juga ikut berperan dalam patofisiologi terjadi kolesistitis akalkulus. disebabkan oleh pelepasan lisolesitin karena kerja enzim fosfolipase pada lesitin empedu dan ketiga. Proses ini terjadi tanpa infeksi bakteri.

kandung empedu tampak membesar. edema. maka dinding bisa menebal dan terjadi kontraksi. Female.3 FAKTOR RISIKO Individu yang berisiko terkena kolesistitis antara lain adalah jenis kelamin wanita. Pada gambaran patologi. Patofisiologi terjadinya batu kandung empedu yang seterusnya bisa menyebabkan cholesistitis. 2. kehamilan. forty. dan suku bangsa tertentu. bisa tampak perdarahan. infiltrate dan bisa terjadi perubahan berupa fibrosis setelah fase penyembuhan. Jika sebelumnya pernah terjadi keradangan pada kandung empedu. digunakan akronim 4F dalam bahasa Inggris (female. fat. Untuk memudahkan mengingat faktor-faktor risiko terkena kolesistitis. berwarna merah keabu-abuan dengan cairan empedu keruh atau kadang-kadang bisa purulen. 5 . Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolesistitis dibandingkan dengan pria. Terdapat juga adhesi pembuluh darah yang berdekatan. kelompok penderita batu empedu tentu saja lebih berisiko mengalami kolesistitis daripada yang tidak memiliki batu empedu. obesitas. Selain itu. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu.Gambar 1. and fertile). umur tua. Secara histologis. obat-obatan.

Gejala-gejala dari inflamasi dari dinding kandung empedu sering ditemukan pada wanita yang berbadan gemuk. dapat ditemukan demam yang tidak terlalu tinggi. Jarang sekali ditemukan nyeri pada bahu kiri. Faktor risiko seterusnya adalah berat badan (BMI). Fat. Serangan akut sering merupakan eksaserbasi dari inflamasi menahun. dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu. Pada pemeriksaan fisik pada pasien dengan kolesistitis. Kehamilan. Namun. Serangan nyeri sering didahului dengan makan terlalu banyak terutamanya apabila makan makanan berlemak. Keluhan utama adalah nyeri perut yang berlaku mendadak pada hipokondrium kanan atau epigastrium dan kemudian menyebar ke angulus scapula kanan dan bahu kanan. 2. Gejala lain yang menyertai adalah perasaan mual dan perut kembung. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu. apabila terdapat kolestasis.Forty. yang meningkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolesistitis. Muntah selalunya akan timbul apabila terdapatnya batu saluran empedu pada bagian distal. Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. dan pada usia pertengahan. Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi. faktor usia juga berperan. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi. tetapi jarang sampai menimbulkan muntah. mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolesistitis. Seterusnya. Fertile. dapat ditemukan menggigil dan ikterus 6 . Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolesistitis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda.4 GEJALA KLINIS Gejala klinis pada pasien yang mengalami kolesistitis bervariasi dari inflamasi ringan sampai terbentuknya gangrene yang berat pada dinding kandung empedu. Nyeri biasanya datang pada tengah malam atau pada pagi hari.

2. Ultrasonografi dilakukan untuk melihat ada atau tidak penebalan dari dinding kandung empedu dan mencari kemungkinan adanya batu dalam kandung empedu. “ fist percussion”. peritonitis dan septicemia. kolesistitis akut bisa menyerupai gejala appendicitis retroceccal. diverkulitits pada fleksura hepatica. Pada pemeriksaan darah ditemukan leukositosis lebih dari 10.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG Periksaan penunjang penting dilakukan untuk menegakkan diagnose bahawa pasien menghidap inflamasi pada kandung empedu.000/cm dengan gambaran lekosit polimorfonuklear.pada pasien. abses hepar. serum aminotransferase juga meningkat ringan. Selain itu. 7 . Demam tinggi.7 KOMPLIKASI Kemungkinan yang mngkin timbul dari kolesistitis adalah empiyema kandung empedu. infark miokard akut dan leuritis diafragmatika. yaitu kepalan tangan kanan yang dipukulkan pada punggung tangan kiri yang diletakkan di atas arcus costarum kanan. nafas tertahan. abses hepar. 2. distensi abdomen lokal dan otot dinding perut kanan atas yang mengalami kekakuan. selain itu. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari ada tidaknya batu empedu. Antara pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Pada tes faal hati ditemukan serum bilirubin meningkat ringan. gangrene dan perforasi. dapat ditemukan gerakan perut yang terbatas. Selain itu. tetapi biasanya kurang dari 5 kali nilai normal. Kandung empedu yang tegang dan membesar menyebabkan pada pemeriksaan ditemukan Murphy sign (+). kolangitis. Pada pemeriksaan radiologi. menimbulkan rasa nyeri dianggap sebagai tes positif. 2. dan ulkus peptikum dengan perforasi. bisa dilakukan pemeriksaan foto abdomen. Kemudian bisa dilakukan pemeriksaan kolesistogram untuk melihat kandung empedu non fungsional pada serangan akut.6 DIAGNOSA BANDING Diagnosa banding pada kolesistitis adalah pancreatitis akut.

Kadang kolesistitis akut berkembang cepat menjadi gangren. menurunkan angka kematian. Antibiotic untuk mencegah komplikasi peritonitis. masih diperdebatkan karena ahli bedah pro operasi dini menyatakan gangren dan komplikasi kegagalan terapi konservatif dapat dihindarkan dan menekan biaya perawatan RS.8 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada kolesistitis meliputi pengobatan umum dan kolesistektomi. bisa dilakukan kolesistektomi. diet ringan. Ini bisa dicegah dengan pemberian antibiotik 8 . Seterusnya. fisitel. Saat ini banyak di gunakan kolesistektomi laparoskopik.Tidak jarang terjadi kolesistitis rekuren.menggigil. 2. pemberian nutrisi parenteral. sekalipun kandung empedu masih tebal. peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses. seperti golongan ampisilin. S. fibrotik. Serangan yang disertai jaundice atau arus balik dari empedu ke dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu empedu atau oleh peradangan. Klesiella). 2. penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. gangren atau perforasi kandung empedu. secara kosmetik lebih baik. dan septisemia. sefalosporin dan metronidazol mampu mematikan kuman yang umum pada kolesistitis akut (E. Ahli bedah kontra operasi dini menyatakan akan terjadi penyebaran infeksi ke rongga peritoneum dan teknik operasi lebih sulit karena proses inflamasi akut di sekitar duktus mengaburkan anatomi. abses hati dan peritonitis umum. mungkin telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus). kolangitis. faecalis. Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase. Pengobatan umum terdiri dari istirahat total. obat penghilang rasa nyeri (petidin) dan anti spasmodik. menurunkan biaya perawatan RS dan mempercepat aktivitas pasien. empiema. Walau invasif tapi bisa mengurangi rasa nyeri pasca operasi. coli.9 PROGNOSIS Penyembuhan spontan bisa terjadi pada 85% kasus. dan perforasi kandung empedu.

Tindakan bedah akut pada pasien >75 tahun mempunyai prognosis buruk.yang adekuat pada awal serangan. bisa terjadi komplikasi pasca bedah. 9 .

puasa berkepanjangan. penyakit ini juga menyerupai beberapa penyakit lain dan dengan mempelajari patofisiologi dan cirri-ciri penyakit ini. biasanya berkaitan dengan pascabedah umum. diagnosa dapat ditegakkan disamping dapat membedakan penyakit ini dengan penyakit lain yang tidak kurang penting. Kasus kolesistitisditemukan pada sekitar 10% populasi. Sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu. Selain itu. sepsis (infeksi berat). dan beberapa infeksi pada penderita AIDS. Penyakit ini tidak harus dipandang remeh dan penting untuk dipelajari oleh kita karena tidak sedikit pasien yang datang berobat dengan gejala-gejala kolesistitis ini. cedera berat. Kasus minoritas yang disebut juga dengan istilah acalculous cholecystitis ini.BAB 3 KESIMPULAN Kolesistitis adalah suatu keradangan yang mengenai dinding kantung empedu. sedangkan 10% sisanya tidak. Dalam laporan kasus ini saya mengambil kasus kolesistasis untuk mencari tahu bagaimana pasien dengan gejala kolesistitis didiagnosa dan bagaimana terapi diberikan pada pasien ini. 10 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->