P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 4|Likes:
Published by Sijay Nda Jayandra

More info:

Published by: Sijay Nda Jayandra on Mar 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Anatomi Colon dan Rectal Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (Digestive System) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan. Colon dimulai dari perbatasan ileum terminal-caecum, sepanjang 90-150 cm, sampai perbatasan sigmoid-rectum. Terdiri dari caecum, colon ascendens, colon transversum, colon descendens, dan colon sigmoideum. Caecum merupakan bagian terlebar (7,5 – 8,5 cm), dan colon sigmoideum merupakan bagian tersempit (2,5 cm). Pada kasus obstruksi di distal, caecum merupakan bagian yang paling sering ruptur. Lapisan dinding colon adalah mucosa, submucosa, otot sirkular, otot longitudinal yang bergabung dengan taenia coli, dan serosa. Kekuatan mekanis dari dinding colon berasal dari lapisan submucosa, yang memiliki kandungan kolagen tertinggi. Colon ascendens dan colon descendens terfiksasi pada retroperitoneal, sedangkan caecum, colon transversum, dan colon sigmoideum berada intraperitoneal dan mobil. Omentum menempel pada colon transversum. Rektum (Rectum) adalah ujung dari usus besar dekat dubur (anus). Bersama, mereka membentuk suatu pipa panjang yang berotot yang disebut usus besar. Rectum memiliki panjang 12-15 cm, mulai dari perbatasan sigmoid-rectum sampai perbatasan rectum-anus. Taenia coli

berakhir pada distal colon sigmoideum, dan lapisan otot longitudinal dari rectum terus berlanjut. Pada bagian atas rectum masih ditutupi dengan peritoneum di bagian anterior, sedangkan bagian bawahnya

extraperitoneal. Rectum dikelilingi oleh fascia pelvis.

B. Carsinoma Colorectal 1. Definisi Carcinoma colorectal merupakan keganasan yang paling sering pada traktus gastrointestinal ( Lee, 2009 ). Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon ( Mansjoer, 1999 ). Kanker kolon dan rektum adalah kanker yang menyerang usus besar dan rektum. Penyakit ini adalah kanker peringkat 2 yang mematikan ( Wikipedia, 2009 ). Kanker kolon biasanya dimulai dengan pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau pada polip ( Dokter, 2010).

Sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum.2. mengapa pada seseorang terkena kanker ini sedangkan yang lain tidak. umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Etiologi. Polip kolorektal. Tidak dapat diterangkan. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita diatas usia 50 tahun. b. Sekitar 3 % kanker ini menyerang penderita pada usia dibawah 40 tahun. tetapi sebagian . Faktor Risiko dan Faktor Predisposisi Hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti apa penyebab kanker kolorektal. Namun yang pasti adalah bahwa penyakit kanker kolorektal bukanlah penyakit menular. Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahunpun dapat saja terkena. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak. Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang akan rentan terkena kanker kolorektal yaitu: a. Usia.

c. Sekitar tiga dari empat penderita cacat gen HNPCC akan terkena kanker kolorektal. folat dan rendah serat.dapat berubah menjadi kanker. Demikian pula wanita yang memiliki riwayat kanker indung telur. perubahan pada gen tertentu akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. bila keluarga dekat yang terkena (orangtua. berupa colitis ulceratif atau penyakit Crohn yang menyebabkan inflamasi atau peradangan pada usus untuk jangka waktu lama. Radang usus besar. jarang makan sayuran dan buah- . f. makanan tinggi lemak (khususnya lemak hewan) dan rendah kalsium. kanker payudara memiliki risiko yang tinggi untuk terkena kanker ini. Riwayat kanker kolorektal pada keluarga. e. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan risiko terjadinya kanker kolorektal. kakak. dapat terserang kembali dengan penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Pernah menderita penyakit sejenis. adik atau anak). kanker rahim. g. akan meningkatkan risiko terserang kanker kolorektal. terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda. d. maka risiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar. Kelainan genetik. yang disebabkan adanya perubahan pada gen HNPCC. Bentuk yang paling sering dari kelainan gen yang dapat menyebabkan kanker ini adalah hereditary nonpolyposis colon cancer (HNPCC). dimana usia yang tersering saat terdiagnosis adalah diatas usia 44 tahun. Diet.

Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : a. insisi abdomen atau lokasi drain. d. b. Prognosis . Metastase dan Klasifikasi Ca.buahan. akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. h. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses. Penyebaran secara transperitoneal e. Penyebaran ke luka jahitan. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan. Merokok. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. serta timbulnya metastase pada jaringan lain. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati ). sering minum alkohol. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder. dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker ini. meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. c. seperti ke dalam kandung kemih. 3. Colorectal Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari lapisan epitel usus ). biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal. Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Melalui aliran darah.

relative baik bila lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi dilakukan. Modifikasi klasifikasi Dukes (Modified Astler-Coller Staging System) Klasifikasi karsinoma rektum menurut Dukes b. klasifikasi Dukes. Terdapat beberapa macam klasifikasi Staging pada kanker kolon. adalah sebagai berikut : a. Klasifikasi karsinoma rektum menurut system TMN sebagai berikut : . Klasifikasi berdasarkan sistem Tumor- Node-Metastase (TNM). dan jauh lebih jelek bila telah terjadi metastase ke kelenjar limfe. ada klasifikasi TNM.

30 % pada rectum Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. 10 % pada transfersum colon c. Patofisiologi Perubahan Patologi Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian : a. 15 % pada desending colon d. 20 % pada sigmoid colon e.Selain itu terdapat Staging lainnya ( mirip dengan klasifikasi Dukes ) sebagai berikut :     Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain 4. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala . 26 % pada caecum dan ascending colon b.

Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa. Kulit d. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode.mencapai serosa dan mesenterik fat. kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Tulang e. tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Otak Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. biasanya sel bergerak menuju liver. Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya. Tempat metastase yang lain termasuk : a. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut. setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi.muncul secara berlahan dan tampak membahayakan. . Ginjal c. Kelenjar Adrenalin b.

dan darah bersifat samar dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak ( suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik ). tahap penyakit. cenderung tetap tersamar hingga stadium lanjut. Mucus jarang terlihat. Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses. Pada orang yang kurus. Adanya perubahan dalam defekasi. Diare. tumor kolon kanan mungkin dapat teraba. anemia dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi. Anemia akibat perdarahan sering terjadi. Kanker kolon kanan. tenesmus. dimana isi kolon berupa cairan. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik.5. dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. dan kadang – kadang pada epigastrium. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf. karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. perubahan dalam penampilan feses. Manifestasi Klinis Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. nyeri kejang. dan kembung sering terjadi. sering timbul gangguan obstruksi. darah pada feses. karena tercampur dalam feses. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen. konstipasi. . tetapi jarang pada stadium awal.

serta feses berdarah. Begitu juga pengobatan pada kanker kolorektal akan lebih efektif bila dilakukan pada stadium dini. FOBT ini adalah tes untuk memeriksa tinja.pembuluh limfe atau vena. keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. atau dibawah usia 50 tahun namun memiliki faktor risiko yang tinggi untuk terkena kanker kolorektal seperti yang sudah disebutkan diatas. Hemoroid. Colorectal Deteksi dini berupa skrining untuk mengetahui kanker kolorektal sebelum timbul gejala dapat membantu dokter menemukan polyp dan kanker pada stadium dini. Fecal occult blood test (FOBT). apakah dari rektum. nyeri pinggang bagian bawah. menimbulkan gejala – gejala pada tungkai atau perineum. kolon atau bagian usus lainnya . 6.Bila tes ini mendeteksi adanya darah. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi. Deteksi Dini Ca. Untuk menemukan polyp atau kanker kolorektal dianjurkan melakukan deteksi dini atau skrining pada orang diatas usia 50 tahun. kanker maupun polyp dapat menyebabkan pendarahan dan FOBT dapat mendeteksi adanya darah pada tinja. maka akan dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal. konstipasi dan diare bergantian. harus dicari darimana sumber darah tersebut. Tes skrining yang diperlukan adalah : a. Bila polyp ditemukan dan segera diangkat.

sehingga dinding dalam rektum dan kolon sigmoid dapat dilihat. Alat yang digunakan adalah colonoscope. namun menggunakan kabel yang lebih panjang. sehingga seluruh rektum dan usus besar dapat diteropong dan diperiksa. Alatnya disebut sigmoidoscope. adalah pemeriksaan radiologi dengan sinar rontgen (sinar X ) pada kolon dan rektum. Sigmoidoscopy. Alat ini dimasukkan melalui lubang dubur kedalam rektum sampai kolon sigmoid. adalah suatu pemeriksaan dengan suatu alat berupa kabel seperti kabel kopling yang diujungnya ada alat petunjuk yang ada cahaya dan bisa diteropong.dengan pemeriksaan yang lain. sedangkan pemeriksaannya disebut sigmoidoscopy. dapat sekalian diangkat.Bila ditemukan adanya polyp. Seluruh lapisan dinding dalam kolon dapat dilihat apakah normal atau ada kelainan. dilakukan biopsi. Penyakit wasir juga dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja. c. Kemudian difoto. Colonoscopy. Penderita diberikan enema dengan larutan barium dan udara yang dipompakan ke dalam rektum. Bila ada masa tumor yang dicurigai kanker. . d. sama seperti sigmoidoscopy. kemudian diperiksakan ke bagian patologi anatomi untuk menentukan ganas tidaknya dan jenis keganasannya. Double-contrast barium enema. b.

7. Merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan. Bila ada tumor di rektum akan teraba dan diketahui dengan pemeriksaan ini. Subtotal kolektomi dengan ileoproktostomi dapat digunakan pada pasien kolon kanker yang potensial kurabel dan dengan adenoma yang tersebar pada kolon atau pada pasien dengan riwayat keluarga menderita kanker kolorektal. Pembedahan Pembedahan adalah satu satunya cara yang telah secara luas diterima sebagai penanganan kuratif untuk kanker kolorektal. Eksisi tumor yang berada pada kolon kanan harus mengikutsertakan cabang dari arteri media kolika sebagaimana juga seluruh arteri ileokolika dan arteri . Pendekatan laparaskopik kolektomi telah dihubungkan dan dibandingkan dengan tehnik bedah terbuka pada beberapa randomized trial. adalah pemeriksaan yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua dokter.e. Untuk lesi diatas rektum. Pembedahan kuratif harus mengeksisi dengan batas yang luas dan maksimal regional lymphadenektomi sementara mempertahankan fungsi dari kolon sebisanya. reseksi tumor dengan minimum margin 5 cm bebas tumor. Colok dubur. Penatalaksanaan Medis a. yaitu dengan memasukkan jari yang sudah dilapisi sarung tangan dan zat lubrikasi kedalam dubur kemudian memeriksa bagian dalam rektum.

. Tumor yang menyebabkan obstruksi pada kolon kiri dapat ditangani dengan dekompresi. Sejak radiasi digunakan untuk membunuh sel kanker. Pemilihan cara radiasi diberikan tergantung pada tipe dan stadium dari kanker. Tumor yang menyebabkan perforasi membutuhkan eksisi dari tumor primer dan proksimal kolostomi. Tumor yang menyebabkan obstruksi pada kolon kanan biasanya ditangani dengan reseksi primer dan anastomosis. diikuti dengan reanastomosis dan closure dari kolostomi. Terapi Radiasi Terapi radiasi merupakan penanganan kanker dengan menggunakan x-ray berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. yaitu dengan eksternal radiasi dan internal radiasi. Terapi radiasi tidak menyakitkan dan pemberian radiasi hanya berlangsung beberapa menit. Terdapat dua cara pemberian terapi radiasi. Eksisi tumor pada hepatik flexure atau splenic flexure harus mengikutsertakan seluruh arteri media kolika.kolika kanan. maka dibutuhkan pelindung khusus untuk melindungi jaringan yang sehat disekitarnya. b. Eksternal radiasi (external beam therapy) merupakan penanganan dimana radiasi tingkat tinggi secara tepat diarahkan pada sel kanker. Permanen kolostomi pada penderita kanker yang berada pada rektal bagian bawah dan tengah harus dihindari dengan adanya tehnik pembedahan terbaru secara stapling.

5FU + levamisole. implant radiation) menggunakan radiasi yang diberikan ke dalam tubuh sedekat mungkin pada sel kanker. dan beberapa penanganan internal radiasi secara sementara menetap didalam tubuh. Pemakaian secara kombinasi dari obat kemoterapi tersebut berhubungan dengan peningkatan survival ketika diberikan post operatif kepada pasien tanpa penyakit penyerta. menurunkan kematian akibat kanker hingga 32%. Adjuvant Kemoterapi Kanker kolon telah banyak resisten pada hampir sebagian besar agen kemoterapi. . c. Substansi yang menghasilkan radiasi disebut radio isotop. Bagaimanapun juga kemoterapi yang diikuti dengan ekstirpasi dari tumor secara teoritis seharusnya dapat menambah efektifitas dari agen kemoterapi. Kemoterapi sangat efektif digunakan ketika kehadiran tumor sangat sedikit dan fraksi dari sel maligna yang berada pada fase pertumbuhan banyak. Obat kemoterapi bisa dipakai sebagai single agen atau dengan kombinasi. contoh : 5-fluorouracil (5FU). 5FU + leucovorin. Internal radiasi memberikan tingkat radiasi yang lebih tinggi dengan waktu yang relatif singkat bila dibandingkan dengan eksternal radiasi. bisa dimasukkan dengan cara oral. parenteral atau implant langsung pada tumor. Terapi 5FU + levamisole menurunkan rekurensi dari kanker hingga 39%.Internal radiasi (brachytherapy.

Adjuvant Kemoterapi untuk Kanker Kolorektal Stadium III Penggunaan 5-FU + levamisole atau 5-FU + leucovorin telah menurunkan insiden rekurensi sebesar 41% pada sejumlah prospektif randomized trial.d. standar regimen terapi untuk stage III kanker kolorektal adalah 5-FU + leucovorin. Sebaliknya sebuah metaanalysis yang mengikutkan sekitar 1000 pasien menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna pada 5-years survival rate sebesar 2%. antara yang diberi perlakuan dan yang tidak untuk semua pasien stage II. Terapi selama satu tahun dengan menggunakan 5-FU + levamisole meningkatkan 5-year survival rate dari 50% menjadi 62% dan menurunkan kematian sebesar 33%. e. Pada kebanyakan penelitian telah menunjukkan bahwa 6 bulan terapi dengan menggunakan 5-FU + leucovorin telah terbukti efektif dan sebagai konsekuensinya. . Peneliti dari National Surgical Adjuvant Breast Project (NSABP) dapat menyarankan menghasilkan penggunaan adjuvant terapi karena keuntungan yang meskipun kecil pada pasien stadium II kanker kolorektal pada beberapa penelitiannya. Adjuvant Kemoterapi untuk Kanker Kolorektal Stadium II Pemakaian adjuvant kemoterapi untuk penderita kanker kolorektal stadium II masih kontroversial.

. obstruksi. perdarahan dan tenesmus pada 80% kasus. Radiasi terapi dapat digunakan sebagai tindakan primer sebagai modalitas penanganan untuk tumor yang kecil dan bersifat mobile atau dengan kombinasi bersama sama kemoterapi setelah reseksi dari tumor. tetapi penggunaan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah termasuk berpindahnya kateter. Pasien dengan kanker yang tidak dapat dilakukan penanganan kuratif. dapat dilakukan penanganan pembedahan palliatif untuk mencegah obstruksi. floxuridine (FUDR). irinotecan (cpt-11) dan oxaliplatin. Penggunaan stent kolon dan ablasi laser dari tumor intraluminal cukup memadai untuk kebutuhan pembedahan walaupun pada kasus asymptomatik. capecitabine (oral 5-FU prodrug). dan perdarahan.f. Penggunaan hepatic arterial infusion dengan 5-FU terlihat meningkatkan tingkat respon. perforasi. Adjuvant Kemoterapi Kanker Kolorektal Stadium Lanjut Sekitar delapan puluh lima persen pasien yang terdiagnosa kanker kolorektal dapat dilakukan pembedahan. Bagaimanapun juga pembedahan dapat tidak dilakukan jika tidak menunjukkan gejala adanya metastase. Regimen standar yang sering digunakan adalah kombinasi 5-FU dengan leucovorin. Radiasi terapi pada dosis palliatif meredakan nyeri. sklerosis biliaris dan gastrik ulserasi.

membantu penemuan dini dari kanker kolorektal. Sekitar 65% kanker kolorektal dapat dilihat dengan sigmoidoskop. dan evaluasi lebih sering pada individu yang diketahui mempunyai factor – factor resiko yang lebih tinggi. seluruh usus besar diperiksa dengan kolonoskopi. Rekomendasi ini adalah untuk orang – orang yang asimtomatik. Sebanyak 60 % dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoidoskopi. yang mengikuti pemeriksaan dengan dua kali hasil negative setiap tahunnya. Untuk membantu meyakinkan hasil pemeriksaan yang tepat.8. yang daya jangkaunya lebih panjang. Pemeriksaan Diagnostik The American Cancer Society merekomendasikan pemeriksaan rectal manual setiap tahun bagi orang dengan usia di atas 40 tahun. Beberapa pertumbuhan yang terlihat ganas diangkat dengan . Sebelum dilakukan endoskopi. sample feses untuk menilai adanya darah setiap tahun setelah usia 50 tahun dan proktosigmoidoskopi setiap 3 – 5 tahun setelah usia 50 tahun. penderita memakan daging merah tinggi serat selama 3 hari sebelum pengambilan sampel tinja. pemeriksaan penyaring rutin. seringkali dengan menggunakan pencahar dan beberapa enema. Seperti kanker lainnya. Tinja diperiksa secara mikroskopik untuk menghitung jumlah darah. Bila pemeriksaan penyaring ini menunjukan kemungkinan kanker. usus dikosongkan. dibutuhkan pemeriksaan lanjutan. Bila terlihat polip yang mungkin ganas.

kadar antigen karsinoembriogenik dalam darahnya tinggi. Kepastian diagnosis ditentukan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi Sedangkan diagnosis banding yang terdapat pada Carsinoma Colorectal antara lain : Colon kanan Apendicular abscess Massaperiappendicular Amuboma Enteritis regionalis Colon tengah Ulcus pepticum Carcinoma gaster Abscess hepar Hepatocellular carcinoma Cholecystitis Kelainan pancreas Kelainan saluran empedu Colon kiri Colitis ulcerative Polip Diverticulitis Endometriosis Rectum Polip Prokitis Fissura ani Haemorrhoid Carcinoma Ani . Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis carcinoma colorectal dapat ditegakan berdasarkan anamnesis. maka sesudah pembedahan kadarnya bisa turun. yaitu CA19-9 dan CA 125. pertumbuhan lainnya harus diangkat dengan pembedahan biasa. jika kadarnya meningkat berarti kanker telah kambuh kembali. Pada 70% orang yang menderita kanker kolorektal. Bila sebelum kanker diangkat kadar antigen ini tinggi. kadar antigen ini diukur kembali.menggunakan alat bedah melalui kolonoskopi. yang mirip dengan antigen karsinoembbriogenik. Pada kunjungan berikutnya. 9. Bisa juga dilakukan pengukuran 2 antigen lainnya. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan darah dapat membantu dalam menegakkan diagnosis.

10. Prognosis Prognosis tergantung dari ada tidaknya metastasis jauh. urinary bladder. Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Pembentukan abses c. yaitu klasifikasi penyebaran carcinoma dan tingkat keganasan sel tumor. Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan. Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis b. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya ( Uterus. 11. Bila disertai diferensiasi sel tumor yang buruk.dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker. CEA juga secara langsung berhubungan dengan prognosis dari penyakit . Komplikasi Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk : a. Angka harapan hidup pada stadium awal adalah 5 kali lipat lebih besar dari stadium akhir. maka prognosisnya sangat buruk.

Angka 5 tahun keberhasilan hidup untuk pasien kanker kolorektal adalah sebagai berikut : a. Stage III . Rekurensi lokal lebih sering terjadi pada kanker rektum daripada kanker kolon. Nyeri abdomen atau rectal dan karakternya ( lokasi. Angka rekurensi berkisar 5-30%. Deskripsi tentang warna. terjadi 2 tahun setelah pembedahan.39% d. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal Riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terapi obat saat ini . bau dan konsistensi feses. lokasi tumor primer. C.54% c. Asuhan Keperawatan 1. baik lokal maupun ditempat yang lain. Stage I . Stage IV . Faktor yang mempengaruhi rekurensi antara lain stadium tumor primer. mencakup adanya darah atau mucus.7% Berdasarkan keadaan pasien. atau keduanya. Perasaan lelah b. 50 % pasien biasanya terjadi rekurensi. berhubungan dengan makan atau defekasi ) c. Pengkajian Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang : a. frekuensi. Stage II . durasi. Pola eliminasi terdahulu dan saat ini d.72% b.

d gangguan pada peran. Gangguan pemeliharaan kesehatan b. b. f. d proses penyakit . d. Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah 2. Nyeri b. serat & konsumsi alcohol ) juga riwayat penurunan BB.d gangguan konsep diri c. Auskultasi abdomen terhadap bising usus b. Ketidakefektifan koping individu b. dan massa padat c. Resiko tinggi terhadap luka b. Diagnosa Keperawatan a.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang lainnya. Pengkajian objekif meliputi : a. e. program diagnosa dan rencana pengobatan. distensi.d efek dari tumor dan kemungkinan metastase.d program diagnosa. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. g.Kebiasaan diet ( masukan lemak. Ketakutan b. perubahan gaya hidup dan ketakutan pasien terhadap kematian. Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan. Ketidakefektifan koping keluarga : Kompromi b.

Ketidakberdayaan b. Kasus E.d gangguan konsep diri.h. i. 3. Gangguan pola sexual b. F. Intervensi Keperawatan D.d penyakit yang mengancam kehidupan dan pengobatannya. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->